Bahaya Meremehkan Dosa, Saat Maksiat Terasa Biasa

Dosa yang paling mengkhawatirkan bukan hanya dosa yang dilakukan, tetapi dosa yang lama-kelamaan tidak lagi terasa sebagai dosa. Maksiat yang terus diulang dapat membuat hati terbiasa, rasa takut menghilang, bahkan pelakunya mulai menganggap ringan apa yang sebenarnya berat di sisi Allah. Mengapa seseorang bisa sampai pada keadaan seperti ini, dan bagaimana para salaf memandang dosa mereka?
Ibnul Qayyim: Dosa Terus Diulang Hingga Terasa Ringan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَزَالُ يَرْتَكِبُ الذَّنْبَ حَتَّى يَهُونَ عَلَيْهِ وَيَصْغُرَ فِي قَلْبِهِ، وَذَلِكَ عَلَامَةُ الْهَلَاكِ، فَإِنَّ الذَّنْبَ كُلَّمَا صَغُرَ فِي عَيْنِ الْعَبْدِ عَظُمَ عِنْدَ اللَّهِ.

“Di antara dampak maksiat adalah seorang hamba terus melakukan dosa hingga dosa itu terasa ringan baginya dan menjadi kecil dalam hatinya. Hal tersebut merupakan tanda kebinasaan. Sebab, semakin kecil dosa itu dalam pandangan seorang hamba, semakin besar dosa tersebut di sisi Allah.”

(Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 91 pada cetakan yang dirujuk).

Ini menunjukkan bahwa maksiat mempunyai dampak lanjutan. Dosa bukan hanya tercatat sebagai kesalahan, tetapi dapat merusak cara hati menilai kesalahan. Awalnya takut, kemudian terbiasa; awalnya malu, kemudian berani; awalnya merasa bersalah, kemudian mencari pembenaran.

Mukmin Melihat Dosanya Seperti Gunung

Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian membawakan perkataan ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ.

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ia khawatir akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya.”

(HR. Bukhari, no. 6308). Rumaysho.Com juga membawakan atsar ini dalam pembahasan tentang dosa kecil yang bisa menjadi besar.

Perbedaannya bukan berarti seorang mukmin sama sekali tidak pernah terjatuh dalam dosa. Seorang mukmin dapat berbuat salah, tetapi hatinya tidak nyaman dengan kesalahan tersebut. Ia takut, menyesal, dan ingin segera kembali kepada Allah.

Adapun orang fajir menggambarkan hati yang sudah kehilangan kepekaan. Dosa lewat begitu saja seperti lalat yang hinggap, lalu diusir tanpa meninggalkan kegelisahan berarti.

Mengapa Orang Bisa Sampai Meremehkan Dosa?

1. Lemahnya pengagungan kepada Allah

Salah satu akar terbesar meremehkan dosa adalah lemahnya pengagungan kepada Allah dalam hati.

Bilal bin Sa‘d rahimahullah berkata,

لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيئَةِ، وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ.

“Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”

Perkataan ini benar berasal dari Bilal bin Sa‘d, bukan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayatnya disebutkan dalam karya-karya ulama salaf.

Maka pertanyaan seorang mukmin bukan hanya, “Seberapa kecil dosa ini?” Akan tetapi, “Kepada siapa aku sedang bermaksiat?”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah juga berkata,

بِقَدْرِ مَا يَصْغُرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغُرُ عِنْدَ اللَّهِ.

“Seukuran dosa itu terasa kecil dalam pandanganmu, sebesar itulah ia menjadi besar di sisi Allah. Dan seukuran dosa itu terasa besar dalam pandanganmu, sebesar itulah ia menjadi kecil di sisi Allah.”

Semakin hidup rasa takut kepada Allah, semakin berat dosa terasa dalam hati.

2. Dosa terus diulang hingga menjadi kebiasaan

Inilah perkara yang secara khusus diperingatkan Ibnul Qayyim.

Allah Ta‘ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ.

“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu dosa, ditorehkan satu titik hitam pada hatinya. Jika ia meninggalkan dosa tersebut, memohon ampun, dan bertobat, hatinya kembali dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, titik itu ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ar-rān yang disebutkan oleh Allah.”

(HR. Tirmidzi, no. 3334; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubrā; dan Ibnu Hibban. Hadis ini dinilai hasan).

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan keadaan tersebut sebagai dosa yang ditumpuk di atas dosa hingga hati menjadi buta. Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa maksiat membuat hati berkarat; jika terus bertambah, karat tersebut menjadi rān, kemudian penutup, kunci, dan segel hati.

Maka prosesnya dapat digambarkan seperti ini:

berbuat dosa → merasa bersalah → mengulang dosa → rasa bersalah berkurang → terbiasa → menganggapnya biasa → akhirnya meremehkannya.

Yang menakutkan bukan hanya bertambahnya jumlah dosa, tetapi rusaknya alat untuk mendeteksi dosa, yaitu hati.

3. Menganggap dosa kecil tidak berbahaya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ.

“Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh karena dosa-dosa tersebut akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang sekelompok orang yang singgah di tanah lapang. Satu orang membawa sebatang kayu, yang lain membawa sebatang kayu, hingga kayu-kayu kecil itu terkumpul dan dapat digunakan untuk menyalakan api besar.

(HR. Ahmad, no. 3818. Sanadnya dinilai sahih oleh Ahmad Syakir).

Dorar.net menjelaskan bahwa muhaqqarāt adz-dzunūb adalah dosa yang tidak dipedulikan seseorang karena dianggap kecil. Padahal dosa-dosa kecil dapat berkumpul, saling menyeret, bahkan menjadi jalan menuju dosa yang lebih besar.

Karena itu, jangan mudah berkata,

“Cuma sekali.”

“Cuma melihat.”

“Cuma komentar.”

“Cuma bercanda.”

“Cuma sedikit berbohong.”

“Tidak separah orang lain.”

Ukuran bahayanya dosa tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan, tetapi juga kepada siapa kita durhaka.

4. Lalai terhadap akhirat dan panjang angan-angan

Orang yang merasa hidupnya masih panjang akan lebih mudah menunda tobat.

Allah Ta‘ala berfirman,

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan mereka, maka kelak mereka akan mengetahui.”
(QS. Al-Hijr: 3)

Islamweb memasukkan الْغَفْلَةُ وَطُولُ الْأَمَلِ, yaitu kelalaian dan panjang angan-angan, sebagai sebab lemahnya iman. Seseorang terus sibuk dengan dunia dan semakin banyak berpaling dari akhirat.

Ia berkata, “Nanti kalau sudah tua saya bertobat,” atau, “Masih ada waktu.”

Padahal tidak seorang pun mengetahui kapan ajal datang.

5. Merasa aman dengan ampunan Allah sambil terus bermaksiat

Kalimat, “Allah Maha Pengampun,” adalah benar. Namun, kebenaran tersebut tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk terus melakukan dosa.

Seorang mukmin harus menggabungkan antara berharap dan takut. Ia berharap kepada rahmat Allah sambil bertobat, bukan berharap kepada ampunan Allah sambil sengaja menetap dalam maksiat.

Islamweb bahkan menjelaskan bahwa terus bermaksiat sambil bersandar kepada ampunan Allah merupakan jalan yang berbahaya. Ibnul Qayyim mengkritik orang yang bergantung kepada rahmat dan ampunan Allah, tetapi mengabaikan perintah serta larangan-Nya.

Allah Ta‘ala justru memuji orang bertakwa dengan firman-Nya,

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka tidak terus-menerus melakukan apa yang telah mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

6. Maksiat sudah biasa diceritakan dan dipamerkan

Ketika dosa terus diceritakan, ditampilkan, dijadikan candaan, bahkan dibanggakan, rasa malu perlahan hilang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ.

“Seluruh umatku mendapatkan ‘afiyah kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan maksiat.”

Di antara bentuk terang-terangan tersebut adalah seseorang melakukan maksiat pada malam hari dalam keadaan Allah telah menutupinya, lalu pada pagi hari ia sendiri menceritakan perbuatannya kepada orang lain.

(HR. Bukhari, no. 6069; Muslim, no. 2990).

Pada awalnya seseorang mungkin malu diketahui orang melakukan dosa. Namun, setelah maksiat dianggap biasa, dosa justru dapat berubah menjadi bahan cerita, unggahan, candaan, bahkan kebanggaan.

Ini menunjukkan kerusakan lain: dosa tidak lagi membuatnya malu.

7. Tidak merasakan hukuman dosa secara langsung

Ada orang berbuat maksiat, tetapi tubuhnya tetap sehat. Rezekinya masih lancar. Kariernya tetap naik. Kehidupannya tampak nyaman.

Akhirnya ia berpikir, “Ternyata tidak terjadi apa-apa.”

Padahal hukuman maksiat tidak selalu berupa musibah lahiriah yang langsung terlihat.

Ibnul Qayyim menyebutkan di antara dampak maksiat adalah kegelapan hati, kehilangan kenikmatan taat, semakin kuatnya dorongan untuk bermaksiat, melemahnya keinginan bertobat, hingga hilangnya rasa buruk terhadap maksiat.

Boleh jadi hukuman yang paling berat justru ketika seseorang tidak lagi merasa bahwa dirinya sedang dihukumkarena hatinya makin jauh dari Allah.

8. Standar dosa berubah karena mengikuti lingkungan

Apa yang biasa dilakukan banyak orang belum tentu menjadi ringan dalam syariat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُوبِقَاتِ.

“Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan berbagai amalan yang menurut pandangan kalian lebih tipis daripada rambut. Padahal pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu kami menganggapnya termasuk perkara yang membinasakan.”

(HR. Bukhari, no. 6492).

Ini menunjukkan perbedaan standar hati.

Semakin kuat iman seseorang, semakin besar kehati-hatiannya terhadap maksiat. Namun, ketika suatu dosa telah menjadi budaya, kebiasaan masyarakat, tontonan sehari-hari, atau sesuatu yang terus dilakukan lingkungan sekitar, seseorang dapat kehilangan sensitivitas terhadap dosa tersebut.

Ukuran halal dan haram akhirnya bukan lagi wahyu, tetapi, “Semua orang juga melakukannya.”

Ketika Dosa Terasa Ringan, Padahal Besar di Sisi Allah

Allah Ta‘ala berfirman dalam kisah hadītsul-ifk,

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“Kalian menganggapnya suatu perkara yang ringan, padahal di sisi Allah perkara itu besar.”
(QS. An-Nur: 15)

Ayat tersebut secara khusus berkaitan dengan tuduhan dusta kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Namun, di dalamnya terdapat pelajaran penting bahwa sesuatu yang dianggap ringan oleh manusia bisa jadi sangat berat di sisi Allah.

Begitu pula dalam urusan lisan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, ia tidak menganggapnya penting, tetapi karena kalimat tersebut ia terjerumus ke dalam Jahannam.”

(HR. Bukhari, no. 6478; Muslim juga meriwayatkan hadis semakna).

Betapa banyak ucapan hari ini dianggap “sekadar komentar”, “hanya bercanda”, “cuma konten”, atau “sekadar cerita”, padahal bisa jadi sangat berat dalam timbangan Allah.

Orang Bertakwa Bukan Berarti Tidak Pernah Berdosa

Allah Ta‘ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?—dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

Ayat ini memberikan harapan.

Orang bertakwa bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, ketika terjatuh, ia mengingat Allah, beristigfar, bertobat, dan tidak sengaja memilih menetap dalam dosanya.

Bedanya dapat digambarkan:

Orang bertakwa jatuh lalu bangkit.

Adapun orang yang dikuasai maksiat jatuh, lalu lama-lama merasa nyaman berada di tempat jatuhnya.

Apakah Dosa Kecil Menjadi Besar karena Terus Dilakukan?

Ada ungkapan yang terkenal,

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ.

“Tidak ada dosa besar bersama istigfar, dan tidak ada dosa kecil bersama sikap terus-menerus dalam dosa.”

Perlu diluruskan: ungkapan ini tidak sahih sebagai hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat marfū‘-nya dinilai lemah. Rumaysho.Com juga telah memberikan catatan tentang kelemahan riwayat tersebut.

Namun, maknanya mengenai bahayanya iṣrār didukung oleh perkataan para ulama.

Imam An-Nawawi rahimahullah menukil,

قَالَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ: وَالْإِصْرَارُ عَلَى الصَّغِيرَةِ يَجْعَلُهَا كَبِيرَةً.

“Para ulama rahimahumullah berkata, ‘Terus-menerus melakukan dosa kecil menjadikannya dosa besar.’”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa iṣrār bukan sekadar hitungan berapa kali dosa dilakukan. Di antara maknanya adalah tekad hati untuk kembali melakukan kemaksiatan. Jika seseorang berbuat dosa kecil, bertobat dengan sungguh-sungguh, kemudian suatu ketika tergelincir lagi, keadaannya tidak sama dengan orang yang sejak awal hatinya bertekad terus melanjutkan maksiat.

Karena itu, jangan memahami masalah ini hanya secara matematis. Yang sangat berbahaya adalah ketika hati telah berdamai dengan maksiat, berniat mempertahankannya, tidak menyesalinya, dan tidak ingin meninggalkannya.

Dosa Kecil Bisa Menjadi Besar

Beberapa keadaan yang menyebabkan dosa kecil menjadi semakin berat, di antaranya ketika dosa dilakukan terus-menerus, diremehkan, ditampakkan secara terang-terangan, atau dilakukan oleh orang yang menjadi panutan sehingga kemudian diikuti orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barang siapa mencontohkan suatu jalan keburukan dalam Islam kemudian diamalkan setelahnya, dicatat baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

(HR. Muslim, no. 1017).

Karena itu, seseorang yang mempunyai pengaruh—orang tua, guru, ustaz, tokoh masyarakat, pemimpin, atau figur di media sosial—perlu lebih berhati-hati. Kesalahan yang kemudian ditiru orang lain dapat melahirkan dosa yang terus berjalan.

Sebaliknya, orang yang menjadi sebab tersebarnya kebaikan juga memperoleh pahala dari orang yang mengikuti kebaikan tersebut.

Tahapan Berbahaya Sampai Dosa Tidak Lagi Terasa Salah

Meremehkan dosa biasanya melalui proses.

  1. Awalnya seseorang melakukan dosa dan merasa takut.
  2. Kemudian dosa itu dilakukan lagi, tetapi rasa bersalah mulai berkurang.
  3. Setelah itu maksiat terasa biasa.
  4. Lalu ia mulai mencari alasan untuk membenarkannya.
  5. Berikutnya ia tidak malu lagi jika orang lain mengetahuinya.
  6. Bahkan bisa sampai pada tahap menceritakan, memamerkan, atau mengajak orang lain melakukannya.
  7. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika ia tidak senang jika dinasihati tentang maksiat tersebut.

Pada tahap ini, kerusakannya bukan lagi sekadar pada anggota badan, tetapi sudah mempengaruhi cara hati memandang kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Masalah Terbesar: Dosa Tidak Lagi Dianggap Dosa

Dari seluruh penjelasan di atas, dua akar terbesar mengapa seseorang sampai meremehkan dosa adalah lemahnya pengagungan kepada Allah dan rusaknya kepekaan hati karena maksiat yang terus diulang.

Dari dua akar tersebut muncul kelalaian, panjang angan-angan, merasa aman dengan ampunan Allah, terbiasa melihat maksiat, mengikuti standar lingkungan, hingga akhirnya dosa terasa seperti perkara biasa.

Inilah lingkaran yang perlu diputus:

maksiat → hati melemah → dosa terasa ringan → semakin mudah bermaksiat → hati semakin tertutup.

Namun, hadis tentang titik hitam pada hati sekaligus memberikan harapan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ.

“Jika ia meninggalkan dosa, beristigfar, dan bertobat, maka hatinya kembali dibersihkan.”

Selama seorang hamba masih mau kembali kepada Allah, pintu tobat terbuka.

Maka, masalah terbesar bukan sekadar pernah berbuat dosa, tetapi ketika dosa tidak lagi dianggap sebagai dosa.

Jangan tunggu sampai maksiat terasa biasa. Jangan tunggu sampai nasihat terasa mengganggu. Segeralah kembali kepada Allah sebelum hati kehilangan kepekaan untuk membedakan antara ketaatan dan kemaksiatan.

Pelajaran Penting

    1. Jangan mengukur dosa hanya dari besar dan kecilnya, tetapi ingat kepada keagungan Allah yang didurhakai.
    2. Rasa takut dan penyesalan setelah berbuat dosa merupakan tanda bahwa hati masih hidup.
    3. Dosa yang terus diulang dapat mematikan sensitivitas hati dan menjadikan maksiat terasa biasa.
    4. Jangan meremehkan dosa kecil karena dosa-dosa kecil dapat berkumpul dan membinasakan.
    5. Jangan menjadikan ampunan Allah sebagai alasan untuk sengaja meneruskan kemaksiatan.
    6. Jangan memamerkan dosa karena hal itu menunjukkan semakin hilangnya rasa malu terhadap Allah.
    7. Ukurlah dosa dengan timbangan syariat, bukan dengan kebiasaan masyarakat atau banyaknya orang yang melakukan.
    8. Orang bertakwa bukan orang yang sama sekali tidak pernah jatuh dalam dosa, tetapi orang yang segera bangkit dengan tobat.
    9. Semakin seseorang berpengaruh dan menjadi panutan, semakin besar tanggung jawabnya agar kesalahannya tidak ditiru.
    10. Jangan berputus asa. Tobat, istigfar, dan meninggalkan maksiat dapat kembali membersihkan hati.

—-

Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42795-bahaya-meremehkan-dosa-saat-maksiat-terasa-biasa.html

Tidak pernah Orang Miskin karena Sering Sedekah

Kami tidak pernah mendengar sama sekali

Kisah orang yang rajin berinfak dan sedekah

Kemudian jatuh miskin, bangkrut dan sengsara hidupnya

Justru semakin kaya hati dan bahagia kehidupannya

Dengan berkahnya pekerjaan, bisnis dan perdagangan

Tapi yang sering kami dengar

Orang yang jarang sedekah bahkan pelit

Rakus dan tenggelam dengan urusan dunia

Lalu jatuh bangkrut, miskin dan hidupnya sengsara

Orang-orang dekatnya pun mulai menjauh

Sedekah tidak akan membuat miskin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena shadaqah.” (HR. Riwayat Tirmidzi, shahih)

Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau berkata

تصدق بها منه بل يبارك له فيه

“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa sedekah bisa menambah harta kita (misalnya bisnis menjadi lebih lancar) dan Allah akan menggantikan harta tersebut dengan yang lebih baik. Beliau berkata,

فالصَّدقات يزيد الله بها الأموال، ويُنزل بها البركة، ويُعَوِّض الله فيها صاحبها الخير العظيم

“Dengan sedekah, Allah akan menambahkan hartanya, Allah turunkan keberkahan dan Allah akan gantikan hartanya dengan kebaikan yang besar.” (Syarh Riyadhul shalihin)

Perlu diingat hendaknya kita tidak berniat sedekah agar tambah kaya di dunia, akan tetapi kita yakin bahwa Allah Sebaik-baik Pemberi Rezeki telah menjanjikan akan mengganti apa yang telah kita infakkan, tentunya dengan pengganti yang jauh lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Semoga kita selalu dimudahkan untuk bersedakah, berinfak dan memberikan manfaat yang banyak kepada kaum muslimin.

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/tidak-pernah-orang-miskin-karena-sering-sedekah.html

Diantara Sebab Seseorang Suka Berburuk Sangka

Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,

وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
‏ فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.

“Semua orang yang kamu lihat suka berburuk sangka kepada manusia dan ingin menampakkan aib mereka adalah karena busuknya batin dan hatinya.”

(Az Zawaajir 1/143)

Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/71549

Memuji Diri: Antara Maslahat dan Ujub

Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?
Semua Kemampuan adalah Karunia Allah

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”

Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)

Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat.

Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin Hasil

Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)

Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.

Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk Maslahat

Allah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,

اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)

Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,

وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.

“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)

Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik.

Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri Suci

Di sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.

“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)

Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.

Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji Diri

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,

فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.

“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)

Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.

Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:

وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.

“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.”

Pembeda Utamanya: Niat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)

Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.

  • Jika disampaikan agar amanah jatuh kepada orang yang tepat, ilmu tersebar, hak tersampaikan, atau orang lain memperoleh manfaat, hal itu terpuji.
  • Jika disampaikan untuk mencari sanjungan, menutup kekurangan, merendahkan orang lain, mengumpulkan pengikut, atau menegakkan gengsi, hal itu tercela.
  • Jika setelah menyampaikan kemampuan ia merasa pasti sukses karena dirinya sendiri, maka ia telah memasuki pintu ujub dan lemahnya tawakal.

Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran Hati

KeadaanTandaSikap yang benar
Memperkenalkan kemampuan untuk maslahatAda kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusiaBoleh, bahkan terkadang diperlukan
Memuji diri demi pujian dan gengsiSenang dianggap paling hebat; meremehkan orang lainTercela dan dekat dengan ujub
Mengakui kemampuan sambil bersandar kepada AllahBerikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan AllahSikap mukmin
Mengandalkan kemampuan sendiriMerasa hasil pasti tercapai karena dirinyaBerbahaya bagi iman dan sebab kegagalan

Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada Diri

Seorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.

Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.

Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:

  1. Apakah penjelasan ini benar-benar diperlukan?
  2. Apakah tujuannya untuk maslahat atau untuk mencari pujian?
  3. Apakah saya telah mengakui bahwa kemampuan ini adalah karunia Allah?
  4. Jika ada orang lain yang lebih layak, apakah saya siap mendukungnya?

Semoga Allah beri taufik dan hidayah.

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.

Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

@ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/42773-memuji-diri-antara-maslahat-dan-ujub.html

KOTA MADINAH AKAN MENGELUARKAN ORANG MUNAFIK DARINYA


٢۱٧ –  إِنَّمَا الْمَدِيْنَةُ كَالْكِيْرِ تُنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَحُُ طَيِّبَهَا

          “Sesungguhnya Madinah ibarat pandai besi. Ia akan membersihkan semua kotoran yang ada dan akan memurnikan kebaikan-kebaikannya.”

Hadits ini ditakhrij oleh Imam Bukhari (4/77. 13/174. 258), Imam Muslim (9/155). Imam Malik (3/84). Imam Nasa’i (2/184). Imam Tirmidzi (4/373). Ath-Thayaiisi di dalam kitab Musnad-nya(2/204) dan Imam Ah­mad (3/292. 306. 307, 365. 385. 392. dan 393). dari Jabir bin Abdillah t (yang menceritakan):

“Ada seorang A’rabi berbai”at kepada Rasul r. Kemudian ia terserang demam ketika berada di Madinah. Rasul pun mendatanginya. Lalu si A’rabi itu berkata: “Wahai Rasulullah, batalkanlah bai’atku.” Namun beliau Rasul tidak memperkenankannya. Ia pun datang lagi kepada beliau, dan meminta beliau melepaskan bai’atnya, Beliau tetap menolak, dan pada permohonan yang ketiga, beliau bersabda di saat orang itu keluar: (Kemudian ia menyebutkan sabda Nabi r di atas selengkapnya).

Imam Tirmidzi menilai: “Hadits ini hasan.”

Hadits ini memiliki syahid yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit t. Zaid berkomentar tentang ayat: Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik (An-Nisa’: 88).

“Suatu ketika para sahabat pulang dari perang Uhud. Mereka terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama menyeru: “Perangi mereka. Golongan lainnya: “Jangan”. Kemudian turunlah ayat di atas. Lalu Nabi r bersabda:

٢۱٨ – إِنَّهَا طّيِّبَةٌ وَإِنَّهَا تُنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تُنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ   

“Kota itu bagus, ia akan menghilangkan semua kotoran yang ada, seperti api menghilangkan karat besi.”

Hadits ini ditakhrij oleh Imam Bukhari {4/77-78. 8/206), Imam Muslim (9/155-156), Imam Tirmidzi (4/89-90) dan Imam Ahmad (6/184, 187, 188) melalui Abdullah bin Yazid A!-Khatami dari Zaid bin Tsabit t At-Tirmidzi berkomentar: “Hadits ini hasan shahih.”

Para ulama mengartikan: Kata khabatsul hadid berarti kotoran yang biasa dihilangkan dengan api (dipanaskan dengan suhu tertentu). Sementara itu Al-Qadhi menambahkan: “Hal ini jelasnya terjadi pada masa Rasul r. dimana orang-orang yang tahan mengikuti hijrah bersama beliau hanyalah orang-orang yang teguh hati. Sedangkan orang-orang munafik atau mereka yang lemah iman, tidak akan tahan mengikuti beliau. Sebab Madinah kondisi alamnya lebih gersang di banding Makkah. Apalagi bagi mereka yang tidak memperhatikan soal pahala. Seperti tatkala seorang Arabi yang terserang demam itu, ia segera meminta kepada Nabi r agar membatalkan baiatnya. Inilah pendapat Al-Qadhi. Pendapat yang dikiranya lebih tepat namun justru sebaliknya. Sebab ada yaitu hadits Iain yang lebih kuat dari Abu Hurairah t sebagaimana disebutkan. yaitu: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga Madinah telah membersihkan orang-orang buruk.” Ini jelasnya terjadi pada masa Dajjal. seperti yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nyaTatkaia Dajjal keluar. Madinah bergonncang sebanyak tiga kali goncangan, dimana orang-orang kafir maupun munafik akan dikeluarkan dari kota tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Anas dan ditakhrij pula oleh Imam Bukhari (4/76). Hadits ini mengisyaratkan bahwa terjadinya peristiwa itu adalah pada masa keluarnya Da­jjal. Sedang kemungkinan lainnya adalah bahwa hal itu beberapakali terjadi pada kurun yang berbeda-beda. Demikianlah penjelasan syarah Muslim karya An-Nawawi (9/154).

Saya berpendapat: Yang lebih tepat lagi adalah. bahwa peristiwa itu hanya terjadi pada saat Rasulullah masih hidup. Mengingat hadits Arabi di atas. atau terjadi pada saat lainnya dengan tidak berlangsung terus menerus. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah I:

وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ

“Dan di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikan.” (At-Taubat: 101).

Orang munafik jelas orang yang kotor, seperti yang dikatakan oleh Al-Hafizh. Menurutnya inilah yang dimaksudkan dengan hadits Zaid bin Tsabit di atas. Dengan demikian. kata tanfi pada hadits di atas bukan berarti terus berlangsung. akan tetapi berarti tikrar (terjadi beberapa kali). Peristiwa itu memang pernah terjadi pada masa Rasul r. Namun pada masa keluarnya Dajjal juga kembali terjadi (Insya Allah), seperti yang diisyaratkan oleh hadits Anas di atas. Pendapat inilah yang tampaknya lebih disukai oleh AI-Hafizh di dalam.Al-Fath (6/76). Karena itu, pada bagian akhir komentarnya, ia mengatakan: “Adapun di antara kedua masa tersebut, tidak terjadi hal yang seperti itu.”

Terakhir itulah pendapat yang dekat. bahkan yang paling benar. Kenyataan yang ada sekarang. juga mendukungnya.

sumber: https://alquran-sunnah.com/kitab/Shahihah/KOTA%20MADINAH%20AKAN%20MENGELUARKAN.htm

Jangan Tertipu Oleh Pujian Manusia

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

«واعلم أنَّ الناسَ إذا أُعجِبوا بك، فإنَّما أُعجِبوا بجميلِ سترِ اللهِ عليك.»

“Ketahuilah, ketika manusia mengagumimu, sesungguhnya mereka hanya mengagumi indahnya Allah menutupi aib-aibmu..”

(Madaarijus Saalikiin 2/293)

Jangan tertipu oleh pujian manusia.
Mereka hanya melihat apa yang Allah tampakkan, bukan seluruh kekurangan yang Allah sembunyikan.

Jika hari ini mereka memandangmu baik, itu semata karena indahnya Allah menutupi aibmu.

Maka, setiap pujian semestinya melahirkan syukur dan tawadhu‘, bukan ujub.

====
DO’A KETIKA DIPUJI ORANG LAIN

– ALLAAHUMMA LAA TU-AAKHIDZ-NII BIMAA YAQUULUUN
– WAGH-FIR-LII MAA LAA YA’LAMUUN
– WAJ ‘AL-NII KHOYRON MIMMAA YAZHUN-NUUN

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75120

Kejelekan Diganti Kebaikan

Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah.

Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat. Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat, bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat hamba-Nya yang beriman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71)

Mengenai “Atsamaa”

Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”. ‘Abdullah bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam. ‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat dari kelanjutan ayat setelahnya.[1]

Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat

Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang begitu menghinakan.[2]

Termasuk Dosa Besar

Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik, membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair (dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut.

Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48, 116)

Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya. Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia tidak kekal di neraka.”[4]

Wajib Bertaubat

Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina, maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat?

Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[5]

Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan “kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6]

Kejelekan Diganti Kebaikan

Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah,

فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

“Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya.

Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan, pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid.

Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah. Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7]

Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat.

Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat

Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar atau dosa kecil.”[8]

So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah!

Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011)

[1] Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326, terbitan Muassasah Qurthubah.

[2] Idem.

[3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, 587, terbitan Muassasah Ar Risalah.

[4] Idem.

[5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61.

[6] Taisir Al Karimir Rahman, 587.

[7] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 6/107, terbitan Al Maktab Al Islami.

[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/330.

Penyakit Hati Muncul Karena Sibuk Memata-matai Orang Lain

Bisa jadi
Penyakit hati muncul

Karena terlalu sibuk

Ngurus urusan orang lain

Sibuk ngurus postingan orang

Senang orang lain susah

Susah orang lain senang
Orang gembira dia sesak

Orang berhasil dia hasad

Orang sukses dia murung

Orang posting nasehat dia baper

Susah mau ngapa-ngapain ngurusin orang
Mending fokus bersyukur

Perbaiki kekurangan diri
Saudaraku,

Terlalu sibuk memikirkan urusan orang lain, akan  merugikan diri sendiri apalagi sampai tahap “memata-matai” untuk mencari-cari keselahan saudaranya.
Ini yang dimaksud dengan tajassus dalam ayat,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﺛْﻢٌ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮﺍ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu (memata-matai) mencari-cari kesalahan orang lain ” (Al-Hujurat : 12)
An-Nawawi menjelasakan mengenai tajassus, beliau berkata,

ﺍﻟﺒﺤﺚ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻮﺭﺍﺕ . ﻭﻗﻴﻞ : ﺑﺎﻟﺠﻴﻢ : ﺍﻟﺘﻔﺘﻴﺶ ﻋﻦ ﺑﻮﺍﻃﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ , ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻣﺎ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮ

“Tajassus adalah mencari aurat (kesalahan-kesalahan tersembunyi orang lain, ada juga yang mengatakan mencari/memeriksa yang tersembunyi dan kebanyakannya adalah kejelekan (yang tersembunyi).” [1] Setiap kita pasti punya kesalahan tersembunyi, tentu kita tidak ingin kesalahan itu ditampakkan karena bisa jadi kita sudah bertaubat dan menyesal.
Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,

ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺘﺠﺴﺲ ، ﺑﻞ ﻳﺄﺧﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻇﺎﻫﺮﻫﻢ ، ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻫﻨﺎﻙ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻑ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ 

“Tidak selayaknya manusia melakukan tajassus, bahkan harus dinilai sesuai dzahir yang nampak, selama tidak ada indikasi yang tidak sesuai dengan dzahirnya.” [2] Demikian juga hadits larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

ﺇِﻳَّﺎ ﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﺃَﻛْﺬَﺏُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻻَ ﺗَﺤَﺴَّﺴُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﺤَﺎﺳَﺪُﻭﺍ ﻭَﻻَﺗَﺪَﺍﺑَﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَﺗَﺒَﺎﻏَﻀُﻮﺍ ﻭَﻛُﻮْﻧُﻮﺍﻋِﺒَﺎﺩَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇﺣْﻮَﺍﻧًﺎ

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[3] Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] Syarh An-Nawawi lil Muslim
[2] Tafsir Surat Al-Hujurat hal. 50-51
[3] HR. Al-Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563

sumber: https://muslimafiyah.com/penyakit-hati-muncul-karena-sibuk-memata-matai-orang-lain.html

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua adalah Kewajiban Anak Seumur Hidupnya

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban setiap insan, serta salah satu ibadah yang paling mulia di sisi Allah. Allah Ta’ala telah menyandingkan perintah berbakti kepada orang tua dengan perintah tauhid dan ibadah kepada-Nya. Allah juga menyandingkan hak mereka dengan hak-Nya. Allah berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra: 23)

Allah berfirman,

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لا يدخلُ الجنَّةَ منَّانٌ، ولا عاقٌّ، ولا مُدمنُ خمرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengungkit pemberian (mannan), orang yang durhaka kepada orang tua (‘aqiq), dan pemabuk (mudmin khamr).” (HR. An-Nasai no. 5688 dan Ahmad no. 6882)

Wujud bakti seorang anak setelah wafatnya kedua orang tuanya

Mungkin ada sebagian dari kita yang saat orang tuanya masih hidup tidak mampu berbakti dengan sempurna. Mungkin ada juga yang pernah menyakiti hati mereka atau durhaka kepada mereka dan kini ingin bertobat serta menebusnya. Sementara itu, ada juga yang telah berbakti dengan baik, namun ingin terus melanjutkan kebaikan itu setelah orang tuanya wafat. Lalu, bagaimana cara berbakti kepada mereka setelah wafatnya mereka?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له 

“Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Di sinilah peran seorang anak dapat bermanfaat bagi kedua orang tuanya meskipun mereka telah meninggal dunia; yaitu apabila ia selalu berdoa dan memohonkan ampunan dan rahmat bagi keduanya. 

Dengan demikian, anak yang beramal saleh untuk kedua orang tuanya akan menjadi perpanjangan dari amal yang telah terputus, dan pahala yang tidak terduga bagi orang yang sudah meninggal. Amal itu akan membahagiakan, mengangkat derajat, menghapus dosa, bahkan mungkin menyelamatkannya dari api neraka.

Bentuk berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat

Disebutkan dalam hadis dari Abu Usaid As-Sa’idi,

بينما نحن عند رسول اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذ جاءه رجلٌ من بني سَلمةَ، فقال: يا رسولَ اللهِ، هل بَقِيَ مِن بِرِّ أَبَويَّ شيءٌ أَبَرُّهما به بعد موتِهما؟ قال: نعم، الصَّلاةُ عليهما ، والاستغفارُ لهما، وإنفاذُ عَهدِهما من بعدِهما، وصِلةُ الرَّحِمِ التي لا تُوصَلُ إلَّا بهما، وإكرامُ صديقِهما

“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bakti kepada kedua orang tua saya setelah mereka meninggal?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, ada. Mendoakan mereka, memintakan ampunan untuk mereka, melaksanakan janji-janji mereka setelah mereka tiada, menyambung tali silaturahim yang tidak terjalin kecuali karena mereka, dan memuliakan teman-teman mereka.’” (HR. Ibnu Majah no. 3664 dan Ahmad no. 16059)

Hadis ini mencakup empat contoh berbakti:

Mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka

Mendoakan di sini berarti memohonkan segala kebaikan bagi mereka, mendoakan agar diluaskan kubur mereka, dianugerahkan kenikmatan di dalamnya, diangkat derajatnya, diterima amal mereka, dikumpulkannya mereka bersama para Nabi, orang-orang saleh, Syuhada, dan para shiddiqin, serta ditempatkannya mereka bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga tertinggi.

Memohonkan ampunan dan penghapusan dosa adalah doa yang paling berharga, sebagaimana doa para Nabi untuk orang tua mereka. Seperti doa Nabi Nuh dan Ibrahim alaihimassalam,

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang yang masuk ke rumahku dengan beriman serta semua orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28)

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari perhitungan.” (QS. Ibrahim: 41)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjadikan doa sebagai tanda kesalehan seorang hamba, Dalam Musnad Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ! أَنَّى لِي هَذِهِ؟! فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat hamba yang saleh di surga, lalu dia bertanya, ‘Ya Tuhanku, dari mana aku dapatkan ini?’ Dikatakan kepadanya, ‘Itu karena permohonan ampunan dari anakmu untukmu.” (HR. Ahmad no. 10610 dan Ibnu Majah setelah hadis no. 3660; Syekh Al-Albani menghasankan hadis ini)

Menunaikan janji-janji mereka

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud di sini adalah wasiat. Namun, janji sebenarnya lebih luas daripada wasiat, meskipun wasiat adalah bagian yang paling ditekankan. Jika wasiat itu sepertiga atau kurang dari harta, wajib untuk dilaksanakan, selebihnya hukumnya sunah dan bentuk bakti, bukan kewajiban.

Janji juga mencakup jika salah satu orang tua berjanji untuk berbuat baik kepada saudaranya karena membutuhkan, atau kepada tetangga, kerabat, atau teman tertentu. Melaksanakan janji-janji ini adalah bagian dari bakti, selama tidak termasuk perbuatan dosa atau maksiat.

Menyambung tali silaturahmi kepada saudara mereka

Menyambung tali silaturahmi pada dasarnya adalah kewajiban, dan menjadi lebih wajib setelah orang tua meninggal dunia. Silaturahmi ini mencakup paman, bibi, dan anak-anak mereka, saudara laki-laki dan perempuan mereka. Di antara upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan bertutur kata dan berakhlak yang baik kepada mereka, serta sering mengunjungi mereka agar hubungan tidak terputus setelah orang tua meninggal. Dengan begitu, kita akan mendapatkan pahala karena menyambung silaturahmi dan berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat.

Memuliakan teman-teman mereka

Setiap orang tua pastilah memiliki teman dekat yang sangat akrab dengan mereka. Di antara tanda bakti, cinta, dan penghargaan yang agung kepada orang tua adalah menjaga hubungan dengan mereka setelah orang tua wafat. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seorang anak yang menyambung hubungan dengan teman-teman dekat ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ أحَبَّ أنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِي قَبْرِهِ؛ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيهِ بَعْدَهُ

“Barang siapa yang ingin menyambung hubungan dengan ayahnya di kuburnya, maka sambunglah hubungan dengan teman-teman ayahnya setelahnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 432, disahihkan oleh Al-Albani)

Di antara contoh berbakti lainnya kepada kedua orangtua sepeninggal mereka adalah:

Membayar utang, nazar, dan kafarat mereka

Sebagaimana kita ketahui, orang yang meninggal dunia dan masih memiliki utang, maka ia akan tertahan oleh utangnya, artinya ia terhalang masuk surga sampai utangnya dilunasi. Dalam hadis disebutkan,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إلَّا الدَّيْنَ

Orang yang mati syahid diampuni segala dosanya kecuali utangnya.” (HR. Muslim no. 1886)

Adapun nazar, disebutkan dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أنَّ امرأةً ركِبتِ البحرَ فنذَرَتْ إنِ اللهُ تبارك وتعالى أنجاها أنْ تصومَ شهرًا فأنجاها اللهُ عز وجل فلم تصُمْ حتى ماتتْ فجاءتْ قَرَابَةٌ لها إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فذكرتْ ذلك له فقال : صومي

“Seorang wanita melakukan perjalanan laut, lalu ia bernazar jika Allah menyelamatkannya, maka ia akan berpuasa sebulan. Setelah itu, Allah menyelamatkannya, namun ia meninggal sebelum sempat melaksanakan nazar puasanya. Kerabat perempuannya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu. Nabi bersabda, “Berpuasalah untuknya.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1148, hadis ini sahih dengan syarat)

Hadis ini juga mencakup kafarat, yang memiliki kedudukan yang sama dengan nazar.

Bersedekah atas nama mereka

Para ulama sepakat bahwa pahala sedekah sampai kepada orang yang telah meninggal. Hal ini dikuatkan dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ibu Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal ketika ia tidak bersamanya. Sa’d berkata,

يا رَسولَ اللَّهِ إنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، أَيَنْفَعُهَا شيءٌ إنْ تَصَدَّقْتُ به عَنْهَا؟ قالَ: نَعَمْ، قالَ: فإنِّي أُشْهِدُكَ أنَّ حَائِطِيَ المِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Ya Rasulullah, ibuku meninggal saat saya tidak bersamanya. Apakah akan bermanfaat jika saya bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Sa’d berkata, “Saksikanlah, kebun kurma saya adalah sedekah untuknya.” (HR. Bukhari no. 2756)

Adapun di antara sedekah yang paling baik adalah wakaf, seperti: membangun masjid, asrama, rumah sakit, dan klinik amal untuk merawat orang yang membutuhkan, menggali sumur, mencetak mushaf dan buku-buku ilmu yang bermanfaat, menanggung biaya anak yatim dan janda, serta menanggung biaya para dai dan penuntut ilmu, karena semua ini adalah amalan-amalan yang manfaatnya terus mengalir dan dampaknya bertahan lama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan yang akan menyertai seorang mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkan, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya saat sehat dan hidupnya. Semua itu akan menyertainya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah no. 200, dihasankan oleh Syekh Al-Albani)

Penutup

Ada satu amal jariyah yang tidak kalah penting yang dapat dipersembahkan seorang anak kepada kedua orang tuanya setelah mereka wafat, yaitu adalah kesalehan dan amal baik yang dilakukan oleh anak itu sendiri. Karena “anak adalah hasil jerih payah ayah dan ibunya,” maka setiap amal yang dilakukan anak, yang tentu saja diajarkan oleh orang tuanya, inilah yang menjadi hakikat ilmu yang bermanfaat yang sebenarnya, yang akan menjadi timbangan kebaikan bagi ayah dan ibunya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَن دعا إلى هُدًى كان له مِن الأجرِ مِثْلُ أجورِ مَن تبِعهُ لا ينقُصُ ذلك مِن أجورِهم شيئًا، ومَن دعا إلى ضلالةٍ كان عليه مِن الإثمِ مِثْلُ آثامِ مَن تبِعهُ لا ينقُصُ ذلك مِن آثامِهم شيئًا

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.” (HR. Muslim no. 2674)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من قرأ القرآنَ وتعلَّم وعمِل به أُلْبِس والداه يومَ القيامةِ تاجًا من نورٍ ضوءُه مثلُ الشَّمسِ ويُكسَى والداه حُلَّتَيْن لا يقومُ لهما الدُّنيا فيقولان بمَ كُسينا هذا فيُقالُ بأخذِ ولدِكما القرآنَ

“Barang siapa membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an, kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari. Dan kedua orang tuanya akan dipakaikan dua jubah yang nilainya lebih dari dunia! Mereka bertanya, ‘Karena apa kami dipakaikan ini?’ Dikatakan, ‘Karena anak kalian mengambil Al-Qur’an.” (HR. Al-Hakim no. 2086, Al-Imam Al-Mundziri dalam kitabnya Shahih At-Targhib wa At-Tarhib berkata, “Hadis ini hukumnya sahih atau hasan atau yang mendekati keduanya.”)

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua sebagai anak yang dapat berbakti kepada kedua orangtuanya, bahkan sepeninggal mereka, dan semoga kita semua juga diberikan karunia anak-anak saleh yang dapat berbakti kepada kita bahkan setelah kita meninggal dunia. Wallahu a’lam bissowaab.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/109490-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-adalah-kewajiban-anak-seumur-hidupnya.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Ampuhnya Do’a Ibarat Tajamnya Pedang

Ada ibarat yang sangat bagus yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau menyampaikan bagaimanakah ampuhnya do’a dan ini diibaratkan seperti tajamnya pedang. Kita harus merenungkan hal ini agar kita dapat semangat terus untuk berdo’a dan tidak berputus asa.

Ibnul Qayyim dalam Al Jawabul Kaafi mengatakan,

والادعية والتعوذات بمنزلة السلاح والسلاح بضاربه لا بحده فقط فمتى كان السلاح سلاحا تاما لا آفة به والساعد ساعد قوي والمانع مفقود حصلت به النكاية في العدو ومتى تخلف واحد من هذه الثلاثة تخلف التأثير فإن كان الدعاء في نفسه غير صالح أو الداعى لم يجمع بين قلبه ولسانه في الدعاء أو كان ثم مانع من الاجابة لم يحصل الأثر

“Do’a dan ta’awudz (meminta perlindungan pada Allah) ibarat pedang. Pedang itu diandalkan tebasannya bukan hanya ketajamannya. Oleh karenanya, pedang jadi ampuh bila: (1) tidak cacat, (2) yang menebas adalah orang yang kuat dan (3) tidak ada penghalang ketika pedang dihujam yang membuat musuh tersingkir. Jika salah satu dari tiga hal ini tidak ada, maka pedang tersebut tidaklah ampuh.

Do’a pun demikian. Do’a tidaklah ampuh bila: (1) orang yang berdo’a tidaklah baik, (2) yang berdo’a tidak menyatukan antara hati dan lisan saat berdo’a (artinya: do’a yang dipanjatkan tidak diresapi), (3) ada penghalang sehingga do’a tidak terkabul[1]. Jika ada salah satu dari tiga hal ini, do’a tidaklah ampuh.”

Semoga dengan merenungkan hal ini, kita semakin memperbaiki diri kala memanjatkan do’a. Ya Allah, kabulkanlah do’a-do’a kami. Wallahu waliyyut taufiq.

Faedah saat safar @ Manarotul Asheel, Makkah Al Mukarromah, 20 Syawal 1433 H


[1] Seperti karena sebab makan yang haram, do’a sulit terkabul.

Sumber https://rumaysho.com/2790-ampuhnya-doa-ibarat-tajamnya-pedang.html