Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan

Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama

Hadits 1/1033

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)

Keterangan lafaz:

  • الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.
  • التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.

Kosakata hadits:

  • النِّدَاء: azan.
  • العَتَمَة: shalat Isya.

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan shaf pertama.
  2. Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.
  3. Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.
  4. Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.
  5. Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.
  6. Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).
  7. Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya.

Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat

Hadits 2/1034

عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.

Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387)

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.
  2. Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.
  3. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi.

Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara

Hadits 3/1035

 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,

“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”

Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88)

Kosakata Hadits

Madā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin.

Faedah Hadits

  1. Azan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.
  2. Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.
  3. Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.
  4. Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.
  5. Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.
  6. Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan.

Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat

Hadits 4/1036

ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim)

Faedah Hadits

  1. Shalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.
  2. Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.
  3. Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.
  4. Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.
  5. Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.
  6. Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.
  7. Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah.

Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi

Hadits 5/1037

 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim)

Hadits 6/1038

 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits 7/1039

 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

ALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.

‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

Hadits 8/1040

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.

Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.

‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim)

Faedah Hadits

1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:

2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.

3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.

4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.

5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Referensi:

  • Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  • Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—–

Kamis, 22 Muharram 1448 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42071-keutamaan-azan-dan-jawabannya-amalan-ringan-berpahala-besar.html

Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama menerangkan, dengan berpatokan pada hadits di atas, bahwa kezaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya yang akan membuatnya tidak bisa lagi menentukan arah/jalan yang akan dituju pada Hari Kiamat; atau bisa juga ia akan menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya. (Syarhu Shahih Muslim, 16/350; Tuhfatul Ahwadzi, “Kitab al-Birr wa Shilah an Rasulillah”, “Bab Ma Ja`a fiz Zhulum”)

Mungkin ada di antara kita yang masih bertanya-tanya: apa yang dimaksud dengan zalim?

Dalam bahasa Arab, zhalim bermakna ‘meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya’. Asal kata zhalim adalah ‘kejahatan, melampaui batas, dan tidak bersikap adil’. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits, “Bab azh-Zha’ ma’a al-Lam”)

Disadari atau tidak, kita sangat sering berbuat zalim, padahal ia bukanlah perkara yang remeh. Hukumnya haram dalam syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya. Dia Yang Mahasuci berfirman dalam hadits qudsi,

يَا عِبَادِيْ، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلاَ تَظَالَمُوْا 

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku mengharamkannya pula di antara kalian; maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, dalam artikel ini kita akan mencoba membahas seluk-beluk kezaliman. Semoga dapat menjadi peringatan yang bermanfaat.

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan tetaplah memberikan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (adz-Dzariyat: 55)

Beberapa Bentuk Kezaliman

Kezaliman memiliki beragam bentuk, di antaranya:

  1. Berbuat zalim kepada diri sendiri

Bentuknya ialah melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan. Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang perbuatan zalim yang semacam ini. Allah berfirman,

فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada (bulan yang empat[1]) itu.” (at-Taubah: 36)

  1. Kezaliman seseorang kepada saudaranya.

Jenis kezaliman ini bisa terjadi dengan tiga hal:

  • melanggar kehormatan saudaranya;
  • menyakiti tubuh saudaranya;
  • merampas harta saudaranya.

Semua ini telah diharamkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian telah diharamkan atas kalian (untuk ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar); sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. Mengubah syariat Allah

Mengganti (bongkar-pasang) syariat yang telah diturunkan dari atas langit, dengan aturan rendahan yang dibuat oleh manusia, adalah kezaliman yang terbesar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengancam orang-orang yang tidak mau berhukum dengan syariat-Nya,

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (al-Maidah: 45)

Mereka berbuat zalim karena telah menempatkan suatu perkara tidak pada tempat yang semestinya.

  1. Menzalimi hewan

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ

“Ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati. Wanita tersebut masuk neraka karenanya. Kucing itu tidak diberinya makanan, tidak diberinya minum, dan tidak pula dilepaskannya hingga ia bisa memakan serangga/hewan yang ada di tanah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Said bin Jubair rahimahullah berkata,

“Suatu ketika, saat aku sedang bersama Ibnu Umar radhiallahu anhuma, kami melewati anak-anak muda atau sekumpulan orang yang menancapkan seekor ayam betina sebagai sasaran bidikan anak panah yang dilemparkan.

Ketika anak-anak muda itu melihat Ibnu Umar, mereka bubar meninggalkan ayam tersebut. Ibnu Umar radhiallahu anhuma lantas berkata, “Siapa yang melakukan hal ini? Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti ini.” (HR. al-Bukhari)

  1. Membedakan manusia dalam penerapan hukum berdasarkan status sosialnya (nepotisme)

Perbuatan seperti ini sama artinya dengan membuat kerusakan di muka bumi. Sebab, hal ini akan menumbuhkan kecemburuan, kebencian, dan permusuhan di tengah masyarakat yang status sosialnya jelas berbeda-beda. Semua ini hanya akan menyebabkan kebinasaan, sebagaimana keadaan umat terdahulu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitakan,

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوْهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Perkara yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketidakadilan mereka. Apabila ada orang terpandang di kalangan mereka yang mencuri, mereka membiarkannya (tidak dihukum). Namun, jika yang mencuri adalah orang yang lemah, mereka menegakkan hukum had atasnya.” (HR. Ahmad, dinilai sahih dalam Shahihul Jami’ no. 2344)

Allah Mahasuci dari Berlaku Zalim

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zalim dan Dia mensucikan diri-Nya dari sifat tersebut.

وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِيدِ

“Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 182)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍۖ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah.” (an-Nisa: 40)

Dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku.” (HR. Muslim)

Berbuat Zalim Adalah Tabiat Manusia

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi kufur.” (Ibrahim: 34)

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Akan tetapi, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (al-Ahzab: 72)

Cukuplah dua ayat ini menjadi dalil bahwa manusia memiliki tabiat suka berbuat zalim. Karena itu, kita harus berusaha mencari obat dari tabiat tersebut. Bukankah Allah telah memerintah kita untuk membersihkan jiwa dari perkara yang mengotorinya?

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)

Penyucian jiwa dilakukan dengan memaksanya agar mau tunduk dan menerima manhaj/aturan Allah subhanahu wa ta’ala.

Cara Membersihkan Jiwa dari Berbuat Zalim

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh membersihkan jiwa mereka dari perbuatan rendahan, baik berupa kezaliman, sombong, hasad, maupun selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji akan menunjukkan jalan keselamatan bagi orang yang berbuat demikian (menyucikan jiwa) karena mengharapkan wajah-Nya.

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69)

Berikut ini beberapa perkara yang dapat membantu seseorang agar terhindar dari berbuat zalim:

  1. Bertakwa kepada Allah

Takwa merupakan wasiat Allah subhanahu wa ta’ala kepada seluruh hamba-Nya dari awal sampai yang akhir. Ia juga adalah asas agama ini. Dengan takwa, seorang hamba akan menahan diri dari melanggar batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu, hendaklah setiap jiwa berusaha merealisasikan takwa serta mengetahui keagungan dan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعًا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

Seseorang yang berbuat zalim, seandainya ia benar-benar mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana mestinya, niscaya ia akan menahan diri dan berhenti berbuat zalim.

  1. Tawadhu (rendah hati)

Dalam sabdanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan penekanan agar seseorang senantiasa bersikap tawadhu.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَبغِي أَحَدٌ عَلىَ أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepadaku (untuk menyampaikan) agar kalian bersikap tawadhu; hingga seseorang tidak akan berlaku zalim kepada orang lain dan tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain.” (HR. Muslim)

Tawadhu adalah obat kezaliman. Adapun kesombongan, ia merupakan pemicu seseorang untuk berbuat zalim. Seseorang bisa memperoleh sifat tawadhu dengan cara terus melatih dan membiasakan jiwanya agar bersikap tawadhu.

  1. Menjauhi sifat hasad

Sebab, hasad sendiri merupakan sebab kezaliman. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari berbuat hasad.

وَلاَ تَحَاسَدُوْا

“Dan janganlah kalian saling hasad.” (HR. Muslim)

  1. Menyemangati jiwa untuk meraih janji Allah untuk orang-orang yang berlaku adil

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah, pada hari yang tidak ada satu pun naungan kecuali naungan-Nya…”

Di antara tujuh golongan itu, disebutkan salah satunya,

إِمَامٌ عَادِلٌ

“Pemimpin yang adil.” (HR. Muslim)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ عَلىَ يَمِيْنِ الرَّحْمنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمْيِنٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang adil akan ditempatkan, di sisi Allah, di atas mimbar-mimbar cahaya di sebelah kanan tangan kanan ar-Rahman; dan kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim)

  1. Berdoa dengan tulus kepada Allah

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa, sebagaimana firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Rabb kalian telah berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian.’” (Ghafir: 60)

Maka dari itu, hendaklah seorang hamba senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya, agar dirinya dijauhkan dari perbuatan zalim.

Wallahu ta’ala a’lam bis-shawab.


Catatan Kaki

[1] Bulan-bulan haram ada empat, yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Pada bulan-bulan haram ini, seseorang dilarang melakukan peperangan.

Ditulis oleh Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

sumber : https://asysyariah.com/kezaliman-adalah-kegelapan-pada-hari-kiamat/

Jangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya

Kadang seseorang berniat baik, tetapi cara menyampaikannya kurang beradab. Kadang seseorang ingin memberi usulan, tetapi tanpa sadar mendahului keputusan syariat. Kisah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam peristiwa Bani Tamim mengajarkan bahwa orang beriman harus mendahulukan wahyu, menjaga adab, dan menahan ego di hadapan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)

Maksud ayat ini adalah janganlah seorang mukmin mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, perbuatan, keputusan, dan sikap. Seorang hamba tidak boleh menetapkan sesuatu dalam agama sebelum mengetahui petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ia juga tidak boleh menjadikan pendapat, perasaan, tradisi, atau semangat pribadinya lebih didahulukan daripada wahyu.

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya, Allah mendengar ucapan kita dan mengetahui perbuatan kita. Maka, adab kepada syariat bukan hanya tampak dalam tindakan lahir, tetapi juga dalam cara bicara, niat, dan sikap hati.

Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani Tamim

Maksud kisah Al-Aqra’ bin Habis dalam sebab turunnya ayat ini adalah kisah kedatangan rombongan Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar yang diangkat menjadi pemimpin mereka adalah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad. Adapun Umar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan Al-Aqra’ bin Habis. Keduanya lalu berdiskusi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga suara mereka meninggi.

Disebutkan dalam riwayat,

قَدِمَ رَكْبٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَمِّرِ الْقَعْقَاعَ بْنَ مَعْبَدٍ، وَقَالَ عُمَرُ: بَلْ أَمِّرِ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ، فَتَمَارَيَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا، فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى انْقَضَتِ الْآيَةُ.

“Datanglah satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar berkata, ‘Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.’ Umar berkata, ‘Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.’ Abu Bakar berkata, ‘Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bermaksud menyelisihimu.’ Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat tentang hal itu: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,’ sampai selesai ayat.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa dua sahabat mulia pun diberi arahan oleh Allah ketika terjadi sesuatu yang kurang tepat dalam adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bukan sedang membangkang, bukan pula ingin menyelisihi wahyu. Namun, syariat mengajarkan bahwa niat baik tetap harus dibingkai dengan adab.

Bab: Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar kebanyakan mereka tidak mengerti.”

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepada mereka:

Bahwasanya datang satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakar berkata, “Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.”

Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis sebagai pemimpin.”

Abu Bakar berkata, “Tidaklah engkau menginginkan kecuali menyelisihiku.”

Umar berkata, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.”

Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi.

Maka turunlah ayat tentang peristiwa itu:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,”

hingga selesai ayat tersebut. (HR. Bukhari, no. 4566)

Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang Dicela

Perlu dipahami, kisah ini bukan celaan kepada Al-Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namanya muncul karena beliau menjadi salah satu orang yang diusulkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi pemimpin rombongan Bani Tamim.

Jadi, inti kisah ini bukan pada kesalahan Al-Aqra’ bin Habis. Inti pelajarannya adalah adab Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sama-sama memiliki maksud baik, tetapi Allah mengajarkan kepada kaum beriman agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, keputusan, dan sikap.

Jangan Mendahului Wahyu dengan Pendapat

Ayat ini menjadi kaidah besar dalam kehidupan seorang muslim. Pendapat boleh disampaikan, musyawarah boleh dilakukan, dan ijtihad boleh ditempuh oleh ahlinya. Namun, semua itu tidak boleh mendahului wahyu.

Jika telah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seorang mukmin tidak patut berkata, “Menurut saya lebih baik begini.” Ia harus tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya. Karena iman bukan hanya mengakui kebenaran, tetapi juga menerima, tunduk, dan tidak keberatan terhadap ketetapan syariat.

Pelajaran untuk Individu

Pertama, jangan terburu-buru berbicara sebelum ilmu jelas. Seorang mukmin belajar menahan lisan sebelum memastikan mana yang benar.

Kedua, niat baik tetap perlu adab. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sama-sama ingin kebaikan, tetapi tetap diberi arahan ketika adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang sempurna.

Ketiga, orang mulia pun bisa keliru. Kesalahan tidak menjatuhkan kemuliaan seseorang jika ia menerima teguran syariat.

Keempat, perbedaan pendapat jangan berubah menjadi ego pribadi. Awalnya hanya usulan, tetapi bisa terasa seperti saling menyelisihi jika hati tidak dijaga.

Kelima, yang utama bukan menang pendapat, tetapi tunduk pada wahyu. Mukmin tidak mencari kemenangan debat, tetapi mencari ridha Allah.

Pelajaran untuk Keluarga

Pertama, suami-istri jangan mudah meninggikan suara saat berbeda pendapat. Banyak konflik keluarga membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena nada bicara yang tidak dijaga.

Kedua, musyawarah keluarga harus dibingkai dengan takwa. Keputusan rumah tangga bukan sekadar “menurut saya”, tetapi “mana yang paling diridhai Allah”.

Ketiga, jangan mendahului hukum Allah demi perasaan keluarga. Cinta kepada pasangan, anak, atau orang tua tidak boleh membuat kita menabrak syariat.

Keempat, saat berbeda pendapat, jaga prasangka. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sempat berkata, “Engkau hanya ingin menyelisihiku.” Ini menjadi pelajaran agar kita tidak cepat membaca niat buruk orang dekat.

Kelima, keluarga yang baik bukan keluarga tanpa beda pendapat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang cepat kembali kepada adab, ilmu, dan ketakwaan.

Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan Guru

Pertama, jaga adab bicara di hadapan ulama. Jika kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja para sahabat diajarkan adab, maka kepada pewaris ilmu Nabi pun kita harus menjaga sikap.

Kedua, jangan mendahului guru dalam majelis ilmu. Jangan memotong pembicaraan, jangan tergesa membantah, dan jangan merasa paling tahu.

Ketiga, bertanya boleh, mengusulkan boleh, tetapi dengan tawadhu. Adab tidak mematikan nalar, tetapi mengarahkan nalar agar tetap sopan.

Keempat, jangan menjadikan majelis ilmu sebagai arena debat. Ilmu dicari untuk tunduk kepada Allah, bukan untuk mengalahkan orang lain.

Kelima, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan adabnya. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan, bukan kesombongan.

Pelajaran dalam Menjalani Sunnah Nabi

Pertama, sunnah harus didahulukan atas selera, kebiasaan, dan pendapat pribadi. Jangan berkata, “Menurut saya lebih cocok begini,” jika sudah jelas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, tidak boleh membuat keputusan agama sebelum tahu dalilnya. Inilah makna tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, menghidupkan sunnah perlu ketundukan, bukan sekadar semangat. Semangat tanpa ilmu bisa membuat seseorang melampaui batas.

Keempat, adab adalah bagian dari sunnah. Mengikuti Nabi bukan hanya dalam ibadah lahiriah, tetapi juga dalam cara bicara, bersikap, dan berbeda pendapat.

Kelima, orang yang cinta sunnah harus paling mudah menerima koreksi. Karena ukuran kebenaran bukan dirinya, tetapi wahyu.

Jangan Jadikan Agama Mengikuti Selera

Di zaman ini, banyak orang mudah berkomentar tentang agama sebelum belajar. Ada yang mendahulukan perasaan, ada yang mendahulukan adat, ada pula yang mendahulukan opini tokoh, kelompok, atau pengalaman pribadi. Padahal, sikap seorang mukmin adalah bertanya dahulu, mencari dalil dahulu, lalu tunduk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Agama bukan mengikuti selera manusia. Agama adalah wahyu yang menuntun manusia. Jika selera kita bertentangan dengan syariat, maka selera itulah yang harus dikoreksi, bukan syariat yang dipaksa mengikuti keinginan kita.

Kesimpulan

Kisah ini mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh mendahului wahyu dengan pendapat, ego, perasaan, tradisi, atau semangat pribadi. Dalam hidup pribadi, keluarga, majelis ilmu, dan dakwah sunnah, kunci selamat adalah ilmu, adab, takwa, dan tunduk kepada Allah serta Rasul-Nya.

Orang yang benar-benar beriman akan berhenti ketika dalil telah jelas. Ia tidak menjadikan pendapatnya lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia sadar bahwa keselamatan ada pada mengikuti wahyu, bukan pada memenangkan ego.

Nasihat Terakhir

Hari ini banyak konflik muncul karena manusia ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar tuntunan Allah. Banyak keluarga retak karena suara meninggi, prasangka membesar, dan syariat tidak lagi dijadikan hakim. Banyak majelis ilmu menjadi panas karena debat, bukan karena keikhlasan mencari kebenaran. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beradab, tunduk kepada wahyu, dan mudah menerima nasihat.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa, wahab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”

—-

Selesai ditulis di perjalanan menuju Sekar Kedhaton dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 24 Muharram 1448 H, 8 Juli 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42452-jangan-mendahului-allah-dan-rasul-nya.html

Syarhus Sunnah: Kubur Jadi Sempit dan Pertanyaan di Alam Kubur

Masih melanjutkan pembahasan Syarhus Sunnah karya Imam Al-Muzani rahimahullah. Kali ini tentang pembahasan Alam Kubur.

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

ثُمَّ هُمْ بَعْدَ الضَّغْطَةِ فِي القُبُوْرِ مُسَاءَلُوْنَ

“Kemudian mereka setelah dihimpit dalam kubur akan ditanya.”

Kubur yang sempit

Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadis menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu , padahal kematiannya membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

“Inilah yang membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah. Lihat Misykah Al-Mashabih 1:49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695)

Dalam hadits dalam musnad Imam Ahmad disebutkan,

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

“Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).

‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ

“Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, no. 5306)

Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil tidak selamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ.

“Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini.” (HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, 5:56)

Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata, bahwa Abu Al-Qasim As-Sa’di berkata, “Tidak ada yang selamat dari penyempitan kubur, baik seorang yang saleh atau yang tidak saleh. Cuma perbedaan antara seorang muslim dengan seorang kafir di dalamnya adalah penyempitan yang terus menerus untuk seorang kafir. Adapun orang beriman mendapat keadaan seperti ini ketika pertama-tama turun ke dalam kuburnya, kemudian dikembalikan menjadi lapang untuknya. Dan maksud dari pernyempitan kubur adalah bertemunya dua sisi samping kubur tersebut menyempitkan jasad si mayit.” Al-Hakim At-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya. Demikian pula penyempitan untuk Sa’ad bin Mu’adz lantaran meremehkan masalah kencing.” Lihat kitab Hasyiyat As-Suyuthi wa As-Sindi ‘ala Sunan An-Nasa’i, 3:292. Maktabah Syamilah.

Ditanya di kubur

Allah Ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut.

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ)

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699)

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan,

فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ

“Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ : هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . فَيَقُولانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : نَمْ ، فَيَقُولُ : أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ ، فَيَقُولَانِ : نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لا يُوقِظُهُ إِلا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ.

وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ : سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لا أَدْرِي . فَيَقُولَانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ ، فَيُقَالُ لِلأَرْضِ : الْتَئِمِي عَلَيْهِ ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ ، فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلاعُهُ ، فَلا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

“Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Munkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata, “Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)?” Maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia, “Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata, “Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu.” Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, dan dikatakan, “Tidurlah.” Dia menjawab, “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku.” Keduanya berkata, “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut.”

Apabila yang meninggal adalah orang munafik, ia menjawab, “Aku mendengar orang mengatakan aku pun mengikutinya dan saya tidak tahu.” Keduanya berkata, “Kami berdua sudah mengetahui bahwa kamu dahulu mengatakan itu.” Dikatakan kepada bumi, “Himpitlah dia, maka dihimpitlah jenazah tersebut sampai tulang rusuknya berserakan, dan ia akan selalu merasakan azab sampai Allah bangkitkan dari tempat tidurnya tersebut.” (HR. Tirmidzi, no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Orang yang kuat imannya yang bisa menjawab pertanyaan kubur

Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut.

Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612)

Referensi:

  1. Iidhah Syarh As-Sunnah li Al-Muzani.Cetakan Tahun 1439 H. Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar Salim Bazmul. Penerbit Darul Mirats An-Nabawiy.
  2. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
  3. Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net.

Disusun sore hari saat perjalanan Panggang-Jogja, 17 Muharram 1441 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/21707-syarhus-sunnah-kubur-jadi-sempit-dan-pertanyaan-di-alam-kubur.html

Menjadi Ayah Teladan

Menjadi seorang suami atau ayah berarti mengemban tanggung jawab yang besar dan mulia. Sebagai seorang Kepala Rumah Tangga (kami mempersingkat sebutannya dalam artikel ini menjadi ‘Ayah’), peran utamanya sangat berpengaruh pada kebahagiaan atau kesengsaraan keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Kebahagiaan dan kesengsaraan di sini bukan hanya dari sisi duniawi, tetapi juga dari aspek ukhrawi di mana seorang Ayah dapat membawa rumah tangganya sebagai ladang dakwah untuk dibawa ke surga atau sebaliknya.

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Apabila kita telusuri lebih dalam, pertanggungjawaban seorang Ayah itu merupakan sesuatu yang mutlak untuk ditunaikan. Karena sebagai pemimpin, ia akan mempertanggungjawabkan keluarga yang ia pimpin di hadapan Allah Ta’ala kelak. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Seorang Ayah bukan hanya tentang menjadi pemimpin yang tegas, tetapi juga bagaimana ia mampu menunjukkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Karena, tidak sedikit orang yang di luar rumah terkenal dengan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaannya kepada orang lain, tetapi di rumahnya ia menjadi seseorang yang menakutkan dengan emosi dan amarahnya yang tak mampu ia kendalikan, serta kata-kata kasar yang selalu menyakiti hati istri dan anak-anaknya.

Bagaimana mungkin kita bermimpi menjadi seorang pemimpin teladan di tengah-tengah masyarakat, sementara kepemimpinan dan kebijaksanaan dalam membina rumah tangga saja kita masih belum tuntas.

Kadangkala, banyak Ayah yang enggan untuk terlebih dahulu introspeksi diri tatkala dihadapkan pada sebuah permasalahan rumah tangga. Telunjuk untuk menyalahkan mengarah pada istri ataupun anak yang dianggap tidak memahami dirinya. Padahal, kendali sepenuhnya ada pada seorang Ayah. Bagaimana ia bersikap dan merespon kontak dengan istri ataupun anak-anaknya, maka seperti itu pula pantulan sikap yang ia terima.

Oleh karenanya, siapa pun kita, sebagai seorang Ayah, tak ada kata terlambat untuk memulai dari awal. Menjadi seorang teladan dalam rumah tangga, menjadikan role model Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tolok ukur sikap dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan rumah tangga. Sehingga, ikhtiar kita untuk mempertanggungjawabkan ketakwaan keluarga kita kepada Allah Ta’ala telah maksimal kita tunaikan.

Maka, mari kita mulai dengan menginternalisasikan beberapa sifat dan karakter berikut untuk menjadi seorang Ayah teladan.

Teladan ketaatan

Menjadi teladan dalam ketaatan kepada Allah ﷻ adalah salah satu peran utama seorang Ayah. Mulai dari teladan dalam ketaatan menjalankan perintah Allah yang fundamental seperti salat, puasa, zakat, dan haji, serta ibadah-ibadah nawafil hingga menjadi teladan dalam menjaga keimanan dan kehormatan dari segala bentuk perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Seorang Ayah yang taat dalam menjalankan ibadah, mengajak keluarga untuk salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, dan mengamalkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Keteladanan ini akan membentuk keluarga yang kokoh dalam iman dan takwa dan menjadi bagian dari jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berhias diri

Menjaga penampilan adalah salah satu tanggung jawab penting bagi seorang Ayah. Adalah ironi, ketika kita hendak keluar rumah untuk mencari nafkah misalnya, kita menggunakan pakaian yang bagus, parfum yang wangi, badan yang bersih, dan tutur kata yang indah. Sementara ketika di dalam rumah, kita memaksakan anggota keluarga kita untuk memaklumi bahwa kita memang orang yang tidak pandai berhias diri, jorok, kotor, dan bau. Lantas, kita pun memaksa istri kita untuk menyambut kita dengan perhiasan terbaiknya?

Ingat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan umatnya untuk berhias, terutama di hadapan keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no. 91)

Berhias diri bukan hanya tentang penampilan fisik, tetapi juga menjaga kebersihan dan kerapian. Seorang Ayah yang menjaga kebersihan diri dan berpenampilan rapi akan memberikan kesan baik kepada istri dan anak-anaknya, serta mencerminkan kepeduliannya terhadap keluarga. Bahkan, dalam hal-hal kecil seperti tidak kentut sembarangan di rumah, hal ini menunjukkan rasa hormat dan menjaga keharmonisan keluarga.

Menjaga wibawa

Menjaga wibawa sebagai seorang Ayah sangat penting agar tetap dihormati oleh istri dan anak-anak. Hal ini bisa dicapai dengan tidak hanya bersikap tegas tetapi juga adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Banyak yang salah kaprah bahwa kewibawaan itu ditunjukkan dengan nada suara yang keras dan tinggi atau marah dengan meluap-luap tatkala menghadapi sesuatu yang tidak disukai. Padahal, kewibawaan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mencontohkan kelemahlembutan kepada istri, bahkan dalam situasi yang memancing amarahnya.

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

Maka, pahamilah bahwa wibawa seorang Ayah bukan berarti bersikap otoriter, melainkan menunjukkan integritas, ketulusan, dan ketaatan kepada Allah Ta’ala dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil. Ingat, tolak ukur kita adalah teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seorang pemimpin dunia dan manusia mulia yang sangat lembut dengan keluarganya.

Penolong

Seorang Ayah idaman adalah yang siap membantu istri dalam berbagai urusan rumah tangga. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini. Dalam sebuah hadis, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

“Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membantu istrinya dalam perkerjaan rumah tangga, dan jika tiba waktu salat, maka beliau pun pergi salat.” (HR. Bukhari)

Membantu istri dalam pekerjaan rumah tangga bukan hanya menunjukkan rasa cinta dan penghormatan, tetapi juga mendidik anak-anak untuk saling membantu dan menghargai kerja keras satu sama lain.

Sadarilah hal-hal kecil dalam rumah. Seperti saat weekend, misalnya, buatlah list khusus untuk mengerjakan kebersihan rumah, menyapu, mengepel, membersihkan kaca, menjemur, menyetrika pakaian, dan memasak.

Kadangkala, jika ditimbang-timbang, bisa jadi pekerjaan yang dilakukan seorang istri di rumah secara fisik bisa lebih besar dari yang dilakukan oleh suaminya di luar sana. Renungkanlah pekerjaan istri, mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci, hingga mengurus anak-anak. Konon pula, seorang istri yang juga sebagai pekerja. Mengerjakan fungsi ganda, sebagai seorang istri dan sebagai seorang pencari nafkah. Tidak layakkah ia mendapatkan perlakuan terbaik dari kita?

Pendidik

Ayah juga berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan haruslah berdasarkan ajaran syariat yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari pendidikan saat mereka berada dalam kandungan, masa kanak-kanak hingga balig. Peran Ayah sangat berarti dalam pendidikan anak, ia bisa mempengaruhi arah kehidupan dan ketaatan anak-anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jadilah pendidik terbaik! Pendidikan yang baik bukan hanya tentang ilmu dunia, tetapi juga tentang akhlak, adab, dan nilai-nilai Islami. Seorang Ayah harus aktif dalam mengajarkan anak-anak tentang Islam, baik melalui pengajaran langsung maupun dengan memberikan contoh dalam perilaku sehari-hari.

Perhatikan tontonan, bacaan, dan pergaulan lingkungan anak-anak. Lingkungan juga memiliki andil besar dalam pembentukan karakternya. Mohonlah kepada Allah Ta’ala kekuatan untuk menjadi seorang Ayah yang dapat memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita.

Pengasuh

Tugas Ayah bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga mengasuh anak-anak dengan penuh kasih sayang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan betapa pentingnya peran seorang ayah dalam pengasuhan anak. Beliau sangat menyayangi anak-anak dan cucu-cucunya, serta selalu memberikan perhatian khusus kepada mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengasuhan yang baik dapat diberikan dengan meluangkan waktu yang cukup untuk bermain, berbicara, dan mendengarkan anak-anak. Seorang ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak akan menciptakan ikatan emosional yang kuat dan membantu perkembangan emosional serta mental anak-anaknya. Selain itu, kedekatan Ayah dengan anak-anak akan lebih memudahkannya untuk mengarahkan mereka kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjadikan mereka patuh untuk tidak melanggar batasan-batasan syariat.

Saudaraku, menjadi Ayah Teladan adalah sebuah tugas yang membutuhkan komitmen, kasih sayang, dan keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan. Seorang Ayah yang  menjadi teladan ketaatan, mampu berhias diri, menjaga wibawa, membantu istri, mendidik sesuai dengan ketentuan syariat, dan mengasuh dengan penuh kasih sayang akan menciptakan keluarga yang harmonis dan diridai oleh Allah Ta’ala.

Teladanilah sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mudah-mudahan kita dapat menjadi pemimpin keluarga yang dicintai dan dihormati, serta mampu membimbing keluarga menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wallahu A’lam

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/95899-menjadi-ayah-teladan.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit Nifaq

Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang munafik, dimana orang-orang munafik ingin keluar berperang bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka di medan perang. Maka Allah pun jadikan mereka berat hati untuk berangkat ke medan perang. Lalu dikatakan kepada mereka: “duduklah bersama orang-orang yang duduk”. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”” (QS. At Taubah: 46). Tentu ini menjadi sebuah renungan buat kita. Kenapa demikian? Karena ketika seseorang dijadikan hatinya berat untuk melakukan sebuah ketaatan, berarti di dalam hatinya ada kemunafikan. Orang-orang munafik berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan. Seperti yang Allah sebutkan dalam ayat ini, Allah jadikan orang-orang munafik berat untuk melakukan suatu ketaatan yaitu jihad fi sabilillah.

Orang munafik juga berat untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat berjamaah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Shalat yang paling berat untuk orang munafik adalah shalat isya dan shalat fajar” (HR. Ibnu Majah no.656, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Bahkan orang munafik menganggap bahwa semua shalat berjamaah itu berat, akan tetapi yang paling berat adalah shalat isya dan shalat fajar. Dijadikan hati mereka berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan.

Sekali lagi ini menjadi renungan buat kita, apakah selama ini kita dijadikan berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan? Apakah kita ini dijadikan malas untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan? Inilah tentunya yang kita khawatirkan wahai saudaraku…

Kita tentu tidak ingin kita termasuk orang-orang yang tidak diinginkan Allah untuk berbuat kebaikan, lalu Allah jadikan hati kita berat untuk mengamalkan kebaikan, akhirnya kita pun menjadi orang-orang yang terhempas oleh penyakit kemunafikan. Subhaanallah…

Oleh karena itu tidak ada jalan lain kecuali kita terus berusaha menjadikan hati kita bersemangat untuk melakukan ketaatan. Bagaimana caranya?

Pertama, kita berdoa kepada Allah agar memberikan kepada kita semangat dalam keataatan. Diantara doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam : /allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal mungkaroot wa hubbal masaakin wa an taghfiro lii wa tarhama nii wa tatuuba ‘alaiyya/ (Ya Allah aku minta kepada engkau, agar aku bisa melakukan kebaikan, dan agar aku bisa meninggalkan kemaksiatan, dan berikan aku rasa cinta kepada orang-orang miskin, dan semoga Engkau mengampuni aku, merahmati aku dan menerima taubatku). (HR. At Tirmidzi no. 3235, ia berkata: “hasan shahih”).

Seorang mukmin dia tidak ingin mendapati dirinya malas melakukan ketaatan. Maka ia pun minta kepada Allah agar ditolong dalam melakukan ketaatan.

Kedua, kemudian seorang mukmin juga berusaha mengambil sebab-sebab yang membuatnya bersemangat dalam ketaatan. Misalnya dengan membaca mengenai keutamaan amalan-amalan, yaitu bagaimana Allah akan memberikan pahala yang besar yang berupa kebahagiaan di akhirat, bagaimana Allah menyediakan pahala yang besar berupa surga, sehingga ketika membaca hal itu seorang mukmin menjadi bersemangat untuk beramal shalih.

Ketiga, seorang mukmin juga berusaha agar ia tetap bersemangat ketika sedang melaksanakan ketaatan tersebut. Ia berusaha untuk berteman dengan orang-orang shalih. Ia berusaha untuk senantiasa menjadi orang yang kuat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan bertemankan orang-orang shalih. Ketika ia melihat teman-teman shalihnya tersebut berlomba-lomba dalam kebaikan, maka akan ada dorongan dalam hati kita untuk juga ikut berlomba-lomba bersama mereka dalam kebaikan. Itulah teman yang shalih, teman yang shalih memberikan kita kekuatan dalam Islam wahai akhol Islaam.

Allah menjadikan hati seseorang berat melakukan ketaatan bisa dikarena maksiat yang ada di dalam hatinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menyebutkan beberapa akibat buruk dari dosa beliau menyebutkan di antaranya adalah dosa menjadikan hamba berat melakukan ketaatan. Sehingga dosa itu menjadikan dia malas beramal shalih, menjadikan hatinya hitam kelam, akhirnya cahaya iman yang memberikan semangat berbuat ketaatan akan redup sedikit-demi-sedikit.

Demikian pula orang munafik, akibat dosa-dosa yang ada dalam hati mereka, berupa keraguan kepada Allah dan Rasul-Nya, akhirnya Allah jadikan mereka berat melakukan ketaatan demi ketaatan. Allah jadikan mereka berat hatinya untuk mengamalkan kebaikan. Karena itu wahai saudaraku, mari kita tinggalkan maksiat, segera kita tinggalkan maksiat. Karena maksiat menjadikan hati kita berat untuk mengamalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seseorang akibat perbuatan maksiatnya, seringkali membuat ia tidak mampu untuk shalat tahajud, berat hatinya untuk bangun di waktu malam. Seseorang akibat perbuatan maksiatnya, lisannya kelu untuk berdzikir kepada Allah. Bahkan hatinya tak merasakan lagi kenikmatan di saat ia mengucapkan “Subhaanallah, walhamdulillah, laailaaha illallah, allahu akbar”. Hatinya tak bergetar ketika disebutkan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal ciri seorang mukmin disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al Anfal: 2). Tapi akibat maksiat, ketika kita menyebut nama Allah, hati kita tidak merasakan takut kepada Allah. Akibat maksiat, ketika mendengar ayat-ayat Allah bertambahlah keimanan kita. Bahkan terkadang kita merasa gersang ketika mendengarkan ayat-ayatnya. Kita khawatir termasuk orang-orang yang tidak diinginkan oleh Allah untuk berbuat kebaikan.

Wallahi ayat ini membuat kita merinding dan takut sekali. Maka jangan sampai kita termasuk orang-orang yang tidak diinginkan oleh Allah untuk berbuat kebaikan. Padahal diantara tanda bahwa seseorang itu diinginkan oleh Allah kebaikan padanya adalah dijadikan ia semangat berbuat ketaatan. Ia pun semangat untuk menuntut ilmu Allah sebagai sumber dari amalan shalih. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah jadikan ia faqih dalam agama” (HR. Bukhari – Muslim). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, berarti orang yang tidak diinginkan kebaikan oleh Allah dalam agama tandanya adalah ia malas untuk menuntut ilmu agama, dijadikan hatinya berat. Sehingga untuk berjalan kaki menuju ke majelis-majelis ilmu, ia merasa berat hatinya.

Maka akhol Islam, kita mohon kepada Allah agar Allah memberikan kita kekuatan untuk senantiasa berbuat ketaatan, kita memohon kepada Allah agar termasuk orang-orang yang semangat berlomba-lomba dalam kebaikan.

***

Ust. Badrusalam Lc. dari ceramah berjudul “Bagaimanakah Ketaatan Kita Kepada Allah?” di Yufid.tv

Sumber: https://muslim.or.id/27774-malas-melakukan-ketaatan-tanda-penyakit-nifaq.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

[Kitabut Tauhid 10] 18 Mencintai Allah 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Cinta ada 4 macam : [1] al-hubbu ilallaah (cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), [2] al-hubbu fillaah (cinta karena Allâh -‘Azza wa Jalla-), [3] al-hubbu ma’allaah (cinta kepada yang dijadikan tandingan bagi Allâh -‘Azza wa Jalla-sebagaimana atau bahkan melibihi cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), [4] al-mahabbah ath-thabii’ah (cinta yang sudah menjadi naluri manusia terhadap hal-hal yang disenangi dan dirasa cocok oleh jiwanya).
  • Keempat jenis cinta tersebut bisa dirangkum menjadi 2 macam : [1] mahabbah khaashah (cinta khusus) atau mahabbah ‘ibaadah (cinta ibadah), yaitu cinta yang dibangun di atas dasar dan berkonsekuensi pengagungan dan perendahan diri kepada dzat yang dicintai, cinta jenis ini wajib diberikan dan hanya boleh diberikan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, jika diberikan kepada Aselain-Nya maka tergolong kesyirikan dan kekufuran; kemudian [2] mahabbah musytarikan (cinta yang terbagi-bagi) atau mahabbah ghairu ‘ibadah (bukan cinta ibadah), yaitu cinta yang tidak berkonsekuensi pengagungan dan perendahan diri kepada dzat yang dicintai, hukum asalnya mubah, selama tidak didahulukan dari kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan tidak menjerumuskan kepada kemaksiatan, dan bisa bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. 
  • Cinta juga bisa dibagi menjadi yang bermanfaat dan yang bermudharat. Yang bermanfaat ada 3 macam : [1] cinta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, [2] cinta di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla- (cinta karena Allâh -‘Azza wa Jalla-), dan [3] cinta yang menolong untuk taat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan meninggalkan kemaksiatan terhadap-Nya. Sedangkan yang memudaratkan juga ada 3 macam, yaitu : [1] cinta (terhadap tandingan) Allâh -‘Azza wa Jalla-, [2] cinta terhadap hal-hal yang dibenci oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, [3] cinta yang memutuskan kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“