[Kitabut Tauhid 10] 08 Menyandarkan Hujan Kepada Bintang 13

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah, adalah suka mencela keturunan orang lain. Perilaku ini merupakan salah satu dampak dari sikap saling berbangga dengan garis keturunan. Termasuk dalam prilaku ini adalah membebankan kesalahan orang tua kepada anak keturunannya, atau sebaliknya; juga mengaitkan keburukan akhlaq seseorang dengan garis keturunannya, padahal tidak ada keterkaitannya.
  2. Kalau ada seseorang yang tidak baik akhlaqnya, maka celalah keburukan akhlaqnya, dan jangan dikaitkan dengan sukunya atau marganya. Karena mencela suku atau marga berarti mencela nasab. Padahal mungkin saja dan bahkan sangat mungkin ada orang-orang yang senasab (sesuku atau semarga) dengannya yang lebih bertaqwa dan lebih mulia disisi Allâh -‘Azza wa Jalla- dibandingkan dengan si pencela. Kemuliaan seorang hamba disisi Allâh -‘Azza wa Jalla- semata-mata karena taqwanya; tidak ada kaitannya dengan suku, marga, berikut indentitas dan status duniawi lainnya.
  3. Mencela seorang Muslim merupakan kefasikan, dan memeranginya merupakan kekufuran. Seorang Mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukanlah orang yang banyak melaknat, bukanlah orang yang buruk akhlaqnya, dan bukan pula orang yang kotor ucapannnya. Kesombongan adalah sikap menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar