Terlalu Banyak Memberikan Perintah Kepada Anak

Terlalu banyak memerintah tanpa membangun kepercayaan terlebih dulu akan melemahkan kepribadian anak. Sebab dia akan berpikir bahwa dirinya hanya dijadikan alat untuk melaksanakan perintah orang tuanya. Kadang-kadang orang tua merasa itu adalah haknya, sedangkan kewajiban anak adalah menjalankan perintah. Ini yang kadang-kadang mendorong para orang tua untuk apa-apa menyuruh anak. Bahkan perkara-perkara sepele yang dia sendiri sebenarnya bisa melakukannya tanpa perlu menyuruh anak.

Anak yang dieksploitasi oleh orang tuanya seperti ini akan melemahkan kepribadian anak tersebut. Seharusnya orang tua juga harus seimbang antara membangun kepercayaan diri terlebih dulu pada anak, menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab, kemudian memberikan perintah. Kalau tidak tidak seimbang (orang tua terlalu banyak memerintah), anaknya tidak menjalankan perintah lalu dia marah. Sementara kepercayaan diri, kesadaran, dan rasa tanggung jawab pada diri anak belum terbangun. Maka orang tua juga harus membangun rasa tanggung jawab dan kesadaran serta kepercayaan diri pada anak terlebih dulu.

Terkadang anak sampai hafal bahwa kalau bertemu orang tua pasti disuruh. Dampak buruknya adalah anak akan takut bertemu orang tuanya dan berusaha menjauh. Karena kalau sudah dekat ada saja yang disuruh.

Anak adalah objek pendidikan yang orang tua berkewajiban untuk mendidiknya. Maka jangan seperti hubungan antara atasan dan bawahan dimana urusannya adalah urusan pekerjaan. Urusan kita dengan anak adalah mendidik. Maka ini juga harus diperhatikan oleh para orang tua yang terlalu sering dan terbiasa memerintah. Sehingga kadang-kadang hal-hal sepele pun dia suruh anaknya.

sumber: https://www.radiorodja.com/52774-terlalu-banyak-memberikan-perintah/

Qonitat

Kata Allah, istri yang shalihah adalah yang qanitat, yakni patuh pada suami selama suami tidak menyuruhnya berbuat maksiat.

Tidaklah Allah sebutkan sebuah karakter dalam konteks pujian, kecuali pasti mengandung kebaikan. Jika karakter terpuji yang Allah sebutkan itu dijauhi dan ditinggalkan, maka pasti mengakibatkan keburukan.

Petunjuk Allah sederhana dan mudah. Sayang, sebagian orang sekarang condong pada teori-teori yang rumit karena terkesan keren dan ilmiah. Sebaliknya, mereka anggap petunjuk Allah kuno dan naif karena kaidahnya nampak sederhana dan mudah. Padahal, di balik kaidah yang sederhana ini, tersimpan hikmah yang luar biasa indah.

Jika suami sudah menegakkan qawwam dengan baik, tapi rumah tangga masih bermasalah, coba cek bagaimana istrinya. Apakah dia mau berhias dengan sifat qanitat atau lebih patuh pada dorongan nafsunya.

Hari ini, banyak orang menjadikan tontonan sebagai tuntunan. Apa yang ditampilkan indah dalam cerita film maupun video-video pendek didudukkan sebagai standar kebaikan, bahkan kebenaran. Betapa banyak orang hari ini berani mencela syariat hanya karena apa yang disuarakan oleh syariat menyelisihi apa yang diusung oleh tontonan.

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya, meskipun manusia menganggapnya kuno dan naif hanya karena kaidahnya terasa mudah dan sederhana.

Allahul Muwaffiq….

Penulis : Abun_nada

Tidak Boleh Mencela Demam

Sebagian orang yang tidak sabar, ketika ditimpa musibah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya maka ia mengeluh bahkan mencela. Seseorang yang sakit mungkin awalnya ia akan mengeluh, akan tetapi lama-lama ia akan mencela dan memaki.  Apalagi jika sakit tersebut disertai dengan demam yang tinggi dan sulit hilang, atau hilang-muncul.

Terdapat larangan dalam syariat agar kita tidak mencela demam. dari Jabir radiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabda, ‘Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat’.“[1]

Demikianlah secara umum sakit bisa menggugurkan dosa seseorang asalkan dia bersabar Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[2]

Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[3]

bahkan bisa jadi ia tidak mempunyai dosa sama sekali, menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir ketika sembuh atau ketika meninggal karena penyakit tersebut.

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[4]

Demikian semoga bermanfaat,

@Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen


[1]  HR. Muslim4/1993, no. 2575

[2] HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651

[3] HR. Muslim no. 2572

[4] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

sumber : https://muslimafiyah.com/tidak-boleh-mencela-demam.html

Beramal Karena Allah Ta’ala Bukan Manusia

Ketika seorang muslim selamat dari Syirik Akbar yaitu menyekutukan Allah Ta’ala, sehingga dia tidak menyembah tuhan lainnya. Syaitan tidak akan membiarkannya begitu saja, Syaitan akan mendatanginya dan mengganggu niatnya dalam beribadah, sehingga melakukan Syirik Ashgar, seperti Riya dan Sum’ah.

Riya, yaitu beribadah karena ingin dilihat oleh orang-orang bahwa dia melakukan ibadah tersebut. Sehingga niatnya tidak lagi tulus ingin mendapatkan ridha Allah Ta’ala namun ingin menerima pujian atau pengakuan dari manusia.

Dan Sum’ah yaitu beribadah karena ingin didengar sehingga mendapatkan pujian atau pengakuan, contoh: Sengaja mengangkat suara ketika mengaji karena ingin didengar orang-orang bahwa suaranya bagus.

Dua keadaan di atas sungguh merugikan, bahwa ibadah yang mereka kerjakan tidak mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, justru mendapatkan dosa dibalik keinginan mereka mendapatkan pujian.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” (HR Muslim)

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi/18 : 110]

Dan orang-orang yang beribadah karena riya dan sum’ah ini berpotensi dapat meninggalkan ibadah yang dilakukannya jika tidak mendapatkan apa yang dia mau dari pujian, atau justru mendapatkan cercaan, seperti orang yang berderma ingin dicap sebagai dermawan.

Oleh karena itu, kerjakanlah amal ibadah karena dia adalah perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bukan dengan niat lain untuk ini atau itu.

Karena sesungguhnya kita semua yang membutuhkan pahala dari ibadah tersebut di akhirat, sedangkan keuntungan duniawi hanyalah fana.

Simak ucapan berikut:

“يراك الناس ويرون عملك بعينين: عين الرضا وعين السخط؛ فإذا رضوا عنك مدحوك، وإذا سخطوا عليك عابوك. فلا تسع لمدحهم، ولا تشق لذمهم. واعمل لله، فقد أفلح من تولاه”.

“Orang-orang melihatmu dan amalanmu dengan 2 mata: Mata Senang dan Mata Benci. Ketika mereka senang, maka akan memujimu, ketika tidak suka maka akan menjelekkanmu. Untuk itu jangan berusaha untuk mendapatkan pujian mereka, dan jaga pusing dengan cacian mereka. Beramal lah karena Allah Ta’ala, sungguh akan beruntung orang yang ditolong oleh Allah Ta’ala.

(Syaikh DR Salih Al Ushaimi di www. j-eman.net)

Semoga Allah Ta’ala menerima amal shalih kita dan menjauhkan kita dari jeleknya Riya dan Sum’ah.

sumber : https://www.hisbah.net/beramal-karena-allah-taala-bukan-manusia/

Sulitnya Menjaga Rahasia…

Al-Imam Asy-Syaafi’i rahimahullah berkata:

إِذَا الْمَرْءُ أَفْشَى سِـرَّهُ بِلِسَانِهِ وَلاَمَ عَلَيْـهِ غَيْـرَهُ فَهُوَ أَحْمَقُ

“Jika seseorang telah membuka rahasianya (kepada orang lain) dengan lisannya …. dan ia mencela orang itu yang membuka rahasianya tersebut, maka ia adalah orang yang dungu.”

إِذَا ضَاقَ صَدْرُ الْمَرْءِ عَنْ سِرِّ نَفْسِهِ فَصَدْرُ الَّذِي يَسْتَوْدِعُ السِّرِّ أَضَيَقُ

“Jika dada seseorang sesak (tidak kuasa) untuk menyimpan rahasianya sendiri…maka dada orang lain yang ia simpan rahasianya lebih sesak lagi“

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/6692

[Kitabut Tauhid 10] 34 Mencintai Allah 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara kekhususan yang dimilik oleh Nabi Kita Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, adalah bahwa tidak ada didalam Al-Qur’an tidak pula pada selainya dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- bershalawat kepada hamba-hamba-Nya kecuali kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Maka ini termasuk kekhususan yang Allâh -‘Azza wa Jalla- khusus berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh kalangan Para Nabi.
  • Maksud shalawatnya Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah pujian-Nya untuk Beliau di sisi Para Malaikat, sedangkan maksud shalawatnya Para Malaikat untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah do’a mereka untuk Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Adapun makna shalawat Kaum Muslimin kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah meminta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- agar Dia memuji dan mengagungkan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dunia dan di Akhirat nantinya. Di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) Beliau, memenangkan agamanya dan mengokohkan syariat Islam yang Beliau bawa. Dan di Akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, memudahkan syafa’at Beliau bagi umatnya dan menampakkan keutamaan Beliau pada Hari Kiamat di hadapan seluruh makhluq-Nya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Anak: Investasi Berharga Orang Tua

Ketika mendengar kata “investasi” mungkin kebanyakan dari kita akan tertuju pada hal yang dikeluarkan oleh seseorang untuk mendapatkan aset atau bisnis jangka panjang yang menguntungkan bagi masa depan sang investor.

Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, investasi adalah aktivitas menempatkan modal baik berupa uang atau aset berharga lainnya ke dalam suatu benda, lembaga, atau suatu pihak dengan harapan pemodal atau investor kelak akan mendapatkan keuntungan setelah kurun waktu tertentu.

Maka tak mengherankan jika banyak orang rela mengeluarkan banyak hal demi investasi yang menguntungkan; dengan harapan dapat lebih menjamin masa depan yang cerah serta bahagia, sehingga lebih menjamin kehidupan yang baik bagi dirinya maupun orang tersayangnya.

Maka investasi pun saat ini banyak dilirik karena banyak menawarkan kelebihan-kelebihan yang menguntungkan bagi sang calon investor.

Ada sebuah investasi yang amat menguntungkan yang bisa memberikan keuntungan yang sangat besar bagi investornya, dunia maupun akhirat, namun sayangnya masih banyak yang belum menyadarinya.

Investasi tersebut adalah “anak”. Bagi yang telah memiliki keluarga serta telah dikaruniai momongan, maka berbahagialah karena anda memiliki sebuah investasi besar yang sangat menguntungkan, tetapi mungkin anda belum menyadarinya.

Ini bukan hanya sekedar omong kosong, ataupun bualan para pembicara tema parenting di panggung-panggung seminar, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala sendiri melalui lisan rasul-Nya telah menyampaikan perihal tersebut jauh ribuan tahun silam.

Simaklah petikan hadits berikut: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.
(HR. Muslim no. 1631).


Mungkin kebanyakan dari kita sudah sering mendengar atau membaca hadist ini, atau bahkan ada beberapa yang telah menghafalnya, tetapi mungkin banyak dari kita yang belum memaknainya dengan baik.

Sebagai seorang manusia yang memiliki orientasi masa depan yang baik, tentu setiap orang akan mempersiapkan yang terbaik untuk masa depannya, begitupun dengan sepasang orang tua yang telah dikaruniai seorang buah hati.

Mereka pasti akan memberikan perhatian serta kasih sayang pada sang buah hati, karena mereka sadar betapa besarnya pengorbanan yang mereka lakukan demi lahirnya sang buah hati di dunia ini terutama seorang ibu.

Maka orang tua pun memberikan segala hal terbaik bagi anaknya, mulai dengan memberikan makanan yang bergizi, memberikan pakaian yang terbaik, menyekolahkannya di sekolah-sekolah favorit, hingga membiayai segala kebutuhannya hingga sang anak tumbuh dewasa.

Jika menilik kepada hadist yang telah disebutkan sebelumnya, maka anak-anak kita dapat menjadi investasi yang sangat menguntungkan bagi kita semua, karena mereka dapat menjadi wasilah agar kita terus mendapat “kiriman doa” ketika mungkin sudah tidak ada yang mendoakan kita.

Mungkin saat ini kita memiliki pasangan, teman, relasi atau yang lain, tapi apakah mereka akan mengingat kita ketika kita telah tiada? pasangan kita dapat dinikahi oleh orang lain, teman kita dapat mencari teman lain yang mungkin lebih baik dari kita, relasi kita dapat mencari relasi lain yang lebih menguntungkan dan menjanjikan baginya, lalu siapakah yang akan mendoakan kita?

Allah telah memberikan solusi konkrit dengan menunjukkan melalui lisan rasul-Nya bahwa ada sebuah jalan yang dapat dilalui agar tetap ada yang dapat mendoakan kita disaat kita telah tiada, dan secara tidak langsung kita telah “berinvestasi” untuk masa depan kita, terlebih lagi masa depan akhirat kita yang merupakan tempat tinggal abadi bagi kita.

Maka seorang muslim yang cerdas akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya, menyiapkan generasi penerus yang berkualitas, shalih serta memiliki kemampuan dari segi duniawi maupun ukhrawi, sehingga bukan hanya investasi untuk dirinya, tetapi ia juga dapat memberikan sumbangsih bagi agama serta bangsa, dan menjadi modal bagi kebangkitan umat islam kedepannya.

Invesati ini dapat sangat menguntungkan jikalau hal ini dpat dikelola dengan baik dan benar, serta diusahakan agar dapat mencapai hasil yang maksimal, maka diperlukan kiat-kiat agar dapat mencapai hal tersebut, maka berikut akan dipaparkan beberapa hal singkat sebagai kiat-kiat agar investasi kita dapat berjalan dengan baik insyaAllah.

1. Menanamkan iman pada anak

Iman merupakan pokok fundamental pada setiap insan yang harus ditanamkan sejak masih belia, agar akar-akarnya dapat menancap kuat serta kuat sehingga tidak mudah roboh dan terombang ambing oleh terpaan angin yang kuat, apalagi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan penuh dengan fitnah, maka diperlukan sebuah pondasi yang kokoh agar tetap tegak.

Dan pondasi terbaik yang telah diajarkan oleh Islam adalah iman yang mana jika telah menghujam kuat dapat menciptakan sebuah insan yang baik, lagi bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain,

Allah ta’ala saat mengisahkan kisah Luqman, berfirman:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya,”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)

Allah memulai kisah luqman dengan sebuah wasiat yang diberikan luqman pada anaknya, yaitu agar tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga, maka iman menjadi pondasi dan tolak ukur utama dalam mendidik anak sebagaimana Allah contohkan pada kisah luqman.

2. Memberikan contoh yang baik pada anak

Anak memang seorang peniru ulung. Setiap saat, mata anak selalu mengamati, telinganya menyimak, dan pikirannya mencerna apa pun yang kita lakukan. Karena ia sedang mengalami masa pertumbuhan dimana otak mulai berkembang seiring bertambahnya neuron di dalam otak anak.

Maka diperlukakan contoh yang baik pula, agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena sebagai orang tua, orang yang paling dekat dengan sang anaklah yang akan paling banyak ditiru.

Setiap anak yang lahir membawa fitrah yang harus senantiasa dijaga. Penjagaan ini dilakukan dengan memastikan anak mendapat lingkungan yang baik untuk tumbuh kembangnya. Untuk menjadi anak sholeh, seorang anak harus ada di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang baik agar terbentuk kepribadaian dan tumbuh kaidah iman dan Islam. Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda, 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (kesucian), maka orang tualah yang akan menjadikan dia sebagai seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(H.R. Bukhori).

3. Mendo’akan anak 

Do’a orang tua terhadap anak merupakan hal yang sangat penting, dikarenakan keshalihan anak adalah taufik dan petunjuk dari Allah. Contohlah nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendo’akan anaknya;

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.”
(QS. Ibrahim: 40)

Dan doa orang tua adalah do’a yang mustajab. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi.”
(HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Oleh karenanya jangan sampai orang tua melupakan doa baik pada anaknya, walau mungkin saat ini anak tersebut sulit diatur dan nakal. Hidayah dan taufik di tangan Allah. Siapa tahu ke depannya, ia menjadi anak yang shalih dan manfaat untuk orang tua berkat doa yang tidak pernah putus-putusnya.

Penulis: Faros Nur Muhammad
Editor: Muhammad Fathurrahman

sumber : https://wadimubarak.com/anak-investasi-berharga-orang-tua/

Doa Para Nabi Untuk Anak: Teladan bagi Orang Tua dalam Mendidik Buah Hati

Meneladani Para Nabi dalam Mendoakan Buah Hati

Bismillah.

Anak adalah karunia Allah ﷻ, perhiasan hidup, dan penyejuk hati bagi orang tuanya. Salah satu bentuk kasih sayang terbesar orang tua dan usaha terbaik dalam mendidik mereka adalah dengan memperbanyak doa kepada Allah ﷻ agar mereka menjadi generasi yang shalih, taat kepada Allah, serta bermanfaat bagi agama dan umatnya.

Dan perlu diketahui bahwa mendoakan anak  metode pendidikan serta kebiasaan yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan orang-orang shalih.

1. Mendoakan Anak Sunnah Para Nabi

Para Nabi adalah orang yang paling memahami cara mendidik anak. Mereka senantiasa memanjatkan doa agar keturunan mereka menjadi pribadi yang shalih, bahkan sebelum anak tersebut lahir.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Beliau senantiasa memohon keturunan yang shalih dan agar dijauhkan dari kemusyrikan:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang shalih.”) (QS. Ash-Shaffat: 100)

Dan doa beliau: “Ya Tuhan kami, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat…” (QS. Ibrahim: 40)

Nabi Zakaria ‘Alaihissalam

Beliau berdoa memohon keturunan yang baik dan diridhai Allah ﷻ:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38)

Rasulullah ﷺ

Beliau sering mendoakan anak-anak kecil, baik cucu maupun anak para sahabat, seperti doa beliau untuk Ibnu Abbas:

اللهم فقِّهه في الدين

“Ya Allah, faqihkanlah (pahamkanlah) dia dalam agama,” 

dan doa untuk Anas bin Malik:

اللهم أكْثِرْ ماله وولده، وبارك له فيما أعطيته

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.”.

2. Orang-Orang Juga Shalih Mendoakan Anak Mereka

Allah ﷻ memuji Ibadurrahman (hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang) karena sifat mereka yang senantiasa memohon agar keturunannya menjadi penyejuk hati. Allah ﷻ berfirman:

 وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Selain itu, para ulama salaf pun sangat menekankan pentingnya doa bagi anak. Salah satu kisah masyhur adalah ketika Abu Ma’syar rahimahullah mengadukan perilaku anaknya kepada Thalhah bin Musharrif rahimahullah. Maka Thalhah pun menasehatinya agar memohon kepada Allah dengan ayat dalam surah Al-Ahqaf:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan kepada) anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

3. Larangan Mendoakan Buruk bagi Anak

Sebagaimana syariat menganjurkan orang tua untuk memperbanyak doa kebaikan bagi anak-anaknya, syariat juga melarang mereka mendoakan keburukan untuk anak, meskipun diucapkan saat marah, kecewa, atau kesal. Terkadang sebagian orang tua menganggap ucapan semacam itu hanya luapan emosi sesaat. Padahal, bisa jadi ucapan tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلادِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ

Janganlah kalian mendoakan keburukan bagi diri kalian sendiri, jangan mendoakan keburukan bagi anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan bagi harta kalian; jangan sampai kalian bertepatan dengan saat Allah mengabulkan doa, lalu Dia mengabulkan doa kalian tersebut.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa doa orang tua memiliki kedudukan yang besar. Karena itu, lisan seorang ayah atau ibu hendaknya dijaga dari ucapan yang buruk terhadap anaknya. Ketika anak melakukan kesalahan, yang seharusnya dilakukan adalah menasihati, mendidik, dan mendoakan kebaikannya, bukan melaknat atau mendoakan kebinasaan baginya.

Dalam sebuah kisah yang masyhur, ada seorang ayah yang mengeluhkan kenakalan anaknya kepada Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Beliau bertanya:

أَدَعَوْتَ عَلَيْهِ؟

“Apakah Anda pernah mendoakan keburukan untuknya ?”

Ayah itu menjawab, “Ya.”

Maka Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

أَنْتَ أَفْسَدْتَهُ

“Andalah yang telah merusaknya.”

Perkataan ini memberikan pelajaran penting bahwa orang tua tidak boleh meremehkan pengaruh doa dan ucapan mereka terhadap anak. Oleh karena itu, ketika menghadapi sikap anak yang tidak sesuai harapan, hendaknya kesedihan dan kemarahan diarahkan menjadi doa kebaikan, agar Allah memperbaiki keadaan mereka, memberi hidayah kepada mereka, dan menjadikan mereka anak-anak yang saleh serta penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

4. Keutamaan Doa Orang Tua untuk Anak

Doa orang tua memiliki kedudukan yang sangat agung. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa doa orang tua untuk anaknya termasuk doa yang pasti dikabulkan. Beliau ﷺ bersabda:

ثلاثُ دَعواتٍ لا تُرَدُّ: دعوةُ الوالِدِ لِولدِهِ، ودعوةُ الصائِمِ، ودعوة المسافِرِ

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (HR. Al-Baihaqi & Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani)

Kesimpulan

Di antara sebab terbesar yang dapat ditempuh orang tua untuk kebaikan anak-anaknya adalah memperbanyak doa. Karena hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah ﷻ, dan hanya Dia yang mampu memberikan hidayah serta menjaga keistiqomahan mereka.

Mendoakan anak merupakan kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Mereka tidak hanya berusaha mendidik dan membimbing, namun juga senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar keturunannya menjadi generasi yang saleh dan membawa keberkahan.

Karena itu, hendaknya setiap orang tua memperbanyak doa yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Qurratu a’yun (penyejuk mata) tak sekadar anak yang sukses dalam urusan dunia, namun anak yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan menjadi sebab kebahagiaan orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, jangan pernah bosan memanjatkan doa untuk anak-anak kita, karena doa orang tua termasuk doa yang mustajab di sisi Allah ﷻ.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

sumber: https://bimbinganislam.com/doa-para-nabi-untuk-anak-teladan-bagi-orang-tua-dalam-mendidik-buah-hati/