Menjadi Ayah yang Hadir dalam Pendidikan Anak

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Dalam pendidikan anak, selain keteladanan, anak juga membutuhkan teman dalam melakukan kebaikan dan ketaatan. Orang tua hendaknya melibatkan anak dalam aktivitas ibadah dan aktivitas amal salehnya, yang memang memungkinkan untuk diikuti sang anak. Oleh karena itu, para orang tua dituntut menjadi orang tua yang hadir dalam pendidikan anak, jangan sampai terlalu sibuk sehingga tidak menjadi figur yang hadir dalam mendidik mereka. Terutama para bapak, sibuknya aktivitas mencari nafkah membuat mereka kurang memiliki waktu untuk anak-anaknya.

Menjadi Suami yang Hadir

Bagi para laki-laki, untuk menjadi ayah yang hadir, semestinya dimulai dengan menjadi suami yang hadir bagi keluarganya. Dari Fathimah bintu Qais radhiyallahu’anha, ia berkata:

أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏

Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”” (HR. Muslim no.1480).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merekomendasikan Abul Jahm kepada Fathimah bintu Qais, karena Abul Jahm tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.

Ada dua makna dari “tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya” sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi rahimahullah:

قوله صلى الله عليه وسلم : أما أبو الجهم فلا يضع العصا عن عاتقه ، فيه تأويلان مشهوران أحدهما أنه كثير الأسفار ، والثاني أنه كثير الضرب للنساء

“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya] ada dua tafsiran yang masyhur dari para ulama: pertama, maknanya ia sering pergi safar. Kedua, ia sering memukul wanita” (Syarah Shahih Muslim, 10/74).

Maka, berdasarkan tafsiran yang pertama dari makna ucapan hadits ini, menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merekomendasikan Fathimah bintu Qais untuk menikah dengan lelaki yang akan sering meninggalkannya untuk bersafar. Sehingga yang ideal, hendaknya seorang suami menjadi suami yang hadir untuk keluarganya.

Demikian juga banyak sunnah-sunnah dalam rumah tangga yang hanya dapat diamalkan ketika suami berada di tengah keluarganya:

  • memberi nafkah biologis
  • memberi nasehat
  • memberi pengajaran agama
  • membantu pekerjaan istri
  • bermain-main dengan istri
  • mengajak istri jalan-jalan
  • mengajak istri safar

Oleh karena itu, sebisa mungkin, suami istri itu hendaknya tinggal bersama dan tidak berpisah tempat tinggal. Karena ini yang lebih sesuai dengan perintah Al-Qur’an dan Sunnah, serta lebih melanggengkan rumah tangga juga masing-masing suami dan istri lebih dapat menjalankan tugas-tugas dan kewajibannya dengan sempurna.

Para Nabi Membersamai Anak dalam Ibadah

Banyak contoh dari para Nabi ‘alaihimussalam bahwa mereka mengajak anak mereka dalam melakukan ketaatan. Di antaranya, Nabi Ibrahim mengajak anak beliau, yaitu Nabi Ismail, untuk membangun Ka’bah. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“” (QS. Al-Baqarah: 127).

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong cucu beliau ketika sedang berkhutbah. Dari Abdullah bin Buraidah radhiyallahu ’anhu, ia berkata:

خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأقبل الحسن والحسين رضي الله عنهما عليهما قميصان أحمران يعثران ويقومان، فنزل فأخذهما فصعد بهما المنبر، ثم قال: “صدق الله، إنما أموالكم وأولادكم فتنة، رأيت هذين فلم أصبر”، ثم أخذ في الخطبة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Lalu Hasan dan Husain radhiyallahu ’anhuma datang ke masjid dengan memakai gamis berwarna merah, berjalan dengan sempoyongan jatuh bangun (karena masih kecil). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar masjid dan menggendong kedua cucu tersebut, dan membawanya naik ke mimbar. Lalu beliau bersabda, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah (ujian), aku melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa bersabar”. Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya” (HR. Abu Daud no. 1109, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ’anhu, ia berkata:

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمامة بنت العاص -ابنة زينب بنت الرسول صلى الله عليه وسلم- على عاتقه، فإذا ركع وضعها وإذا رفع من السجود أعادها

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Umamah bintu al-Ash, putrinya Zainab bintu Rasulullah, di pundak beliau. Apabila beliau shalat maka ketika rukuk, Rasulullah meletakkan Umamah di lantai, dan apabila bangun dari sujud maka beliau kembali menggendong Umamah” (HR. Bukhari no. 516, Muslim no. 543).

Para Salaf dalam Mengajak Anak dalam Ibadah

Demikian juga para salaf, mereka mengajak anak-anak mereka untuk beribadah dan melibatkan mereka dalam amalan-amalan saleh. Di antara contohnya, Amr bin Salamah didapuk menjadi imam shalat ketika usia beliau 7 tahun. Dari Amr bin Salamah radhiyallahu’anhu, ia berkata:

لَمَّا رَجَعَ قَوْمِي مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا إِنَّهُ قَالَ : لِيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قِرَاءَةً لِلْقُرْآنِ . قَالَ : فَدَعَوْنِي فَعَلَّمُونِي الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ ، فَكُنْتُ أُصَلِّي بِهِمْ

“Ketika kaumku kembali dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyampaikan sabda Nabi: hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafalan Qur’annya. Maka mereka pun memanggilku dan mengajarkan aku rukuk dan sujud, kemudian aku mengimami mereka” (HR. Al-Bukhari no. 4302).

Dalam sebuah hadits, seorang shahabiyah di zaman Nabi membawa serta anaknya ketika berhaji. Dari Kuraib pembantu Ibnu Abbas mengatakan:

أنَّ امْرَأَةً رَفَعَتْ صَبِيًّا، فَقالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، أَلِهذا حَجٌّ؟ قالَ: نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ

“Ada seorang wanita ia mengangkat anaknya lalu berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah haji anak ini sah?. Nabi menjawab, “Ya, dan engkau juga mendapat pahala.” (HR. Muslim no.1336).

Para salaf mereka membersamai anak-anak mereka dalam berpuasa. Dari Ar-Rubayyi’ binti Al-Mu’awwidz radhiyallahu’anha, ia berkata:

أَرْسَلَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إلى قُرَى الأنْصَارِ: مَن أصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَومِهِ ومَن أصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ، قالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، ونُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، ونَجْعَلُ لهمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أحَدُهُمْ علَى الطَّعَامِ أعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حتَّى يَكونَ عِنْدَ الإفْطَارِ

“Bahwa di pagi hari Asyura, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabat ke kampung-kampung Anshar (ketika puasa diwajibkan). Untuk menyampaikan: “Siapa yang hari ini sudah sarapan, hendaknya dia puasa di sisa harinya. Dan siapa yang berpuasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya”. Ar-Rubayyi’ berkata, “Kami pun berpuasa setelah itu, dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami membuatkan untuk mereka boneka dari kapas. Jika mereka menangis karena minta makan, kami berikan boneka tersebut. Demikian terus sampai datang waktu berbuka” (HR. Bukhari no. 1960).

Menjadi Orang Tua yang Hadir 

Dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alahissalam yang diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail, terdapat pelajaran berharga. Allah ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Dalam perkataan, “Bagaimana pendapatmu?”, Al-Baghawi dalam Tafsirnya mengatakan bahwa di sini Nabi Ibrahim mengajak musyawarah anaknya. Lihat bagaimana dekatnya hubungan antara ayah dan anak sehingga seorang ayah mengajak anaknya bermusyawarah dalam membahas perkara yang begitu penting.

Di dalam ayat yang lain, 

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku” (QS. Yusuf: 4).

Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf ‘alaihissalam menceritakan masalah yang dihadapinya kepada ayahnya, Nabi Ya’qub. Hubungan seperti ini tidak didapatkan dengan instan, namun dari kehadiran ayah di tengah keluarganya dalam mendidik anaknya. 

Oleh karena itu nasehat kami untuk para orang tua sekalian, terutama para ayah agar menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendidik anak-anak dan menjadi orang tua yang hadir di tengah keluarga. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

sumber : https://konsultasisyariah.com/42661-menjadi-ayah-yang-hadir-dalam-pendidikan-anak.html

Anak Jangan Durhaka, Orang Tua Jangan Terlalu Sayang Sekali

Anak kadang kurang perhatian dengan orang tuanya, lupa dengan kesibukannya bahkan bisa jadi durhaka kepada orang tuanya. Karenanya Islam sangat meotivasi agar berbakti kepada orang tua. Sebaliknya orang tua terkadang terlalu sayang sekali kepada anak mereka, terkadang mengikuti saja mau anak padahal itu tidak baik bagi agama maupun dunianya. Karenanya Islam mengingatkan para orangtua bahwa anak bisa menjadi fitnah/ujian.

Motivasi Islam agar anak berbakti kepada orang tuanya

Sangat banyak anjuran terkait hal ini, terutama ketika orang tua sudah memasuki usia senja. “Perhatikanlah wahai para anak, waktu mencari rezeki lebih panjang dari usia orang tuamu, bahagiakan mereka dengan waktu yang tersisa”

Perhatikanlah berikut ini wahai para anak

1.Perintah berbakti urutan kedua setelah perintah bertauhid kepada Allah[1]

2.Ridha Allah tergantung ridha orang tua, selama itu dalam ketaatan[2]

3.Berbakti kepada orang tua bisa menghilangkan kesusahan hidup atas izin Allah[3]

4.Durhaka kepada orang tua adalah dosa terbesar kedua setelah syirik mempersekutukan Allah[4]

5.Celaka bagi anak yang mendapati orang tuanya masih hidup tetapi ia tidak bisa masuk surga karena tidak berbakti[5]

Peringatan bagi orang tua agar anak mereka tidak menjadi fitnah/ujian

Misalnya anak minta dibelikan TV dan game tidak bermanfaat, karena orang sangat sayang, maka dikabulkan atau anak perempuannya tidak menutup aurat, maka ia tidak menasehati bahkan tidak mau tegas kepada anak perempuannya.

Perhatikan hal berikut ini wahai para orang tua:

1.Allah memperingatkan dalam Al-Quran bahwa anak dan istri bisa jadi fitnah/ujian[6]

2.Anak-anak bisa menyibukkan kita dari agama dan hal-hal penting[7]

3.Bahkan ada perintah agar tegas kepada anak, yaitu dengan cara memukulnya ketika tidak ta’at kepada Allah, ini benar-benar langkah terakhir jika berbagai nasehat kelembutan tidak ia terima. Tentunya dengan pukulan mendidik dan tidak keras, bukan pukulan dengan kemarahan dan tidak memukul di wajah[8]

Semoga kita sebagai anak selalu bisa berbakti kepada orang tua dan sebagai orang tua bisa mendidik anak dengan pendidikan terbaik

@Desa Pungka, Sumbawa Besar – Sabalong Samalewa

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

[1] Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]

[2] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR. Bukhari dalam adabul Mufrad)

[3] Sebagaimana kisah dalam hadits tiga orang yang terjebak dalam gua, salah satu dari mereka bertawassul dengan amal baik sangat berbakti kepada orang tua (Lihat HR. Bukhari dan Muslim)

[4] Abu Bakrah radhiallahu a’nhu berkata,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟) ثَلاَثًا، قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : ( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ ) وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرُ ) مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْتُ لَيْتَهُ سَكَتَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”Beliau lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan [pada tangannya]. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[5] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)

[6] Allah berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah/ujian (bagimu).” (At-Taghabun: 15)

[7] Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (Al-Munafiqun: 9)

[8] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun dan pukulah mereka jika tidak shalat saat berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud II/167)

sumber: https://muslimafiyah.com/anak-jangan-durhaka-orang-tua-jangan-terlalu-sayang-sekali.html

Konsep Parenting Islami: Memadukan Kasih Sayang dan Ketegasan dalam Mendidik

Salah satu konsep parenting dalam Islam adalah memadukan kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak. Idealnya, seorang anak perlu mendapatkan keduanya agar ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik. Di satu sisi, ia butuh kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Akan tetapi di sisi lain, ia juga harus menerima ketegasan ketika melakukan keburukan atau semisalnya.

Ketika seorang anak hanya dididik dengan kasih sayang saja, itu akan membahayakannya di kemudian hari. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa dimanjakan, sehingga tertipu dengan nikmatnya kehidupan. Ia akan menjadi pribadi yang manja dan tidak tahan banting menghadapi kerasnya dunia di kemudian hari.

Sebaliknya, ketika seorang anak kekurangan kasih sayang dan menerima didikan yang keras, maka hal tersebut akan membuat sekat pembatas antara orang tua dan anak. Hasilnya apa? Tentu ia akan menjadi pribadi yang suka membangkang dan tidak akan dekat dengan orang tua.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk seimbang antara kasih sayang dan ketegasan dalam medidik anak. Jangan sampai anak kekurangan kasih sayang sehingga tidak memiliki ikatan emosional yang cukup dengan orang tua. Jangan juga anak dibiarkan tanpa ketegasan sama sekali sehingga ia menjadi pribadi yang manja.

Kasih sayang dalam mendidik anak

Mendidik anak dengan kasih sayang merupakan asas utama dalam mendidik anak. Kasih sayang merupakan hal yang perlu diberikan kepada anak dalam setiap kondisi. Berbeda dengan ketegasan yang hanya diberikan kepada anak pada waktu tertentu saja ketika dibutuhkan.

Secara dalil syar’i, mengapa kasih sayang dalam mendidik anak harus dikedepankan? Beberapa alasan di antaranya adalah:

Rasulullah memberikan kasih sayang terhadap anak-anak

Sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib meneladani manusia yang paling sempurna, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau berinteraksi dengan anak-anak? Tentunya beliau memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis, di antaranya adalah,

إن كان النبيُّ لَيُخالطُنا ، حتى يقولَ لأخٍ لي صغيرٍ : يا أبا عُمَيرُ ! ما فعل النُّغَيرُ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar biasa berbaur (bergaul) dengan kami, sampai-sampai beliau berkata kepada adik kecilku, ‘Wahai Abu Umair, sedang apa si nughair (burung kecil itu)?’” (HR. Bukhari)

Hadis di atas menunjukkan kasih sayang dan perhatian Rasulullah terhadap anak kecil. Walaupun beliau seorang Rasul, beliau tetap memberikan perhatian kepada anak-anak.

Bukan hanya itu, Rasulullah pun membiarkan cucu beliau untuk naik ke punggungnya ketika beliau sedang sujud ketika salat. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadis,

كلُّ ذلكَ لم يكُنْ، ولكنَّ ابْني ارْتَحَلَني، فكرِهْتُ أنْ أُعْجِلَهُ حتَّى يَقضيَ حاجتَهُ

“Semua dugaan itu tidak terjadi. Akan tetapi, anakku (cucuku) ini tadi menjadikanku seperti tunggangan, dan aku tidak suka untuk menyegerakannya (turun) sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasa’i)

Kasih sayang adalah kunci keberhasilan mendidik anak

Kasih sayang dalam mendidik anak bisa menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Mengapa demikian? Mari kita simak firman Allah berikut,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.“ (QS. Ali Imran: 159)

Allah memberikan anugerah kepada Rasulullah berupa akhlak mulia agar dakwah beliau diterima. Realitanya, Rasulullah memiliki akhlak terbaik di antara manusia yang hal tersebut menjadi salah satu alasan dakwah beliau diterima. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan ayat di atas.

Begitu juga dengan mendidik anak. Jika kita tidak memberikan akhlak mulia berupa kasih sayang kepada anak kita atau malah bersikap keras, tentulah mereka perlahan-lahan akan menjauhkan diri. Jika ada jarak yang jauh antara orang tua dan anak, bagaimana bisa orang tua memberikan pendidikan yang baik?

Renungkan juga realita yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki akhlak yang mulia, terkenal sebagai orang jujur dan amanah, namun dakwah beliau masih banyak yang menolak. Bagaimana dengan kita sebagai orang tua yang tidak sempurna? Jangan harap bisa mendidik anak dengan baik jika kita tidak bisa memberikan kasih sayang yang cukup terhadap anak.

Perlunya ketegasan dalam mendidik anak

Selain kasih sayang, dalam mendidik juga harus dipadukan dengan ketegasan terhadap anak. Akan tetapi, perlu diperhatikan ketegasan dan pemberian hukuman bukanlah sikap utama kita. Ketegasan adalah pelengkap yang dibutuhkan pada waktunya. Hal tersebut juga adalah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis disebutkan,

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya sama sekali, tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pula memukul seorang pembantu, kecuali saat beliau berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas, bisa kita ketahui bahwa Rasulullah pun memberikan hukuman, dan salah satunya adalah dengan pukulan. Akan tetapi, pemberian hukuman tersebut hanya dilakukan ketika dibutuhkan saja, terlebih lagi hukuman dengan pukulan. Memukul merupakan opsi paling akhir yang dilakukan.

Yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman

Ketegasan dalam mendidik biasanya identik dengan pemberian hukuman. Hukuman bagi anak tidak hanya berupa hukuman fisik, apalagi pukulan. Hal tersebut merupakan opsi terakhir jika metode hukuman lainnya tidak mempan untuk diterapkan. Akan tetapi, ada beberapa yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman. Di antaranya adalah:

Konsisten dalam memberikan hukuman

Ketika memberikan hukuman, kita -sebagai orang tua- harus konsisten dengan apa yang sudah ditetapkan. Jangan sampai hukuman yang diberikan tergantung dengan mood kita. Ketika kita marah karena faktor tertentu lalu anak melakukan kesalahan, kita menghukum mereka dengan tegas. Akan tetapi, ketika hati kita sedang baik, pada kesalahan yang sama, kita malah memaafkan. Jangan juga pilih kasih dalam memberikan hukuman kepada anak.

Kita juga harus konsekuen dalam memberikan hukuman. Jangan terlalu bermudah-mudahan membatalkan hukuman yang seharusnya diberikan karena sang anak menangis dan meminta maaf. Jika itu dilakukan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan dan menjadi senjata andalannya ketika berbuat salah.

Dalam memberikan hukuman kepada anak, orang tua juga harus kompak antara satu dan lainnya. Jangan sampai sang ayah dan sang ibu malah saling bertentangan. Ketika ayah memberikan hukuman kepada anak yang melakukan kesalahan, sang ibu malah membela anak yang salah tersebut atau juga sebaliknya. Jika hal tersebut terjadi, yang dipelajari oleh sang anak ketika itu adalah bagaimana cara mengambil simpati dari kelembutan hati pihak yang membela agar ia tidak dihukum ketika melakukan kesalahan.

Jangan memberikan hukuman secara serampangan

Ketika memberikan hukuman, jangan terburu-buru untuk menghukum anak. Pastikan dulu anak tersebut memang melakukan kesalahan dan mengakui kesalahannya. Jangan sampai kita menghukum anak yang sebenarnya tidak salah. Hal tersebut dilakukan agar ia tidak merasa dizalimi. Kita harus membuatnya paham bahwa kita tidak menghukumnya melainkan karena ia telah melakukan sesuatu yang bukan haknya, serta melanggar hak orang lain.

Barangsiapa yang menerapkan cara ini saat menghukum mereka (anak-anak), maka rasa cinta dan kasih sayang yang telah ditanamkan di dalam diri mereka tidak akan pernah pudar. Adapun jika tidak dilakukan, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Perlahan-lahan rasa cinta mereka akan memudar.

Imbagi hukuman dengan penghargaan

Di antara hal yang perlu dilakukan sebagai seorang orang tua adalah selain memberikan hukuman ketika melakukan kesalahan, kita juga selayaknya memberikan penghargaan ketika mereka melakukan kebaikan. Proses pendidikan apa pun yang tidak menerapkan prinsip penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) dalam mengarahkan perilaku anak secara seimbang dan rasional, niscaya penyimpanganlah yang akan menjadi hasil akhir dari pendidikan tersebut.

Hukuman bukanlah hal pertama yang dijadikan jalan keluar oleh seorang pendidik. Sebaliknya, ia harus selalu memulai dengan memberikan penghargaan, sampai pada titik di mana hukuman benar-benar diperlukan.

Penutup

Mendidik anak merupakan amanah yang besar bagi orang tua. Anak-anak yang saleh merupakan aset kita yang merupakan salah satu amalan yang tidak terputus setelah kita mati kelak. Oleh karena itu, kita harus maksimal dan serius dalam mendidik anak. Di antara usaha yang bisa kita lakukan adalah mencoba untuk memberikan porsi yang pas antara kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak.

Allahu a’lam.

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Kaifa Turabbi Abna’aka, karya Syekh Ahmad bin Nashir At-Thayyar.

Sumber: https://muslimah.or.id/34009-konsep-parenting-islami.html

Jika Anak Menangis ketika Shalat

Anak Menangis ketika Shalat

Apa yang harus dilakukan jika anak menangis pada saat shalat jamaah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terkait kasus anak menangis ketika shalat, ada beberapa yang perlu diperhatikan,

Pertama, dibolehkan membatalkan shalat jika ada kebutuhan mendesak

Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin – kitab madzhab Hanafi – dinyatakan,

مطلب قطع الصلاة يكون حراما ومباحا ومستحبا وواجبا. نقل عن خط صاحب البحر على هامشه أن القطع يكون حراما ومباحا ومستحبا وواجبا، فالحرام لغير عذر والمباح إذا خاف فوت مال، والمستحب القطع للإكمال، والواجب لإحياء نفس.

Pembahasan tentang membatalkan shalat. Bisa hukumnya haram, mubah, mustahab (dianjurkan), dan wajib. Dinukil dari karya penulis kitab al-Bahr di catatan kaki, bahwa membatalkan shalat hukumnya haram, mubah, mustahab, dan wajib. Haram jika tanpa udzur, mubah jika untuk menyelamatkan harta, dianjurkan jika hendak menyempurnakan shalat, dan wajib untuk menyelamatkan jiwa. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 2/52).

Kedua, dibolehkan melakukan gerakan yang tidak berlebihan ketika shalat, ketika ada kebutuhan. Seperti menggendong anak.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu,  beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُصَلِّى وَهْوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَلأَبِى الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا ، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat menjadi imam sambil menggendong Umamah bintu Zainab bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umamah adalah putri Abil Ash bin Rabi’ah. Ketika beliau sujud, beliau letakkan Umamah. Ketika beliau berdiri, beliau gendong Umamah.” (HR. Bukhari 516 & Muslim 1240)

Ketiga, setiap orang tua bisa belajar mengenali tangisan anaknya. Ketika anak menangis dalam shalat, ada 2 kemungkinan penyebab,

[1] Tangisan karena dia mengalami kondisi yang membahayakan dirinya, sehingga segera butuh pertolongan.  Seperti terjatuh, atau tangisan karena diganggu binatang.

[2] Tangisan karena kecewa atau merasa bosan.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan bahwa

Jika anak menangis ketika shalat jamaah, sementara orang tuanya tidak bisa mendiamkannya dengan tetap bertahan shalat, dibolehkan untuk membatalkan shalat untuk menolongnya. Dikhawatirkan dia menangis karena ada bahaya yang mengenai dirinya.

Jika tangisan anak bisa ditenangkan dengan tanpa harus membatalkan shalat, misalnya dengan digendong atau ditaruh di pangkuan, itu lebih baik. (Fatwa Islam, no. 75005)

Keempat, imam turut meringankan beban jamaah

Ketika imam mendengar ada anak menangis yang sulit untuk didiamkan, imam dianjurkan meringankan shalat jamaah. Dengan tetap memperhatikan kekhusyuan shalat.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَقُومُ فِى الصَّلاَةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا ، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ ، فَأَتَجَوَّزُ فِى صَلاَتِى كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

Saya pernah mengimami shalat, dan saya ingin memperlama bacaannya. Lalu saya mendengar tangisan bayi, dan sayapun memperingan shalatku. Saya tidak ingin memberatkan ibunya. (HR. Ahmad 2202 dan Bukhari 707)

Ar-Ruhaibani mengatakan,

ويسن للإمام تخفيف الصلاة إذا عرض لبعض مأمومين في أثناء الصلاة ما يقتضي خروجه منها كسماع بكاء صبي

Dianjurkan bagi imam untuk meringankan shalatnya ketika ada masalah dengan sebagian makmum pada saat shalat jamaah, sehingga mendesak makmum untuk segera menyelesaikan shalatnya, seperti mendengar tangisan bayi. (Mathalib Ulin Nuha, 1/640).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber : https://konsultasisyariah.com/28038-jika-anak-menangis-ketika-shalat.html

Allah Tidak Boleh Divisualkan, Tidak Boleh Digambarkan

Ini pelajaran terkait nama dan sifat Allah, dari sini terkandung pelajaran bahwa Allah tidak boleh divisualkan, tidak boleh digambarkan, tidak boleh disebutkan hakikat Allah itu seperti apa.

Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Allah.”(QS. Al-Ikhlas: 4)

Juga dalam ayat,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, namun tidak sama dengan melihat dan mendengarnya makhluk yang semuanya serba terbatas.

Dalam memahami Dzat, nama, dan sifat Allah, kita tetapkan nama dan sifat Allah tersebut tanpa melakukan:

  • takwil (merubah maknanya),
  • tak-thil (menolak sebagian sifat Allah),
  • takyif (memvisualkan atau menggambarkan bagaimana wujud sifat Allah),
  • tam-tsil (menyamakan dengan sifat Allah dengan sifat makhluk), dan
  • tafwidh (tidak mau menetapkan pengertian sifat Allah).

Demikian, semoga bisa pahamkan pada anak-anak kita ketika mereka bertanya:

  • Siapa orang tua Allah?
  • Allah itu makan apa?
  • Bagaimana wajah Allah?
  • Siapa yang menciptakan Allah?

Jawabannya adalah Allah tidak semisal dengan makhluk-Nya. Allah tidak bergantung pada makhluk-Nya. Allah tidak diciptakan siapa pun. Allah itu tidak boleh kita katakan butuh pada makan sebagaimana kita manusia. Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, namun tidak sama dengan makhluk-Nya yang mereka mendengar dan melihat serba terbatas. Allah itu Mahatinggi, Mahakaya, tidak butuh pada makhluk, Allah itu yang menciptakan kita semua.

Semoga Ayah bunda diberikan akidah yang lurus dan senantiasa diberi taufik untuk menjadi anak-anak jadi saleh salehah.

sumber : https://ruqoyyah.com/970-allah-tidak-boleh-divisualkan-tidak-boleh-digambarkan.html

Bagaimana Meningkatkan Kepercayaan Diri pada Anak Kita?

Memiliki anak merupakan impian serta tujuan dari pernikahan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi orang tua untuk mendidik mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, terkadang orang tua tidak menyadari kesalahan mereka dalam mendidik anak. Salah satunya, anak memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah.

Mengapa anak bisa memiliki kepercayaan diri yang rendah? Bagaimana cara orang tua memperbaikinya? Mari simak sedikit pembahasan yang diuraikan dari kitab Tanshi’at al-Fatat al-Muslimah oleh Hanan ‘Atiyah at-Tori al-Juhani.

Kapan anak mulai membentuk perilaku?

Ketika usia dua tahun, anak memulai membentuk perilaku mereka terhadap dunia di sekitarnya. Beberapa psikolog berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu karakter yang dibentuk pada usia ini, tergantung pada bentuk pendidikan dari orang tua dan keadaan lingkungan sekitarnya.

Pada tahapan ini, anak akan menampakkan perkembangan pada kemandiriannya, seperti keinginan untuk berbicara, berjalan, maupun bermain. Semua hal ini sangat erat kaitannya dengan kebutuhannya untuk membangun keyakinan pada diri sendiri melalui kemandiriannya. Hal ini mengkonfirmasi bahwa perkembangan kedewasaan seseorang dapat dimulai dengan menghormati individualitas seorang anak dan mengembangkannya.

Anak-anak cenderung sensitif, irasional, dan mudah terpengaruh. Maka, membangun kepercayaan diri merupakan salah satu tahapan dalam membangun karakternya nanti.

Sebab rendahnya kepercayaan diri

Beberapa anak tumbuh dengan rendahnya rasa kepercayaan diri sehingga mereka tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, baik pada perkara yang rumit maupun sederhana. Mereka jarang mengambil inisiatif dan sering kali menunggu perintah dari orang lain.

Ketika mereka menghadapi suatu masalah, mereka akan merasa sulit untuk mengambil suatu keputusan dan terkadang menghindar dari permasalahan tersebut dan menangis. Perilaku ini sebagian besar disebabkan karena pendidikan dari orang tuanya, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, orang tua terlalu banyak mengontrol, baik dalam perihal kecil maupun perihal besar. Hal ini membuat anak kehilangan spontanitas mereka dan kehilangan kepercayaan diri dalam melakukan suatu aktivitas. Anak akan menunggu seseorang untuk mengoreksinya dan meyakinkan mereka jika apa yang mereka perbuat sudah benar.

Kedua, orang tua menyalahkan dan mengkritik segala hal yang anak lakukan. Sehingga anak disalahkan dan ditegur lebih dari yang seharusnya pada saat mereka mengharapkan pujian atas usahanya. Hal ini menghancurkan motivasi anak untuk bertindak atau berkompetisi dalam melakukan sesuatu.

Ketiga, orang tua tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk berbicara, baik di depan orang tua maupun orang lain. Orang tua terkadang takut jika mereka berbicara yang macam-macam. Sehingga orang tua terlalu mengatur apa yang boleh anak sampaikan ke orang lain.

Keempat, orang tua memberikan peringatan kepada anak tentang bahaya yang terlalu banyak, sehingga anak berpikir yang terburuk dan berpikir bahwa mereka selalu berada di tengah bahaya.

Kelima, orang tua merendahkan anak dan membandingkan mereka dengan orang lain. Hal ini membuat anak berpikir bahwa mereka tidak memiliki nilai di mata orang tuanya.

Keenam, orang tua membuat candaan dan mengejek anaknya.

Ketujuh, orang tua tidak memperhatikan kebutuhan anaknya.

Kedelapan, orang tua tidak memperhatikan pertanyaan-pertanyaan anaknya.

Kesembilan, orang tua terlalu memperhatikan tingkah anaknya yang menunjukkan kekhawatiran secara berlebihan kepada anaknya.

Efek negatif dari rendahnya kepercayaan diri

Rendahnya kepercayaan diri pada anak memiliki berbagai efek negatif, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, anak tidak bisa bersikap secara independen dan kesulitan dalam mengambil keputusan.

Kedua, anak tidak bisa kreatif dan cenderung lamban.

Ketiga, anak akan mulai mengeluh dan merasa tidak bahagia ketika mereka diperintahkan sesuatu, karena mereka berpikir mereka pasti akan dikritik, terlepas dari pekerjaan mereka yang nantinya bisa atau tidak bisa mereka kerjakan, sesuai dengan ekspektasi pemberi perintah.

Keempat, anak tidak memiliki kehendak dan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan. Anak hanya akan menurut dan bersikap apatis terhadap suatu situasi, serta lalai dan berantakan dalam mengerjakan suatu hal.

Kelima, anak akan menderita kecemasan dan frustrasi, serta memiliki sikap tidak ramah dan menarik diri.

Bagaimana cara orang tua untuk meningkatkan kepercayaan diri anaknya?

Untuk menghindari efek negatif dari rendahnya kepercayaan diri pada anak, orang tua hendaknya membantu perkembangan kepercayaan diri mereka, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, orang tua hendaknya mengajarkan segala sesuatu yang diizinkan Allah maupun yang dilarang Allah. Dengan adanya pedoman yang jelas, anak akan mengetahui perbuatan apa yang baik dan buruk, serta menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Kemudian, berikanlah ruang bagi anak untuk dapat mengambil inisiatif sendiri.

Kedua, ibu hendaknya memberikan tugas tertentu bagi anak. Jika anak membuat suatu kesalahan, maka ibu hendaknya tetap mengapresiasi usaha anak tersebut dan juga mendorong anak untuk melakukannya lagi secara benar. Jika tugas itu merupakan tugas yang belum dikuasai anak, maka ibu hendaknya berdiskusi dengan anak, menanyakan pendapatnya, serta tidak mempermasalahkan jika anak membuat kesalahan. Dengan hal ini, anak dapat memperkuat tekadnya dan menyelesaikan tugas tersebut dengan  baik.

Ketiga, orang tua hendaknya memberikan pujian kepada anak dan memberikan hadiah atas usahanya selama ini. Berilah pujian pada perkara-perkara ibadah, seperti salat dengan rutin, membaca dan menghafalkan Al-Quran, dan lainnya.

Keempat, orang tua hendaknya memberikan nama panggilan yang berbeda dengan anak yang lain. Orang tua juga hendaknya tidak mengizinkan orang lain untuk memanggil anaknya dengan nama panggilan yang buruk.

Kelima, orang tua hendaknya memperkuat tekad dan ketekunan anak dengan dua hal berikut:

1) Menjaga rahasia

2) Membiasakan anak untuk berpuasa

Keenam, orang tua menguatkan kepercayaan diri anak dengan membiasakan mereka untuk menghadapi orang lain. Hal ini dapat dimulai dengan memberikan perintah kepada anak, duduk bersama orang yang lebih tua, berkumpul bersama anak-anak seusianya.

Ketujuh, orang tua menguatkan kepercayaan diri anak dengan menambah ilmunya, yaitu dengan mengajarkan Al-Quran dan As-Sunah. Dengan adanya landasan agama yang kokoh, anak akan lebih percaya diri dan tidak terpengaruh dengan perkara-perkara batil.

Apa yang menyebabkan anak merasa tidak cukup?

Beberapa hal yang membuat anak merasa tidak cukup antara lain meremehkan, mempermalukan, dan mengejeknya, seperti memanggilnya dengan nama dan kata-kata yang tidak senonoh di depan saudara dan kerabatnya, atau bahkan di depan teman-temannya atau di depan orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Hal ini mempengaruhi cara anak memandang nilai dirinya yang rendah dan tidak penting. Hal ini bahkan mendorong anak untuk membuat dirinya dibenci dan tidak disukai orang lain. Kata-kata kasar yang tidak sengaja orang tua ucapkan kepada anak akan memberikan dampak kepada psikologis anak.

Cara terbaik untuk menghadapi ini yaitu menjelaskan kepada anak dengan lembut, tunjukkan mana yang salah dan berikan alasan mengapa hal itu salah. Jangan membentak mereka, apalagi di depan orang lain. Orang tua hendaknya mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik dan memberikan arahan, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri teladan terbaik. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ‏

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

***

Penulis: Lisa Almira

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Artikel ini diterjemahkan dengan sedikit perubahan dan tambahan dari IslamQA oleh Syekh Shalih al-Munajjid dengan judul “How to Boost Your Daughter’s Self-Confidence in Islam”.

Sumber: https://muslimah.or.id/33914-bagaimana-meningkatkan-kepercayaan-diri-pada-anak-kita.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Kesalahan Orang Tua, Enggan Membangunkan Anak Shubuh

Salah satu kesalahan orang tua adalah membiasakan anaknya tidak bangun Shubuh.

Padahal shalat Shubuh itu jika dijaga akan membuat anak itu mendapatkan jaminan Allah.

Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ

Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar. Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim, no. 657). Jaminan Allah itu luar biasa sekali, bisa kesehatan, diselamatkan dari penyakit, diselamatkan dari gangguan, diselamatkan dari mara bahaya, dan lain-lain. Karena maksud hadits sifatnya umum.

Karenanya orang tua tidak baik memanjakan anaknya dengan enggan membangunkannya shalat Shubuh. Kadang orang tua beralasan, “Ah dia masih ngantuk, kasihan dibangunkan.”

Anehnya …

Kalau anak meminta mainan, bahkan ada yang merusak dan melalaikan, malah ketika itu dituruti.

Hati-hati jika terus mengikuti keinginan anak, karena ada yang sekedar nafsunya sehingga orang tua harus menimbang-nimbang manakah yang maslahat. Allah telah mengingatkan,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa harta dan anak adalah fitnah yaitu ujian dari Allah pada manusia untuk mengetahui siapa yang taat dan siapakah yang bermaksiat.  

Sejak kapan anak diajak bangun Shubuh?

Dalam hadits disebutkan,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Kalau penulis sendiri terapkan pada anak laki-laki semenjak ia bisa diajak bangun Shubuh ketika usia TK, ia sudah diajak ke masjid dan shalat di samping ayahnya. Jadi lihat kemudahan masing-masing anak. Kalau sudah menginjak tujuh tahun sudah lebih pantas diajak oleh ayahnya ke masjid sehingga terbiasa sedari kecil untuk berjamaah.

Semoga Allah beri taufik dan hidayah pada anak-anak kita.


Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/599-kesalahan-orang-tua-enggan-membangunkan-anak-shubuh.html

Mendidik Anak Di Rumah Juga Termasuk Meniti Karir

Jika sekedar hanya untuk mendidik anak yang sukses di dunia saja maka orang selain Islam juga bisa, banyak yang sukses di dunia

Tapi untuk mendidik anak sukses dunia dan akhirat, perlu ibu yang lebih banyak tinggal di rumah dan fokus dengan pendidikan anak mengajarkan adab, alquran dan doa sejak kecil, mengajarkan alif, ba, ta

Siapa yang mengajarkan Imam syafi’i kecil umur 7 tahun sudah hapal alquran?
Siapa yang memandikan imam malik kecil pagi-pagi dan pergi ke gurunya?
Siapa yang menghabiskan harta yang banyak untuk pendidikan guru imam malik rabi’atur ra’yi?

Sebagian mereka adalah wanita janda, ibu imam Syafi’i, ibu imam Ahmad, ibu Rabi’atur Ra’yi ditinggal suami berjihad sejak hamil sampai tua baru ketemu

Jika anak adalah titipan Allah, jangan dititipkan lagi kepada pembantu

Wanita hendaknya lebih banyak di rumah daripada diluar untuk mendidik anak-anak mereka. Karena mendidik anak perlu fokus di rumah bukan dititipkan kepada pembantu atau baby sister.

Tinggal di rumah adalah perintah Allah dalam Al-Quran, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

Wanita adalah pemimpin di rumah dalam hal mendidik anak-anaknya, sedangkan suami adalah pengawas pendidikan istri dan anak-anaknya. Orang tua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير راع، وهو مسئول عن رعيته، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده، وهي مسئولة عنهم، والعبد راع على مال سيده، وهو مسئول عنه، فكلكم راع مسئول عن رعيته

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).

Demikian semoga bermanfaat.

@Laboratorium Klinik RS DR Sardjito, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/mendidik-anak-di-rumah-juga-termasuk-meniti-karir.html

Libatkanlah Allah dalam Pendidikan Anak

Di antara bentuk keimanan yang kuat seorang hamba adalah ketika ia senantiasa menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah. Ia yakin bahwa dia adalah seorang hamba yang lemah, tidak memiliki daya dan upaya, serta senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.

Mari lihat firman Allah di dalam Al-Qur’an tentang ucapan seorang mukmin yang hakiki. Allah berfirman,

وَأُفَوِّضُ أَمْرِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Mu’min: 44)

Bahkan, seorang mukmin diminta untuk senantiasa mengikrarkan setiap harinya, minimal 17 kali, bahwa ia akan selalu menyandarkan dirinya kepada Sang Pencipta, dengan membaca dalam setiap salatnya,

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”(QS. Al-Fatihah: 5)

Ikrar ini selalu diulang. Tujuannya adalah agar mengingatkan jati diri seorang hamba yang tak bisa lepas dari Sang Khaliq. Sebaliknya, ketika ia menjauh dan tidak menyandarkan kepada Allah dalam urusannya, maka sejatinya ia adalah seorang yang sombong. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an,

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ
أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

Di antara bentuk penyandaran diri seorang hamba kepada Allah adalah dengan senantiasa berdoa. Ia bermunajat, yang merupakan bentuk melibatkan Allah dalam segala urusannya.

Maka, tak heran ketika Allah menggandengkan antara kesombongan dengan orang orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Karena, ketika seseorang itu meninggalkan bermunajat kepada Allah, secara tidak langsung dia merasa tidak butuh kepada pertolongan-Nya dan itulah inti kecongkakan.

Allah berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Al-Mu’min: 60)

Dan di antara hal yang paling penting seorang hamba melibatkan Allah adalah dalam pendidikan anak. Mengapa demikian? Hal itu karena beberapa hal, di antaranya:

Pertama, hidayah di tangan Allah, sedangkan orang tua tidak memiliki hak memberikan hidayah dan taufik untuk sang buah hati.

Kedua, seorang ayah dan ibu yang sangat lemah dalam membersamai dan mengawasi sang anak.

Ketiga, zaman yang penuh dengan godaan dan kemaksiatan, yang sulit dibendung apalagi dengan semakin canggihnya teknologi di era sekarang.

Oleh karenanya, orang tua harus senantiasa melibatkan Allah dalam pendidikan buah hati mereka. Dan anda wahai Ayah bunda, jangan lelah untuk mendoakan buah hati anda. Karena doa merupakan kunci kesuksesan segala sesuatu. Begitu juga, ia kunci kesuksesan untuk menjadikan buah hati anda tumbuh menjadi anak yang saleh. Di sisi lain, doa anda sangatlah mustajab. Hal ini sebagaimana yang pernah Nabi sabdakan dalam suatu hadis yang dibawakan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ
وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862, dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan)

Berikut adalah macam-macam doa yang bisa dipanjatkan agar Allah memberikan keturunan yang saleh, gemar untuk berbuat kebaikan, serta dijauhkan dari keburukan:

Pertama: Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar mendapatkan anak yang saleh,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Kedua: Doa Nabi Zakariya ‘alaihis salam agar mendapatkan anak yang saleh,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imron: 38)

Ketiga: Doa ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman) agar mendapatkan anak yang saleh,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Keempat: Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar mempunyai anak yang rajin menegakan salat,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Kelima: Doa Nabi Muhammad untuk sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma agar ia menjadi seorang yang ‘alim,

اَللَّهُمَّ فَقِّهُّ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

Ya Allah, berilah kepahaman kepadanya dalam urusan agama dan ajarkan takwil (tafsir Al-Qur’an).

Keenam: Doa agar Allah selalu memperbaiki keadaan keturunan,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

Wahai Rabbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku, juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal saleh yang Engkau ridai. Dan perbaikilah keturunanku.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ketujuh: Doa agar anak terhindar dari ‘ain,

أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلَا تَضُرَّهُ

Aku menyerahkan perlindunganmu dengan Kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Wahai Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.” (Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar)

Kedelapan: Doa Nabi untuk seorang pemuda yang memiliki keinginan untuk melakukan zina, maka ia pun mendoakannya dengan meletakkan tangannya kepada lelaki tersebut, agar Allah menjauhkan sang pemuda dari perbuatan nista,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.

Kesembilan: Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Anas agar dimudahkan memiliki banyak anak dan harta.

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Kesepuluh: Doa Nabi Ibrahim agar keturunan dijauhkan dari perbuatan syirik,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Inilah di antara doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadis, dan masih banyak lagi contoh doa yang bisa dipanjatkan untuk sang buah hati tercinta.

Semoga Allah Ta’ala mengkaruniakan kepada setiap orang tua anak yang saleh dan bermanfaat untuk agama dan bangsa.

———–

Dirangkum oleh Agung Argiyansyah di Pesantren gratis Klaten, Rabu, 28 Jumadilakhir 1445 H, bertepatan 10 Januari 2024. Terinspirasi dengan salah satu bab dalam kitab ‘Asyru Raka’iz fi Tarbiyatil Aulad, karya Prof. Syekh Abdur Razzaq bin Abdil Mushsin Al-‘Abbad Al-Badr.

***

Penulis: Agung Argiyansah

Sumber: https://muslim.or.id/90881-libatkanlah-allah-dalam-pendidikan-anak.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Orang Tua Ibarat Pengembala

Di zaman yang penuh tantangan dan godaan saat ini orang tua dengan anak-anaknya menjadi seperti pengembala dengan hewan gembalaannya di tempat yang penuh binatang buas. Bila sedikit saja lengah maka serigala siap memangsanya.

Simak kisah tragis di bawah ini:

Di sebuah desa terpencil jauh dari kota tersebutlah seorang gadis kecil nan manis. Ia masih duduk di bangku SMP. Dia tinggal bersama orang tua, kakek dan neneknya. Dengan menggunakan sepeda motor kesayangannya, tiap hari dia berangkat dengan berbaju seragam ke sekolah di desa sebelah yang berjarak sekitar dua kilometer. Sorenya ia sering keluar dengan berbagai alasan pendidikan, semisal les, privat dan lainnya. Saat gadis cilik tersebut tiba di penghujung kelas tiga menunggu hari Ujian Akhir Nasional, terjadilah sebuah peristiwa yang sangat menggemparkan. Sang gadis mengeluh sakit perut. Lalu dipijitlah oleh orang tua dan neneknya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un...! keluarlah si jabang bayi laki-laki berwarna merah dari rahim si gadis cilik. Orang tua dan neneknya langsung histeris dan pingsan. Untunglah sang kakek masih bisa bertahan menguasai diri, tidak ikut pingsang sehingga langsung bisa menyusul bidan desa untuk bertandang kerumah tersebut.

Masyarakat sekitar pun sangat heran, seteledor itukah pengawasan orang tua sehingga anak gadis yang hamil besar mereka tidak mengetahuinya? (Dikutip dari Majalah Al-Mawaddah, vol 73, 1435 H)

Orang tua sebagai pengasuh dan pendidik

Kewajiban orang tua tak sekedar memenuhi kebutuhan jasmani anak namun yang tak kalah penting adalah mendidiknya dengan pemahaman agama yang sahih, mengajarkan ibadah, membina akhlaknya dan berbagai kebutuhan psikis, emosi dan sosial.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka …” (QS. At-Tahrim: 6)

Terlebih lagi ketika anak memasuki fase remaja pendidikan agama dan moral mutlak dibutuhkan agar badai dahsyat yang menghadangnya dapat dilalui dengan selamat. Bekal aqidah yang kokoh akan membentenginya dari penyimpangan dan berbagai virus negatif.

Menjauhkan dari pergaulan buruk

Remaja sangat rentan pengaruh buruk pergaulan yang salah seperti seks bebas sebagaimana tragedi gadis SMP di atas. Orang tua yang memberi kebebasan tanpa kontrol atau mereka cuek dan kurang memperhatikan anaknya bisa menjerumuskan anaknya pada dosa. Secara kejiwaan remaja masih labil dan mudah terpengaruh perangai, pemikiran dan pergaulan buruk. Sesibuk apapun orang tua, dia harus mengetahui dengan siapa dan bagaimana anaknya berteman, sehingga salah memilih teman berakibat menuai penyesalan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Seseorang berada di atas kebiasaaan teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman karibnya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 921)

Membina hubungan harmonis islami dengan anak

Orang tua yang cerdas dan bertaqwa harus memperhatikan komunikasi atau interaksi yang baik dengan anaknya. Mampu menjadi pendengar, sahabat, serta anak mendapatkan kenyamanan psikologis. Curahan cinta dan kasih sayang orang tua harus diwujudkan agar anak mengetahui betapa ia sangat mencintainya. Kedekatan emosional akan membuat anak diperhatikan, dihargai dan diayomi. Dengan kondisi rileks dan membahagiakan, niscaya terjadilah hubungan yang harmonis diantara keduanya sehingga anak akan leluasa mengungkapkan perasaannya dan persoalan yang dihadapinya dengan percaya diri. Dengan situasi kondusif ini orang tua akan lebih mudah mengarahkan anaknya. Pesan-pesan moral akan lebih mudah diterima karena otaknya memproduksi hormon-hormon kebahagiaan.

Berinteraksi dengan remaja butuh seni, jangan selalu menjadikan dan memposisikan anak sebagai tersangka. Bisa jadi keteledoran orang tua yang tak mendidik anak dengan baik sebagai penyebab kenakalan anak. Semoga Allah memudahkan kaum muslimin dalam mendidik generasi salih-salihah dan membentenginya dari pengaruh buruk fitnah akhir zaman. Amiin.

Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Majalah al-Mawaddah. Vol 73. 1436 H.

Aturan Islam Tentang Bergaul dengan Sesama (terjemah), Dr. Abdul Aziz bin Fauzan bin Shalih Al-Fauzan. Griya Ilmu, Jakarta, 2010.

Mencetak Generasi Rabbani. Ummu Ihsan & Abu Ihsan Al-Atsari, Pustaka Imam Syafi`i, Jakarta, 2015.

Sumber: https://muslimah.or.id/12097-orang-tua-ibarat-pengembala.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id