[Kitabut Tauhid 10] 22 Mencintai Allah 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Siapa saja yang mengaku mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- wajib membuktikan cintanya dengan perilakunya. Adapun bukti paling nyata cinta seorang hamba kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah berupa ketaatan terhadap segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam.
  • Ayat-ayat Al-Qur`an yang menjelaskan tentang kewajiban untuk ittiba’ (mengikuti) Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sangat banyak. Menurut Al-Imâm Ahmad -Rahimahullâh-  ada 33 ayat. Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahullâh- mengatakan bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- telah mewajibkan taat kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- pada sekitar 40 ayat dalam Al-Qur`an.
  • Siapa saja yang mengklaim dirinya mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, akan tetapi dia tidak mengikuti Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, maka dia telah berdusta.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 21 Mencintai Allah 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Cinta adalah pilar (rukun) ibadah yang paling penting, karena cinta merupakan pondasi dan inti dari ibadah. Karenanya, kecintaan yang menjadi syarat keimanan, rukun penghambaan, dan yang paling agung serta yang paling mulia di dalam kehidupan seorang hamba adalah kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Ibadah adalah gabungan antara puncak perendahan diri dan ketundukan seorang hamba kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- yang dibangun pada puncak kecintaan kepada-Nya.  Keduanya  (puncak perendahan diri dan ketundukan, dan pada puncak kecintaan) merupakan dua kubub, yang orbit ibadah beredar pada keduanya, dan orbit itu tidak akan beredar sampai kedua kutubnya tegak.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 20 Mencintai Allah 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan hanya beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun juga diantara makhluq-makhkuq-Nya merupakan tujuan dari penciptaan alam semesta; dan karenanyalah Allâh -‘Azza wa Jalla- menurunkan Kitab-Kitab, mengutus Para Rasul –‘Alaihimussalâm-, dan mensyariatkan jihad di jalan-Nya.
  • Secara bahasa ibadah adalah at-tadzallul (perendahan diri) dan al-khuduu’ (ketundukan). Sedangkan menurut istilah Syariat, ibadah adalah suatu bentuk perendahan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan kepadda-Nya, dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari’at-Nya; atau dengan kata lain, ibadah adalah melakukan segala sesuatu yang membuat Allâh -‘Azza wa Jalla- ridha
  • Ibadah yang disyariatkan berlandaskan pada tiga rukun (pilar) pokok, yaitu : [1] al-hubbu (cinta), [2] al-khauf (takut), [3] ar-rajaa’ (harapan). Suatu amalan meskipun disyariatkan, dikerjakan sesuai tuntunan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; tetap tidak bernilai ibadah dan tidak diterima Allâh -‘Azza wa Jalla-, jika tidak tegak pada amalan tersebut ketiga rukun (pilar) ibadah tersebut.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 19 Mencintai Allah 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Allâh -‘Azza wa Jalla- mengancam dengan adzab-Nya siapa saja yang mendahulukan dan menyamakan atau bahkan melebihkan kecintaan kepada selain-Nya dengan kecintaan kepada-Nya, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya.
  • Lebih mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dibandingkan kecintaan terhadap segala sesuatunya merupakan bukti kesempurnaan keimanan.
  • Ketaatan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya harus lebih didahulukan daripada ketaatan terhadap siapapun juga, dan ketaatan terhadap selain keduanya tidak boleh bertentangan dengan ketaatan kepada keduanya.
  • Meninggalkan jihad di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan penyebab kemurkaan Allâh -‘Azza wa Jalla- dan turunnya kehinaan bagi Kaum Muslimin. Dan bermalas-malasan dalam berjihad di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan bagian dari kemunafikan.
  • Beriman kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan–Nya termasuk sebab seorang hamba selamat dari siksa Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Jihad di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan amalan yang paling utama, karenanya banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang memotivasi untuk berjihad dan anjuran untuk zuhud terhadap dunia.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 18 Mencintai Allah 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Cinta ada 4 macam : [1] al-hubbu ilallaah (cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), [2] al-hubbu fillaah (cinta karena Allâh -‘Azza wa Jalla-), [3] al-hubbu ma’allaah (cinta kepada yang dijadikan tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla-sebagaimana atau bahkan melibihi cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), [4] al-mahabbah ath-thabii’ah (cinta yang sudah menjadi naluri manusia terhadap hal-hal yang disenangi dan dirasa cocok oleh jiwanya).
  • Keempat jenis cinta tersebut bisa dirangkum menjadi 2 macam : [1] mahabbah khaashah (cinta khusus) atau mahabbah ‘ibaadah (cinta ibadah), yaitu cinta yang dibangun di atas dasar dan berkonsekuensi pengagungan dan perendahan diri kepada dzat yang dicintai, cinta jenis ini wajib diberikan dan hanya boleh diberikan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, jika diberikan kepada Aselain-Nya maka tergolong kesyirikan dan kekufuran; kemudian [2] mahabbah musytarikan (cinta yang terbagi-bagi) atau mahabbah ghairu ‘ibadah (bukan cinta ibadah), yaitu cinta yang tidak berkonsekuensi pengagungan dan perendahan diri kepada dzat yang dicintai, hukum asalnya mubah, selama tidak didahulukan dari kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan tidak menjerumuskan kepada kemaksiatan, dan bisa bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. 
  • Cinta juga bisa dibagi menjadi yang bermanfaat dan yang bermudharat. Yang bermanfaat ada 3 macam : [1] cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, [2] cinta di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- (cinta karena Allâh -‘Azza wa Jalla-), dan [3] cinta yang menolong untuk taat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan meninggalkan kemaksiatan terhadap-Nya. Sedangkan yang memudaratkan juga ada 3 macam, yaitu : [1] cinta (terhadap tandingan) Allâh -‘Azza wa Jalla-, [2] cinta terhadap hal-hal yang dibenci oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, [3] cinta yang memutuskan kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 17 Mencintai Allah 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Seorang hamba tidak dikatakan bertauhid, sampai dia mengucapkan kalimat Tauhiid, yaitu kalimat : laa ilaaha ilallaah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allâh -‘Azza wa Jalla-). Akan tetapi mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallaah saja tidak mencukupi sampai terpenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi agar ucapan tersebut diterima. Diantara syaratnya adalah al-mahabbah atau cinta. 
  • Orang yang mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallaahwajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, Rasul-Nya, agama Islam dan mencintai Kaum Muslimin yang menegakkan perintah-perintah Allâh -‘Azza wa Jalla-dan menjaga batasan-batasanNya. Dan membenci orang-orang yang bertentangan dengan laa ilaaha ilallaahdan mengerjakan lawan dari kalimat laa ilaaha ilallaahyaitu berupa kesyirikan atau kekufuran atau mereka mengerjakan hal-hal yang mengurangi kesempurnaan laa ilaaha ilallaahkarena mengerjakan kesyirikan serta kebid’ahan.
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak cukup dengan hanya pengakuan lisan dan tanpa pembuktian. Dan bukti kebenaran kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 16 Mencintai Allah 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Wajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya. Siapa saja yang mencintai selain Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sama atau bahkan melebihi kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan.
  • Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik pada masa jahiliyyah ada yang mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sangat besar, akan tetapi mereka mengangkat tandingan-tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk dipertuhankan, mereka mencintai dan beribadah kepada tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai dan beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 15 Mencintai Allah 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Wajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya. Siapa saja yang mencintai selain Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sama atau bahkan melebihi kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan.
  • Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik pada masa jahiliyyah ada yang mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sangat besar, akan tetapi mereka mengangkat tandingan-tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk dipertuhankan, mereka mencintai dan beribadah kepada tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai dan beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 14 Mencintai Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Wajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya. Tidak boleh mencitai selain Allâh -‘Azza wa Jalla- (dalam hal cinta ibadah) dengan kecintaan yang menyamai atau melebihi kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- merupakan syarat keimanan, dan mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya setelah kecintaan terhadap Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan syarat kesempurnaan iman.
  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya merupakan bagian dari syarat untuk dapat merasakan manisnya iman.
  • Mencintai dan membenci karena Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan bagian syarat untuk mendapatkan ke-wali-an (kecintaan dan pertolongan) Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 10] 13 Mencintai Allah 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Yang disunnahkan terkait musibah kematian adalah tetangga orang yang meninggal dunia memberikan makanan kepada keluarga mayyit; bukan sebaliknya keluarga mayyit yang menyediakan makanan untuk orang-orang yang melayat, berta’ziyah dan ikut dalam amalan selamatan kematian.
  • Kebanyakan Ulama Syafi’iyyah membatasi ta’ziyah hanya selama 3 (tiga) hari saja setelah pemakamam. Dan yang dimaksud ta’ziyah adalah menghibur dan memotivasi keluarga mayyyituntuktetap sabar dan mendoakan mereka agar mendapatkan pahala atas kesabaran mereka terhadapmusibahyang menimpa.
  • Asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddin Al-Albâniy -Rahimahullâh- mengatakan bahwa tidak ada batasan waktu ta’ziyah hanya 3 (tiga) hari saja dan tidak boleh lebih. Bahkan kapan saja seseorang melihat ada faidah ketika dia berta’ziyah maka hendaknya dia melakukan. Dan ini addalah pendapat yang râjih (kuat) Allâhu A’lam.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.