Menjaga Lisan dan Kemaluan

Imam An-Nawawi membawakan hadits:

وعن سفيان بن عبد الله – رضي الله عنه – قَالَ: قُلْتُ: يَا رسولَ الله حدِّثني بأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ: «قلْ: رَبِّيَ اللهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ» قُلْتُ: يَا رسولَ اللهِ، مَا أخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ بِلِسانِ نَفْسِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا».

Dari Sufyan bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, katanya: “Saya berkata: ‘Ya Rasulullah, tolong sampaikanlah kepadaku suatu perkara yang aku bisa berpegang teguh kepada perkara tersebut.’” Kata nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam: “Katakankah: ‘Allah adalah Rabbku,’ dan istiqamahlah kamu.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang paling engkau khawatirkan pada diriku.” Maka beliau kemudian memegang lisannya, kemudian berkata: “Ini.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih)

Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengingatkan kepada kita semuanya melalui sahabat Sufyan bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa sesuatu yang paling dikhawatirkan terhadap manusia adalah lisannya. Karena lisan ini memang benda yang tidak bertulang, tetapi sangat berbahaya. Terutama orang yang berilmu, para Dai, para Ustadz, ini tentu lebih utama untuk menjaga lisan-lisan mereka. Kalau saja orang-orang awam atau umat secara menyeluruh itu diperintahkan oleh Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar berkata yang baik, menjaga lisan, dan seterusnya, apalagi orang-orang yang berilmu. Mereka hendaknya tentu lebih utama untuk menjaga lisan.

Kemudian, juga Ketika Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda: “Katakanlah: ‘Allah adalah Rabbku.’ kemudian istiqamahlah.” Ini tentu terambil dari firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mereka mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka disaat mereka akan meninggal turunlah kepadanya para malaikat sembari mengatakan: ‘Janganlah kalian takut dan jangan pula bersedih hati; dan berita gimbira bagi kamu sekalian dengan surga yang dijanjikan oleh Allah kepada kalian.’” (QS. Fussilat[41]: 30)

Kemudian, juga di dalam surah Al-Ahqaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mereka mengucapkan: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka tiada rasa khawatir pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 13)

Hadits berikutnya, Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم: «مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الجَنَّةَ».

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah menjaga dia dari kejahatan sesuatu yang berada di antara kedua rahangnya (yaitu lidah), dan Allah menjaga dia dari kejahatan sesuatu yang ada di antara kedua kakinya (yaitu kemaluannya), maka dia akan masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih)

Pelajaran yang diambil dari hadits ini adalah bahwa seorang hamba diperintahkan atau dianjurkan untuk menjaga lisan dan kehormatan dirinya.

Yang kedua, bahwa di antara amalan-amalan yang dengannya seseorang masuk surga adalah orang yang selalu menjaga lisannya, dia tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Dan orang yang selalu menjaga kehormatan dirinya, dia tidak berzina atau melakukan perbuatan lain yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadits ini juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa seseorang karena dengan taufik dari Allah, dia bisa menjaga dirinya. Tanpa taufik dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia tidak akan mampu menjaga lisan dan kehormatan dirinya. Maka, kita selalu mohon pada Allah Ta’ala taufik, pertolongan, hidayah, petunjuk, penjagaan, dan pemeliharaan Allah terhadap lisan dan kemaluan, serta terhadap semua perbuatan-perbuatan kita, supaya dijaga oleh Allah Taala dan dilindungi dari keburukan.

sumber : https://www.radiorodja.com/53486-menjaga-lisan-dan-kemaluan/

Allah Mengganti yang Hilang

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.

Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.

Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.

Janji Allah dalam Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)

Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]

Apakah kehilangan bisa tergantikan?

Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.

Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.

Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]

Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.

Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.

Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.

Luka yang mengantarkan kepada Allah

Kehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)

Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.

Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)

Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.

Allah tidak pernah mengambil tanpa memberi

Salah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)

Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.

Harapan

Bagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.

Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.

Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.

Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).

[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.

sumber: https://muslim.or.id/114602-allah-mengganti-yang-hilang.html

Adab-Adab Buang Hajat

KITAB THAHARAH (PERIHAL BERSUCI)

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

D. Adab-Adab Buang Hajat
1.Disunnahkan bagi orang yang hendak memasuki al-khalaa’ (kamar kecil/WC) agar membaca:

بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.”

Do’a ini berdasarkan hadits ‘Ali Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سِتْرٌ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ.

“Penghalang antara jin dan aurat anak Adam jika salah seorang dari kalian memasuki al khalaa’ adalah ia mengucapkan, “Bismillah”.[1]

Juga hadits Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak masuk ke kamar kecil, beliau mengucapkan, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan“.[2]

  1. Disunnahkan jika keluar darinya mengucapkan:

غُفْرَانَكَ.

“(Ya Allah, aku mengharap) ampunan-Mu.”

Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلاَءِ قَالَ: غُفْرَانَكَ.

“Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan, ‘(Ya Allah, aku mengharap) ampunan-Mu’.”[3]

  1. Disunnahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk, dan kaki kanan ketika keluar
    Karena adanya sunnah yang memerintah agar mendahulukan yang kanan untuk hal mulia, dan mendahulukan yang kiri untuk hal yang tidak mulia. Banyak riwayat yang menunjukkan hal tersebut secara global.[4]
  2. Jika di tempat terbuka, maka disunnahkan menjauh hingga tidak terlihat
    Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَأْتِي الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يَرَى.

“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perjalanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak buang hajat di lapangan terbuka melainkan bersembunyi hingga tidak terlihat.”[5]

  1. Disunnahkan tidak mengangkat pakaian kecuali setelah dekat dengan tanah
    Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ لاَ يَرْفَعُ ثَوْبَهُ حَتَّى يَدْنُوَ مِنَ اْلأَرْضِ.

“Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya kecuali setelah dekat dengan tanah.“[6]

Tidak boleh menghadap dan membelakangi kiblat, baik di lapangan terbuka maupun dalam bangunan.

Dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوْا.

“Jika kalian hendak buang hajat, janganlah menghadap dan membelakangi kiblat. Tapi, menghadaplah ke timur atau ke barat.”[7]

Abu Ayyub berkata, “Kami datang ke Syam, kami dapati banyak WC yang dibangun menghadap Kiblat. Kami pun miring darinya dan beristighfar kepada Allah Ta’ala.”[8]

  1. Dilarang buang hajat di jalan yang dilalui manusia dan tempat berteduh mereka.
    Dari Abu Hurairah Raddhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ. قَالُوْا: وَمَا اللاَّعِنَانِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ.

“Jauhilah dua perkara yang mengundang laknat. Mereka bertanya, ‘Apakah dua perkara yang mengundang laknat itu, ya Rasulullah?.’” Beliau berkata, “Orang yang buang hajat di jalan orang-orang atau di tempat berteduh mereka.”[9]

  1. Dimakruhkan jika seseorang kencing di tempat mandinya.
    Dari Humaid al-Himyari, dia berkata, “Aku menjumpai seorang yang telah menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Abu Hurairah menyertai beliau. Dia berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ أَوْ يَبُوْلَ فِيْ مُغْتَسَلِهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang salah seorang dari kami bersisir setiap hari dan kencing di tempat mandinya.”[10]

  1. Dilarang kencing di air yang tidak mengalir
    Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ.

“Beliau melarang kencing di air yang menggenang.”[11]

  1. Diperbolehkan kencing sambil berdiri, tapi duduk (jongkok) lebih utama
    Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ: ادْنُهُ، فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di tempat pembuangan sampah sebuah kaum lalu kencing sambil berdiri, dan aku pun menjauh. Beliau lantas berkata, ‘Mendekatlah.’ Lalu aku mendekat hingga aku berdiri dekat kaki beliau. Beliau kemudian berwudhu dan membasuh bagian atas kedua khuf (sepatu panjang) beliau.”[12]

Kita katakan bahwa duduk lebih utama karena begitulah kebanyakan perbuatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata:

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ، مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ جَالِسًا.

“Barangsiapa mengatakan kepada kalian bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing melainkan dengan duduk.”[13]

Perkataan ‘Aisyah tidak menafikan apa yang dibawakan oleh Khudzaifah. Karena ‘Aisyah hanya mengabarkan apa yang dia lihat. Dan Khudzaifah juga mengabarkan apa yang dia lihat. Sebagaimana diketahui (dalam kaidah) bahwa yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan. Karena pada yang menetapkan itu terdapat ilmu yang lebih.

  1. Diwajibkan bersuci dari kencing
    Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melalui dua kubur, lalu bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بَيْنَ النَّاسِ بِالنَّمِيْمَةِ.

“Sesungguhnya mereka berdua diadzab. Mereka tidak diadzab karena dosa besar. Salah seorang di antara mereka diadzab karena tidak bersuci dari kencingnya. Sedang yang lain karena suka menggunjing di antara manusia.”[14]

  1. Tidak boleh menyentuh kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing. Dan tidak menggunakannya saat bercebok dengan air
    Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمُسُّ ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ وَلاَ يَسْتَنْجِ بِيَمِيْنِهِ.

“Jika salah seorang di antara kalian kencing, janganlah ia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya. Dan jangan pula ia cebok dengan tangan kanannya.”[15]

  1. Diperbolehkan bersuci dengan air, dan batu, atau yang serupa dengan batu, namun air lebih utama.
    Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً، فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki WC. Lalu aku dan anak lain yang seusia denganku membawakan beliau setimba air dan sebuah tombak kecil. Beliau lantas bersuci dengan air.”[16]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ فَلْيَسْتَطِبْ بِهَا فَإِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ.

“Jika salah seorang di antara kalian hendak buang hajat, maka hendaklah membawa tiga buah batu. Dan hendaklah ia bersuci dengannya, karena itu mencukupinya.”[17]

  1. Tidak boleh menggunakan kurang dari tiga batu
    Dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu, dikatakan kepadanya, “Nabi kalian telah mengajari kalian segala hal hingga masalah buang air besar?” Dia menjawab:

أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِالْيَمِيْنِ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِرَجِيْعٍ، أَوْ بِعِظَمٍ.

“Benar. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika kencing atau buang hajat, bersuci dengan tangan kanan, bersuci dengan kurang dari tiga buah batu, dan bersuci dengan kotoran atau tulang.”[18]

  1. Tidak boleh bersuci dengan tulang atau kotoran
    Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَمَسَّحَ بِعِظَمٍ أَوْ بِبَعْرٍ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bersuci dengan tulang atau kotoran.”[19]

Bab Bejana
Boleh menggunakan semua bejana selain bejana emas dan perak. Diharamkan menggunakan keduanya untuk makan dan minum. Namun tidak diharamkan menggunakan keduanya selain untuk makan dan minum.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَشْرَبُوْا فِيْ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَرِيْرَ وَالدِّيْبَاجَ، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَكُمْ فِي اْلآخِرَةِ.

“Janganlah kalian minum dari bejana emas dan perak. Dan jangan pula mengenakan sutera. Karena semua itu bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat.”[20]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلَّذِي يَشْرَبُ فِيْ إِنَاءِ الْفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارُ جَهَنَّمَ.

“Orang yang minum dari bejana perak, sesungguhnya api Jahannam bergejolak dalam perutnya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.[21]

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

إِنَّ الَّذِي يَأْكُلُ أَوْ يَشْرَبُ فِيْ آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ…

“Sesungguhnya orang yang makan atau minum dari bejana perak dan emas…”

Muslim berkata, “Tidak seorang pun pada sebuah hadits menyebutkan lafazh: “makan dan emas” kecuali dalam hadits Ibnu Mushir.”

Al-Albani berkata, “Dari segi ilmu riwayat, tambahan ini syadz sekalipun maknanya benar dari segi ilmu diraayah. Karena “makan dan emas” lebih berat dan berbahaya daripada “minum dan perak” sebagaimana yang tampak jelas.”[22]

Thaharah Dengan Air (Wudhu dan Mandi)

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]


Footnote
[1] Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3611)], Sunan at-Tirmidzi (II/59/ no. 603) ini adalah lafazhnya. Sunan Ibni Majah (I/109 no. 297), dengan lafazh: إِذَا دَخَلَ الْكَنِيْفَ. “Jika memasuki al kaniif” Sebagai ganti dari “jika memasuki al-khalaa’.”
[2] Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/242 no. 142)], Shahiih Muslim (I/283 no. 375), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/21 no. 4), Sunan Ibni Majah (I/109 no. 298), Sunan at-Tirmidzi (I/7 no. 6), dan Sunan an-Nasa-i (I/20).
[3] Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 4714)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/52 no. 30), Sunan at-Tirmidzi (I/7 no. 7), Sunan Ibni Majah (I/ 110 no. 300).
[4] As-Sailul Jarraar (I/64).
[5] Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 268)], Sunan Ibni Majah (I/121 no. 335), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/19 no. 2), dengan lafazh yang semisalnya.
[6] Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 4652)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/31 no. 14), dan Sunan at-Tirmidzi (I/11 no. 14), dari hadits Anas Radhiyallahu anhu.
[7] Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 109)], dan Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 7).
[8] Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/498 no. 394)], Shahiih Muslim (I/224 no. 264), Sunan at-Tirmidzi (I/8 no. 8).
[9] Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 110)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/47 no. 25), dan Shahiih Muslim (I/226 no. 269), dengan lafazh darinya: اَللَّعَّانَيْنِ، قَالُوْا: وَمَا اللَّعَّانَانِ؟
[10] Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 232)], Sunan an-Nasa-i (I/130), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/50 no. 28).
[11] Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6814)], Shahiih Muslim (I/235 no. 281), dan Sunan an-Nasa-i (I/34).
[12] Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/228 no. 273)], Sunan at-Tirmidzi (I/11 no. 13), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/329 no. 225), Sunan an-Nasa-i (I/19), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/44 no. 23), dan Sunan Ibni Majah (I/ 111 no. 305).
[13] Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 29)], Sunan an-Nasa-i (I/26), dan Sunan at-Tirmidzi (I/10 no. 12) dengan lafazh darinya: “قَاعِدًا”.
[14] Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/317 no. 216), Shahiih Muslim (I/240 no. 292), Sunan at-Tirmidzi (I/47 no. 70), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/40 no. 20), dan Sunan an-Nasa-i (I/28).
[15] Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 250)], Sunan Ibni Majah (I/113 no. 310), ini adalah lafazh darinya. Diriwayatkan pula dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/254 no. 154), Shahiih Muslim (I/225 no. 267), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/53 no. 31), Sunan at-Tirmidzi (I/12 no. 15), Sunan an-Nasa-i (I/25) secara ringkas maupun panjang.
[16] Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/252 no. 152)], Shahiih Muslim (I/227 no. 271), Sunan an-Nasa-i (I/42), di dalam riwayatnya tidak disebutkan kata “’Anazah”.
[17] Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 43)], Sunan an-Nasa-i (I/42), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/61 no. 40).
[18] Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 255)], Shahiih Muslim (I/223 no. 262), Sunan at-Tirmidzi (I/13 no. 16), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/24/7), Sunan Ibni Majah (I/115/316), dan Sunan an-Nasa-i (I/38).
[19] Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6827)], Shahiih Muslim (I/224 no. 263), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/60 no. 38).
[20] Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/96/5633), Shahiih Muslim (III/1637 no. 2067)], Sunan at-Tirmidzi (III/199 no. 1939), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (X/189 no. 3705), Sunan Ibni Majah (II/1130 no. 3414), tanpa mencantumkan larangan memakai sutera, dan Sunan an-Nasa-i (VIII/198).
[21] Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/96 no. 5634)], Shahiih Muslim (III/1634 no. 2065), dan Sunan Ibni Majah (II/1130 no. 3413).
[22] Irwaa’ul Ghaliil (I/69).

sumber: https://almanhaj.or.id/795-adab-adab-buang-hajat.html

Konsep Parenting Islami: Memadukan Kasih Sayang dan Ketegasan dalam Mendidik

Salah satu konsep parenting dalam Islam adalah memadukan kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak. Idealnya, seorang anak perlu mendapatkan keduanya agar ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik. Di satu sisi, ia butuh kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Akan tetapi di sisi lain, ia juga harus menerima ketegasan ketika melakukan keburukan atau semisalnya.

Ketika seorang anak hanya dididik dengan kasih sayang saja, itu akan membahayakannya di kemudian hari. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa dimanjakan, sehingga tertipu dengan nikmatnya kehidupan. Ia akan menjadi pribadi yang manja dan tidak tahan banting menghadapi kerasnya dunia di kemudian hari.

Sebaliknya, ketika seorang anak kekurangan kasih sayang dan menerima didikan yang keras, maka hal tersebut akan membuat sekat pembatas antara orang tua dan anak. Hasilnya apa? Tentu ia akan menjadi pribadi yang suka membangkang dan tidak akan dekat dengan orang tua.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk seimbang antara kasih sayang dan ketegasan dalam medidik anak. Jangan sampai anak kekurangan kasih sayang sehingga tidak memiliki ikatan emosional yang cukup dengan orang tua. Jangan juga anak dibiarkan tanpa ketegasan sama sekali sehingga ia menjadi pribadi yang manja.

Kasih sayang dalam mendidik anak

Mendidik anak dengan kasih sayang merupakan asas utama dalam mendidik anak. Kasih sayang merupakan hal yang perlu diberikan kepada anak dalam setiap kondisi. Berbeda dengan ketegasan yang hanya diberikan kepada anak pada waktu tertentu saja ketika dibutuhkan.

Secara dalil syar’i, mengapa kasih sayang dalam mendidik anak harus dikedepankan? Beberapa alasan di antaranya adalah:

Rasulullah memberikan kasih sayang terhadap anak-anak

Sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib meneladani manusia yang paling sempurna, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau berinteraksi dengan anak-anak? Tentunya beliau memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis, di antaranya adalah,

إن كان النبيُّ لَيُخالطُنا ، حتى يقولَ لأخٍ لي صغيرٍ : يا أبا عُمَيرُ ! ما فعل النُّغَيرُ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar biasa berbaur (bergaul) dengan kami, sampai-sampai beliau berkata kepada adik kecilku, ‘Wahai Abu Umair, sedang apa si nughair (burung kecil itu)?’” (HR. Bukhari)

Hadis di atas menunjukkan kasih sayang dan perhatian Rasulullah terhadap anak kecil. Walaupun beliau seorang Rasul, beliau tetap memberikan perhatian kepada anak-anak.

Bukan hanya itu, Rasulullah pun membiarkan cucu beliau untuk naik ke punggungnya ketika beliau sedang sujud ketika salat. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadis,

كلُّ ذلكَ لم يكُنْ، ولكنَّ ابْني ارْتَحَلَني، فكرِهْتُ أنْ أُعْجِلَهُ حتَّى يَقضيَ حاجتَهُ

“Semua dugaan itu tidak terjadi. Akan tetapi, anakku (cucuku) ini tadi menjadikanku seperti tunggangan, dan aku tidak suka untuk menyegerakannya (turun) sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasa’i)

Kasih sayang adalah kunci keberhasilan mendidik anak

Kasih sayang dalam mendidik anak bisa menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Mengapa demikian? Mari kita simak firman Allah berikut,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.“ (QS. Ali Imran: 159)

Allah memberikan anugerah kepada Rasulullah berupa akhlak mulia agar dakwah beliau diterima. Realitanya, Rasulullah memiliki akhlak terbaik di antara manusia yang hal tersebut menjadi salah satu alasan dakwah beliau diterima. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan ayat di atas.

Begitu juga dengan mendidik anak. Jika kita tidak memberikan akhlak mulia berupa kasih sayang kepada anak kita atau malah bersikap keras, tentulah mereka perlahan-lahan akan menjauhkan diri. Jika ada jarak yang jauh antara orang tua dan anak, bagaimana bisa orang tua memberikan pendidikan yang baik?

Renungkan juga realita yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki akhlak yang mulia, terkenal sebagai orang jujur dan amanah, namun dakwah beliau masih banyak yang menolak. Bagaimana dengan kita sebagai orang tua yang tidak sempurna? Jangan harap bisa mendidik anak dengan baik jika kita tidak bisa memberikan kasih sayang yang cukup terhadap anak.

Perlunya ketegasan dalam mendidik anak

Selain kasih sayang, dalam mendidik juga harus dipadukan dengan ketegasan terhadap anak. Akan tetapi, perlu diperhatikan ketegasan dan pemberian hukuman bukanlah sikap utama kita. Ketegasan adalah pelengkap yang dibutuhkan pada waktunya. Hal tersebut juga adalah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis disebutkan,

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya sama sekali, tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pula memukul seorang pembantu, kecuali saat beliau berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas, bisa kita ketahui bahwa Rasulullah pun memberikan hukuman, dan salah satunya adalah dengan pukulan. Akan tetapi, pemberian hukuman tersebut hanya dilakukan ketika dibutuhkan saja, terlebih lagi hukuman dengan pukulan. Memukul merupakan opsi paling akhir yang dilakukan.

Yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman

Ketegasan dalam mendidik biasanya identik dengan pemberian hukuman. Hukuman bagi anak tidak hanya berupa hukuman fisik, apalagi pukulan. Hal tersebut merupakan opsi terakhir jika metode hukuman lainnya tidak mempan untuk diterapkan. Akan tetapi, ada beberapa yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman. Di antaranya adalah:

Konsisten dalam memberikan hukuman

Ketika memberikan hukuman, kita -sebagai orang tua- harus konsisten dengan apa yang sudah ditetapkan. Jangan sampai hukuman yang diberikan tergantung dengan mood kita. Ketika kita marah karena faktor tertentu lalu anak melakukan kesalahan, kita menghukum mereka dengan tegas. Akan tetapi, ketika hati kita sedang baik, pada kesalahan yang sama, kita malah memaafkan. Jangan juga pilih kasih dalam memberikan hukuman kepada anak.

Kita juga harus konsekuen dalam memberikan hukuman. Jangan terlalu bermudah-mudahan membatalkan hukuman yang seharusnya diberikan karena sang anak menangis dan meminta maaf. Jika itu dilakukan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan dan menjadi senjata andalannya ketika berbuat salah.

Dalam memberikan hukuman kepada anak, orang tua juga harus kompak antara satu dan lainnya. Jangan sampai sang ayah dan sang ibu malah saling bertentangan. Ketika ayah memberikan hukuman kepada anak yang melakukan kesalahan, sang ibu malah membela anak yang salah tersebut atau juga sebaliknya. Jika hal tersebut terjadi, yang dipelajari oleh sang anak ketika itu adalah bagaimana cara mengambil simpati dari kelembutan hati pihak yang membela agar ia tidak dihukum ketika melakukan kesalahan.

Jangan memberikan hukuman secara serampangan

Ketika memberikan hukuman, jangan terburu-buru untuk menghukum anak. Pastikan dulu anak tersebut memang melakukan kesalahan dan mengakui kesalahannya. Jangan sampai kita menghukum anak yang sebenarnya tidak salah. Hal tersebut dilakukan agar ia tidak merasa dizalimi. Kita harus membuatnya paham bahwa kita tidak menghukumnya melainkan karena ia telah melakukan sesuatu yang bukan haknya, serta melanggar hak orang lain.

Barangsiapa yang menerapkan cara ini saat menghukum mereka (anak-anak), maka rasa cinta dan kasih sayang yang telah ditanamkan di dalam diri mereka tidak akan pernah pudar. Adapun jika tidak dilakukan, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Perlahan-lahan rasa cinta mereka akan memudar.

Imbagi hukuman dengan penghargaan

Di antara hal yang perlu dilakukan sebagai seorang orang tua adalah selain memberikan hukuman ketika melakukan kesalahan, kita juga selayaknya memberikan penghargaan ketika mereka melakukan kebaikan. Proses pendidikan apa pun yang tidak menerapkan prinsip penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) dalam mengarahkan perilaku anak secara seimbang dan rasional, niscaya penyimpanganlah yang akan menjadi hasil akhir dari pendidikan tersebut.

Hukuman bukanlah hal pertama yang dijadikan jalan keluar oleh seorang pendidik. Sebaliknya, ia harus selalu memulai dengan memberikan penghargaan, sampai pada titik di mana hukuman benar-benar diperlukan.

Penutup

Mendidik anak merupakan amanah yang besar bagi orang tua. Anak-anak yang saleh merupakan aset kita yang merupakan salah satu amalan yang tidak terputus setelah kita mati kelak. Oleh karena itu, kita harus maksimal dan serius dalam mendidik anak. Di antara usaha yang bisa kita lakukan adalah mencoba untuk memberikan porsi yang pas antara kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak.

Allahu a’lam.

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Kaifa Turabbi Abna’aka, karya Syekh Ahmad bin Nashir At-Thayyar.

Sumber: https://muslimah.or.id/34009-konsep-parenting-islami.html

Makan Bersama Setan

Kapan seseorang bisa makan bersama setan? Bisa saja itu terjadi yaitu ketika seseorang tidak membaca bismillah saat makan.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كُنَّا إِذَا حَضَرْنَا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- طَعَامًا لَمْ نَضَعْ أَيْدِيَنَا حَتَّى يَبْدَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَيَضَعَ يَدَهُ وَإِنَّا حَضَرْنَا مَعَهُ مَرَّةً طَعَامًا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ كَأَنَّهَا تُدْفَعُ فَذَهَبَتْ لِتَضَعَ يَدَهَا فِى الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهَا ثُمَّ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ كَأَنَّمَا يُدْفَعُ فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِىِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ فِى يَدِى مَعَ يَدِهَا ».

“Jika kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jamuan makanan, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang meletakkan tangannya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya. Dan kami pernah bersama beliau menghadiri jamuan makan, lalu seorang budak wanita datang yang seolah-oleh ia terdorong, lalu ia meletakkan tangannya pada makanan, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian seorang arab badui datang sepertinya ia terdorong hendak meletakkan tangannya pada makanan, namun beliau memegang tangannya dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Setan datang bersama budak wanita, dengannya setan ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga datang bersama arab badui ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama tangan mereka berdua.” (HR. Muslim no. 2017)

Hadits di atas mengajarkan beberapa hal:

1- Hendaklah mendahulukan orang yang lebih punya keutamaan dan orang yang lebih tua dalam hal makan dan mencuci tangan.

2- Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya membaca bismillah saat mulai makan, begitu pula saat akan akan minum. (Syarh Shahih Muslim, 13: 171)

Namun yang lebih tepat, membaca bismillah saat mulai makan adalah wajib sama halnya dengan perintah makan dengan tangan kanan. Lihat pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 9: 522 saat mengkritik pendapat Imam Nawawi yang menyatakan adanya ijma’ (konsensus ulama) bahwa mengucapkan bismillah tersebut sunnah.

3- Jika seeorang lupa membaca bismillah di awal makan karena sengaja, lupa, tidak tahu, dipaksa, atau tidak mampu mengucapkan lalu baru ingat ketika di tengah-tengah makan, maka diperintahkan ia mengucapkan “bismillah awwalahu wa akhirohu” (dengan nama Allah di awal dan di akhir).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِذَا أَكَلَ أَحَدكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّله فَلْيَقُلْ : بِسْمِ اللَّه فِي أَوَّله وَآخِره

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia ucapkan “Bismillah”. Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaah fii awwalihi wa aakhirihi (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767 dan Ibnu Majah no. 3264. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih).

4- Setiap yang makan diperintahkan membaca bismillah baik dalam keadaan junub, haidh dan berhadats lainnya. Lihat perkataan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 13: 171.

5- Setan akan makan bersama dengan orang yang tidak menyebut bismillah saat makan.

Masih dilanjutkan dengan satu hadits lagi tentang makan dan tidur bersama setan. Moga postingan kali ini bermanfaat bagi pembaca Rumaysho.Com sekalian.

Hanya Allah yang memberi hidayah taufik untuk beramal sholeh dan istiqomah menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

—

Diselesaikan di Warak, Girisekar, Panggang, GK, 19 Rabi’ul Awwal 1435 H selepas ‘Isya’.

Oleh -akhukum fillah- Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/5981-makan-bersama-setan.html

Khutbah Jumat: Jangan Takut Masa Depan, Bertakwalah kepada Allah

Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

فَقَالَ تَعَالَى
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

أَمَّا بَعْدُ،

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.

Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”

Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.

Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.

Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.

Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)

Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.

Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.

Perencanaan membuat kita bergerak.

Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.

Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.

Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.

Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”

Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.

Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.

Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.

Takwa berarti amanah dalam penelitian.

Takwa berarti tidak memalsukan data.

Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.

Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.

Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bekal kedua adalah tawakal.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.

Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.

Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.

Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.

Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.

Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.

Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:

Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bekal ketiga adalah imani takdir. 

Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:

“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”

“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”

“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”

Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.

Beliau berkata:

وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةً

Asal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.

Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.

Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.

Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.

Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.

Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.

Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”

Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.

Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.

Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.

Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.

Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.

Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.

Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.

Pertama, perbaiki shalat.

Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.

Kedua, bangun kompetensi.

Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.

Ketiga, jaga lingkungan.

Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.

Keempat, perbanyak doa.

Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.

Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:

كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ:
مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ،
وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ،
وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.

“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:

Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.

Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.

Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).

Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.

Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:

بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ
فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ

“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”

Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا،

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ..
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

—-

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari Bantul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42470-khutbah-jumat-jangan-takut-masa-depan-bertakwalah-kepada-allah.html