

























Sihir adalah sebuah kata yang kerap akrab di telinga kita. Siapa yang tidak tahu tentang sihir, bahkan sekarang sihir telah menjadi suatu hiburan, wallahul musta’an. Padahal jika kita mau menela’ah lebih dalam apa itu sihir, pasti akan kita dapati bahaya yang sangat besar, terutama bahaya terhadap aqidah seorang muslim.
Apa Itu Sihir?
Sihir secara bahasa digunakan untuk segala sesuatu hal yang sebabnya samar, lembut dan tidak jelas. Adapun secara istilah, dikarenakan sihir memiliki berbagai macam bentuk dan caranya berbeda-beda, maka tidak ada definisi yang lengkap mencakup makna sihir. Di dalam kitab Adhwa-ul Bayan (4: 444) dijelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya sihir itu secara istilah tidak mungkin di definisikan dengan satu definisi yang lengkap mencakup semua jenis sihir dan mencegah yang bukan termasuk bagian sihir untuk masuk ke dalam bagian dari definisi tersebut, dikarenakan jenisnya yang banyak dan berbeda-beda yang masuk ke dalam istilah sihir. Tidak akan terwujud titik kesamaan di antara jenis sihir yang bisa mencakup semua macam jenis dan mencegah hal-hal yang termasuk sihir untuk masuk ke dalam definisi sihir. Dan ‘ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan istilah tersebut, dengan perbedaan yang sangat mencolok.”
Bahaya Sihir
Sesuatu yang dimiliki oleh setiap muslim di dunia ini lebih mahal dibanding apa pun adalah agamanya. Orang yang berakal pasti menjaga agamanya dan tidak akan pernah ridha dengan perbuatan yang dapat merusak atau melemahkan atau mengotori aqidahnya. Melakukan sihir dan pergi untuk meminta tukang sihir untuk melakukan sihir dapat membahayakan aqidah, bahkan meminta tukang sihir untuk melakukan sihir menjadi salah satu penyebab batalnya Islam seseorang.
Maka tukang sihir dan orang yang pergi ke tukang sihir untuk minta disihirkan, keduanya dihukumi sama. Dan sihir merupakan suatu keharaman dalam semua ajaran Rasul. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana pun ia datang.” (QS. Thaha: 69) Barangsiapa yang telah melakukan sihir, maka ia telah terjerumus dalam kesyirikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka ia telah Syirik.” (Diriwatkan An-Nasa-i). Disebutkan dalam Fathul Majid (231), “Ini adalah dalil tegas bahwa tukang sihir adalah Musyrik.”
Kiat Agar Terlindung dari Sihir
Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat melindungi dan menjaga kita dari pengaruh sihir
1. Menjaga Shalat Shubuh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang mendirikan shalat shubuh, maka ia berada di dalam jaminan perlindungan Allah” (HR. Muslim). Barangsiapa yang menjaga shalat shubuhnya, maka ia akan mendapat perlindungan dari Allah atas gangguan setan-setan yang ingin melakukan sihir
2. Membaca Surah Al-Baqarah di Dalam Rumah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Bacalah Surah Al-Baqarah! Karena sesungguhnya mengambilnya (membacanya) adalah barakah dan meninggalkannya adalah penyesalan (kerugian), dan sihir tidak akan mampu menghadapinya” (HR. Muslim)
3. Menjaga Bacaan Mu’awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas) pada Waktu Shubuh dan Petang
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membacanya tiga kali pada waktu shubuh dan pada waktu petang, maka tidak ada yang bisa membahayakannya sesuatu apa pun.” (HR. Abu Dawud)
4. Membaca Ayat Kursi
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi” (HR. Al-Bukhari)
5. Membaca Dua Ayat Terakhir dari Surah Al-Baqarah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah di malam hari, maka keduanya telah mencukupinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
6. Memakan Tujuh Buah Kurma ‘Ajwah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang memakan tujuh buah kurma ‘Ajwah di pagi hari, maka tidak ada yang bisa membahayakannya pada hari itu, baik racun dan sihir.” (Muttafaqun ‘alaih)
Sungguh begitu besar bahaya sihir bagi seorang muslim. Sihir tidak hanya membahayakan jiwa seseorang, namun dapat merusak aqidah seseorang. Sehingga bisa menjadi salah satu sebab batalnya keislaman seorang muslim. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari pengaruh buruk sihir dan para tukang sihir
Rujukan: Banyak mengambil faedah dari kitab Ba’i-u Diinihi karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasam
—
Penulis: Wiwit Hardi Priyanto
Sumber: https://muslim.or.id/7844-kiat-agar-telindung-dari-sihir.html
Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi.
Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya.
Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها.
“Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709)
Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman,
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2}
“Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)
Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ.
“Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965)
Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya.
Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih.
Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat,
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17)
Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57)
Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)
Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan,
“(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20)
Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,
وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20)
Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman,
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197)
Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074)
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin.
***
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Sumber: https://muslim.or.id/88319-awas-jangan-sampai-salah-orientasi-dalam-kehidupan-ini.html
Ada dosa yang awalnya dilakukan sembunyi-sembunyi, tetapi karena terus diulang, rasa malu perlahan menghilang. Lebih berbahaya lagi ketika dosa yang telah Allah tutupi justru diceritakan, dipamerkan, bahkan dibanggakan kepada orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa salah satu dampak maksiat adalah hilangnya rasa jijik terhadap dosa hingga maksiat menjadi kebiasaan.
Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap Dosa
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَمِنْهَا: أَنَّهُ يَنْسَلِخُ مِنَ الْقَلْبِ اسْتِقْبَاحُهَا، فَتَصِيرُ لَهُ عَادَةً، فَلَا يَسْتَقْبِحُ مِنْ نَفْسِهِ رُؤْيَةَ النَّاسِ لَهُ، وَلَا كَلَامَهُمْ فِيهِ.
وَهَذَا عِنْدَ أَرْبَابِ الْفُسُوقِ هُوَ غَايَةُ التَّهَتُّكِ وَتَمَامُ اللَّذَّةِ، حَتَّى يَفْتَخِرَ أَحَدُهُمْ بِالْمَعْصِيَةِ، وَيُحَدِّثَ بِهَا مَنْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ عَمِلَهَا، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ كَذَا وَكَذَا.
وَهَذَا الضَّرْبُ مِنَ النَّاسِ لَا يُعَافَوْنَ، وَتُسَدُّ عَلَيْهِمْ طَرِيقُ التَّوْبَةِ، وَتُغْلَقُ عَنْهُمْ أَبْوَابُهَا فِي الْغَالِبِ.
“Di antara dampak buruk dosa adalah hilangnya rasa jijik terhadap perbuatan maksiat dalam hati. Akibatnya, dosa tersebut menjadi kebiasaan. Orang yang terjerumus dalam kebiasaan maksiat tidak lagi merasa malu meskipun orang lain melihat atau membicarakan perbuatannya.
Bagi sebagian pelaku maksiat, kondisi ini dianggap sebagai puncak keberanian dan kenikmatan. Bahkan, mereka tidak segan-segan membanggakan dosa-dosanya. Mereka menceritakan keburukan yang telah dilakukan kepada orang lain yang mungkin sebelumnya tidak tahu. Misalnya, seseorang berkata, ‘Hai Fulan, aku pernah melakukan ini dan itu.’
Orang seperti ini sering kali sulit untuk disembuhkan dari penyakitnya. Jalan taubat tertutup bagi mereka dalam banyak kasus, dan pintu-pintunya menjadi sulit dimasuki.”
Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.
“Setiap umatku mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian pagi harinya Allah telah menutupi perbuatannya, tetapi ia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Rabbnya telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi harinya ia justru menyingkap penutup Allah dari dirinya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990) (Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89–90)
Hadits di atas menunjukkan besarnya nikmat sitr, yaitu Allah menutupi keburukan seorang hamba sehingga tidak diketahui manusia.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
وَالْحَدِيثُ مُصَرِّحٌ بِذَمِّ مَنْ جَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَسْتَلْزِمُ مَدْحَ مَنْ يَسْتَتِرُ، وَأَيْضًا فَإِنَّ سَتْرَ اللَّهِ مُسْتَلْزِمٌ لِسَتْرِ الْمُؤْمِنِ عَلَى نَفْسِهِ.
“Hadits ini secara tegas mencela orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Hal itu sekaligus menunjukkan terpujinya orang yang menutupi maksiatnya. Demikian pula, ketika Allah telah menutupi aib seseorang, seorang mukmin hendaknya menutupi aib dirinya sendiri.” (Lihat Fath Al-Bārī, 10:487–488)
Karena itu, ketika Allah telah menutupi dosa kita dari manusia, janganlah kita sendiri yang membuka penutup tersebut.
Namun, menutup dosa bukan berarti merasa aman untuk terus bermaksiat. Yang benar adalah menutup dosa dari manusia, lalu membukanya di hadapan Allah dengan penyesalan, istighfar, dan taubat yang sungguh-sungguh.
Al-Munawi rahimahullah berkata,
وَهَذَا لِأَنَّ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ إِظْهَارَ الْجَمِيلِ وَسَتْرَ الْقَبِيحِ، فَالْإِظْهَارُ كُفْرَانٌ لِهَذِهِ النِّعْمَةِ، وَتَهَاوُنٌ بِسَتْرِ اللَّهِ.
“Hal itu karena di antara sifat Allah dan nikmat-Nya adalah menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk. Maka menampakkan kembali keburukan tersebut merupakan bentuk tidak mensyukuri nikmat ini dan meremehkan penutup yang telah Allah berikan.”
Allah telah memberi kesempatan kepada seorang hamba untuk memperbaiki dirinya tanpa mempermalukannya di hadapan manusia. Maka, sungguh tidak pantas jika seorang hamba justru dengan bangga menyingkap sendiri aib yang telah Allah tutupi.
Bahaya mujāharah tidak berhenti pada pelakunya. Ketika dosa diceritakan dan dipertontonkan berulang kali, orang lain dapat menganggap dosa tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
لِأَنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْهُ قَدْ عَمِلَ الْمَعْصِيَةَ، هَانَتْ فِي نُفُوسِهِمْ، وَفَعَلُوا مِثْلَهُ.
“Karena apabila manusia melihatnya melakukan maksiat, maksiat itu menjadi terasa ringan dalam jiwa mereka, lalu mereka pun melakukan seperti yang ia lakukan.”
Inilah salah satu bahaya menampakkan maksiat. Dosa yang dahulu dianggap memalukan, karena terus diperlihatkan dan dibicarakan, akhirnya dianggap lumrah.
Salah satu tanda berbahaya yang disebutkan Ibnul Qayyim adalah ketika seseorang mulai bangga dengan maksiatnya.
Dahulu ia malu jika diketahui orang. Setelah hatinya terbiasa dengan dosa, justru ia sendiri yang menceritakannya.
Ada yang menceritakan pengalaman pacaran dan pergaulan bebasnya. Ada yang membanggakan masa lalu ketika mabuk, berjudi, atau melakukan berbagai kenakalan. Ada pula yang menjadikan pengalaman maksiat sebagai bahan hiburan dan konten media sosial.
Padahal seorang yang benar-benar bertaubat semestinya sedih mengingat dosa masa lalunya, bukan bangga dengannya.
Pada zaman media sosial, mujāharah semakin mudah dilakukan.
Seseorang dapat mengunggah dosa dalam hitungan detik. Maksiat tersebut kemudian dilihat ribuan bahkan jutaan orang, disimpan, dibagikan, dan mungkin tetap beredar meskipun pelakunya kelak telah bertaubat.
Karena itu, berhati-hatilah sebelum mengunggah sesuatu. Jangan sampai dosa yang seharusnya cukup diketahui antara kita dengan Allah malah menjadi jejak digital yang mengundang orang lain ikut meremehkan maksiat.
Pada asalnya, dosa yang telah Allah tutupi tidak perlu diceritakan kepada orang lain.
Namun, ada keadaan ketika seseorang perlu menjelaskan masalahnya karena adanya kebutuhan atau maslahat yang dibenarkan syariat, misalnya meminta fatwa, berkonsultasi untuk mendapatkan solusi, mencari pertolongan agar dapat meninggalkan maksiat, menjalani pengobatan, menyelesaikan hak orang lain, atau memberikan keterangan dalam perkara hukum.
Dalam kondisi semacam itu, ceritakan sebatas yang dibutuhkan. Tujuannya bukan membanggakan maksiat, bukan pula menikmati cerita dosa masa lalu, tetapi mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan.
Jika kita diperintahkan menutupi aib sendiri yang telah Allah tutupi, kita pun hendaknya tidak gemar mencari dan menyebarkan aib saudara kita.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ.
“Seorang mukmin itu menutupi aib dan memberikan nasihat. Adapun orang fajir, ia membuka aib dan mencela.” (Lihat Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam, 1:225)
Nasihat diberikan untuk memperbaiki, bukan mempermalukan. Mengetahui kesalahan saudara seharusnya membuat kita ingin menyelamatkannya, bukan menjadikannya bahan cerita.
Ada beberapa alasan penting:
Namun, menutup aib bukan berarti menyembunyikan dosa agar bebas melanjutkannya. Dosa ditutupi dari manusia, tetapi pelakunya segera kembali kepada Allah.
Allah Ta‘ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat yang benar memiliki beberapa syarat:
Pertama, berhenti dari maksiat tersebut. Tidak disebut taubat jika seseorang masih sengaja mempertahankan dosa yang sedang ia lakukan.
Kedua, benar-benar menyesal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
النَّدَمُ تَوْبَةٌ
“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4252; Ahmad, 6:264. Dinilai sahih oleh Al-Albani)
Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Boleh jadi manusia kemudian tergelincir lagi karena kelemahannya. Namun, ketika bertaubat, hatinya harus benar-benar bertekad meninggalkan dosa tersebut.
Keempat, jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus diselesaikan. Harta yang diambil dikembalikan, utang dibayar, dan kezaliman diselesaikan sesuai tuntunan syariat. Adapun jika berkaitan dengan kehormatan orang lain, cara menyelesaikannya perlu melihat maslahat dan mafsadat, tidak selalu dengan menceritakan seluruh kesalahan kepadanya.
Kelima, taubat dilakukan sebelum waktunya tertutup. Taubat diterima selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat.
Setelah itu, iringilah keburukan dengan kebaikan. Allah Ta‘ala berfirman,
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)
Maka, setelah bertaubat, perbanyak shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu, dan amal saleh lainnya.
Yang juga penting: tidak perlu menceritakan detail maksiat kepada orang lain agar taubat diterima. Tidak ada syarat taubat berupa pengakuan dosa kepada ustadz, teman, keluarga, atau publik. Jika Allah sudah menutupi dosa itu, bertaubatlah langsung kepada Allah.
Dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah, kita dapat melihat sebuah tahapan yang sangat berbahaya:
Melakukan maksiat → mengulangi maksiat → hilang rasa jijik → berkurang rasa malu → dosa menjadi kebiasaan → dosa mulai diceritakan → dosa dibanggakan → orang lain menganggap dosa itu biasa.
Karena itu, jangan meremehkan rasa bersalah setelah melakukan dosa. Rasa malu dan penyesalan justru dapat menjadi pintu menuju taubat jika segera diikuti dengan kembali kepada Allah.
Tutupi dosa dari manusia, tetapi bukalah dosa itu di hadapan Allah dengan taubat dan penyesalan.
Di zaman media sosial, tidak semua pengalaman masa lalu layak dijadikan cerita dan konten. Jika Allah telah menutupi dosa kita, jangan kita sendiri yang menyingkap tirainya hanya demi perhatian manusia. Hapus jejak maksiat yang masih mampu kita hapus, tinggalkan lingkungan yang menyeret kepada dosa, dan gantilah keburukan dengan amal saleh. Yang kita butuhkan bukan manusia mengetahui masa lalu kita, tetapi Allah menerima taubat dan memperbaiki masa depan kita.
Semoga Allah senantiasa menutupi aib kita, mengampuni dosa kita, dan menganugerahkan taubat yang tulus.
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.
Allāhumma-stur ‘aurātinā, wa āmin rau‘ātinā, waghfir lanā dzunūbanā, warzuqnā taubatan naṣūḥā.
“Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, berilah rasa aman dari ketakutan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan karuniakanlah kepada kami taubat yang tulus.”
Wallahu waliyyut taufiq.
Referensi
—-
@ Kotagede Jogja, 13 Rabiul Awal 1448 H, 26 Agustus 2026
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber: https://rumaysho.com/42709-bahaya-membuka-aib-dosa-sendiri.html
Islam adalah agama yang membawa maslahah dan mencegah mudharat bagi manusia. Diantara bentuknya, Islam mengajarkan pola hidup bersih dan tampil indah. Contohnya, ada beberapa waktu yang dianjurkan untuk mencuci tangan ketika itu. Siapa yang melakukan cuci tangan dalam rangka memenuhi anjuran ini, ia mendapatkan pahala.
Berikut ini beberapa tempat yang disunnahkan untuk cuci tangan
1. Ketika berwudhu
Disebutkan dalam hadits Humran bin Aban rahimahullah tentang cara wudhu Utsman bin Affan radhiallahu’anhu :
فغسل كَفَّيْهِ ثلاثَ مراتٍ
“.. kemudian beliau membasuh kedua tangannya 3 kali”
Yang di akhir hadits, Utsman bin Affan mengatakan:
رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم توضأ نحوَ وُضوئي هذا
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini” (HR. Bukhari no.1934, Muslim no.226).
Mencuci kedua tangan ketika wudhu hukumnya sunnah, tidak sampai wajib. Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mughni mengatakan:
وليس ذلك بواجب عند غير القيام من النوم بغير خلاف نعلمه
“Tidak mencuci tangan yang wajib kecuali ketika bangun tidur, hal ini tidak ada khilaf ulama yang kami ketahui“.
2. Ketika bangun tidur
Ketika bangun tidur disyariatkan untuk mencuci tangan sebelum memasukkan tangan ke dalam bejana atau melakukan aktifitas lainnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
إذا استيقظ أحدُكم من نومِهِ، فلا يَغْمِسْ يدَه في الإناءِ حتى يغسلَها ثلاثًا . فإنه لا يَدْرِي أين باتت يدُه
“Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui dimana letak tangannya semalam” (HR. Bukhari no. 162, Muslim no. 278).
Ulama berbeda pendapat apakah larangan mencelupkan tangan ke dalam bejana (semua tempat yang menyimpan air) di dalam hadits ini apakah makruh ataukah haram. Ulama Hanabilah berpendapat hukumnya haram dan mencuci tangan hukumnya wajib. Namun jumhur ulama berpendapat hukumnya makruh dan mencuci tangan hukumnya mustahab (sunnah).
3. Ketika sebelum makan
Dalam hadits dari Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:
كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا أرادَ أن ينامَ ، وَهوَ جنبٌ ، تَوضَّأَ . وإذا أرادَ أن يأْكلَ ، أو يشربَ . قالت : غسلَ يدَيهِ ، ثمَّ يأكلُ أو يشربُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau ingin tidur dalam keadaan junub, beliau berwudhu dahulu. Dan ketika beliau ingin makan atau minum beliau mencuci kedua tangannya, baru setelah itu beliau makan atau minum” (HR. Abu Daud no.222, An Nasa’i no.257, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan:
يستحب غسل اليدين قبل الطعام وبعده, وإن كان على وضوء
“Dianjurkan mencuci tangan sebelum makan dan setelah makan, walaupun dalam keadaan punya wudhu“.
4. Ketika setelah makan
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:
أكل كتفَ شاةٍ فمضمضَ وغسل يديهِ وصلَّى
“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memakan daging bahu kambing, kemudian beliau berkumur-kumur, mencuci kedua tangannya, baru setelah itu shalat” (HR. Ibnu Majah no. 405, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
5. Ketika tangan kotor
Secara umum ketika ada kotoran pada tubuh kita atau pakaian kita, hendaknya berusaha membersihkannya agar tampil bersih dan bagus. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمالَ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim no.91).
Terlebih jika tangan yang kotor bisa mengganggu orang lain. Dari Abu Musa radhiallahu’anhu, ia berkata:
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, amalan Islam manakah yang paling utama?’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya”” (HR. Bukhari no.10, Muslim no.57).
Semoga Allah ta’ala memberi taufik.
Penulis: Ustadz Yulian Purnama
Sumber: https://muslimah.or.id/11971-anjuran-mencuci-tangan-dalam-islam.html
Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,
ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ
ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ
ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.
“Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang-orang mulia. Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa.
Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah.
Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung-hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya.
Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Sembilan persepuluh akhlak yang baik ada pada taghoful (*)..”
(Tahdzibul Kamal 19/230)
Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama beberapa sahabatnya, lalu lewatlah jenzah seorang muslim, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مُسْتَرِيحٌ
“Dia beristirahat”
Tak lama kemudian lewatlah jenazah seorang Yahudi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مُسْتَرَاحٌ مِنْهُ
“Dia diistirahatkan darinya”
Kemudian para sahabat bertanya:
مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟
“Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan “Dia beristirahat” dan “Dia diistirahatkan darinya”?
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya seorang mukmin apabila meninggal dunia maka dia istirahat dari lelahnya kehidupan dunia dan penatnya. Dan orang yang kafir apabila meninggal dunia maka beristirahat darinya para hamba dan negeri-negeri.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini menjelaskan bahwa apabila seorang mukmin meninggal maka dia benar-benar beristirahat. Sedangkan orang kafir ketika meninggal sejatinya orang-orang dan penghuni negeri mendapatkan manfaat dari kematiannya tersebut dan bisa istirahat dari perilakunya. Karena perbuatan kemaksiatan dan kekafirannya itu menyakiti makhluk dan penghuni bumi, maka ketika dia meninggal mereka beristirahat darinya.