[Kitabut Tauhid 10] 18 Mencintai Allah 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Cinta ada 4 macam : [1] al-hubbu ilallaah (cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), [2] al-hubbu fillaah (cinta karena Allâh -‘Azza wa Jalla-), [3] al-hubbu ma’allaah (cinta kepada yang dijadikan tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla-sebagaimana atau bahkan melibihi cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), [4] al-mahabbah ath-thabii’ah (cinta yang sudah menjadi naluri manusia terhadap hal-hal yang disenangi dan dirasa cocok oleh jiwanya).
  • Keempat jenis cinta tersebut bisa dirangkum menjadi 2 macam : [1] mahabbah khaashah (cinta khusus) atau mahabbah ‘ibaadah (cinta ibadah), yaitu cinta yang dibangun di atas dasar dan berkonsekuensi pengagungan dan perendahan diri kepada dzat yang dicintai, cinta jenis ini wajib diberikan dan hanya boleh diberikan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, jika diberikan kepada Aselain-Nya maka tergolong kesyirikan dan kekufuran; kemudian [2] mahabbah musytarikan (cinta yang terbagi-bagi) atau mahabbah ghairu ‘ibadah (bukan cinta ibadah), yaitu cinta yang tidak berkonsekuensi pengagungan dan perendahan diri kepada dzat yang dicintai, hukum asalnya mubah, selama tidak didahulukan dari kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan tidak menjerumuskan kepada kemaksiatan, dan bisa bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. 
  • Cinta juga bisa dibagi menjadi yang bermanfaat dan yang bermudharat. Yang bermanfaat ada 3 macam : [1] cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, [2] cinta di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- (cinta karena Allâh -‘Azza wa Jalla-), dan [3] cinta yang menolong untuk taat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan meninggalkan kemaksiatan terhadap-Nya. Sedangkan yang memudaratkan juga ada 3 macam, yaitu : [1] cinta (terhadap tandingan) Allâh -‘Azza wa Jalla-, [2] cinta terhadap hal-hal yang dibenci oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, [3] cinta yang memutuskan kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 17 Mencintai Allah 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Seorang hamba tidak dikatakan bertauhid, sampai dia mengucapkan kalimat Tauhiid, yaitu kalimat : laa ilaaha ilallaah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allâh -‘Azza wa Jalla-). Akan tetapi mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallaah saja tidak mencukupi sampai terpenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi agar ucapan tersebut diterima. Diantara syaratnya adalah al-mahabbah atau cinta. 
  • Orang yang mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallaahwajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, Rasul-Nya, agama Islam dan mencintai Kaum Muslimin yang menegakkan perintah-perintah Allâh -‘Azza wa Jalla-dan menjaga batasan-batasan–Nya. Dan membenci orang-orang yang bertentangan dengan laa ilaaha ilallaahdan mengerjakan lawan dari kalimat laa ilaaha ilallaahyaitu berupa kesyirikan atau kekufuran atau mereka mengerjakan hal-hal yang mengurangi kesempurnaan laa ilaaha ilallaahkarena mengerjakan kesyirikan serta kebid’ahan.
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak cukup dengan hanya pengakuan lisan dan tanpa pembuktian. Dan bukti kebenaran kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 16 Mencintai Allah 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Wajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya. Siapa saja yang mencintai selain Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sama atau bahkan melebihi kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan.
  • Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik pada masa jahiliyyah ada yang mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sangat besar, akan tetapi mereka mengangkat tandingan-tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk dipertuhankan, mereka mencintai dan beribadah kepada tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai dan beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 15 Mencintai Allah 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Wajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya. Siapa saja yang mencintai selain Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sama atau bahkan melebihi kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan.
  • Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik pada masa jahiliyyah ada yang mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan kecintaan yang sangat besar, akan tetapi mereka mengangkat tandingan-tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk dipertuhankan, mereka mencintai dan beribadah kepada tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai dan beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 14 Mencintai Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Wajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya. Tidak boleh mencitai selain Allâh -‘Azza wa Jalla- (dalam hal cinta ibadah) dengan kecintaan yang menyamai atau melebihi kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- merupakan syarat keimanan, dan mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya setelah kecintaan terhadap Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan syarat kesempurnaan iman.
  • Mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya melebihi kecintaan terhadap segala sesuatunya merupakan bagian dari syarat untuk dapat merasakan manisnya iman.
  • Mencintai dan membenci karena Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan bagian syarat untuk mendapatkan ke-wali-an (kecintaan dan pertolongan) Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 13 Mencintai Allah 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Yang disunnahkan terkait musibah kematian adalah tetangga orang yang meninggal dunia memberikan makanan kepada keluarga mayyit; bukan sebaliknya keluarga mayyit yang menyediakan makanan untuk orang-orang yang melayat, berta’ziyah dan ikut dalam amalan selamatan kematian.
  • Kebanyakan Ulama Syafi’iyyah membatasi ta’ziyah hanya selama 3 (tiga) hari saja setelah pemakamam. Dan yang dimaksud ta’ziyah adalah menghibur dan memotivasi keluarga mayyyituntuktetap sabar dan mendoakan mereka agar mendapatkan pahala atas kesabaran mereka terhadapmusibahyang menimpa.
  • Asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddin Al-Albâniy -Rahimahullâh- mengatakan bahwa tidak ada batasan waktu ta’ziyah hanya 3 (tiga) hari saja dan tidak boleh lebih. Bahkan kapan saja seseorang melihat ada faidah ketika dia berta’ziyah maka hendaknya dia melakukan. Dan ini addalah pendapat yang râjih (kuat) Allâhu A’lam.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 12 Menyandarkan Hujan Kepada Bintang 17

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

An-Na’yu memiliki beberapa hukum, rinciannnya sebagai berikut :

  1. An-Na’yu yang terlarang, yang hukumnya haram; yaitu mengumumkan berita kematian sebagaimana ciri khas zaman jahiliyyah; berupa berteriak-teriak di pintu-pintu rumah, di pasar-pasar, di gang-gang, atau tempat yang tinggi. Demikian pula an-na’yu yang menjadi sarana untuk melakukan hal-hal yang diharamkan; misalnya : mengambil upah darinya, menampakkan kesedihan dan duka cita secara berlebihan, dan yang lainnya. 
  2. An-Na’yu yang diperbolehkan atau dianjurkan adalah mengumumkan berita kematian seseorang dalam rangka memenuhi hak-hak si mayit dan Kaum Muslimin. Misalnya, mengumumkan kematian seseorang dan juga mengumumkan waktu dan tempat pelaksanaan pengurusan jenazahnya; agar si mayyit dimandikan, dikafani, dishalatkan, dikuburkan, didoakan, wasiatnya tertunaikan, hutang-hutangnya dilunasi, dan seterusnya. An-Na’yu jenis ini bisa menjadi wajib jika hal itu merupakan sarana untuk menunaikan kewajiban terhadap si mayit; yaitu memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkannya. 

Sebagian Ulama ketika membahas hukum an-na’yu, Mereka merinci apakah an-na’yu tersebut disertai dengan  an-nidaa‘ (panggilan dengan suara keras) ataukah tidak. Dengan rincian sebagai berikut :

  1. Jika disertai dengan an-nidaa‘ (panggilan dengan suara keras); Para Ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan terlarang secara muthlaq, dan ada yang merinci. Yang merinci mengatakan jika disertai dengan at-tanwiih (memuji-muji berlebihan) dan at-tafkhim (membesar-besarkan nama si mayit) hukumnya terlarang, dan jika tidak maka hukumnya diperbolehkan.
  2. Jika tanpa disertai an-nidaa’, maka Ulama dari 4 (empat) mazhab sepakat tentang bolehnya, bahkan dinukil adanya ijma’ (kesepakatan) tentangnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 11 Menyandarkan Hujan Kepada Bintang 16

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. An-na’yu adalah mengumumkan kematian seseorang dan menyebarkan berita  kematiannya agar orang-orang menghadiri jenazahnya (mengurus jenazahnya).
  2. Hadits-hadits yang menyebutkan tentang an-na’yu seolah-olah satu dengan yang lainnya saling bertentangan; sebagian hadits menunjukkan bahwa hal itu terlarang, dan sebagian yang lain membolehkan.
  3. Dari dalil-dalil yang ada, diketahui bahwa an-na’yu tidak hanya memiliki satu hukum dalam Syariat. Maksudnya, an-na’yu tidak seluruhnya dilarang dan tidak seluruhnya diperbolehkan. Bahkan ada yang dianjurkan atau bahkan diwajibkan, ada yang mubah, ada yang makruh, dan ada yang haram (terlarang).

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 10 Menyandarkan Hujan Kepada Bintang 15

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Seseorang yang tertimpa musibah berupa kehilangan orang yang dicintainya, saat bersedih boleh baginya untuk menangis. Namun dia harus menjaga lisan dan perbuatannya agar jangan sampai melanggar aturan Syari’at, diantaranya adalah perbuatan yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap taqdir Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah berupa ratapan dan yang semisalnya.
  2. Setiap mayyit yang diratapi akan disiksa dengan sebab ratapan terhadapnya. Ini berlaku bagi mayit yang berwasiat untuk diratapi atau kepada orang yang tidak berwasiat untuk tidak diratapi, padahal dia tahu bahwa orang-orang biasa melakukannya. Jika si mayit melarang orang-orang melakukannya semasa hidupnya, tetapi mereka tetap saja melakukan hal itu kepadanya ketika meninggalnya, maka dia (si mayit) tidak akan menanggung dosanya sedikit pun. Sedangkan siksa dari perbuatan tersebut akan menimpa mereka (yang meratapinya).
  3. Hal ini tidak bertentangan dengan kaidah bahwa seseorang tidak akan mendapatkan apapun, baik berupa kebaikan maupun keburukan, kecuali dari apa yang telah diupayakannya, dan bahwa seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. Karena yang dimaksud diadzab atau disiksa disini adalah bahwa  si mayit tersebut merasakan sakit, merasa sempit, atau terganggu disebabkan oleh ratapan orang lain kepadanya. Padahal seharusnya orang tersebut mendoakan dan memohonkan ampun untuknya, bukan meratapinya. Dalam hadits, Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak menggunakan kata yu’aaqabu(dihukum atau mendapatkan hukuman). Sedangkan adzab itu lebih umum daripada hukuman, seperti perkataan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- : “Safar (bepergian) itu adalah potongan (bagian) dari adzab.” Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyebut safar (bepergian) sebagai adzab, padahal bukan maksudnya sebagai hukuman atas suatu dosa.  
  4. Diantara adzab yang dialami si mayyit akibat ratapan adalah pertanyaan Malaikat kepadanya tentang dirinya dan orang-orang yang meratapinya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 09 Menyandarkan Hujan Kepada Bintang 14

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Niyâhah adalah bersedih dan menangisi mayit serta menghitung-hitung kebaikannya. Ada juga yang mengartikan bahwa niyâhah adalah menangis dengan suara keras dalam rangka meratapi kepergian mayit atau meratap karena ada yang hilang dari kemewahan dunia yang dimiliki. 
  2. Niyâhah adalah perbuatan haram, dalilnya : (1) adanya ancaman adzab akhirat bagi pelakunya jika sampai meninggal dunia belum bertaubat darinya, (2) Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- berlepas diri darinya dan dari pelakunya, (3) Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyatakan bahwa pelaku niyâhah tidak termasuk golongan Beliau, (4) Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- membaiat Kaum Muslimin untuk tidak melakukan niyâhah.
  3. Cukuplah sebagai bukti keburukan perbuatan niyâhah ketika Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- mensifatinya sebagai prilaku jahiliyyah.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“