Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Seseorang tidak boleh berbangga dengan amal perbuatannya sendiri, apalagi berbangga dengan amal perbuatan ayah dan leluhurnya yang jelas-jelas bukan jerih payahnya.
- Standar kemuliaan sudah banyak berubah pada kebanyakan Kaum Muslimin, dimana mereka mengukur kemuliaan bukan lagi atas dasar ketaqwaan, tetapi mereka ganti dengan tata nilai yang mereka buat-buat sendiri dari berbagai macam simbol-simbol keunggulan duniawi. Perubahan tata nilai ini kemudian merubah orientasi dan tujuan hidup mereka, yang menyebabkan berbagai penyimpangan dalam berbagai lini kehidupan.
- Mengaku sebagai keturunan seseorang atau suatu kaum padahal tidak demikian, adalah bagian dari kedustaan yang sangat besar disisi Allâh -‘Azza wa Jalla-, dan pelakunya terancam tidak masuk Surga.
- Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kerap kali mengingatkan ummatnya, termasuk kerabatnya dan bahkan anaknya sendiri bahwa garis keturunan benar-benar tidak layak untuk dibanggakan.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“