Bisa Jadi Ajalmu sudah Dekat

Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.

( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

(إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) [لقمان: 34 ]

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34).

✒️ Ustadz Ahmad Zainuddin, hafizhahullah⁠ (https://muslim.or.id/8076-ingat-mati-2.html)

sumber : https://radiomuslim.com/bisa-jadi-ajalmu-sudah-dekat/

[Kitabut Tauhid 10] 32 Mencintai Allah 20

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara indikasi dan konsekuensi mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan mereka adalah :

  • Para Shahabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Ahlu Bait (Kerabat) Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Istri-Istri Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Anjuran Memperindah Bacaan Al-Quran

Dua hadits ini menunjukkan bagaimana bagusnya suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita dianjurkan memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)

بَابُ اسْتِحْبَابِ تَحْسِيْنِ الصَّوْتِ بِالقُرْآنِ وَطَلَبِ القِرَاءَةِ مِنْ حَسَنِ الصَّوْتِ وَالاِسْتِمَاعِ لَهَا

Bab 182. Sunnahnya Memperindah Suara Ketika Membaca Al-Qur’an dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya yang Indah dan Mendengarkannya

Hadits #1005

وَعَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ لَهُ 

لَقدْ أُوتِيتَ مِزْمَاراً مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ – متفقٌ عَلَيْه

وفي رواية لمسلمٍ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ- ، قَالَ لَهُ : لَوْ رَأيْتَنِي وَأنَا أسْتَمِعُ لِقِراءتِكَ الْبَارِحَةَ  .

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5048 dan Muslim, no. 793]

Sedangkan dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaaan (Qur’an)mu tadi malam.”

Faedah hadits

  1. Disebut seruling keluarga Daud pada suaranya Abu Musa artinya suara yang bagus, enak didengar, nadanya seperti seruling. Sedangkan Ali Daud yang dimaksud adalah Nabi Daud itu sendiri.
  2. Disunnahkan memperbagus suara dalam membaca Al-Qur’an karena hal itu membuat Al-Qur’an enak untuk didengar dan masuk ke dalam hati para pendengarnya.
  3. Disunnahkan mendengarkan Al-Qur’an dan diam.
  4. Hendaklah memperbagus bacaan Al-Qur’an dengan memperhatikan kaidah tajwid.

Referensi:

  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:211.
  • Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 397.

Hadits #1006

وَعَنِ البَراءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : سَمِعْتُ النبيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَرَأَ فِي الْعِشَاءِ بالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ، فَمَا سَمِعْتُ أحَداً أحْسَنَ صَوْتاً مِنْهُ . متفقٌ عَلَيْهِ .

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an pada shalat Isyak. Ketika itu beliau membaca surah At-Tiin. Aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 7546 dan Muslim, no. 177/464]

Hadits #1007

وَعَنْ أَبِي لُبَابَةَ بَشِيْرِ بْنِ عَبْدِ المُنْذِرِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ، قَالَ : (( مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا )) رواه أَبُو داود بإسنادٍ جيدٍ .

معنى (( يَتَغَنَّى )) : يُحَسِّنُ صَوْتَهُ بِالقُرْآنِ .

Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidak memperindah suaranya ketika membaca Al-Qur’an, maka ia bukan dari kami.” (HR. Abu Daud, no. 1472 dengan sanad yang jayyid/baik). [HR. Abu Daud, no. 1471, sanad hadits ini sahih].

Arti yatghanna adalah memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an.

Faedah hadits

  1. Pada shalat Isyak, disunnahkan membaca surah qishar al-mufashshal. Surah al-mufashshal adalah surah dari Qaaf hingga surah An-Naas. Inilah pendapat sahih dari pendapat para ulama yang ada. Surah ini dinamakan al-mufashshal karena banyak fashl-nya (pemisahnya) dalam surah-surahnya, lalu dipisah dengan basmalah antara surah. Surah al-mufhashshal dibagi menjadi tiga: (a) thiwaal al-mufashshal, yang panjang, yaitu dari surah Qaaf hingga surah ‘Abasa, (b) awsath al-mufashshal, yang pertengahan, yaitu dari surah thiwaal al-mufashshal hingga surah Adh-Dhuha, dan (c) qishaar al-mufashshal, yang pendek, yaitu sisanya hingga surah An-Naas.
  2. Disunnahkan memperbagus bacaan Al-Qur’an, tanpa ada lahn (kesalahan).
  3. Memperbagus bacaan di sini bukan dengan melagukan seperti musik.
  4. Bukan termasuk golongan kami, maksudnya adalah bukan orang-orang yang mengambil petunjuk kami.
  5. Suara yang bagus mengakibatkan Al-Qur’an itu menjadi indah dan berpengaruh besar untuk dihayati.

Referensi:

  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:211-213.
  • Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. hlm. 398.

–

Diselesaikan 28 Safar 1445 H, 14 September 2023 di perjalanan Pondok DS Panggang – Jogja

Muhammad Abduh Tuasikal 

Sumber https://rumaysho.com/37513-anjuran-memperindah-bacaan-al-quran.html

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya

Memasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ

Memasukkan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Tidak ada yang bisa mengintervensi keputusan ini. Namun, Allah ﷻ memberikan ketetapan bahwa siapa saja yang kafir akan masuk neraka, dan siapa saja yang beriman akan masuk surga. Sehingga siapapun yang beriman, meskipun banyak maksiatnya, bisa saja Allah ﷻ masukkan ke surga tanpa azab. Begitupun sebaliknya, seseorang yang banyak melakukan kebaikan, tetapi ia pada akhirnya mati dalam kekafiran, maka tempatnya di neraka.

Kepastian secara umum ini disandarkan kepada firman Allah ﷻ dalam surah Al-Bayyinah,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang yang musyrik itu di neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)

Dan masih banyak ayat yang semisal demikian.

Kasus ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga

Keadaan seorang ahli ibadah berakhir di neraka sebagaimana ahli maksiat masuk surga adalah sebuah kenyataan yang ditegaskan oleh Nabi ﷺ. Namun, hal ini tidak terjadi semata-mata tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang mengabarkan hal demikian dan beragam sebabnya:

Pertama: Ketika akhir hayat seseorang berkebalikan dengan riwayat hidupnya

فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, sehingga dia akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka, ia pun masuk ke neraka. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta. Akan tetapi, catatan mendahuluinya, akhirnya dia melakukan perbuatan ahli surga, ia pun masuk ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang terjadi pada orang ini sangat menunjukkan bahwasanya memasukkan orang ke surga atau neraka adalah hak prerogatif Allah ﷻ. Hal ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai bahan untuk menyerang bahwa Allah ﷻ telah bersikap tidak adil kepada ahli ibadah tersebut. Padahal, justru ini adalah bentuk keadilan Allah ﷻ. Diterangkan oleh para ulama bahwasanya ahli ibadah semacam ini tidak serta-merta masuk ke neraka hanya karena satu perbuatan, melainkan ia menyimpan kemunafikan berupa:

1) Ahli ibadah tersebut beribadah dengan niat yang tidak murni untuk Allah, alias riya. Akan datang keterangan hadis untuk membahas kemungkinan ini pada subpoin keempat.

2) Ahli ibadah tersebut menyimpan maksiat tersembunyi seakan-akan ia tidak takut kepada Allah ﷻ dalam melakukan hal tersebut. Keterangan hadis ini akan dijabarkan pada subpoin kelima.

Kedua: Ahli maksiat masuk surga karena masih ada iman di hatinya

Nabi ﷺ bersabda,

يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman seberat dzarrah.” (HR. Tirmidzi,  dinilai hasan sahih)

Ketiga: Ahli maksiat masuk surga sebab syafaat dari Nabi ﷺ untuk umatnya

Nabi ﷺ bersabda,

لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ

“Sungguh satu kaum dari umatku akan keluar dari neraka dengan sebab syafaatku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni neraka Jahanam).” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih)

Keempat: Ahli ibadah masuk neraka karena niatnya tidak murni untuk Allah ﷻ

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan di dunia, lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan malaikat agar menyeret orang itu di atas mukanya, lalu dilemparkan ke dalam neraka …”

Dalam hadis yang panjang ini, disebutkan ada tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Hal yang mengherankan adalah justru yang masuk neraka pertama kali tersebut ialah para ahli ibadah di dunia, yakni:

1) ahli perang membela agama;

2) ahli ilmu yang semangat belajar dan mengajarkan ilmu, khususnya Al-Quran;

3) ahli sedekah yang berkorban bagi umat.

Namun, karena ia tidak melakukannya karena Allah ﷻ, melainkan hanya untuk mendapatkan pujian manusia atau setidaknya tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, maka ia mendapatkan ganjaran berupa dimasukkan ke dalam neraka. Padahal, secara zahirnya, mereka ini adalah seorang mukmin dan dihukumi di dunia sebagai orang taat.

Kelima: Ahli ibadah yang bermaksiat di kala sepi

Dari Tsauban, dari Nabi ﷺ, ia berkata,

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”

Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

قَالَ :  أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sedang bersendirian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245)

Ini adalah bentuk kemunafikan dan ketidakjujuran dalam amal. Seseorang yang menampakkan keimanan di tengah manusia, tetapi ketika berduaan kepada Allah ﷻ, hilanglah rasa takutnya. Seakan-akan mata manusia lebih ia takuti daripada Allah ﷻ. Berhati-hatilah siapapun di antara kita dari ancaman Rasulullah ﷺ kepada ahli ibadah yang masih gemar bermaksiat di kala sepinya.

Dari kasus yang disebutkan di atas, kita dapat simpulkan bahwasanya kejadian ahli ibadah masuk neraka dan sebaliknya itu didasarkan pada alasan yang jelas. Semua penjelasan tersebut justru menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah ﷻ.

Siapa yang boleh dipersaksikan masuk surga atau neraka?

Kita tidak bisa memastikan person siapapun masuk surga dan neraka karena perkara ini adalah perkara gaib. Sehingga, hanya wahyu atau khabar shadiq yang bisa menjadi sumber relevan di sini. Ini adalah pendapat umumnya para ulama.

Sebagian pendapat menyebutkan bahwa ada sumber lain yang menjadikan kita boleh mempersaksikan seseorang masuk surga atau neraka. Keadaan itu adalah jika kaum mukminin memberikan persaksian semisal, sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain,

مُرَّ بِجِنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا بِخَيْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَجَبَتْ، وَمُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا بِشَرٍّ، فَقَالَ: وَجَبَتْ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَّرَ: وَجَبَتْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا وَجَبَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Dilewatkan jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Kemudian dilewatkan jenazah lainnya, maka ia dicela dengan keburukan, maka Nabi mengatakan, ‘Wajib.’ Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang wajib?” Beliau menjawab, ‘Orang ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Sedangkan orang ini kalian cela dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda,

تُوشِكُونَ أَنْ تَعْلَمُوا أَهْلَ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِالثَّنَاءِ الْحَسَنِ وَالثَّنَاءِ السَّيِّئِ

“Hampir saja kalian akan mengetahui siapa ahli surga dan ahli neraka. Mereka berkata, “Dengan cara apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dengan pujian dan celaan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dinilai hasan oleh Syekh Syuaib Al-Arnauth.)

Ada keterangan dari Ibnu Abil Izz rahimahullah yang cukup menghimpun segala permasalahan tentang vonis surga dan neraka bagi seseorang,

إِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ مَنْ يَشَاءُ اللَّهُ إِدْخَالَهُ النَّارَ، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِينَ، وَلَكِنَّا نَقِفُ فِي الشَّخْصِ الْمُعَيَّنِ، فَلَا نَشْهَدُ لَهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ إِلَّا عَنْ عِلْمٍ، لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ بَاطِنَةٌ، وَمَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا نُحِيطُ بِهِ

“Sungguh sudah pasti akan masuk neraka di antara para pelaku dosa besar, siapa saja yang dikehendaki Allah untuk dimasukkan ke dalam neraka, kemudian ia keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Namun, kita tidak berkomentar berkenaan dengan orang tertentu. Kita tidak bersaksi untuknya dengan surga atau neraka kecuali berdasarkan ilmu, karena hakikat batinnya dan atas perkara apa ia mati, kita tidak mengetahuinya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 537)

لَكِنْ نَرْجُو لِلْمُحْسِنِ، وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ

“Namun, kita berharap (surga) untuk orang-orang yang berbuat kebajikan; dan kami mengkhawatirkan (neraka) untuk orang yang berbuat keburukan.”

Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah ﷻ amatlah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)

Kita tidak dituntut untuk menelisik hati manusia

Pembahasan panjang ini seharusnya tidak menjadikan kita sebagai orang yang sibuk mengejar kondisi hati manusia. Justru dengan adanya pembahasan ini, kita hendaknya menjadi orang yang paling merasa tidak tahu dengan keadaan hati manusia. Mungkin inilah di antara hikmah pembahasan ini dimasukkan dalam kitab akidah. Karena keadaan hati manusia adalah perkara gaib, Allah ﷻ semata yang mengetahuinya secara pasti. Adapun kita, hanya melihat refleksinya dalam amal perbuatan dan tidak dapat memastikannya. Ingatlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada kita semua,

إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُم

“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Janganlah kita menjadi hakim bagi hati orang lain. Janganlah pula kita menjadi jumawa dengan amalan kita. Bisa jadi amalan yang kita tumpuk hari ini, Allah ﷻ sia-siakan karena maksiat kita yang melampaui batas. Inilah model kehidupan seorang ahlussunnah, ia hidup dalam keseimbangan rasa takut dan harap. Takut amalannya tertolak, tetapi penuh harap agar amalannya diterima.

Jawaban syubhat Islam tidak memberi jaminan surga bagi pemeluknya

Hal ini juga menjadi bantahan bagi orang yang membawa syubhat bahwa muslim tidak yakin masuk surga. Syubhat ini dihembuskan oleh banyak orang kafir seperti para penginjil yang mengatakan, “Masuklah agama kami, karena surga telah dijamin bagi orang yang percaya kepada Kristus. Sedangkan Muhammad tidak memberikan jaminan bagi pengikutnya.”

Perkataan ini sangat dusta. Mengapa? Karena Nabi ﷺ, baik melalui hadis maupun Kalamullah, semuanya memberikan kepastian bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pastilah masuk surga. Bahkan, Nabi diberikan hak syafaat khusus untuk umatnya, suatu keistimewaan yang tidak dimiliki umat yang lain.

Hanya saja, kitalah umatnya yang dituntut untuk memenuhi standar orang beriman yang telah disebutkan. Justru ini adalah konsep yang paling adil dan masuk akal, sebab orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Sedangkan mereka yang bermaksiat, selagi masih memiliki iman, tetap mendapatkan harapan masuk ke dalam surga Allah ﷻ.

Kesimpulan

Ketentuan ini bagi orang beriman tidak menjadikan ia merasa aman untuk melakukan maksiat. Namun, justru menjadikan diri seorang mukmin terus semangat beramal dan khawatir dengan ancaman neraka dengan berimbang. Keimanan yang dilandasi ilmu yang benar akan mendatangkan ketenangan.

Muthar Al-Warraq rahimahullah berkata,

تنجزوا موعود الله بطاعته ، فإنه قضى أن رحمته قريب من المحسنين

“Raihlah janji Allah dengan menaati-Nya, karena Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)

Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.

[Selesai]

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Syarah Aqidah Thahawiyah, karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, cet. Ar-Risalah.

Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, via tafsir.app.

Catatan hadis berdasarkan takhrij Syekh Syuaib Al-Arnauth rahimahullah.

sumber: https://muslim.or.id/115852-allah-memasukkan-manusia-ke-surga-dan-neraka-dengan-keadilan-nya-bag-3.html

Saat Futur Melanda

ertambah dan berkurangnya iman adalah bagian dari sunatullah atas makhluk-Nya, yaitu manusia. Nikmat nafsu dan akal yang menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah.

Iman yang berkurang, populer dengan sebutan futur. Futur dipahami dengan arti kemalasan, suka menunda, tidak bergairah, dan tidak bersemangat untuk melakukan berbagai kebaikan, khususnya ibadah-ibadah sunah yang disyariatkan.

Futur merupakan hal biasa dialami oleh siapa pun. Tetapi, bayangkan jika kita terus menerus dalam keadaan futur. Adakah jaminan, jika tanpa segera memperbaharui iman (dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah), kita kemudian tidak terjerumus dalam level futur paling rendah, bahkan jatuh kepada kekufuran? Wal’iyadzubillah

Tantangan futur

Mari kita renungkan sejenak. Ketika futur melanda, rasanya memang untuk melaksanakan kewajiban saja cukup berat. Konon lagi hal-hal yang sunah. Contoh, melakukan salat sunah rawatib terasa berat, puasa Senin-Kamis seperti sulit sekali, bahkan untuk berzikir yang hanya dengan gerakan mulut pun kita seakan tak sanggup melakukannya.

Oleh karenanya, sebagai seorang mukmin kita tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Saat-saat seperti inilah, godaan setan yang mengancam keutuhan iman kita bisa datang dari berbagai arah.

Jangan hanya menunggu hidayah itu datang, tetapi jemputlah hidayah itu. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi,

يا عبادي كلُّكم ضالٌّ إلَّا من هديتُه ، فاستهدوني أهدِكُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua adalah tersesat, kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu petunjuk.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)

Pelajaran dari orang-orang terdahulu

Belajar dari orang-orang terdahulu, sebagian besar dari mereka ketika tidak ada niat, tekad, dan ikhtiar untuk menggapainya, maka hidayah itu pun tak kunjung datang hingga ajal menjemput.

Meskipun orang-orang di sekitarnya berupaya semaksimal mungkin mengarahkan mereka kepada keimanan yang kokoh dan mengajak mereka dengan susah payah untuk bangkit dari kefuturan. Namun, ketika individu tersebut pada dasarnya tidak memiliki niat, tekad, dan ikhtiar untuk kembali meniti jalan ilahi, tentu hidayah itu akan semakin sulit didapat.

Saudaraku, lihatlah! Betapa dekatnya hubungan antara anak dan ayah, seperti Habil bin Adam ‘alaihissalam, Kan’an bin Nuh ‘alaihissalam, dan Ibrahim ‘alaihissalam bin Azar. Atau antara suami dan istri, seperti halnya Walilah istri Nabi Luth ‘alaihissalam. Serta, kedekatan antara seorang keponakan dan paman, seperti antara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sang paman Abu Talib.

Begitu dekatnya mereka dengan para Rasul shalawatullah ‘alaihim. Tetapi, hidayah tak kunjung mereka dapatkan. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak punya kuasa untuk memberikan hidayah kepada paman yang dicintainya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِی مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ یَهۡدِی مَن یَشَاۤءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِینَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qasas: 56)

Di zaman ini, tak jarang pula kita jumpai orang-orang yang dulunya dikenal dengan kesalehannya dan ketaatannya, tapi tak disangka ia pun berubah dan justru kini menjadi terbiasa melakukan kemaksiatan dan kemungkaran. Wal’iyadzubillah.

Kekufuran bermula dari kefuturan

Saudaraku, sungguh kita tidak tahu takdir yang telah ditetapkan Allah Ta’ala atas kita dalam lauh mahfudz-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فوالَّذي لا إلَهَ غيرُهُ إنَّ أحدَكُم ليعملُ بعملِ أَهْلِ الجنَّةِ حتَّى ما يَكونُ بينَهُ وبينَها إلَّا ذراعٌ ثمَّ يسبِقُ علَيهِ الكتابُ فيُختَمُ لَهُ بعملِ أَهْلِ النَّارِ فيدخلُها ، وإنَّ أحدَكُم ليعملُ بعملِ أَهْلِ النَّارِ حتَّى ما يَكونَ بينَهُ وبينَها إلَّا ذراعٌ ثمَّ يسبِقُ علَيهِ الكتابُ فيُختَمُ لَهُ بعملِ أَهْلِ الجنَّةِ فيَدخلُها

“Demi Allah, Zat yang tidak ada sesembahan yang hak, selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun, dia didahului oleh al-kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka dia pun masuk ke dalamnya. Dan sungguh, salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka hingga jarak antara dia dengan neraka tinggal satu hasta. Namun, dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya.” (HR. Tirmidzi no. 2137, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Hadis di atas semakin meyakinkan kita bahwa tiada seorang hamba pun yang tahu dan bisa menjamin akhir amalannya dan tempatnya di akhirat.

Maka, renungkanlah! Orang yang mulanya terbiasa beramal saleh saja bisa jadi di akhir hidupnya justru ia kembali melakukan kemaksiatan yang mengantarkannya ke neraka. Lalu, bagaimana lagi dengan orang yang terbiasa dengan pelanggaran syariat Allah.

Dan yang pasti, kembalinya seseorang kepada kemaksiatan dari ketaatan bermula dari kefuturan yang diremehkan yang lama kelamaan menjadi kekufuran. Wal’iyadzubillah.

Oleh karenanya, yang harus kita yakini bahwa seseorang akan dimudahkan dengan amalannya. Maka, biasakanlah diri untuk melakukan amalan saleh. Tatkala futur melanda, mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan berikhtiarlah semaksimal mungkin untuk mempertahankan ketaatan dan menghindari kemaksiatan.

Teruslah beramal

Perhatikanlah hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang dan berkata,

“Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini? Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ

“Bahkan, pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan.”

Ia bertanya, “Lalu apa gunanya beramal?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648)

Ikhtiar bangkit dari futur

Pertama: Memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah

Maka dari itu, kita mesti menyadari bahwa hal yang pertama dan utama sekali kita lakukan tatkala futur melanda adalah berdoa memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan hidayah. Inilah makna bahwa hidayah memang harus dijemput dengan doa.

Karena semestinya segala urusan yang kita ikhtiarkan sepatutnya kita gantungkan pada pertolongan dari Allah Ta’ala sebagaimana doa zikir pagi yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha berikut,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

“Wahai Rabb Yang Mahahidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Ibnu As-Sunni no. 46)

Sungguh paripurna syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ini. Kita pun diajarkan bagaimana berdoa memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan petunjuk dan hidayah sebagaimana doa yang tersurat dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (QS. Al Kahfi: 10)

Kedua: Berupaya semaksimal mungkin istikamah dalam kebaikan

Setelah berdoa dan memantapkan niat, kita pun berikhtiar untuk selalu istikamah dalam mempertahankan keimanan dan ketakwaan kita. Meski futur melanda, setidaknya untuk amalan (ibadah) wajib, kita tidak tinggalkan seberat apapun itu. Begitu pula terhadap kemaksiatan, kita tidak lakukan semenarik apapun itu.

Sungguh berarti nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

اتَّقِ اللَّهَ حيثُ ما كنتَ ، وأتبعِ السَّيِّئةَ الحسنةَ تمحُها ، وخالقِ النَّاسَ بخلقٍ حسنٍ

”Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana pun engkau berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (kejelekan). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)

Ketiga: Merutinkan zikrullah di setiap waktu

Melakukan amalan ringan, tetapi timbangannya berat, yaitu zikrullah. Saat futur melanda, amalan sunah yang paling mudah dilakukan adalah zikrullah. Karena berzikir tidak membutuhkan energi fisik, kecuali gerakan mulut yang melantunkan kalimat-kalimat Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (QS. Al-Baqarah: 152)

Saudaraku, saat futur melanda, tidak ada yang kita butuhkan selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, yang kita butuhkan adalah bagaimana agar Allah Ta’ala ingat dengan kita lagi. Tidak ada cara lain agar mendapatkan perhatian Allah selain zikrullah.

Maka, biasakanlah untuk berzikir sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berzikir dalam setiap aktivitas, mulai dari bangun pagi dengan membaca zikir dan doa, salat fajr dengan rawatib-nya, zikir pagi, dan berbagai amalan zikir sesuai sunah dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.

Di antara kalimat zikir yang ringan diucapkan, tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah adalah sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Mahasuci Allah, segala pujian untuk-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahamulia).” (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/82485-saat-futur-melanda.html

Mengucapkan Salam pada Rumah Kosong

Apakah mesti mengucapkan salam saat memasuki rumah kosong atau memasuki rumah yang tanpa penghuni? Bagaimana bentuk salamnya jika ada?

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An Nur: 61).

Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين

“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin (salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang sholeh)” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17).

Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata, “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam yang salam “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. (Al Adzkar, hal. 468-469).

Maksud kalimat “Assalamu ‘alainaa” menunjukkan seharusnya do’a dimulai untuk diri sendiri dulu baru orang lain. Sedangkan kalimat “wa ‘ala ‘ibadillahish sholihiin”, yaitu salam pada hamba yang sholeh, maksud sholeh adalah orang yang menjalani kewajiban, hak Allah dan juga hak hamba. (Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, 3: 186).

Hanya Allah yang memberi hidayah.

Referensi:

Al Adzkar An Nawawiyah, Abu Zakariya, Yahya bin Syarf An Nawawi Ad Dimasyqi, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Rosysyul Barod Syarh Al Adabil Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, terbitan Darud Da’i, cetakan pertama, tahun 1326 H.

Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, Husain bin ‘Audah Al ‘Uwaisyah, terbitan Al Maktabah Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1425 H.

Diselesaikan selepas Shubuh, 21 Rabi’ul Awwal 1435 H di Warak, Girisekar, Panggang, GK

Oleh -akhukum fillah- Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/6018-mengucapkan-salam-pada-rumah-kosong.html

Jangan Biarkan Kapal Kita Tenggelam!

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:  

*”مَثَلُ القَائِمِ فِي حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَصَارَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، وَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.”* 

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya, seperti sekelompok orang yang mengundi untuk menaiki sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian di bagian bawah. Orang-orang yang di bawah, jika ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang di atas mereka. Maka mereka berkata: ‘Seandainya kita melubangi bagian kita sendiri, kita tidak akan mengganggu orang di atas kita.’ Jika orang-orang di atas membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan, maka semuanya akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, maka semuanya akan selamat.” [HR. Al-Bukhari]

*Penjelasan Kata Sulit:*

– *”الْقَائِمُ فِي حُدُودِ اللَّهِ”* :

– Orang yang mengingkari, mencegah kemungkaran dan menghilangkannya. Maksud “hudud” di sini adalah larangan-larangan Allah yang harus dijauhi.

*Pelajaran penting dari Hadits Ini:*

  1. *Indahnya cara Rasulullah ﷺ dalam mengajar* dengan membuat perumpamaan yang mendekatkan perkara yang abstrak ke dalam bentuk yang bisa dirasakan. Ini menunjukkan pentingnya menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan makna dan mendekatkannya ke akal, serta bahwa membuat perumpamaan itu diperbolehkan.
  2. *Bagusnya niat dan tujuan saja tidak cukup* untuk membuat suatu amal menjadi baik dan benar. Jika tidak berada di atas petunjuk yang lurus dan jalan yang benar, maka orang yang ingin melubangi kapal dengan niat agar tidak mengganggu orang di atasnya tetap akan menyebabkan kebinasaan bagi semua. Meskipun niatnya baik dan uzurnya bisa diterima, niat baik saja tidak cukup untuk menjadikan perbuatan itu sah dan diterima.
  3. *Hadits ini mengingatkan pentingnya batasan kebebasan pribadi* dalam syariat dan ketentuannya yang harus diperhatikan, demi menjaga keselamatan masyarakat serta memelihara dan melindunginya.
  4. *Pentingnya amar ma’ruf nahi munkar* dan mencegah orang yang berbuat maksiat agar masyarakat tetap terjaga dan baik.
  5. *Tegaknya hukum Allah adalah sebab keselamatan* bagi orang yang menegakkannya dan orang yang ditegakkan hukum itu atasnya. Jika tidak, maka pelaku maksiat akan binasa karena maksiatnya, dan orang yang diam serta ridha terhadap maksiat itu juga akan binasa bersamanya. Dan di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa dosa kemaksiatan itu akan menimpa semua jika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan.

Wallohu a’lam

[Refrensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid. Hal : 168-169]

Ditulis oleh Ustadz :  Nurhadi Nugroho

sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-187-jangan-biarkan-kapal-kita-tenggelam/

[Kitabut Tauhid 10] 31 Mencintai Allah 19

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Setiap Muslim pasti mengaku dan ingin mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Pengakuan dan keingian ini menuntut bukti dan konsekuensi, yang dapat dijadikan sebagai standar kebenaran pengakuan cinta. Di antara bukti dan konsekuensi tersebut adalah :

Meneladani Sunnah Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Banyak Mengingat dan Menyebut Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan ini terkait dengan beberapa amalan yang disyariatkan, di antaranya :

Menyampaikan shalawat dan salam kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Menyebut keutamaan dan kekhususan sifat, akhlak dan perilaku utama yang Allâh -‘Azza wa Jalla- berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; juga menyebut mu’jizat serta bukti kenabian untuk mengenal kedudukan dan martabat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Bersikap santun dan beradab terhadap Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, baik dalam menyebut nama atau memanggilnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“