[Kitabut Tauhid 10] 28 Mencintai Allah 16

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hukumnya wajib, bahkan termasuk kewajiban terbesar dalam agama Allâh -‘Azza wa Jalla-. Tidak sempurna keimanan seorang hamba, kecuali dengannya. Oleh karena itu, Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan umat ini untuk mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- melebihi kecintaanya terhadap dirinya, keluarga, harta, seluruh manusia, dan segala sesuatunya.
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- telah menjadikan ittiba’ (mengikuti Rasul-Nya) sebagai bukti kebenaran cintanya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Hal ini hanya dapat diwujudkan, hanya setelah adanya keimanan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Dan iman kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hanya terwujud jika terpenuhi syarat-syaratnya, dan di antaranya adalah mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- mengharuskan adanya penghormatan, ketundukan dan peneladanan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- serta mendahulukan sabda Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh ucapan makhluk, serta mengagungkan sunnah-sunnah Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 27 Mencintai Allah 15

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Allâh -‘Azza wa Jalla- mengancam akan memerangi siapa saja yang mengganggu wali-walinya.
  • Wali-wali Allâh -‘Azza wa Jalla- terdiri dari 2 (golongan). [Pertama] Sâbiquuna bil khairât atau muqarrabuuna, yaitu orang-orang yang selalu bersegera dan terdepan dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan, yang senantiasa mendekatkan diri dan didekatkan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-; meraka adalah orang-orang yang sangat bersemangat mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi yang dimakruhkan dalam Syariat. [Kedua] Muqtashiduuna atau ashhâbul yamiin; mereka adalah orang-orang yang berupaya menunaikan kewajiban-kewajiban, tetapi tidak atau kurang bersemangat mengerjakan amalan-amalan sunnah, tidak menjauhkan diri dari yang makruh dan terjatuh pada sebagian dosa kecil.
  • Jika seorang hamba mencapai kewalian dan kecintaan Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan membimbing seluruh gerak-geriknya sehingga tetap berada pada jalur yang diridhai-Nya. Allâh -‘Azza wa Jalla- juga menjamin bahwa Dia -‘Azza wa Jalla- akan memberi apa yang diminta oleh wali-wali-Nya dan melindungi mereka dari musuh-musuhnya.
  • Di dalam Al-Qur’an, Allâh -‘Azza wa Jalla- membagi hamba-hamba-nya dari kalangan orang-orang yang beriman menjadi 3 (tiga) golongan; yaitu : [1] sâbiquuna bil khairât atau muqarrabuuna; [2] muqtashiduuna atau ashhâbul yamiin; dan [3] zhâlimuuna li anfusihim. Yang pertama dan kedua adalah wali-wali Allâh -‘Azza wa Jalla-; sedangkan yang ketiga adalah orang-orang yang mencampur-adukkan antara keimanan dengan kezhaliman (kemaksiatan); mereka banyak menelantarkan kewajiban dan terjatuh dalam dosa-dosa besar.
  • Tidak ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, mendapatkan kewalian dan kecintaan-Nya; kecauli dengan menegakkan ketaatan kepada-Nya. Tidak setiap orang yang mendapatkan hidayah di atas keimanan otomatis juga mendapat hidayah di atas ketaqwaan, dan siapa saja yang mendapatkan keduanya, maka dia telah mencapai kewalian dan kecintaan Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Amalan yang paling utama adalah menunaikan apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- wajibkan, dan menjauhi apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- haramkan, serta mempunyai niat yang benar dalam menggapai apa yang ada di sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 26 Mencintai Allah 14

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Semua manusia yang berakal sehat pasti mencintai keindahan dan kesempurnaan. Semakin indah dan sempurna sesuatu dalam penilaian manusia maka sesuatu itu pasti semakin dicintainya. Kalau keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk saja bisa menjadikan manusia yang mengenalnya mencintainya, padahal bagaimanapun tingginya keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk, tetap saja semua itu terbatas, maka keindahan yang maha sempurna dan kesempurnaan yang tidak terbatas yang ada pada Allâh -‘Azza wa Jalla- harusnya menjadikan manusia mencintai-Nya dan lebih mencintai-Nya dibandingkan segala sesuatunya.  
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah Dzat yang terkumpul pada-Nya 2 (dua) sebab kecintaan sekaligus, yaitu : [1] kebaikan dan limpahan nikmat, dan [2] kesempurnaan dan keindahan. Maka tidak akan berpaling dari mencintai dzat yang demikian keadaannya kecuali hati yang paling buruk, rendah, dan hina serta paling jauh dari semua kebaikan. Karena sesungguhnya Allâh -‘Azza wa Jalla- menjadikan fithrah pada hati manusia untuk mencintai pihak yang berbuat kebaikan kepadanya dan sempurna dalam sifat-sifat dan tingkah lakunya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 25 Mencintai Allah 13

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah satu-satunya Dzat yang pantas untuk dicintai (dan paling dicintai) dari semua pertimbangan dan sudut pandang, dan sebabnya adalah karena semua sebab yang menjadikan manusia mencintai sesuatu semuanya itu secara sempurna ada pada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Secara umum, faktor dan sebab utama yang menjadikan manusia mencintai sesuatu kembali kepada dua hal, yaitu : [1] keindahan dan kesempurnaan yang ada pada  sesuatu (yang dicintai), [2] kebaikan dan kasih sayang yang bersumber dari sesuatu (yang dicintai). Karena sesungguhnya hati dan jiwa yang bersih secara fitrah akan mencintai kesempurnaan dan mencintai pihak yang selalu berbuat baik kepadanya.
  • Tidak ada satupun yang kebaikannya lebih besar dibandingkan Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena sungguh kebaikan-Nya kepada hamba-Nya (tercurah) di setiap waktu dan (tarikan) nafas (hamba tersebut). Hamba itu selalu mendapatkan limpahan kebaikan-Nya dalam semua keadaannya, sehingga tidak ada cara (tidak mungkin) baginya untuk menghitung (secara persis) jenis-jenis kebaikan Allâh -‘Azza wa Jalla- tersebut, apalagi macam-macam dan satuan-satuannya.

Tidak ada satupun yang kebaikannya lebih besar dibandingkan Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena sungguh kebaikan-Nya kepada hamba-Nya (tercurah) di setiap waktu dan (tarikan) nafas (hamba tersebut). Hamba itu selalu mendapatkan limpahan kebaikan-Nya dalam semua keadaannya, sehingga tidak ada cara (tidak mungkin) baginya untuk menghitung (secara persis) jenis-jenis kebaikan Allâh -‘Azza wa Jalla- tersebut, apalagi macam-macam dan satuan-satuannya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 24 Mencintai Allah 12

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan syarat dan pokok seluruh kebaikan bagi para hamba, baik untuk urusan dunia maupun urusan Akhirat mereka. Tidak ada kebaikan yang hakiki bagi seorang hamba, tidak di dunia dan tidak juga di Akhirat nantinya, jika dia tidak mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-. Karenanya mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- memiliki banyak keutamaan, diantaranya :
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan penggerak (motor dan motivator) utama bagi hamba untuk menegakkan ketaatannya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, yaitu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan penggerak (motor dan motivator) utama bagi hamba untuk mentaati Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, karena kecintaan dan ketataan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak akan mungkin terwujud keculi dengan menempuh jalannya Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan sebab seorang hamba mendapatkan kewalian di sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan sebab seorang hamba masuk ke dalam Surga dan terbebas dari Neraka.
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan ynutrisi bagi ruh dan sebab hidupnya hati.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 23 Mencintai Allah 11

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan syarat dan pokok seluruh kebaikan bagi para hamba, baik untuk urusan dunia maupun urusan akhirat mereka. Tidak ada kebaikan yang hakiki bagi seorang hamba, tidak di dunia dan tidak juga di Akhirat nantinya, jika dia tidak mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-. Karenanya mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- memiliki banyak keutamaan, diantaranya :
  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya, merupakan syarat keimanan.
  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya, merupakan sebab seseorang terbebas dari adzab Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya, merupakan sebab seseorang dicintai Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya, merupakan sebab seseorang bisa merasakan manisnya iman.
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan salah satu rukun diantara rukun-rukun ibadah.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 22 Mencintai Allah 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Siapa saja yang mengaku mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- wajib membuktikan cintanya dengan perilakunya. Adapun bukti paling nyata cinta seorang hamba kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah berupa ketaatan terhadap segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam.
  • Ayat-ayat Al-Qur`an yang menjelaskan tentang kewajiban untuk ittiba’ (mengikuti) Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sangat banyak. Menurut Al-Imâm Ahmad -Rahimahullâh-  ada 33 ayat. Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahullâh- mengatakan bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- telah mewajibkan taat kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- pada sekitar 40 ayat dalam Al-Qur`an.
  • Siapa saja yang mengklaim dirinya mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, akan tetapi dia tidak mengikuti Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, maka dia telah berdusta.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 21 Mencintai Allah 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Cinta adalah pilar (rukun) ibadah yang paling penting, karena cinta merupakan pondasi dan inti dari ibadah. Karenanya, kecintaan yang menjadi syarat keimanan, rukun penghambaan, dan yang paling agung serta yang paling mulia di dalam kehidupan seorang hamba adalah kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Ibadah adalah gabungan antara puncak perendahan diri dan ketundukan seorang hamba kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- yang dibangun pada puncak kecintaan kepada-Nya.  Keduanya  (puncak perendahan diri dan ketundukan, dan pada puncak kecintaan) merupakan dua kubub, yang orbit ibadah beredar pada keduanya, dan orbit itu tidak akan beredar sampai kedua kutubnya tegak.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 20 Mencintai Allah 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan hanya beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun juga diantara makhluq-makhkuq-Nya merupakan tujuan dari penciptaan alam semesta; dan karenanyalah Allâh -‘Azza wa Jalla- menurunkan Kitab-Kitab, mengutus Para Rasul –‘Alaihimussalâm-, dan mensyariatkan jihad di jalan-Nya.
  • Secara bahasa ibadah adalah at-tadzallul (perendahan diri) dan al-khuduu’ (ketundukan). Sedangkan menurut istilah Syariat, ibadah adalah suatu bentuk perendahan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan kepadda-Nya, dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari’at-Nya; atau dengan kata lain, ibadah adalah melakukan segala sesuatu yang membuat Allâh -‘Azza wa Jalla- ridha
  • Ibadah yang disyariatkan berlandaskan pada tiga rukun (pilar) pokok, yaitu : [1] al-hubbu (cinta), [2] al-khauf (takut), [3] ar-rajaa’ (harapan). Suatu amalan meskipun disyariatkan, dikerjakan sesuai tuntunan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; tetap tidak bernilai ibadah dan tidak diterima Allâh -‘Azza wa Jalla-, jika tidak tegak pada amalan tersebut ketiga rukun (pilar) ibadah tersebut.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 19 Mencintai Allah 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Allâh -‘Azza wa Jalla- mengancam dengan adzab-Nya siapa saja yang mendahulukan dan menyamakan atau bahkan melebihkan kecintaan kepada selain-Nya dengan kecintaan kepada-Nya, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya.
  • Lebih mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dibandingkan kecintaan terhadap segala sesuatunya merupakan bukti kesempurnaan keimanan.
  • Ketaatan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya harus lebih didahulukan daripada ketaatan terhadap siapapun juga, dan ketaatan terhadap selain keduanya tidak boleh bertentangan dengan ketaatan kepada keduanya.
  • Meninggalkan jihad di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan penyebab kemurkaan Allâh -‘Azza wa Jalla- dan turunnya kehinaan bagi Kaum Muslimin. Dan bermalas-malasan dalam berjihad di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan bagian dari kemunafikan.
  • Beriman kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan–Nya termasuk sebab seorang hamba selamat dari siksa Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Jihad di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan amalan yang paling utama, karenanya banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang memotivasi untuk berjihad dan anjuran untuk zuhud terhadap dunia.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“