[Panduan] yuk, dibaca panduan HijrahApp..
Mensyukuri Nikmat Pekerjaan
Setiap pagi, jutaan orang di dunia berangkat bekerja. Ada yang mengendarai mobil atau motor ke kantor, ada yang berdesak-desakan di bus maupun KRL, ada yang memikul barang di pasar, dan ada pula yang duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.
Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: Apakah kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat pekerjaan yang telah Allah berikan?
Bekerja bukan sekadar rutinitas, bukan sekadar sumber gaji, dan bukan pula sekadar alat bertahan hidup. Dalam Islam, pekerjaan adalah bentuk rahmat, amanah, dan jalan menuju pahala apabila dijalani dengan niat yang benar dan cara yang halal.
Pekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa Jalla
Banyak orang mengira pekerjaan datang karena kecerdasan, pendidikan tinggi, koneksi yang luas atau relasi yang banyak. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah sebab, sementara yang memberi pekerjaan adalah Allah. Tidak sedikit orang yang memiliki gelar akademik tinggi namun tetap menganggur, dan tidak sedikit pula yang tanpa pendidikan tinggi justru diberi rezeki yang cukup.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. an-Naḥl: 53)
Pekerjaan, sekecil apa pun bentuknya, adalah bagian dari rezeki yang Allah jamin. Karena itu, orang yang masih memiliki pekerjaan meski sederhana, meski tidak sesuai keinginan, hendaknya banyak bersyukur. Sebab di luar sana, banyak orang berjuang keras mencari pekerjaan, melamar ke berbagai tempat, tetapi belum juga mendapat kesempatan. Ada yang sudah lama menganggur, ada yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, ada pula yang terpaksa menanggung keluarga tanpa penghasilan tetap.
Bayangkan seseorang yang setiap hari keluar rumah membawa map lamaran kerja, berpakaian rapi, berdoa agar diterima, namun selalu pulang dengan penolakan. Lalu bandingkan dengan diri kita yang masih memiliki pekerjaan, tempat untuk berjuang, dan penghasilan untuk bertahan hidup. Bukankah itu sudah merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri?
Bersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezeki
Syukur bukan hanya sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan rasa sadar bahwa setiap rezeki adalah pemberian Allah, disertai usaha untuk menjaganya dengan amal yang baik.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Maka, bentuk syukur atas pekerjaan bukan hanya ucapan terima kasih kepada Allah, tapi juga dengan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan amanah. Orang yang bekerja dengan semangat ibadah akan merasakan ketenangan batin, meski mungkin gajinya belum seberapa.
Bekerja sebagai bentuk ibadah
Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bekerja, jika diniatkan untuk mencari rida Allah, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta, maka ia menjadi ibadah yang berpahala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dalam hadis lain, beliau bersabda,
إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ
“Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala, bahkan pada suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari)
Artinya, setiap keringat yang menetes karena mencari nafkah halal, jika diniatkan karena Allah, maka akan menjadi pahala. Seorang tukang becak, petani, guru, pedagang, pegawai, atau bahkan buruh harian, semua bisa menjadi ahli ibadah di sisi Allah jika bekerja dengan niat yang tulus dan cara yang halal.
Para Nabi pun bekerja
Salah satu bukti kemuliaan bekerja adalah kenyataan bahwa semua Nabi yang diutus Allah juga bekerja. Mereka tidak hanya beribadah dan berdakwah, tetapi juga menempuh jalan kehidupan melalui usaha tangan sendiri.
Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah fitrah mulia para Nabi dan orang saleh.
Nabi Adam عليه السلام bekerja sebagai petani, menanam, dan mengolah bumi.
Nabi Nuh عليه السلام bekerja sebagai pembuat kapal, sebagaimana firman Allah,
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)
Nabi Ibrahim عليه السلام pernah menjadi pedagang dan peternak, menjalani kehidupan dengan penuh kejujuran.
Nabi Musa عليه السلام menjadi penggembala sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan,
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ
“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah satu dari kedua anakku ini dengan syarat engkau bekerja denganku selama delapan tahun.” (QS. al-Qasas: 27)
Nabi Daud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud).” (QS. Saba’: 10)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi Rasul, beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda,
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia pernah menggembala kambing.”
Ketika para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab,
نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Ya, aku menggembalakannya untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)
Semua ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kemuliaan, bukan kerendahan. Siapa pun yang berusaha mencari rezeki dengan cara halal, berarti mereka meneladani para Nabi.
Bahaya melupakan nikmat pekerjaan
Sayangnya, di zaman modern, banyak orang mengeluh atas pekerjaan yang mereka miliki. Ada yang merasa bosan, jenuh, dan tidak bersyukur. Ada pula yang menganggap pekerjaan sebagai beban, bukan amanah. Padahal, ketika seseorang berhenti mensyukuri pekerjaannya, Allah bisa saja mencabut nikmat itu. Rasa lelah bisa berubah menjadi siksa, rekan kerja menjadi musuh, dan pekerjaan yang dulunya rezeki bisa berubah menjadi ujian.
Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Renungkanlah wahai saudaraku! Berapa banyak orang yang hari ini memohon agar diterima bekerja, sementara kita justru mengeluh dengan pekerjaan yang sudah Allah berikan?!
Mensyukuri pekerjaan di era modern
Di era digital saat ini, pekerjaan sering kali diukur dari popularitas, gaji besar, atau prestise sosial. Namun, Islam mengajarkan standar berbeda: yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat dan halal.
Cara menjaga syukur atas pekerjaan di masa kini antara lain:
Pertama: Memperbarui niat bekerja sebagai ibadah, “Ya Allah, aku bekerja bukan untuk dunia semata, tapi untuk menafkahi keluarga dan menunaikan amanah-Mu.”
Kedua: Menjaga kejujuran dan profesionalitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah wa Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)
Ketiga: Bersedekah dari hasil kerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Keempat: Tawakal, meyakini bahwa hasil akhir dari kerja keras kita ditentukan oleh Allah, bukan semata kemampuan.
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)
Kelima: Qana‘ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.
Keenam: Amanah dan ihsan, yaitu melakukan pekerjaan sebaik mungkin.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)
Pekerjaan adalah anugrah yang besar
Saudaraku, tidak semua orang diberi kemampuan untuk bekerja. Sebagian sedang sakit, sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian lagi masih mencari.
Jika hari ini kita masih bisa bekerja, masih mampu menjemput rezeki dengan tangan sendiri, itu adalah nikmat yang luar biasa besar.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. an-Naḥl: 18)
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur, memberkahi rezeki kita, dan mencukupkan kita dengan harta yang halal serta menjauhkan diri kita dari harta yang haram.
***
Jember, 22 Jumadil Ula 1447
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Sumber: https://muslim.or.id/110779-mensyukuri-nikmat-pekerjaan.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Nasihat Terbaik Adalah Kematian #video
Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-Tiba
Ketika banyak muncul bencana tiba-tiba seperti gempa, banjir, kebakaran dan musibah lainnya hendaknya kita memperbanyak membaca doa berikut.
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ, وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ, وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ, وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari beralihnya keselamatan (yang merupakan anugerah)-Mu; dari datangnya siksa-Mu (bencana) secara mendadak, dan dari semua kemurkaan-Mu. (HR. Muslim)
Maksud dari kata-kata (فَجْأَةِ نِقْمَتِكَ) “siksa yang tiba-tiba” adalah bencana dan musibah yang tiba-tiba, hal ini lebih parah daripada bencana yang tidak datang tiba-tiba. Syaikh Abdul Mushin Az-Zamili menjelaskan,
ﻓﺠﺄﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﺃﻭ ﻓﺠﺎﺀﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﻣﻦ ﺑﻼﺀ ﺃﻭ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻳﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ ﻓﺠﺄﺓ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺳﺒﻘﻪ ﺷﻲﺀ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﺠﺄﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺧﻒ
“Siksa yang tiba-tiba yaitu berupa bencana atau musibah yang datang secara mendadak.Tentunya berbeda dengan musibah yang didahului oleh sesuatu (sebagai awalnya semisal penyakit) dan tidak mendadak, hal ini lebih ringan perkaranya.”. (Syarh Bulughul Maram)
Bencana seperti gempa, banjir dan musibah akan menghilangkan nikmat dan bisa jadi merupakan murka dari Alllah karena banyaknya kesyirikan dan maksiat. Untuk menghindari terjadi musibah dan bencana pada kita hendaknya kita benar-benar memhami bahwa sebab turunnya musibah dan bencana akibat keyirikan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Hendaknya kita melakukan muhasabah dan segera kembali kepada Allah serta menghentikan keyirikan dan kemaksiatan yang merajalela agar terhindar dari hilangnya nikmat, datangnya bencana dan terhindar dari murka Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalahdisebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syura: 30).
Bisa jadi Allah kirimkan bencana dan musibah kepada manusia agar manusia takut kepada Allah dan agar kaum muslimin kembali kepada Allah dan menghentian kesyirikan dan maksiat.
Allah berfirman,
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Tidaklah Kami mengirim tanda-tanda kekuasaan Kami kecuali untuk menakut-nakuti“. (Al-Isra’ : 59)
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksud menakuti-nakuti di sini adalah agar manusia takut kepada Allah. Beliau berkata,
أذن الله سبحانه لها في الأحيان بالتنفس فتحدث فيها الزلازل العظام فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم
“Terkadang Allah subhanahu mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dahsyat, maka muncul rasa takut dan khawatir pada hati hamba-hamba Allah dan agar mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri dihadapan-Nya serta menyesal (atas dosa dan maksiat).” (Miftah Daris Sa’adah 1/229)
Demikian semoga bermanfaat
@ Yogyakarta Tercinta
Penyusun: raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/43134-doa-agar-terhindar-dari-hilangnya-nikmat-bencana-yang-tiba-tiba.html
Copyright © 2024 muslim.or.id
Nasihat Indah untukmu yang Masih Merayakan Tahun Baru
Bagi seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun adalah sesuatu yang selayaknya menjadi pelajaran berharga oleh setiap orang yang beriman. Waktu yang terus bergulir seharusnya menjadi renungan untuk senantiasa memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُو۟لِى ٱلْأَبْصَٰرِ
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS. An-Nur : 44)
Hanya orang-orang yang Allah ‘Azza Wajalla beri taufik dan akal sehat akan senantiasa merenung dan memperbaiki diri. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadan berbaring serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami terhadap siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)
Dikutip dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab Al-Jawabul Kafi, disebutkan bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,
الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
“Waktu itu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya (dengan baik), maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”
Dan fenomena yang terjadi pada zaman ini adalah banyak kaum muslimin tersibukkan dengan hal yang sia-sia pada setiap penghujung tahun. Mereka latah ikut-ikutan orang-orang kafir merayakan tahun baru masehi dengan berhura-hura, berfoya-foya, bahkan bermaksiat secara terang-terangan pun mereka lakukan. Perlu diingat, peringatan tahun baru, jangankan tahun baru masehi, tahun baru hijriah pun tidak ada dalam agama Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat pun tidak pernah merayakan akhir tahun dengan amalan-amalan tertentu, lebih-lebih dengan hal-hal yang sia-sia.
Justru, setiap penghujung akhir tahun banyak sekali kemungkaran yang terjadi, kemaksiatan merajalela, banyak sekali muda-mudi yang jatuh dalam perzinaan, dan semisalnya, wal’iyadzu billah. Tulisan ini dibuat sebagai nasihat untukku dan untukmu agar tidak terombang-ambing dengan gemerlapnya perayaan akhir tahun dan lebih memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat.
Mengingat kembali prinsip seorang muslim
Sebagai seorang muslim, tujuan hidupnya di dunia adalah beribadah hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Merayakan tahun baru seringkali membuat kita lalai dari beribadah kepada-Nya dan justru mendekatkan kepada kemungkaran dan perbuatan sia-sia. Oleh karena itu, fokuslah pada hal-hal yang mendatangkan rida Allah.
Mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat
Senantiasa mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat, meningkatkan dan menguatkan akidah dengan kembali mengkaji tauhid, membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, dan menyibukkan diri dengan bermajelis ilmu, serta menjauhkan diri dari pemikiran-pemikiran menyimpang yang bisa merusak keyakinan.
Allah ‘Azza Wajalla memperingatkan kita akan pentingnya waktu dalam firman-Nya,
وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Merayakan malam tahun baru dengan hal-hal yang tidak bermanfaat adalah di antara bentuk menyia-nyiakan waktu, yang seharusnya dapat diisi dengan ibadah, introspeksi, ataupun kegiatan yang produktif lainnya.
Menghindari tasyabbuh terhadap orang-orang kafir
Islam sangat melarang tasyabbuh, yaitu menyerupai tradisi atau kebiasaan yang berasal dari agama atau budaya orang-orang kafir. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Kitab Al-Libas, no. 3512. Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Abu Dawud menyatakan bahwa hadis ini hasan shahih no. 3401.)
Al-Munawi dan Al-Alqami rahimahullah berkata, “Yaitu, orang yang menyerupai mereka dalam hal penampilan, perilaku, cara berpakaian, dan sebagian perbuatan mereka.”
Allah ‘Azza Wajalla mengingatkan,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Condong kepada orang-orang kafir termasuk hal yang berbahaya bagi akidah seorang muslim. Hal ini sebagaimana firman-Nya,
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Perayaan tahun baru masehi adalah tradisi yang tidak dikenal dalam Islam dan ini berasal dari budaya orang-orang kafir sehingga merayakannya dapat melemahkan akidah seorang muslim dan ditakutkan termasuk ke dalam golongan mereka (orang-orang kafir) sebagaimana yang disebutkan pada dalil di atas.
Menjauhi maksiat dan kemungkaran
Perayaan tahun baru dalam praktiknya seringkali melibatkan aktivitas yang dilarang dalam Islam, seperti pesta minuman keras, pergaulan bebas, musik dan hiburan yang melalaikan, pemborosan, dan segala kemungkaran berkumpul di dalamnya. Allah Ta’ala peringatkan hamba-Nya agar menjauhi maksiat dan dosa. Ia berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ
“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)
Kemaksiatan akan mendatangkan kemurkaan Allah terhadap mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْمَعَاصِيْ ثُمَّ يَقْدِرُوْنَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ثُمَّ لاَ يُغَيِّرُوا إِلاَّ يُوْشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ
“Tidaklah suatu kaum, yang diperbuat kemaksiatan-kemaksiatan di antara mereka, kemudian mereka sanggup mengubah hal itu, lantas mereka tidak mengubah hal tersebut, kecuali dikhawatirkan bahwa Allah akan menimpakan siksaan terhadap mereka semua secara umum.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya. Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Ash-Shahih menyatakan bahwa hadis ini sahih no. 1574.)
Senantiasa berdoa dan berserah diri kepada Allah
Selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar tetap diteguhkan keimanannya. Misalnya, dengan doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“YA MUQALLIBAL QULUB TSABBIT QALBI ‘ALA DINIK.”
(Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Semoga nasihat ini bisa menjadi nasihat yang bermanfaat bagi seorang muslim agar menjauhkan diri dari hal yang sia-sia, seperti ikut serta dalam memeriahkan perayaan tahun baru dan segala kemungkaran yang ada di dalamnya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala jauhkan kita dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan-Nya.
***
Penulis: Chrisna Tri Hartadi, A.Md.
Sumber: https://muslim.or.id/102146-nasihat-indah-untukmu-yang-masih-merayakan-tahun-baru.html
Solusi ketika mencinta
Berapa Usia Penghuni Surga?
Usia Penduduk Surga
Tanya:
Manusia mati pada usia yang berbeda-beda, ada yang smp ratuan, puluhan, sblm balig, bayi, bahkan mati d kandungan. Jika mereka dimasukkan k surga, berapa usianya? Apa bayi nanti tumbuh besar d surga?
Trim’s
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Allah menjanjikan surga kepada para kekasih-Nya yang taat dan bersabar dalam meniti syariat-Nya selama di dunia. Allah memberikan balasan berupa keindahan surga. Saking indahnya, sehingga tidak pernah bisa terbayang oleh manusia. Bayangan mereka, tidak bisa menjangkau keindahannya. Allah menggambarkan keindahannya dalam firman-Nya,
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)
Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman,
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikmat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat di surat as-Sajdah di atas.
Disamping itu, Allah memberikan segala kenikmatan yang diinginkan penghuni surga,
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya”. (QS. Az-Zukhruf: 71).
Karena itu, kita mengimani bahwa penduduk surga berada dalam keadaan serba istimewa, memiliki banyak kelebihan dari segala sisi. Karena mereka dipersiapkan untuk menikmati segala keindahan yang Allah sediakan.
Di antara bentuk kesempurnaan itu, Allah jadikan penduduk surga pada usia kesempurnaan. Usia dimana mereka bisa lebih maksimal dalam menikmati segala keindahan surga. Mereka masuk surga di usia 33 tahun.
Dalam hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً
Penduduk surga akan masuk surga dalam keadaan jurdan, murdan, bercelak, di usia 30 atau 33 tahun. (HR. Ahmad 7933, Turmudzi 2545, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf 34006 dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).
Keterangan:
Jurdan, bentuk jamak dari kata ajrad [arab: أجْرَد ], artinya: orang yang tidak memiliki bulu rambut di badannya.
Murdan, bentuk jamak dari kata amrad [arab: أمرد ], artinya: orang yang tidak memiliki bulu rambut di dagunya. (keterangan As-Sindi – Tahqiq Musnad Ahmad, 13/316).
Ibnul Qoyim menjelaskan rahasia usia 33 tahun,
إن فيه من الحكمة ما لا يخفى فإنه أبلغ وأكمل في استيفاء اللذات، لأنه أكمل سن القوة عظم الآت اللذة وباجتماع الأمرين يكون كمال اللذة وقوتها
Hikmah diberi usia 33 tahun sangat jelas, karena di usia itu merupakan pucak dan keadaan paling sempurna dalam merasakan kenikmatan. Karena di usia itu adalah usia kekuatan yang paling sempurna, segala organ kenikmatan berkembang. Dengan gabungan dua ini, diperoleh kesempurnaan kenikmatan dan kuat dalam menikmatinya. (Hady al-Arwah, 104).
Apakah Usia Mereka Bertambah
Yang kita yakini, mereka kekal di dalam kenikmatan. Apakah usia mereka bertambah, sehingga usia mereka menjadi 34 atau 35 dst.. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,
أَهْلُ الجَنَّةِ جُرْدٌ مُرْدٌ كُحْلٌ لَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ وَلَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ
”Penduduk surga jurdun, murdun, bercelak. Usia mudanya tidak pernah sirna, dan pakaiannya tidak pernah lusuh.” (HR. Turmudzi 2539, ad-Darimi 2863 dan dihasankan al-Albani).
Apakah usia mereka bertambah selama dalam rentang ‘usia muda’?, Kami tidak mendapatkan informasi tentang itu. Yang jelas, mereka dalam keadaan sangat sempurna di usia muda yang tidak akan pernah sirna.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara kekasih-Nya, hingga bisa menikmati keindahan surga-Nya. Amiin
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Menjaga Lingkungan Merupakan Pahala Jariyah
Terdapat hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ كَرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلًا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
“Ada tujuh yang pahalanya mengalir kepada hamba setelah kematiannya sedangkan ia berada di kuburnya, (yaitu) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, dan meninggalkan anak yang saleh yang memohonkan ampunan untuknya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah no. 242, dihasankan oleh Albani di dalam Sahih Al–Jami’ no. 2231)
Dari hadis ini, kita mengetahui bahwasanya ada tujuh pahala yang tetap mengalir setelah kematian seorang hamba sedangkan ia berada di kuburnya, di antaranya adalah mengalirkan sungai, menggali sumur, dan menanam pohon kurma yang ini merupakan kegiatan melestarikan lingkungan.
Mengalirkan sungai
Mengalirkan sungai di dalam hadis ini maksudnya adalah membuat percabangan dari mata air atau sungai yang besar, agar air tersebut bisa mengalir ke tempat-tempat yang dibutuhkan, baik untuk kebutuhan manusia (untuk minum, memasak, mencuci, menyirami persawahan dan perkebunan), dan juga untuk memberikan minum manusia maupun hewan ternak. Termasuk juga di dalam hal ini, mengalirkan air melalui pipa-pipa menuju tempat-tempat yang dibutuhkan. Terdapat hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَاِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِيْ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Menuangkan air dari embermu ke dalam ember saudaramu itu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi no. 1956, disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 576)
Bahkan ketika Sa’ad bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sedekah apa yang terbaik, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
سَقْيُ الْمَاءِ
“Memberikan air.” (HR. An-Nasai no. 3664 disahihkan Al-Albani di dalam Sahih At-Targhib no. 962)
Menjaga kebersihan sungai
Dari hadis ini, mengalirkan air ke tempat-tempat yang dibutuhkan adalah sedekah jariyah. Maka, begitu pula menjaganya. Menjaga sungai dari sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Menjaga kebersihan sungai agar airnya tidak tercemar, sehingga airnya senantiasa bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, membersihkan sungai yang kotor sehingga alirannya tidak tersumbat. Ini semua termasuk amal jariyah.
Termasuk dengan menggunakan eco-enzym dalam perihal mencuci dan lain-lain, karena ketika eco-enzym tersebut disiram ke sungai, maka dia mempunyai beberapa manfaat:
1) Menjernihkan dan membersihkan air.
2) Menurunkan polutan.
3) Meningkatkan kadar oksigen.
4) Menghilangkan bau tidak sedap.
5) Memperbaiki ekosistem air.
6) Membunuh kuman dan bakteri.
Menggali sumur
Bentuk lain dari menjaga lingkungan yang merupakan pahala jariyah adalah menggali sumur. Dikisahkan dari hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Bahwasanya dahulu ada seorang laki-laki yang sangat kehausan, kemudian dia menemukan sumur. Lalu dia turun ke sumur tersebut, dan minum darinya, kemudian dia keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang terengah-engah, dia menjilati tanah yang basah karena kehausan.
Kemudian lelaki tersebut berkata, ‘Sungguh anjing ini sangat kehausan sebagaimana aku tadi sangat kehausan.’ Kemudian dia turun ke dalam sumur, mengisi air dengan sepatunya, kemudian dia tahan sepatu tersebut dengan mulutnya sampai akhirnya dia naik dari sumur. Lalu ia beri minum anjing tersebut. Dan Allah berterima kasih kepadanya dan Allah mengampuninya.”
Setelah itu, sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, apakah terhadap hewan-hewan kami juga punya pahala?” Kemudian beliau menjawab,
فِيْ كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
“Di setiap hati (bagian tubuh) yang basah ada pahalanya.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)
Allah Ta’ala mengampuni dosa laki-laki ini karena dia sudah memberikan minum kepada seekor anjing, maka bagaimana pahala bagi orang yang menggali sumur sehingga sumur tersebut bisa melepaskan dahaga banyak orang dan bermanfaat bagi mereka?!
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ حَفَرَ مَاءً لَمْ يَشْرَبْ مِنْهُ كَبِدُ حَرَّى مِنْ جِنٍّ وَلَا إِنْسٍ وَلَا سَبُعٍ وَلَا طَائِرٍ إِلَّا آجَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang menggali sumur, tidaklah bagian tubuh yang kehausan meminumnya dari kalangan jin, manusia, hewan buas, dan burung, kecuali Allah memberikannya pahala di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1292 dan Bukhari di dalam Tarikh-nya 1: 332, disahihkan oleh Al-Albani Shahih At-Targhib no. 271)
Selain menjadi sumber air bersih, menggali sumur juga mempunyai manfaat dalam menjaga lingkungan, di antaranya adalah:
1) Mengurangi genangan dan banjir.
2) Mencegah intrusi air laut.
3) Menambah cadangan air tanah.
Dengan menggali sumur, maka sumur tersebut bisa menjadi resapan air yang menggenang, dan bisa mencegah banjir. Selain itu, air hujan bisa terserap di dalam tanah, hal tersebut mencegah aliran air hujan ke laut, sehingga mencegah aliran air laut yang asin ke tanah. Air sumur yang merupakan air dari dalam tanah juga tingkat kontaminasi lebih rendah dibandingkan air sungai atau danau, sehingga lebih bersih.
Menanam pohon
Setiap orang yang menanam pohon yang bermanfaat untuk manusia, hewan, burung, maka itu adalah sedekah untuknya, dan akan sampai pahalanya ketika ia masih hidup, dan juga setelah kematiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon, atau menanam tanaman, kemudian burung atau manusia atau hewan makan darinya, kecuali dari itu baginya sedekah.” (HR. Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553)
Menanam pohon termasuk amalan yang pahalanya tetap mengalir setelah kematian. Di dalam hadis tersebut, tidak terbatas pohon apa yang ditanam, yang pasti harus memberikan manfaat kepada manusia atau hewan yang ada di sekitarnya. Namun, ada beberapa hadis yang mengkhususkan bahwa pohon yang ditanam adalah pohon kurma. Karena pohon kurma mempunyai manfaat yang banyak dan penuh dengan keberkahan. Setiap bagian dari pohon kurma tidak lepas dari manfaat untuk manusia maupun hewan. Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat, manis dari buah kurma tidak ada yang menyamainya, begitu juga tunasnya yang mempunyai banyak manfaat untuk tubuh. Setiap bagian dari pohon kurma bisa dimanfaatkan. Kayunya bisa digunakan untuk mendirikan bangunan, dan lainnya. Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مِثْلُ الْمُؤْمِنِ مِثْلُ النَّخْلَةِ مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ
“Permisalan seorang mukmin sebagaimana pohon kurma. Apapun yang kau ambil darinya akan bermanfaat untukmu.” (HR. Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 13514, disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2285)
Sehingga siapa pun yang menanam pohon, kemudian ia bagikan buahnya untuk kaum muslimin, maka pahalanya akan tetap selama buahnya ada yang memakannya, dan selama pohonnya dimanfaatkan baik oleh manusia maupun hewan.
Selain itu, menanam pohon juga mempunyai manfaat yang lainnya bagi lingkungan:
- Meningkatkan kualitas udara;
- Mengurangi erosi tanah;
- Mencegah banjir;
- Menjaga keanekaragaman hayati;
- Mengatur suhu;
- Menyimpan cadangan air;
- Mengurangi dampak perubahan iklim.
Dan masih banyak lagi manfaat dari menanam pohon
Maka, selain mempunyai berbagai manfaat dunia dari menjaga lingkungan, hal tersebut juga bermanfaat bagi seorang mukmin sebagai pahala jariyahnya. Tentu dengan meniatkan apa yang ia lakukan dari berbagai perbuatan menjaga lingkungan, mengharapkan rida Allah Ta’ala, agar apa yang ia lakukan bermanfaat untuk kaum muslimin, dan juga makhluk Allah yang lain di kehidupan mendatang setelah kematiannya. Allahul Muwaffiq.
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Al-Badr, Abdurrazaq bin Abdil Muhsin. 2024. Asyrun Yajrii Tsawabuha Ba’dal Mamat. Maktabah Itqan. Madinah
Purwoko, Satria Adji. 2022. 7 Manfaat Menanam Pohon Untuk Kesehatan dan Lingkungan Hidup. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2025.
Yusri, Nabila Hisanah. 2023. Kenali Ekoenzim, Sobat Lingkungan Yang Bermanfaat Bagi Air. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2025.
Sumber: https://muslimah.or.id/31484-menjaga-lingkungan-merupakan-pahala-jariyah.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id







