Tanda Mencintai Sesama Mukmin

Sudahkah kita mencintai sesama mukmin dengan benar?

Tanda mencintai sesama mukmin nampak pada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berikut ini, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Mencintai bisa jadi berkaitan dengan urusan diin (agama), bisa jadi berkaitan dengan urusan dunia. Rinciannya sebagai berikut.

1- Sangat suka jika dirinya mendapatkan kenikmatan dalam hal agama, maka wajib baginya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapatkan hal itu. Jika kecintaan seperti itu tidak ada, maka imannya berarti dinafikan sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Jika seseorang suka melakukan perkara wajib ataukah sunnah, maka ia suka saudaranya pun bisa melakukan semisal itu. Begitu pula dalam hal meninggalkan yang haram. Jika ia suka dirinya meninggalkan yang haram, maka ia suka pada suadaranya demikian. Jika ia tidak menyukai saudaranya seperti itu, maka ternafikan kesempurnaan iman yang wajib.

Termasuk dalam hal pertama ini adalah suka saudaranya mendapatkan hidayah, memahami akidah, dijauhkan dari kebid’ahan, seperti itu dihukumi wajib karena ia suka jika ia sendiri mendapatkannya.

2- Sangat suka jika dirinya memperoleh dunia, maka ia suka saudaranya mendapatkan hal itu pula. Namun untuk kecintaan kedua ini dihukumi sunnah. Misalnya, suka jika saudaranya diberi keluasan rezeki sebagaimana ia pun suka dirinya demikian, maka dihukumi sunnah. Begitu juga suka saudaranya mendapatkan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia lainnya, hal seperti ini dihukumi sunnah.

Kesimpulannya, mencintai orang mukmin sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri jika berkaitan dengan hal dunia, dihukumi sunnah. Sedangkan jika berkaitan dengan hal agama, dihukumi wajib mencintai saudaranya semisal yang kita peroleh.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mencintai saudara kita yang beriman sebagaimana kita suka mendapatkan hal yang sama.

Referensi:

Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan kedua, tahun 1433 H.

—

Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 15 Rabi’ul Akhir 1436 H di Darush Sholihin

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/10198-tanda-mencintai-sesama-mukmin.html

Berwibawa di Luar Rumah, Ramah dan Akrab di Rumah

Salah satu sifat suami yang baik adalah berwibawa, disegani dan bisa diandalkan di luar rumah, baik itu ketika bekerja atau bermuamalah. Di dalam rumahnya, seorang suami ramah, akrab dan bermain-main dengan istri dan anak-anaknya. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Perhatikan riwayat berikut,

عن ثابت بن عبيد رحمه الله قال : مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَجَلَّ إِذَا جَلَسَ مَعَ الْقَوْمِ ، وَلاَ أَفْكَهَ فِي بَيْتِهِ ، مِنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِت

Dari Tsabit bin Ubaid,  “Aku belum pernah melihat seorang yang demikian berwibawa saat duduk bersama kawan-kawan namun demikian akrab dan kocak saat berada di rumah melebihi Zaid bin Tsabit”[1]

Karenanya ada perumpamaan bagi suami,
“Singa di luar rumah dan kucing di dalam rumah”

Seorang suami layaknya singa di luar rumah, berwibawa, disegani dan dapat diandalkan, sedangkan di dalam rumah, ia akrab dan bermain-main dengan keluarganya sebagaimana anak kucing yang memainkan pintalan benang. Janganlah terbalik, suami di luar rumah tidak berwibawa dan terlalu sering melucu yang bisa menurunkan kewibawaan dan tidak disegani orang, akan tetapi di dalam rumah ia bagaikan singa yang mudah mengaum, mudah marah dan mengamuk, istri dan anak-anaknya sangat takut padanya serta tidak adanya rasa kasih sayang, ia membuat suasana rumah menjadi tegang dan menakutkan. Tentu ini bukanlah sifat suami yang baik.

Perhatikan hadits berikut yang menjelaskan bahwa semua permainan itu bisa melalaikan, akan tetapi ada pengecualiannya yaitu bermainnya suami bersama anggota keluarganya. Hal ini justru bermanfaat dan dianjurkan oleh agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ شَيْئٍ يَلْهُو بِهِ الرَّجُلُ بَاطِلٌ إِلاَّ في ثَلاَثَة رَمْيُ الرَّجُلُ بِقَوْسِهِ وَ تَأْدِيْبُهُ فَرَسَهُ و مُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh seseorang adalah batil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.”[2]

Al-Khattabi rahimahullah berkata,

قَال الْخَطَّابِيُّ : فِي هَذَا بَيَانُ أَنَّ جَمِيعَ أَنْوَاعِ اللَّهْوِ مَحْظُورَةٌ ، وَإِنَّمَا اسْتَثْنَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Pada hadits ini terdapat penjelasan bahwa semua jenis permainan yang bisa melalaikan adalah terlarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecualikannya (pada hadits)”[3]

Suami di dalam rumah hendaknya menyempatkan bercanda dan ngobrol akrab dengan istrinya, bermain-main dengan anak-anaknya, misalnya main kuda-kudaan dengan anak-anaknya.

Lihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain-main dengan istrinya semisal berlomba lari dengan istrinya, atau bermain-main saling berebut gayung ketika mandi bersama yang merupakan sunnah bagi pasutri.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ بَيْنِي وَبَيْنَهُ فَيُبَادِرُنِي حَتَّى أَقُوْلُ دَعْ لِيْ دَعْ لِيْ قَالَتْ وَهُمَا جُنُبَانِ

“Aku mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu tempayan (yang diletakan) antara kami berdua, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahuluiku (dalam mengambil air dari tempayan) hingga aku berkata, “Sisakan air buatku, sisakan air buatku”. Mereka berdua dalam keadaan junub.”[4]

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat baik dengan keluarga, istri dan anak-anak beliau. Beliau bersabda,

ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻷَﻫْﻠِﻪِ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻷَﻫْﻠِﻲ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”.[5]

Di riwayat yang lain,

وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”[6]

@ Di antara bumi dan langit Allah, Pesawat Express Air Yogyakarta – Pontianak

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:

[1] Al-Adab al-Mufrad karya al-Bukhari no 286

[2] HR. Ath-Thabrani dalam kitab Fadhailu -r Ramyi wa Ta’liimih (1/30)

[3] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 35/337

[4] HR Muslim I/257 no 321

[5] HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285

[6] HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284


Sumber: https://muslim.or.id/35637-suami-berwibawa-di-luar-rumah-ramah-dan-akrab-di-dalam-rumah.html

SEBAB KERASNYA HATI

Ibnu Rojab al-Hambali rahimahullah memiliki sebuah risalah yang berjudul Dzammu Qoswah al-Qalb yang artinya celaan terhadap hati yang keras. Di dalamnya beliau menyebutkan beberapa sebab kerasnya hati. Berikut di antaranya:

  • Banyak bicara tanpa ada zikir kepada Allah ta’ala.

Dari Ibnu Umar radhiyaAllahu anhuma ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian banyak berbicara tanpa ada zikir kepada Allah. Sebab banyak bicara tanpa ada zikir kepada Allah adalah kekerasan bagi hati. Dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah pemilik hati yang keras. (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata: Hadis hasan gharib. Syaikh al-Albani menjelaskan hadis ini lemah)

  • Banyak tertawa.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan:

وَلَا تُكْثِرُوْا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُـمِيْتُ الْقَلْبَ

“Dan janganlah kalian banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dll. Syaikh al-Albani menghukumi hadis ini sahih)

  • Banyak makan. Khususnya dari usaha yang syubhat (tidak jelas halal-haramnya) atau haram.

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata: “Dua hal dapat mengeraskan hati; banyak berbicara dan banyak makan.”

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya: “Bisakah seorang mendapati hatinya lembut sementara dia kenyang?” “Saya rasa tidak bisa,” jawab beliau.

  • Banyak berbuat dosa.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa bila seorang mukmin berbuat dosa maka akan ada titik hitam di hatinya. Bila ia bertaubat dan beristighfar maka hatinya akan kembali bersih. Namun bila ia banyak berbuat dosa maka titik hitam itu akan terus bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah noda yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14) (Hadis sahih riwayat at-Tirmidzi)

Ibnul Mubarok rahimahullah berkata: “Aku lihat dosa dapat mematikan hati, kecanduan dengannya dapat mewariskan kehinaan diri. Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati, menjauhinya adalah yang terbaik bagi diri.”

sumber : https://www.sulhan.net/sebab-kerasnya-hati#more-1522

Perhatikan, Bagaimanakah Akhir dari Amalmu?

Tidak diragukan lagi, akhir (penutup) dari amal-amal kita adalah perkara yang sangat penting. Para salaf rahimahumullah senantiasa memperhatikan akhir dari suatu amal, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan juga untuk mengamalkan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 60).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggambarkan para hamba-Nya yang beriman bahwa mereka memberikan (melaksanakan) berbagai amal ibadah dan ketaatan secara sungguh-sungguh. Mereka juga sangat takut kepada Allah Ta’ala, karena mereka tidak tahu, apakah amal mereka akan diterima ataukah tidak. Oleh karena itu, seorang hamba tidak boleh bangga dengan amalnya, sebanyak apa pun amal yang telah dikerjakannya. Jika amal tersebut tidak diterima oleh Allah Ta’ala, amal tersebut tidak ada faidahnya. Sebanyak apa pun amal yang telah dikerjakannya, namun jika tidak diterima oleh Allah Ta’ala, maka hanya bagaikan debu yang berterbangan.

Jika suatu amal diterima oleh Allah Ta’ala, meskipun amal itu hanya sedikit, Allah Ta’ala akan melipatgandakan pahalanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah. Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” (QS. An-Nisa’ [4]: 40).

Allah Ta’ala lebih mengetahui keadaan niat dan keikhlasan seorang hamba dalam beramal. Oleh karena itu, seorang hamba harus mencurahkan segala usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalnya. Kita yakin bahwa Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala dari orang yang beramal sedikit pun. Wajib atas seorang hamba untuk memperbanyak amalnya, mengikhlaskan niatnya, mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (QS. Al-Baqarah [2]: 143).

Berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala hanya akan menjadi penghalang antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’” (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Di sisi lain, seorang hamba tidak boleh bangga dan kagum dengan amalnya atau merasa telah banyak beramal. Akan tetapi, dia senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala untuk menerima amalnya dan mengiringi setiap amalnya dengan istighfar, memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Karena manusia adalah tempat salah dan lupa. Sebanyak apa pun amalnya, akan tetapi pasti di dalamnya terdapat berbagai cacat dan kekurangan. Sehingga dia berusaha menutup kekurangan tersebut dengan istighfar. Dengan kata lain, seorang muslim hendaknya menghitung kejelekan-kejelekannya, dan tidak menghitung amal kebaikannya. Hendaknya dia menghisab dirinya, menghitung-hitung kesalahan dan dosanya, kemudian beristighfar dan bertaubat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy-Syuura [42]: 25).

Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak istighfar di akhir setiap amal ibadah dan ketaatan. Dia tidak menganggap dirinya telah melaksanakan amal tersebut dengan sempurna sesuai tuntutan syariat. Akan tetapi dia tidak tahu, bisa jadi dalam amal tersebut ada banyak kekurangan. Sehingga dia pun memperbanyak istighfar dan taubat, serta menganggap bahwa amalnya tersebut sangat kecil di sisi Allah Ta’ala.

***

Diselesaikan ba’da ashar, Rotterdam NL 7 Dzulqa’dah 1438/30 Juli 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 113-116 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422)


Sumber: https://muslim.or.id/32305-perhatikan-bagaimanakah-akhir-dari-amalmu.html

Resep Hidup Bahagia

Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita dari berbagai agama, bangsa, profesi dan status sosial tentang cita-cita mereka hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama “kami ingin bahagia”. Bahagia adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Orang mukmin ingin bahagia demikian juga orang kafir pun ingin bahagia. Orang yang berprofesi sebagai pencuri pun ingin bahagia dengan profesinya. Melalui kegiatan menjual diri, seorang pelacur pun ingin bahagia. Meskipun semua orang ingin bahagia, mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak mengetahui cara untuk meraihnya. Meskipun ada sebagian orang merasa gembira dan suka cita saat hidup di dunia akan tetapi kecemasan, kegalauan dan penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi ketakutan terhadap kematian.

Allah berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 8:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah: 8)

Banyak orang yang beranggapan bahwasanya orang-orang barat adalah orang-orang yang hebat. Mereka beranggapan bahwasanya orang-orang barat hidup penuh dengan kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan. Tetapi fakta berbicara lain, realita di lapangan menunjukkan bahwa secara umum orang-orang barat itu hidup penuh dengan penderitaan. Hal ini dikuatkan dengan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh orang-orang barat sendiri tentang kasus pembunuhan, bunuh diri dan berbagai tindakan kejahatan yang lainnya, namun ada sekelompok manusia yang memahami hakikat kebahagiaan bahkan mereka sudah menempuh jalan untuk mencapainya. Merekalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Mereka memandang kebahagiaan itu terdapat dalam sikap taat kepada Allah dan mendapat ridho-Nya, menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Boleh jadi di antara mereka yang tidak memiliki kebutuhan pokoknya setiap harinya, akan tetapi dia adalah seorang yang benar-benar bahagia dan bergembira bagaikan pemilik dunia dan segala isinya.

Allah berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya iti dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Jika mayoritas manusia kebingungan mengenai jalan yang harus ditempuh menuju bahagia maka hal ini tidak pernah dialami oleh seorang mukmin. Bagi seorang mukmin jalan kebahagiaan sudah terpampang jelas di hadapannya. Cita-cita agar mendapatkan kebahagiaan terbesar mendorongnya untuk menghadapi beragam kesulitan.

Terdapat berbagai keterangan dari wahyu Alloh sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwasanya dirinya sudah berada di atas jalan yang benar dan tepat Allah berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)

Jika di antara kita yang bertanya bagaimanakah yang dirasakan bagi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka maka Allah sudah memberikan jawaban dengan firman-Nya:

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّمَاشَآءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّ مَاشَآءَ رَبُّكَ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Hud: 106-108)

Jika di antara kita yang bertanya-tanya bagaimanakah cara untuk menjadi orang yang berbahagia, maka Alloh sudah memberikan jawabannya dengan firman-Nya,

ٌّفَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)

Dan juga dalam firman-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan seorang mukmin semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari dirinya.

Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan tidak bisa didatangkan dari luar.

Tanda Kebahagiaan

Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Seorang hamba sama sekali tidak pernah bisa terlepas dari 3 hal tersebut:

1. Syukur ketika mendapatkan nikmat.

Seorang manusia selalu berada dalam nikmat-nikmat Allah. Meskipun demikian, ternyata hanya orang berimanlah yang menyadari adanya nikmat-nikmat tersebut dan merasa bahagia dengannya. Karena hanya merekalah yang mensyukuri nikmat, mengakui adanya nikmat dan menyanjung Zat yang menganugerahkannya. Syukur dibangun di atas 5 prinsip pokok:

  1. Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang memberi nikmat.
  2. Rasa cinta terhadap yang memberi nikmat.
  3. Mengakui adanya nikmat yang diberikan.
  4. Memuji orang yang memberi nikmat karena nikmat yang dia berikan.
  5. Tidak menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak disukai oleh yang memberi nikmat.

Siapa saja yang menjalankan lima prinsip di atas akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika lima prinsip di atas tidak dilaksanakan dengan sempurna maka akan menyebabkan kesengsaraan selamanya.

2. Sabar ketika mendapat cobaan.

Dalam hidup ini di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada berbagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada tiga rukun sabar yang harus dipenuhi supaya kita bisa disebut orang yang benar-benar bersabar.

  1. Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.
  2. Menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk.
  3. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak di benarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.

Inilah tiga rukun kesabaran, jika kita mampu melaksanakannya dengan benar maka cobaan akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.

3. Bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan: “Ada seorang yang berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka.” Banyak orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?, lantas beliau menjelaskan: “Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu sedih karena memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang tersebut selalu mengatakan ’saya sudah berbuat demikian dan demikian’. Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya ‘ujub, sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang tersebut terus menerus pada kesombongan dan ‘ujub. Jika ini terjadi, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata.”

Al Hasan al-Bashri mengatakan, “Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga hal, dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”

Malik bin Dinar mengatakan, “Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.”

Ada ulama salaf yang mengatakan, “Pada malam hari orang-orang gemar sholat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.”

Ulama’ salaf yang lain mengatakan, “Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa sholat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”

Ulama salaf yang lain mengatakan, “Sejak 40 tahun lamanya aku merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”

Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”

Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’” Wallahu a’laam.

(Diterjemahkan dengan bebas dari As Sa’adah, Haqiqatuha shuwaruha wa asbabu tah-shiliha, cet. Dar. Al Wathan)

(Makalah Studi Islam Intensif 2005)

***

Disusun oleh: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Sumber: https://muslim.or.id/457-resep-hidup-bahagia.html

Mewujudkan Negeri Impian

Gemah ripah loh jinawi, negeri makmur aman sentausa! Itulah harapan yang sering diungkapkan banyak orang. Bahwa segala kebutuhan hidup bisa terpenuhi dengan mudah dan merasa aman dalam menjalani kehidupan.  Ini sebagian potret apa yang disebut dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah istilah yang selalu dicitakan.

Dalam al-Qur’ân al-Karim, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyematkan predikat Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur itu untuk Negeri Saba’. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb yang Maha Pengampun”. [Saba’/34:15].

Keadaan Negeri Saba’ digambarkan oleh Imam Ibnu Katsîr rahimahullah saat menafsirkan ayat ini, sebagai sebuah negeri yang penduduknya hidup dalam kenikmatan dan kebahagiaan. Mereka dianugerahi rizki berlimpah dan kehidupan yang aman. Allâh mengutus kepada mereka beberapa rasul, yang menyeru agar memakan rizki yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada mereka dan agar mereka bersyukur kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya.

Kehidupan sentausa yang mereka rasakan terus berlangsung hingga (waktu) yang dikehendaki Allâh, lalu mereka berpaling dari apa yang diserukan kepada mereka, sehingga mereka dihukum dengan datangnya banjir bandang yang meluluh lantakkan negeri[1].


Ahli tafsir di kalangan tabi’in, seperti Qatâdah, dan yang lain menggambarkan betapa subur dan makmur Negeri Saba’ itu ; digambarkan, seorang wanita berjalan di bawah pepohonan dengan memanggul keranjang di atas kepalanya  untuk mewadahi buah-buahan yang berjatuhan, maka keranjang itu penuh tanpa harus susah payah memanjat atau memetiknya.[2]

Air di Negeri Saba’ mengalir dan memancar di mana-mana. Air tersebut, bersumber dari bendungan Ma’arib. Sebuah bendungan besar yang mampu menampung curahan air hujan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua atau tiga tahun musim kemarau.

Imam asy-Syaukâni menyebutkan dari Imam Abdurrahman bin Zaid tentang firman-Nya

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ

(Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka…)   “Sungguh merupakan tanda kekuasan Allâh Subhanahu wa Ta’ala pada kaum Saba’ berupa anugerah yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka di tempat kediaman mereka. Mereka tidak pernah melihat hewan-hewan yang berbahaya seperti nyamuk, lalat, kutu, kalajengking, ular dan hewan (pengganggu) lainnya. “[3]

Keberkahan inilah yang diberikan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  kepada Negeri Saba’. Sebuah negeri yang kaumnya tercatat dalam sejarah, sebagai penduduk yang senantiasa tunduk dan patuh dalam menjalankan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala , terbebas dari perbuatan syirik dan zhalim serta selalu mensyukuri nikmat yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan. Sungguh mereka mencintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala  dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencintai mereka.

Keadaan seperti itu sangat mungkin dapat terwujud di tempat kita. Sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [al-A’râf/7:96]

Memang terkadang kita melihat orang yang tidak beriman dan tidak bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla nampak sangat bahagia kehidupannya, penuh canda ria, kekayaannya melimpah dan semua kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan mudah. Namun Allâh Azza wa Jalla mengingatkan kita agar tidak terkecoh. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allâh menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.[at-Taubah/9: 85]

Wallâhu a’lam bish-Shawâb.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsîr, 6/504
[2] Lihat al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 2/193
[3] Lihat Fathu al-Qadîr, 4/454
Referensi : https://almanhaj.or.id/4456-mewujudkan-negeri-impian.html

Berikan Alternatifnya Ketika Kita Berkata “Jangan” kepada Anak

Sebagai orang tua, kita tentu sering melarang anak melakukan sesuatu. Namun, terkadang ketika kita melarangnya, alih-alih berhenti, anak justru tetap melakukan hal yang kita larang. Kita berkata, “Jangan berisik!” tetapi anak tetap saja berisik. Kita berkata, “Jangan lari!” tetapi ia tetap berlari. Lantas, apakah orang tua sebaiknya tidak menggunakan kata “jangan” ketika berkomunikasi dengan anak?

Sebenarnya, menggunakan kata “jangan” untuk melarang anak bukanlah sesuatu yang keliru. Ada kalanya larangan yang tegas memang diperlukan, terutama ketika anak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya atau orang lain. Namun, pada anak yang masih kecil, larangan yang hanya berupa kata “jangan” terkadang kurang efektif.

Salah satu alasannya adalah anak kecil belum selalu mampu memahami maksud larangan yang abstrak. Ketika kita mengatakan, “Jangan lari!”, anak mungkin memahami bahwa ia tidak boleh berlari, tetapi belum tentu tahu apa yang seharusnya ia lakukan sebagai gantinya. Akibatnya, instruksi yang kita berikan belum tentu dipahami sebagaimana yang kita harapkan.

Lantas, bagaimana agar komunikasi kita dengan anak menjadi lebih efektif?

Salah satu caranya adalah dengan memberikan instruksi yang jelas mengenai perilaku yang kita harapkan, bukan hanya menyebutkan perilaku yang harus dihindari. Dengan demikian, anak tidak sekadar mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga memahami apa yang sebaiknya ia lakukan.

Misalnya, daripada hanya berkata, “Jangan lari!”, kita bisa mengatakan, “Nak, jalan pelan-pelan, ya. Nanti kalau berlari di sini kamu bisa jatuh.” Instruksi tersebut lebih jelas karena anak mendapatkan arahan tentang perilaku yang diharapkan sekaligus alasan di balik arahan tersebut.

Cara ini juga sejalan dengan sebuah kaidah yang dinukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

النفوس لا تترك شيئا إلا بشيء

“Jiwa tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali dengan sesuatu yang lain sebagai gantinya.” (Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim,2/125)

Kaidah ini mengingatkan kita bahwa meninggalkan suatu kebiasaan atau perilaku akan lebih mudah apabila tersedia alternatif yang bisa dilakukan sebagai gantinya.

Ketika kita meminta anak meninggalkan sesuatu, akan lebih baik jika kita juga menunjukkan apa yang bisa ia lakukan sebagai pengganti. Dengan begitu, anak tidak hanya berhadapan dengan larangan, tetapi juga mendapatkan arahan yang konkret.

Misalnya, ketika anak berlari di dalam rumah, kita bisa mengatakan, “Nak, jangan berlari di dalam rumah, ya. Nanti kamu bisa terpeleset. Kalau mau ke sana, jalan pelan-pelan saja.”

Atau ketika kita khawatir anak terpengaruh oleh perilaku buruk temannya, kita bisa menjelaskan dengan tenang, “Nak, Abi khawatir kalau kamu sering bermain dengannya, kamu ikut terbiasa berkata-kata kasar. Abi ingin kamu berteman dengan teman-teman yang bisa saling mengajak kepada kebaikan. Yuk, kita bermain bersama teman yang itu.”

Intinya, jangan hanya berfokus pada perilaku yang ingin kita hentikan, tetapi tunjukkan juga perilaku yang kita harapkan sebagai gantinya. Dengan cara ini, komunikasi kita menjadi lebih jelas, dan anak memiliki arahan yang lebih konkret untuk diikuti.

Artikel http://www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/berikan-alternatifnya-ketika-kita-berkata-jangan-kepada-anak.html

Hukum Perayaan Halloween dalam Islam

Perayaan Halloween dengan Kostum Iblis dan Setan dalam Tinjauan Islam

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum,
Ana mohon penjelasan mengenai hukum perayaan Halloween di tempat kursus-kursus dan sekolah-sekolah.
Perayaannya memang meriah dan menyenangkan bagi anak-anak tapi mereka berkostum seram tapi lucu seperti pasukan-pasukan Iblis dan Setan. Jazakumullah khairan.

Dari: Maulana Malik

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Dalam wikipedia dinyatakan,

“Halloween atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat. Tradisi ini berasal dari Irlandia, dan dibawa oleh orang Irlandia yang beremigrasi ke Amerika Utara. Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata “Trick or treat!” Ucapan tersebut adalah semacam “ancaman” yang berarti “Beri kami (permen) atau kami jahili.” Di zaman sekarang, anak-anak biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun.

Halloween identik dengan setan, penyihir, hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari kebudayaan Barat. Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween. [http://id.wikipedia.org/wiki/Halloween]

Terlepas dari siapa pencetusnya dan bagaimana sejarahnya, keterangan di atas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa:

1. Hari helloween murni dari tradisi orang kafir.
2. Hari helloween dimeriahkan secara berkala setiap tahun oleh orang kafir.
3. Acaranya hanya sebatas main-main, tanpa ada unsur ritual ibadah.

Kaidah baku yang berlaku dalam syariat bahwa segala sesuatu yang diperingati secara berkala maka itu termasuk hari raya, meskipun di sana tidak ada unsur ibadah atau ritual kesyirikan. Bahkan meskipun isinya hanya main-main dan iseng. Terlebih ketika perayaan semacam ini dihiasi dengan gambar yang melambangkan pasukan iblis, yang jelas-jelas itu adalah musuh kita semua.
Beberapa catatan yang bisa kami berikan tentang fenomena semacam ini:

Pertama, turut merayakan hari raya sekelompok umat, sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,

من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة

“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق … …

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)

Terlebih, dalam perayaan helloween diiringi dengan membangga-banggakan setan. Memasang semua gambar setan di setiap asesoris mereka.

Ketiga, meskipun tidak ada unsur ritual peribadatan, perayaan orang kafir tidak boleh dimeriahkan orang mukmin.
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.

Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),

و الذين لا يشهدون الزور …

“Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…”

Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah.com)

Malu Itu Usia Bertambah Tapi Amal Tidak Bertambah

Malu Itu
Usia bertambah

Amal tidak tambah
Makin tua

Makin tamak dunia
Semoga dimudahkan beramal dan membantu sesama
Merupakan penyesalan, usia bertambah tetapi amal tidak bertambah
 Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,


ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.


“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang (usia bertambah), namun amalanku tidak bertambah.” [1] Makin tua seharusnya sudah siap-siap menghadapi kematian bukan semakin tamak dengan dunia. Tanda-tanda sudah ada:
-Rambut mulai memutih: tinggalkanlah dunia hitam jika digeluti selama ini
-Badan mulai membungkuk: Hentikan membusungkan dada dan mendongakkan kepala karena sombong
Kematian sudah hampir mendekat dan menghancurkan kelezatan dunia yang selama ini membuat lalai akan akhirat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ 


“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian ”. [2] Khusus bagi mereka yang sudah mendekati usia 60 tahun maka ada himbauan khusus.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ﺃَﻋْﺬَﺭَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﺧَّﺮَ ﺃَﺟَﻠَﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺑَﻠَّﻐَﻪُ ﺳِﺘِّﻴﻦَ ﺳَﻨَﺔً


“Allah telah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga mencapai usia 60 tahun.”[3] Maksudnya adalah umur 60 tahun seharusnya tidak bisa menjadi udzur lagi yaitu beralasan masih punya umur untuk menunda melakukan kebaikan dan menunda bertaubat, karena umur 60 tahun sudah sangat dekat dengan kematian.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,


ﻭَﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﺒْﻖَ ﻟَﻪُ ﺍﻋْﺘِﺬَﺍﺭٌ ﻛَﺄَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻮْ ﻣُﺪَّ ﻟِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺟَﻞِ ﻟَﻔَﻌَﻠْﺖُ ﻣَﺎ ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﺑِﻪ


“Makna hadits yaitu tidak tersisa lagi udzur/alasan  misalnya berkata, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.” [4] Demikian semoga bermanfaat


@Markaz YPIA, Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1]  Lihat Miftahul Afkar dan Mausu’ah khutab Al-Mimbar
[2] HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi
[3] HR. Bukhari 6419
[4]  Fathul Bari Libni Hajar Al-Asqalani 11/240

sumber : https://muslimafiyah.com/malu-itu-usia-bertambah-tapi-amal-tidak-bertambah.html

Bagaimana Kita Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

Dalam beberapa baris kalimat ini, kita berjumpa lagi dalam pembahasan dasar-dasar iman dan tauhid. Di dalamnya kita akan mempelajari dua dasar agung dari dasar-dasar iman—yang ibadah apa pun tidak akan diterima kecuali dari orang yang memiliki dua dasar tersebut—yaitu iman kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari kiamat.

Pertanyaan pertama:

Bagaimana kita beriman kepada takdir?

Jawaban:

Yaitu dengan mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu  dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, meyakini bahwa seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan manfaat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan manfaat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu.

Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan mudarat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan mudarat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

Juga beriman bahwa apa yang Allah kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi,

serta segala yang ada di alam semesta berupa gerak-gerik, kehidupan, kematian, kebaikan, keburukan, ketaatan, dan kemaksiatan adalah dengan takdir, kehendak, ilmu, dan hikmah dari Allah. Tidaklah semua itu terjadi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dipaksa melakukan itu, bukan pula suatu hal yang sia-sia dari-Nya.

Pertanyaan kedua:

Apa maksud dari firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar…” (QS. Muhammad: 31)

Bukankah Allah telah mengetahui itu semua sebelum itu terjadi?

Jawaban: Tentu, Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala hal. Dia mengetahui apa yang akan dikerjakan para makhluk sebelum Dia menciptakan mereka, dan menulisnya di Lauhul Mahfuzh, sebagaimana yang Dia firmankan,

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Dan sungguh, Allah telah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (QS. At-Talaq: 12)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata.” (QS. Al-An’am: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ: اكْتُبْ. فَقَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia berfirman, ‘Tulislah.’ Pena bertanya, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Dia berfirman, ‘Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat.’” (HR. Al-Bukhari)

Namun, termasuk dari keadilan dan hikmah Allah Ta’ala, Dia tidak menzalimi para hamba-Nya, sehingga Dia tidak menghisab mereka kecuali atas amalan yang mereka lakukan berdasarkan kehendak mereka yang telah Allah ciptakan bagi mereka. Dia tidak menghisab mereka kecuali dengan ilmu-Nya tentang apa yang telah mereka kerjakan, bukan sekedar berdasarkan ilmu-Nya yang telah ada dan penulisan takdir dalam Lauhul Mahfuzh.

Jadi, makna ayat bahwa Allah akan menguji para hamba-Nya—yakni menguji mereka untuk mengetahui mana orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar, dan mana orang-orang munafik—sebagai dasar untuk menghisab mereka, meskipun sebelumnya Dia telah mengetahui itu sebelumnya.

Pertanyaan ketiga:

Apakah manusia dikendalikan oleh takdir atau memiliki pilihan dan kehendak?

Jawaban:

Ini adalah pertanyaan yang keliru sejak awal karena manusia itu dalam perbuatan-perbuatannya yang bersifat pilihan—seperti ketaatan dan kebaikan, atau kemaksiatan dan keburukan—manusia memiliki kemampuan dan pilihan untuk melakukannya. Hal ini tidak diingkari kecuali orang yang keras kepala karena setiap manusia dapat merasakan kehendak itu dalam dirinya. Dan Allah juga telah menjelaskan hal itu dalam al-Qur’an,

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Maka barang siapa menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki, hendaklah dia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Hanya saja kehendak itu bukanlah kehendak mutlak tanpa batas, tapi terikat oleh kehendak Allah, karena Allah-lah yang menciptakan manusia dan menciptakan baginya kemampuan dan kehendak, sebagaimana yang Allah firmankan,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendaki.” (QS. Al-Insan: 30)

Keterikatan ini bukan berarti menggugurkan kehendak manusia dan menjadikannya dikendalikan atau terpaksa tanpa memiliki pilihan. Allah tidak akan menghisab orang yang tidak memiliki kehendak, seperti orang yang dipaksa, kehilangan akal, atau orang yang tidur.

Namun, kehendak Allah berlaku pada hamba-Nya melalui apa yang mereka kerjakan sendiri dan dalam kuasa mereka. Dan Allah-lah yang menciptakan mereka, serta menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan mereka. Sedangkan perbuatan yang berada di luar kehendak, seperti detak jantung dan tertarik oleh gaya gravitasi, maka tidak diperselisihkan lagi bahwa seorang hamba tidak punya kuasa dan pilihan dalam hal itu.

Pertanyaan keempat:

Apabila Allah yang menghendaki adanya kebaikan dan keburukan, dan Dia yang menciptakan keduanya, apakah Dia meridai keburukan dan suka dimaksiati?

Jawaban:

Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak rida dengan kekufuran bagi hamba-Nya. Namun, Dia meridai Islam sebagai agamanya, mencintai orang-orang yang beriman, bertakwa, dan berbuat baik, dan Dia tidak meridai orang-orang fasik.

Kecintaan dan keridaan-Nya mengikuti perintah syariat-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya—bukan hanya berdasarkan kehendak-Nya mengadakan sesuatu—Allah menciptakan Iblis, tapi Dia tidak menyukainya. Demikian juga Dia yang menciptakan keburukan, tapi Dia tidak meridainya dan tidak memerintahkan para hamba-Nya untuk melakukannya. Namun, Dia menciptakannya dengan hikmah-hikmah yang Dia ketahui, karena Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23)

Selain itu, hamba-hamba-Nya tidak mampu untuk mengetahui segala ilmu dan hikmah Allah Ta’ala.

Pertanyaan kelima:

Apabila semuanya telah ditakdirkan dan tertulis, lalu apa gunanya beramal? Lalu mengapa Allah mengazab para pelaku maksiat atas sesuatu yang Dia tetapkan dan ciptakan?

Jawaban:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya.”

Kesengsaraan dan kebahagiaan diciptakan Allah dengan mengaitkannya dengan sebab kemaksiatan atau ketaatan, bukan menciptakannya tanpa sebab. Sehingga tidak ada seorang pun yang masuk neraka kecuali karena amalan penghuni neraka dan orang-orang beriman juga masuk surga sebagai balasan atas amal mereka. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, amalan itu meskipun dengan kehendak dan kuasa Allah, tapi juga dengan kuasa manusia, dan amalan itu menjadi sebab kebahagiaan atau kesengsaraannya, dan itu dengan kehendak hamba tersebut.

اِعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Berbuatlah sesuka kalian. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fussilat: 40)

Allah hanya mengazab para hamba-Nya yang layak diazab atas amalan mereka. Meskipun Allah yang menuliskannya, tapi Dia tidak memerintahkan mereka melakukan amalan itu.

قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh berbuat keji…’” (QS. Al-A‘raf: 28)

Selain itu, apa yang Allah tulis dalam Lauhul Mahfuzh juga tidak diketahui oleh para makhluk-Nya, tapi yang mereka ketahui adalah syariat Allah berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Mereka juga memiliki akal dan kehendak memilih. Oleh sebab itu, Allah membantah orang-orang musyrik yang berkata,

لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An‘am: 148)

Allah membantahnya dengan firman-Nya,

قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Katakanlah, ‘Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Kamu hanya mengikuti dugaan, dan kamu hanya mengada-adakan kebohongan.’” (QS. Al-An‘am: 148)

Lalu, pertanyaan pada hari kiamat akan diajukan berkaitan dengan jawaban apa yang kalian berikan kepada para rasul dan apa yang telah kalian kerjakan, bukan tentang apa yang telah Allah tulis bagi kalian di Lauhul Mahfuzh.

Pertanyaan keenam:

Apa hukum orang yang melakukan perbuatan-perbuatan haram dan meninggalkan amalan-amalan wajib, lalu ia beralasan, “Andai Allah menghendakiku mendapat hidayah, pasti aku mendapat hidayah!”

Jawaban:

Orang ini termasuk pengikut Iblis yang berkata kepada Tuhannya,

رَبِّ بِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ

“Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menyesatkanku!” (QS. Al-Hijr: 39)

Makhluk pertama yang beralasan dengan takdir adalah Iblis, tapi alasan ini sama sekali tidak bermanfaat baginya. Sedangkan Adam dan Hawa mengakui kesalahannya dengan berkata,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Oleh sebab itu, pilihlah untuk dirimu, engkau ingin bersama siapa? Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Pertanyaan ketujuh:

Apa hukum orang yang tidak beriman dengan takdir?

Jawaban:

Seandainya dia menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, amalannya itu tetap tidak akan diterima darinya, hingga ia beriman kepada takdir. Seandainya ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya ia termasuk penghuni neraka. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ubay, Hudzaifah, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“(Ingatlah) pada hari ketika mereka diseret ke dalam neraka dengan wajah mereka. (Dikatakan kepada mereka), ‘Rasakanlah sentuhan api Saqar.’ Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan ketentuan.” (QS. Al-Qamar: 48-49)

Pertanyaan kedelapan:

Di mana kita bisa membaca lebih lanjut tema ini?

Jawaban:

Dalam buku al-Qadha wa al-Qadar karya Abu Bakar al-Jaza’iri, buku Ma’arij al-Qabul karya Ahmad al-Hakami, buku Syifa al-Alil karya Ibnu al-Qayyim, buku al-Aqidah al-Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah, dan buku Arkan al-Islam wa al-Iman karya kami sendiri.

***

Syekh Muhammad Jamil Zainu

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/163484/كيف-نؤمن-بالقدر-خيره-وشره