[Kitabut Tauhid 9] 41 At Taththayyur 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Inti dari terapi terhadpa penyakit at-taththayyur adalah menyandarkan hati seutuhnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan memurnikan tawakkal hanya kepada-Nya; kemudian diantara keyakinan dan prilaku yang bermanfa’at untuk mencegah dan mengobati penyakit at-taththayyur dengan izin Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah :
  • Menguatkan keyakinan bahwa hanya Allâh -‘Azza wa Jalla- semata yang dapat memberi manfaat dan menolak mudharat.
  • Menguatkan tawakkal kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- semata.
  • Membaca doa yang diajarkan oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- :

اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Yaa Allâh, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan (dari)-Mu, tidak ada keburukan (yang terjadi) kecuali keburukan (atas kehendak)-Mu, dan tidak ada Ilâh (yang berhak disembah) selain-Mu.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 40 At Taththayyur 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • At-Taththayyur merupakan bagian dari kesyirikan, dan ini sudah cukup sebagai bukti betapa berbahayanya at-taththayyur. Diantara dari sebagian dari sekian banyak bahaya at-taththayyur adalah :
  1. Merusak Tauhid.
  2. Menyebabkan ketakutan dan kecemasan.
  3. Menumbuhkan sikap pesimis.
  4. Bagian dari prilaku mencela masa.
  5. Tasyabbuh dengan orang-orang kafir di setiap zaman.
  • At-Taththayyur yang diperbolehkan, yang bukan bagian dari kesyirikan adalah menganggap adanya kesialan dalam hal-hal yang bersifat  qadari (masuk akal; mengandung unsur sebab-akibat), dan meyakini kejadiannya dengan taqdir dan izin Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 39 At Taththayyur 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • At-Taththayyur atau ath-thiyarah termasuk perbuatan kesyirikan yang menafikan kesempurnaan Tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan syaithan berupa godaan dan bisikannya, dan penyandaran sesuatu bukan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Jika meyakini bahwa at-taththayyur adalah tanda dan atau sebab kesialan atau keberuntungan, sedangkan yang menjadikannya sebagai tanda dan atau sebab adalah Allâh -‘Azza wa Jalla-, disini at-taththayyur terhitung sebagai syirik kecil, karena Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak pernah menjadikannya sebagai tanda dan atau sebab kesialan atau keberuntungan.
  • Jika meyakini bahwa at-taththayyur dengan sendirinya yang menyebabkan kesialan atau keberuntungan, dan tidak ada kaitannya dengan ketetapan Allâh -‘Azza wa Jalla-, disini at-taththayyur terhitung sebagai syirik besar, karena telah menjadikan sekutu bagi Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam al-khalqu (penciptaan) dan al-iijaad (pewujudan).

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 38 At Taththayyur 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Taththayyur atau thiyarah termasuk bagian dari keyakinan dan kebiasaan jahiliyyah, tidak hanya di kalangan bangsa Arab, tetapi juga pada seluruh bangsa-bangsa di dunia dengan keragaman bentuknya. Keyakinan dan kebiasaan jahiliyyah ini masih eksis hingga hari ini dan akan tetap eksis sampai hari Kiamat nanti.
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- menetapkan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Dan keduanya (kebaikan dan keburukan) disebabkan perbuatan manusia; kebaikan merupakan balasan atas ketaatan mereka, sedangkan keburukan sebagai balasan atas kemaksiatan mereka. 

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 37 At Taththayyur 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Islam agama yang sempurna, mengajarkan kepada umatnya untuk memiliki sifat optimis dan mencela sifat pesimis terhadap masa depan. Seorang Muslim selalu memandang ke depan dengan pandangan yang penuh cita-cita tinggi dan harapan yang besar, disertai keyakinan yang kuat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- akan memudahkan untuk meraihnya.
  • Optimisme merupakan husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena terkadung di dalamnya ar-raja’ (berharap kebaikan) dari Allâh -‘Azza wa Jalla-. Seandainya yang diharapkannya tidak menjadi kenyataaan, minimal si hamba sudah mendapatkan pahala ar-raja’, sehingga ar-raja’ menjadi kebaikan yang disegerakan untuknya.  Dan seandainya yang diharapkannya menjadi kenyataaan, itu adalah kebaikan yang berikutnya.
  • Pesimisme termasuk suu-uzhzhan (buruk sangka) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, berputus asa dari keluasan rahmatnya, dan seoalah berharap datangnya al-bala’ (keburukan, musibah, bencana). Jika suu-uzhahan kepada manusia saja tercela, terlebih lagi suu-uzhzhan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 36 At Taththayyur 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Nau’ adalah bintang, dimana orang-orang jahiliyyah menyandarkan kesialan dan keberuntungan yang mereka peroleh dengan bintang. Sebagian bintang menurut mereka membawa kesialan dan sebagian yang lainnya mereka anggap membawa keberuntungan.
  2. Ghul atau ghuul adalah setan yang biasa menyesatkan orang yang sedang berjalan di padang pasir atau lembah. Yang diingkari oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam hadits adalah pengaruh ghuul, bukan keberadaannya. Setan yang suka mengganggu manusia seperti ghuul ini memang ada, namun bila kuat tawakal seorang hamba kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan tidak menghiraukan keberadaannya, setan ini tidak dapat memudharatkan dan menghalanginya menuju arah yang hendak ditujunya.
  3. Al-Fa’lu adalah segala sesuatu yang membuat dada terasa lapang, mengharapkan kebaikan, dan menumbuhkan optimisme; baik itu berupa kalimah thayyibah (ucapan yang baik), nama yang baik, keberadaan orang yang shalih, karena lewat atau berada di tempat yang baik, dan yang lainnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 35 At Taththayyur 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Ada 2 (dua) pendapat tentang makna Shafar : (1) penyakit perut, dan (2) bulan Shafar. Dan untuk pendapat kedua masih ada perbedaan pendapat lagi : (pertama) keyakinan bulan Shafar sebagai bulan sial, dan (kedua) terkait bid’ah an-nasii-ah,yaitu menukar keharaman bulan Al-Muharram denga kehalalan bulan Shafar.
  • Penafian (peniadaan) untuk empat hal ini (‘adwa, thiyarah, hâmah, dan shafar) bukan penolakan keberadaannya, karena keempatnya memang ada. Tetapi penolakan keyakinan terhadap pengaruhnya dengan sendirinya dan tidak mengaitkannya dengan taqdir Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Empat keyakinan dan prilaku yang ditolak oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- ini (‘adwa, thiyarah, hâmah, dan shafar) menunjukkan wajibnya bertawakkal kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, cita-cita yang benar, dan janganlah seorang Muslim menjadi lemah di hadapan semua hal tersebut.
  • Tidak ada kesialan kecuali dengan sebab dosa dan kemaksiatan, karena keduanya menyebabkan kemurkaan Allâh -‘Azza wa Jalla-. Apabila Allâh -‘Azza wa Jalla- murka kepada seorang hamba, maka celakalah dia di dunia dan akhirat, sebagaimana apabila Allâh -‘Azza wa Jalla- ridha kepada seorang hamba, maka bahagialah dia di dunia dan Akhirat.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 33 At Taththayyur 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

At-Taththayyur atau ath-thiyarah adalah beranggapan akan sial karena peristiwa-peristiwa tertentu, padahal Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak pernah menjadikan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai pertanda apalagi sebagai sebab bagi kesialan; dan perbuatan ini termasuk kesyirikan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 9] 34 At Taththayyur 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. At-Taththayyur atau ath-thiyarah adalah merasa sial dengan suatu informasi baik berupa sesuatu yang dilihat atau yang didengar, dan juga sesuatu yang sudah dimaklumi baik berupa waktu ataupun tempat. Sesuatu yang dilihat seperti melihat burung hantu, yang didengar seperti mendengar suara burung gagak, esuatu yang dimaklumi seperti beranggapan sial dengan waktu tertentu atau temapat tertentu.
  • ‘Adwa adalah apa yang dahulu diyakini oleh orang-orang jahiliyyah, bahwa ada penyakit-penyakit yang menular dengan tabi’atnya (dengan sifat dasarnya, dengan sendirinya); tanpa mengaitkannya dengan taqdir Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Al-Hâmah dalam keyakinan orang-orang jahiliyyah memiliki dua makna : (pertama) semacam burung hantu yang diyakini sebagai perubahan wujud dari tulang belulang atau ruh orang yang sudah meninggal dunia; (kedua) satu jenis burung yang apabila bertengger dan berteriak di rumah salah seseorang, mereka meyakininya bahwa kematian penghuni rumah tersebut sudah dekat.

    “Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

    [Kitabut Tauhid 9] 32 At Taththayyur 01

    Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

    • Setidaknya ada 4 metode pengobatan yang syar’i yang bermanfaat untuk mengihlangkan gangguan sihir dengan izin Allâh -‘Azza wa Jalla-. Rinciannya sebagai berikut :
    1. Mengeluarkan dan menggagalkan sihir tersebut jika diketahui tempatnya dengan cara yang diperbolehkan Syariat.
    2. Dengan membaca ruqyah-ruqyah yang disyariatkan.
    3. Mengeluarkan sihir dengan melakukan pembekaman pada bagian tubuh yang terlihat bekas sihir, atau terasa efek sihir padanya.
    4. Dengan menggunakan obat-obatan alami sebagaimana disebutkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan disertai keyakinan penuh terhadap kebenaran firman Allâh -‘Azza wa Jalla- dan sabda Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang menerangkan tentang manfaatnya.
    • Ada dua kaidah yang wajib diperhatikan dan dijaga oleh seorang Muslim ketika berobat, yaitu :
    1. Meyakini bahwa obat dan dokter hanya merupakan sarana kesembuhan, sedangkan yang menyembuhkan adalah Allâh -‘Azza wa Jalla-.
    2. Usaha yang ditempuh tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang dilarang dalam Syariat, karena Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak menjadikan kesembuhan pada hal-hal yang haram. 

    “Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.