[Kitabut Tauhid 10] 48 Mencintai Allah 36

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup dengan pengakuan dan perasaan, tetapi harus diwujudkan dengan sikap dan prilaku sesuai tuntunan Syariat. Dan ittiba’ tidak akan terwujud jika ada faktor penghalangnya, dan diantara penghalang ittiba’ adalah :

  1. Bodoh terhadap ajaran agama.
  2. Mengikuti hawa nafsu.
  3. Mendahulukan pendapat nenek moyang dan para tokoh dari Dalil.
  4. Mendahulukan akal dari Dalil Yang Shahih.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 47 Mencintai Allah 35

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup dengan pengakuan dan perasaan, tetapi harus diwujudkan dengan sikap dan prilaku sesuai tuntunan Syariat. Dan ittiba’ tidak akan terwujud jika ada faktor penghalangnya, dan diantara penghalang ittiba’ adalah : (1) bodoh terhadap ajaran agama, dan (mengikuti hawa nafsu).

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 46 Mencintai Allah 34

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memiliki beberapa tanda atau indikasi yang menjadi bukti kebenarannya; diantaranya :

1. Mengagungkan Nash-Nash Syar’iyyah.

2. Takut terhadap penyimpangan dan istidraj.

3. Mencontoh dan meneladani Sunnah Nabi secara lahir dan batin.

4. Menjadikan Syariat sebagai Hakim.

5. Ridha terhadap Hukum dari Rasulullah dan Syariat Beliau.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 45 Mencintai Allah 33

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Sebagaimana kewajiban Syariat yang lainnya, ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup hanya bermodal niat dan semangat, tetapi harus mengikuti bimbingan Syariat. Diantara rambu-rambu Syariat yang harus dipahami dan dipatuhi dalam urusan ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1.  Ittiba’ tidak akan terwujud kecuali jika amalan sesuai dengan Syariat di dalam enam hal (sebab, jenis, ukuran, tata cara, waktu, dan tempat).
  2. Asal di dalam ibadah bagi mukallaf adalah ta’abbud (merendahkan diri dan tunduk) dan imtitsâl (mewujudkan ketaatan) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- tanpa melihat kepada hikmah-hikmah yang dikandungnya, meskipun mungkin saja sebagian hikmahnya tampak sangat jelas.
  3. Kesusahan bukanlah tujuan Syariat.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 44 Mencintai Allah 32

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Sebagaimana kewajiban Syariat yang lainnya, ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup hanya bermodal niat dan semangat, tetapi harus mengikuti bimbingan Syariat. Diantara rambu-rambu Syariat yang harus dipahami dan dipatuhi dalam urusan ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Agama Islam dibangun di atas dalil yang shahih, bukan di atas pertimbangan akal semata.
  2. Wajib bagi seorang Muslim untuk mencari tahu tentang hukum Syar’i dan memastikannya sebelum mengamalkannya di dalam semua urusan hidupnya.
  3. Maksud dari ittiba’ kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah mengamalkan semua ajaran yang Beliau bawa.
  4. Ibadah-ibadah yang ditinggalkan oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan tidak Beliau lakukan padahal ada sebab yang menuntutnya pada zaman Beliau, maka melakukannya adalah bid’ah sedangkan meninggalkannya adalah sunnah.
  5. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia di dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama, di dalam urusan dunia dan Akhirat, yang berupa ibadah dan muamalah, dalam keadaan damai ataupun perang, dalam masalah politik atau ekonomi, dan seterusnya, maka Syariat telah menjelaskan dan menerangkannya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 43 Mencintai Allah 31

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Kecintaan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memiliki dua tingkatan : tingkatan al-fardhu (kadar wajib, kadar minimal) dan tingkatan al-fadhlu (kadar sempurna).
  • Kadar wajibnya adalah menerima semua yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- bawa dari sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-; baik berupa berita, perintah, maupun larangan. Sedangkan kadar sempurnanya adalah berupaya maksimal untuk meneladani Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam segala urusan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 42 Mencintai Allah 30

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara penyimpangan dalam mengungkapkan kecintaan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah dengan mengagungkan jejak-jejak Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang tidak disyariatkan untuk diagungkan, dan mengamalkan hadits dhaif dan palsu.
  • Masih ada sikap-sikap dan perbuatan-perbuatan yang lainnya yang merupakan kekeliruan dalam mengungkapkan kecintaan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, yang secara umum sebabnya adalah ghuluw (berlebihan, melampaui batasan) terhadap Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Dan dimaklumi  bahwa ghuluw (berlebihan, melampaui batasan) dalam beragama termasuk penyebab utama rusaknya agama umat-umat sebelum Kita.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 41 Mencintai Allah 29

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara penyimpangan dalam mengungkapkan kecintaan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah berbuat kebid’ahan dalam urusan shalawat kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; baik karena jenis (bacaan, lafadz, redaksi) shalawatnya yang diada-akan, yang terkadang mengandung unsur kesyirikan karena mensifati Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dengan sebagian sifat-sifat Allâh -‘Azza wa Jalla-, atau karena tata-cara pengamalannya yang tidak sesuai dengan aturan Syariat.
  • Tidak semua shlawat disyari’atkan, apalagi diwajibkan; karena shalawat ada dua macam, yang disyari’atkan, dan yang tidak disyari’atkan. Shalawat adalah ibadah, dan suatu amalan itu bernilai ibadah dan diterima oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- jika terpenuhi padanya syarat-syarat diterimanya ibadah. Dan syarat-syarat diterimanya ibadah itu ada tiga : iman, ikhlash, dan ittiba’. Juga ada rambu-rambu Syari’at yang harus diperhatikan dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 40 Mencintai Allah 28

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Banyak pengakuan cinta sebagian orang kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, yang dalam mewujudkannya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai atau justru dimurkai oleh Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah :

  1. Peringatan maulid (hari kelahiran) Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Berlebihan dalam memuji Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dimana Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- disifati dengan sebagin sifat-sifat rububiyyah yang merupakan kekhususan Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 39 Mencintai Allah 27

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Banyak beredar di tangah-tengah Kaum Muslimin hadits-hadits dha’iif tentang Shalawat Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Yang meskipun tujuannya untuk memotivasi Kaum Muslimin agar banyak bershalawat, tetap saja tidak bisa dibenarkan, karena tidak boleh sengaja berdusta atas nama Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kemudian menjadikan kedustaan tersebut sebagai dasar atau sandaran dalam beragama.
  • Yang shahih dari Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah bahwa siapa saja yang mengucapkan shalawat kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- satu kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 10 kali; dan siapa saja yang bershalawat 10 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 100 kali.
  • Keutamaan-keutamaan berikut ini yang dikaitkan dengan shalawat Nabi tidak benar penyandarannya kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- :
    • Siapa saja yang bershalawat 100 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 1000 kali.
    • Siapa saja yang bershalawat 1000 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka, dan akan meneguhkan ucapannya dengan ucapan yang kokoh Ketika ada masalah pada kehidupan dunia dan pada kehidupan akhirat nantinya, dan Allâh -‘Azza wa Jalla- akan memasukkannya ke dalam surga, dan shalawatnya akan datang kepadanya berupa cahaya pada Hari Kiamat pada saat berada di atas Shirath yang ditempuh selama 500 tahun perjalanan, dan Allâh -‘Azza wa Jalla- telah memberikan kepadanya bagi setiap shalawat yang diucapkannya sebuah istana di dalam surga, baik dengan jumlah sedikit ataupun banyak.
    • Siapa saja yang bershalawat 100 kali maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan menuliskan di antara kedua matanya : terbebas dari kemunafikan, terbebas dari neraka; dan Allâh -‘Azza wa Jalla- akan menempatkannya pada Hari Kiamat bersama para syuhada.
    • Siapa saja yang bershalawat 1000 kali maka pundaknya akan berdampingan dengan pundak Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dalam pintu surga.
  • Dan hadits-hadits yang shahiih tentang shalawat Nabi mencukupi bagi Kaum Muslimin, yang dengannya mereka tidak butuh kepada hadits-hadits dha’iif, maudhuu’ dan laa ashla lahu.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“