Istikamah hingga Wafat: Disambut Malaikat dan Dijanjikan Surga

Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:

وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)

وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .

Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:

{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}

“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)

فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.

Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:

“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”

Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.

فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،

Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.

Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho.

Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:

أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْ

mereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan.

Istikamah Bukan Sekadar Ucapan

Al-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Kemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas.

Para Sahabat Memaknai Istikamah

Kemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Maka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”

Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”

Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”

Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya.

Ayat Paling Lapang Bagi Manusia

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”

Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.”

Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama

Az-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:

اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.

“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.

Catatan:

Rubah dijadikan perumpamaan karena:

  • Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutar
  • Gerakannya diam-diam dan penuh tipu daya
  • Tujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawan

Maka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.

Secara maknawi:

  • Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariat
  • Tidak mencari-cari alasan untuk menyimpang
  • Tidak taat hanya ketika mudah

Jadi inti perumpamaan ini:

  • Istikamah = lurus, tegas, konsisten
  • Roghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsisten

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.

Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ

Allāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”

Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya.

Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.

Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut.

Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira

Adapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).

Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.’”

Kabar Gembira di Tiga Momen Agung

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

Lalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”

Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi.

Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga

Allah Ta’ala berfirman,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:

Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”

تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.

Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.

  • Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,
  • mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,
  • memberi rasa aman pada hari kebangkitan,
  • membantu kalian melewati jembatan shirath, dan
  • mengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”

Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.

Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan.

Amalkan doa ini,

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

ALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.

Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1]

[1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24)

Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701

—-

Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/41998-istikamah-hingga-wafat-disambut-malaikat-dan-dijanjikan-surga.html

Larangan Mencabut Uban (Syariat dan Medis)

Kami teringat perkataan orang terdahulu mengenai filosofi uban:

“Jangan dicabut nak, itu peringatan agar kalian mulai meninggalkan dunia hitam baik banyak maupun sedikit”

Ternyata  dalam syariat ada larangan mencabut uban dan dari sisi medis dianjurkan agara mencabut uban jangan menjadi kebiasaan karena berpengaruh terhadap kesehatan.

Telah disebutkan juga dalam Al-Quran bahwa uban adalah fase kehidupan yang akan dilewati oleh manusia. Dan bisa jadi uban adalah salah satu bentuk peringatan bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan sebentar lagi akan menghadap Allah, agar segera berbenah menyiapkan bekal akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Larangan Mencabut Uban dalam Islam

Hal ini berlaku baik orang tua maupun yang masih muda karena keumuman berbagai dalil.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan larangan mencabut uban. Baik sudah tua maupun masih muda. Di antaranya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة

Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim), maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.”[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ نُورًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ فَإِنَّ رِجَالًا يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ

Barangsiapa memiliki sehelai uban di jalan Allah (dia muslim), maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Siapa saja yang mau, silahkan dia hilangkan cahayanya (baginya di hari kiamat).”[2]

Anjuran Medis Agar Tidak Mencabut Uban

Secara medisuban tidak bisa diobati, karena banyak yang mengambil jalan pintas agar mencabutnya. Kebiasaan mencabut uban bisa berdampak negatif bagi kesehatan. Yaitu bisa membuat kerusakan pada folikel rambut dan saraf sekitar rambut, dapat juga menyebabkan infeksi pada bekas cabutan. Apalagi uban yang dicabut dalam jumlah yang cukup banyak dan sering.

Selain itu serignnya mencabut uban akan menggangu pertumbuhan rambut. Dari jumlah rambut akan berkurang sedikit demi sedikit. Kebiasaan mencabut juga akan mengganggu sinyal saraf yang
memproduksi warna rambut sehingga pertumbuhan dan warna rambut akanterganggu. Karena jumlah rambut terus berkurang dan uban bisa jadi tetap jumlahnya.

Hukum Mencabut Uban

Hukum mencabut uban di rambut adalah makruh sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah,

” يُكْرَهُ نَتْفُ الشَّيْبِ ، لِحَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ بِأَسَانِيدَ

Dimakruhkan mencabut uban, sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat.”[3]

Akan tetapi perlu dirinci hukumnya, karena uban yang dilarang dicabut yaitu uban yang ada di wajah juga meliputi jenggot, jambang dan kumis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لعن الله الربا و آكله و موكله و كاتبه و شاهده و هم يعلمون و الواصلة و المستوصلة و الواشمة و المستوشمة و النامصة و المتنمصة

Allah melaknat riba, pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkannya (nasabah), orang yang mencatatnya (sekretaris) dan yang menjadi saksi dalam keadaan mereka mengetahui (bahwa itu riba). Allah juga melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambut, orang yang mentato dan yang meminta ditato, begitu pula orang yang mencabut rambut pada wajah dan yang meminta dicabut.”[4]

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

نهى عن نتف الشيب : أي الشعر الأبيض من اللحية أو الرأس

“Larangan memcabut uban yaitu rambut putih pada jenggot (jambang) dan rambut kepala.”[5]

Haram Mencabut Uban pada Jenggot

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya:

: ما حكم نتف الشيب من الرأس واللحية ؟

Apa Hukum mencabut uban pada rambut kepala dan jenggot?

Beliau menjawab:

فأجاب: أما من اللحية أو شعر الوجه فإنه حرام؛ لأن هذا من النمص، فإن النمص نتف شعر الوجه واللحية منه ، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لعن النامصة والمتنمصة…أما إذا كان النتف من شعر الرأس فلا يصل إلى درجة التحريم لأنه ليس من النمص” انتهى

“Adapun pada jenggot atau rambut pada wajah, maka hukumnya haram karena termasuk dalam “Namsh” (mencabut yang dilarang). Karena terdapat hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan meminta dicabutkan.

Adapun mencabut uban pada rambut kepala maka tidak sampai pada derajat haram karena tidak termasuk Namsh.”[6]

Demikian semoga bermanfaat

@Perpustakaan FK UGM,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter[1]HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 2985. Sanad hadis dinilai hasan oleh Syu’aib Al-Arnauth[2] HR. Ahmad 23952, Hadis ini dihasankan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah, 3371[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab 1/344[4] Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih[5] Tuhfatul Ahwadzi 7/238[6] Majmu’ Fatawa 11/123

sumber: https://muslimafiyah.com/larangan-mencabut-uban-syariat-dan-medis.html

Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan

Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama

Hadits 1/1033

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)

Keterangan lafaz:

  • الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.
  • التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.

Kosakata hadits:

  • النِّدَاء: azan.
  • العَتَمَة: shalat Isya.

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan shaf pertama.
  2. Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.
  3. Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.
  4. Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.
  5. Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.
  6. Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).
  7. Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya.

Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat

Hadits 2/1034

عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.

Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387)

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.
  2. Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.
  3. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi.

Referensi:

  • Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  • Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—–

Kamis, 16 Dzulqa’dah 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42071-keutamaan-azan-dan-jawabannya-amalan-ringan-berpahala-besar.html

Penghibur Hati Bagi Orang Miskin  

PENGHIBUR HATI BAGI ORANG MISKIN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya diantara hikmah yang tersimpan dalam ilmu yang ada disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah menjadikan diantara para hamba -Nya bertingkat status sosialnya, ada yang miskin ada pula yang kaya, dan tentunya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kekayaan bagi siapa yang dikehendaki begitu pula menjadikan orang menjadi miskinpun atas kehendak-Nya. Sebagaimana yang Allah azza wa jalla jelaskan melalui firman -Nya:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ [ الزخرف: 32]

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat”. [az-Zukhruf/43: 32].

Demikian pula Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan dalam ayat yang lain:

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ [ الأنبياء: 35]

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”. [al-Anbiyaa’/21: 35].

Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, “Maksudnya kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, yakni dengan kesulitan hidup serta kelapangan, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, mendapat petunjuk dan tersesat”. Maka ini merupakan kesempurnaan hikmah serta rahmat yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para makhluk -Nya, kalau seandainya manusia pada satu status, semuanya dijadikan kaya niscaya mereka semua akan berbuat lalim dimuka bumi ini. seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla tegaskan dalam firman -Nya:

وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ [ الشورى: 27]

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran”. [asy-Syuura/42: 27].

Fadhilah Orang Miskin

  1. Orang-orang fakir adalah manusia terdepan yang akan memasuki surga.
    Sebagaimana disebutkan hal tersebut dalam sebuah hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr bi al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هَلْ تَدْرُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ. قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ تُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى بِهِمْ الْمَكَارِهُ وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ لَهَا قَضَاءً » [أخرجه أحمد]

“Tahukah kalian siapa manusia terdepan yang akan masuk ke dalam surga dari kalangan makhluk? Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul –Nya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan, “Orang terdepan yang akan memasuki surga dari makhluk Allah ialah orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu orang-orang yang terhalangi mulutnya dari makanan (sulit makan), penuh dengan kesulitan hidup, dan orang yang meninggal diantara kalian sedang keinginannya hanya sampai didada tidak sampai terlaksana”. [HR Ahmad 11/131 no: 6570.]

Dan dijelaskan dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ » [أخرجه الترمذي]

“Orang-orang fakir akan memasuki surga terlebih dahulu sebelum orang kaya dengan jeda setengah hari yang hitungannya sama dengan lima ratus tahun“. [HR at-Tirmidzi no: 2353. Beliau berkata, “Hadits hasan shahih”].

  1. Penduduk surga terbanyak adalah orang fakir.
    Seperti diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Imran radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Aku menengok ke dalam surga maka aku dapati kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, lalu aku melongok ke dalam nereka maka aku jumpai kebanyakannya adalah para wanita“. [HR Bukhari no: 5198. Muslim no: 2737].

  1. Kebanyakan pengikut para nabi dan rasul adalah orang-orang fakir.
    Seperti diterangkan dalam potongan hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan dalam penggalan hadits tersebut: “Bahwa Heraklius, pembesar Romawi bertanya pada Abu Sufyan tentang siapakah yang paling banyak sebagai pengikut Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah yang mengikutinya dari kalangan orang kaya atau justru orang-orang lemahnya? Abu Sufyan menjawab, “Justru yang mengikutinya adalah orang-orang fakir dikalangan mereka”. Heraklius mengatakan, “Demikianlah yang menjadi pengikut kebanyakan para Rasul”. [HR Bukhari no: 7].
  2. Begitu pula Allah ta’ala menyuruh NabiNya Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk bergaul bersama orang-orang papa dan lemah, dan menyuruh untuk tinggal bersama mereka. Karena bisa menjadikan dirinya jauh dari gemerlapnya dunia serta fitnahnya.
    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami pernah bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama enam sahabat lainnya. Lalu orang-orang kafir berkata, “Keluarkan mereka dari majelis jangan biarkan mereka mendekati kami! Beliau melanjutkan, “Dan yang bersamaku pada saat itu adalah Ibnu Mas’ud, dan seseorang dari Hudzail, Bilal, dan dua orang lagi yang aku lupa namanya. Mendengar ucapan tersebut, masuk bisikan dalam hati Rasulalalh Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki, yaitu untuk menuruti kemauan mereka. Maka Allah azza wa jalla menegurnya dengan menurunkan ayat:


وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥ [ الأنعام: 52]

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan–Nya”. (al-An’aam/6: 52). [HR Muslim no: 2413].

Dan betul Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam merealisasikan perintah Rabbnya, dengan dibuktikan dalam bentuk untaian do’anya yang berbunyi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهمَّ أَحيِني مِسكينًا، وأَمِتْني مِسكينًا، واحشُرني في زُمرةِ المساكينِ يومَ القيامَةِ » [أخرجه الترمذي]

“Ya Allah, wafatkan diriku dalam keadaan miskin, dan hidupkan diriku dalam keadaan miskin, serta bangkitkan diriku bersama kalangan orang-orang miskin kelak pada hari kiamat“. [HR at-Tirmidzi no: 2352. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/275 no: 1917].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya diuji dengan kelaparan lantas mereka bersabar hingga akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kecukupan pada mereka.
    Dikisahkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sungguh diriku pernah menyaksikan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam satu hari kelaparan, karena tidak satu butir kurma pun yang bisa dimakan walaupun yang paling jelek sekalipun”. [HR Muslim no: 2978.]

Sahl bin Hunaif mengkisahkan, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kebiasan beliau ialah senang mengunjungi orang fakir dikalangan para sahabatnya, menengok mereka, serta menjenguk yang sedang sakit, dan menyolati jenazah mereka”. [HR al-Hakim 3/270 no: 2787. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahihul jami’ no: 4877].

Dalam sebuah riwayat dijelaskan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Tidaklah keluarga Muhammad pernah merasakan kenyang dari roti dan gandum, selama dua hari berturut-turut sampai beliau wafat Shalallahu ‘alaihi wa sallam“. [HR Bukhari no: 5374. Muslim no: 2970].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan tentang firman -Nya Allah tabaraka wa ta’ala:

وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ [ الضحى: 8]

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. [adh-Dhuha/93: 8]

Artinya engkau dahulu dalam keadaan fakir punya banyak keluarga kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla beri kamu kecukupan melebihi yang lain. Maka terkumpul dalam pribadi Rasulallah Shhalallahu ‘alaihi wa sallam dua kemuliaan yakni orang fakir yang bersabar dan orang berkecukupan yang bersyukur”. [1]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebuah hadits dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami pernah dalam kesulitan hidup dan beban ujian yang sangat berat, sampai kiranya kami mengisap kulit dan biji kurma untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 3159].

Sedang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, mengkisahkan, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Dirinya, sungguh diriku pernah jatuh tersungkur disebabkan menahan lapar, dan aku pernah mengganjal perutku dengan batu untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 6452].

Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kami pernah berangkat perang bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan ketika itu tidak ada makanan yang bisa kami makan kecuali dedaunan, sampai kiranya kami bagaikan onta atau kambing (yang memakan dedaunan), tidak ada campuran lainnya”. Para ulama menjelaskan, “Maksudnya kering tidak ada campuran apa-apa”. [HR Bukhari no: 3728. Muslim no: 2966].

  1. Bisa jadi orang fakir rendah dimata lingkungannya namun disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla kedudukannya mulia.
    Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Sahl as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لَا يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لَا يُشَفَّعَ وَإِنْ قَالَ أَنْ لَا يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا » [أخرجه البخاري]

“Pernah suatu ketika ada seorang yang lewat dihadapan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau berkata pada teman duduk yang berada disisi beliau, “Apa pendapatmu tentang orang yang barusan lewat? Dia menjawab, “Orang kaya dikalangan manusia, ini demi Allah kalau meminang perempuan pasti diterima, kalau diminta bantuan pasti bisa membantunya. Lalu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, kemudian ada lagi orang yang lewat, beliau lalu bertanya, “Kalau orang tadi, apa pendapatmu? Dia menjawab, “Ya Rasulallah, orang tadi adalah orang miskin, dan ini kalau meminang perempuan pasti tidak diterima, jika dimintai tolong pasti tidak mampu, kalau berbicara tidak ada yang mau mendengarnya. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan orang tadi, itu lebih mulia semisal dunia dari pada orang yang pertama”. [HR Bukhari no: 6447].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kalau rizki dan pertolongan itu tercapai dengan keberadaan orang-orang miskin dan lemah.
    Hal itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang dibwakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ » [أخرجه أحمد]

“Kalian mengadukan orang-orang lemah padaku, hanya saja sesungguhnya kalian diberi rizki serta pertolongan dengan sebab keberadaan orang-orang miskin dan lemah“. [HR Ahmad 36/60 no: 21731].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagi orang yang membantu para janda serta fakir bagaikan orang yang berjihad dijalan Allah Shubhanahu wa ta’alla atau seperti orang yang berpuasa dan sholat malam.
    Sebagaimana dijelaskan hal tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ – وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Orang yang membantu para janda dan fakir bagaikan seorang mujahid fi sabilillah“. Dan aku juga mengira beliau mengatakan, “Seperti orang yang sholat malam tidak pernah berhenti dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka“. [HR Bukhari no: 6006, Muslim no: 2982].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa jenis makanan terjelek ialah makanan yang dihidangkan pada saat walimah sedang yang diundang hanya orang kaya dan meninggalkan orang miskin.
    Hal itu, seperti yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِينُ » [أخرجه مسلم]

“Sejelek-jelek makanan adalah hidangan walimah yang hanya mengundang orang kaya dan meninggalkan orang miskin“. [HR Muslim no: 1432].

Adapun apa yang telah kami sebutkan diawal dari ayat serta hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang terkandung penjelasan keadaan sebagian orang dari kalangan kaum muslimin yang mendapat ujian kefakiran serta kesulitan hidup, lantas mereka bersabar dan ridho serta mengharap pahala dengan janji Allah Shubhanahu wa ta’alla yang diberikan padanya.

Sedangkan masalah masyhur lainnya yaitu mana yang lebih utama antara orang kaya atau miskin? maka dalam hal ini terjadi silang pendapat dikalangan para ulama, adapun pendapat yang kuat dalam hal ini ialah orang kaya yang bersyukur itu lebih utama dari pada fakir yang sabar, dan penjelasan secara rinci masalah ini ada pada pembahasan lain.[2]

Adapun orang fakir yang terbaik adalah yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta. Allah ta’ala menyinggung hal tersebut dalam firman -Nya:

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ [ البقرة: 273]

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”. [al-Baqarah/2: 273].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِى يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ . قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِى لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Bukanlah orang miskin itu yang keliling meminta-minta pada orang lain untuk mendapat sesuap atau dua suap nasi, satu biji atau dua biji kurma”. Para sahabat bertanya, “Jika demikian siapakah orang miskin tersebut wahai Rasulallah? Beliau mengatakan, “Yaitu orang yang tidak mendapati kecukupan lalu tidak ada yang memahami keadaannya serta dirinya tidak meminta-minta pada orang lain”. [HR Bukhari no: 1476. Muslim no: 1039].

Faidah
Dikisahkan dari Aun bin Abdillah bin Utbah beliau berkata, “Aku pernah berteman bersama orang kaya lalu aku dapati tidak ada seorangpun diantara mereka yang lebih besar cita-citanya dari pada diriku, lebih baik dari binatang tungganganku, pakaian yang lebih baik dari pada pakaianku, kemudian aku bergaul bersama orang miskin maka disana aku mendapatkan ketentraman”.[3]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الفقراء والضعفاء Penulis : Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]


Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 14/385.
[2] Lihat pada kitab ‘Idatush Shabirina wa Dzakhiratisy Syakirin karya Ibnu Qoyim.
[3] Sunan at-Tirmidzi hal: 304.

sumber: https://almanhaj.or.id/57144-penghibur-hati-bagi-orang-miskin.html

Tanda Sayang, Mencium Buah Hati Tercinta

Sudahkah Anda mencium buah hati tercinta?

Dalam kitab Adabul Mufrod (Al Bukhari) dibawakan Bab 50-Mencium Anak Kecil. Di antara hadits yang dibawakan.

Hadits Pertama [67/90]

Dari Aisyah radliallahu ‘anha, ia berkata,

“Seorang badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata,

أَتُقَبِّلُوْنَ صِبْيَانَكُمْ؟!فَـمَا نُقَبِّلُهُمْ!

‘Apakah kalian mencium anak -anak kalian? Demi Allah, kami tidak pernah menciumnya.’

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أو أملك لك أن نزع الله من قلبك الرحمة؟!”

’Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”

(Shahih) – [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Rahmatul Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu. Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 64]

Hadits Kedua [68/91]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium Hasan, putra Ali di mana saat itu ada Aqra’ ibnu Habis At Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata,

إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنَ اْلوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَداً!

“Saya punya sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandangnya dan berkata,

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

’Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan memperoleh rahmat Allah.”

(Shahih) Lihat Ghayatul Maram (70-71): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Al Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu. Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 65]

Ada pelajaran penting di atas bahwa ternyata mencium si buah hati akan mendatangkan rahmat Allah. Beda halnya jika kita perlakukan mereka dengan kasar. Kita kadang tergoda dengan godaan syaithon yang menyuruh kita bersikap kasar ketika kita melihat tingkah laku anak yang tidak kita sukai, padahal ada cara yang lebih bijak. Mencium dan menyayangi mereka serta mendidik mereka dengan menjauhi cara memukul, itu akan lebih baik karena datangnya rahmat Allah. Lemah lembut itulah sikap pertama, bukanlah dengan kekasaran.

Dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ

Sesungguhnya Allah Maha PenyantunDia menyukai sifat penyantun (lemah lembut). Allah akan memberikan sesuatu dalam sikap santun yang tidak diberikan pada sikap kasar dan sikap selain itu.” (HR. Muslim no. 2593)

Juga dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)

Moga Allah memberikan kita anugerah sikap sabar dan lemah lembut terhadap anak-anak kita.

Disusun di GK, 2 Rabiul Awwal 1430 H

sumber: https://rumaysho.com/1606-tanda-sayang-mencium-buah-hati-tercinta-2.html

Semua Kasih Sayang di Dunia Hanya 1% dari Rahmat Allah!

Pernahkah kita berpikir bahwa seluruh kasih sayang di dunia ini hanya berasal dari satu bagian kecil dari rahmat Allah? Betapa besar rahmat yang kita rasakan, padahal itu hanyalah setetes dari lautan rahmat-Nya. Hadits ini membuka pintu harapan yang sangat luas bagi setiap orang beriman untuk meraih rahmat Allah di hari Kiamat.

Rahmat Dunia Hanya Sebagian Kecil

Hadits #420 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلَائِقُ، حَتَّىٰ تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»

“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Lalu Dia menahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian, dan Dia menurunkan ke bumi satu bagian. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor hewan mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir akan mengenainya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat di antara jin, manusia, binatang ternak, dan binatang kecil. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi, saling mengasihi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Adapun sembilan puluh sembilan rahmat lainnya Allah simpan untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Muslim juga meriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَمِنْهَا رَحْمَةٌ بِهَا يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ بَيْنَهُمْ، وَتِسْعٌ وَتِسْعُونَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Satu di antaranya adalah rahmat yang dengannya makhluk saling berkasih sayang di antara mereka, sedangkan sembilan puluh sembilan lainnya disimpan untuk hari Kiamat.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ، كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَجَعَلَ مِنْهَا فِي الْأَرْضِ رَحْمَةً، فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَىٰ بَعْضٍ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ»

“Sesungguhnya Allah, pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, menciptakan seratus rahmat. Setiap satu rahmat besarnya memenuhi jarak antara langit dan bumi. Lalu Dia menjadikan satu rahmat itu di bumi. Dengan rahmat itulah seorang ibu menyayangi anaknya, binatang buas dan burung saling menyayangi satu sama lain. Maka ketika hari Kiamat tiba, Allah menyempurnakannya dengan rahmat itu.”

Kosakata hadits

  • حَافِرُهَا: kakinya.
  • طِبَاقٌ: penutup atau lapisan. Maksudnya, satu rahmat itu memenuhi jarak antara langit dan bumi karena sangat besar dan agung.

Faedah hadits

  1. Rahmat yang Allah jadikan di dalam hati hamba-hamba-Nya adalah bagian dari rahmat-Nya. Kebaikan yang Allah turunkan kepada mereka juga merupakan bagian dari karunia-Nya. Semua itu hanyalah sebagian dari apa yang Allah simpan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman pada hari Kiamat.
  2. Dalam hal ini terdapat harapan yang sangat besar dan kabar gembira bagi orang-orang beriman. Jika mereka mendapatkan satu rahmat yang dengannya tercipta seluruh rasa kasih sayang di dunia ini, maka bagaimana dengan seratus rahmat pada hari Kiamat?

Di zaman sekarang, manusia sering kehilangan rasa kasih sayang, bahkan dalam keluarga sendiri. Padahal, rahmat yang ada di hati kita adalah karunia Allah yang sangat agung. Jagalah hati agar tetap lembut, mudah memaafkan, dan penuh empati kepada sesama. Ingatlah, siapa yang menyayangi, ia akan disayangi oleh Allah.

Referensi:

  1. Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  2. Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin , 4 Zulkaidah 1447 H, 21 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42047-semua-kasih-sayang-di-dunia-hanya-1-dari-rahmat-allah.html