Teks Khotbah Jumat: Menghadapi Musibah dan Cobaan dengan Kesabaran
Khotbah pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى
فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Akhir-akhir ini, kita mendengar banyaknya saudara kita di Indonesia yang tertimpa musibah dan bencana. Dari banjir yang datang tiba-tiba, tanah longsor, cuaca ekstrim, dan yang terkini adalah gempa bumi yang terjadi berulang kali dan mengakibatkan banyaknya korban jiwa serta kerugian materi.
Sungguh cobaan dan ujian sudah menjadi sunatullah dalam kehidupan dunia ini. Tidak ada satu pun dari makhluk Allah, kecuali pasti akan merasakan dan menghadapi ujian, cobaan, dan bencana, baik mereka itu adalah hamba-hamba yang taat maupun hamba-hamba yang senang bermaksiat. Al-Qur’an telah mengingatkan kita akan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
Allah Ta’ala juga berfirman,
لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ
“Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu.” (QS. Al-Imran: 186)
Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kebahagiaan.
Allah Ta’ala juga menjelaskan bahwa pada asalnya fitrah kehidupan manusia adalah perjuangan dan susah payah,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Hasan Al-Basri rahimahullah mengatakan, “Harus bisa bersyukur saat mendapatkan kemudahan serta kelapangan dan harus bersabar saat ditimpa kesulitan, karena dia (manusia) tak akan lepas dari keduanya (kondisi lapang dan kesulitan).” (Tafsir Al-Qurtubi, 20: 62)
Oleh karena itu, jemaah Jumat sekalian.
Kehidupan dunia ini bukanlah surga yang penuh kenikmatan, akan tetapi sejatinya adalah tempat ujian dan beramal. Siapa yang mengetahui dengan yakin hakikatnya, maka ia tidak akan kaget dan terkejut dengan bencana dan ujian yang menimpanya.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,
أنَّ العَوَارِض والمِحَن هِيَ كالحَرِّ والبَرْدِ، فإِذا عَلِمَ العَبْدُ أَنَّهُ لابُدَّ مِنْهُمَا لَمْ يَغْضَبْ لِوُرُودِهِمَا، ولَمْ يَغْتَمَّ لذلك ولَمْ يَحْزَنْ
“Rasa susah dan kesengsaraan itu seperti panas dan dingin. Jika seorang hamba menyadari bahwa keduanya pasti terjadi, dia tidak akan marah ketika itu terjadi, tidak tertekan karenanya, serta tidak pula bersedih.” (Ibnul Qayyim menyampaikan hal ini dalam kitabnya Madariju As-Saalikiin, 3: 361)
Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan karunia dan kemudahan dari Allah Ta’ala,
Sungguh, kunci kesuksesan di dalam menghadapi ujian dan musibah adalah kesabaran. Pada lanjutan ayat,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Allah Ta’ala berfirman,
وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ * اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ * اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Hanya saja, untuk mencapai derajat kesabaran ini pastilah tidak mudah. Syariat Islam telah memberikan beberapa pondasi keyakinan yang akan menguatkan bangunan kesabaran pada diri kita.
Rida dan menerima atas setiap takdir dan ketentuan Allah Ta’ala
Beriman terhadap takdir membuahkan ketentraman hati dan ketenangan pada seorang hamba dan membuahkan kesabaran dalam setiap ujian yang menimpanya.
Dengan keimanan tersebut, seorang mukmin menjadi yakin bahwa apa yang menimpanya, maka itu telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala dan tidak akan meleset darinya. Dan apa yang tidak ditakdirkan Allah Ta’ala untuknya, maka tidak akan terjadi. Allah Ta’ala menegaskan hal ini di banyak ayat dalam kitab-Nya,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya.” (QS. Al-Baqarah: 22)
Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.“ (QS. At-Tagabun: 11)
Menghadirkan dan membangkitkan kesadaran diri akan keagungan pahala bersabar
Jemaah yang berbahagia, ayat-ayat yang menjelaskan keutamaan bersabar sangatlah banyak jumlahnya. Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia akan selalu bersama orang-orang yang sabar, membantu, menolong, dan memperhatikan mereka yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa orang-orang yang bersabar mendapatkan hak untuk masuk ke dalam surga, bahkan para malaikat memberikan salam dan ucapan selamat kepada mereka di saat memasukinya. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ * جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ * سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ
“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga-surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka, alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 22-24)
Keutamaan bersabar ini juga banyak disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis-hadisnya. Bahkan, kesabaran merupakan karunia terbesar yang diberikan kepada seseorang. Karena balasannya tak terhingga dan tak terbatas. Di antaranya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari no. 1469)
أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.
Khotbah kedua
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.
Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Faktor ketiga yang akan menguatkan pondasi kesabaran kita saat menghadapi musibah dan ujian adalah:
Berbaik sangka kepada Allah Ta’ala
Meyakini dengan kuat akan janji Allah Ta’ala perihal luasnya kebaikan dan rahmat-Nya. Yakin bahwa setelah rasa sempit pasti akan ada kelapangan dan setelah kesulitan ada kemudahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ * اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. AS-Syarh: 5-6)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah berkata kepada sepupunya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu,
واعلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبرِ، وأنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وأنَّ معَ العُسْرِ يُسرًا
“Ketahuilah, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesukaran itu ada kemudahan.” (HR. Ahmad no. 2804, Thabrani 11/ 123 no. 11243 dan Al-Hakim no. 6304)
Jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Kunci kesabaran yang terakhir adalah,
Tidak tergesa-gesa di dalam meminta terkabulnya doa-doa kita saat musibah menimpa
Tentu kita semua pernah mendengar kisah Nabi Yakub ‘alaihissalam, bertahan puluhan tahun di atas cobaan yang menimpanya, tanpa sedetik pun pupus dan hilang harapannya untuk bertemu anaknya kembali. Bahkan, saat anak kesayangannya yang lain, Benyamin pergi darinya, apa yang beliau ucapkan?
فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَنِيْ بِهِمْ جَمِيْعًاۗ
“Maka, (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku.” (QS. Yusuf: 83)
Semoga Allah Ta’ala mengangkat semua musibah yang menimpa kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Mengganti kerugian yang ada dengan pahala dan rezeki yang berlipat.
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ, وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ, وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ, وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari beralihnya keselamatan (yang merupakan anugerah)-Mu, dari datangnya siksa-Mu (bencana) secara mendadak, dan dari semua kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim no. 2739)
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa beriman dengan takdir dan keputusan-Mu, bersabar atas setiap musibah dan kesulitan yang sedang menimpa kami, dan bersyukur atas semua limpahan nikmat-Mu kepada kami.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
***
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Sumber: https://muslim.or.id/81386-teks-khotbah-jumat-menghadapi-musibah-dan-cobaan-dengan-kesabaran.html
Belajarlah Mencintai Karena Allah
Jika engkau mencintai istrimu karena Allah -selain karena pesona paras wajahnya- niscaya kecintaanmu akan lebih langgeng, meskipun usia istrimu semakin bertambah.. niscaya engkau lebih menerima kekurangan yang ada pada istrimu.. niscaya engkau lebih mudah menjaga pandangan matamu..
Jika engkau mencintai sahabatmu karena Allah.. niscaya engkau tetap baik kepadanya karena berharap wajah Allah meskipun ia kurang bersikap baik kepadamu. Karena persahabatanmu bukan dibangun di atas hubungan timbal balik antara engkau dengannya, akan tetapi karena mengharapkan kecintaan Allah padamu.
Penulis,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى
#carousel





Hikmah Di Balik Musibah
HIKMAH DI BALIK MUSIBAH
Musibah. Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah kepada manusia. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya.
Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang dirundung dan didera dengan berbagai musibah, mulai dari gelombang tsunami, lumpur lapindo, flu burung, busung lapar, gizi buruk, harga melonjak ditambah seabreg permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi, akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.
Sesungguhnya di balik musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya, diantara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:
1. Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ
“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [asy Syura/42: 30]
Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” [HR. Bukhari]
Dalam hadits lain beliau bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”
Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”
2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.
Itu merupakan balasan dari musibah yang diderita oleh seorang hamba sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” [HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan].
3. Sebagai parameter kesabaran seorang hamba.
Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.
Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”
Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”
4. Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah.
Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman,
وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”
Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa,
وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. [Al-Anbiyaa/21:83]
5. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.
6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap,dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?
7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.
Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata, sehingga ia mengadu: “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk keluar dari bencana ini kecuali hanya kepada-Mu.” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.
8. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ
”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” [HR al Bukhari].
Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.
9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.
Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sem-purna. Hal ini dikarenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut, maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut. Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, ”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, “Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)
10. Dengan adanya musibah seseorang akan mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan ‘afiyah
Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah, diharapkan agar ia bisa betapa mahalnya nikmat yang selama ini ia terima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat musibah yang sedang diterimanya dengan keridhaan dan kesabaran serta berserah diri kepada Allah Dzat yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabarannya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat.” [Al-Jawabul Kafi hal. 118]
Oleh karena itulah marilah kita kembali kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah– yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.
Refrensi : Min fawaidil maradh – Darul Wathan
[Disalin dari فوائد المصيبة Penulis Fariq bin Qaasim Anuz, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]
sumber: https://almanhaj.or.id/35441-hikmah-di-balik-musibah.html
Rumah Tangga Sakinah: Pondasi Terwujudnya Negeri yang Aman dan Makmur
Hidup di negeri yang aman dan makmur merupakan dambaan setiap insan. Terwujudnya bukanlah sesuatu yang mustahil, bahkan ia dapat tercipta dengan menghidupkan nilai-nilai keimanan serta ketakwaan di tengah-tengah masyarakat. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Gambaran sebuah negeri yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya,
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba: 15)
Keluarga memainkan peranan penting dalam terbentuknya masyarakat yang menegakkan iman dan takwa. Keluarga merupakan pondasi serta pilar utama dalam menanamkan nilai-nilai agama yang luhur. Maka, rumah sebagai tumpuan keluarga perlu dibangun di atas sakinah (ketentraman). Dengan demikian, keberadaan negeri yang aman dan makmur pun dapat terealisasi. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kiat membangun rumah tangga sakinah
Menyadari nikmat pernikahan
Pernikahan adalah fitrah yang Allah tetapkan bagi manusia, yang membalut dua insan dengan kasih sayang dan cinta, sehingga jiwa pun menjadi nyaman, tenang, dan tenteram. Di dalamnya terpancar tanda-tanda kebesaran Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Akan tetapi, tabiat manusia seringkali lalai mensyukuri hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan dan menyertainya sehari-hari. Sebagaimana dikatakan di dalam sebuah syair,
الإنسان لا يعرف قدر النعمة إلا عند فقدها
“Manusia tidak akan menyadari kadar suatu nikmat, kecuali ketika ia kehilangan nikmat tersebut.”
Maka, nikmat pernikahan patut dijaga kelanggengannya dengan rasa syukur. Nikmat itu dipupuk dengan mengingat-ingat kebaikan dan kelebihan pasangan, serta tidak membanding-bandingkannya dengan orang lain.
Ingatlah bahwa suami adalah pakaian bagi istri dan istri pun adalah pakaian bagi suami. Keduanya saling melengkapi, menjaga, menutupi, dan menghiasi satu sama lain. Allah Ta’ala berfirman,
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
“Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu (para suami), dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Membangun rumah tangga di atas agama Allah
Salah satu cara mensyukuri nikmat pernikahan adalah dengan membangunnya di atas agama Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Bertakwalah kepada Allah, agar kamu bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran: 123)
Sebagaimana tujuan dari pernikahan adalah menyempurnakan agama, maka wajib bagi muslim dan muslimah untuk membina rumah tangga mereka di atas agama Allah, dengan menjalankan perkara yang diperintahkan dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang. Hal ini berdasarkan firman Allah,
ٱلطَّلَٰقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌۢ بِإِحْسَٰنٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُوا۟ مِمَّآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْـًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا ٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)
Pernikahan merupakan ibadah terpanjang dalam kehidupan seorang insan. Dan ibadah bagi seorang muslim haruslah dibangun di atas bashirah atau ilmu.
Ilmu akan menjaga bangunan rumah tangga dari kehancuran, pertentangan, dan perselisihan. Bahkan, ilmu akan menambah rasa cinta, kemesraan, dan kasih sayang antar suami istri. Ilmu mendatangkan sakinah, mawadah, dan rahmat dalam kehidupan rumah tangga. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman,
إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘raf: 56)
Dengan ilmu, suami dan istri akan saling bahu membahu menegakkan ketaatan kepada Allah, saling menganjurkan kepada hal-hal yang baik dalam urusan dunia maupun akhirat serta saling mengingatkan dan menjauhkan dari hal-hal buruk yang mendatangkan kemarahan dan kemurkaan Allah Jalla wa ‘Ala. Seperti kondisi yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
رحم اللهُ رجلًا قام من الليلِ فصلَّى وأيقظ امرأتَه، فإن أبَتْ نضح في وجهِها الماءَ. رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها، فإن أبى نضحت في وجهه الماءَ
“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu dia salat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri tidak bangun, maka ia memercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu ia salat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami tidak bangun, maka ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Ahmad no. 7404 dan An-Nasa’i no. 1610)
Memberikan perhatian terhadap pendidikan anak
Musuh-musuh Islam mengetahui bahwa jalan untuk menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin dimulai dengan menjauhkan para pemuda dari agama. Karena para pemuda, dalam konteks ini ‘anak-anak’ adalah simbol masa depan. Merekalah penerima estafet dalam tegaknya negeri yang aman dan makmur.
Hal ini merupakan peringatan keras bagi orang tua muslim untuk menjaga anak-anak mereka, terutama di era digital saat ini, agar tetap berada dan tumbuh di atas agama Allah. Karena banyaknya pengintai dan perusak yang siap menyesatkan mereka kapan saja dan di mana saja. Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At- Tahrim: 6)
Sufyan Ats-Tsauri berkata dari Manshur, dari seseorang, dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah di atas,
أدبوهم ، علموهم
“Ajarkan mereka adab, ajarkan mereka ilmu agama.”
‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas mengomentari ayat di atas,
اعملوا بطاعة الله ، واتقوا معاصي الله ، ومروا أهليكم بالذكر ، ينجيكم الله من النار
“Beramalah dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah dan waspadalah dari bermaksiat kepada Allah, serta perintahkanlah keluarga kalian untuk berzikir mengingat Allah. Maka Allah pasti akan membebaskan kalian dari neraka.”
Mujahid berkata,
اتقوا الله ، وأوصوا أهليكم بتقوى الله
“Bertakwalah kepada Allah dan wasiatkan keluarga kalian untuk bertakwa kepada Allah.”
Qatadah berkata,
يأمرهم بطاعة الله، وينهاهم عن معصية الله، وأن يقوم عليهم بأمر الله، ويأمرهم به ويساعدهم عليه، فإذا رأيت لله معصية، قدعتهم عنها وزجرتهم عنها
“Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan larang mereka dari bermaksiat kepada Allah. Tegakkan urusan Allah atas mereka. Perintahkan mereka dengan perintah Allah dan bantulah mereka untuk melaksanakannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka laranglah mereka darinya dan tegurlah mereka dengan keras agar meninggalkannya.”
Adh-Dhahak dan Muqatil berkata,
حق على المسلم أن يعلم أهله، من قرابته وإمائه وعبيده، ما فرض الله عليهم، وما نهاهم الله عنه
“Wajib bagi seorang muslim untuk mengajarkan keluarganya, baik kerabat dan para budaknya, tentang perkara yang Allah wajibkan atas mereka dan perkara yang Allah larang.” (Tafsir Al–Qur’an Al–‘Azhim, 8/167)
Setiap orang tua seharusnya menyadari bahwa anak adalah sebuah amanah dari Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,
يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوْلَٰدِكُمْ
“Allah mewasiatkan kepada kalian anak-anak kalian..” (QS. An-Nisa: 11)
Dan sebagai bentuk menjalankan amanah, orang tua haruslah memberikan perhatian dan kesungguhan dalam merawat, mendidik, serta mengajari anak-anaknya. Baik suami maupun istri memiliki peran yang penting dalam hal ini. Masing-masing sepatutnya berperan aktif dalam tumbuh kembang dan tarbiyah buah hati mereka. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum,
كُلُّكُم راعٍ ومَسؤولٌ عن رَعيَّتِه؛ فالإمامُ راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه، والرَّجُلُ في أهلِه راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه، والمَرأةُ في بَيتِ زَوجِها راعيةٌ وهي مَسؤولةٌ عن رَعيَّتِها، والخادِمُ في مالِ سَيِّدِه راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas rumah tangganya. Dan seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya.” (HR. Bukhari no. 2409)
Iringi setiap ikhtiar dalam mendidik anak dengan memperbanyak doa kepada Allah. Karena sejatinya hidayah berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Hendaknya para orang tua yang menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tidak lalai untuk memanjatkan doa berikut pada waktu-waktu yang mustajab,
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al- Furqan: 74)
Demikian yang dapat penulis sampaikan dalam pembahasan kali ini. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufik-Nya.
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar. (2011). Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim [Cet. ke-2]. Riyadh: Dar Taybah li An Nasyr wa At Tawzi’.
Kadang kita harus belajar menerima sesuatu yang tidak berjalan sesuai ekspetasi #shorts
Keutamaan Berdoa Sebelum Berhubungan Suami Istri
Dari ‘Ibnu Abbaas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin mengumpuli istrinya, ia membaca do’a:
Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rizki[1] yang Engkau anugerahkan kepada kami. Kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.”[2]
Hadist yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca dzikir/doa ini sebelum berhubungan suami istri, karena selain mendapat pahala dari Allah Azza wa Jalla ini merupakan sebab selamatnya seorang bayi dari bahaya dan keburukan setan.[3]
Faidah Penting dalam Hadits
Iblis dan bala tentaranya selalu berusaha menanamkan benih-benih keburukan kepada manusia sejak baru lahir dan sebelum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, apalagi setelah dia mengenal semua godaan tersebut.[4] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.”[5]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya, ‘Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam)’.”[6]
Agungnya petunjuk Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mensyariatkan dzikir dan doa untuk kebaikan agama manusia dan perlindungan dari keburukan tipu daya setan.
Arti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “… setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”; setan tidak akan bisa menyesatkan dan mencelakakan anak tersebut dalam diri dan agamanya, tapi bukan berarti ini menunjukkan bahwa anak tersebut terlindungi dan terjaga dari perbuatan dosa.[7]
Termasuk keburukan yang terjadi akibat tidak menyebut nama Allah Azza wa Jalla sebelum berhubungan intim adalah ikut sertanya setan dalam hubungan intim tersebut, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ibnu Hajar, asy-Syaukani dan as-Sa’di[8]. Na’udzu billah min dzalik.
Imam Ibnu Hajar Rahimahullah dan al-Munawi Rahimahullah menjelaskan bahwa dzikir dan doa ini diucapkan ketika hendak berhubungan suami-istri dan bukan ketika sudah dimulai hubungan intim.[9]
Anjuran membaca dzikir dan doa ini pula berlaku bagi pasangan suami-istri yang diperkirakan secara medis tidak punya keturunan, karena permohonan dalam doa atau dikir ini bersifat umum dan tidak terbatas pada keturunan atau anak saja.[10] (Disusun oleh Abdullah bin Taslim al-Buthoni)
————————–
Disalin ulang oleh Eva Nurhidayati dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVI 1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta.
Artikel http://www.muslimah.or.id
[1] Termasuk anak dan lainnya, lihat kitab Faidhul Qadir, 5/306.
[2] HSR. al-Bukhari, no. 6025 dan Muslim, no. 1434.
[3] Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam Syarhu Shahih Muslim, 5/10 dan 13/185.
[4] Lihat kitab Ahkamul Maulud fis Sunnatil Muthahharah, hlm.23.
[5] HSR. Muslim, no. 2367.
[6] HSR. Muslim, no. 2865.
[7] Lihat kitab Fathul Bari, 9/229 dan Faidhul Qadir (5/306).
[8] Lihat kitab Fathul Bari, 9/229; Faidhul Qadir 3/346 dan Tafsir as-Sa’di, hlm.461.
[9] Lihat kitab Fathul Bari, 9/228 dan Faidhul Qadir, 5/306.
[10] Lihat kitab Faidhul Qadir, 5/306.
Sumber: https://muslimah.or.id/9107-keutamaan-berdoa-sebelum-berhubungan-suami-istri.html
Banyak Konflik Di Rumah? Ini Nasihat Nabi ﷺ #video ~7
1 Hari Akhirat = 1000 Tahun di Dunia
Satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ
“Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Diterangkan dalam Tuhfatul Ahwadzi sebagai berikut.
Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan,
وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47). Oleh karenanya, setengah hari di akhirat sama dengan 500 tahun di dunia.
Adapun firman Allah Ta’ala,
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun” (QS. Al Ma’arij: 4). Ayat ini menunjukkan pengkhususan dari maksud umum yang sebelumnya disebutkan atau dipahami bahwa waktu tersebut begitu lama bagi orang-orang kafir. Itulah kesulitan yang dihadapi orang-orang kafir,
فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (8) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (9) عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ (10)
“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.” (QS. Al Mudatsir: 8-10).
Semoga bermanfaat.
Referensi:
Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ At Tirmidzi, Al Imam Al Hafizh Abul ‘Ula muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.
—
Selesai disusun 01: 53 PM di Darush Sholihin, 28 Jumadal Ula 1436 H
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/10564-1-hari-akhirat-1000-tahun-di-dunia.html







