Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:
وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)
وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .
Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:
{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}
“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)
فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.
Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:
“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”
Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.
فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،
Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.
Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho.
Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:
أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْ
mereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan.
Istikamah Bukan Sekadar Ucapan
Al-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
Kemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas.
Para Sahabat Memaknai Istikamah
Kemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
Maka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”
Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”
Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”
Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”
Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya.
Ayat Paling Lapang Bagi Manusia
Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”
Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.”
Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama
Az-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:
اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.
“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”
Catatan:
Rubah dijadikan perumpamaan karena:
- Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutar
- Gerakannya diam-diam dan penuh tipu daya
- Tujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawan
Maka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.
Secara maknawi:
- Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariat
- Tidak mencari-cari alasan untuk menyimpang
- Tidak taat hanya ketika mudah
Jadi inti perumpamaan ini:
- Istikamah = lurus, tegas, konsisten
- Roghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsisten
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.
Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ
Allāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”
Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya.
Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.
Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.
Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut.
Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira
Adapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).
Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.’”
Kabar Gembira di Tiga Momen Agung
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.
Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
Lalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”
Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi.
Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga
Allah Ta’ala berfirman,
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
“Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:
Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”
تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.
Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.
- Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,
- mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,
- memberi rasa aman pada hari kebangkitan,
- membantu kalian melewati jembatan shirath, dan
- mengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”
Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.
Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan.
Amalkan doa ini,
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ
ALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.
Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1]
[1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24)
Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701
—-
Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27 Syawal 1447 H, 15 April 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
sumber: https://rumaysho.com/41998-istikamah-hingga-wafat-disambut-malaikat-dan-dijanjikan-surga.html