Rumah Adalah Sekolah Pertama

Rumah tentunya memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan. Dan bisa dikatakan bahwa segala sesuatu itu bermula dan berawal dari rumah. Jika pendidikan di dalam rumah berjalan dengan baik, maka ini akan menunjang keberhasilan pendidikan anak ini di luar rumah. Dan apabila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka cenderung si anak akan jatuh pada pendidikan di luar rumah yang masih belum atau tidak jelas arahnya.

Dan pengaruh pendidikan di luar rumah tersebut tentunya sangat besar. Kita tidak tahu siapa yang mewarnai anak-anak kita di luar sana. Apagi zaman sekarang, pengaruh lingkungan dan pergaulan sangat besar. Terutama bagi orang tua yang tidak stand by di rumah karena kesibukan mereka di luar (bekerja ataupun berkarir). Ini kadang-kadang menjadi ganjalan menjalankan pendidikan di dalam rumah.

Tentunya bagi suami ataupun ayah punya kewajiban keluar rumah untuk mencari nafkah atau rezeki. Tentunya ayah dan ibu saling bahu-membahu. Ibu memainkan peran yaitu menjadi guru dan madrasah (sekolah) bagi anaknya di rumah. Namun ini akan menjadi sulit jika kedua-keduanya keluar. Sehingga anak kadang-kadang dititipkan. Menitipkan anak kepada orang lain ini memiliki resiko yang sangat besar. Apalagi kepada orang yang tidak kita kenal, misalnya babysitter dan sejenisnya. Kepada orang yang kita kenal saja kita belum merasa aman sepenuhnya. Tentunya keinginan orang tua terhadap anak tidak sama seperti keinginan orang orang lain terhadap anak tersebut.

Apabila pendidikan di dalam rumah ini terbengkalai, maka bisa ditebak apa yang terjadi.

  1. Tentunya anak akan terperangkap pendidikan luar rumah yang banyak merusaknya daripada memperbaikinya, banyak negatifnya daripada positifnya.
  2. Ini akan berpengaruh kepada perkembangan si anak tersebut. Dia akan hampa ataupun kosong dari nilai-nilai kebaikan.

Maka untuk mengantisipasi kejadian perkara ini, kata kuncinya adalah jangan membuat anak tidak betah di dalam rumah. Dan apabila di rumah sendiri saja dia tidak merasa nyaman, dia pasti akan mencari pelampiasan di luar rumah. Oleh karena itu jangan kita cuek atau tidak acuh terhadap anak di rumah. Karena kadang-kadang anak itu merasa kurang diperhatikan oleh kedua orang tua. Seperti misalnya membuka komunikasi dengan anak di rumah, mengajak berkomunikasi. Karena tentu kuncinya adalah membuka komunikasi. Kalau ada komunikasi antara orang tua dan anak, tentunya ini akan sangat membantu. Ini adalah awal yang baik di dalam menanamkan satu nilai.

Maka dari itu ada waktu dimana anak harus di rumah. Karena rumah seperti tempat untuk mensterilisasi segala keburukan-keburukan atau perkara-perkara negatif yang ia dapatkan di luar. Apalagi bagi anak-anak yang masih kecil. Kadang-kadang dia dapat kamus-kamus baru itu dari luar. Dari teman-temannya di luar, dari anak tetangga, dari sekolah dan lain sebagainya. Rumah harus menjadi penyaring, sebagai filter, sebagai pembersih terhadap racun-racun yang yang dibawa oleh anak dari luar rumah.

Demikian pula anak-anak remaja, tentunya salah satu kecenderungan anak-anak remaja adalah mencari kesibukan kegiatan di luar rumah. Namun jangan sampai dia meninggalkan rumah sama sekali. Artinya dia melupakan rumahnya. Dia tetap harus ingat dan kembali ke rumahnya. Dan tentunya ini ada keterikatan antara dirinya, hatinya, jiwanya, dengan rumah. Karena apapun yang terjadi tentunya rumah adalah tempat yang paling aman bagi anak-anak kita.

Tentunya menjadikan rumah sebagai pesantren atau sekolah, ini perlu perhatian dari para orangtua. Dan pendidikan rumah itu menunjang kesuksesan pendidikan di sekolah. Rata-rata anak-anak yang berprestasi itu mereka mendapatkan pendidikan dari rumah. Dan anak-anak yang jeblok prestasinya artinya itu rata-rata mereka dibiarkan saja oleh orang tuanya di rumah. Itu dari sisi prestasi.

Dari sisi akhlak, nilai-nilai adab juga demikian. Anak-anak yang memang didesain dari rumah cenderung perbuatannya di luar itu bisa terkontrol, terkendali dan bisa diarahkan. Berbeda dengan anak-anak liar, memang di rumah juga dibiarkan, tidak ada pendidikan. Maka begitu pula tingkah lakunya di luar.

Maka kalau kita lihat anak yang datang ke masjid dan dia ikut mengerjakan kegiatan-kegiatan aktivitas di masjid seperti shalat dan ta’lim, ini kemungkinan besar memang sudah dipersiapkan dari rumah. Dan sebaliknya, kalau kita lihat anak yang lari sana lari sini, teriak-teriak, mengganggu aktivitas kegiatan yang ada di dalam masjid dan  tidak ikut terlibat apa-apa yang dilakukan orang-orang yang ada di dalam masjid, ini kemungkinan besar memang anak ini dibiarkan saja di rumah, tidak diberikan pendidikan dari rumahnya. Itu perbedaan yang mencolok antara anak-anak yang menadapatkan pendidikan di rumah dan anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan di rumah. Ini tentunya sangat menunjang sekali.

Dan pihak yang paling besar perannya di dalam bab ini adalah ibu. Tadi kita sebutkan bahwa ayah punya kewajiban mencari nafkah di luar dan ibu tentunya stand by di rumah, lebih banyak waktu untuk bersama anak-anak, mengawal pendidikan mereka, membimbing mereka, mengarahkan mereka, membentuk mental, karakter dan tabiat mereka. Maka anak itu biasanya memang dia tumbuh kembang menurut apa yang ditanamkan oleh ibu. Ibu lebih banyak memberikan saham di sini ketimbang ayah. Ini bisa dimaklumi karena kewajiban ayah sebagai kepala keluarga yang punya tugas untuk mencari nafkah di luar. Sementara ibu memang harus stand by di rumah mengurus anak-anaknya.

Keistimewaan Pendidikan Rumah

Jadi di dalam Islam, rumah ini merupakan wadah pendidikan. Karena memiliki banyak keistimewaan-keistimewaan. Di antara beberapa keistimewaan pendidikan di dalam rumah adalah:

1. Kedekatan pribadi

Anggota keluarga berkumpul bersama pada waktu yang lama sehingga terjadinya kedekatan pribadi antara anak dan orang tua, seorang anak dan saudara-saudaranya. Ini sangat penting. Agar dia punya hubungan yang baik dengan kedua orang tua dan dengan saudara-saudaranya. Sekarang ini memang ada sedikit krisis di tengah-tengah manusia hari ini. Dimana dia tidak dekat dengan keluarga. Karena mungkin jarang bertemu dengan saudaranya. Bertemu pun sekali-sekali saja, bahkan nyaris tidak bertemu. Dan ini tentunya menyebabkan tidak adanya hubungan emosional antara dia dan saudara-saudaranya. Lebih parah lagi dengan kedua orang tuanya. Hingga ke hubungan antara mereka jadi hampa, tidak ada kehangatan, tidak ada kedekatan dan keakraban.

Jadi waktu bersama itu bisa terjadi di rumah. Ketika anggota keluarga berkumpul, di situ kita bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai ilmu, hikmah dan kebijaksanaan kepada anggota keluarga. Rumah memang salah satu fungsinya adalah tempat berkumpul seluruh anggota keluarga.

2. Keteladanan dan panutan yang dapat diperagakan di rumah

Anak dapat melihat teladan dan panutan baik itu dalam ucapan dan perbuatan dari orang tua mereka. Dia tahu misalnya kejujuran, dia mengenal kelemahlembutan, dia mengenal kesabaran, karena dia lihat gambaran itu di dalam rumah. Karena rumah adalah satu wadap pendidikan yang yang kompleks. Bukanlah suatu lingkungan yang besar, apalagi rumahnya memang tidak begitu besar, jadi contoh-contoh itu bisa langsung terlihat dan dekat dengan anak sehingga mereka bisa melihat.

Kalau di luar, tentunya agak susah. Karena lingkungan luar rumah itu adalah lingkungan yang besar dan repot bagi seorang anak untuk melihat keteladanan di situ. Tapi di rumah itu adalah suatu lingkungan yang kecil, yang kompleks tadi kita bilang, yang dia bisa melihat contoh-contoh kebaikan itu secara nyata, dekat dan mudah. Ini keunggulan pendidikan di dalam rumah.

Kita bisa memberikan keteladanan dan contoh dengan lebih dekat dan lebih real lagi. Dan itu hanya bisa terjadi di pendidikan di dalam rumah.

3. Terbukanya kesempatan membimbing dan memberi pengarahan kepada anak secara langsung

Kita bisa bicara dengan anak, bisa berceramah di depan anak, kita bisa menyampaikan nasihat, yang mana mungkin di luar kita tidak bisa menyampaikannya untuk menjaga kehormatan si anak. Misalnya anak melakukan suatu kekeliruan di luar, paling kita cegah tapi kita menahan diri untuk menasihatinya di depan orang banyak. Karena itu adalah suatu cara yang salah juga. Menasihati anak yang menyebabkan jatuhnya harga dirinya. Itu tidak boleh juga kita lakukan. Maka menasihatinya itu bisa kita lakukan di dalam rumah karena privasinya lebih terjaga.

Dan kita juga lebih leluasa untuk menyampaikan nasihat, baik nasihat yang paling lembut sampai nasihat yang paling keras. Terkadang kita lihat juga ada sebagian orang tua menasehati anaknya di luar sehingga membuat anak ini jatuh mentalnya, malu dan dia merasa terhinakan. Tentunya tidak baik juga menasiehati di depan umum. Maka tentunya nasihat seperti ini bisa kita sampaikan di rumah.

Jadi ada kesempatan yang besar untuk menyampaikan bimbingan, pengarahan, peringatan, nasihat kepada anak-anak kita di rumah. Dan tidak ada salahnya jika orang tua menyampaikan nasihat secara umum maupun secara khusus. Secara umum dengan cara mengumpulkan anggota keluarganya untuk menyampaikan menyampaikan nasihat untuk semua anaknya. Atau nasihat secara khusus untuk anak-anak tertentu yang mungkin perlu nasihat secara khusus.

sumber: https://www.radiorodja.com/48464-rumah-adalah-sekolah-pertama/

Tidak Sedih Jika Anak Tidak Shalih, Namun Sedih Saat Anak Tak Raih Dunia

Beberapa orang tua begitu sedih kala anaknya tak jadi Polisi atau PNS seperti yang dicita-citakan ortunya. Ini yang penulis saksikan sendiri di tengah masyarakat. Namun … Apakah kesedihan yang sama akan ada jika anak tidak bisa membaca Al Quran, tidak bisa shalat, atau tidak paham agama?

Padahal jadi polisi atau PNS bukanlah jaminan masuk surga. Bahkan banyak ortu mencita-citakan anaknya jadi seperti itu, malah sang anak mengecewakan ortu dan itu tak sedikit.

Anak shalih, semua sudah tahu bagaimana akhirnya. Anak shalih akan bermanfaat bagi dirinya dan orang tuanya pula. Anak shalih akan terus mendoakan orang tuanya. Bahkan amalan shalihnya akan bermanfaat untuk orang tuanya, meski tidak ia niatkan untuk kirim pahala.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya yang akan selalu menemani orang beriman adalah ilmu dan kebaikannya. Setelah matinya ada ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, begitu pula anak shalih yang ia tinggalkan, juga ada di situ mushaf yang ia wariskan atau masjid yang ia bangun, atau rumah untuk ibnus sabil yang ia bangun, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan semasa hidupnya. Itu semua akan menemaninya setelah matinya.” (HR. Ibnu Majah no. 242. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Adapun sisi pendalilan bahwa amalan anak yang shalih akan bermanfaat untuk ortunya adalah dari ayat,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa’i no. 4451. Al Hafizh Abu Thahir menyataan hadits ini shahih). Ini berarti amalan dari anaknya yang shalih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

So … Anda bisa menaruh pilihan bagaimanakah anak Anda nantinya. Apakah hanya bangga jika anak raih dunia. Ketika tak raih akhirat, tidakkah sedih. Itu pilihan Anda sebagai orang tua.

Wallahu waliyyut taufiq.

Selesai disusun menjelang Maghrib, 19 Rajab 1436 H di Panggang, Gunungkidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/11011-tidak-sedih-jika-anak-tidak-shalih-namun-sedih-saat-anak-tak-raih-dunia.html

Mendidik Anak untuk Berbohong

Di antara didikan yang salah pada anak adalah mengajari mereka berbohong. Kapan orang tua mengajari seperti itu? Yaitu ketika anak “ngambek” ingin dibelikan sesuatu, lalu orang tua berkata, “Iya, mama akan belikan mainan tersebut besok Jum’at.” Ternyata itu hanya ingin membohongi anak saja supaya diam, tidak lagi nangis. Padahal ini sebenarnya didikan dari orang tua yang keliru dan anak bisa mewarisi sifat jelek seperti itu.

Berbohong dalam kondisi ini tetap terkena ancaman hadits,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut” (Syarh Muslim, 2: 47).

Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri.

Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, “Beritahu saja bapak tidak ada di rumah.” Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyyatil Abna’, hal. 243).

Semoga Allah memudahkan untuk mendidik anak-anak kita dengan mendidik mereka akhlak-akhlak yang luhur. Moga anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang sholeh, berbakti pada orang tua dan bermanfaat untuk Islam.

Referensi:

Fiqh Tarbiyatil Abna’, Syaikh Musthofa bin Al ‘Adawi, terbitan Dar Ibnu Rajab, cetakan tahun 1423 H.

Disusun menjelang siang, di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, 8 Rabi’uts Tsani 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/6376-mendidik-anak-untuk-berbohong.html

Kuncinya, Orang Tua pun Harus Sholeh

Mungkin satu hal yang sering dilupakan oleh kita. Diisyaratkan oleh orang-orang sholih terdahulu (baca : salafush sholeh) bahwa sebenarnya amalan orang tua juga bisa berpengaruh pada kesholehan anaknya. Orang tua yang sholeh akan memberi kemanfaatan kepada anaknya di dunia bahkan tentu saja di akhirat. Sebaliknya, orang tua yang gemar berbuat maksiat akan memberi pengaruh jelek dalam mendidik anak.

Oleh karena itu, hendaklah orang tua yang menginginkan kesholehan pada anaknya untuk giat melakukan amal sholih yang di dalamnya terdapat keikhlasan dan senantiasa mengikuti contoh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah Dua Anak Yatim

Alangkah baiknya kita memperhatikan kisah Musa dan Khidz ini dengan seksama. Semoga kita bisa menggali pelajaran berharga di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman ,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al Kahfi : 82)

Suatu saat Nabi Musa dan Khidr –‘alaihimas salam- melewati suatu perkampungan. Lalu mereka meminta kepada penduduk di kampung tersebut makanan dan meminta untuk dijamu layaknya tamu. Namu penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka. Lalu mereka berdua menjumpai dinding yang miring (roboh) di kampung tersebut. Khidr ingin memperbaikinya. Kemudian Musa berkata pada Khidr,

لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” (QS. Al Kahfi: 77).

Namun apa kata Khidr? Khidr berkata,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al Kahfi : 82)

Lihatlah …! Allah Ta’ala telah menjaga harta dan simpanan anak yatim ini, karena apa? Allah berfirman (yang artinya), “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” Ayahnya memberikan simpanan kepada anaknya ini, tentu saja bukan dari yang haram. Ayahnya telah mengumpulkan harta untuk anaknya dari yang halal, sehingga karena kesholehannya ini Allah juga senantiasa menjaga anak keturunannya. Bukankah begitu?!

Hendaknya Orang Tua Senantiasa Memperhatikan yang Halal dan Haram

Oleh karena itu, hiasilah diri dengan amal sholeh bukan dengan berbuat maksiat. Carilah nafkah dari yang halal bukan dari yang haram. Perbaguslah makanan, minuman, dan pakaianmu hingga engkau menengadahkan tanganmu untuk berdo’a pada Allah dengan tangan yang suci, hati yang bersih, maka niscaya jika engkau melakukan amal sholeh semacam ini, Allah akan senantiasa mengabulkan permintaanmu ketika engkau berdo’a untuk kesholehan anakmu. Tentu dengan demikian Allah akan memperbaiki dan membuat sholeh dan memberkahi mereka. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma’idah : 27) ?!

Cobalah kita renungkan, bagaimana mungkin do’a kita bisa diijabahi sedangkan hasil usaha, makan dan minum yang kita peroleh berasal dari perbuatan menipu orang lain, korupsi, dan perbuatan maksiat lainnya atau mungkin dengan berbuat syirik?! Tidakkah kita merenungkan, bagaimana do’a kita bisa diijabahi sedangkan pakaian kita saja berasal dari yang haram?!

Sebaik-Baik Teladan adalah Salafush Sholeh Terdahulu

Lihatlah saudaraku –para ayah dan ibu- perkataan orang sholeh terdahulu (baca : salafush sholeh) ini. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita untuk senantiasa beramal sholeh.

Sebagian mereka berkata, “YA BUNAYYA LA’AZIDUNNA FI SHOLATI MIN AJLIKA [Wahai anakku, sungguh aku menambah shalatku karena untukmu].”

Sebagian ulama mengatakan, “Maksudnya adalah aku memperbanyak shalat dan memperbanyak do’a kepadamu -wahai anakku- dalam setiap shalatku.”

Jika orang tua senantiasa merutinkan mentadaburi kitabullah, membaca surat Al Baqoroh, dan Surat Al Falaq-An Naas (Al Maw’idzatain), atau amalan lainnya, niscaya malaikat akan turun di rumah mereka tersebut karena sebab dihidupkannya bacaan kitab suci Al Qur’an, bahkan setan pun akan kabur dari rumah yang senantiasa dirutinkan amalan semacam ini. Tidak diragukan lagi bahwasanya turunnya malaikat akan menghadirkan ketenangan dan mendatangkan rahmat. Hal ini sudah barang tentu akan memberi pengaruh yang baik pada anak dan mereka niscaya akan mendapat keselamatan. Adapun hal ini sampai dilalaikan oleh orang tua, maka akan berakibat sebaliknya. Setan malah akan senang menghampiri rumah tersebut karena rumah semacam ini tidak dihidupkan dengan dzikir pada Allah. Malah rumah ini dihiasi dengan berbagai gambar makhluk bernyawa, music dan hal-hal yang terlarang lainnya.

Marilah kita selaku orang tua mengintrospeksi diri. Hiasilah hari-hari kita dengan gemar mentadaburi kitabullah. Hiasilah rumah kita dengan lantunan ayat suci Al Qur’an. Hiasilah hari-hari kita dengan puasa sunnah, shalat sunnah, shalat malam dan amalan taat lainnya. Jauhilah berbagai macam maksiat dan perbuatan-perbuatan terlarang yang memasuki rumah kita.

Semoga Allah senantiasa memberkahi pendengaran, penglihatan, istri dan anak-anak kita.

***

Pogung Kidul, 5 Dzulqo’dah 1429

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/16-kuncinya-orang-tua-pun-harus-sholeh.html

Anak Akan Selalu Mencontoh Perbuatan Orang Tuanya

Sebagaimana yang telah kami jelaskan pada postingan sebelumnya bahwa orang tua yang sholeh akan membuat anaknya menjadi sholeh. Sampe-sampe sebagian ulama salaf mengatakan,

Wahai anakku, sungguh aku menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi sholeh).

Sekarang kami akan meneruskan pembahasan kemarin yang merupakan faedah dari kitab Fiqh Tarbiyah Al-Abna, karya Syaikh Musthofa Al Adawi.

Coba Kita Renungkan

Wahai para ayah dan ibu …

Renungkanlah!

Apakah sama antara anak yang melihat orang tuanya rutin berdzikir dengan bacaan tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir dengan orang tua yang malah tersibukkan dengan urusan dunia sehingga lalai mengingat Allah?!

Apakah sama antara anak yang melihat ortunya bersedekah secara sembunyi-sembunyi dengan anak yang sering melihat ayahnya menghaburkan duit untuk membeli minuman keras?!

Semoga ini bisa menjadi wejangan bagi kita orang tua yang menginginkan anak kita menjadi sholeh …

Anak yang sering melihat ortunya gemar puasa senin-kamis, rajin menghadiri shalat jamaah di masjid, pasti berbeda dengan anak yang sering melihat ayahnya di depan TV atau bioskop.

Kita akan melihat anak yang sering memperhatikan ayahnya melantunkan adzan, pasti anak ini akan sering mengulang-ngulang ucapan adzan tersebut. Begitu pula jika seorang ayah sering melantunkan nyanyian, pasti anaknya yang sering memperhatikan hal itu akan sering pula bersenandung.

Begitu pula jika seseorang sering mendoakan orang tuanya, meminta ampunan untuk keduanya. Seringnya dia berdoa : ROBBIGFIRLI WALI WALIDAYYA (Wahai Robbku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku).

Atau juga dia sering menziarahi kubur orang tuanya, memperbanyak shodaqoh untuk keduanya, menjalin tali silaturahim dengan orang-orang yang dekat dengan ortunya. Jika anak dari orang ini melihat bahwa ayahnya sangat berbakti sekali pada ortunya, maka dengan izin Allah, anak tersebut akan mencontoh akhlaq yang baik ini.

Begitu pula seorang anak yang selalu diajari shalat oleh orang tuanya pasti berbeda dengan anak yang dibiarkan menonton film atau mendengarkan musik.

Begitu pula anak yang selalu melihat ortunya melakukan shalat malam, rela menjauhkan lambungnya dari kasur yang empuk, lebih memilih berdiri dan menghadap Allah dengan harap-cemas, berharap meraih surga Allah dan takut pada adzab-Nya. Mungkin anaknya akan sedikit bertanya, Pak, kenapa menangis? Kenapa bapak harus shalat dan rela meninggalkan kasur yang empuk? Ini mungkin beberapa pertanyaan yang muncul pada benaknya lalu dia akan selalu memikirkan hal ini, dan dengan izin Allah, pasti dia akan meneladani semacam ini.

Begitu pula dengan anak putri yang selalu melihat ibunya menutup aurat dari pria, penuh dengan rasa malu, selalu menjaga kehormatan. Putrinya pasti akan mencontoh sifat yang mulia ini. Hal ini berbeda dengan seorang ibu yang sering membuka-buka aurat, berpakaian setengah telanjang dan ketat, sering bersalaman dengan lawan jenis, sering campur baur dengan mereka, anaknya juga pasti akan meneladani tingkah laku ibu semacam ini.

Oleh karena itu, senantiasalah kita selaku ayah dan ibu untuk bertakwa pada Allah demi kebaikan anak-anak kita. Hendaklah kita selalu memberi contoh yang baik pada mereka. Berilah teladan pada anak-anak kita dengan akhlak yang mulia, sifat yang indah.

Hendaklah orang tua selalu berpegang teguh dengan agama ini, berpegang teguh dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah memberkahi anak dan keturunan kita.

Referensi:

Fiqh Tarbiyah Al-Abna, Syaikh Musthofa Al Adawi, hlm. 29-30, Penerbit Dar Ibnu Rajab.

Disusun di saat Allah menurunkan hujan di malam hari, 9 Dzulqodah 1429, di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/4-anak-akan-selalu-mencontoh-perbuatan-orang-tuanya.html

Ajaklah Anak-Anakmu Mengerjakan Shalat

Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ سُنَّتَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

Ayyuhal mukminun,

Ketauhilah! Di antara perintah Allah Ta’ala yang paling besar adalah mengerjakan shalat lima waktu. Karena itu, kerjakan, tegakkan, dan jaga. Karena Allah telah memerintahkannya. Sebagaimana firman-Nya,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [Quran Al-Baqarah: 238].

Kedudukan shalat di sisi Allah sangatlah agung, tinggi, dan mulia. Shalat adalah amal pertama yang akan dihisab. Di hari yang tak lagi bermanfaat harta dan anak keturunan.

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [Quran Asy-Syu’ara: 88-89].

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sesungguhnya perkara pertama kali yang dihisab pada hari kiamat dari amal seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi.” (HR. Tirmidzi no. 413, An-Nasa’i no. 466, shahih).

Waspadalah! Jangan sampai Anda termasuk orang-orang yang menyesal dan rugi.

Ibadallah,

Termasuk juga yang akan dihisab pada hari kiamat adalah bagaimana perhatian kita terhadap shalat istri dan anak kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى

“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” [Quran Thaha: 130].

Setelah Allah memerintahkan untuk mengingat-Nya ini, Allah berfirman di ayat berikutnya,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” [Quran Thaha: 132].

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita tidak hanya memperhatikan shalat kita. tapi juga memperhatikan shalat istri dan anak-anak kita. Bahkan Allah katakan benar-benarlah bersabar dalam pendidikan shalat ini.

Dalam Surat Maryam, Allah Ta’ala memuji Nabi Ismail ‘alaihissalam,

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا * وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرْضِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” [Quran Maryam: 54-55].

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjadikan Nabi Ismail ‘alaihissalam teladan yang layak untuk diceritakan. Alasannya, karena sifat dan karakternya. Seperti apa sifat tersebut? Allah sebutkan adalah seorang yang menepati janji. Seorang rasul dan nabi. Beliau memerintahkan keluarganya untuk mengerjaka shalat dan zakat. Dengan karakter inilah ia mendapat keridhaan Allah.

Ayyuhal mukminun,

Seperti inilah hendaknya seorang yang bertakwa dan beriman. Mereka memerintahkan anak-anak mereka untuk mengerjakan shalat. Lihatlah juga Lukman al-hakim. Ia berkata pada anaknya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ

“Hai anakku, dirikanlah shalat.” [Quran Lukman: 17]

Perintah shalat ini diucapkan oleh Lukman setelah ia memerintahkan anaknya dengan perintah yang paling mulia. Yaitu menauhidkan Allah. Setelah menanamkan pondasi pada dirinya, barulah Lukman berkata pada anaknya,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

“Ajaklah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Quran Lukman: 17]

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk memperhatikan shalat anak kita sejak usia dini. Sebagaimana sebuah hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

( مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ ) صححه الألباني في صحيح أبي داود .

“Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan shalat saat mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka saat mereka berusia sepuluh tahun. Pisahkan tempat tidur di antara mereka.” [HR. Abu Daud].

Di sini kita melihat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan tahapan dalam memerintah anak. Saat mereka berusia tujuh tahun, mereka diajak dan dimotivasi untuk mengerjakan shalat. saat mereka berusia sepuluh tahun, baru diberi hukuman kalau tidak memperhatikan. Tidak serius. Bahkan sampai meninggalkan.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشْكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اِشْمِلْنَا بِرَحْمَتِكَ وَاعْفُوْ عَنْ تَقْصِيْرِنَا وَقُصُوْرِنَا, أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَاكِرِيْنَ لَهُ الحَمْدُ فِي الأُوْلَى وَالآخِرَةِ، وَلَهُ الحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ سُنَّتَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ:

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala yang Dia larang. Karena dengan itulah seseorang akan sukses dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.

Ibadallah,

Mengajak dan memerintahkan shalat kepada anak dan anggota keluarga adalah sifat para nabi. Seperti kekasih Allah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berdoa kepada Allah:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” [Quran Ibrahim: 40]

Beliau seorang yang dekat kepada Allah, seorang yang shalih, namun beliau masih meminta tolong kepada Allah agar mampu mendidik dan memerintahkan anak keturunannya untuk mengerjakan shalat. Dan termasuk hak anak-anak adalah mengajarkan mereka kebaikan.

Selain mendoakan anak-anak, kita juga perlu memperhatikan ucapan kita. Saat malam hari, banyak orang tua berkata kepada anaknya yang masih kecil, “Tidur, Nak! Jangan malem-malem. Nanti sekolah besok kesiangan.” Jarang sekali ada orang tua yang mengatakan, “Tidur, Nak! Jangan malem-malem. Nanti shalat subuhnya kesiangan.” Akhirnya si anak ini sampai ia besar, terekam di pikirannya, bahwa sekolah lebih penting dari shalat. Dan masuk kantor tepat waktu lebih penting dari shalat tepat waktu. Masuk kantor jangan sampai telat dan kesiangan. Kalau shalat tidak mengapa. Ia lebih takut pada sekolahnya, pada kantornya tempat mencari nafkah, dibanding kepada Allah yang memberinya rezeki.

Ibadallah,

Selain itu, memerintahkan anak shalat juga dapat mendatangkan rezeki. Karena dalam perintah shalat biasanya Allah kaitkan dengan rezeki. Allah Ta’ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” [Quran Thaha: 132]

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك، أعنا على القيام بحقك، أعنا على أمر أنفسنا وأهلينا بكل خير واصرفها عن كل سوء وشر واحفظنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن، اللهم اجعلنا من أوليائك وحزبك وفقنا إلى ما تحب وترضى وأحسن عاقبتنا وخاتمتنا في الأمور كلها، أرنا في أنفسنا وأهلينا وذريتنا وأحبابنا ما نحب يا ذا الجلال والإكرام، أعذنا من كل سوء وشر يا رب العالمين.

اللهم آمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا رب العالمين، اللهم وفق ولي أمرنا خادم الحرمين الشريفين وولي عهده إلى ما تحب وترضى، خذ بنواصيهم إلى كل بر واصرف عنهم كل شر، سددهم في الأقوال والأعمال، واجعل لهم من لدنك في الحق سلطانًا نصيرًا يا ذا الجلال والإكرام.

اللهم آمنا في أوطاننا وأعذنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن، واصرف عنا كل سوء وشر، ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين، ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلًا للذين آمنوا، واغفر لنا وارحمنا إنك أنت الغفور الرحيم، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Oleh tim KhotbahJumat.com

sumber: https://khotbahjumat.com/5735-ajaklah-anak-anakmu-mengerjakan-shalat.html

Orang Tua Wajib Bersikap Adil terhadap Semua Anaknya

Yang dimaksud dengan anak dalam pembahasan ini mencakup anak lelaki dan wanita. Hak anak sangatlah banyak. Yang terpenting adalah tarbiyah (memberikan pendidikan), yaitu mengembangkan agama dan akhlak mereka sehingga hal itu menjadi bagian terbesar dalam kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluarga kalian dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Salah satu hak anak adalah tidak mengistimewakan salah satu di antara mereka dibandingkan saudaranya yang lain, dalam hal pemberian dan hibah. Tidak boleh memberikan sesuatu kepada salah seorang anaknya sedangkan dia tidak memberikan kepada anaknya yang lain. Hal tersebut termasuk perbuatan curang dan zalim, padahal Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Perbuatan semacan itu akan menyebabkan kekecewaan anak yang tidak diberi dan menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan terkadang permusuhan terjadi antara anak yang tidak diberi dengan orang tua mereka.

Di dalam Shahihain (kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim), terdapat riwayat dari Nu’man bin Basyir, bahwa bapaknya (yakni Basyir bin Sa’ad) telah memberikan kepadanya seorang budak sahaya. Kemudian ia memberitahukan itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepada Basyir, “Apakah seluruh anakmu engkau berikan sama seperti ini?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalikanlah!”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil kepada anak-anak kalian.”

Dalam lafal lain disebutkan, “Carilah saksi orang lain, karena aku tidak mau menjadi saksi atas perbuatan curang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sikap melebihkan salah satu anak dalam hal pemberian dengan istilah “perbuatan curang”. Perbuatan curang adalah kezaliman dan hukumnya haram.

Bila terjadi kondisi ketika orang tua perlu memberikan suatu barang yang dibutuhkan oleh seorang anak, namun orang tua tersebut tidak memberikan kepada anak yang lain karena anak tersebut tidak membutuhkannya — misalnya salah seorang anak membutuhkan alat tulis, berobat, atau menikah — maka dalam kasus seperti ini hukumnya tidak mengapa mengistimewakan salah seorang anak atas anaknya yang lain, karena hal ini sesuai dengan kebutuhan sehingga hukumnya sama seperti memberi nafkah.

***

Catatan kaki:

Disarikan dari buku “10 Hak dalam Islam” (terjemahan), karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerbit Pustaka Al-Minhaj.

Sumber: https://muslimah.or.id/7417-orang-tua-wajib-bersikap-adil-terhadap-semua-anaknya.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Setiap Anak Punya Masanya: Didiklah Anak Sesuai Usianya

Di antara hal yang perlu diperhatikan ketika mendidik anak adalah memperlakukan seorang anak sesuai dengan umurnya. Ketika kita ingin mendidik anak, tentunya tidak mungkin memperlakukan semua anak sama. Kita juga tidak bisa selalu memperlakukan hal yang sama pada seorang anak secara terus-menerus. Anak pasti berubah seiring dengan bertambahnya umur. Maka dari itu, perlakuan kita pada anak juga selayaknya berubah dan memperlakukan mereka sesuai dengan umur mereka.

Memperlakukan anak sesuai dengan umurnya juga dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda,

مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika mereka berumur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Lalu, apa saja masa-masa usia anak yang kita perlu perlakukan mereka berbeda antara satu dan lainnya? Dalam kitab Kaifa Turrabbi Abna’aka, di sebutkan bahwa salah satu kaidah utama untuk mendidik anak adalah memperlakukan mereka sesua dengan umur mereka. Bermain bersama mereka selama 7 tahun, ajari adab selama 7 tahun, dan bersahabatlah selama 7 tahun.

Dari kitab tersebut, kita bisa simpulkan secara umum ada 3 masa yang perlu kita ketauhi tentang anak, yaitu:

Pertama, masa bermain dan kasih sayang pada umur 0-7 tahun.

Kedua, masa pedidikan dan pembentukan adab pada umur 7-14 tahun.

Ketiga, masa pendampingan dan bersahabat pada umur 14-21 tahun.

Masa bermain dan kasih sayang (0-7 tahun)

Pada masa awal, yaitu pada umur 0-7 tahun, anak-anak lebih perlu terhadap bermain dan diberi kasih sayang. Hal ini sebagaimana contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis, beliau memerintahkan kita untuk mencium anak kecil,

قَبَّلَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ الحَسَنَ بنَ عَلِيٍّ وعِنْدَهُ الأقْرَعُ بنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا، فَقَالَ الأقْرَعُ: إنَّ لي عَشَرَةً مِنَ الوَلَدِ ما قَبَّلْتُ منهمْ أحَدًا، فَنَظَرَ إلَيْهِ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَن لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihí wa sallam pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sedangkan di sisi beliau ada Al-Aqrabin Habis At-Tamimi. Al-Aqra berkata, “Aku punya sepuluh anak, tetapi belum pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memandangnya, lalu bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain memberi kasih sayang, pada usia ini juga anak-anak perlu untuk bermain. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan anak-anak untuk bermain ketika beliau salat di masjid. Dalam sebuah hadis di sebutkan,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami di dalam salah satu salat Isya’, ia membawa Hasan atau Husain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke depan dan meletakkan Hasan dan Husain, beliau bertakbir untuk salat, lalu mengerjakan salat. Saat salat, beliau sujud yang lama, maka ayahku berkata, ‘Lalu aku mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud.’ Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat, orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat salat engkau memperlama sujud, hingga kami mengira bahwa ada sesuatu yang telah terjadi atau ada wahyu yang diturunkan kepadamu?’ Beliau menjawab, ‘Bukan karena semua itu, tetapi cucuku menjadikanku sebagai kendaraan, maka aku tidak mau membuatnya terburu-buru hingga ia selesai dari bermainnya.”

Dari hadis di atas, kita perhatikan bahwa Rasulullah membiarkan cucu-cucu beliau untuk menjadikan beliau sebagai kendaraan ketika beliau sujud dan beliau membiarkan mereka. Hal tersebut karena itu merupakan tabiat mereka yang pada usia kecil butuh bermain.

Masa pendidikan dan pembentukan adab (7-14 tahun)

Masa selanjutnya pada anak-anak adalah masa pendidikan dan pembentukan adab. Pada usia sebelumnya, anak-anak lebih banyak bermain dan diberikan kasih sayang. Akan tetapi, pada usia ini -yaitu pada usia 7 hingga 14 tahun- anak-anak mulai perlu diberikan pendidikannya. Hal tersebut sebagaimana dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika mereka berumur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dari hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa pada masa ini, kita perlu mulai mendidik anak-anak kita setelah pada masa sebelumnya mereka lebih banyak bermain. Pada masa ini, kita perlu untuk memberikan pengajaran yang baik pada mereka.

Kesalahan yang sering dijumpai pada orang tua adalah, terkadang mereka hanya memberikan kebutuhan anak-anak berupa pakaian dan makanan, akan tetapi lupa untuk memberikan nutrisi akalnya dengan pendidikan agar berkembang pola pikirnya dan juga untuk membuat baik akhlaknya.

Perlu diketahui, sebagaimana Allah ciptakan anak-anak dengan fisik yang berbeda-beda: ada yang tinggi, pendek, berkulit putih, berkulit agak gelap dan semisalnya; Allah juga ciptakan anak-anak dengan akhlak dan sifat yang berbeda-beda: ada yang lembut, ada yang pemarah, ada yang cerdas, dan ada yang kurang cerdas.

Akan tetapi perlu diketahui, bentuk fisik tidak bisa kita ubah, tapi akhlak bisa kita bentuk agar memiliki akhlak dan sifat yang baik. Pada usia inilah, kita berusaha untuk mendidik dan mengajarkan adab yang baik pada anak-anak kita.

Masa pendampingan (14-21 tahun)

Pada masa ini, anak sudah mulai beranjak dewasa. Ia mulai untuk mencari jati dirinya sendiri. Kedua orang tua pada masa ini sebaiknya bisa mendampingi dan menjadi sahabat mereka. Mereka harus bisa mendengarkan pendapat mereka dan juga menghormati pemikiran dan pendapat mereka. Orang tua juga harus mulai bersabar dengan perubahan sikap mereka dan juga ketika mereka malah berusaha menjauh.

Pada masa ini, orang tua harus bisa mendampingi anak dengan benar dan menjadi sahabat bagi mereka. Jika tidak, mereka bisa memberontak dan juga bisa terpapar pada pergaulan-pergaulan yang tidak baik.

Kunci sukses mendidik anak pada masa ini adalah suksesnya pendidikan anak pada dua masa sebelumnya. Banyak orang tua yang heran, mengapa anaknya pada usia ini berubah menjadi nakal. Ternyata banyak di antara mereka yang tidak memperlakukan anak dengan baik pada dua masa sebelumnya.

Di antara mereka ada yang memperlakukan anaknya terlalu keras dan juga sebaliknya, ada yang terlalu memanjakan anaknya sehingga bisa merusak dan terlalaikan dari pendidikan yang benar dan bermanfaat. Ketika anak tidak dibangun di atas dasar yang benar dan terukur, lalu menghadapi gelombang masa remaja yang penuh dengan gejolak, hawa nafsu, kekaguman diri, dan euforia, ia tidak akan mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya, serta akan sulit untuk dinasihati dan diubah tabiat maupun perilakunya. Maka benarlah perkataan orang yang mengatakan, “Didiklah anak-anak kalian sejak kecil, niscaya mata kalian akan bahagia karena mereka ketika telah dewasa.”

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Kaifa Turabbi Abna’aka, karya Syekh Ahmad bin Nashir At-Thayyar.

Sumber: https://muslimah.or.id/31470-setiap-anak-punya-masanya-didiklah-anak-sesuai-usianya.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Tidak Memanjakan Anak

Sebelum membahasnya, kita perlu mengetahui perbedaan antara memanjakan dan mencintai anak. Dikhawatirkan akan muncul persepsi bahwa mencintai sama dengan memanjakan, padahal keduanya berbeda.

Mencintai anak adalah fitrah. Setiap orang tua, baik ayah maupun ibu, pasti cinta kepada anaknya. Justru aneh jika ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Selain fitrah, mencintai anak juga merupakan perintah agama. Ketika orang tua menyayangi anak, berarti mereka sedang menjalankan ajaran agama.

Terdapat sebuah hadiTs yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang kejadian di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dituturkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk bersama para sahabat, dan di pangkuan beliau ada salah satu cucunya yaitu Al-Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saat itu, Rasulullah mencium Al-Hasan sebagai tanda kasih sayang. Kebetulan, ada seorang sahabat bernama Al-Aqra’ bin Habis yang melihat hal tersebut. Al-Aqra’ ingin menunjukkan kesan “gentle” atau “jantan” dengan menyatakan bahwa ia tidak pernah mencium sepuluh anaknya, seolah-olah menunjukkan bahwa tindakan tersebut kurang “jantan.”

Mendengar ucapan Al-Aqra’, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ

“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan baik-baik: “Barang siapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” Dalam kasus hadits yang kita bahas, maknanya adalah barang siapa tidak menyayangi anak, maka dia tidak akan disayangi oleh Allah. Jadi, jika ingin disayangi oleh Allah, salah satu caranya adalah menyayangi anak. Termasuk juga dalam hal ini, suami harus menyayangi istri, dan istri harus menyayangi suami, agar mereka disayangi oleh Allah.

Mencintai anak adalah perintah dalam agama kita, tetapi—dan ini penting—cinta kepada anak tidak boleh berlebihan. Kenapa? Meskipun anak tersebut adalah anak semata wayang (anak satu-satunya) yang mungkin telah dinanti selama bertahun-tahun. Misalnya, setelah menikah selama 20 tahun tanpa anak, kemudian pada tahun ke-21 lahirlah seorang anak, dan setelah itu tidak ada lagi anak.

Bagaimanapun, kasih sayang manusia, termasuk kepada anak, tidak boleh berlebihan. Contoh berlebihan dalam menyayangi anak adalah terlalu memanjakan. Memanjakan anak dapat membawa dampak buruk yang banyak.

Jangan pernah berpikir bahwa memanjakan anak adalah untuk kebaikannya. Justru, jika orang tua terlalu memanjakan anak, akan muncul dampak buruk, bukan kebaikan. Misalnya, anak akan menjadi susah mandiri karena terbiasa dilayani dalam segala hal.

Contohnya, ada anak yang setiap pagi baju sekolahnya harus disiapkan oleh orang tuanya, padahal anak tersebut sudah kuliah. Kita tidak sedang membicarakan anak bayi, karena tentu saja bayi tidak bisa disuruh mengambil baju sendiri. Dapak buruk lainnya adalah akan gampang menyerah karena terlalu dimanja. Terlalu sering orang tua turun tangan dan tidak membiarkan anak menghadapi masalahnya sendiri. Akibatnya, anak menjadi kurang mandiri. Seorang ahli pendidikan, seorang profesor, pernah menulis tentang dampak memanjakan anak. Setelah menjelaskan fenomena orang tua yang terlalu melindungi anaknya, beliau mengatakan, “Coba lihat anak-anak di pesantren. Mereka belajar mandiri, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka mengurus diri sendiri, membersihkan diri, bahkan di beberapa pondok, mereka memasak sendiri.”

Belajar mandiri ini dimulai sejak tamat SD, di mana anak-anak pesantren belajar jauh dari orang tua. Alhamdulillah, manfaatnya dapat dirasakan hingga sekarang.

Terlalu memanjakan anak memiliki banyak dampak buruk. Salah satunya adalah anak menjadi sulit mengembangkan kemampuannya. Banyak orang tua yang terlalu khawatir ketika anak mencoba sesuatu, padahal hal itu tidak melanggar aturan agama. Segala sesuatu dilarang, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Akibatnya, potensi anak untuk berkembang terhambat. Mereka tidak bisa menjadi lebih kreatif atau lebih cerdas, karena segala hal dibatasi. Kasih sayang yang berlebihan dari orang tua justru dapat membatasi perkembangan anak.

Ciri Orang Tua Memanjakan Anak

Di antara ciri yang menunjukkan bahwa orang tua sudah masuk ke level memanjakan anak, bukan sekadar mencintainya, adalah sebagai berikut:

Orang tua yang memanjakan anak adalah mereka yang menuruti apapun permintaan anak. Jadi, saya mengatakan bahwa ciri memanjakan anak adalah menuruti apapun permintaan anak, bukan hanya menuruti permintaan anak. Apakah ini sama atau beda? Beda. Yang tidak baik adalah menuruti apapun permintaan anak, karena tidak setiap permintaan anak itu baik.

Anak kecil, karena akalnya belum sempurna, sering kali meminta sesuatu hanya karena melihat temannya memiliki barang tersebut. Contoh yang paling mudah adalah anak yang belum sekolah, tapi sudah meminta handphone. Apakah permintaan itu baik? Apakah kita harus menuruti permintaannya? Jawabannya jelas tidak.

Memberikan apapun yang diminta anak hingga pada level di mana permintaan tersebut bisa merusak dirinya bukanlah tindakan yang tepat. Misalnya, hanya karena anak minta sepeda motor, padahal usianya masih sangat muda dan belum pantas untuk mengendarainya. Sayangnya, orang tua kadang tetap menuruti permintaan anak, meski tahu itu tidak baik.

Ada juga kasus di mana orang tua sebenarnya tidak mampu menuruti permintaan anak, tapi demi kasih sayang, mereka tetap melakukannya. Walaupun harus menjual barang atau berhutang, orang tua tetap memenuhinya. Ini adalah contoh nyata dari memanjakan anak.

Jadi, bagaimana cara menyikapi permintaan anak? Orang tua yang bijaksana adalah yang menyeleksi setiap permintaan anak. Caranya, lihat apakah permintaan itu melanggar ajaran agama atau tidak. Jika melanggar, maka tidak perlu dituruti.

sumber: https://www.radiorodja.com/54453-tidak-memanjakan-anak/

Menanamkan Akhlak Untuk Buah Hati

Menanamkan Akhlak Untuk Buah Hati

Menanamkan Akhlak – Anak adalah buah hati setiap orang tua, dambaan disetiap keinginan orang tua serta penyejuk hati bagi keletihan jiwa orang tua. Anak tidak lahir begitu saja, anak terlahir dari buah cinta sepasang hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan amanat wajib untuk dijaga, diasuh dan dirawat dengan baik oleh orangtua.

Karena setiap amanat akan dimintai pertanggungjawaban sebagaimana hadist sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Umar yang berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga dan akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya dan akan dimintai tanggungjawabnya serta pembantu adalah penanggungjawab atas harta benda majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pertanggung jawaban orang tua tersebut baik di dunia ataupun di akherat, namun tatkala anak sudah baligh maka mereka bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Salah satu contoh dari pertanggung jawaban tersebut adalah dengan memelihara diri dan keluarga dari api neraka:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Dan hal ini dapat diwujudkan dengan memberi menanamkan akhlak untuk buah hati dengan pendidikan yang baik sesuai Al Qur’an dan As sunnah sebagai bekal perjalanan di dunia maupun di akherat. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu“Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang tanggungjawabmu, apakah sudah kamu ajari anakmu, apakah sudah kamu didik anakmu dan kamu akan ditanya kebaikanmu kepadanya dan ketaatan anakmu kepadamu.”

Pendidikan tersebut banyak cabangnya satu diantaranya adalah pendidikan akhlak, akhlak anak yang baik dapat menyenangkan hati orang lain baik orangtua atau orang-orang di lingkungan. Bahkan akhlak yang sesederhana sekalipun misalnya memberikan wajah berseri saat bertemu dengan saudara muslim yang lain.

Disamping ikhtiar dengan pendidikan akhlak yang bagus hendaknya orangtua selalu mendo’akan anak-anaknya agar mereka tumbuh dengan naungan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala pula. Karena doa orangtua atas anaknya termasuk doa yang mustajab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan, doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian dan doa orangtua atas anaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam Shohih dan Dho’if Sunan Abu Daud hadist no. 1536)

Sebagaimana para nabi dan rosul dahulu yang selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak cucu mereka.

Do’a Nabi Zakaria ‘alaihissalam sebagaimana firman Allah:

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

Doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimussalam“Ya Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anakcucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. Al Baqoroh: 128)

Sungguh islam adalah agama yang sempurna hingga pendidikan anakpun diperhatikan dengan serius. Namun sangat disayangkan orangtua zaman sekarang jarang memperhatikan pendidikan akhlak bagi buah hatinya lantaran kesibukan mereka atau kejahilan (ketidakmengertian) mereka. Prinsip yang mereka pegang adalah Membahagiakan anak. Namun kebahagiaan yang semacam apa yang ingin diwujudkan oleh sebagian para orangtua tersebut?! Ada yang berpendapat bahagia tatkala anaknya bisa mendapatkan sekolah yang favorit dan menjadi bintang kelas, orang yang berpendapat seperti ini maka akan menggebu-gebu untuk mencarikan tempat les dimana-mana, hingga lupa menyisakan waktu untuk mengenalkan islam kepadanya. Adalagi pendapat bahwa kebahagiaan adalah tatkala si anak tidak kekurangan apapun didunia, orangtua tipe ini akan berambisi untuk mencari materi dan materi untuk memuaskan si anak tanpa disertai pendidikan akhlak bagaimana cara mengatur serta memanfaatkan harta yang baik. Dan ada pula sebagian yang lain bahwa kebahagiaan adalah buah dari keimanan kepada Allah dengan bentuk ketenangan dalam hati; bersabar tatkala mendapat musibah dan bersyukur tatkala mendapatkan nikmat. Namun jarang ditemukan orangtua yang sependapat dengan tipe ketiga ini. Kebanyakan diantara mereka sependapat dengan tipe 1 dan 2. Dan tatkala mereka tiada, mereka akan berlomba-lomba untuk mewasiatkan harta ini dan itu, padahal telah dicontohkan oleh lukman mengenai wasiat yang terbaik. Bukan sekedar harta atau perhiasan dunia melainkan sesuatu hal yang lebih berharga dari keduanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui lisan lukman:

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’ Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah yang bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata), ‘Hai anakku sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau dilangit atau didalam bumi niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjaln dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.’” (QS. Luqman: 13-19)

Tatkala anak tumbuh menjadi anak pembangkang, suka membantah kepada orangtua bahkan durhaka kepada orangtua, banyak diantara orangtua yang menyalahkan si anak, salah bergaullah, tidak bermorallah atau alasan-alasan yang lain. Bukan… bukan lantaran karena anak salah bergaul saja, si anak menjadi seperti itu namun hendaknya orangtua mawas diri terhadap pendidikan akhlak si anak. Sudahkah dibina sejak kecil? Sudahkah dia diajari untuk memilih lingkungan yang baik? Sudahkah dia tahu cara berbakti kepada orangtua? Atau sudahkah si anak tahu bagaimana beretika dalam kehidupan sehari-hari dari bangun tidur hingga tidur kembali? Jika jawabannya belum, maka pantaslah jika orangtua menuai dari buah yang telah mereka tanam sendiri. Seperti perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah,

“Hendaknya anak dijauhkan dari berlebihan dalam makanan, berbicara, tidur dan berbaur dengan perbuatan dosa, sebab kerugian akan didapat dari hal-hal itu dan menjadi penyebab hilangnya kebaikan dunia dan akhirat. Anak harus dijauhkan dari bahaya syahwat perut dan kemaluan sebab jika anak sudah dipengaruhi oleh kotoran syahwat maka akan rusak dan hancur. Berapa anak tercinta menjadi rusak akibat keteledoran dalam pendidikan dan pembinaan bahkan orangtua membantu mereka terjerat dalam syahwat dengan anggapan hal itu sebagai ungkapan perhatian dan rasa kasih sayang kepada anak padahal sejatinya telah menghinakan dan membinasakan anak sehingga orangtua tidak mengambil manfaat daria anak dan tidak meraih keuntungan dari anak baik didunia maupun diakhirat. Apabila engkau perhatikan dengan seksama maka kebanyakan anak rusak berpangkal dari orangtua.”

Mungkin saat si anak masih kecil belum akan terasa dampak dari arti pentingnya akhlak bagi orangtua namun saat dewasa kelak maka akan sangat terasa bahkan sangat menyakitkan bagi kedua orangtua. Dan perlu ditekankan bahwa akhlak yang baik dari seorang anak adalah harta yang lebih berharga daripada sekedar harta yang kini sedang para orangtua obsesikan.

Sebelum terlambat mulailah saat ini menanamkan akhlak tersebut, dari hal yang sederhana:

1. Dengan memberi contoh mengucapkan salam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Dan maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

2. Memperhatikan etika dalam makan.

Dari umar bin Abu Salamah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku,

“Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang paling dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Mengajarkan rasa kebersamaan dengan saudara muslim yang lain, misalnya dengan menjenguk orang sakit.

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menghadiri undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaqun ‘alaihi)

4. Mengajarkan kejujuran.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Peganglah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan menunjukan kepada surga. Seseorang selalu jujur dan memelihara kejujuran hingga tercatat di sisi Allah termasuk orang yang jujur. Dan hindarilah dusta karena kedustaan menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang selalu berdusta dan terbiasa berbuat dusta hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)

Akhlak yang baik dari seorang anak akan melahirkan generasi yang baik pula, generasi pemuda yang taat kepada Allah, berbakti kepada kedua orangtua dan memperhatikan hak-hak bagi saudara muslim yang lain. Wallohu a’lam bishowab.

Maraji’:
Begini Seharusnya Mendidik Anak -Panduan Mendidik Anak Sejak Masa Kandungan Hingga Dewasa-, karya Al Maghribi bin As Said Al Maghribi

***

Penyusun: Ummu Aufa
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.

Sumber: https://muslimah.or.id/46-menanamkan-akhlak-untuk-buah-hati.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id