Doa Para Nabi Untuk Anak: Teladan bagi Orang Tua dalam Mendidik Buah Hati

Meneladani Para Nabi dalam Mendoakan Buah Hati

Bismillah.

Anak adalah karunia Allah ﷻ, perhiasan hidup, dan penyejuk hati bagi orang tuanya. Salah satu bentuk kasih sayang terbesar orang tua dan usaha terbaik dalam mendidik mereka adalah dengan memperbanyak doa kepada Allah ﷻ agar mereka menjadi generasi yang shalih, taat kepada Allah, serta bermanfaat bagi agama dan umatnya.

Dan perlu diketahui bahwa mendoakan anak  metode pendidikan serta kebiasaan yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan orang-orang shalih.

1. Mendoakan Anak Sunnah Para Nabi

Para Nabi adalah orang yang paling memahami cara mendidik anak. Mereka senantiasa memanjatkan doa agar keturunan mereka menjadi pribadi yang shalih, bahkan sebelum anak tersebut lahir.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Beliau senantiasa memohon keturunan yang shalih dan agar dijauhkan dari kemusyrikan:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang shalih.”) (QS. Ash-Shaffat: 100)

Dan doa beliau: “Ya Tuhan kami, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat…” (QS. Ibrahim: 40)

Nabi Zakaria ‘Alaihissalam

Beliau berdoa memohon keturunan yang baik dan diridhai Allah ﷻ:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38)

Rasulullah ﷺ

Beliau sering mendoakan anak-anak kecil, baik cucu maupun anak para sahabat, seperti doa beliau untuk Ibnu Abbas:

اللهم فقِّهه في الدين

“Ya Allah, faqihkanlah (pahamkanlah) dia dalam agama,” 

dan doa untuk Anas bin Malik:

اللهم أكْثِرْ ماله وولده، وبارك له فيما أعطيته

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.”.

2. Orang-Orang Juga Shalih Mendoakan Anak Mereka

Allah ﷻ memuji Ibadurrahman (hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang) karena sifat mereka yang senantiasa memohon agar keturunannya menjadi penyejuk hati. Allah ﷻ berfirman:

 وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Selain itu, para ulama salaf pun sangat menekankan pentingnya doa bagi anak. Salah satu kisah masyhur adalah ketika Abu Ma’syar rahimahullah mengadukan perilaku anaknya kepada Thalhah bin Musharrif rahimahullah. Maka Thalhah pun menasehatinya agar memohon kepada Allah dengan ayat dalam surah Al-Ahqaf:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan kepada) anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

3. Larangan Mendoakan Buruk bagi Anak

Sebagaimana syariat menganjurkan orang tua untuk memperbanyak doa kebaikan bagi anak-anaknya, syariat juga melarang mereka mendoakan keburukan untuk anak, meskipun diucapkan saat marah, kecewa, atau kesal. Terkadang sebagian orang tua menganggap ucapan semacam itu hanya luapan emosi sesaat. Padahal, bisa jadi ucapan tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلادِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ

Janganlah kalian mendoakan keburukan bagi diri kalian sendiri, jangan mendoakan keburukan bagi anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan bagi harta kalian; jangan sampai kalian bertepatan dengan saat Allah mengabulkan doa, lalu Dia mengabulkan doa kalian tersebut.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa doa orang tua memiliki kedudukan yang besar. Karena itu, lisan seorang ayah atau ibu hendaknya dijaga dari ucapan yang buruk terhadap anaknya. Ketika anak melakukan kesalahan, yang seharusnya dilakukan adalah menasihati, mendidik, dan mendoakan kebaikannya, bukan melaknat atau mendoakan kebinasaan baginya.

Dalam sebuah kisah yang masyhur, ada seorang ayah yang mengeluhkan kenakalan anaknya kepada Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Beliau bertanya:

أَدَعَوْتَ عَلَيْهِ؟

“Apakah Anda pernah mendoakan keburukan untuknya ?”

Ayah itu menjawab, “Ya.”

Maka Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

أَنْتَ أَفْسَدْتَهُ

“Andalah yang telah merusaknya.”

Perkataan ini memberikan pelajaran penting bahwa orang tua tidak boleh meremehkan pengaruh doa dan ucapan mereka terhadap anak. Oleh karena itu, ketika menghadapi sikap anak yang tidak sesuai harapan, hendaknya kesedihan dan kemarahan diarahkan menjadi doa kebaikan, agar Allah memperbaiki keadaan mereka, memberi hidayah kepada mereka, dan menjadikan mereka anak-anak yang saleh serta penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

4. Keutamaan Doa Orang Tua untuk Anak

Doa orang tua memiliki kedudukan yang sangat agung. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa doa orang tua untuk anaknya termasuk doa yang pasti dikabulkan. Beliau ﷺ bersabda:

ثلاثُ دَعواتٍ لا تُرَدُّ: دعوةُ الوالِدِ لِولدِهِ، ودعوةُ الصائِمِ، ودعوة المسافِرِ

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (HR. Al-Baihaqi & Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani)

Kesimpulan

Di antara sebab terbesar yang dapat ditempuh orang tua untuk kebaikan anak-anaknya adalah memperbanyak doa. Karena hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah ﷻ, dan hanya Dia yang mampu memberikan hidayah serta menjaga keistiqomahan mereka.

Mendoakan anak merupakan kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Mereka tidak hanya berusaha mendidik dan membimbing, namun juga senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar keturunannya menjadi generasi yang saleh dan membawa keberkahan.

Karena itu, hendaknya setiap orang tua memperbanyak doa yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Qurratu a’yun (penyejuk mata) tak sekadar anak yang sukses dalam urusan dunia, namun anak yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan menjadi sebab kebahagiaan orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, jangan pernah bosan memanjatkan doa untuk anak-anak kita, karena doa orang tua termasuk doa yang mustajab di sisi Allah ﷻ.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

sumber: https://bimbinganislam.com/doa-para-nabi-untuk-anak-teladan-bagi-orang-tua-dalam-mendidik-buah-hati/