[Kitabut Tauhid 10] 34 Mencintai Allah 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara kekhususan yang dimilik oleh Nabi Kita Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, adalah bahwa tidak ada didalam Al-Qur’an tidak pula pada selainya dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- bershalawat kepada hamba-hamba-Nya kecuali kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Maka ini termasuk kekhususan yang Allâh -‘Azza wa Jalla- khusus berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh kalangan Para Nabi.
  • Maksud shalawatnya Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah pujian-Nya untuk Beliau di sisi Para Malaikat, sedangkan maksud shalawatnya Para Malaikat untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah do’a mereka untuk Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Adapun makna shalawat Kaum Muslimin kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah meminta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- agar Dia memuji dan mengagungkan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dunia dan di Akhirat nantinya. Di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) Beliau, memenangkan agamanya dan mengokohkan syariat Islam yang Beliau bawa. Dan di Akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, memudahkan syafa’at Beliau bagi umatnya dan menampakkan keutamaan Beliau pada Hari Kiamat di hadapan seluruh makhluq-Nya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 33 Mencintai Allah 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara indikasi dan konsekuensi mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Membenci orang-orang yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- benci.
  2. Berharap melihat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan rindu berjumpa dengannya, walaupun harus membayarnya dengan harta dan keluarga.
  3. Mempelajari Al-Qur’an, membaca dan memahami maknanya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 32 Mencintai Allah 20

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara indikasi dan konsekuensi mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan mereka adalah :

  • Para Shahabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Ahlu Bait (Kerabat) Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Istri-Istri Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 31 Mencintai Allah 19

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Setiap Muslim pasti mengaku dan ingin mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Pengakuan dan keingian ini menuntut bukti dan konsekuensi, yang dapat dijadikan sebagai standar kebenaran pengakuan cinta. Di antara bukti dan konsekuensi tersebut adalah :

Meneladani Sunnah Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Banyak Mengingat dan Menyebut Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan ini terkait dengan beberapa amalan yang disyariatkan, di antaranya :

Menyampaikan shalawat dan salam kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Menyebut keutamaan dan kekhususan sifat, akhlak dan perilaku utama yang Allâh -‘Azza wa Jalla- berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; juga menyebut mu’jizat serta bukti kenabian untuk mengenal kedudukan dan martabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Bersikap santun dan beradab terhadap Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, baik dalam menyebut nama atau memanggilnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 30 Mencintai Allah 18

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Terkait dengan kecintaan kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua golongan yang ekstrem, dan satu golongan yang pertengahan; yaitu :

  1. Golongan yang melampaui batas atau berlebih-lebihan dalam mencintai Rasûlullâh        -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, sehingga kemudian mereka terjatuh dalam kebid’ahan atau bahkan kesyirikan; dimana mereka mensifati Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dengan sebagian sifat-sifat rububuyyah, atau memberikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebagian hak dari hak-hak uluhiyyah; yang semua itu merupakan kekhususan Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  2. Golongan yang tidak mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana mestinya; dimana mereka menelantarkan dan mengurangi hak-hak Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, lebih mendahulukan kecintaan kepada selain Beliau                    -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dibandingkan kecintaan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; sehingga kemudian mereka terjatuh dalam sekian banyak penyelisihan terhadap Syariat. 
  3. Golongan yang pertengahan (moderat) dalam mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Diamana mereka mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- secara proposional sesuai dengan tuntunan dan tuntutan dari Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya, dimana Mereka tidak menambahi dan tidak menguranginya, dan mereka adalah Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- dan orang-orang yang mengikuti jejak Mereka dengan baik.  

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 29 Mencintai Allah 17

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Cinta kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah sesuatu yang mengharuskan untuk mencontoh dan bersikap sama dengan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam segala hal yang dicintai dan dibencinya, dan diwujudkannya dengan ittiba’ (meniru) Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; mencintai semua yang Beliau cintai dan membenci semua yang Beliau benci, ridha dengan semua yang Beliau ridhai dan marah terhadap semua yang Beliau marah padanya, serta mengamalkan semua tuntutan cinta dan benci tersebut dengan amal perbuatan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 28 Mencintai Allah 16

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hukumnya wajib, bahkan termasuk kewajiban terbesar dalam agama Allâh -‘Azza wa Jalla-. Tidak sempurna keimanan seorang hamba, kecuali dengannya. Oleh karena itu, Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan umat ini untuk mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- melebihi kecintaanya terhadap dirinya, keluarga, harta, seluruh manusia, dan segala sesuatunya.
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- telah menjadikan ittiba’ (mengikuti Rasul-Nya) sebagai bukti kebenaran cintanya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Hal ini hanya dapat diwujudkan, hanya setelah adanya keimanan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Dan iman kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hanya terwujud jika terpenuhi syarat-syaratnya, dan di antaranya adalah mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- mengharuskan adanya penghormatan, ketundukan dan peneladanan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- serta mendahulukan sabda Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh ucapan makhluk, serta mengagungkan sunnah-sunnah Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 27 Mencintai Allah 15

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Allâh -‘Azza wa Jalla- mengancam akan memerangi siapa saja yang mengganggu wali-walinya.
  • Wali-wali Allâh -‘Azza wa Jalla- terdiri dari 2 (golongan). [Pertama] Sâbiquuna bil khairât atau muqarrabuuna, yaitu orang-orang yang selalu bersegera dan terdepan dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan, yang senantiasa mendekatkan diri dan didekatkan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-; meraka adalah orang-orang yang sangat bersemangat mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi yang dimakruhkan dalam Syariat. [Kedua] Muqtashiduuna atau ashhâbul yamiin; mereka adalah orang-orang yang berupaya menunaikan kewajiban-kewajiban, tetapi tidak atau kurang bersemangat mengerjakan amalan-amalan sunnah, tidak menjauhkan diri dari yang makruh dan terjatuh pada sebagian dosa kecil.
  • Jika seorang hamba mencapai kewalian dan kecintaan Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan membimbing seluruh gerak-geriknya sehingga tetap berada pada jalur yang diridhai-Nya. Allâh -‘Azza wa Jalla- juga menjamin bahwa Dia -‘Azza wa Jalla- akan memberi apa yang diminta oleh wali-wali-Nya dan melindungi mereka dari musuh-musuhnya.
  • Di dalam Al-Qur’an, Allâh -‘Azza wa Jalla- membagi hamba-hamba-nya dari kalangan orang-orang yang beriman menjadi 3 (tiga) golongan; yaitu : [1] sâbiquuna bil khairât atau muqarrabuuna; [2] muqtashiduuna atau ashhâbul yamiin; dan [3] zhâlimuuna li anfusihim. Yang pertama dan kedua adalah wali-wali Allâh -‘Azza wa Jalla-; sedangkan yang ketiga adalah orang-orang yang mencampur-adukkan antara keimanan dengan kezhaliman (kemaksiatan); mereka banyak menelantarkan kewajiban dan terjatuh dalam dosa-dosa besar.
  • Tidak ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, mendapatkan kewalian dan kecintaan-Nya; kecauli dengan menegakkan ketaatan kepada-Nya. Tidak setiap orang yang mendapatkan hidayah di atas keimanan otomatis juga mendapat hidayah di atas ketaqwaan, dan siapa saja yang mendapatkan keduanya, maka dia telah mencapai kewalian dan kecintaan Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Amalan yang paling utama adalah menunaikan apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- wajibkan, dan menjauhi apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- haramkan, serta mempunyai niat yang benar dalam menggapai apa yang ada di sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 26 Mencintai Allah 14

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Semua manusia yang berakal sehat pasti mencintai keindahan dan kesempurnaan. Semakin indah dan sempurna sesuatu dalam penilaian manusia maka sesuatu itu pasti semakin dicintainya. Kalau keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk saja bisa menjadikan manusia yang mengenalnya mencintainya, padahal bagaimanapun tingginya keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk, tetap saja semua itu terbatas, maka keindahan yang maha sempurna dan kesempurnaan yang tidak terbatas yang ada pada Allâh -‘Azza wa Jalla- harusnya menjadikan manusia mencintai-Nya dan lebih mencintai-Nya dibandingkan segala sesuatunya.  
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah Dzat yang terkumpul pada-Nya 2 (dua) sebab kecintaan sekaligus, yaitu : [1] kebaikan dan limpahan nikmat, dan [2] kesempurnaan dan keindahan. Maka tidak akan berpaling dari mencintai dzat yang demikian keadaannya kecuali hati yang paling buruk, rendah, dan hina serta paling jauh dari semua kebaikan. Karena sesungguhnya Allâh -‘Azza wa Jalla- menjadikan fithrah pada hati manusia untuk mencintai pihak yang berbuat kebaikan kepadanya dan sempurna dalam sifat-sifat dan tingkah lakunya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 25 Mencintai Allah 13

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah satu-satunya Dzat yang pantas untuk dicintai (dan paling dicintai) dari semua pertimbangan dan sudut pandang, dan sebabnya adalah karena semua sebab yang menjadikan manusia mencintai sesuatu semuanya itu secara sempurna ada pada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Secara umum, faktor dan sebab utama yang menjadikan manusia mencintai sesuatu kembali kepada dua hal, yaitu : [1] keindahan dan kesempurnaan yang ada pada  sesuatu (yang dicintai), [2] kebaikan dan kasih sayang yang bersumber dari sesuatu (yang dicintai). Karena sesungguhnya hati dan jiwa yang bersih secara fitrah akan mencintai kesempurnaan dan mencintai pihak yang selalu berbuat baik kepadanya.
  • Tidak ada satupun yang kebaikannya lebih besar dibandingkan Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena sungguh kebaikan-Nya kepada hamba-Nya (tercurah) di setiap waktu dan (tarikan) nafas (hamba tersebut). Hamba itu selalu mendapatkan limpahan kebaikan-Nya dalam semua keadaannya, sehingga tidak ada cara (tidak mungkin) baginya untuk menghitung (secara persis) jenis-jenis kebaikan Allâh -‘Azza wa Jalla- tersebut, apalagi macam-macam dan satuan-satuannya.

Tidak ada satupun yang kebaikannya lebih besar dibandingkan Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena sungguh kebaikan-Nya kepada hamba-Nya (tercurah) di setiap waktu dan (tarikan) nafas (hamba tersebut). Hamba itu selalu mendapatkan limpahan kebaikan-Nya dalam semua keadaannya, sehingga tidak ada cara (tidak mungkin) baginya untuk menghitung (secara persis) jenis-jenis kebaikan Allâh -‘Azza wa Jalla- tersebut, apalagi macam-macam dan satuan-satuannya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.