Menjadi Muslimah Tangguh di Era Disrupsi

Era disrupsi adalah periode perubahan masif di mana inovasi teknologi digital masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan, menciptakan efek disrupsi kuat yang menggantikan sistem, struktur, dan tatanan lama dengan cara-cara baru yang lebih efisien.

Kita melihat bagaimana teknologi berkembang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya kecerdasan buatan (AI) yang begitu canggih, internet yang mempengaruhi dan mengubah hampir setiap aspek kehidupan; menimbulkan perubahan yang begitu cepat dan menuntut kita beradaptasi dengan sigap.

Kendati demikian, beradaptasi bukanlah berarti menanggalkan prinsip hidup sebagai seorang muslim. Karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlak dan absolut tanpa negosiasi.

Lantas, bagaimana kiat agar tetap kokoh dan tangguh pada prinsip-prinsip keislaman di zaman modern ini?

Bersemangat menuntut ilmu

Di era digital saat ini, informasi dan ilmu pengetahuan membanjir dan dapat diakses dengan begitu mudah. Sayangnya, tidak semua informasi dan ilmu yang beredar itu benar, bahkan banyak yang berisi pemahaman keliru dan bertentangan dengan fakta. Di sinilah pentingnya kurasi dan verifikasi. Dan keduanya tidak dapat terealisasi jika kita tidak memiliki ilmu yang memadai.

Dengan kemajuan yang diselimuti oleh berbagai kekeliruan dan keburukan, wajib bagi seorang muslim yang menginginkan kebaikan untuk dirinya agar membentengi diri sendiri dan keluarga dengan benteng ilmu yang kuat, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah dengan pemahaman salafus shalih. Karena merekalah yang mendapatkan jaminan keimanan yang benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ ءَامَنُوا۟ بِمِثْلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهْتَدَوا

“Jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Dan tidaklah ilmu didapat kecuali dengan semangat dan perjuangan yang maksimal, sebagaimana para ulama mengatakan,

‎العلم إذا أعطيته كلك أعطاك بعضه، وإذا أعطيته بعضك لم يعطك شيئاً

“Ilmu itu: Jika engkau memberikannya seluruh upayamu sepanjang hidup, dia akan memberimu sebagiannya. Dan jika engkau hanya memberikan sebagian, ia tidak akan memberimu sedikit pun.”

Dalam mempelajari ilmu agama, hendaklah seseorang memulai dengan perkara yang paling penting dalam merealisasikan penghambaannya kepada Allah Ta’ala. Dikatakan dalam sebuah sya’ir,

ما حوى العلم جميعاً أحد لا ولو مارسه ألف سنة 

“Tidaklah seseorang mampu menjangkau seluruh ilmu, walaupun ia tekun seribu tahun lamanya.”

إنما العلمُ كبحرٍ زاخرٍ فاتخذ من كل شيءٍ أحسنه

“Ilmu itu seperti lautan luas tak bertepi, maka ambillah yang paling penting dari setiap cabangnya.”

Guru kami, Syekhah Dr. Barakah binti Mudhaif Ath-Thalhi hafizhahallah berpesan untuk senantiasa memperkuat pondasi keilmuan. Dimulai dengan menghafalkan Al-Qur’an, kemudian mempelajari kitab-kitab akidah seperti Tsalatsah Al-Ushul, Qawa’id Al-Arba’, Al-Ushul As-Sittah, Kitab At-Tauhid, dan Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah. Lalu mempelajari kitab-kitab tafsir seperti At-Tafsir Al-Muyassar, Tafsir As-Sa’di, dan Tafsir Ibnu Katsir. Juga mempelajari kitab-kitab hadis seperti Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Riyadush Shalihin, Umdatul Ahkam, Al-Lu’lu wal Marjan, dan Kutub As-Sittah. Selain itu juga mempelajari kitab-kitab fikih seperti Umdatul Ahkam dan Al-Mulakhash Al-Fiqhi karya Syekh Shalih Fauzan. Adapun kitab-kitab raqaiq (kitab-kitab nasihat dan tazkiyatun nufus) sungguh sangat banyak. Yang terpenting adalah kitab-kitab yang telah disebutkan di atas.

Kontinu dalam berbuat kebaikan

Membiasakan diri untuk berbuat baik dapat mendatangkan kebaikan yang banyak dan mencegah terjadinya kemungkaran. Oleh sebab itu, Allah berfirman mengenai salat,

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Awalnya, mungkin akan terasa berat; menjaga salat wajib yang lima untuk dilakukan di awal waktu, merutinkan ibadah-ibadah sunah walaupun sedikit, serta bersabar dan berbuat baik dalam muamalah sehari-hari.

Namun yakinlah, sesuatu yang sukar akan menjadi ringan untuk dilakukan jika dibiasakan. Dan Allah akan memudahkan niat-niat baik hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ

“Sesungguhnya ilmu hanya didapatkan dengan mempelajarinya dan sikap bijak didapatkan dengan terbiasa melakukannya. Barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan, maka dia akan diberikan kebaikan tersebut. Dan barang siapa yang berusaha untuk menjauhi keburukan, maka ia akan dilindungi dari keburukan tersebut.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 2663)

Ketahuilah bahwa ibadah yang paling dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah ibadah yang dilakukan secara kontinu, walaupun sedikit. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)

Berteman dengan orang-orang saleh

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara naluriah tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan interaksi kepada sesama untuk bertahan dalam kehidupan. Hanya saja, selektif dalam memilih orang-orang terdekat patut untuk dilakukan. Hal ini karena tabiat manusia adalah bagaikan sekawanan burung merpati yang cenderung saling mengikuti satu sama lain.

Oleh karena itu, pilah pilihlah dalam berteman. Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang dapat membantumu lebih dekat dengan Rabb-mu, yang mendorongmu untuk meraih hal-hal yang mulia dan menjauhkanmu dari kehinaan. Karena sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎الرجلُ على دينِ خليلِه

“Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833)

Demikian beberapa kiat yang dapat penulis sampaikan. Kita memohon kepada Allah keteguhan di atas agama-Nya hingga datang ketetapan-Nya (ajal). Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Webinar Membangun Kekuatan Mental Anak di Era Disrupsi, dr. Aisah Dahlan, CCHt., CM. NLP., CI.
  • Al-’Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2024. Syarah Hilyah Thalibil ‘Ilmi. (Mohammad Faris, S.S., edisi terjemahan). Jakarta: Penerbit Griya Ilmu.
  • Al-Wadi’iyyah, Ummu ‘Abdillah. 2005. Nashihati Lin Nisa’. Shan’a: Darul Atsar.

Sumber: https://muslimah.or.id/34043-menjadi-muslimah-tangguh-di-era-disrupsi.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Shalat Dengan Darah Di Baju

Ada yang bertanya jika punya luka walaupun kecil kemudian menempel sedikit di baju, bagaimana kita shalat? Apakah darah yang menempel najis? Begitu pula tenaga medis yang sering terkena cipratan atau beberapa tetes darah ketika bertugas? Apakah harus segera ganti baju?

Pembahasan darah, apakah najis atau tidak diperselisihkan oleh ulama:

pendapat yang menyatakan darah adalah najis

pendapat berdasarkan ayat.

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Al An’am: 145)

Bahkan Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan ijma’ bahwa darah adalah najis. Beliau berkata,

الدلائل على نجاسة الدم متظاهرة ، ولا أعلم فيه خلافا عن أحد من المسلمين

“Dalil-dalil mengenai kenajisan darah jelas, aku tidak mengetahui adanya khilaf salah satupun di antara kaum muslimin”[1]

Imam Ahmad rahimahullah ditanya mengenai darah,

لدم والقيح عندك سواء ؟

“apakah darah dan muntahan sama menurutmu?”

فقال : الدم لم يختلف الناس فيه ، والقيح قد اختلف الناس فيه

Beliau menjawab:

“Darah tidak diperselisihkan oleh manusia (kenajisannya), adapun muntahan maka diperselisihkan”[2]

Begitu juga  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai orang yang shalat dengan baju yang ada darahnya,

من على لباسه بقُع دم هل يصلي بها أم ينتظر حتى يحضر له لباس نظيف ؟

Orang yang ada sedikit darah di bajunya, apakah ini shalat dengan baju tersebut atau ia menunggu (misalnya kedaaan dokter setelah operasi) sampai ada baju yang bersih baginya?

ج  : يصلي على حسب حاله ، فلا يدع الصلاة حتى يخرج الوقت ؛ بل يصلي على حسب حاله إذا لم يمكنه غسلها ولا إبدالها بثياب طاهرة قبل خروج الوقت لقول الله تعالى : { فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } [ التغابن : 16 ]

والواجب على المسلم أن يغسل ما به من الدم أو يبدل ثوبه النجس بثوب آخر طاهر إذا استطاع ذلك ، فإن لم يستطع صلى على حسب حاله ، ولا إعادة عليه للآية الكريمة ، ولقوله صلى الله عليه وسلم : « ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم » – متفق على صحته –

Ia shalat dengan keadaannya saat itu jika tidak memungkinkan membersihkan/mencucinya atau menggantinya dengan yang bersih/suci, ia shalat sebelum keluar waktunya. Berdasrakan firman Allah Ta’ala,

“bertakwalah semampu kalian” (At-Taghabun: 16)

Wajib bagi seorang muslim agar mencuci/membersihkan darah atau menggantinya dengan pakaian yang bersih jika ia mampu. Jika tidak mampu maka ia shalat sebagaimana keadaannya. Ia tidak perlu mengulang shalatnya sebagaimana keterangan dari ayat dan sebagaimana pula Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa yang aku larang maka jauhilah dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian” (muttafakun alaihi)[3]

Pendapat yang menyatakan darah tidak najis

Inilah pendapat yang LEBIH KUAT dengan beberapa alasan:

Pertama: hukum asal sesuatu suci, sampai ada dalil yang mengharamkan

Kedua: makna rijs(dalam surat Al-An’am 145) maknanya bukan najis secara hakikat akan tetapi najis maknawi. sebagaiman Allah Ta’ala berfirman tentang kaum munafikin, “Berpalinglah kalian darinya karena sesungguhnya mereka adalah rijs,” (QS. At-Taubah: 95) yakni najis kekafirannya tapi tidak najis tubuhnya.

Ketiga: para sahabat dahulunya berperang dengan luka di tubuh dan baju tetapi tidak ada perintah untuk membesihkannya.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

مَا زَالَ الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِى جِرَاحَاتِهِمْ

“Kaum muslimin (yaitu para sahabat) biasa mengerjakan shalat dalam keadaan luka.”[4]

Begitu juga kisah ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh Abu Lu’luah, beliau berkata,

وَلَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu ‘Umar shalat dalam keadaan darah yang masih mengalir.”[5]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

ليُعلم أنَّ الدم الخارج من الإنسان من غير السبيلين لا ينقض الوضوء، لا قليله ُ ولا كثيرهُ كدم الرُّعاف، ودم الجرح

“Perlu diketahui bahwa darah yang keluar dari manusia selain dua jalan (keluar dari qubul dan dubur) tidak membatalkan wudhu baik sedikit ataupun banyak semisal darah mimisan dan darah yang keluar dari luka.”[6]

Kesimpulannya:

Jika ada darah di baju (misalnya karena luka atau tenaga medis setelah melakukan operasi) maka tidak mengapa shalat dengan baju tersebut, akan tetapi jika ada baju yang bersih dan bisa segara didapatkan, maka sebaiknya mengganti baju. Wallahu a’lam.

@RS Mitra Sehat-Yogya, 16 Rajab 1434 H

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen


[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 2/576

[2] Syarh Umdatul fiqh 1/105

[3]sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2466

[4] HR. Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad) dalam kitab shahihnya .

[5] HR. Malik dalam Muwatha’nya (2/54)

[6]  Majmu’ Fatawa wa Rasa’il syaikh Utaimin

sumber: https://muslimafiyah.com/shalat-dengan-darah-di-baju.html

Hukum Sabung Ayam

Sabung Ayam

Assalamu alaikum , ustadz, apa hukum sabung ayam disertai judi dan tanpa berjudi ? Bukankah ini menyakiti binatang ? Syukran

Dari Bang Andang

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ الْبَهَائِمِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengadu binatang. (HR. Abu Daud 2562, Turmudzi 1708, dan yang lainnya).

Hanya saja, hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama, karena statusnya hadis mursal. At-Turmudzi mengisyaratkan bahwa hadis ini adalah mursal Mujahid.

As-Syaukani ketika menyebutkan hadis ini mengatakan,

ووجه النهي أنه إيلام للحيوانات وإتعاب لها بدون فائدة بل مجرد عبث.

Sisi larangannya, karena adu binatang akan menyakiti binatang, membebani mereka tanpa manfaat, selain hanya main-main. (Nailul Authar, 8/99)

Meskipun hadisnya dhaif, bukan berarti mengadu binatang hukumnya dibolehkan. Karena para ulama menegaskan bahwa mengadu binatang hukumnya terlarang.

Dalam al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih mengatakan,

ويكره التحريش بين الناس، وكل حيوان بهيم، ككباش وديكة وغيرها. ذكره في (الرعاية الكبرى)، وذكر في: (المستوعب) أنه لا يجوز التحريش بين البهائم.

Sangat dibenci mengadu manusia dan seluruh binatang. Seperti kambing, ayam, atau yang lainnya. Sebagaimana keterangan yang disebutkan dalam kitab ar-Ri’ayah al-Kubro. Dan disebutkan dalam kitab al-Mustau’ib bahwa dilarang mengadu binatang. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).

Ibnu Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,

يُكْرَهُ التَّحْرِيشُ بَيْنَ الْبَهَائِمِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ إي لَعَمْرِي، وَالْأَوْلَى الْقَطْعُ بِتَحْرِيمِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ النَّاسِ

Apakah mengadu binatang hukumnya makruh?

Beliau menjawab,

Subhanallah, sungguh aneh. Yang lebih layak, ini dihukumi haram melebihi mengadu manusia. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/23250-hukum-sabung-ayam.html

Mati-Matian Mencari Yang Tidak Bisa Dibawa Mati (Kebahagiaan Semu)

Jika ditanya, apa tujuan hidup anda? Tentu semuanya menjawab mencari kebahagiaan dan kesenangan hidup. Mulai dari seorang Ibu yang bahagia dengan kesuksesan mendidik anak, sang bapak yang sukses dengan karir dan jabatan, seorang caleg yang bahagia dengan terpilih, bahkan seorang Wariapun bahagia dengan sekedar nongkrong-nongkrong “eksis”. Akan tetapi apakah yang dirasakan benar-benar kebahagiaan? Apakah kebahagiaan semu saja? Kalau memang bahagia, apakah Kebahagiaan didunia saja? Tidak diakhirat yang kekal.

Kita ambil contoh, misalnya bagaimana seorang artis misalnya artis korea, yang terlihat bahagia dan semua puncak kebahagiaan dunia ditangannya. Terkenal, dihormati, kaya, makanan enak, rumah besar dan fasiltas lengkap, wajah yang rupawan dan pasangan hidup yang menarik. Akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa artis korea atau artis secara umum hidupnya sebenarnya di bahwa tekanan. Harus selalu tampil menarik untuk mencari pujian dan ridha manusia, kehidupan selalu diekspos, kejar tayang, mengejar pekerjaan dan persaingan tidak sehat dan berat di dunia artis. Jadilah pelarian mereka ke narkoba, kawin-cerai dan berbagai skandal kehidupan. Atau yang lebih parah kebahagiaan semu para waria, yang sudah jelas bagi orang yang di hatinya masih ada sedikit nurani, maka mereka tidak setuju dengan mencari kebahagiaan dengan menjadi waria.

Dan perlu kita ingat bahwa Kebahagiaan dunia semu itu menipu dan sering kali melalaikan dari akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” [Luqmaan: 33]

Allah Ta’ala juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al Hadid: 20]

Istidraj: Kebahagiaan yang lebih semu lagi

Ternyata ada yang harus kita waspadai lagi. Yaitu ia merasa bahagia di dunia padahal itu adalah hukuman baginya dari Allah Ta’ala, karena ia bahagia tidak diatas landasan Agama Islam yang benar. Allah biarkan ia bahagia sementara di dunia, Allah biarkan ia merasa akan selamat dari ancaman Allah di akhirat kelak, Allah tidak peduli kepadanya. Itulah istidraj sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.”[1]

Mengenai ayat,

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” [Al-A’raf: 99]

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,

مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته

“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”[2]

Kita ambil contoh komentar seorang ibu,

“saya sudah bahagia sekarang, anak-anak saya semuanya sudah jadi, sudah berhasil semua, saya bangga, anak pertama wakil direktur di bank, anak kedua saya jadi koordinatur umum di urusan pajak beacukai, anak ketiga saya menjadi hakim agung di kabupaten”

Bisa jadi ini adalah istidraj, jika kebahagiaanya hanya bersandar sesuai dengan komentar diatas tanpa landasan agama, walaupun jika kita tanya kepada kebanyakan manusia, maka mereka kebanyakan sepakat bahwa ibu ini memang bahagia sekarang. Akan tetapi, Jika mengikuti kebanyakan hawa nafsu manusia di muka bumi, maka kita akan kita akan tersesat. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Al-An’am: 116]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan,

يقول تعالى، لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم، محذرا عن طاعة أكثر الناس فإن أكثرهم قد انحرفوا في أديانهم وأعمالهم، وعلومهم. فأديانهم فاسدة، وأعمالهم تبع لأهوائهم، وعلومهم ليس فيها تحقيق، ولا إيصال لسواء الطريق.

“Allah berfirman kepada nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memberi peringatan dari menaati/mengikuti mayoritas manusia, karena kebanyakan mereka telah berpaling dari agama, amal dan ilmu mereka. agama mereka rusak, amal mereka mengikuti hawa nafsu dan ilmu mereka tidak diterapkan dan tidak bisa mencapai jalan yang benar.”[3]

Sering-sering muhasabah antara nikmat dan istidraj

Dan sudah sepatutnya kita berilmu, yaitu bagaimana membedakan antara nikmat dan istidraj dengan sering-sering bermuhasabah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وأما تمييز النعمة من الفتنة: فليفرق بين النعمة التي يرى بها الإحسان واللطف، ويعان بها على تحصيل سعادته الأبدية، وبين النعمة التي يرى بها الاستدراج، فكم من مستدرج بالنعم وهو لا يشعر، مفتون بثناء الجهال عليه، مغرور بقضاء الله حوائجه وستره عليه!

“Adapun (kemampuan) membedakan antara nikmat dan fitnah, yaitu untuk membedakan antara kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadanya -berupa kebaikan-Nya dan kasih-sayang-Nya, yang dengannya ia bisa meraih kebahagiaan abadi- dengan kenikmatan yang merupakan istidraj dari Allah. Betapa banyak orang yang terfitnah dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan, sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah, Pen), sedangkan ia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan kebutuhannya yang selalu terpenuhi dan aibnya yang selalu ditutup oleh Allah.”[4]

Standar bahagia di dunia seperti orang kafir?

Jika ada komentar,

“saya hidup bahagia sekarang, punya istri yang cantik, anak yang lucu dan pintar, punya rumah yang cukup besar karir saya di kantor terus naik dan bisnis lancar terus”

Maka, orang kafir juga bahagianya dengan komentar di atas, oleh karena itu tidak sepantasnya seorang muslim bahagia HANYA dengan patokan kebahagiaan seperti komentar di atas.

Mengenai ayat,

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” [Ali Imran: 196-197]

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

لا تنظروا إلى ما هؤلاء الكفار مترفون فيه، من النعمة والغبطة والسرور، فعما قليل يزول هذا كله عنهم، ويصبحون مرتهنين بأعمالهم السيئة، فإنما نمد لهم فيما هم فيه استدراجا، وجميع ما هم فيه {متاع قليل ثم مأواهم جهنم وبئس المهاد}

“Janganlah kalian melihat berbagai kenikmatan, kebahagian dan kemudahan orang-orang kafir. Tidak berapa lama lagi, semuanya akan lenyap dari tangan mereka. Nantinya, mereka akan terjerat oleh amalan-amalan buruk mereka. Kami memberikan kemudahan mereka di sana, sebagai istidraj semata. Semua yang mereka miliki hanyalah (kesenangan sementara). Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”.[5]

Dan jika kita seperti orang kafir hanya ingin bahagia di dunia saja, maka terkadang Allah Ta’ala memberikannya sekedar kehendak Allah, Allah Ta’ala berfirman,

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاء لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُوماً مَّدْحُوراً

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu sesuai dengan apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” [Al-Isra’: 17]

Apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya?

Kebahagiaan adalah bahagia jika melaksanakan perintah Allah dan merasa sedih jika melakukan kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Jadi jika kita berat melaksanakan shalat, puasa, atau bahkan berat melaksanakan amalan-amalan sunnah, maka itu adalah tanda tidak bahagia. Kemudian jika kita melakukan maksiat tetapi kita tenang-tenang saja, atau yang lebih parah tidak tahu bahwa hal yang kita lakukakan adalah maksiat dan dilarang oleh agama. Bandingkan dengan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”[6]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan mengenai ciri kebahagiaan,

إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

“jika diberi [kenikmatan] maka ia bersyukur, jika diuji [dengan ditimpa musibah] ia bersabar dan jika melakukan dosa ia beristigfar [bertaubat]. Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan.”[7]

Dan mengenai bahagia yang sesungguhnya jelas letaknya adalah di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.”[8]

Oleh karena itu carilah kebahagiaan hakiki tersebut, sebagaimana kita mencari kesembuhan jika badan kita sakit, jika badan kita sakit maka kita akan menempuh berbagai penjuru dunia untuk mencari kesembuan. Jawabannya adalah ilmu, doa dan bersungguh-sungguh. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” [Al-Ankabut: 69]

Contoh kebahagiaan dunia-akhirat

Inilah contoh kebahagiaan para ulama salaf, mereka berkata,

لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ

“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”[9]

Contoh ulama yang mencerminkan kebahagiaan dunia-akhirat adalah syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Muridnya yaitu Ibnul Qayyim menceritakan kebahagiaan gurunya,

وعلم الله ما رأيت أحداً أطيب عيشاً منه قط، مع ما كان فيه من ضيق العيش وخلاف الرفاهية والنعيم بل ضدها، ومع ما كان فيه من الحبس والتهديد والإرهاق، وهو مع ذلك من أطيب الناس عيشاً، وأشرحهم صدراً، وأقواهم قلباً، وأسرهم نفساً، تلوح نضرة النعيم على وجهه.وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة.

“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[10]

Bahkan ketika beliau di penjara beliau Ibnu Taimiyah berkata,

لو بذلت ملء هذه القاعة ذهباً ما عدل عندي شكر هذه النعمة.

“Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”[11]

Beliau juga berkata,

المحبوس من حبس قلبه عن ربه تعالى.

“Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya dibelenggu dari Rabb-nya Ta’ala”

Beliau juga berkata,

ما يصنع أعدائي بي؟ أنا جنتي وبستاني في صدري، إن رحت فهي معي لا تفارقني، إن حبسي خلوة، وقتلي شهادة، وإخراجي من بلدي سياحة.

“Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamannya ada di hatiku, jika, ke mana aku pergi ia selalu bersamaku, jika mereka memenjarakanku maka penjara adalah khalwat bagiku, jika mereka membunuhku maka kematianku adalah syahid, jika mereka mengusirku maka kepergianku adalah rekreasi.”[12]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@RS Mitra Sehat, Wates, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan follow twitter

[1] HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561

[2] Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi, cet.II, 1417 H

[3] Taisir Karimir Rahmah hal. 248, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. I, 1424 H

[4] Madarijus salikin 1/189, Darul Kutub Al-‘Arabi, beirut, cet. III, 1416 H, Syamilah

[5] Tafsir Ibnu Katsir 2/192, Dar Thayyibah, cet. II, 1420H, Syamilah

[6] HR. Bukhari no. 6308

[7] Matan Qowa’idul Arba’

[8] HR. Bukhari dan Muslim

[9] Rawai’ut Tafsir Ibnu Rajab 2/134, Darul ‘Ashimah, cet.I, 1422 H, Syamilah

[10] Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Koiro, cet. III, Syamilah

[11] Idem

[12] Idem

sumber : https://muslimafiyah.com/mati-matian-mencari-yang-tidak-bisa-dibawa-mati-kebahagiaan-semu.html

ANTARA RINDU DAN MABUK KEPAYANG

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وَسُئِلَ بعض الْعلمَاء عَن عشق الصُّور فَقَالَ قُلُوب غَفَلَتْ عَن ذكر الله فابتلاها الله بعبودية غَيره

“Seorang ulama ditanya tentang mabuk kepayang terhadap keelokan rupa, maka ia menjawab : “Itu adalah hati yang lalai dari mengingat Allah maka Allahpun menghukumnya dengan tunduk kepada selain Allah” (Miftaah Daaris Sa’aadah 1/112)

Kerinduan terhadap keindahan rupa wajah yang mempesona adalah kewajaran, akan tetapi jika sampai pada derajat ‘isyq (mabuk kepayang) yang menjadikannya lalai dan tidak teringat dibenaknya dan hatinya kecuali keelokan rupa tersebut, maka itu menunjukan hatinya telah lalai dari mengingat Allah, sehingga terisilah hatinya dengan ketundukan kepada rupa yang jelita tersebut. Wallahu A’lam

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/author/admin2/page/416

Ketika Mendengar Petir Dan Melihat Kilat

Musim hujan telah tiba, hampir setiap hari kita mendapat rezeki dari langit, terkadang hujan sangat lebat disertai gerumuh petir dan kilat. Maka Islam menganjurkan beberapa amalan ketika terjadi hal ini.

Berdoa ketika mendengar petir

Perlu diketahui bahwa tidak ada doa yang marfu’ (bersumber langsung sanadnya) dari  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ada adalah atsar dari sahabat, dalam fatwa Al-lajnah Ad-Daimah dijelaskan,

من عمل بهذا اقتداءً بهذا الصحابي فلا بأس بذلك، ولا نعلم شيئاً ثابتاً فيه مرفوعاً إلى النبي صلى الله عليه وسلم.

“barangsiapa yang mengamalkan dengan mencontoh para Sahabat, maka tidak mengapa. Kami tidak mengetahui sedikitpun hadits yang marfu’ (sampai sanadnya) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[1]

Beberapa doa tersebut sebagai berikut:

Apabila Abdullah bin Az-Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ.

Subhaanalladzi yusabbihur ra’du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatihi

“Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepadaNya.” [2]

Doa yang lain,

Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ

‘Subhanalladzi sabbahat lahu’

“ Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya”

Lalu beliau mengatakan,

قال إن الرعد ملك ينعق بالغيث كما ينعق الراعي بغنمه

”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.”[3]

Catatan:

Ada juga hadits yang beberapa ulama menganggapnya marfu’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi sebagian besar ulama mendhaifkannya. Haditsnya yaitu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏كَانَ إِذَا سَمِعَ صَوْتَ الرَّعْدِ وَالصَّوَاعِقِ قَالَ ‏: ‏اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلَا تُهْلِكْبِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ

Dishahihkan oleh syaikh Ahmad syakir, adapun ulama yang mendhaifkan At-Tirmidzi, Ibnu Hajar dan syaikh Al-Albani.

Ketika melihat kilat

Ketika melihat kilat maka, tidak ada amalan khusus baik dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  maupun para sahabat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

فأما البرق فهذا فلا أذكر شيئاً في هذا لا أذكر شيئاً يقال عند رؤية البرق لا أعلم شيئاً من السنة في هذا.

“Adapun melihat kilat maka saya tidak mengetahui sama sekali (amalan) dalam hal ini. Saya tidak mengetahui sapa yang harus diucap ketika melihat kilat. Saya tidak mengetahui sama sekali dalam sunnah mengenai hal ini.”[4]

Syaikh Isa bin Hasan Adz-Dziyab berkata,

لم يثبت عن النبي  صلى الله عليه وسلم  في ذلك شيء .

لكن لو ذكر الله على عظمة الله وبديع خلقه (إن شاء الله ليس فيها بأس).

“Tidak  ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengenai hal tersebut (doa melihat kilat) akan tetapi jika ia berdzikir mengingat Allah karena keagungan dan bagusnya ciptaannya –InsyaAllah- tidak mengapa.”[5]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Mataram, 24 Muharram !434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen


[1] Sumber: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=22105

[2] Al-Muwaththa’ 2/992. Al-Albani berkata: Hadits di atas mauquf yang shahih sanadnya. Sumber : Kitab Hisnul Muslim Said bin Ali Al Qahthani

[3] Lihat Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al Albani

[4] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/11445

[5] Sumber: http://www.saaid.net/mktarat/sh/5.htm

sumber: https://muslimafiyah.com/ketika-mendengar-petir-dan-melihat-kilat.html#_ftn2