LISAN Adalah Cerminan Hati

Yahya bin Mu’adz -rohimahulloh- mengatakan:

“Hati itu seperti PANCI, dia akan mendidihkan apa yang ada di dalamnya, sedangkan lisannya itu (ibarat) GAYUNGnya.

Maka tunggulah (untuk menilai) seseorang sehingga dia berbicara, karena lisannya akan mengambilkan untukmu apa yang ada dalam hatinya; bisa jadi rasanya manis, atau kecut, atau tawar, atau asin.

Lisannya akan mengabarkan kepadamu tentang rasa hatinya”.

[Kitab: Hilyatul Aulia, 10/63].

———

Oleh karenanya, terapkanlah hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka katakanlah perkataan yang baik, atau (jika tidak) maka diamlah.” [HR. Bukhori Muslim].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/12113

[Kitabut Tauhid 10] 35 Mencintai Allah 23

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Para Ulama Madzhab Malikiyah berpendapat bahwa membaca shalawat secara umum hukumnya wajib. Yang dimaksud secara umum, shalawat yang bersifat muthlaq, tidak terikat waktu dan tempat. Jika seseorang Mukmin telah membaca shalawat di sepanjang usianya, kapanpun, dan di manapun, maka telah gugur darinya kewajiban membaca shalawat. Sedangkan Syafi’iyyah berpendapat bahwa kewajiban shalawat yang diperintahkan Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah ketika shalat. Sedangkan di luar shalat, hukumnya tidak wajib.
  • Yang dimaksud dengan shalawat (yang diwajibkan) di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam hadits-hadits Beliau yang shahih, bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlash karena Allâh -‘Azza wa Jalla- semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tempat Duduknya Setan

Tempat Duduknya Setan

Saya pernah mendengar tentang larangan duduk di tempat yg trkena teduh dan sinar matahari. Katanya tempat duduk setan… apakah itu benar? Trim’s

Jawab: 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, 

Terdapat beberapa dalil yang menegaskan larangan untuk duduk di tempat yang terkena teduh dan panas. Diantaranya,

Dari Abu Hurairah Radhiyaahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الشَّمْسِ فَقَلَصَ عَنْهُ الظِّلُّ، فَصَارَ بَعْضُهُ فِي الشَّمْسِ وَبَعْضُهُ فِي الظِّلِّ فَلْيَقُمْ

Jika kalian berada di tempat yang panas, lalu tiba-tiba bayangan bangunan menutupi kita sebagian sehingga terkena teduh, maka hendaknya dia pindah. (HR. Abu Daud 4823 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat lain, dari Abu Iyadh, dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى أَنْ يُجْلَسَ بَيْنَ الضِّحِّ وَ الظِّلِّ وَ قَالَ مَجْلِسُ الشَّيْطَانِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk di antara tempat yang terkena panas dan tempat yang terkena naungannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Itu adalah tempat duduknya setan.’ ” (HR. Ahmad 15421 dan dishahihan Syuaib al-Arnauth)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi alasan larangan di atas karena tempat tersebut adalah tempatnya setan, sementara kita dilarang menyerupai setan.

Ibnu Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad, “Benarkah duduk di tempat yang terkena teduh dan panas itu makruh?”

Jawab Imam Ahmad,

هذا مكروه، أليس قد نهي عن ذا؟

Itu makruh. Bukankah sudah ada larangan tentang ini?

Karena itu, bagi mereka yang duduk di tempat yang terkena teduh dan panas, atau mereka yang duduk di tempat yang semua kena panas, agar dia berpindah ke tempat yang semuanya terkena teduh.

عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: رَآنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ أَنَا قَاعِدٌ فِي الشَّمْسِ، فَقَالَ: تَحَوَّلْ إِلَى الظِّلِّ

Dari Qais bin Abi Hazim dari ayahnya, beliau bercerita,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat aku duduk di bawah terik matahari, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pindahlah ke tempat teduh!’ ” (HR. al-Hakim: 4/271, dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Silsilah Shahihah: 833)

Dampak Buruk dari Sisi Kesehatan

Jika ditinjau dari segi medis, duduk di tempat seperti ini cukup membahayakan kesehatan. Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan,

لأن الجلوس بين الظل والشمس مضر بالبدن إذ الإنسان إذا قعد ذلك المقعد فسد مزاجه لاختلاف حال البدن من المؤثرين المتضادين

Bahwa duduk di tempat yang sebagian terkena teduh sementara sebagian yang lain terkena sinar matahari, membahayakan bagi badan. Karena ketika orang duduk di tempat semacam ini, cairan tubuhnya rusak, karena ada 2 pengaruh yang bertolak belakang yang mengenai badan. (Faidhul Qadir, 6/351)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/29748-tempat-duduknya-setan.html

Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari Jumat

Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari Jumat

Ya Allah, tabahkanlah saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, khususnya di Gaza, dan jagalah darah mereka. Ya Allah, hukumlah orang-orang Yahudi yang terkutuk, dan turunkan murka-Mu kepada mereka. Ya Allah, dukunglah agamamu, kitabmu, dan Sunnah Nabi-Mu Muhammad, semoga Engkau memberkahi dan memberi kedamaian kepadanya.

Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud]

Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,

قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي

“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165]

Ibnul Qayyim berkata,

وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل

“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384]

Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,

فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:

١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازل

وكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس

٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل

٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازل

Bagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara:

  1. Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi.
    Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari.
  2. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan.
  3. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165]

Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.

Ibnul Qayyim berkata,

كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء

“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384]

كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس

“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith]

CATATAN: Hal ini juga bisa dilakukan oleh wanita di rumahnya, setelah shalat ashar wanita berdoa dan berharap dimustajabkan. Demikian juga orang yang terhalangi untuk shalat ashar di masjid seperti dengan sakit atau ada udzur lainnya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو

“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270]

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/42217-keutamaan-waktu-bada-ashar-hari-jumat.html

Bahaya Meremehkan Dosa, Saat Maksiat Terasa Biasa

Dosa yang paling mengkhawatirkan bukan hanya dosa yang dilakukan, tetapi dosa yang lama-kelamaan tidak lagi terasa sebagai dosa. Maksiat yang terus diulang dapat membuat hati terbiasa, rasa takut menghilang, bahkan pelakunya mulai menganggap ringan apa yang sebenarnya berat di sisi Allah. Mengapa seseorang bisa sampai pada keadaan seperti ini, dan bagaimana para salaf memandang dosa mereka?
Ibnul Qayyim: Dosa Terus Diulang Hingga Terasa Ringan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَزَالُ يَرْتَكِبُ الذَّنْبَ حَتَّى يَهُونَ عَلَيْهِ وَيَصْغُرَ فِي قَلْبِهِ، وَذَلِكَ عَلَامَةُ الْهَلَاكِ، فَإِنَّ الذَّنْبَ كُلَّمَا صَغُرَ فِي عَيْنِ الْعَبْدِ عَظُمَ عِنْدَ اللَّهِ.

“Di antara dampak maksiat adalah seorang hamba terus melakukan dosa hingga dosa itu terasa ringan baginya dan menjadi kecil dalam hatinya. Hal tersebut merupakan tanda kebinasaan. Sebab, semakin kecil dosa itu dalam pandangan seorang hamba, semakin besar dosa tersebut di sisi Allah.”

(Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 91 pada cetakan yang dirujuk).

Ini menunjukkan bahwa maksiat mempunyai dampak lanjutan. Dosa bukan hanya tercatat sebagai kesalahan, tetapi dapat merusak cara hati menilai kesalahan. Awalnya takut, kemudian terbiasa; awalnya malu, kemudian berani; awalnya merasa bersalah, kemudian mencari pembenaran.

Mukmin Melihat Dosanya Seperti Gunung

Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian membawakan perkataan ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ.

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ia khawatir akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya.”

(HR. Bukhari, no. 6308). Rumaysho.Com juga membawakan atsar ini dalam pembahasan tentang dosa kecil yang bisa menjadi besar.

Perbedaannya bukan berarti seorang mukmin sama sekali tidak pernah terjatuh dalam dosa. Seorang mukmin dapat berbuat salah, tetapi hatinya tidak nyaman dengan kesalahan tersebut. Ia takut, menyesal, dan ingin segera kembali kepada Allah.

Adapun orang fajir menggambarkan hati yang sudah kehilangan kepekaan. Dosa lewat begitu saja seperti lalat yang hinggap, lalu diusir tanpa meninggalkan kegelisahan berarti.

Mengapa Orang Bisa Sampai Meremehkan Dosa?

1. Lemahnya pengagungan kepada Allah

Salah satu akar terbesar meremehkan dosa adalah lemahnya pengagungan kepada Allah dalam hati.

Bilal bin Sa‘d rahimahullah berkata,

لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيئَةِ، وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ.

“Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”

Perkataan ini benar berasal dari Bilal bin Sa‘d, bukan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayatnya disebutkan dalam karya-karya ulama salaf.

Maka pertanyaan seorang mukmin bukan hanya, “Seberapa kecil dosa ini?” Akan tetapi, “Kepada siapa aku sedang bermaksiat?”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah juga berkata,

بِقَدْرِ مَا يَصْغُرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغُرُ عِنْدَ اللَّهِ.

“Seukuran dosa itu terasa kecil dalam pandanganmu, sebesar itulah ia menjadi besar di sisi Allah. Dan seukuran dosa itu terasa besar dalam pandanganmu, sebesar itulah ia menjadi kecil di sisi Allah.”

Semakin hidup rasa takut kepada Allah, semakin berat dosa terasa dalam hati.

2. Dosa terus diulang hingga menjadi kebiasaan

Inilah perkara yang secara khusus diperingatkan Ibnul Qayyim.

Allah Ta‘ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ.

“Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu dosa, ditorehkan satu titik hitam pada hatinya. Jika ia meninggalkan dosa tersebut, memohon ampun, dan bertobat, hatinya kembali dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, titik itu ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ar-rān yang disebutkan oleh Allah.”

(HR. Tirmidzi, no. 3334; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubrā; dan Ibnu Hibban. Hadis ini dinilai hasan).

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan keadaan tersebut sebagai dosa yang ditumpuk di atas dosa hingga hati menjadi buta. Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa maksiat membuat hati berkarat; jika terus bertambah, karat tersebut menjadi rān, kemudian penutup, kunci, dan segel hati.

Maka prosesnya dapat digambarkan seperti ini:

berbuat dosa → merasa bersalah → mengulang dosa → rasa bersalah berkurang → terbiasa → menganggapnya biasa → akhirnya meremehkannya.

Yang menakutkan bukan hanya bertambahnya jumlah dosa, tetapi rusaknya alat untuk mendeteksi dosa, yaitu hati.

3. Menganggap dosa kecil tidak berbahaya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ.

“Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh karena dosa-dosa tersebut akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang sekelompok orang yang singgah di tanah lapang. Satu orang membawa sebatang kayu, yang lain membawa sebatang kayu, hingga kayu-kayu kecil itu terkumpul dan dapat digunakan untuk menyalakan api besar.

(HR. Ahmad, no. 3818. Sanadnya dinilai sahih oleh Ahmad Syakir).

Dorar.net menjelaskan bahwa muhaqqarāt adz-dzunūb adalah dosa yang tidak dipedulikan seseorang karena dianggap kecil. Padahal dosa-dosa kecil dapat berkumpul, saling menyeret, bahkan menjadi jalan menuju dosa yang lebih besar.

Karena itu, jangan mudah berkata,

“Cuma sekali.”

“Cuma melihat.”

“Cuma komentar.”

“Cuma bercanda.”

“Cuma sedikit berbohong.”

“Tidak separah orang lain.”

Ukuran bahayanya dosa tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan, tetapi juga kepada siapa kita durhaka.

4. Lalai terhadap akhirat dan panjang angan-angan

Orang yang merasa hidupnya masih panjang akan lebih mudah menunda tobat.

Allah Ta‘ala berfirman,

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan mereka, maka kelak mereka akan mengetahui.”
(QS. Al-Hijr: 3)

Islamweb memasukkan الْغَفْلَةُ وَطُولُ الْأَمَلِ, yaitu kelalaian dan panjang angan-angan, sebagai sebab lemahnya iman. Seseorang terus sibuk dengan dunia dan semakin banyak berpaling dari akhirat.

Ia berkata, “Nanti kalau sudah tua saya bertobat,” atau, “Masih ada waktu.”

Padahal tidak seorang pun mengetahui kapan ajal datang.

5. Merasa aman dengan ampunan Allah sambil terus bermaksiat

Kalimat, “Allah Maha Pengampun,” adalah benar. Namun, kebenaran tersebut tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk terus melakukan dosa.

Seorang mukmin harus menggabungkan antara berharap dan takut. Ia berharap kepada rahmat Allah sambil bertobat, bukan berharap kepada ampunan Allah sambil sengaja menetap dalam maksiat.

Islamweb bahkan menjelaskan bahwa terus bermaksiat sambil bersandar kepada ampunan Allah merupakan jalan yang berbahaya. Ibnul Qayyim mengkritik orang yang bergantung kepada rahmat dan ampunan Allah, tetapi mengabaikan perintah serta larangan-Nya.

Allah Ta‘ala justru memuji orang bertakwa dengan firman-Nya,

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka tidak terus-menerus melakukan apa yang telah mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

6. Maksiat sudah biasa diceritakan dan dipamerkan

Ketika dosa terus diceritakan, ditampilkan, dijadikan candaan, bahkan dibanggakan, rasa malu perlahan hilang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ.

“Seluruh umatku mendapatkan ‘afiyah kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan maksiat.”

Di antara bentuk terang-terangan tersebut adalah seseorang melakukan maksiat pada malam hari dalam keadaan Allah telah menutupinya, lalu pada pagi hari ia sendiri menceritakan perbuatannya kepada orang lain.

(HR. Bukhari, no. 6069; Muslim, no. 2990).

Pada awalnya seseorang mungkin malu diketahui orang melakukan dosa. Namun, setelah maksiat dianggap biasa, dosa justru dapat berubah menjadi bahan cerita, unggahan, candaan, bahkan kebanggaan.

Ini menunjukkan kerusakan lain: dosa tidak lagi membuatnya malu.

7. Tidak merasakan hukuman dosa secara langsung

Ada orang berbuat maksiat, tetapi tubuhnya tetap sehat. Rezekinya masih lancar. Kariernya tetap naik. Kehidupannya tampak nyaman.

Akhirnya ia berpikir, “Ternyata tidak terjadi apa-apa.”

Padahal hukuman maksiat tidak selalu berupa musibah lahiriah yang langsung terlihat.

Ibnul Qayyim menyebutkan di antara dampak maksiat adalah kegelapan hati, kehilangan kenikmatan taat, semakin kuatnya dorongan untuk bermaksiat, melemahnya keinginan bertobat, hingga hilangnya rasa buruk terhadap maksiat.

Boleh jadi hukuman yang paling berat justru ketika seseorang tidak lagi merasa bahwa dirinya sedang dihukumkarena hatinya makin jauh dari Allah.

8. Standar dosa berubah karena mengikuti lingkungan

Apa yang biasa dilakukan banyak orang belum tentu menjadi ringan dalam syariat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُوبِقَاتِ.

“Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan berbagai amalan yang menurut pandangan kalian lebih tipis daripada rambut. Padahal pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu kami menganggapnya termasuk perkara yang membinasakan.”

(HR. Bukhari, no. 6492).

Ini menunjukkan perbedaan standar hati.

Semakin kuat iman seseorang, semakin besar kehati-hatiannya terhadap maksiat. Namun, ketika suatu dosa telah menjadi budaya, kebiasaan masyarakat, tontonan sehari-hari, atau sesuatu yang terus dilakukan lingkungan sekitar, seseorang dapat kehilangan sensitivitas terhadap dosa tersebut.

Ukuran halal dan haram akhirnya bukan lagi wahyu, tetapi, “Semua orang juga melakukannya.”

Ketika Dosa Terasa Ringan, Padahal Besar di Sisi Allah

Allah Ta‘ala berfirman dalam kisah hadītsul-ifk,

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“Kalian menganggapnya suatu perkara yang ringan, padahal di sisi Allah perkara itu besar.”
(QS. An-Nur: 15)

Ayat tersebut secara khusus berkaitan dengan tuduhan dusta kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Namun, di dalamnya terdapat pelajaran penting bahwa sesuatu yang dianggap ringan oleh manusia bisa jadi sangat berat di sisi Allah.

Begitu pula dalam urusan lisan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, ia tidak menganggapnya penting, tetapi karena kalimat tersebut ia terjerumus ke dalam Jahannam.”

(HR. Bukhari, no. 6478; Muslim juga meriwayatkan hadis semakna).

Betapa banyak ucapan hari ini dianggap “sekadar komentar”, “hanya bercanda”, “cuma konten”, atau “sekadar cerita”, padahal bisa jadi sangat berat dalam timbangan Allah.

Orang Bertakwa Bukan Berarti Tidak Pernah Berdosa

Allah Ta‘ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?—dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

Ayat ini memberikan harapan.

Orang bertakwa bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, ketika terjatuh, ia mengingat Allah, beristigfar, bertobat, dan tidak sengaja memilih menetap dalam dosanya.

Bedanya dapat digambarkan:

Orang bertakwa jatuh lalu bangkit.

Adapun orang yang dikuasai maksiat jatuh, lalu lama-lama merasa nyaman berada di tempat jatuhnya.

Apakah Dosa Kecil Menjadi Besar karena Terus Dilakukan?

Ada ungkapan yang terkenal,

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ.

“Tidak ada dosa besar bersama istigfar, dan tidak ada dosa kecil bersama sikap terus-menerus dalam dosa.”

Perlu diluruskan: ungkapan ini tidak sahih sebagai hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat marfū‘-nya dinilai lemah. Rumaysho.Com juga telah memberikan catatan tentang kelemahan riwayat tersebut.

Namun, maknanya mengenai bahayanya iṣrār didukung oleh perkataan para ulama.

Imam An-Nawawi rahimahullah menukil,

قَالَ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللَّهُ: وَالْإِصْرَارُ عَلَى الصَّغِيرَةِ يَجْعَلُهَا كَبِيرَةً.

“Para ulama rahimahumullah berkata, ‘Terus-menerus melakukan dosa kecil menjadikannya dosa besar.’”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa iṣrār bukan sekadar hitungan berapa kali dosa dilakukan. Di antara maknanya adalah tekad hati untuk kembali melakukan kemaksiatan. Jika seseorang berbuat dosa kecil, bertobat dengan sungguh-sungguh, kemudian suatu ketika tergelincir lagi, keadaannya tidak sama dengan orang yang sejak awal hatinya bertekad terus melanjutkan maksiat.

Karena itu, jangan memahami masalah ini hanya secara matematis. Yang sangat berbahaya adalah ketika hati telah berdamai dengan maksiat, berniat mempertahankannya, tidak menyesalinya, dan tidak ingin meninggalkannya.

Dosa Kecil Bisa Menjadi Besar

Beberapa keadaan yang menyebabkan dosa kecil menjadi semakin berat, di antaranya ketika dosa dilakukan terus-menerus, diremehkan, ditampakkan secara terang-terangan, atau dilakukan oleh orang yang menjadi panutan sehingga kemudian diikuti orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barang siapa mencontohkan suatu jalan keburukan dalam Islam kemudian diamalkan setelahnya, dicatat baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

(HR. Muslim, no. 1017).

Karena itu, seseorang yang mempunyai pengaruh—orang tua, guru, ustaz, tokoh masyarakat, pemimpin, atau figur di media sosial—perlu lebih berhati-hati. Kesalahan yang kemudian ditiru orang lain dapat melahirkan dosa yang terus berjalan.

Sebaliknya, orang yang menjadi sebab tersebarnya kebaikan juga memperoleh pahala dari orang yang mengikuti kebaikan tersebut.

Tahapan Berbahaya Sampai Dosa Tidak Lagi Terasa Salah

Meremehkan dosa biasanya melalui proses.

  1. Awalnya seseorang melakukan dosa dan merasa takut.
  2. Kemudian dosa itu dilakukan lagi, tetapi rasa bersalah mulai berkurang.
  3. Setelah itu maksiat terasa biasa.
  4. Lalu ia mulai mencari alasan untuk membenarkannya.
  5. Berikutnya ia tidak malu lagi jika orang lain mengetahuinya.
  6. Bahkan bisa sampai pada tahap menceritakan, memamerkan, atau mengajak orang lain melakukannya.
  7. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika ia tidak senang jika dinasihati tentang maksiat tersebut.

Pada tahap ini, kerusakannya bukan lagi sekadar pada anggota badan, tetapi sudah mempengaruhi cara hati memandang kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Masalah Terbesar: Dosa Tidak Lagi Dianggap Dosa

Dari seluruh penjelasan di atas, dua akar terbesar mengapa seseorang sampai meremehkan dosa adalah lemahnya pengagungan kepada Allah dan rusaknya kepekaan hati karena maksiat yang terus diulang.

Dari dua akar tersebut muncul kelalaian, panjang angan-angan, merasa aman dengan ampunan Allah, terbiasa melihat maksiat, mengikuti standar lingkungan, hingga akhirnya dosa terasa seperti perkara biasa.

Inilah lingkaran yang perlu diputus:

maksiat → hati melemah → dosa terasa ringan → semakin mudah bermaksiat → hati semakin tertutup.

Namun, hadis tentang titik hitam pada hati sekaligus memberikan harapan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ.

“Jika ia meninggalkan dosa, beristigfar, dan bertobat, maka hatinya kembali dibersihkan.”

Selama seorang hamba masih mau kembali kepada Allah, pintu tobat terbuka.

Maka, masalah terbesar bukan sekadar pernah berbuat dosa, tetapi ketika dosa tidak lagi dianggap sebagai dosa.

Jangan tunggu sampai maksiat terasa biasa. Jangan tunggu sampai nasihat terasa mengganggu. Segeralah kembali kepada Allah sebelum hati kehilangan kepekaan untuk membedakan antara ketaatan dan kemaksiatan.

Pelajaran Penting

    1. Jangan mengukur dosa hanya dari besar dan kecilnya, tetapi ingat kepada keagungan Allah yang didurhakai.
    2. Rasa takut dan penyesalan setelah berbuat dosa merupakan tanda bahwa hati masih hidup.
    3. Dosa yang terus diulang dapat mematikan sensitivitas hati dan menjadikan maksiat terasa biasa.
    4. Jangan meremehkan dosa kecil karena dosa-dosa kecil dapat berkumpul dan membinasakan.
    5. Jangan menjadikan ampunan Allah sebagai alasan untuk sengaja meneruskan kemaksiatan.
    6. Jangan memamerkan dosa karena hal itu menunjukkan semakin hilangnya rasa malu terhadap Allah.
    7. Ukurlah dosa dengan timbangan syariat, bukan dengan kebiasaan masyarakat atau banyaknya orang yang melakukan.
    8. Orang bertakwa bukan orang yang sama sekali tidak pernah jatuh dalam dosa, tetapi orang yang segera bangkit dengan tobat.
    9. Semakin seseorang berpengaruh dan menjadi panutan, semakin besar tanggung jawabnya agar kesalahannya tidak ditiru.
    10. Jangan berputus asa. Tobat, istigfar, dan meninggalkan maksiat dapat kembali membersihkan hati.

—-

Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42795-bahaya-meremehkan-dosa-saat-maksiat-terasa-biasa.html

Tidak pernah Orang Miskin karena Sering Sedekah

Kami tidak pernah mendengar sama sekali

Kisah orang yang rajin berinfak dan sedekah

Kemudian jatuh miskin, bangkrut dan sengsara hidupnya

Justru semakin kaya hati dan bahagia kehidupannya

Dengan berkahnya pekerjaan, bisnis dan perdagangan

Tapi yang sering kami dengar

Orang yang jarang sedekah bahkan pelit

Rakus dan tenggelam dengan urusan dunia

Lalu jatuh bangkrut, miskin dan hidupnya sengsara

Orang-orang dekatnya pun mulai menjauh

Sedekah tidak akan membuat miskin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena shadaqah.” (HR. Riwayat Tirmidzi, shahih)

Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau berkata

تصدق بها منه بل يبارك له فيه

“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa sedekah bisa menambah harta kita (misalnya bisnis menjadi lebih lancar) dan Allah akan menggantikan harta tersebut dengan yang lebih baik. Beliau berkata,

فالصَّدقات يزيد الله بها الأموال، ويُنزل بها البركة، ويُعَوِّض الله فيها صاحبها الخير العظيم

“Dengan sedekah, Allah akan menambahkan hartanya, Allah turunkan keberkahan dan Allah akan gantikan hartanya dengan kebaikan yang besar.” (Syarh Riyadhul shalihin)

Perlu diingat hendaknya kita tidak berniat sedekah agar tambah kaya di dunia, akan tetapi kita yakin bahwa Allah Sebaik-baik Pemberi Rezeki telah menjanjikan akan mengganti apa yang telah kita infakkan, tentunya dengan pengganti yang jauh lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Semoga kita selalu dimudahkan untuk bersedakah, berinfak dan memberikan manfaat yang banyak kepada kaum muslimin.

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/tidak-pernah-orang-miskin-karena-sering-sedekah.html

Diantara Sebab Seseorang Suka Berburuk Sangka

Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,

وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
‏ فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.

“Semua orang yang kamu lihat suka berburuk sangka kepada manusia dan ingin menampakkan aib mereka adalah karena busuknya batin dan hatinya.”

(Az Zawaajir 1/143)

Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/71549

Memuji Diri: Antara Maslahat dan Ujub

Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?
Semua Kemampuan adalah Karunia Allah

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”

Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)

Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat.

Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin Hasil

Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)

Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.

Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk Maslahat

Allah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,

اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)

Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,

وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.

“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)

Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik.

Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri Suci

Di sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.

“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)

Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.

Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji Diri

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,

فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.

“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)

Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.

Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:

وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.

“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.”

Pembeda Utamanya: Niat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)

Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.

  • Jika disampaikan agar amanah jatuh kepada orang yang tepat, ilmu tersebar, hak tersampaikan, atau orang lain memperoleh manfaat, hal itu terpuji.
  • Jika disampaikan untuk mencari sanjungan, menutup kekurangan, merendahkan orang lain, mengumpulkan pengikut, atau menegakkan gengsi, hal itu tercela.
  • Jika setelah menyampaikan kemampuan ia merasa pasti sukses karena dirinya sendiri, maka ia telah memasuki pintu ujub dan lemahnya tawakal.

Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran Hati

KeadaanTandaSikap yang benar
Memperkenalkan kemampuan untuk maslahatAda kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusiaBoleh, bahkan terkadang diperlukan
Memuji diri demi pujian dan gengsiSenang dianggap paling hebat; meremehkan orang lainTercela dan dekat dengan ujub
Mengakui kemampuan sambil bersandar kepada AllahBerikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan AllahSikap mukmin
Mengandalkan kemampuan sendiriMerasa hasil pasti tercapai karena dirinyaBerbahaya bagi iman dan sebab kegagalan

Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada Diri

Seorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.

Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.

Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:

  1. Apakah penjelasan ini benar-benar diperlukan?
  2. Apakah tujuannya untuk maslahat atau untuk mencari pujian?
  3. Apakah saya telah mengakui bahwa kemampuan ini adalah karunia Allah?
  4. Jika ada orang lain yang lebih layak, apakah saya siap mendukungnya?

Semoga Allah beri taufik dan hidayah.

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.

Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

@ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/42773-memuji-diri-antara-maslahat-dan-ujub.html