Konsep Parenting Islami: Memadukan Kasih Sayang dan Ketegasan dalam Mendidik

Salah satu konsep parenting dalam Islam adalah memadukan kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak. Idealnya, seorang anak perlu mendapatkan keduanya agar ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik. Di satu sisi, ia butuh kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Akan tetapi di sisi lain, ia juga harus menerima ketegasan ketika melakukan keburukan atau semisalnya.

Ketika seorang anak hanya dididik dengan kasih sayang saja, itu akan membahayakannya di kemudian hari. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa dimanjakan, sehingga tertipu dengan nikmatnya kehidupan. Ia akan menjadi pribadi yang manja dan tidak tahan banting menghadapi kerasnya dunia di kemudian hari.

Sebaliknya, ketika seorang anak kekurangan kasih sayang dan menerima didikan yang keras, maka hal tersebut akan membuat sekat pembatas antara orang tua dan anak. Hasilnya apa? Tentu ia akan menjadi pribadi yang suka membangkang dan tidak akan dekat dengan orang tua.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk seimbang antara kasih sayang dan ketegasan dalam medidik anak. Jangan sampai anak kekurangan kasih sayang sehingga tidak memiliki ikatan emosional yang cukup dengan orang tua. Jangan juga anak dibiarkan tanpa ketegasan sama sekali sehingga ia menjadi pribadi yang manja.

Kasih sayang dalam mendidik anak

Mendidik anak dengan kasih sayang merupakan asas utama dalam mendidik anak. Kasih sayang merupakan hal yang perlu diberikan kepada anak dalam setiap kondisi. Berbeda dengan ketegasan yang hanya diberikan kepada anak pada waktu tertentu saja ketika dibutuhkan.

Secara dalil syar’i, mengapa kasih sayang dalam mendidik anak harus dikedepankan? Beberapa alasan di antaranya adalah:

Rasulullah memberikan kasih sayang terhadap anak-anak

Sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib meneladani manusia yang paling sempurna, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau berinteraksi dengan anak-anak? Tentunya beliau memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis, di antaranya adalah,

إن كان النبيُّ لَيُخالطُنا ، حتى يقولَ لأخٍ لي صغيرٍ : يا أبا عُمَيرُ ! ما فعل النُّغَيرُ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar biasa berbaur (bergaul) dengan kami, sampai-sampai beliau berkata kepada adik kecilku, ‘Wahai Abu Umair, sedang apa si nughair (burung kecil itu)?’” (HR. Bukhari)

Hadis di atas menunjukkan kasih sayang dan perhatian Rasulullah terhadap anak kecil. Walaupun beliau seorang Rasul, beliau tetap memberikan perhatian kepada anak-anak.

Bukan hanya itu, Rasulullah pun membiarkan cucu beliau untuk naik ke punggungnya ketika beliau sedang sujud ketika salat. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadis,

كلُّ ذلكَ لم يكُنْ، ولكنَّ ابْني ارْتَحَلَني، فكرِهْتُ أنْ أُعْجِلَهُ حتَّى يَقضيَ حاجتَهُ

“Semua dugaan itu tidak terjadi. Akan tetapi, anakku (cucuku) ini tadi menjadikanku seperti tunggangan, dan aku tidak suka untuk menyegerakannya (turun) sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasa’i)

Kasih sayang adalah kunci keberhasilan mendidik anak

Kasih sayang dalam mendidik anak bisa menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Mengapa demikian? Mari kita simak firman Allah berikut,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.“ (QS. Ali Imran: 159)

Allah memberikan anugerah kepada Rasulullah berupa akhlak mulia agar dakwah beliau diterima. Realitanya, Rasulullah memiliki akhlak terbaik di antara manusia yang hal tersebut menjadi salah satu alasan dakwah beliau diterima. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan ayat di atas.

Begitu juga dengan mendidik anak. Jika kita tidak memberikan akhlak mulia berupa kasih sayang kepada anak kita atau malah bersikap keras, tentulah mereka perlahan-lahan akan menjauhkan diri. Jika ada jarak yang jauh antara orang tua dan anak, bagaimana bisa orang tua memberikan pendidikan yang baik?

Renungkan juga realita yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki akhlak yang mulia, terkenal sebagai orang jujur dan amanah, namun dakwah beliau masih banyak yang menolak. Bagaimana dengan kita sebagai orang tua yang tidak sempurna? Jangan harap bisa mendidik anak dengan baik jika kita tidak bisa memberikan kasih sayang yang cukup terhadap anak.

Perlunya ketegasan dalam mendidik anak

Selain kasih sayang, dalam mendidik juga harus dipadukan dengan ketegasan terhadap anak. Akan tetapi, perlu diperhatikan ketegasan dan pemberian hukuman bukanlah sikap utama kita. Ketegasan adalah pelengkap yang dibutuhkan pada waktunya. Hal tersebut juga adalah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis disebutkan,

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya sama sekali, tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pula memukul seorang pembantu, kecuali saat beliau berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas, bisa kita ketahui bahwa Rasulullah pun memberikan hukuman, dan salah satunya adalah dengan pukulan. Akan tetapi, pemberian hukuman tersebut hanya dilakukan ketika dibutuhkan saja, terlebih lagi hukuman dengan pukulan. Memukul merupakan opsi paling akhir yang dilakukan.

Yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman

Ketegasan dalam mendidik biasanya identik dengan pemberian hukuman. Hukuman bagi anak tidak hanya berupa hukuman fisik, apalagi pukulan. Hal tersebut merupakan opsi terakhir jika metode hukuman lainnya tidak mempan untuk diterapkan. Akan tetapi, ada beberapa yang perlu diperhatikan ketika memberi hukuman. Di antaranya adalah:

Konsisten dalam memberikan hukuman

Ketika memberikan hukuman, kita -sebagai orang tua- harus konsisten dengan apa yang sudah ditetapkan. Jangan sampai hukuman yang diberikan tergantung dengan mood kita. Ketika kita marah karena faktor tertentu lalu anak melakukan kesalahan, kita menghukum mereka dengan tegas. Akan tetapi, ketika hati kita sedang baik, pada kesalahan yang sama, kita malah memaafkan. Jangan juga pilih kasih dalam memberikan hukuman kepada anak.

Kita juga harus konsekuen dalam memberikan hukuman. Jangan terlalu bermudah-mudahan membatalkan hukuman yang seharusnya diberikan karena sang anak menangis dan meminta maaf. Jika itu dilakukan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan dan menjadi senjata andalannya ketika berbuat salah.

Dalam memberikan hukuman kepada anak, orang tua juga harus kompak antara satu dan lainnya. Jangan sampai sang ayah dan sang ibu malah saling bertentangan. Ketika ayah memberikan hukuman kepada anak yang melakukan kesalahan, sang ibu malah membela anak yang salah tersebut atau juga sebaliknya. Jika hal tersebut terjadi, yang dipelajari oleh sang anak ketika itu adalah bagaimana cara mengambil simpati dari kelembutan hati pihak yang membela agar ia tidak dihukum ketika melakukan kesalahan.

Jangan memberikan hukuman secara serampangan

Ketika memberikan hukuman, jangan terburu-buru untuk menghukum anak. Pastikan dulu anak tersebut memang melakukan kesalahan dan mengakui kesalahannya. Jangan sampai kita menghukum anak yang sebenarnya tidak salah. Hal tersebut dilakukan agar ia tidak merasa dizalimi. Kita harus membuatnya paham bahwa kita tidak menghukumnya melainkan karena ia telah melakukan sesuatu yang bukan haknya, serta melanggar hak orang lain.

Barangsiapa yang menerapkan cara ini saat menghukum mereka (anak-anak), maka rasa cinta dan kasih sayang yang telah ditanamkan di dalam diri mereka tidak akan pernah pudar. Adapun jika tidak dilakukan, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Perlahan-lahan rasa cinta mereka akan memudar.

Imbagi hukuman dengan penghargaan

Di antara hal yang perlu dilakukan sebagai seorang orang tua adalah selain memberikan hukuman ketika melakukan kesalahan, kita juga selayaknya memberikan penghargaan ketika mereka melakukan kebaikan. Proses pendidikan apa pun yang tidak menerapkan prinsip penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) dalam mengarahkan perilaku anak secara seimbang dan rasional, niscaya penyimpanganlah yang akan menjadi hasil akhir dari pendidikan tersebut.

Hukuman bukanlah hal pertama yang dijadikan jalan keluar oleh seorang pendidik. Sebaliknya, ia harus selalu memulai dengan memberikan penghargaan, sampai pada titik di mana hukuman benar-benar diperlukan.

Penutup

Mendidik anak merupakan amanah yang besar bagi orang tua. Anak-anak yang saleh merupakan aset kita yang merupakan salah satu amalan yang tidak terputus setelah kita mati kelak. Oleh karena itu, kita harus maksimal dan serius dalam mendidik anak. Di antara usaha yang bisa kita lakukan adalah mencoba untuk memberikan porsi yang pas antara kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak.

Allahu a’lam.

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Kaifa Turabbi Abna’aka, karya Syekh Ahmad bin Nashir At-Thayyar.

Sumber: https://muslimah.or.id/34009-konsep-parenting-islami.html

Makan Bersama Setan

Kapan seseorang bisa makan bersama setan? Bisa saja itu terjadi yaitu ketika seseorang tidak membaca bismillah saat makan.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كُنَّا إِذَا حَضَرْنَا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- طَعَامًا لَمْ نَضَعْ أَيْدِيَنَا حَتَّى يَبْدَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَيَضَعَ يَدَهُ وَإِنَّا حَضَرْنَا مَعَهُ مَرَّةً طَعَامًا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ كَأَنَّهَا تُدْفَعُ فَذَهَبَتْ لِتَضَعَ يَدَهَا فِى الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهَا ثُمَّ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ كَأَنَّمَا يُدْفَعُ فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِىِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ فِى يَدِى مَعَ يَدِهَا ».

“Jika kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jamuan makanan, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang meletakkan tangannya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya. Dan kami pernah bersama beliau menghadiri jamuan makan, lalu seorang budak wanita datang yang seolah-oleh ia terdorong, lalu ia meletakkan tangannya pada makanan, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian seorang arab badui datang sepertinya ia terdorong hendak meletakkan tangannya pada makanan, namun beliau memegang tangannya dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Setan datang bersama budak wanita, dengannya setan ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga datang bersama arab badui ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama tangan mereka berdua.” (HR. Muslim no. 2017)

Hadits di atas mengajarkan beberapa hal:

1- Hendaklah mendahulukan orang yang lebih punya keutamaan dan orang yang lebih tua dalam hal makan dan mencuci tangan.

2- Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya membaca bismillah saat mulai makan, begitu pula saat akan akan minum. (Syarh Shahih Muslim, 13: 171)

Namun yang lebih tepat, membaca bismillah saat mulai makan adalah wajib sama halnya dengan perintah makan dengan tangan kanan. Lihat pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 9: 522 saat mengkritik pendapat Imam Nawawi yang menyatakan adanya ijma’ (konsensus ulama) bahwa mengucapkan bismillah tersebut sunnah.

3- Jika seeorang lupa membaca bismillah di awal makan karena sengaja, lupa, tidak tahu, dipaksa, atau tidak mampu mengucapkan lalu baru ingat ketika di tengah-tengah makan, maka diperintahkan ia mengucapkan “bismillah awwalahu wa akhirohu” (dengan nama Allah di awal dan di akhir).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِذَا أَكَلَ أَحَدكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّله فَلْيَقُلْ : بِسْمِ اللَّه فِي أَوَّله وَآخِره

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia ucapkan “Bismillah”. Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaah fii awwalihi wa aakhirihi (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767 dan Ibnu Majah no. 3264. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih).

4- Setiap yang makan diperintahkan membaca bismillah baik dalam keadaan junub, haidh dan berhadats lainnya. Lihat perkataan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 13: 171.

5- Setan akan makan bersama dengan orang yang tidak menyebut bismillah saat makan.

Masih dilanjutkan dengan satu hadits lagi tentang makan dan tidur bersama setan. Moga postingan kali ini bermanfaat bagi pembaca Rumaysho.Com sekalian.

Hanya Allah yang memberi hidayah taufik untuk beramal sholeh dan istiqomah menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diselesaikan di Warak, Girisekar, Panggang, GK, 19 Rabi’ul Awwal 1435 H selepas ‘Isya’.

Oleh -akhukum fillah- Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/5981-makan-bersama-setan.html

Khutbah Jumat: Jangan Takut Masa Depan, Bertakwalah kepada Allah

Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

فَقَالَ تَعَالَى
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

أَمَّا بَعْدُ،

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.

Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”

Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.

Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.

Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.

Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)

Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.

Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.

Perencanaan membuat kita bergerak.

Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.

Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.

Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.

Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”

Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.

Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.

Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.

Takwa berarti amanah dalam penelitian.

Takwa berarti tidak memalsukan data.

Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.

Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.

Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bekal kedua adalah tawakal.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.

Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.

Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.

Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.

Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.

Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.

Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:

Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bekal ketiga adalah imani takdir. 

Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:

“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”

“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”

“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”

Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.

Beliau berkata:

وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةً

Asal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.

Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.

Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.

Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.

Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.

Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.

Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”

Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.

Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.

Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.

Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.

Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.

Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.

Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.

Pertama, perbaiki shalat.

Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.

Kedua, bangun kompetensi.

Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.

Ketiga, jaga lingkungan.

Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.

Keempat, perbanyak doa.

Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.

Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:

كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ:
مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ،
وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ،
وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.

“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:

Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.

Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.

Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).

Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.

Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:

بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ
فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ

“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”

Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا،

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ..
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

—-

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari Bantul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42470-khutbah-jumat-jangan-takut-masa-depan-bertakwalah-kepada-allah.html

Keutamaan Menjadi Penyeru Kebaikan

Oleh
DR. Husain bin Naffa`al-Jâbiri[1]

Dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla termasuk amal ketaatan yang paling agung dan ibadah paling afdhal  yang dilakukan seorang hamba kepada Rabbnya Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allâh , malaikat dan para penghuni langit dan bumi, sampai seekor semut dan ikan di laut mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. [HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani]

Maka, barang siapa menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla , mengajarkan manusia apa yang bermanfaat dalam agama mereka, ia pun berhak masuk dalam doa tersebut. Karena ia memberi mereka petunjuk kebaikan dan menuntun mereka kepadanya, serta menjelaskan kepada mereka jalan hidayah dan jalan yang lurus.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya. [HR. Muslim]

Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 مَنْ دَعَا إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa mengajak kepada hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [HR. Muslim]

Bila demikian kedudukan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla,  dan pahala yang ditentukan dari menempuh jalan dakwah tersebut, maka seyogyanya seorang Muslim (dan Muslimah) untuk berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi salah seorang penyeru dakwah yang kelak akan tampak pengaruhnya pada diri mereka dan masyarakat sosial mereka.

Berdasarkan urgensi tinggi ini, penulis ingin menyampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudaraku, orang-orang yang menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla yang saya berharap mereka mendapatkan manfaat darinya:

Saling bekerja sama dalam dakwah dan saling mendukung di antara mereka serta berusaha dengan serius untuk menyatukan kaum Muslimin dan mempersatukan mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Shahihah dengan dasar pemahaman generasi terdahulu umat Islam, dalam mengamalkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai [Ali Imran/3:103]

dan Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu [Al Hujurât/49:10]

Sesungguhnya keadaan manusia tidak teratur dan tidak menjadi lurus kecuali dengan bersatu dan saling menjalin keakraban di antara mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendeskripsikan makna ini dalam potret yang amat menarik:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mencintai, menyayangi dan saling peduli bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh darinya mengeluhkan sesuatu (penderitaan), maka seluruh tubuh akan mengundang untuk demam dan begadang  karenanya. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]


Kewajiban mereka untuk mewaspadai hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan silang-pendapat, seperti sifat hasad, zhalim dan prasangka buruk, atau berkompetisi untuk meraih jabatan, popularitas dan lain-lain yang dapat memalingkan dari ikhlas dan menjauhkan dirinya dari taufik Allâh. Akibatnya, seorang dai berjalan dengan penuh kebanggaan diri, lupa diri  dan merasa tinggi di atas yang lainnya, dengan menyangka dirinya termasuk orang-orang yang ikhlas, padahal ia amat jauh dari ikhlas. Semoga Allâh  memaafkan dan menyelamatkan kita darinya.

Bersabar menghadapi segala respon negatif dari orang lain dalam jalan dakwah, seperti ejekan, olokan, dan tuduhan yang batil, atau kekuatan yang minim, musuh  yang berkuasa, orang-orang dengki, kezhaliman, dakwah tidak diterima, diusir dari kampung halaman dan lain-lain yang kadang dihadapi oleh para penyeru kebenaran dan orang-orang yang tergerak untuk memperbaiki keadaan saat menyebarkan dakwah mereka.

Sungguh, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengalami gangguan dan rintangan, dipukul, dicekik, dan dilemparkan jeroan onta ke punggung Beliau. Beliau juga dituduh sebagai orang gila, pendusta, tukang sihir, penyair atau dukun. Beliau pun diusir dari negeri sendiri, dilempari bebatuan hingga darah mengucur dari dua tumit Beliau yang mulia.  Beliau diembargo di lembah Bani Hasyim sehingga sempat Beliau dan para Sahabat terpaksa memakan dedaunan. Paman Beliau, Hamzah terbunuh, begitu juga para Sahabat juga terbunuh di depan mata Beliau.

Lalu Beliau pun harus menghadapi fitnah dari kaum Munafiqin yang menuduh istri Beliau  yang tercinta dengan perbuatan serong. Masih banyak ujian, gangguan dan rintangan yang tidak akan mampu diemban gunung-gunung kokoh yang menjulang tinggi, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan selalu mengharap pahala dari Rabbnya.

Maka, pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ada keteladanan yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah  ada pada (diri) Rasûlullâh  itu ada suri teladan yang bagi kalian (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allâh  dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut  Allâh  [Al-Ahzab/33:21]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allâh , dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allâh  menyukai orang-orang yang sabar. [Ali Imran/3:146]

Allâh  Azza wa Jalla berfirman untuk mengabarkan wasiat Luqman kepada putranya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh ) [Luqman/31:17]


Ia berpesan untuk bersabar setelah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran mesti akan menghadapi gangguan atau hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Maka, ia perlu melatih diri untuk menahan diri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan.

Membekali diri dengan ilmu syar’i, terutama yang berhubungan dengan ilmu tentang aqidah yang benar yang berlandaskan Al-Qur`an dan Hadits, serta manhaj Salafus Shalih rahimahumullah dan mencoba mencari tahu syubhat-syubhat yang ada dan menganalisa bagaimana cara mematahkan dan menjawabnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allâh  dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allâh  dan aku tiada termasuk orang-orang yang musryik”. [Yûsuf/12:108])

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih]

Orang yang jahil tidak mungkin memahami agamanya dan kemudian mendakwahkannya kepada orang lain, atau membelanya dan mematahkan  takwil-takwil orang-orang bodoh, syubhat-syubhat pembawa kebatilan dan orang-orang yang punya kepentingan-kepentingan tertentu.

Maka, sudah menjadi kewajiban untuk menyebarkan ilmu di masjid-masjid, islamic center, dan kumpulan orang-orang banyak dan di setiap tempat.

Sebagaimana menjadi kewajiban para pemuda untuk dekat dengan para Ulama yang terpercaya yang dikenal memiliki ilmu yang melimpah, ketakwaan dan sifat wara’, lalu mereka mengambil petunjuk dari para Ulama tersebut, menjalankan apa yang mereka arahkan, sehingga amal perbuatan mereka (para pemuda itu) sesuai dengan syariat Allâh Azza wa Jalla , bukan asal sejalan dengan keinginan dan semangat mereka.

Akhirnya, penulis ingin menyampaikan bahwa agama ini agama yang akan selalu terjaga dengan pemeliharaan dari Allâh Azza wa Jalla . Dengan kekokohannya, pemikiran-pemikiran para penyimpang berguguran sepanjang masa.

Agama ini merupakan ruh bagi kehidupan dan kehidupan bagi ruh kita, cahaya bagi jalan kita dan jalan yang bercahaya. Kewajibanmu tiada lain, engkau berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki diri dan memperbaiki orang-orang yang ada di sekitarmu, dan menyampaikan agama Allâh  sebagaimana yang dikehendaki Allâh , berkomitmen dengan ajaran-ajaran-Nya, berpedoman dengan hidayah-Nya dan menjauhi maksiat dengan seluruh jenisnya .

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua dan menjadikan kita orang-orang yang disibukkan dengan amal ketaatan kepada-Nya, membela agama-Nya, mengikuti sunnah Nabi-Nya dan membela sunnah Beliau di seluruh kesempatan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1]  Dosen di Universitas Islam Madinah.
Referensi : https://almanhaj.or.id/72194-keutamaan-menjadi-penyeru-kebaikan.html

Keutamaan dan Buah dari Shalat Malam

فضائل وثمرات قيام الليل

Oleh: Dr. Abu al-Hasan Ali bin Muhammad at-Mathari

الدكتور أبو الحسن علي بن محمد المطري

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه، ومن اتَّبع هدْيَه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:

فضائل وثمرات قيام الليل:

• هو إقامة للروح على معارج القدس، وإقامة للحياة وترويحٌ للنفس، ومناجاة للمولى وكلام همس، حيث يحلو القرب من الله والأنس، هذه السنة والعبادة التي أصبحت منسيةً، فتسلط علينا كل وسواس خناس، فاضطربت الأحوال وضاقت الحياة على الناس، هل عرفتم عن ماذا أتحدث؟ إنها (قيام الليل)، وهذه كلماتٌ وقطوف من دوحة القانتين والذاكرين، نستشعر بها معاني الصلاة في جوف الليل.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasul yang paling mulia, Nabi kita, Muhammad, dan kepada para keluarga dan sahabat beliau, serta orang yang mengikuti ajaran beliau hingga Hari Kiamat. Amma ba’du:

Keutamaan dan buah dari Shalat Malam:

Shalat Malam merupakan kegiatan menapakkan jiwa di atas derajat-derajat suci, menegakkan hidup dan mendamaikan jiwa, serta munajat dan bisikan kepada Sang Kuasa. Ketika itulah akan terasa manis dan damainya kedekatan kepada Allah. Sunah dan ibadah ini menjadi sesuatu yang terlupakan. Kita dikuasai oleh segala bisikan setan, sehingga keadaan menjadi tidak menentu, dan kehidupan menjadi terasa sulit bagi manusia. 

Apakah kalian mengetahui, tentang apa aku berbicara? Ini adalah tentang “Shalat Malam”. Berikut ini adalah untaian kalimat dan ranting-ranting dari pohon tempat bernaung para orang-orang khusyuk dan ahli zikir. Dengan kalimat ini, kita mencoba mendalami makna-makna salat pada pertengahan malam.

فضائل قيام الليل:

يقول الله تعالى مادحًا عباده المؤمنين بخصالٍ جميلة وأعمالٍ جليلة: ﴿ تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴾ [السجدة: 16].

ومن أخص هذه الصفات (قيام الليل) الذي هو طريق الأولياء إلى الله، الولاية تلك المنزلة التي يتمناها كل مسلم؛ منزلة القرب والعناية، فندخل في قوله تعالى: ﴿ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ [يونس: 62].

Keutamaan Shalat Malam:

Allah Ta’ala berfirman sebagai pujian bagi para hamba-Nya yang beriman, yang memiliki sifat-sifat mulia dan amalan-amalan agung:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan rezeki yang telah Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16).

Di antara sifat yang paling istimewa dari Shalat Malam – yang merupakan jalan para wali (kekasih) Allah menuju kepada-Nya; dan kewalian adalah derajat yang diharapkan setiap Muslim – adalah menjadi status kedekatan kepada Allah dan perhatian dari-Nya; sehingga kita dapat tercakup dalam cakupan firman Allah Ta’ala:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih.” (QS. Yunus: 62).

فطريق الأولياء إلى الله هو: الابتعاد عن المُحرَّمات، وأداء الفرائض، والتقرُّب بالنوافل، كلٌّ بحسب استطاعته وإقباله، وأفضل النوافل قيام الليل، جاء في صحيح مسلم من حديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه، قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: “أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل”.

وهذا الفضل الكبير لقيام الليل؛ لأنه أقرب إلى الإخلاص فهو عبادة سرية لا يعلم بها أحد، وفيه مشقة على النفس، فالمؤمن يقوم من فراشه ونومه وراحته، وهو أقرب إلى التدبُّر والخشوع.. ولهذا سميَ قيام الليل (شرف المؤمن)، قال عليه الصلاة والسلام: “أتاني جبريل، فقال يا محمد، عِشْ ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس”.

Jalan kewalian menuju Allah adalah dengan menjauhi hal-hal yang diharamkan, menjalankan kewajiban-kewajiban, dan mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunah. Setiap mereka melaksanakannya sesuai dengan kemampuan dan kecondongan mereka masing-masing. Adapun ibadah sunah yang paling utama adalah Shalat Malam. Diriwayatkan dalam “Shahih Muslim” dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Salat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah Shalat Malam.” (HR. Muslim).

Ini merupakan keutamaan besar yang dimiliki Shalat Malam, karena ia lebih mudah untuk dilaksanakan dengan ikhlas; sebab ia menjadi ibadah rahasia yang tidak diketahui orang lain. Dalam Shalat Malam juga terasa berat bagi hawa nafsu; karena seorang mukmin harus bangun dari tempat tidurnya, serta bangkit dari tidur dan kenyamanannya. Ia juga menjadikan tadabur dan kekhusyukan lebih mudah dilakukan. Oleh sebab itu, Shalat Malam disebut sebagai “Kemuliaan seorang mukmin”. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam, “Malaikat Jibril pernah datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sungguh kamu akan mati; cintai siapa pun sesukamu, karena kamu pasti akan meninggalkannya; dan lakukanlah apa saja sesukamu, karena kamu pasti mendapatkan balasannya; serta ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah dengan Shalat Malamnya, sedangkan kehormatan dirinya adalah dengan tidak bergantung kepada orang lain.’”

فوائد وثمرات قيام الليل:

وفوائد قيام الليل عظيمة، وثمراته كثيرة، أذكر لكم بعضها:

• تكفير الذنوب: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول: من يدعوني، فأستجيب له، من يسألني فأعطيه، من يستغفرني فأغفر له)).

Manfaat dan Buah dari Shalat Malam

Manfaat Shalat Malam sangat besar dan buah yang banyak; dan saya akan menyebutkan kepada kalian beberapa di antaranya:

  1. Menggugurkan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit paling bawah saat waktu malam tersisa sepertiga terakhir. Lalu Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, sehingga Aku akan mengabulkannya? Siapa yang meminta kepada-Ku, sehingga Aku akan memberinya? Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, sehingga Aku akan mengampuni-Nya?’”

• استجابة الدعاء: إن كنت تريد قضاء الحاجات، وتفريج الهموم وتيسير الأمور وتحقيق الأمنيات، فعليك بالدعاء في قيام الليل، قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((إنَّ من اللَّيل ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله خيرًا إلا أعطاه إياه، وذلك كل ليلة)).

  1. Dikabulkannya doa. Apabila kamu ingin kebutuhanmu terpenuhi, masalahmu terselesaikan, urusanmu dimudahkan, dan tujuanmu tercapai; maka hendaklah kamu berdoa dalam Shalat Malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada sebagian malam itu terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim meminta kebaikan kepada Allah yang bertepatan dengan waktu itu, melainkan Allah pasti akan mengabulkannya; dan waktu ini ada pada setiap malam.”

• يطرد العجز والكسل وداء الجسد: قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((عليكم بقيام الليل؛ فإنَّه دأْبُ الصالحين قبلكم؛ فإنَّ قيامَ الليل قُرْبَةٌ إلى الله عز وجل، وتكفيرٌ للذُّنوب، ومَطْرَدَةٌ للدَّاء عن الجسد، ومنهاة عن الإثم))، وقال العراقيُّ: إسنادُه حسنٌ.

  1. Mengusir sifat lemah dan malas serta penyakit jasmani. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian mendirikan Shalat Malam, karena ia adalah jalan orang-orang saleh sebelum kalian. Sesungguhnya Shalat Malam merupakan ibadah yang mendekatkan pelakunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, penghapus dosa-dosa, mengusir penyakit dari badan, dan penghalang dari perbuatan dosa.” Al-Iraqi berkata bahwa sanadnya hasan.

• صلاح الأبناء والأسرة: فعندما يراك أهلك وأولادك تقوم الليل فإن هذا السلوك سيؤثر فيهم، ويُحبِّب إليهم الدين والعبادة فيقتدون بك، والله سبحانه وتعالى يتولَّى ذريته حتى بعد مماته، قال تعالى: ﴿ وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ﴾ [الكهف: 82].

  1. Menjadi sebab kesalehan anak-anak dan istri. Ketika istri dan anak-anakmu melihatmu sedang mendirikan Shalat Malam, ini akan menjadi perilaku yang memberi pengaruh terhadap mereka, dan membuat mereka ikut mencintai agama dan ibadah, sehingga mereka mencontohmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan menjaga keturunan orang itu hingga setelah kematiannya. Dia berfirman:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun tembok itu adalah punya dua anak yatim yang ada di kota; dan di bawah tembok itu terdapat harta mereka berdua. Dan ayah mereka berdua adalah orang yang saleh, sehingga Tuhanmu berkehendak agar mereka berdua mencapai usia dewasa lalu mereka mengeluarkan harta mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu.”  (QS. Al-Kahfi: 82).

• سبب الرحمة: قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((رَحِم اللهُ رجلًا قام من الليل فصلَّى وأيقظَ امرأتَه، فإن أَبَتْ نضح في وجهها الماءَ، ورحم اللهُ امرأةً قامت من اللَّيل فصلَّت وأيقظت زوجَها، فإن أبى نضحت في وجهه الماء)).

  1. Menjadi sebab diraihnya rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari, lalu mendirikan salat dan membangunkan istrinya. Apabila istrinya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun pada malam hari, lalu mendirikan salat dan membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya.”

• دخول الجنة: قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((يا أيها الناس، أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصَلُّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام)).

  1. Menjadi sebab masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Wahai segenap manusia! Tebarkanlah salam, berilah makan, dan sambunglah silaturahmi, serta dirikanlah Shalat Malam ketika orang-orang terlelap; niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”

حال السلف مع قيام الليل:

• ولهذه الفضائل والفوائد صار قيام الليل حال الصالحين ودَأْب العابدين، فكان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يَمُرُّ بالآية من وِرْده بالليل فيسقط، حتى يُعاد منها أيَّامًا كثيرةً كما يُعادُ المريضُ.

• وكان ابنُ مسعود رضي الله عنه إذا هدأت العيونُ قام فيُسْمَعُ له دَوِيٌّ كَدَويِّ النَّحْل حتى يصبحَ.

Keadaan Para Salaf Bersama Shalat Malam

Karena berbagai keutamaan dan manfaat tersebut, Shalat Malam menjadi kegiatan orang-orang saleh dan kebiasaan para ahli ibadah. Dulu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu membaca satu ayat dari wirid malamnya hingga pingsan; hingga beliau dijenguk berhari-hari karena hal itu, sebagaimana dijenguknya orang sakit.

Dulu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu apabila mata orang-orang telah terlelap, beliau segera mendirikan shalat, sehingga terdengar dari beliau dengungan seperti suara dengungan lebah hingga pagi hari. 

كل ذلك الحرص على قيام الليل خوفًا من عذاب الله سبحانه، ورجاء لرضا الله سبحانه، قال المغيرةُ بن حبيب: رمقتُ مالك بن دينار رحمه اللهُ فتوضَّأ بعد العشاء ثم قام إلى مُصَلَّاه فقبضَ على لحيته فخنقته العبرةُ، فجعل يقول: اللهم حَرِّمْ شيبةَ مالك على النار، إلهي قد علمت ساكن الجنة من ساكن النار، فأيُّ الرجلين مالك، وأيُّ الدَّارين دار مالك؟! فلم يزل ذلك قوله حتى طلع الفجر.

سبحان الله! هذا حال الولي الصالح والرجل العابد مالك بن دينار، فما حالنا نحن اليوم الذين غرقنا في الذنوب والغفلة؟!

Kesungguhan mereka dalam menjalankan Shalat Malam ini merupakan bentuk ketakutan mereka terhadap azab Allah, dan harapan terhadap keridhaan-Nya. Al-Mughirah bin Habib berkata, “Aku pernah memperhatikan Malik bin Dinar rahimahullah. Beliau berwudu setelah Isya, lalu berdiri menuju tempat salatnya. Beliau kemudian menggenggam jenggotnya dan menangis tersedu-sedu, beliau berkata, ‘Ya Allah, haramkanlah Malik dari neraka! Ya Tuhanku, aku telah mengetahui siapa yang layak menjadi penghuni surga dan siapa yang layak menjadi penghuni neraka. Lalu Malik termasuk dari golongan mana? Dan mana tempat bagi Malik?!’ Beliau terus mengucapkan itu hingga terbit fajar.

Subhanallah! Demikianlah keadaan seorang wali yang saleh dan ahli ibadah, Malik bin Dinar. Lalu bagaimana keadaan kita hari ini, yang tenggelam dalam dosa-dosa dan kelalaian?!

وكما أن الطعام لنا أمر لا نتركه في كل يوم، فكذلك كان حال سلفنا الصالح رضوان الله تعالى عليهم أجمعين مع قيام الليل، ويندر أن تجد أحدًا في ذلك الزمان لا يصلي في جوف الليل، وإن وجد فهو أمرٌ منكرٌ مستغرب، كان للحسن بن صالح جاريةٌ فباعها من قوم، فلما كان في جوف الليل قامت الجاريةُ فقالت: يا أهلَ الدار، الصلاة الصلاة، فقالوا: أصبحنا؟ أَطَلَعَ الفجرُ؟ فقالت: وما تُصَلُّون إلا المكتوبة؟! قالوا: نعم، فرجعت إلى الحسن فقالت: يا مولاي، بعتني من قوم لا يُصَلُّون إلا المكتوبة؛ رُدَّني، فَرَدَّها.

• وعن مسعر عن رجل قال: أتى طاووس رجلًا في السحر، فقالوا: هو نائم، فقال: ما كنت أرى أن أحدًا ينام في السحر؟

Sebagaimana makanan bagi kita adalah perkara yang tidak mungkin kita tinggalkan setiap hari; demikianlah keadaan para Salafus Saleh terhadap Shalat Malam. Hampir jarang sekali ada orang pada zaman itu yang tidak mendirikan salat pada tengah malam; dan jika memang ada, maka itu adalah hal yang nyeleneh. Dulu al-Hasan bin Shalih memiliki seorang budak wanita, lalu menjualnya kepada suatu kaum. Pada saat pertengahan malam, budak wanita itu bangun dan berkata, “Wahai para penghuni rumah! Waktunya salat!” Mereka pun bertanya, “Apakah sudah subuh? Apakah sudah terbit waktu fajar?” Budak wanita itu menjawab, “Apakah kalian tidak mendirikan salat kecuali Shalat Fardhu?” Mereka menjawab, “Ya!” Budak wanita itu lalu kembali kepada al-Hasan bin Shalih dan berkata, “Wahai tuanku, Anda telah menjualku kepada kaum yang tidak mendirikan salat kecuali yang wajib saja, tolong kembalikanlah aku kepadamu!” Akhirnya al-Hasan pun mengembalikannya.

Diriwayatkan dari Mus’ir dari seseorang, ia berkata bahwa Thawus pernah datang pada waktu sahur untuk mencari seseorang. Lalu orang-orang menjawab, “Orang itu sedang tidur.” Thawus lalu berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang tidur pada waktu sahur!”

الحث على قيام الليل:

إن قيام الليل هو السبيل الأوفى للإصلاح للفرد والأسرة والمجتمع، والمنزل الأكرم للسعادة والرضا والعلاج الأنجع للحفظ من الفتن، وبعد أن استعرضنا بعض الفضائل والفوائد لقيام الليل، فحريٌّ بنا أن نسارع إلى امتثال هذه العبادة العظيمة، لما يترتب عليها من مهنأة في العيش وسعة في الرزق، ورضا الرحمن ومسارعة الدخول إلى الجنان بسلام، كل هذه الخيرات الدنيوية والأخروية مفتاح بابها الصلاة في جوف الليل، فهل يليق بمسلمٍ أن يتأخر عنها؟ هل يليق بمسلم أن يقصر فيها؟ إن الإنسان فُطِرَ على حب الخير والسعادة، وها نحن الآن نتعرف على مفتاح الخير كله (قيام الليل) فهيا لنشمر عن ساعد الجد، ونسعى لنكون من أهل القرب، ونسارع لنخرج من الغفلة ونكتب مع الذاكرين، قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم: ((من قام بعشر آيات لم يُكتب من الغافلين، ومن قام بمائة آية كتب من القانتين، ومن قام بألف آية كتب من المقنطرين)).

Anjuran untuk Melaksanakan Shalat Malam

Shalat Malam merupakan jalan yang paling sempurna untuk perbaikan diri, keluarga, dan masyarakat; dan ia merupakan kedudukan yang tinggi untuk mencapai kebahagiaan, keridhaan, dan obat yang manjur untuk menjaga diri dari segala ujian. 

Setelah kita memaparkan keutamaan dan manfaat dari Shalat malam, sekarang saat kita untuk segera mengamalkan ibadah yang agung ini; karena ia dapat menghadirkan kedamaian hidup, kelapangan rezeki, keridhaan Allah, dan percepatan untuk masuk surga dengan selamat. Semua kebaikan dunia dan akhirat ini, kuncinya adalah salat pada malam hari; sehingga apakah layak bagi seorang Muslim untuk terlambat mengamalkannya? Apakah pantas bagi seorang Muslim untuk lalai dalam melaksanakannya?

Manusia diciptakan dengan tabiat menyukai kebaikan dan kebahagiaan. Dan sekarang kita telah mengetahui kunci segala kebaikan, yaitu Shalat Malam. Oleh sebab itu, marilah kita bergegas dengan penuh semangat, dan berusaha untuk menjadi termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah, segera keluar dari kelalaian, dan dicatat bersama golongan orang-orang yang banyak berzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mendirikan Shalat Malam dengan membaca sepuluh ayat, maka dia tidak dicatat termasuk golongan orang-orang yang lalai; barang siapa yang mendirikan Shalat Malam dengan membaca seratus ayat, maka dia dicatat termasuk golongan orang-orang yang khusyuk; dan barang siapa yang mendirikan Shalat Malam dengan membaca seribu ayat, maka dia dicatat termasuk golongan orang-orang yang memperoleh pahala amat besar.”

ومن الأسباب التي تعيننا على قيام الليل: ترك المعاصي، والحرص على الأكل الحلال، وتجنُّب الحرام، الاستعانة والتقوِّي بقيلولة في النهار، والإكثار من ذكر الله في النهار، عسى نحظى برضا التواب الغفار، وندخل في فريق أتباع المختار صلى الله تعالى عليه وآله وسلم.

Di antara hal-hal yang dapat memudahkan kita untuk melaksanakan Shalat Malam: Meninggalkan kemaksiatan, berusaha selalu mengonsumsi makanan yang halal, menjauhi perkara yang haram, mengumpulkan tenaga dengan melakukan tidur singkat pada siang hari, dan memperbanyak zikir kepada Allah pada siang hari. Semoga dengan ini kita dapat meraih keridhaan Allah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun; dan kita dapat termasuk golongan para pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

صلاة قيام الليل وطريقة تأديتها:

ويندب أن تكون صلاة الليل في آخره، فهو أفضل الأوقات، وأقل ما ينبغي أن يتنفل بالليل ثمانٍ ركعات، والأفضل أن يصليها أربعًا أربعًا، وطول القيام فيها أفضل، هذا مذهب الإمام أبي حنيفة رحمه الله تعالى.

Shalat Malam dan Tata Caranya

Shalat Malam disunahkan untuk dilaksanakan pada akhir malam, karena itulah waktunya yang paling utama. Jumlah rakaat minimal yang sebaiknya dilakukan pada Shalat Malam adalah delapan rakaat; dan lebih baik dikerjakan satu salam setiap empat rakaat. Dan durasi berdiri yang lama lebih utama dalam salat ini. Inilah pendapat yang menjadi mazhab Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala.

فيا أيها المسلم، اشددْ مئزرك واسْعَ لإرضاء الله تعالى، وقف بين يدي ربك متواضعًا وخاضعًا في جوف الليل، وكن من المستغفرين بالأسحار، فلن يخيب أملك ولن يُبعدك عن رحمته؛ بل سيُدْنيك منه ويُكرمك بالخير الكثير ويمُنُّ عليك بالنِّعَم الوفيرة.

نسأل الله سبحانه وتعالى أن يوفقنا لقيام الليل، ويجعلنا من الذين يعبدونه آناء الليل وأطراف النهار.

وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين.

Wahai Muslim! Kencangkanlah tali kekangmu dan berusahalah untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Berdirilah di hadapan Tuhanmu dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri di pertengahan malam. Jadilah termasuk orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur. Niscaya Allah tidak akan mengecewakan harapanmu dan tidak akan menjauhkanmu dari rahmat-Nya. Bahkan, justru Allah akan mendekatkanmu kepada-Nya, memuliakanmu dengan kebaikan yang banyak, dan mengaruniakan kepadamu kenikmatan yang melimpah.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberi kita taufik untuk menjalankan Shalat Malam, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang beribadah kepada-Nya pada tengah malam, serta pagi dan sore.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167549/فضائل-وثمرات-قيام-الليل/

Diterjemahkan oleh tim penerjemah Yufid.

Hamil Kemudian Keguguran (Operasi Kuret), Apakah Menjalani Nifas?

Sering sebagian orang bertanya, jika keguguran apa hukumnya bagi wanita tersebut? Apakah darah yang keluar terhitung nifas darah atau darah haidh atautidak haidh dan tidak pula nifas (bisa beribadah seperti biasa)? Berikut pembahasannya (untuk ringkasnya silakan baca kesimpulan di akhir tulisan)

Patokan nifas atau tidak adalah sudah terbentuk rupa fisik atau tidak

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

ذا أسقطت المرأة ما يتبين فيه خلق الإنسان؛ من رأس، أو يد، أو رجل، أو غير ذلك فهي نفساء، لها أحكام النفاس، فلا تصلي ولا تصوم، ولا يحل لزوجها جماعها حتى تطهر أو تكمل أربعين يوماً. ومتى طهرت لأقل من أربعين وجب عليها الغسل والصلاة والصوم في رمضان، وحل لزوجها جماعها، ولا حد لأقل النفاس، فلو طهرت وقد مضى لها من الولادة عشرة أيام أو أقل أو أكثر وجب عليها الغسل، وجرى عليها أحكام الطاهرات كما تقدم

Jika seorang wanita keguguran dan telah jelas bentuk rupa manusia seperti kepala, tangan atau kaki atau yang lain maka ia termasuk wanita yang menjalani nifas dan berlaku hukum nifas baginya, ia tidak shalat dan tidak puasa (Ramadhan) serta tidak halal bagi suaminya berjima’ dengannya sampai ia suci atau sempurna  4o hari lewat. Kapanpun ia suci kurang dari 4o hari maka wajib mandi wajib (janabah) kemudian shalat dan puasa di bulan Ramadhan serta boleh bagi suaminya berjima’ dengannya. Tidak ada batas minimal lama darah nifas. Seandainya ia suci dan setelah kelahiran 10 hari atau kurang ataupun lebih dari 10 hari waka ia harus mandi wajib (telah suci) dan berlaku hukum wanita yang telah suci baginya.”[1]

Perludiketahui hadits Yang menjadi patokan dalam permasalahan ini adalah hadits urutan penciptaan manusia.

-40 hari pertama segumpal darah (‘alaqah)

-40 hari kedua segumpal daging (mudghah), setelah 80 hari ini mulai terbentuk rupa yang menjadi patokan di atas (batas minimal)

-40 hari ketiga ditiupkan ruh (120 hari atau 4 bulan)

syaikh DR. Khalid bin Ali Al-Musyaiqih hafidzahullah berkata,

فلا تنفخ فيه الروح إلا بعد انتهاء مائة وعشرين يوماً ، والمدة التي يتبين فيها خلق الإنسان في الحمل ثلاثة أشهر غالباً ، وأقلها واحد وثمانون يوم

Tidaklah ditiupkan ruh kecuali setalah 120 hari  dan jangka waktu mulai jelas bentuk fisik manusia pada kehamilan umumnya 3 bulan dan paling minimal 80 hari)

Kemudian berikut rinciannya:

الأحكام المترتبة على سقوط الحمل ، وهي كما يلي :

أولاً: إذا سقط الحمل في مرحلة النطفة ( في الأربعين يوما الأولى) أو في مرحلة العلقة ( الأربعين يوماً الثانية) ، ففي هذه الحالة على المرأة أن تتلجم ( يعني تضع على فرجها ما يمنع خروج الدم إلى الملابس مما هو مستعمل عند النساء) لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر أسماء بنت عميس رضي الله عنها لما ولدت في ذي الحليفة أن تتلجم . رواه مسلم .ويجب عليها أن تستمر في صلاتها ، وصيامها إذا كانت صائمة ، ويجوز لزوجها أن يجامعها ويعاشرها وطئاً واستمتاعاً.والدم الخارج بسبب الإسقاط في هذه المرحلة الأقرب من أقوال أهل العلم أنه لا ينقض الوضوء ،ولا بجب عليها أن تتوضأ لكل صلاة إلا إذا خرج منها خارج معتاد كالبول أوالغائط أو الريح ونحو ذلك.

Apabila keguguran terjadi tatkala janin masih berbentuk zigote sebelum 40 hari. atau masih berbentuk embrio ( pada 40 hari kedua ) maka wajib bagi wanita tersebut untuk mengenakan pembalut (yang dapat menahan keluarnya darah mengenai pakaian ) karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan Asma binti Umair untuk mengenakan pembalut tatkala melahirkan di Dzil khulaifah. ( HR Muslim ). Wanita tersebut wajib untuk tetap melaksanakan sholat dan berpuasa jika ia sedang berpuasa serta boleh bagi suami untuk menggaulinya. Darah yang keluar dengan sebab keguguran pada masa ini lebih dekat kepada perkataan ahli ilmu bahwa darah tersebut tidak membatalkan wudhu  dan tidak wajib baginya untuk mengulang wudhunya disetiap sholat apabila tidak ada yang membatalkan wudhunya seperti karena keluar angin atau buang air.

ثانياً : أن يسقط الحمل بعد أن تم له ثمانون يوماً ، فعلى المرأة أن تنظر في هذه المضغة إن تمكنت أو تسأل الطبيب أو الطبيبة الثقة هل خلقت خلقت هذه المضغة أو لا ؟ يعني: هل بدأ فيها تخليق الإنسان ولو خفياً كتخطيط بط أو رجل أو رأس ونحو ذلك ؟ فإن كانت هذه المضغة لم يتبن فيه خلق الإنسان ، بعني قطعة لحم وليس فيها تخطيط ،ولو خفياً كيد أو رجل أو رأس أو نحو ذلك فإن المرأة تأخذ أحكام القسم الأول :

تتحفظ وتصلي وتصوم وتحل لزوجها ،ولا بجب عليه الوضوء لكل صلاة إلا إذا خرج مها بول أو غائط أو ريح ونحو ذلك. وإذا كانت المضغة قد بدأ فيها تخليق الإنسان ولو كان خفياً كتخطيط بد أو رجل او رأس ونحو ذلك فإن المرأة تأخذ أحكام النفاس : لا تصلي ، ولاتصوم ، ولا بجوز لزوجها أن يجامعها حتى ينقطع عنها الدم أوالصفرة أوالكدرة، أو حتى تبلغ أربعين يوماً إذا لم ينقطع عنها الدم أو الصفرة أو الكدرة . فإذا بلغت أربعين يوماً فإنها تغتسل وتصلي وتصلي وتصوم وتحل لزوجها.

Keguguran setelah hari ke-80. Wajib bagi wanita tersebut untuk memastikan apakah janin sudah mulai membentuk manusia atau belum dengan bertanya kepada dokter yang terpercaya. Yaitu, apakah janin  sudah mulai membentuk rupa manusia meskipun hanya samar seperti mulai membentuk perut, kaki, kepala dan lain-lain

Apabila janin belum mulai membentuk rupa manusia meskipun samar seperti adanya bentuk tangan, kaki dan kepala, atau janin hanya membentuk gumpalan daging maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum pada point pertama. Wanita tersebut boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya. Dia tidak diwajibkan mengulangi wudhunya setiap hendak mengerjakan sholat kecuali apabila ada pembatal lain seperti kentut atau buang air.

Apabila janin sudah mulai membentuk manusia meskipun hanya samar seperti telah ada bentuk kaki, tangan atau kepala dan lain-lain, maka wanita tersebut dihukumi dengan hukum nifas.Tidak boleh sholat, puasa ataupun berkumpul dengan suaminya hingga darah nifasnya berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau cairan keruh, atau sudah mencapai hari ke-40 dari pendarahan meskipun darah belum berhenti atau belum keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh. Apabila sudah mencapai hari ke-40 ini, maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, puasa dan suami boleh mencampurinya.

ثالثاً : إذا سقط الحمل بعد ثمانين يوماً ولا تعلم المرأة هل خلق هذا الحمل الذي سقط أولا ؟ وجهلت أمره ، فهذا السقط لا يخلو من حالتين: الحالة الأولى : إذا كان الحمل الذي سقط قد تم له تسعون يوماً فإن المرأة تأخذ أحكام النفاس : لا تصلي ،ولاتصوم ، ولا بجوز لزوجها أن يجامعها حتى ينقطع عنها الدم أوالصفرة أوالكدرة، أو حتى تبلغ أربعين يوماً إذا لم ينقطع عنها الدم أو الصفرة أو الكدرة . فإذا بلغت أربعين يوماً فإنها تغتسل وتصلي وتصلي وتصوم وتحل لزوجها.

الحالة الثانية : إذا لم يتم له تسعون يوماً، وجهلت المرأة أمره هل خلق أو لا ؟ فإن المرأة تتحفظ تضع على فرجها ما يمنع من خروج الدم على ملابسها ،وتصلي وتصوم وتحل لزوجها ،والدم الخارج منها لا ينقض الوضوء ولا بجب عليها أن تتوضأ لكل صلاة إلا إذا خرج منها خارج معتاد كالبول أو الغائط أوالريح ونحو ذلك كما تقدم.

Apabila keguguran terjadi setelah hari ke-80 dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum maka ada dua kemungkinan :

1.Apabila keguguran setelah hari ke 90 maka dihukumi dengan hukum nifas. Tidak boleh sholat, puasa dan tidak boleh bercampur dengan suaminya hingga darah berhenti, atau keluar cairan kekuning-kuningan atau keruh, atau mencapai hari ke-40 dari pendarahan. Jika telah mencapai hari ke-40 ini maka wanita tersebut mandi, boleh sholat, berpuasa, dan bercampur dengan suaminya.

2.Apabila belum mencapai usia 90 hari kehamilan dan tidak diketahui apakah janin sudah berbentuk manusia atau belum maka hendaknya wanita tersebut mengenakan pemabalut untuk mencegah keluarnya darah mengenai pakaiannya. Ia boleh sholat, puasa dan boleh bercampur dengan suami. Darah yang keluar darinya tidak membatalkan wudhu dan tidak wajib mengulang wudhunya setiap hendak sholat kecuali apabila ada pembatal wudhu lain seperti kencing atau buang air.[2]

Kesimpulan:

-yang menjadi patokan adalah sudah terbentuk rupa jainin atau tidak (misalnya yang keguguran keluar ada bentuk tangan dan kaki, jika sudah terbentuk maka dianggap nifas, jika tidak maka dianggap darah biasa, wanita tersebut suci (tetap shalat, puasa dan hala bagi suaminya berhubungan dengannya)

-jika terjadi keguguran masih dibawah 80 hari, maka bukan darah nifas, wanita tersebut masih suci

-jika telah diatas 80 hari perlu dipastikan apakah sudah terbentuk rupa fisik manusia tidak, misalnya bertanya kepada dokter terpercaya.

-jika diatas 90 hari (3 bulan) maka dihukumi dengan darah nifas.

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

@RS Mitra Sehat Yogyakarta, 2 Rajab 1434 H

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen


[1] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2365

[2] Sumber: http://www.zawjan.com/art-1047.htm, http://www.almoshaiqeh.com/

sumber: https://muslimafiyah.com/hamil-kemudian-keguguran-operasi-kuret-apakah-menjalani-nifas.html