[Kitabut Tauhid 9] 35 At Taththayyur 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Ada 2 (dua) pendapat tentang makna Shafar : (1) penyakit perut, dan (2) bulan Shafar. Dan untuk pendapat kedua masih ada perbedaan pendapat lagi : (pertama) keyakinan bulan Shafar sebagai bulan sial, dan (kedua) terkait bid’ah an-nasii-ah,yaitu menukar keharaman bulan Al-Muharram denga kehalalan bulan Shafar.
  • Penafian (peniadaan) untuk empat hal ini (‘adwa, thiyarah, hâmah, dan shafar) bukan penolakan keberadaannya, karena keempatnya memang ada. Tetapi penolakan keyakinan terhadap pengaruhnya dengan sendirinya dan tidak mengaitkannya dengan taqdir Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Empat keyakinan dan prilaku yang ditolak oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- ini (‘adwa, thiyarah, hâmah, dan shafar) menunjukkan wajibnya bertawakkal kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, cita-cita yang benar, dan janganlah seorang Muslim menjadi lemah di hadapan semua hal tersebut.
  • Tidak ada kesialan kecuali dengan sebab dosa dan kemaksiatan, karena keduanya menyebabkan kemurkaan Allâh -‘Azza wa Jalla-. Apabila Allâh -‘Azza wa Jalla- murka kepada seorang hamba, maka celakalah dia di dunia dan akhirat, sebagaimana apabila Allâh -‘Azza wa Jalla- ridha kepada seorang hamba, maka bahagialah dia di dunia dan Akhirat.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar