[Kitabut Tauhid 10] 38 Mencintai Allah 26

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara rambu-rambu dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyari’atkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat; terlebih-lebih pada hari Jum’at, ketika disebut nama Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan berbagai tempat serta kesempatan yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.
  3. Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara tertentu, yang tidak ditentukan oleh Syari’at. Seperti menentukan waktu sebelum adzan, saat khathib Jum’at duduk diantara dua khutbah, dan lain-lain.
  4. Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjama’ah. Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  5. Dengan suara sirr (pelan), tidak keras. Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, adalah dengan suara pelan.
  6. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi alat musik, tarian, nyanyian, api, drama, dan yang semisalnya; karena semua itu termasuk kebid’ahan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 37 Mencintai Allah 25

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara rambu-rambu dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyari’atkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat; terlebih-lebih pada hari Jum’at, ketika disebut nama Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan berbagai tempat serta kesempatan yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.
  3. Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara tertentu, yang tidak ditentukan oleh Syari’at. Seperti menentukan waktu sebelum adzan, saat khathib Jum’at duduk diantara dua khutbah, dan lain-lain.
  4. Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjama’ah. Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  5. Dengan suara sirr (pelan), tidak keras. Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, adalah dengan suara pelan.
  6. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi alat musik, tarian, nyanyian, api, drama, dan yang semisalnya; karena semua itu termasuk kebid’ahan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 36 Mencintai Allah 24

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara rambu-rambu dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyari’atkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat; terlebih-lebih pada hari Jum’at, ketika disebut nama Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan berbagai tempat serta kesempatan yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.
  3. Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara tertentu, yang tidak ditentukan oleh Syari’at. Seperti menentukan waktu sebelum adzan, saat khathib Jum’at duduk diantara dua khutbah, dan lain-lain.
  4. Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjama’ah. Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  5. Dengan suara sirr (pelan), tidak keras. Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, adalah dengan suara pelan.
  6. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi alat musik, tarian, nyanyian, api, drama, dan yang semisalnya; karena semua itu termasuk kebid’ahan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 35 Mencintai Allah 23

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Para Ulama Madzhab Malikiyah berpendapat bahwa membaca shalawat secara umum hukumnya wajib. Yang dimaksud secara umum, shalawat yang bersifat muthlaq, tidak terikat waktu dan tempat. Jika seseorang Mukmin telah membaca shalawat di sepanjang usianya, kapanpun, dan di manapun, maka telah gugur darinya kewajiban membaca shalawat. Sedangkan Syafi’iyyah berpendapat bahwa kewajiban shalawat yang diperintahkan Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah ketika shalat. Sedangkan di luar shalat, hukumnya tidak wajib.
  • Yang dimaksud dengan shalawat (yang diwajibkan) di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi –Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam hadits-hadits Beliau yang shahih, bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlash karena Allâh -‘Azza wa Jalla- semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi –Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 34 Mencintai Allah 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara kekhususan yang dimilik oleh Nabi Kita Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, adalah bahwa tidak ada didalam Al-Qur’an tidak pula pada selainya dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- bershalawat kepada hamba-hamba-Nya kecuali kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Maka ini termasuk kekhususan yang Allâh -‘Azza wa Jalla- khusus berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh kalangan Para Nabi.
  • Maksud shalawatnya Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah pujian-Nya untuk Beliau di sisi Para Malaikat, sedangkan maksud shalawatnya Para Malaikat untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah do’a mereka untuk Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Adapun makna shalawat Kaum Muslimin kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah meminta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- agar Dia memuji dan mengagungkan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dunia dan di Akhirat nantinya. Di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) Beliau, memenangkan agamanya dan mengokohkan syariat Islam yang Beliau bawa. Dan di Akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, memudahkan syafa’at Beliau bagi umatnya dan menampakkan keutamaan Beliau pada Hari Kiamat di hadapan seluruh makhluq-Nya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 33 Mencintai Allah 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara indikasi dan konsekuensi mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Membenci orang-orang yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- benci.
  2. Berharap melihat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan rindu berjumpa dengannya, walaupun harus membayarnya dengan harta dan keluarga.
  3. Mempelajari Al-Qur’an, membaca dan memahami maknanya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 32 Mencintai Allah 20

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara indikasi dan konsekuensi mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan mereka adalah :

  • Para Shahabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Ahlu Bait (Kerabat) Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Istri-Istri Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 31 Mencintai Allah 19

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Setiap Muslim pasti mengaku dan ingin mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Pengakuan dan keingian ini menuntut bukti dan konsekuensi, yang dapat dijadikan sebagai standar kebenaran pengakuan cinta. Di antara bukti dan konsekuensi tersebut adalah :

Meneladani Sunnah Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Banyak Mengingat dan Menyebut Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan ini terkait dengan beberapa amalan yang disyariatkan, di antaranya :

Menyampaikan shalawat dan salam kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Menyebut keutamaan dan kekhususan sifat, akhlak dan perilaku utama yang Allâh -‘Azza wa Jalla- berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; juga menyebut mu’jizat serta bukti kenabian untuk mengenal kedudukan dan martabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Bersikap santun dan beradab terhadap Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, baik dalam menyebut nama atau memanggilnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 30 Mencintai Allah 18

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Terkait dengan kecintaan kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua golongan yang ekstrem, dan satu golongan yang pertengahan; yaitu :

  1. Golongan yang melampaui batas atau berlebih-lebihan dalam mencintai Rasûlullâh        -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, sehingga kemudian mereka terjatuh dalam kebid’ahan atau bahkan kesyirikan; dimana mereka mensifati Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dengan sebagian sifat-sifat rububuyyah, atau memberikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebagian hak dari hak-hak uluhiyyah; yang semua itu merupakan kekhususan Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  2. Golongan yang tidak mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana mestinya; dimana mereka menelantarkan dan mengurangi hak-hak Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, lebih mendahulukan kecintaan kepada selain Beliau                    -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dibandingkan kecintaan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; sehingga kemudian mereka terjatuh dalam sekian banyak penyelisihan terhadap Syariat. 
  3. Golongan yang pertengahan (moderat) dalam mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Diamana mereka mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- secara proposional sesuai dengan tuntunan dan tuntutan dari Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya, dimana Mereka tidak menambahi dan tidak menguranginya, dan mereka adalah Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- dan orang-orang yang mengikuti jejak Mereka dengan baik.  

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

[Kitabut Tauhid 10] 29 Mencintai Allah 17

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Cinta kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah sesuatu yang mengharuskan untuk mencontoh dan bersikap sama dengan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam segala hal yang dicintai dan dibencinya, dan diwujudkannya dengan ittiba’ (meniru) Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; mencintai semua yang Beliau cintai dan membenci semua yang Beliau benci, ridha dengan semua yang Beliau ridhai dan marah terhadap semua yang Beliau marah padanya, serta mengamalkan semua tuntutan cinta dan benci tersebut dengan amal perbuatan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“