[Kitabut Tauhid 9] 45 Menyandarkan Hujan Kepada Bintang 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Di dalam Al-Qur’an, Allâh -‘Azza wa Jalla- menyebutkan bahwa bintang-bintang diciptakan untuk 3 (tiga) tujuan, yaitu : (pertama) penunjuk arah, (kedua) perhiasan langit, dan (ketiga) pelontar syaithan.
  2. Ada dua ilmu yang mempelajari tentang perbintangan (ilmu nujum) yaitu ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir) dan ilmu astrologi (ilmu at-ta’tsiir). Ilmu Astrologi (ilmu at-ta’tsiir) adalah ilmu nujum yang dibangun di atas keyakinan bahwa bintang-bintang mempunyai pengaruh terhadap keadaan dan peristiwa yang terjadi di alam semesta. Sedangkan ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir) adalah ilmu nujum yang mempelajari posisi benda-benda langit dan pergerakannya dengan tujuan untuk memudahkan mengetahui arah tujuan dalam perjalanan dan berbagai macam kemaslahatan yang lainnya, baik untuk urusan agama maupun urusan dunia.
  3. Ada dua pendapat dikalangan Para Ulama terkait dengan hukum mempelajari kedudukan dan keadaan bintang-bintang : (pertama) terlarang secara muthlaq, alasannya dalam rangka saddu adz-dzari’ah yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang; (kedua) tidak mengapa mempelajarinya, dan yang dibolehkan di sini adalah ilmu at-tasyiir (ilmu astronomi)karena ada banyak manfaat yang bisa diperoleh darinya dan tidak termasuk sebab yang dilarang. 
  4. Ada tiga macam keyakinan yang terkait dengannya ilmu astrologi dan ketiga-tiganya haram : (pertama) keyakinan bahwa posisi benda langit yang menciptakan seluruh kejadian yang ada di alam semesta, dan ini adalah kekufuran berdasarkan kesepakatan Para Ulama; (kedua) keyakinan bahwa posisi benda langit yang ada hanyalah sebagai sebab (ta’tsiir) dan benda tersebut tidak menciptakan seluruh kejadian yang ada, karena yang menciptakan setiap kejadian hanyalah Allâh -‘Azza wa Jalla-, keyakinan ini keliru dan termasuk syirik ashgar (syirik kecil), karena Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak pernah menjadikan benda langit sebagai sebab; (ketiga) keyakinan bahwa posisi benda langit sebagai petunjuk (tanda) untuk peristiwa masa yang akan datang, yang berarti mengaku-ngaku mengetahui ilmu ghaib, perbuatan semacam ini termasuk kekufuran berdasarkan kesepakatan Para Ulama.
  5. Ilmu Astronomi atau ilmu at-tas-yiir terbagi menjadi dua macam : (pertama) mempelajari peredaran benda-benda langit untuk maslahat agama, seperti menentukan arah kiblat ketika shalat; (kedua) mempelajari peredarannya untuk maslahat kehidupan dunia, misalnya dalam menentukan arah. Jenis ilmu nujum inilah yang diperbolehkan oleh Salafus Shâlih untuk dipelajari.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 44 Ilmu Perbintangan 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Bintang-bintang diciptakan untuk 3 hal : [1] sebagai penghias langit, [2] sebagai pelempar syaithan, dan [3] sebagai tanda alam untuk petunjuk arah.

  • Siapa saja yang menggali tentang perbintangan selain pada 3 hal tersebut, maka dia telah keliru, menyia-nyiakan jatahnya, dan membebani diri dengan sesuatu yang sama sekali dia tidak memiliki modal ilmu tentangnya; yaitu orang-orang yang menggeluti ilmu astrologi (ilmu at-ta’tsiir).
  • Ilmu Nujum yang dilarang oleh Para Ulama untuk dipelajari adalah ilmu astrologi (ilmu at-ta’tsiir), sedangkan yang diperbolehkan adalah ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir).
  • Sebagian Ulama melarang secara muthlaq mempelajari kedudukan dan keadaan bintang-bintang, dengan alasan dalam rangka saddu adz-dzari’ah,yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang. Sebagian lagi membolehkan, dan yang mereka bolehkan adalah ilmu astronomi (ilmu at-tas-yiir), dengan alasan karena ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari ilmu astronomi dan tidak termasuk sebab yang dilarang.

Penulis -Rahimahullâh- menganggap ilmu nujum bagian dari ilmu sihir. Sebabnya karena sihir secara bahasa adalah segala sesuatu yang memengaruhi hati dengan sebab yang samar. Juga karena sebagian penggiat ilmu astrologi bekerjasama dengan setan-setan pencuri berita dari bangsa jin yang mencuri berita-berita langit terkait apa yang akan terjadi di muka bumi melalui ritual-ritual perdukunan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 43 Ilmu Perbintangan 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara yang bakal masuk surganya Allâh -‘Azza wa Jalla- tanpa hisab dan tanpa adzab dari kalangan Ahlut Tauhid adalah orang-orang yang memurnikan tawakkalnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, dimana mereka tidak meminta diruqyah, tidak melakukan taththayyur, dan tidak berobat dengan cara kay. Mereka bukan saja meninggalkan dosa dan kemaksiatan tetapi juga berusaha meninggalkan hal-hal yang makruh demi menyempurnakan tawakkalnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 42 At Taththayyur 11

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

At-Tathhtayyur atau ath-thiyarah disebut oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- termasuk dalam kategori sihir, sebabnya karena sihir secara bahasa adalah segala sesuatu yang samar penyebabnya. Sedangkan at-tathhtayyur atau ath-thiyarah memengaruhi hati dengan sebab yang samar. Dimana mangaitkan nasib sial atau merasa akan sial dengan hal-hal tertentu (yang sebenarnya tidak pernah dijadikan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- sebagai tanda apalagi sebab kesialan), ini menunjukkan bahwa ada pengaruh dalam hati secara samar sehingga Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- mengatakan bahwa at-tathhtayyur atau ath-thiyarah sama saja dengan sihir.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 41 At Taththayyur 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Inti dari terapi terhadpa penyakit at-taththayyur adalah menyandarkan hati seutuhnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan memurnikan tawakkal hanya kepada-Nya; kemudian diantara keyakinan dan prilaku yang bermanfa’at untuk mencegah dan mengobati penyakit at-taththayyur dengan izin Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah :
  • Menguatkan keyakinan bahwa hanya Allâh -‘Azza wa Jalla- semata yang dapat memberi manfaat dan menolak mudharat.
  • Menguatkan tawakkal kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- semata.
  • Membaca doa yang diajarkan oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- :

اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Yaa Allâh, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan (dari)-Mu, tidak ada keburukan (yang terjadi) kecuali keburukan (atas kehendak)-Mu, dan tidak ada Ilâh (yang berhak disembah) selain-Mu.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 40 At Taththayyur 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • At-Taththayyur merupakan bagian dari kesyirikan, dan ini sudah cukup sebagai bukti betapa berbahayanya at-taththayyur. Diantara dari sebagian dari sekian banyak bahaya at-taththayyur adalah :
  1. Merusak Tauhid.
  2. Menyebabkan ketakutan dan kecemasan.
  3. Menumbuhkan sikap pesimis.
  4. Bagian dari prilaku mencela masa.
  5. Tasyabbuh dengan orang-orang kafir di setiap zaman.
  • At-Taththayyur yang diperbolehkan, yang bukan bagian dari kesyirikan adalah menganggap adanya kesialan dalam hal-hal yang bersifat  qadari (masuk akal; mengandung unsur sebab-akibat), dan meyakini kejadiannya dengan taqdir dan izin Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 39 At Taththayyur 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • At-Taththayyur atau ath-thiyarah termasuk perbuatan kesyirikan yang menafikan kesempurnaan Tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan syaithan berupa godaan dan bisikannya, dan penyandaran sesuatu bukan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Jika meyakini bahwa at-taththayyur adalah tanda dan atau sebab kesialan atau keberuntungan, sedangkan yang menjadikannya sebagai tanda dan atau sebab adalah Allâh -‘Azza wa Jalla-, disini at-taththayyur terhitung sebagai syirik kecil, karena Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak pernah menjadikannya sebagai tanda dan atau sebab kesialan atau keberuntungan.
  • Jika meyakini bahwa at-taththayyur dengan sendirinya yang menyebabkan kesialan atau keberuntungan, dan tidak ada kaitannya dengan ketetapan Allâh -‘Azza wa Jalla-, disini at-taththayyur terhitung sebagai syirik besar, karena telah menjadikan sekutu bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam al-khalqu (penciptaan) dan al-iijaad (pewujudan).

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 38 At Taththayyur 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Taththayyur atau thiyarah termasuk bagian dari keyakinan dan kebiasaan jahiliyyah, tidak hanya di kalangan bangsa Arab, tetapi juga pada seluruh bangsa-bangsa di dunia dengan keragaman bentuknya. Keyakinan dan kebiasaan jahiliyyah ini masih eksis hingga hari ini dan akan tetap eksis sampai hari Kiamat nanti.
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- menetapkan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Dan keduanya (kebaikan dan keburukan) disebabkan perbuatan manusia; kebaikan merupakan balasan atas ketaatan mereka, sedangkan keburukan sebagai balasan atas kemaksiatan mereka. 

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 37 At Taththayyur 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Islam agama yang sempurna, mengajarkan kepada umatnya untuk memiliki sifat optimis dan mencela sifat pesimis terhadap masa depan. Seorang Muslim selalu memandang ke depan dengan pandangan yang penuh cita-cita tinggi dan harapan yang besar, disertai keyakinan yang kuat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- akan memudahkan untuk meraihnya.
  • Optimisme merupakan husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena terkadung di dalamnya ar-raja’ (berharap kebaikan) dari Allâh -‘Azza wa Jalla-. Seandainya yang diharapkannya tidak menjadi kenyataaan, minimal si hamba sudah mendapatkan pahala ar-raja’, sehingga ar-raja’ menjadi kebaikan yang disegerakan untuknya.  Dan seandainya yang diharapkannya menjadi kenyataaan, itu adalah kebaikan yang berikutnya.
  • Pesimisme termasuk suu-uzhzhan (buruk sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, berputus asa dari keluasan rahmatnya, dan seoalah berharap datangnya al-bala’ (keburukan, musibah, bencana). Jika suu-uzhahan kepada manusia saja tercela, terlebih lagi suu-uzhzhan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 36 At Taththayyur 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Nau’ adalah bintang, dimana orang-orang jahiliyyah menyandarkan kesialan dan keberuntungan yang mereka peroleh dengan bintang. Sebagian bintang menurut mereka membawa kesialan dan sebagian yang lainnya mereka anggap membawa keberuntungan.
  2. Ghul atau ghuul adalah setan yang biasa menyesatkan orang yang sedang berjalan di padang pasir atau lembah. Yang diingkari oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam hadits adalah pengaruh ghuul, bukan keberadaannya. Setan yang suka mengganggu manusia seperti ghuul ini memang ada, namun bila kuat tawakal seorang hamba kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan tidak menghiraukan keberadaannya, setan ini tidak dapat memudharatkan dan menghalanginya menuju arah yang hendak ditujunya.
  3. Al-Fa’lu adalah segala sesuatu yang membuat dada terasa lapang, mengharapkan kebaikan, dan menumbuhkan optimisme; baik itu berupa kalimah thayyibah (ucapan yang baik), nama yang baik, keberadaan orang yang shalih, karena lewat atau berada di tempat yang baik, dan yang lainnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.