






















Kata Allah, istri yang shalihah adalah yang qanitat, yakni patuh pada suami selama suami tidak menyuruhnya berbuat maksiat.
Tidaklah Allah sebutkan sebuah karakter dalam konteks pujian, kecuali pasti mengandung kebaikan. Jika karakter terpuji yang Allah sebutkan itu dijauhi dan ditinggalkan, maka pasti mengakibatkan keburukan.
Petunjuk Allah sederhana dan mudah. Sayang, sebagian orang sekarang condong pada teori-teori yang rumit karena terkesan keren dan ilmiah. Sebaliknya, mereka anggap petunjuk Allah kuno dan naif karena kaidahnya nampak sederhana dan mudah. Padahal, di balik kaidah yang sederhana ini, tersimpan hikmah yang luar biasa indah.
Jika suami sudah menegakkan qawwam dengan baik, tapi rumah tangga masih bermasalah, coba cek bagaimana istrinya. Apakah dia mau berhias dengan sifat qanitat atau lebih patuh pada dorongan nafsunya.
Hari ini, banyak orang menjadikan tontonan sebagai tuntunan. Apa yang ditampilkan indah dalam cerita film maupun video-video pendek didudukkan sebagai standar kebaikan, bahkan kebenaran. Betapa banyak orang hari ini berani mencela syariat hanya karena apa yang disuarakan oleh syariat menyelisihi apa yang diusung oleh tontonan.
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya, meskipun manusia menganggapnya kuno dan naif hanya karena kaidahnya terasa mudah dan sederhana.
Allahul Muwaffiq….
Penulis : Abun_nada







Anak bermasalah, istri bermasalah, bisa terjadi karena banyak sebab. Tapi, jika kita mau merunut masalah dari akarnya, coba kita tengok petunjuk Allah Ta’ala:
Adakah pedoman dasar rumah tangga dari Allah yang kita lalaikan? Adakah ucapan kita yang tidak sesuai, bahkan berlawanan, dengan perbuatan? Apakah peran sebagai pemimpin keluarga sudah kita jalankan?
Ketika pemimpin sebuah negara tindakannya tidak sesuai omongannya, hanya bisa menuntut tanpa berpijak pada realita, misalnya, rakyat jadi gelisah, bergejolak, bahkan menjadi durhaka. Begitu juga gambaran pemimpin dalam keluarga.
Ketika kepala keluarga hanya pintar bicara tanpa berusaha mewujudkan ucapannya, maka wibawanya akan dipandang sebelah mata, bahkan jatuh dalam pandangan anak istrinya.
Barangkali, itulah hikmahnya kenapa Allah katakan, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” Allah sebut kita terlebih dahulu, baru keluarga. Seakan, itu adalah isyarat dari Allah agar kita memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, baru bisa memperbaiki keluarga.
Petunjuk Allah tersebut sangat logis. Bagaimana kita bisa memperbaiki orang lain jika diri kita sendiri sama buruknya dengan mereka?
Maka, kepemimpinan (qawwam) dalam keluarga bukan sebatas memenuhi nafkah belaka. Tapi, meliputi pendidikan juga. Idealnya, seorang lelaki mesti berusaha tampil sebagai teladan bagi anak istrinya. Semoga Allah mudahkan kita istiqamah di atas petunjuk-Nya.
Allahul Muwaffiq….
penulis : Abun_nada




Jika muncul masalah dalam keluarga, coba cek, pasti ada salah satu pedoman yang Allah sebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 34 yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Dari sisi suami, masalah muncul kemungkinan besar karena macetnya peran dia sebagai pemberi nafkah atau tarbiyah dalam keluarga.
Wibawa suami tidak akan tegak hanya karena gelar atau status nasabnya. Simbol-simbol feodalisme tak lagi berguna. Tuntutan peran dan tanggung jawab dalam keluarga kini bersuara lebih lantang dan lebih nyata.
Wibawa suami sebagai kepala keluarga akan tegak ketika perannya sebagai pemberi nafkah dia jalankan. Suaranya akan cenderung didengar istri dan diperhatikan.
Kerja keras suami akan membuat istri lebih mudah merasakan cinta secara nyata, sehingga lebih mudah juga bagi dia untuk sepenuh hati memberikan cintanya.
Sedangkan cinta yang hanya dibingkai simbol-simbol, gengsi, dan rangkaian kata, akan cepat terkikis dan hanyut tergerus derasnya arus kebutuhan keluarga.
Sebab, hidup tidak dibangun di atas fantasi dan indahnya bisikan kata-kata mesra, melainkan di atas realita.
Penulis : Abun_Nada