Penulis: Abu Uwais
Keutamaan Menjadi Penyeru Kebaikan
Oleh
DR. Husain bin Naffa`al-Jâbiri[1]
Dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla termasuk amal ketaatan yang paling agung dan ibadah paling afdhal yang dilakukan seorang hamba kepada Rabbnya Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allâh , malaikat dan para penghuni langit dan bumi, sampai seekor semut dan ikan di laut mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. [HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani]
Maka, barang siapa menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla , mengajarkan manusia apa yang bermanfaat dalam agama mereka, ia pun berhak masuk dalam doa tersebut. Karena ia memberi mereka petunjuk kebaikan dan menuntun mereka kepadanya, serta menjelaskan kepada mereka jalan hidayah dan jalan yang lurus.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya. [HR. Muslim]
Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
مَنْ دَعَا إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا
Barang siapa mengajak kepada hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [HR. Muslim]
Bila demikian kedudukan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla, dan pahala yang ditentukan dari menempuh jalan dakwah tersebut, maka seyogyanya seorang Muslim (dan Muslimah) untuk berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi salah seorang penyeru dakwah yang kelak akan tampak pengaruhnya pada diri mereka dan masyarakat sosial mereka.
Berdasarkan urgensi tinggi ini, penulis ingin menyampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudaraku, orang-orang yang menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla yang saya berharap mereka mendapatkan manfaat darinya:
Saling bekerja sama dalam dakwah dan saling mendukung di antara mereka serta berusaha dengan serius untuk menyatukan kaum Muslimin dan mempersatukan mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Shahihah dengan dasar pemahaman generasi terdahulu umat Islam, dalam mengamalkan firman Allâh Azza wa Jalla :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai [Ali Imran/3:103]
dan Firman Allâh Azza wa Jalla :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu [Al Hujurât/49:10]
Sesungguhnya keadaan manusia tidak teratur dan tidak menjadi lurus kecuali dengan bersatu dan saling menjalin keakraban di antara mereka.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendeskripsikan makna ini dalam potret yang amat menarik:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ
Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mencintai, menyayangi dan saling peduli bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh darinya mengeluhkan sesuatu (penderitaan), maka seluruh tubuh akan mengundang untuk demam dan begadang karenanya. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Kewajiban mereka untuk mewaspadai hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan silang-pendapat, seperti sifat hasad, zhalim dan prasangka buruk, atau berkompetisi untuk meraih jabatan, popularitas dan lain-lain yang dapat memalingkan dari ikhlas dan menjauhkan dirinya dari taufik Allâh. Akibatnya, seorang dai berjalan dengan penuh kebanggaan diri, lupa diri dan merasa tinggi di atas yang lainnya, dengan menyangka dirinya termasuk orang-orang yang ikhlas, padahal ia amat jauh dari ikhlas. Semoga Allâh memaafkan dan menyelamatkan kita darinya.
Bersabar menghadapi segala respon negatif dari orang lain dalam jalan dakwah, seperti ejekan, olokan, dan tuduhan yang batil, atau kekuatan yang minim, musuh yang berkuasa, orang-orang dengki, kezhaliman, dakwah tidak diterima, diusir dari kampung halaman dan lain-lain yang kadang dihadapi oleh para penyeru kebenaran dan orang-orang yang tergerak untuk memperbaiki keadaan saat menyebarkan dakwah mereka.
Sungguh, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengalami gangguan dan rintangan, dipukul, dicekik, dan dilemparkan jeroan onta ke punggung Beliau. Beliau juga dituduh sebagai orang gila, pendusta, tukang sihir, penyair atau dukun. Beliau pun diusir dari negeri sendiri, dilempari bebatuan hingga darah mengucur dari dua tumit Beliau yang mulia. Beliau diembargo di lembah Bani Hasyim sehingga sempat Beliau dan para Sahabat terpaksa memakan dedaunan. Paman Beliau, Hamzah terbunuh, begitu juga para Sahabat juga terbunuh di depan mata Beliau.
Lalu Beliau pun harus menghadapi fitnah dari kaum Munafiqin yang menuduh istri Beliau yang tercinta dengan perbuatan serong. Masih banyak ujian, gangguan dan rintangan yang tidak akan mampu diemban gunung-gunung kokoh yang menjulang tinggi, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan selalu mengharap pahala dari Rabbnya.
Maka, pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada keteladanan yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu ada suri teladan yang bagi kalian (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allâh [Al-Ahzab/33:21]
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allâh , dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allâh menyukai orang-orang yang sabar. [Ali Imran/3:146]
Allâh Azza wa Jalla berfirman untuk mengabarkan wasiat Luqman kepada putranya:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh ) [Luqman/31:17]
Ia berpesan untuk bersabar setelah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran mesti akan menghadapi gangguan atau hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Maka, ia perlu melatih diri untuk menahan diri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan.
Membekali diri dengan ilmu syar’i, terutama yang berhubungan dengan ilmu tentang aqidah yang benar yang berlandaskan Al-Qur`an dan Hadits, serta manhaj Salafus Shalih rahimahumullah dan mencoba mencari tahu syubhat-syubhat yang ada dan menganalisa bagaimana cara mematahkan dan menjawabnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allâh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allâh dan aku tiada termasuk orang-orang yang musryik”. [Yûsuf/12:108])
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih]
Orang yang jahil tidak mungkin memahami agamanya dan kemudian mendakwahkannya kepada orang lain, atau membelanya dan mematahkan takwil-takwil orang-orang bodoh, syubhat-syubhat pembawa kebatilan dan orang-orang yang punya kepentingan-kepentingan tertentu.
Maka, sudah menjadi kewajiban untuk menyebarkan ilmu di masjid-masjid, islamic center, dan kumpulan orang-orang banyak dan di setiap tempat.
Sebagaimana menjadi kewajiban para pemuda untuk dekat dengan para Ulama yang terpercaya yang dikenal memiliki ilmu yang melimpah, ketakwaan dan sifat wara’, lalu mereka mengambil petunjuk dari para Ulama tersebut, menjalankan apa yang mereka arahkan, sehingga amal perbuatan mereka (para pemuda itu) sesuai dengan syariat Allâh Azza wa Jalla , bukan asal sejalan dengan keinginan dan semangat mereka.
Akhirnya, penulis ingin menyampaikan bahwa agama ini agama yang akan selalu terjaga dengan pemeliharaan dari Allâh Azza wa Jalla . Dengan kekokohannya, pemikiran-pemikiran para penyimpang berguguran sepanjang masa.
Agama ini merupakan ruh bagi kehidupan dan kehidupan bagi ruh kita, cahaya bagi jalan kita dan jalan yang bercahaya. Kewajibanmu tiada lain, engkau berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki diri dan memperbaiki orang-orang yang ada di sekitarmu, dan menyampaikan agama Allâh sebagaimana yang dikehendaki Allâh , berkomitmen dengan ajaran-ajaran-Nya, berpedoman dengan hidayah-Nya dan menjauhi maksiat dengan seluruh jenisnya .
Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua dan menjadikan kita orang-orang yang disibukkan dengan amal ketaatan kepada-Nya, membela agama-Nya, mengikuti sunnah Nabi-Nya dan membela sunnah Beliau di seluruh kesempatan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Footnote
[1] Dosen di Universitas Islam Madinah.
Referensi : https://almanhaj.or.id/72194-keutamaan-menjadi-penyeru-kebaikan.html
Keutamaan dan Buah dari Shalat Malam
فضائل وثمرات قيام الليل
Oleh: Dr. Abu al-Hasan Ali bin Muhammad at-Mathari
الدكتور أبو الحسن علي بن محمد المطري
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه، ومن اتَّبع هدْيَه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:
فضائل وثمرات قيام الليل:
• هو إقامة للروح على معارج القدس، وإقامة للحياة وترويحٌ للنفس، ومناجاة للمولى وكلام همس، حيث يحلو القرب من الله والأنس، هذه السنة والعبادة التي أصبحت منسيةً، فتسلط علينا كل وسواس خناس، فاضطربت الأحوال وضاقت الحياة على الناس، هل عرفتم عن ماذا أتحدث؟ إنها (قيام الليل)، وهذه كلماتٌ وقطوف من دوحة القانتين والذاكرين، نستشعر بها معاني الصلاة في جوف الليل.
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasul yang paling mulia, Nabi kita, Muhammad, dan kepada para keluarga dan sahabat beliau, serta orang yang mengikuti ajaran beliau hingga Hari Kiamat. Amma ba’du:
Keutamaan dan buah dari Shalat Malam:
Shalat Malam merupakan kegiatan menapakkan jiwa di atas derajat-derajat suci, menegakkan hidup dan mendamaikan jiwa, serta munajat dan bisikan kepada Sang Kuasa. Ketika itulah akan terasa manis dan damainya kedekatan kepada Allah. Sunah dan ibadah ini menjadi sesuatu yang terlupakan. Kita dikuasai oleh segala bisikan setan, sehingga keadaan menjadi tidak menentu, dan kehidupan menjadi terasa sulit bagi manusia.
Apakah kalian mengetahui, tentang apa aku berbicara? Ini adalah tentang “Shalat Malam”. Berikut ini adalah untaian kalimat dan ranting-ranting dari pohon tempat bernaung para orang-orang khusyuk dan ahli zikir. Dengan kalimat ini, kita mencoba mendalami makna-makna salat pada pertengahan malam.
فضائل قيام الليل:
يقول الله تعالى مادحًا عباده المؤمنين بخصالٍ جميلة وأعمالٍ جليلة: ﴿ تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴾ [السجدة: 16].
ومن أخص هذه الصفات (قيام الليل) الذي هو طريق الأولياء إلى الله، الولاية تلك المنزلة التي يتمناها كل مسلم؛ منزلة القرب والعناية، فندخل في قوله تعالى: ﴿ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ [يونس: 62].
Keutamaan Shalat Malam:
Allah Ta’ala berfirman sebagai pujian bagi para hamba-Nya yang beriman, yang memiliki sifat-sifat mulia dan amalan-amalan agung:
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan rezeki yang telah Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16).
Di antara sifat yang paling istimewa dari Shalat Malam – yang merupakan jalan para wali (kekasih) Allah menuju kepada-Nya; dan kewalian adalah derajat yang diharapkan setiap Muslim – adalah menjadi status kedekatan kepada Allah dan perhatian dari-Nya; sehingga kita dapat tercakup dalam cakupan firman Allah Ta’ala:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih.” (QS. Yunus: 62).
فطريق الأولياء إلى الله هو: الابتعاد عن المُحرَّمات، وأداء الفرائض، والتقرُّب بالنوافل، كلٌّ بحسب استطاعته وإقباله، وأفضل النوافل قيام الليل، جاء في صحيح مسلم من حديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه، قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: “أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل”.
وهذا الفضل الكبير لقيام الليل؛ لأنه أقرب إلى الإخلاص فهو عبادة سرية لا يعلم بها أحد، وفيه مشقة على النفس، فالمؤمن يقوم من فراشه ونومه وراحته، وهو أقرب إلى التدبُّر والخشوع.. ولهذا سميَ قيام الليل (شرف المؤمن)، قال عليه الصلاة والسلام: “أتاني جبريل، فقال يا محمد، عِشْ ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس”.
Jalan kewalian menuju Allah adalah dengan menjauhi hal-hal yang diharamkan, menjalankan kewajiban-kewajiban, dan mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunah. Setiap mereka melaksanakannya sesuai dengan kemampuan dan kecondongan mereka masing-masing. Adapun ibadah sunah yang paling utama adalah Shalat Malam. Diriwayatkan dalam “Shahih Muslim” dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Salat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah Shalat Malam.” (HR. Muslim).
Ini merupakan keutamaan besar yang dimiliki Shalat Malam, karena ia lebih mudah untuk dilaksanakan dengan ikhlas; sebab ia menjadi ibadah rahasia yang tidak diketahui orang lain. Dalam Shalat Malam juga terasa berat bagi hawa nafsu; karena seorang mukmin harus bangun dari tempat tidurnya, serta bangkit dari tidur dan kenyamanannya. Ia juga menjadikan tadabur dan kekhusyukan lebih mudah dilakukan. Oleh sebab itu, Shalat Malam disebut sebagai “Kemuliaan seorang mukmin”. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam, “Malaikat Jibril pernah datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sungguh kamu akan mati; cintai siapa pun sesukamu, karena kamu pasti akan meninggalkannya; dan lakukanlah apa saja sesukamu, karena kamu pasti mendapatkan balasannya; serta ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah dengan Shalat Malamnya, sedangkan kehormatan dirinya adalah dengan tidak bergantung kepada orang lain.’”
فوائد وثمرات قيام الليل:
وفوائد قيام الليل عظيمة، وثمراته كثيرة، أذكر لكم بعضها:
• تكفير الذنوب: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول: من يدعوني، فأستجيب له، من يسألني فأعطيه، من يستغفرني فأغفر له)).
Manfaat dan Buah dari Shalat Malam
Manfaat Shalat Malam sangat besar dan buah yang banyak; dan saya akan menyebutkan kepada kalian beberapa di antaranya:
- Menggugurkan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit paling bawah saat waktu malam tersisa sepertiga terakhir. Lalu Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, sehingga Aku akan mengabulkannya? Siapa yang meminta kepada-Ku, sehingga Aku akan memberinya? Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, sehingga Aku akan mengampuni-Nya?’”
• استجابة الدعاء: إن كنت تريد قضاء الحاجات، وتفريج الهموم وتيسير الأمور وتحقيق الأمنيات، فعليك بالدعاء في قيام الليل، قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((إنَّ من اللَّيل ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله خيرًا إلا أعطاه إياه، وذلك كل ليلة)).
- Dikabulkannya doa. Apabila kamu ingin kebutuhanmu terpenuhi, masalahmu terselesaikan, urusanmu dimudahkan, dan tujuanmu tercapai; maka hendaklah kamu berdoa dalam Shalat Malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada sebagian malam itu terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim meminta kebaikan kepada Allah yang bertepatan dengan waktu itu, melainkan Allah pasti akan mengabulkannya; dan waktu ini ada pada setiap malam.”
• يطرد العجز والكسل وداء الجسد: قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((عليكم بقيام الليل؛ فإنَّه دأْبُ الصالحين قبلكم؛ فإنَّ قيامَ الليل قُرْبَةٌ إلى الله عز وجل، وتكفيرٌ للذُّنوب، ومَطْرَدَةٌ للدَّاء عن الجسد، ومنهاة عن الإثم))، وقال العراقيُّ: إسنادُه حسنٌ.
- Mengusir sifat lemah dan malas serta penyakit jasmani. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian mendirikan Shalat Malam, karena ia adalah jalan orang-orang saleh sebelum kalian. Sesungguhnya Shalat Malam merupakan ibadah yang mendekatkan pelakunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, penghapus dosa-dosa, mengusir penyakit dari badan, dan penghalang dari perbuatan dosa.” Al-Iraqi berkata bahwa sanadnya hasan.
• صلاح الأبناء والأسرة: فعندما يراك أهلك وأولادك تقوم الليل فإن هذا السلوك سيؤثر فيهم، ويُحبِّب إليهم الدين والعبادة فيقتدون بك، والله سبحانه وتعالى يتولَّى ذريته حتى بعد مماته، قال تعالى: ﴿ وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ﴾ [الكهف: 82].
- Menjadi sebab kesalehan anak-anak dan istri. Ketika istri dan anak-anakmu melihatmu sedang mendirikan Shalat Malam, ini akan menjadi perilaku yang memberi pengaruh terhadap mereka, dan membuat mereka ikut mencintai agama dan ibadah, sehingga mereka mencontohmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan menjaga keturunan orang itu hingga setelah kematiannya. Dia berfirman:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
“Adapun tembok itu adalah punya dua anak yatim yang ada di kota; dan di bawah tembok itu terdapat harta mereka berdua. Dan ayah mereka berdua adalah orang yang saleh, sehingga Tuhanmu berkehendak agar mereka berdua mencapai usia dewasa lalu mereka mengeluarkan harta mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Kahfi: 82).
• سبب الرحمة: قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((رَحِم اللهُ رجلًا قام من الليل فصلَّى وأيقظَ امرأتَه، فإن أَبَتْ نضح في وجهها الماءَ، ورحم اللهُ امرأةً قامت من اللَّيل فصلَّت وأيقظت زوجَها، فإن أبى نضحت في وجهه الماء)).
- Menjadi sebab diraihnya rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari, lalu mendirikan salat dan membangunkan istrinya. Apabila istrinya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun pada malam hari, lalu mendirikan salat dan membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya.”
• دخول الجنة: قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((يا أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصَلُّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام)).
- Menjadi sebab masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Wahai segenap manusia! Tebarkanlah salam, berilah makan, dan sambunglah silaturahmi, serta dirikanlah Shalat Malam ketika orang-orang terlelap; niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”
حال السلف مع قيام الليل:
• ولهذه الفضائل والفوائد صار قيام الليل حال الصالحين ودَأْب العابدين، فكان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يَمُرُّ بالآية من وِرْده بالليل فيسقط، حتى يُعاد منها أيَّامًا كثيرةً كما يُعادُ المريضُ.
• وكان ابنُ مسعود رضي الله عنه إذا هدأت العيونُ قام فيُسْمَعُ له دَوِيٌّ كَدَويِّ النَّحْل حتى يصبحَ.
Keadaan Para Salaf Bersama Shalat Malam
Karena berbagai keutamaan dan manfaat tersebut, Shalat Malam menjadi kegiatan orang-orang saleh dan kebiasaan para ahli ibadah. Dulu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu membaca satu ayat dari wirid malamnya hingga pingsan; hingga beliau dijenguk berhari-hari karena hal itu, sebagaimana dijenguknya orang sakit.
Dulu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu apabila mata orang-orang telah terlelap, beliau segera mendirikan shalat, sehingga terdengar dari beliau dengungan seperti suara dengungan lebah hingga pagi hari.
كل ذلك الحرص على قيام الليل خوفًا من عذاب الله سبحانه، ورجاء لرضا الله سبحانه، قال المغيرةُ بن حبيب: رمقتُ مالك بن دينار رحمه اللهُ فتوضَّأ بعد العشاء ثم قام إلى مُصَلَّاه فقبضَ على لحيته فخنقته العبرةُ، فجعل يقول: اللهم حَرِّمْ شيبةَ مالك على النار، إلهي قد علمت ساكن الجنة من ساكن النار، فأيُّ الرجلين مالك، وأيُّ الدَّارين دار مالك؟! فلم يزل ذلك قوله حتى طلع الفجر.
سبحان الله! هذا حال الولي الصالح والرجل العابد مالك بن دينار، فما حالنا نحن اليوم الذين غرقنا في الذنوب والغفلة؟!
Kesungguhan mereka dalam menjalankan Shalat Malam ini merupakan bentuk ketakutan mereka terhadap azab Allah, dan harapan terhadap keridhaan-Nya. Al-Mughirah bin Habib berkata, “Aku pernah memperhatikan Malik bin Dinar rahimahullah. Beliau berwudu setelah Isya, lalu berdiri menuju tempat salatnya. Beliau kemudian menggenggam jenggotnya dan menangis tersedu-sedu, beliau berkata, ‘Ya Allah, haramkanlah Malik dari neraka! Ya Tuhanku, aku telah mengetahui siapa yang layak menjadi penghuni surga dan siapa yang layak menjadi penghuni neraka. Lalu Malik termasuk dari golongan mana? Dan mana tempat bagi Malik?!’ Beliau terus mengucapkan itu hingga terbit fajar.
Subhanallah! Demikianlah keadaan seorang wali yang saleh dan ahli ibadah, Malik bin Dinar. Lalu bagaimana keadaan kita hari ini, yang tenggelam dalam dosa-dosa dan kelalaian?!
وكما أن الطعام لنا أمر لا نتركه في كل يوم، فكذلك كان حال سلفنا الصالح رضوان الله تعالى عليهم أجمعين مع قيام الليل، ويندر أن تجد أحدًا في ذلك الزمان لا يصلي في جوف الليل، وإن وجد فهو أمرٌ منكرٌ مستغرب، كان للحسن بن صالح جاريةٌ فباعها من قوم، فلما كان في جوف الليل قامت الجاريةُ فقالت: يا أهلَ الدار، الصلاة الصلاة، فقالوا: أصبحنا؟ أَطَلَعَ الفجرُ؟ فقالت: وما تُصَلُّون إلا المكتوبة؟! قالوا: نعم، فرجعت إلى الحسن فقالت: يا مولاي، بعتني من قوم لا يُصَلُّون إلا المكتوبة؛ رُدَّني، فَرَدَّها.
• وعن مسعر عن رجل قال: أتى طاووس رجلًا في السحر، فقالوا: هو نائم، فقال: ما كنت أرى أن أحدًا ينام في السحر؟
Sebagaimana makanan bagi kita adalah perkara yang tidak mungkin kita tinggalkan setiap hari; demikianlah keadaan para Salafus Saleh terhadap Shalat Malam. Hampir jarang sekali ada orang pada zaman itu yang tidak mendirikan salat pada tengah malam; dan jika memang ada, maka itu adalah hal yang nyeleneh. Dulu al-Hasan bin Shalih memiliki seorang budak wanita, lalu menjualnya kepada suatu kaum. Pada saat pertengahan malam, budak wanita itu bangun dan berkata, “Wahai para penghuni rumah! Waktunya salat!” Mereka pun bertanya, “Apakah sudah subuh? Apakah sudah terbit waktu fajar?” Budak wanita itu menjawab, “Apakah kalian tidak mendirikan salat kecuali Shalat Fardhu?” Mereka menjawab, “Ya!” Budak wanita itu lalu kembali kepada al-Hasan bin Shalih dan berkata, “Wahai tuanku, Anda telah menjualku kepada kaum yang tidak mendirikan salat kecuali yang wajib saja, tolong kembalikanlah aku kepadamu!” Akhirnya al-Hasan pun mengembalikannya.
Diriwayatkan dari Mus’ir dari seseorang, ia berkata bahwa Thawus pernah datang pada waktu sahur untuk mencari seseorang. Lalu orang-orang menjawab, “Orang itu sedang tidur.” Thawus lalu berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang tidur pada waktu sahur!”
الحث على قيام الليل:
إن قيام الليل هو السبيل الأوفى للإصلاح للفرد والأسرة والمجتمع، والمنزل الأكرم للسعادة والرضا والعلاج الأنجع للحفظ من الفتن، وبعد أن استعرضنا بعض الفضائل والفوائد لقيام الليل، فحريٌّ بنا أن نسارع إلى امتثال هذه العبادة العظيمة، لما يترتب عليها من مهنأة في العيش وسعة في الرزق، ورضا الرحمن ومسارعة الدخول إلى الجنان بسلام، كل هذه الخيرات الدنيوية والأخروية مفتاح بابها الصلاة في جوف الليل، فهل يليق بمسلمٍ أن يتأخر عنها؟ هل يليق بمسلم أن يقصر فيها؟ إن الإنسان فُطِرَ على حب الخير والسعادة، وها نحن الآن نتعرف على مفتاح الخير كله (قيام الليل) فهيا لنشمر عن ساعد الجد، ونسعى لنكون من أهل القرب، ونسارع لنخرج من الغفلة ونكتب مع الذاكرين، قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((من قام بعشر آيات لم يُكتب من الغافلين، ومن قام بمائة آية كتب من القانتين، ومن قام بألف آية كتب من المقنطرين)).
Anjuran untuk Melaksanakan Shalat Malam
Shalat Malam merupakan jalan yang paling sempurna untuk perbaikan diri, keluarga, dan masyarakat; dan ia merupakan kedudukan yang tinggi untuk mencapai kebahagiaan, keridhaan, dan obat yang manjur untuk menjaga diri dari segala ujian.
Setelah kita memaparkan keutamaan dan manfaat dari Shalat malam, sekarang saat kita untuk segera mengamalkan ibadah yang agung ini; karena ia dapat menghadirkan kedamaian hidup, kelapangan rezeki, keridhaan Allah, dan percepatan untuk masuk surga dengan selamat. Semua kebaikan dunia dan akhirat ini, kuncinya adalah salat pada malam hari; sehingga apakah layak bagi seorang Muslim untuk terlambat mengamalkannya? Apakah pantas bagi seorang Muslim untuk lalai dalam melaksanakannya?
Manusia diciptakan dengan tabiat menyukai kebaikan dan kebahagiaan. Dan sekarang kita telah mengetahui kunci segala kebaikan, yaitu Shalat Malam. Oleh sebab itu, marilah kita bergegas dengan penuh semangat, dan berusaha untuk menjadi termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah, segera keluar dari kelalaian, dan dicatat bersama golongan orang-orang yang banyak berzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mendirikan Shalat Malam dengan membaca sepuluh ayat, maka dia tidak dicatat termasuk golongan orang-orang yang lalai; barang siapa yang mendirikan Shalat Malam dengan membaca seratus ayat, maka dia dicatat termasuk golongan orang-orang yang khusyuk; dan barang siapa yang mendirikan Shalat Malam dengan membaca seribu ayat, maka dia dicatat termasuk golongan orang-orang yang memperoleh pahala amat besar.”
ومن الأسباب التي تعيننا على قيام الليل: ترك المعاصي، والحرص على الأكل الحلال، وتجنُّب الحرام، الاستعانة والتقوِّي بقيلولة في النهار، والإكثار من ذكر الله في النهار، عسى نحظى برضا التواب الغفار، وندخل في فريق أتباع المختار صلى الله تعالى عليه وآله وسلم.
Di antara hal-hal yang dapat memudahkan kita untuk melaksanakan Shalat Malam: Meninggalkan kemaksiatan, berusaha selalu mengonsumsi makanan yang halal, menjauhi perkara yang haram, mengumpulkan tenaga dengan melakukan tidur singkat pada siang hari, dan memperbanyak zikir kepada Allah pada siang hari. Semoga dengan ini kita dapat meraih keridhaan Allah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun; dan kita dapat termasuk golongan para pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.
صلاة قيام الليل وطريقة تأديتها:
ويندب أن تكون صلاة الليل في آخره، فهو أفضل الأوقات، وأقل ما ينبغي أن يتنفل بالليل ثمانٍ ركعات، والأفضل أن يصليها أربعًا أربعًا، وطول القيام فيها أفضل، هذا مذهب الإمام أبي حنيفة رحمه الله تعالى.
Shalat Malam dan Tata Caranya
Shalat Malam disunahkan untuk dilaksanakan pada akhir malam, karena itulah waktunya yang paling utama. Jumlah rakaat minimal yang sebaiknya dilakukan pada Shalat Malam adalah delapan rakaat; dan lebih baik dikerjakan satu salam setiap empat rakaat. Dan durasi berdiri yang lama lebih utama dalam salat ini. Inilah pendapat yang menjadi mazhab Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala.
فيا أيها المسلم، اشددْ مئزرك واسْعَ لإرضاء الله تعالى، وقف بين يدي ربك متواضعًا وخاضعًا في جوف الليل، وكن من المستغفرين بالأسحار، فلن يخيب أملك ولن يُبعدك عن رحمته؛ بل سيُدْنيك منه ويُكرمك بالخير الكثير ويمُنُّ عليك بالنِّعَم الوفيرة.
نسأل الله سبحانه وتعالى أن يوفقنا لقيام الليل، ويجعلنا من الذين يعبدونه آناء الليل وأطراف النهار.
وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين.
Wahai Muslim! Kencangkanlah tali kekangmu dan berusahalah untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Berdirilah di hadapan Tuhanmu dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri di pertengahan malam. Jadilah termasuk orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur. Niscaya Allah tidak akan mengecewakan harapanmu dan tidak akan menjauhkanmu dari rahmat-Nya. Bahkan, justru Allah akan mendekatkanmu kepada-Nya, memuliakanmu dengan kebaikan yang banyak, dan mengaruniakan kepadamu kenikmatan yang melimpah.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberi kita taufik untuk menjalankan Shalat Malam, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang beribadah kepada-Nya pada tengah malam, serta pagi dan sore.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167549/فضائل-وثمرات-قيام-الليل/
Diterjemahkan oleh tim penerjemah Yufid.
JEBAKAN BISNIS YANG SUKSES #shorts
Hamil Kemudian Keguguran (Operasi Kuret), Apakah Menjalani Nifas?
Sering sebagian orang bertanya, jika keguguran apa hukumnya bagi wanita tersebut? Apakah darah yang keluar terhitung nifas darah atau darah haidh atautidak haidh dan tidak pula nifas (bisa beribadah seperti biasa)? Berikut pembahasannya (untuk ringkasnya silakan baca kesimpulan di akhir tulisan)
Patokan nifas atau tidak adalah sudah terbentuk rupa fisik atau tidak
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,
ذا أسقطت المرأة ما يتبين فيه خلق الإنسان؛ من رأس، أو يد، أو رجل، أو غير ذلك فهي نفساء، لها أحكام النفاس، فلا تصلي ولا تصوم، ولا يحل لزوجها جماعها حتى تطهر أو تكمل أربعين يوماً. ومتى طهرت لأقل من أربعين وجب عليها الغسل والصلاة والصوم في رمضان، وحل لزوجها جماعها، ولا حد لأقل النفاس، فلو طهرت وقد مضى لها من الولادة عشرة أيام أو أقل أو أكثر وجب عليها الغسل، وجرى عليها أحكام الطاهرات كما تقدم
“Jika seorang wanita keguguran dan telah jelas bentuk rupa manusia seperti kepala, tangan atau kaki atau yang lain maka ia termasuk wanita yang menjalani nifas dan berlaku hukum nifas baginya, ia tidak shalat dan tidak puasa (Ramadhan) serta tidak halal bagi suaminya berjima’ dengannya sampai ia suci atau sempurna 4o hari lewat. Kapanpun ia suci kurang dari 4o hari maka wajib mandi wajib (janabah) kemudian shalat dan puasa di bulan Ramadhan serta boleh bagi suaminya berjima’ dengannya. Tidak ada batas minimal lama darah nifas. Seandainya ia suci dan setelah kelahiran 10 hari atau kurang ataupun lebih dari 10 hari waka ia harus mandi wajib (telah suci) dan berlaku hukum wanita yang telah suci baginya.”[1]
Perludiketahui hadits Yang menjadi patokan dalam permasalahan ini adalah hadits urutan penciptaan manusia.
-40 hari pertama segumpal darah (‘alaqah)
-40 hari kedua segumpal daging (mudghah), setelah 80 hari ini mulai terbentuk rupa yang menjadi patokan di atas (batas minimal)
-40 hari ketiga ditiupkan ruh (120 hari atau 4 bulan)
syaikh DR. Khalid bin Ali Al-Musyaiqih hafidzahullah berkata,
فلا تنفخ فيه الروح إلا بعد انتهاء مائة وعشرين يوماً ، والمدة التي يتبين فيها خلق الإنسان في الحمل ثلاثة أشهر غالباً ، وأقلها واحد وثمانون يوم
Tidaklah ditiupkan ruh kecuali setalah 120 hari dan jangka waktu mulai jelas bentuk fisik manusia pada kehamilan umumnya 3 bulan dan paling minimal 80 hari)
Kemudian berikut rinciannya:
الأحكام المترتبة على سقوط الحمل ، وهي كما يلي :
أولاً: إذا سقط الحمل في مرحلة النطفة ( في الأربعين يوما الأولى) أو في مرحلة العلقة ( الأربعين يوماً الثانية) ، ففي هذه الحالة على المرأة أن تتلجم ( يعني تضع على فرجها ما يمنع خروج الدم إلى الملابس مما هو مستعمل عند النساء) لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر أسماء بنت عميس رضي الله عنها لما ولدت في ذي الحليفة أن تتلجم . رواه مسلم .ويجب عليها أن تستمر في صلاتها ، وصيامها إذا كانت صائمة ، ويجوز لزوجها أن يجامعها ويعاشرها وطئاً واستمتاعاً.والدم الخارج بسبب الإسقاط في هذه المرحلة الأقرب من أقوال أهل العلم أنه لا ينقض الوضوء ،ولا بجب عليها أن تتوضأ لكل صلاة إلا إذا خرج منها خارج معتاد كالبول أوالغائط أو الريح ونحو ذلك.
Apabila keguguran terjadi tatkala janin masih berbentuk zigote sebelum 40 hari. atau masih berbentuk embrio ( pada 40 hari kedua ) maka wajib bagi wanita tersebut untuk mengenakan pembalut (yang dapat menahan keluarnya darah mengenai pakaian ) karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan Asma binti Umair untuk mengenakan pembalut tatkala melahirkan di Dzil khulaifah. ( HR Muslim ). Wanita tersebut wajib untuk tetap melaksanakan sholat dan berpuasa jika ia sedang berpuasa serta boleh bagi suami untuk menggaulinya. Darah yang keluar dengan sebab keguguran pada masa ini lebih dekat kepada perkataan ahli ilmu bahwa darah tersebut tidak membatalkan wudhu dan tidak wajib baginya untuk mengulang wudhunya disetiap sholat apabila tidak ada yang membatalkan wudhunya seperti karena keluar angin atau buang air.
ثانياً : أن يسقط الحمل بعد أن تم له ثمانون يوماً ، فعلى المرأة أن تنظر في هذه المضغة إن تمكنت أو تسأل الطبيب أو الطبيبة الثقة هل خلقت خلقت هذه المضغة أو لا ؟ يعني: هل بدأ فيها تخليق الإنسان ولو خفياً كتخطيط بط أو رجل أو رأس ونحو ذلك ؟ فإن كانت هذه المضغة لم يتبن فيه خلق الإنسان ، بعني قطعة لحم وليس فيها تخطيط ،ولو خفياً كيد أو رجل أو رأس أو نحو ذلك فإن المرأة تأخذ أحكام القسم الأول :
تتحفظ وتصلي وتصوم وتحل لزوجها ،ولا بجب عليه الوضوء لكل صلاة إلا إذا خرج مها بول أو غائط أو ريح ونحو ذلك. وإذا كانت المضغة قد بدأ فيها تخليق الإنسان ولو كان خفياً كتخطيط بد أو رجل او رأس ونحو ذلك فإن المرأة تأخذ أحكام النفاس : لا تصلي ، ولاتصوم ، ولا بجوز لزوجها أن يجامعها حتى ينقطع عنها الدم أوالصفرة أوالكدرة، أو حتى تبلغ أربعين يوماً إذا لم ينقطع عنها الدم أو الصفرة أو الكدرة . فإذا بلغت أربعين يوماً فإنها تغتسل وتصلي وتصلي وتصوم وتحل لزوجها.
Keguguran setelah hari ke-80. Wajib bagi wanita tersebut untuk memastikan apakah janin sudah mulai membentuk manusia atau belum dengan bertanya kepada dokter yang terpercaya. Yaitu, apakah janin sudah mulai membentuk rupa manusia meskipun hanya samar seperti mulai membentuk perut, kaki, kepala dan lain-lain
Apabila janin belum mulai membentuk rupa manusia meskipun samar seperti adanya bentuk tangan, kaki dan kepala, atau janin hanya membentuk gumpalan daging maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum pada point pertama. Wanita tersebut boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya. Dia tidak diwajibkan mengulangi wudhunya setiap hendak mengerjakan sholat kecuali apabila ada pembatal lain seperti kentut atau buang air.
Apabila janin sudah mulai membentuk manusia meskipun hanya samar seperti telah ada bentuk kaki, tangan atau kepala dan lain-lain, maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum nifas.Tidak boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya hingga darah nifasnya berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau cairan keruh, atau sudah mencapai hari ke-40 dari pendarahan meskipun darah belum berhenti atau belum keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh. Apabila sudah mencapai hari ke-40 ini, maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, puasa dan suami boleh mencampurinya.
ثالثاً : إذا سقط الحمل بعد ثمانين يوماً ولا تعلم المرأة هل خلق هذا الحمل الذي سقط أولا ؟ وجهلت أمره ، فهذا السقط لا يخلو من حالتين: الحالة الأولى : إذا كان الحمل الذي سقط قد تم له تسعون يوماً فإن المرأة تأخذ أحكام النفاس : لا تصلي ،ولاتصوم ، ولا بجوز لزوجها أن يجامعها حتى ينقطع عنها الدم أوالصفرة أوالكدرة، أو حتى تبلغ أربعين يوماً إذا لم ينقطع عنها الدم أو الصفرة أو الكدرة . فإذا بلغت أربعين يوماً فإنها تغتسل وتصلي وتصلي وتصوم وتحل لزوجها.
الحالة الثانية : إذا لم يتم له تسعون يوماً، وجهلت المرأة أمره هل خلق أو لا ؟ فإن المرأة تتحفظ تضع على فرجها ما يمنع من خروج الدم على ملابسها ،وتصلي وتصوم وتحل لزوجها ،والدم الخارج منها لا ينقض الوضوء ولا بجب عليها أن تتوضأ لكل صلاة إلا إذا خرج منها خارج معتاد كالبول أو الغائط أوالريح ونحو ذلك كما تقدم.
Apabila keguguran terjadi setelah hari ke-80 dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum maka ada dua kemungkinan :
1.Apabila keguguran setelah hari ke 90 maka dihukumi dengan hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa dan tidak boleh bercampur dengan suaminya hingga darah berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh, atau mencapai hari ke-40 dari pendarahan. Jika telah mencapai hari ke-40 ini maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, berpuasa, dan bercampur dengan suaminya.
2.Apabila belum mencapai usia 90 hari kehamilan dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum maka hendaknya wanita tersebut mengenakan pemabalut untuk mencegah keluarnya darah mengenai pakaiannya. Ia boleh sholat, puasa dan boleh bercampur dengan suami. Darah yang keluar darinya tidak membatalkan wudhu dan tidak wajib mengulang wudhunya setiap hendak sholat kecuali apabila ada pembatal wudhu lain seperti kencing atau buang air.[2]
Kesimpulan:
-yang menjadi patokan adalah sudah terbentuk rupa jainin atau tidak (misalnya yang keguguran keluar ada bentuk tangan dan kaki, jika sudah terbentuk maka dianggap nifas, jika tidak maka dianggap darah biasa, wanita tersebut suci (tetap shalat, puasa dan hala bagi suaminya berhubungan dengannya)
-jika terjadi keguguran masih dibawah 80 hari, maka bukan darah nifas, wanita tersebut masih suci
-jika telah diatas 80 hari perlu dipastikan apakah sudah terbentuk rupa fisik manusia tidak, misalnya bertanya kepada dokter terpercaya.
-jika diatas 90 hari (3 bulan) maka dihukumi dengan darah nifas.
Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.
@RS Mitra Sehat Yogyakarta, 2 Rajab 1434 H
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
[1] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2365
[2] Sumber: http://www.zawjan.com/art-1047.htm, http://www.almoshaiqeh.com/
sumber: https://muslimafiyah.com/hamil-kemudian-keguguran-operasi-kuret-apakah-menjalani-nifas.html
Eps.4. Dari Mimpi Bertemu Orang Misterius, Hingga Munculnya Kembali Zam-zam Setelah Lama Hilang! #video
Hukum Mengambil Dan Menguasai Hak Orang Lain Secara Zalim
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan tentang ghasb atau merampas, mudah-mudahan risalah ini Allah jadikan ikhlas karena-Nya dan bermanfaat.
Ta’rif (definisi) ghasb
Kata Ghasb disebutkan dalam Alquran. Allah berfirman,
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.” (Al Kahfi: 79)
Ghasb secara bahasa artinya mengambil sesuatu secara zalim. Sedangkan menurut istilah fuqaha adalah mengambil dan atau menguasai hak orang lain secara zalim dan aniaya dengan tanpa hak[1].
Ghasb adalah haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil……...” (QS. An Nisaa’: 29)
Di samping itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ
“Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7662)
Ketika khutbah wadaa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُمْ، وَأَعْرَاضَكُمْ، بَيْنَكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu terpelihara antara sesama kamu sebagaimana terpeliharanya hari ini, bulan ini dan negerimu ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَنْتَهِبُ نُهْبَةً، يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah seseorang berzina dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang meminum minuman keras ketika meminumnya dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang melakukan pencuria dalam keadaan beriman dan tidaklah seseorang merampas sebuah barang rampasan di mana orang-orang melihatnya, ketika melakukannya dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
As Saa’ib bin Yazid meriwayatkan dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ عَصَا أَخِيهِ لَاعِبًا أَوْ جَادًّا، فَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا إِلَيْه
“Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil tongkat saudaranya baik main-main maupun serius. Jika salah seorang di antara kamu mengambil tongkat saudaranya, maka kembalikankah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan ia menghasankannya. Hadits ini dihasankan pula oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih At Tirmidzi)
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Umamah secara marfu’ disebutkan:
مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ
“Barangsiapa yang mengambil harta saudaranya dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun hanya sedikit?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu araak (kayu untuk siwak).“
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tujuh bumi kepadanya.”
Oleh karena itu orang yang melakukan ghasb harus bertobat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan mengembalikan barang ghasb kepada pemiliknya serta meminta maaf kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ » .
“Barangsiapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun lainnya, maka mintalah dihalalkan hari ini, sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka diambil kejahatan orang itu, lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Jika barang ghasb masih ada, maka dikembalikan seperti sedia kala. Namun jika sudah binasa, maka dengan mengembalikan gantinya.
Menanam tanaman atau pohon atau membuat bangunan di atas sebuah tanah ghashb (rampasan)
Barangsiapa yang menanam di tanah rampasan, maka tanaman itu milik yang punya tanah, dan bagi perampas memperoleh nafkah. Hal ini, jika tanaman belum dipetik, adapun jika sudah dipetik, maka pemilik tanah tidak berhak selain upah.
Pohon yang ditanam juga wajib dicabut, demikian juga bangunan yang dibuat juga harus dirobohkan. Dalam hadits Raafi’ bin Khudaij disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ زَرَعَ فِي أَرْضِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ، فَلَيْسَ لَهُ مِنَ الزَّرْعِ شَيْءٌ وَلَهُ نَفَقَتُه
“Barangsiapa yang menanam di sebuah tanah milik sebuah kaum tanpa izin mereka, maka ia tidak berhak memperoleh dari tanaman itu sedikit pun, dan untuknya (perampas) nafkah yang dikeluarkannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan Ahmad, ia berkata: “Sesungguhnya saya berpegang kepada hukum tersebut atas dasar istihsan; dengan menyelisihi qiyas.”)
Abu Dawud dan Daruquthni juga meriwayatkan dari hadits Urwah bin Az Zubair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْيَا أَرْضًا فَهِيَ لَهُ وَلَيْسَ لِعِرْقِ ظَالِمٍ حَقٌّ
“Barangsiapa yang menghidupkan tanah, maka tanah itu menjadi mililknya, dan untuk keringat orang yang zhalim tidak memiliki hak.”
Urwah berkata, “Telah memberitakan kepadaku orang yang menceritakan hadits ini kepadaku bahwa ada dua orang yang bertengkar lalu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang satu menanam pohon kurma di tanah milik yang lain. Maka Beliau menetapkan (tanaman tersebut) untuk pemilih tanah karena tanahnya dan memerintahkan kepada pemilik pohon kurma untuk mengeluarkan pohon itu darinya. Ia berkata, “Sungguh, saya melihatnya ketika pohon kurma itu dipotong akarnya dengan kapak, padahal pohon itu adalah pohon kurma yang tinggi.”
Syaikh Shalih Al Fauzan dalam al-Malkhash Fiqhiy berkata, “Jika orang yang melakukan ghasb telah membuat bangunan di tanah rampasannya atau menanam di atasnya tanaman, maka ia harus melepas bangunan itu atau mencabut tanaman itu, jika pemiliknya meminta demikian. Jika tindakannya itu sampai membekas ke tanah yang dirampasnya, maka ia wajib mengganti rugi kekurangannya, di samping ia juga harus menghilangkan sisa-sisa tanaman dan bangunan sehingga ia menyerahkan tanah kepada pemiliknya dalam keadaan baik. Ia pun wajib membayar upah standar dari sejak merampas sampai menyerahkannya, karena ia mencegah pemiliknya untuk memanfaatkan di masa itu dengan tanpa hak. Jika ia merampas sesuatu dan menahannya hingga menjadi murah harganya, maka harus menanggung kekurangannya menurut pendapat sahih.”
Jia barang yang dirampas bercampur dengan barang lainnya yang bisa dibedakan seperti gandum dengan sya’ir, maka perampas wajib membersihkannya dan mengembalikannya. Namun jika bercampur dengan barang yang sulit dibedakan, seperti gandum dengan gandum, perampas wajib mengembalikan barang itu; ada berapa takar atau timbangan ketika diambilnya sebelum dicampur?
Jika dicampur dengan dengan barang yang di bawahnya atau lebih baik darinya atau tidak sejenis, namun sulit dibedakan, maka campuran itu dijual, lalu diberikan seukuran harganya masing-masing. Dan jika barang rampasan berkurang nilainya jika secara terpisah, maka perampas menanggung kekurangannya. Disebutkan oleh para fuqaha,
الْأَيْدِي الْمُتَرَتِّبَةُ عَلَى يَدِ الْغَاصِبِ كُلِّهَا أَيْدِيْ ضَمَانٍ
“Tangan-tangan yang muncul di atas tangan perampas semuanya adalah tangan tanggungan.”
Maksudnya Tangan-tangan di mana barang rampasan berpindah kepadanya melalui jalan perampas semuanya menanggung jika binasa.
Dengan demikian, jika orang kedua mengetahui hakikat sebenarnya dan bahwa orang yang memberikan barang kepadanya adalah perampas, maka ia harus menanggungnya karena ia berbuat zhalim dengan kesengajaan (diketahuinya) tanpa izin pemiliknya. Namun jika orang kedua tidak mengetahui keadaan sebenarnya, maka yang menanggung adalah perampas (orang pertama).
Jika barang rampasan adalah yang biasa disewa, maka perampas wajib mengganti upah semisalnya (standar) selama barang itu berada di tangannya. Karena manfaat adalah harta yang jelas nilainya, maka wajib ditanggung seperti menanggung barang.
Semua tindakan ghaasib (perampas) adalah batal, karena tidak ada izin pemiliknya.
Jika seseorang merampas sesuatu dan ia tidak mengetahui di mana pemiliknya serta tidak mampu mengembalikannya, maka ia bisa serahkan kepada hakim yang akan menaruhnya di tempat yang benar atau ia sedekahkan memakai nama pemiliknya. Sehingga jika disedekahkan, maka pahalanya untuk pemilik barang dan si perampas sudah lepas tanggungan.
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.
Oleh: Ustadz Marwan bin Musa
Maraji’: Fiqh Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (beberapa ulama), Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq), Al Mulakhash Al Fiqhiy (Shalih Al Fauzan), Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At Tirmidzi dll.
Sumber: Yufidia.com
[1] Jika mengambil harta orang lain secara rahasia dari tempat yang terjaga, maka hal itu disebut pencurian. Jika mengambilnya secara kekerasan, maka hal itu adalah muhaarabah dan jika mengambilnya karena menguasai, maka hal itu adalah ikhtilas (jambret) dan jika mengambilnya saat ia diamanahi, maka hal ini disebut khianat.
Read more https://pengusahamuslim.com/3232-hukum-mengambil-dan-1720.html
Bahaya Tidur Tengkurap (Syariat Dan Medis)
Tengkurap sangat nyaman dan pulas dirasakan oleh sebagian orang. Rasanya lebih nikmat dan lebih rileks. Bahkan ada yang menjadikan cara tidur ini sebagai kebiasaan. Ada perintah dalam agama kita agar menghindari hal ini, karena memang secara kesehatan cara tidur seperti ini kurang baik.
Demikianlah agama Islam, memerintahkan dan melarang sesuatu pasti untuk kemashalahatn dan kebaikan manusia.
syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,
الدين مبني على المصالح
في جلبها و الدرء للقبائح
“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan
Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”
Kemudian beliau menjelaskan,
ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف
“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”[1]
Larangan tidur dengan posisi tengkurap
Karena khabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa, ini adalah cara tidur yang dimurkai oleh Allah.
عن يعيش ان طخفة الغفاري رضي الله عنه قال: قال أبي بينما أنا مضطجع في المسجد على بطني إذا رجل يحركني برجله فقال: ” إن هذه ضجعة يبغضها الله” قال فنظرت فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم
Ya’isy bin Thikhfah Al-Ghifari berkata, “Bapakku menceritakan kepadaku bahwa ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakiku dan berkata,
“Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai Allah.”
bapakku berkata, “Setelah aku melihat ternyata beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [2]
dalam riwayat yang lain,
إنما هي ضجعة أهل النار
“berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”[3]
diantara ulama ada juga yang sekedar menghukumi dengan makruh (dibenci). Sebagimana perkataan Imam Tirmidzi rahimahullah dalam sunannya,
باب ما جاء في كراهية الاضطجاع على البطن
“Bab makruhnya tidur tengkurap”
Kemudian beliau mebawakan hadits,
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلاً مضطجعاً على بطنه، فقال: ” إن هذا ضجعة لا يحبها الله”
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang Laki-laki muslim tidur tengkurap, kemudian beliau bersabda,
“Ini adalah cara tidur yang tidak disukai oleh Allah.[4]
Bahaya kesehatan tidur dengan cara ini
Ulama sekaligus pakar kedokteran, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,
، وكثرة النوم على الجانب الأيسر مضر بالقلب بسبب ميل الأعضاء إليه، فتنصب إليه المواد. وأردأ النوم على الظهر، ولا يضر الاستلقاء عليه للراحة من غير نوم، وأردأ منه أن ينام منبطحاً على وجهه
“terlalu sering tidur dengan sisi kiri membahayakan bagi jantung karena kecendrungan anggota (organ dalam) ke kiri, maka bisa menekannya. Dan cara tidur yang kurang baik juga adalah terlentang. Tetapi tidak mengapa jika sekedar untuk beristirahat tanpa tidur. Dan yang kurang baik juga adalah cara tidur berbaring dengan mukanya (tengkurap).”[5]
Ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa memang tidur tengkurap berbahaya, apalagi tidurnya pulas dan lama karena saat tidur tengkurap otomatis otot dada/otot pernafasan kita tidak dapat mengembangkan dada dengan baik danmaksimal, sehingga aliran oksigen menjadi lebih sedikit dan bisa berakibat menjadi sesak nafas.
Demikian juga tidur pada sisi kiri badan (yaitu menghadap ke kiri) juga berbahaya, karena organ-organ bisa menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak.
Sedangkan tidur terlentang akan kurang baik jika bagian tubuh tidak ditopang dengan baik atau tidak menyentuh tempat tidur dengan ideal sehingga bisa menyebabkan nyeri punggung ketika bangun tidur.
Demikian semoga bermanfaat.
@Pogung Lor, 4 Rajab 1434 H
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
sumber : https://muslimafiyah.com/bahaya-tidur-tengkurap-syariat-dan-medis.html
Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus
Hukuman Bagi Kaum LGBT
HUKUMAN BAGI KAUM LGBT ADALAH DIBUNUH DENGAN PENGHINAAN
Pertanyaan
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه
Ustadz, apa yang harus dilakukan oleh seluruh anggota keluarga jika salah satu anggota keluarganya terkena penyakit LGBT?
Dari keluarga yang tidak harmonis di mana anak tersebut tumbuh dalam suasana KDRT yang dilakukan oleh ayahnya serta poligami yang tidak jujur dan tidak adil dari segi ekonomi, perilaku kasih sayang, dsb.
Situasi sekarang ini, anak tersebut menjadi tulang punggung orang tuanya.
Mohon penjelasannya secara syar’i apa yang harus dilakukan?
Jazakumulloh khoiron katsiro.
( Dari Sahabat BiAS )
Jawaban
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.
Semoga kita semua, anda dan saya, diberikan ketabahan serta kekuatan untuk terus mendakwahkan kebaikan pada keluarga, dan menghindarkannya dari siksa api neraka.
1. Pertama yang harus kita pahami adalah besarnya dosa penyimpangan seksual atau LGBT.
Jika zina yang dilakukan dengan lawan jenis saja hukumannya rajam sampai mati, atau minimal cambuk. Suatu konsekuensi hukum yang telah kita ketahui bersama. Maka lelaki LGBT -dalam hal ini gay atau homo- lebih parah dari itu, yakni laknat dan kematian yang hina .
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا
“Alloh melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth, Alloh melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth, diulang 3 kali”.
[HR Ahmad 2915]
Adapun hukuman di dunia bagi pelaku LGBT, ada silang pendapat di kalangan para ‘ulama, namun yang jelas semuanya adalah kehinaan atau merujuk pada apa yang Alloh timpakan kepada kaum Luth.
Para sahabat telah sepakat atas hukuman mati pelaku homo, hanya berbeda pendapat tentang bagaimana cara membunuhnya:
– Ada yang mengatakan dibakar sampai mati (ini pendapat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Tholib
rodhiallohu ‘anhuma).
– Ada yang mengatakan dilemparkan dari tempat yang tinggi, dan setelah terkapar jatuh tetap di rajam sebagai
bentuk kehinaan (ini pendapat dari Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhu).
» Pendapat kedua inilah yang paling mendekati adzab atau hukuman dunia kaum Luth.
Ibnul Qoyim menukilkan pendapat Ibnu Abbas ini dalam Al-Jawabu Al-Kaafi Liman Sa-ala ‘an Ad-Dawaa-I Asy-Syaafi,
وقال عبد الله بن عباس ان ينظر أعلا ما في القرية فيرمى اللوطى منها منكسا ثم يتبع بالحجارة وأخذ ابن عباس هذا الحد من عقوبة الله للوطية قوم لوط
Ibnu Abbas mengatakan, “Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dilemparkan dalam kondisi terjungkir (kepala di bawah). Lalu disusul dengan lemparan batu.”
Ibnu Abbas berpendapat demikian, karena inilah hukuman yang Allah berikan untuk pelaku homo dari kaumnya Luth. (Al-Jawabu Al-Kafi, hlm 120)
Hukuman mati ini berlaku bagi kedua belah pihak LGBT, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhu,
ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ
“Barang siapa mendapati orang melakukan perbuatan kaum Luth, bunuhlah subjek dan objek nya”.
[HR Tirmidzi 1456, Abu Dawud 4462, Ibnu Majah 2561]
Bahkan para ‘ulama sepakat mengatakan bahwa keburukan homo atau perilaku liwath lebih parah dibandingkan keburukan suatu pembunuhan, sebab syariat mengatur hukum qishos bagi pembunuh di atas kehendak wali (keluarga yang terbunuh). Jika dilanjutkan, maka di qishos jika dimaafkan maka dibebaskan.
Tidak demikian dalam penetapan hukuman mati bagi pelaku homo atau liwath, tak ada ampun atau belas kasih, karena begitulah yang ditetapkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan diamalkan oleh para sahabat serta Khulafaur Rosyidin rodhiallohu’anhum.
Dengan parahnya hukuman pelaku LGBT sebagaimana dijelaskan di atas, masihkah kita menghindar dari parahnya perbuatan LGBT?
Masihkah kita menggampangkan penyimpangan seksual LGBT di tengah keluarga?
Tidakkah kita takut dengan timpaan adzab serta laknat Alloh pada keluarga kita?
2. Kedua, perlunya kita membuat skala prioritas dalam menerapkan syariat pada kehidupan keluarga kita, kewajiban dilaksanakan, dan dosa besar ditinggalkan.
» Dalam kasus ini jelas prioritasnya adalah mengembalikan anggota keluarga tersebut ke jalan yang benar, minta
dan ajak untuk bertaubat dengan taubatan nasuha . Sampaikan padanya bahwa bukti cinta pada keluarga
bukan hanya dengan memberikan nafkah, tapi juga menyelamatkan dari apa neraka dan adzab.
» Pihak keluarga pun harus kompak dalam menyadarkan kesalahannya, dan itulah bukti cinta keluarga
kepadanya. Tidak inginkah dapat berkumpul bersama keluarga hingga di akhirat kelak?
»Tidak perlu khawatir urusan rezeki, sungguh hidup pas-pasan di dunia jauh lebih nikmat dibanding tertimpa
adzab serta laknat.
» Perbesar rasa tawakkal, maksimalkan ikhtiar, dan pertebal husnudzon pada Alloh.
Bisa jadi ada hikmah besar di balik ini semua, mungkin yang sebelumnya belum maksimal dalam ikhtiar, menjadi maksimal karena tulang punggung keluarga harus menjalani masa rehabilitasi. Mungkin yang sebelumnya sang ayah acuh pada keluarganya, menjadi terketuk hatinya karena darah dagingnya bermasalah. Bahkan bisa jadi rezeki dan keharmonisan keluarga yang sebelumnya terhambat menjadi lancar karena pertaubatan anggota keluarga.
» Yang jelas, yakinlah bahwa pertolongan Alloh itu dekat kepada orang-orang yang bertaqwa.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. (QS Ath-Tholaq 2)
Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang senantiasa bertaqwa dan ditolong oleh Alloh dalam segala urusan.
Wallahu ‘Alam.
Wabillahittaufiq.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)
Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam~ Ikhwan
Ahad, 1 Jumadal Akhir 1439 H/ 18 Februari 2018M








