Mendidik Anak Perempuan di Era Digital

Era digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara kita mendidik anak-anak. Kemudahan akses informasi, konektivitas tanpa batas, dan beragam platform pendidikan daring hadir sebagai berkah yang tak terbantahkan. Anak-anak kita tumbuh di dunia yang sangat berbeda dengan dunia orang tua mereka tumbuh dahulu. Gadget, media sosial, dan internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka, termasuk anak perempuan yang sejak kecil sudah akrab dengan layar sentuh dan dunia maya.

Namun di balik segala kemudahan itu, tersimpan ancaman yang tidak kalah besarnya. Anak perempuan, dengan fitrah kelembutan dan kepekaannya, justru menjadi kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh negatif dunia digital. Konten-konten yang merusak akhlak, tayangan yang menampilkan aurat, pergaulan bebas di media sosial, hingga ancaman kecanduan gadget dan gangguan psikologis, semuanya mengintai setiap saat. Orang tua tidak bisa lagi bersikap pasif dan membiarkan anak-anaknya larut dalam arus digital tanpa bimbingan dan perlindungan.

Maka, di sinilah peran penting orang tua, terutama ibu, sebagai benteng utama dan madrasah pertama bagi anak perempuannya. Mendidik anak di era digital ini bukan berarti menolak teknologi atau memutus akses anak dari dunia modern. Sebaliknya, itu berarti membekali anak dengan benteng iman, ilmu, dan akhlak yang kokoh, serta keterampilan untuk menyaring informasi dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan. Islam telah memberikan tuntunan yang sempurna dalam mendidik anak, dan di era digital ini, tuntunan tersebut semakin relevan untuk diamalkan dengan kesungguhan dan kebijaksanaan.

Kemudahan di era digital

Era digital membawa banyak kemudahan yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan anak perempuan, terutama dalam hal pendidikan dan pengembangan diri. Kini, seorang anak perempuan dapat mengakses ribuan kajian Islam, mendengarkan ceramah para ulama, membaca artikel keislaman, dan bahkan mengikuti program tahfidz Al-Qur’an secara daring dari rumah. Aplikasi-aplikasi belajar seperti pembelajaran bahasa Arab, ilmu tajwid, dan fikih wanita juga tersedia dengan mudah dan terjangkau. Kemudahan ini tentu merupakan nikmat dari Allah Ta’ala yang patut disyukuri, karena membuka pintu ilmu bagi siapa saja yang menginginkannya, tanpa terbatas oleh jarak dan waktu.

Anak perempuan pun terbuka untuk mengembangkan bakat dan keterampilan mereka secara lebih luas. Mereka dapat belajar memasak, merajut, mendesain, menulis, atau bahkan belajar wirausaha melalui platform-platform yang ada. Jika diarahkan dengan benar, maka bakat-bakat ini dapat menjadi bekal bagi mereka di masa depan, baik sebagai bekal untuk berumah tangga maupun untuk berkontribusi pada masyarakat. Dunia digital juga memungkinkan mereka untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara seiman dari berbagai penjuru dunia, memperluas wawasan, dan merasakan semangat persaudaraan Islam yang universal.

Kemudahan akses informasi juga menjadikan anak perempuan lebih mudah untuk belajar dan memahami agama secara mandiri, tentunya dengan bimbingan orang tua. Mereka bisa mengikuti kajian rutin secara online, membaca artikel-artikel dari situs-situs Islam terpercaya, dan mendengarkan rekaman ceramah para ulama. Hal ini sangat membantu dalam proses pembentukan akidah dan pemahaman keislaman mereka sejak dini. Bahkan, tidak sedikit anak-anak muda yang saat ini menjadi penghafal Al-Qur’an dengan memanfaatkan aplikasi dan teknologi yang ada, dan ini adalah prestasi yang sangat membanggakan.

Allah Ta’ala berfirman,

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Allah Ta’ala memuliakan ilmu dan alat untuk menuntut ilmu, termasuk di dalamnya media yang digunakan untuk belajar. Era digital dengan segala fasilitasnya adalah salah satu bentuk dari “pena” modern yang bisa digunakan untuk menuntut ilmu. Namun, sebagaimana pena bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan, demikian pula teknologi digital. Maka, orang tua harus memanfaatkan kemudahan ini untuk mengarahkan anak pada kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan.

Ancaman yang mengintai

Di balik segala kemudahan yang ditawarkan, dunia digital menyimpan berbagai ancaman serius bagi anak perempuan. Salah satu ancaman terbesar adalah paparan konten negatif yang merusak akhlak dan moralitas. Anak-anak dengan mudah dapat menemukan tayangan yang menampilkan aurat, hubungan terlarang, kekerasan, bahkan ajaran-ajaran sesat yang mengancam akidah. Algoritma media sosial sering kali justru merekomendasikan konten-konten semacam ini kepada pengguna muda, sehingga anak perempuan yang belum memiliki benteng iman yang kokoh akan mudah terpengaruh dan meniru apa yang mereka lihat.

Ancaman berikutnya adalah fitnah media sosial, di mana anak perempuan sering kali terjebak dalam budaya pamer (tabarruj), riya’, dan tawadhu’ yang hilang. Banyak dari mereka yang tergoda untuk mengunggah foto-foto diri mereka tanpa hijab, atau dengan pakaian yang ketat dan memperlihatkan perhiasan, sementara Islam memerintahkan wanita untuk menutup aurat dan tidak memamerkan kecantikan mereka di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Kebiasaan ini dapat dengan perlahan melunturkan rasa malu (haya’) yang merupakan bagian penting dari iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 24)

Jika seorang anak perempuan kehilangan rasa malunya akibat sering terpapar konten-konten yang merendahkan nilai-nilai kesopanan, maka imannya pun akan ikut tergerus. Rasa malu yang diajarkan Islam bukanlah sifat negatif, melainkan benteng yang melindungi seorang muslimah dari perbuatan dosa dan maksiat, termasuk di dunia digital.

Jika kita telisik lebih jauh lagi, kita lihat bahwa ancaman pergaulan online yang tidak sehat juga sangat berbahaya. Anak perempuan bisa dengan mudah berkenalan dengan lawan jenis melalui media sosial, aplikasi chat, atau game online. Percakapan yang awalnya tampak biasa dapat berujung pada hubungan yang mendekati perzinahan, yang sangat dilarang dalam Islam. Allah Ta’ala dengan tegas memerintahkan kaum mukminin untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka, dan ini berlaku juga dalam dunia maya. Allah Ta’ala berfirman,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya’; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30-31)

Melihat foto-foto lawan jenis yang bukan mahram, membaca pesan-pesan yang menggoda, atau menonton tayangan yang tidak senonoh adalah bentuk pelanggaran terhadap perintah Allah. Orang tua harus menyadari bahwa ancaman ini nyata dan telah banyak terjadi, sehingga mereka tidak boleh lengah dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak perempuannya.

Peran ibu sebagai benteng utama

Dalam mendidik anak perempuan di era digital, ibu memegang peran yang sangat strategis dan tidak tergantikan. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, tempat mereka belajar nilai-nilai dasar kehidupan, termasuk bagaimana bersikap terhadap dunia digital. Keteladanan seorang ibu sangat menentukan sikap anak terhadap teknologi. Jika ibu sendiri terbiasa menggunakan gadget untuk hal-hal yang bermanfaat dan menjaga adab dalam bermedia sosial, maka anak-anak akan meniru kebiasaan tersebut. Sebaliknya, jika ibu sibuk dengan gadget dan mengabaikan anak, maka anak pun akan kehilangan teladan yang baik.

Ibu juga berperan sebagai benteng emosional bagi anak perempuannya. Kedekatan dan komunikasi yang hangat antara ibu dan anak akan membuat anak merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang mereka lihat dan alami di dunia maya. Ibu pun dapat menjadi filter bagi anak, membantu mereka memahami mana konten yang baik dan mana yang buruk, serta memberikan nasihat yang bijaksana tanpa membuat anak merasa dihakimi. Inilah yang disebut dengan pendampingan digital, di mana ibu tidak hanya melarang, tetapi juga membimbing dan mengarahkan.

Selain itu, ibu juga bertanggung jawab untuk mengajarkan anak-anaknya cara memilah informasi (media literacy) dalam bingkai Islam. Anak perlu diajari untuk tidak mudah percaya pada semua informasi yang mereka terima, untuk selalu memeriksa kebenaran dari sumber yang terpercaya, dan untuk tidak menyebarkan informasi tanpa klarifikasi. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang memerintahkan untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) terhadap berita yang diterima.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Betapa pentingnya tabayyun, dan ini sangat relevan dengan era digital di mana berita palsu (hoaks) dan informasi menyesatkan tersebar dengan sangat cepat. Anak perempuan perlu dibekali dengan keterampilan ini agar mereka tidak menjadi korban atau bahkan pelaku penyebaran informasi yang tidak benar. Dengan bimbingan ibu, mereka dapat belajar untuk menjadi pengguna digital yang cerdas, bertanggung jawab, dan selalu berpegang pada nilai-nilai Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya peran orang tua, termasuk ibu, dalam menjaga anak-anak mereka dari api neraka, dan ini mencakup upaya menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat merusak iman dan akhlak, termasuk pengaruh negatif dunia digital. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang memimpin rakyat adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka…” (HR. Bukhari no. 5200 dan Muslim no. 1829)

Hadis ini menegaskan bahwa ibu memiliki tanggung jawab kepemimpinan di rumahnya, termasuk dalam mendidik anak-anaknya dan melindungi mereka dari bahaya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Menjadi ibu di era digital memang penuh tantangan; namun dengan ilmu, kesabaran, dan tawakal kepada Allah, seorang ibu dapat menjadi benteng utama yang melindungi putri-putrinya dari segala ancaman yang mengintai.

Era digital membawa dua sisi mata uang, yaitu kemudahan dan ancaman yang beriringan. Bagi anak perempuan, dunia digital bisa menjadi sarana untuk menuntut ilmu, mengembangkan bakat, dan memperluas wawasan, namun juga bisa menjadi sumber fitnah yang merusak akhlak, iman, dan masa depan mereka. Orang tua, terutama ibu, dituntut untuk berperan aktif sebagai benteng utama yang melindungi, membimbing, dan mengarahkan anak-anak mereka dalam menggunakan teknologi secara bijak.

Tidak ada jalan lain selain membekali anak dengan benteng iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, serta keterampilan memilah informasi dalam bingkai Islam. Orang tua juga harus membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, memberikan keteladanan yang baik, dan tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah agar anak-anak mereka senantiasa dalam perlindungan-Nya. Semua usaha ini adalah bentuk jihad di era modern, dan setiap langkah kecil yang diambil akan menjadi amal jariyah yang kelak akan menuai pahala di sisi Allah.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama para orang tua yang sedang berjuang mendidik putri-putrinya di tengah derasnya arus digital. Mari kita jadikan era digital ini sebagai ladang amal dan sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai alat yang menjerumuskan kita dan anak-anak kita ke dalam jurang kebinasaan. Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita semua dalam mendidik generasi muslimah yang tangguh, berilmu, dan berakhlak mulia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslimah.or.id/34748-mendidik-anak-perempuan-di-era-digital.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Munculnya Nabi Palsu, Fenomena Akhir Zaman

Olleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Di antara keyakinan di dalam agama Islam yang tidak dapat diganggu gugat adalah bahwa nabi Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Qurasyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah kepada seluruh bangsa di dunia, dari kalangan jin dan manusia. Dan bahwa beliau adalah penutup seluruh para nabi dan rasul, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Maka barangsiapa mengaku sebagai nabi atau rasul, pembawa syari’at baru atau tanpa syari’at baru, setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau membenarkan pengakuan seseorang sebagai nabi, sesungguhnya ikatan Islam telah lepas dari dirinya.

Akan tetapi, hikmah Allah telah menetapkan bahwa Dia akan menguji keimanan hamba-hambanya dengan memunculkan orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagi orang yang memiliki ilmu warisan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka peristiwa itu akan menambah keyakinan dan keimanannya terhadap kebenaran nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama yang beliau bawa. Karena memang fenomena akan munculnya para dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai nabi itu telah diberitahukan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa kehidupannya.

Maka di sini, -insya Allah- kami akan membahas seputar masalah ini, agar kaum muslimin selamat dari kesesatan yang dapat mengeluarkan mereka dari agamanya ini. Mudah-mudahan Allah membimbing kita semua di atas jalan yang lurus. Aamiin.

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam utusan Allah kepada seluruh manusia.
    Allah berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [Al-A’raf/7 : 158]

وَ مَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba/34 :28]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dan semua nabi (sebelumku) diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia. [HSR. Al-Bukhari no: 335; Muslim no: 521; An-Nasai no: 432, dari Jabir bin Abdullah]

  1. Barangsiapa –dari bangsa atau agama apapun juga- telah mendengar dakwah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian tidak beriman kepada agama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia akan menjadi penghuni neraka, kekal di dalamnya, selama-lamanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah seorangpun dari umat ini, baik seorang Yahudi atau Nashrani, yang mendengar tentang aku, kemudian dia mati, dan tidak beriman dengan (agama) yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” [HSR. Muslim, no: 240, dari Abu Hurairah]

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup seluruh para nabi, tidak ada lagi nabi setelah beliau.
    Allah berfirman:

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Ahzaab/33 : 40]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Sesungguhnya perumpamaan diriku dan para Nabi lainnya sebelumku, seperti seorang lelaki yang membangun sebuah rumah. Ia mengerjakannya dengan baik dan indah, kecuali sebuah batu bangunan di pojoknya. Manusia-pun lantas mengelilinginya dan mengaguminya, dan mereka berkomentar: “Kenapa tidak diletakkan sebuah batu bangunan di tempat ini?”. Beliau bersabda: “Akulah batu bangunan itu. Dan akulah penutup para Nabi”. [HSR. Al-Bukhari no: 3535; Muslim no: 2286, dan lainya, dari Abu Hurairah]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

“(Saya memiliki empat nama:) Saya Muhammad (yang terpuji). Saya Ahmad (yang banyak memuji atau dipuji). Saya Al-Mahi (penghapus), dimana dengan perantaraanku Allah menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir (Pengumpul), yang mana manusia nanti akan dikumpulkan dihadapanku. Saya juga bernama Al-‘Aqib (yang belakangan) yaitu yang tak ada Nabi lagi yang datang sesudahku”. [HSR. Al-Bukhari no: 3532; Muslim no: 2354, dan lainya, dari Jubair bin Muth’im. Lafazh ini pada riwayat Muslim, kalimat dalam kurung pada riwayat Bukhari]

Dalam hadits lain diriwayatkan:

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya, bahwa Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Tabuk, dan menjadikan Ali sebagai pengganti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (memimpin kota Madinah). Lalu Ali berkata: “Apakah anda menjadikan aku sebagai pengganti(mu) mengurusi anak-anak kecil dan para wanita?”. Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidakkah engkau ridha jika kedudukanmu dariku sebagaimana kedudukan Harun dari Musa, tetapi sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku.” [HR. Bukhari, kitab: Al-Maghazi, no:4416; Muslim, no:2404, lafazhnya bagi imam Bukhari]

Lihatlah betapa indahnya ungkapan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib, hal itu sekaligus menutup keyakinan adanya nabi ummati atau nabi tanpa syari’at setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam[1], sebagaimana nabi Harun adalah nabi yang syari’atnya mengikutri nabi Musa ‘alaihimassalam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi, setiap seorang nabi wafat, dia diganti oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku, tetapi akan ada para khalifah, dan jumlah mereka banyak. [HR. Bukhari, kitab: Ahadits al-Ambiya’, no:3455; Muslim, no:44/1842, dari Abu Hurairah]

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi, pemimpin orang-orang yang bertakwa, dan penghulu para rasul”. Beliau juga berkata: “Segala pengakuan Nabi sesudah baliau adalah kesesatan dan (mengikuti) hawa nafsu”.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Ketika terbukti bahwa beliau adalah penutup para Nabi, maka dapat diketahui bahwa siapapun yang mengaku Nabi sesudahnya adalah pendusta”.

  1. Wahyu Telah Terputus.
    Ketika kenabian telah ditutup dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dengan wafatnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu telah terputus dari langit.

Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

Tidak tersisa dari kenabian kecuali al-mubasysyirat (perkara-perkara yang memberikan berita gembira). Para sahabat bertanya: “Apakah al-mubasysyirat itu?”, beliau menjawab: “Mimpi yang baik”. [R. Bukhari, kitab: Ta’bir, no:6990, dari Abu Hurairah]

Hadits ini dengan nyata menunjukkan bahwa wahyu tidak tersisa lagi setelah beliau wafat, karena adanya kenabian itu dengan wahyu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ قَالَ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ لَكِنِ الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ وَهِيَ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ

Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada Rasul dan tidak ada nabi setelah aku. Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat. Lalu beliau bersabda: “Kecuali al-mubasysyirat (perkara-perkara yang memberikan berita gembira). Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah al-mubasysyirat itu?”, beliau menjawab: “Mimpi seorang muslim, hal itu satu bagian dari bagian-bagian kenabian”. [HR. Ahmad III/267; Tirmidzi no: 2272, dan Al-Hakim, dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Irwaul Ghalil no:2473 dan Shahih Al-Jami’ush Shaghir no:1631]

Baca Juga Keseimbangan dan Kemudahan Dalam Islam
Dan hal itu adalah perkara yang telah maklum bagi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا

Dari Anas, dia berkata: Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar pernah berkata kepada Umar: “Marilah kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya”. Tatkala kami sampai kepadanya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya berkata kepadanya: “Apa yang menjadikanmu menangis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam“. Kemudian Ummu Aiman menjawab: “Aku menangis, bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit”. Maka Ummu Aiman menggerakkan Abu Bakar dan Umar untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman. [HSR. Muslim, kitab: Fadhail ash-Shahabat]

Yang dimaksud wahyu di sini adalah arti secara istilah agama, bukan arti atau secara bahasa. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam Fathul Bari (I/9): “Wahyu secara bahasa artinya memberitahukan secara rahasia/tersembunyi. Juga bisa berarti tulisan; sesuatu yang ditulis; mengutus; ilham; perintah; isyarat; dan menjadikan berbunyi sedikit demi sedikit. Juga dikatakan: asal artinya adalah memahamkan, dan apa saja yang engkau pakai untuk menjelaskan dinamakan wahyu, baik berupa: perkataan, tulisan, surat, atau isyarat. Sedangkan arti wahyu menurut istilah agama adalah: memberi-tahukan dengan agama”.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullh berkata: “Nabi Allah adalah orang yang diberi berita oleh Allah. Maka apa saja yang Allah beritakan itu adalah haq (benar dan bermanfa’at), sidhq (benar, sesuai dengan kenyataan), tidak ada kedustaan, atau kekeliruan, atau sengaja (dusta)”.

Beliau juga berkata: “Dan tidaklah setiap yang diberi wahyu yang umum[2] menjadi nabi, karena selain manusiapun terkadang diberi wahyu[3]. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Dan Rabbmu mewahyukan (maksudnya: memerintahkan) kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia“. [An-Nahl/16 : 68]

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ

Dan Kami wahyukan (maksudnya: ilhamkan) kepada ibu Musa: “Susuilah dia…” [Al-Qashas/28 : 7]

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْيًا

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu (maksudnya: ilham atau yang semaknanya) [Asy-Syuura/42 : 51]

Perkataan wahyu pada ayat ini mencakup wahyu (kepada) para nabi dan kepada selain nabi, seperti muhaddats, orang yang mendapatkan ilham. Sebagaimana tersebut di dalam Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Muslim) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

قَدْ كَانَ فِي الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَعُمَرُ مِنْهُمْ

Sesungguhnya pada umat-umat dahulu sebelum kamu ada muhaddatsun (orang-orang yang diberi pembicaraan oleh Allah, padahal mereka bukan nabi), jika ada seseorang di kalangan umatku, maka Umar termasuk mereka.[4]

Ubadah bin Ash-Shamit berkata: “Mimpi seorang mukmin merupakan perkataan Allah yang Dia berkata-kata dengannya (mimpi tersebut) kepada hamba-Nya di dalam tidurnya”.

Maka mereka itu, yaitu muhaddatsun (orang-orang yang diberi pembicaraan oleh Allah), orang-orang yang mendapatkan ilham, orang-orang yang mendapatkan pembicaraan Allah, Allah memberikan wahyu[5] kepada mereka dengan pembicaraan tersebut, yang hal itu merupakan perkataan, dan ilham. Mereka itu bukanlah nabi, mereka tidaklah maksum (terbebas dari kesalahan), dan mereka tidaklah selalu benar di dalam setiap yang mereka dapatkan. Karena sesungguhnya syaithan dapat memberikan bisikan kepada mereka dengan perkara-perkara yang bukan merupakan wahyu Allah, tetapi dari wahyu (bisikan) syaithan. Dan untuk membedakan hal itu hanyalah dengan apa yang dibawa oleh para nabi. Karena sesungguhnya para nabi itu dapat membedakan antara wahyu Allah dengan wahyu (bisikan) syaithan. Karena syaithan merupakan musuh mereka, dan syaithan memberikan wahyu (bisikan) yang berbeda dengan wahyu (Allah) yang diterima para nabi. Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَافَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَايَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka memberikan wahyu (membisikkan) kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. [Asy-Syu’araa/26 : 112]

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Sesungguhnya syaitan itu memberikan wahyu (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. [Al-An’aam/6 : 121][6]

Ringkasnya bahwa wahyu menurut istilah agama adalah: pemberitahuan secara rahasia (bisikan) dari Allah kepada nabiNya, yang berupa syara’ (agama; peraturan; sesuatu yang harus diyakini beritanya dan ditaati perntahnya serta dijauhi larangannya), yang pasti kebenarannya.

Wahyu ini khusus diberikan oleh Allah kepada nabiNya, dan dengan wafatnya nabi dan rasul terakhir, nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terputuslah berita dari langit tersebut.

  1. Munculnya Nabi-Nabi Palsu.
    Termasuk kesempurnaan agama Islam ini adalah bahwa tidak ada satu kebaikanpun yang dapat mendekatkan ke sorga, dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah diperintahkan atau dianjurkan kepada umat.

Demikian pula tidak ada satu keburukkan-pun yang dapat menjauhkan dari sorga, dan mendekatkan ke neraka, kecuali umat telah dilarang atau diperingatkan darinya.

Dan termasuk keburukan tersebut adalah akan munculnya para pembohong yang mengaku sebagai nabi, hal itu termasuk tanda-tanda kecil hari kiamat, sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga dibangkitkan pembohong – pembohong besar yang jumlahnya mendekati tigapuluh orang, masing – masing mengaku sebagai utusan Allah.” [HSR. Bukhari, Kitab Al-Manaqib, Bab: ‘Alamatan-Nubuwwah; Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyroth As-Sa’ah, dari Abu Hurairah]

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي

“Tidak akan datang kiamat sehingga beberapa qabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sehingga mereka menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku ini tiga puluh orang pembohong besar yang masing-masing mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sama sekali sesudahku.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Tsauban, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no: 7295]

Al-Hafizh Ibnu hajar Al-‘Asqalani rahimahullah mengomentari tentang jumlah tiga puluh nabi palsu tersebut dengan perkataannya: “(Jumlah 30) yang dimaksudkan di dalam hadits tersebut bukanlah untuk semua orang yang mengaku sebagai nabi secara mutlak. Karena jumlah mereka sebenarnya tak terbatas; tetapi yang dimaksud dengan jumlah dalam hadist tersebut ialah untuk orang yang mengaku menjadi nabi dan memiliki kekuasaan, serta menimbulkan syubhat (kesamaran)”[7]

  1. Kenyataan Membuktikan Kebenaran:
    Kemudian sejarah telah mencatat nama-nama pendusta yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, di antara mereka yang telah muncul ialah:[8]

Musailamah Al-Kadzdzab. Dia berasal ldari kota Yamamah, dan mengaku menjadi nabi pada akhir zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuratinya dan menamainya Musailamah Al-Kadzdzab. Orang ini memiliki banyak pengikut, dan bahaya yang ditimbulkannya terhadap kaum muslimin cukup besar, hingga ia dihabisi riwayatnya oleh para sahabat pada masa pemerintahan Abu-Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu dalam perang Yamamah.
Di Yaman muncul pula Al-Aswad Al-‘Ansi yang mengaku sebagai nabi, lalu dibunuh pula oleh para sahabat sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan muncul pula Sajah At-Tamimiyah, seorang wanita yang mengaku sebagai nabi, dan dia dikawini oleh Musailamah. Konon Sajah ini kemudian bertobat.
Demikian pula Thulaihah bin Khuwailid As-Asadi. Dia muncul di zaman khalifah Abu Bakar, namun lalu ia bertobat dan meninggal di dalam agama Islam, di zaman khalifah Umar bin Al-Khaththab, menurut pendapat yang benar.
Lalu muncul pula Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi yang menampakkan cintanya kepada ahlul-bait (keluarga rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), serta menuntut balas atas kematian Husein bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Pengikutnya banyak sekali, bahkan dapat mendominasi kota Kufah pada permulaan pemerintahan Ibnu Zubair. Kemudian ia diperdayakan oleh syaitan, sehingga ia mengaku menjadi nabi dan mengaku malaikat Jibril turun kepadanya. Di dalam Sunan Abu Daud, sesudah meriwayatkan hadits mengenai pembohong-pembohong besar itu, Ibrahim An-Nakha’i bertanya kepada Ubaidah As-Salmani:[9]. “Apakah engkau menganggap Mukhtar ini termasuk mereka (pembohong – pembohong besar itu)?”. Ubaidah menjawab: “Ketahuilah, ia termasuk tokohnya.”[10]
Dan diantaranya lagi adalah Al-Harits Al-Kadzdzab yang muncul pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, lalu dia di bunuh. Dan pada pemerintahan Bani Abbas juga muncul sejumlah pembohong.
Termasuk para pendusta tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani dari India. Dia dilahirkan th 1839 M atau 1840 M di Qadiyan, India. Ia mengaku sebagai nabi, dan sebagai Al-Masih yang ditunggu. Ia juga mengatakan bahwa Isa tidak hidup di langit, serta lain – lain pengakuan dan ajaran batilnya. Para ulama telah membantah pendapatnya dan ajarannya-ajarannya, dan mereka menyatakan bahwa dia termasuk salah seorang pembohong besar. Para pengikut Qadiyaniyah ini (mereka sering menyebut sebagai Ahmadiyah) tersebar di Eropa, Amerika, Afrika, Asia, dan lainnya. Termasuk di Bogor, Semarang dan lainnya di Indonesia.
Baca Juga Shahih Al-Bukhâri Dalam Pandangan Ulama
Pendusta ini memulai pengakuannya dengan sedikit demi sedikit. Mula-mula dia mengaku mendapatkan ilham, lalu mengaku sebagai mujaddid (pembaharu agama), lalu mengaku serupa dengan nabi Isa, lalu mengaku sebagai nabi Isa yang dijanjikan akan turun di akhir zaman, lalu pada th 1901 M mengaku sebagai nabi yang sempurna kenabiannya, lalu pada th 1904 M mengaku sebagai Kresna. Sedangkan Kresna adalah salah satu tuhan yang disembah orang-orang Hindu.

Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql berkata di dalam buku keduanya: “Sebagaimana telah lewat, bahwa Mirza Ghulam Ahmad memulai pengakuannya dengan sedikit demi sedikit. Oleh karena inilah orang-orang Qadiyaniyah sering mengelabui sebagian kaum muslimin dengan perkataan-perkataan lama Mirza Ghulam Ahmad sebelum pengakuannya sebagai nabi, karena barangsiapa mengaku sebagai nabi, dia menjadi kafir. Mereka berusaha menutupi pengakuan-pengakuannya yang baru, yang dia mengaku sebagai nabi, dengan teks-teks yang lama tersebut. Dan sebagian penulis telah tertipu dengan hal ini.”[11]

Akhir riwayat nabi palsu tersebut adalah ketika pada th 1907 M, dia menantang mubahalah[12] salah seorang alim salafi terkenal di India yang bernama Syeikh Tsanaullah Al-Amiritsari, yang membongkar kekafiran pendusta ini. Pada 5 April 1907 Mirza membuat tulisan yang berisi permohonan dan doa kepada Allah, agar mematikan si pendusta di antara keduanya, semasa salah satunya masih hidup, dan agar Allah menimpakan penyakit semacam wabah yang membawa kematiannya. Maka Allahpun menampakkan al-haq dan membongkar kedustaan itu. Setelah 13 bulan dan 10 hari datanglah apa yang dimohon oleh pendusta tersebut, dan dia mampus dengan penyakit wabah pada tgl 26 Mei 1908 M. Adapaun Syeikh Tsanaullah masih hidup 40 th setelah kematian pendusta tersebut. Beliau wafat pada tgl 15 Maret 1948[13]

Pembohong – pembohong itu akan senantiasa muncul satu persatu hingga muncul yang terakhir, yang buta sebelah matanya, Dajjal. Imam Ahmad meriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu pada waktu khutbahnya pada waktu terjadi gerhana matahari yang terjadi pada zamannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِنَّهُ وَاللَّهِ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ ثَلَاثُونَ كَذَّابًا آخِرُهُمُ الْأَعْوَرُ الدَّجَّالُ

Demi Allah, tidak akan datang kiamat sehingga muncul tigapuluh orang pembohong besar, dan yang terakhir dari mereka adalah (dajjal) yang buta sebelah matanya, sang pembohong besar.” [HR. Ahmad, dari Samurah bin Jundub]

Dan di antara pembohong-pembohong besar itu terdapat empat orang wanita. Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda:

فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ وَدَجَّالُونَ سَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ مِنْهُمْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ وَإِنِّي خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Akan muncul dikalangan umatku pembohong-pembohong besar sebanyak duapuluh tujuh orang, empat orang diantaranya adalah wanita. Sedangkan saya adalah penutup para nabi,tidak ada lagi nabi sesudahku.”[14]

  1. Membantah Syubhat:
    Sebagian orang berkata: “Memang sudah tidak ada nabi lagi setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi yang dimaksudkan adalah nabi pembawa syari’at, sedangkan nabi ummati/nabi pengikut maka masih ada”.

Jawab:
Perkataan ini terbantahkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang umum (Lihat pembahasan ke 3: Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup seluruh para nabi, tidak ada lagi nabi setelah beliau, dan ke 4: Wahyu sudah terputus), bahwa tidak ada nabi sesudah beliau, baik nabi pembawa syari’at atau bukan. Karena wahyu dari langit sudah terputus, sedangkan adanya nabi itu jika mendapatkan wahyu dari Allah.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib sebagaimana telah disebutkan di atas memperjelas hal itu.

Sebagian orang berkata: “Yang mendapatkan wahyu bukan hanya para nabi, seperti ibu nabi Musa, Maryam binti Imran. Maka setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat bisa jadi ada orang yang mendapatkan wahyu”.

Jawab:
Kesesatan ini muncul karena tidak membedakan arti wahyu menurut bahasa arab dan arti wahyu menurut istilah agama/syara’, lihat penjelasannya di pembahasan di atas. Karena wahyu yang diterima oleh ibu nabi Musa, Maryam binti Imran, dan lainnya, itu adalah ilham, atau wahyu (pemberitahuan secara rahasia) tetapi bukan wahyu syari’at.

Sebagian orang berkata: “Kalau Allah tidak mengutus nabi lagi, berarti Allah kehilangan sifat berbicara”.

Jawab:
Masya Allah, perkataan ini tidak keluar kecuali dari orang yang jahil terhadap sifat berbicara bagi Allah, sebagaimana keyakinan Ahlus Sunnah Wal jama’ah. Karena sesungguhnya sifat berbicara bagi Allah adalah sifat dzitiyyah dilihat dari jenisnya, yaitu sifat yang selalu ada pada Allah, tidak pernah lepas dariNya. Dan sifat itu juga sifat fi’liyyah, yaitu sifat yang dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya. Maka Allah berbicara kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari kalangan makhlukNya, baik malaikat, manusia atau lainnya. Dan dengan cara yang Dia kehendaki. Bukan harus berupa wahyu kepada nabi, karena Dia sudah memberitakan bahwa nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup seluruh para nabi, sehingga tidak ada nabi setelah beliau.

  1. Peringatan:
    Maka setelah kita mengetahui hal ini, masihkah kita tertipu dengan dakwaan para pendusta yang mengaku mendapat ilmu/ berita/ wahyu/ wangsit dari Allah. Seperti pengakuan Lia Aminuddin, atau para pendiri aliran kepercayaan, semacam: Sumarah, Subud, Sapto Darmo, Bratakesawa, Pangestu, Pransuh, Adam Makrifat, dan aliran-aliran sesat lainnya yang tersebar di nusantara ini. Wahai Allah tunjukkanlah al-haq kepada kami sebagai al-haq sehingga kami dapat mengikutinya. Dan tunjukkanlah kebatilan kepada kami sebagai kebatilan sehingga kami dapat menjauhinya. Amiin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun V/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Seperti keyakinan golongan Qadiyaniyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad!
[2] Wahyu menurut arti bahasa pent
[3] Wahyu menurut arti bahasa pent
[4] Yang semakna dengan ini pada riwayat Bukhari, kitab Manaqib; dan Muslim, kitab Fadhail ash-Shahabat, lafazh hadits di atas mendekati riwayat Muslim-pent
[5] Yang dimaksud wahyu di sini adalah secara bahasa: pembicaraan
[6] Diringkas tanpa merubah makna dari An-Nubuwwah, hal:271-273, tahqiq: Muhammad Abdurrahman ‘Iwadh, penerbit: Darul Kitab Al-‘Arabi, cet:I, th:1985 M/1405 H
[7] Lihat Fathul-Bari VI: 617
[8] Lihat Fathul-Bari VI: 617
[9] Ubaidah As-Salmani Al-Muradi Al-Kufi adalah seorang ahli fiqih dan mufti. Ia masuk Islam pada waktu Nabi masih hidup, dan ia juga sempat bertemu dengan Ali dan Ibnu Mas’ud
[10] Aunul Ma’bud Syarh Abi Dawud XI: 486
[11] Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, hal:151
[12] Artinya berdoa untuk mendapatkan kecelakaan. Hal ini masih sering digunakan senjata oleh orang-orang Ahmadiyah
[13] Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, hal:148
[14] HR. Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 4143. Al-Haitsmani berkata: “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath, dan diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar sedang para perawi Al-Bazzar ini adalah shahih.” Majma’uz-Aawaid VII: 332

sumber: https://almanhaj.or.id/3020-munculnya-nabi-palsu-fenomena-akhir-zaman.html

BANYAKLAH BERSEDEKAH, WAHAI WANITA MUSLIMAH!

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Wahai saudariku muslimah,sungguh kengerian serta dahsyatnya api neraka yang akan ALLAH timpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiyat kepada-Nya tidak akan bisa kita bayangkan dalam kehidupan di dunia ini.

Disebutkan dibeberapa hadits Rasulullah, bahwa penghuni terbanyak neraka adalah kaum wanita.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat penghuni neraka terbanyak adalah (kaum) kalian’Kemudian diantara mereka ada  seorang wanita berpantat besar bertanya, ‘Kenapa (kaum) kami menghuni sebagian besar neraka?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian sering melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami.’” (Muslim: 238).

Ada pula hadits khusus yang menyebabkan seorang wanita tidak dapat mencium aroma surga!

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum seperti ekor sapi, dengan cambuk itu mereka memukuli rakyat, wanita-wanita yang berpakian (namun) telanjang berlenggak-lenggok dan miring, rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga tercium dari perjalanan sejauh ini dan itu (Muslim: 2128)

Renungkanlah hadits-hadits tersebut wahai saudariku Muslimah!

Pelajaran yang terbesar yang dapat kita ambil ialah, bahwa bersedekah memiliki keutamaan yang sangat besar bagi diri setiap muslim dan muslimah….terutama untuk dirimu (wahai muslimah), yang demikian ini disebabkan karena beberapa hal:

1. Dirimu selalu banyak melaknat.
Sebagaimana yang dtegaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kalian banyak melaknat”.
Laknat menurut syariat artinya adalah menjauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya.

2. Dirimu selalu seringnya dirimu mengingkari kebaikan suami. 

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: mengingkari (kebaikan) suami.’”

dalam riwayat yang lain dengan lafadz: 

dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Bukhari:1052)

Bentuk kedurhakaan semacam ini banyak sekali kita jumpai dalam kehidupan rumah tangga kaum Muslimin, yang mana seorang istri selalu mengingkari kebaikan suaminya selama sekian waktu yang sangat panjang hanya lantaran disebabkan sikap/perbuatan suami yang tidak berkenan dihati istrinya.

Wahai ukhti Muslimah….
Padahal yang sepatutnya dilakukan oleh seorang istri ialah wajib atasnya bersyukur atas kebaikan yang diberikan oleh suaminya sekecil apapun bentuk kebaikannya.

3. Tabarruj 

Dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “wanita-wanita yang berpakian (namun) telanjang berlenggak-lenggok dan miring,”

Tabarruj: ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib bagi mereka untuk ditutupi dari hal-hal yang akan menimbulkan syahwat bagi laki-laki. 

Wahai ukhti Muslimah, hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islami yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan azab di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (QS. Al-Ahzaab: 33)

Inilah beberapa sebab para wanita ditekankan untuk banyak bersedekah. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari azab-Nya di dunia dan akhirat. Amiin.

Bersedekahlah wahai para wanita…

Perhatikanlah kesungguhan para shahabiyat dalam bersedekah pada masa Nabi yang mulia Shallalllahu alaihi wasallam

Ibnu ‘Abbas berkata:

“Nabi shalat pada hari Idul Fithri dua rakaat dan tidak shalat sebelum maupun sesudahnya. Kemudian (setelah menyampaikan khutbah kepada hadirin) beliau mendatangi tempat para wanita sementara Bilal menyertai beliau. Beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka mulailah mereka melemparkan perhiasan mereka (ke kain yang dibentangkan Bilal untuk menampung sedekah), ada wanita yang melemparkan anting-anting dan kalungnya.” (Bukhari no. 964)

Asma` bintu Abi Bakr berkata:

Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang dimasukkan Az-Zubair kepadaku. Apakah boleh aku menyedekahkannya?’ Beliau bersabda: ‘Bersedekahlah. Jangan engkau kumpul-kumpulkan hartamu dalam wadah dan enggan memberikan infak, niscaya Allah akan menyempitkan rizkimu’. (Bukhari no. 2590)

Semoga bermanfaat!
Akhukum Ahmad Ferry Nasution

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/5993

Anjuran Mencuci Tangan Dalam Islam

Islam adalah agama yang membawa maslahah dan mencegah mudharat bagi manusia. Diantara bentuknya, Islam mengajarkan pola hidup bersih dan tampil indah. Contohnya, ada beberapa waktu yang dianjurkan untuk mencuci tangan ketika itu. Siapa yang melakukan cuci tangan dalam rangka memenuhi anjuran ini, ia mendapatkan pahala.

Berikut ini beberapa tempat yang disunnahkan untuk cuci tangan

1. Ketika berwudhu
Disebutkan dalam hadits Humran bin Aban rahimahullah tentang cara wudhu Utsman bin Affan radhiallahu’anhu :

فغسل كَفَّيْهِ ثلاثَ مراتٍ

“.. kemudian beliau membasuh kedua tangannya 3 kali”

Yang di akhir hadits, Utsman bin Affan mengatakan:

رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم توضأ نحوَ وُضوئي هذا

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini” (HR. Bukhari no.1934, Muslim no.226).

Mencuci kedua tangan ketika wudhu hukumnya sunnah, tidak sampai wajib. Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mughni mengatakan:

وليس ذلك بواجب عند غير القيام من النوم بغير خلاف نعلمه

“Tidak mencuci tangan yang wajib kecuali ketika bangun tidur, hal ini tidak ada khilaf ulama yang kami ketahui“.

2. Ketika bangun tidur
Ketika bangun tidur disyariatkan untuk mencuci tangan sebelum memasukkan tangan ke dalam bejana atau melakukan aktifitas lainnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إذا استيقظ أحدُكم من نومِهِ، فلا يَغْمِسْ يدَه في الإناءِ حتى يغسلَها ثلاثًا . فإنه لا يَدْرِي أين باتت يدُه

“Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui dimana letak tangannya semalam” (HR. Bukhari no. 162, Muslim no. 278).

Ulama berbeda pendapat apakah larangan mencelupkan tangan ke dalam bejana (semua tempat yang menyimpan air) di dalam hadits ini apakah makruh ataukah haram. Ulama Hanabilah berpendapat hukumnya haram dan mencuci tangan hukumnya wajib. Namun jumhur ulama berpendapat hukumnya makruh dan mencuci tangan hukumnya mustahab (sunnah).

3. Ketika sebelum makan
Dalam hadits dari Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:

كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا أرادَ أن ينامَ ، وَهوَ جنبٌ ، تَوضَّأَ . وإذا أرادَ أن يأْكلَ ، أو يشربَ . قالت : غسلَ يدَيهِ ، ثمَّ يأكلُ أو يشربُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau ingin tidur dalam keadaan junub, beliau berwudhu dahulu. Dan ketika beliau ingin makan atau minum beliau mencuci kedua tangannya, baru setelah itu beliau makan atau minum” (HR. Abu Daud no.222, An Nasa’i no.257, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan:

يستحب غسل اليدين قبل الطعام وبعده, وإن كان على وضوء

“Dianjurkan mencuci tangan sebelum makan dan setelah makan, walaupun dalam keadaan punya wudhu“.

4. Ketika setelah makan
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:

أكل كتفَ شاةٍ فمضمضَ وغسل يديهِ وصلَّى

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memakan daging bahu kambing, kemudian beliau berkumur-kumur, mencuci kedua tangannya, baru setelah itu shalat” (HR. Ibnu Majah no. 405, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

5. Ketika tangan kotor
Secara umum ketika ada kotoran pada tubuh kita atau pakaian kita, hendaknya berusaha membersihkannya agar tampil bersih dan bagus. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمالَ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim no.91).

Terlebih jika tangan yang kotor bisa mengganggu orang lain. Dari Abu Musa radhiallahu’anhu, ia berkata:

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, amalan Islam manakah yang paling utama?’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya”” (HR. Bukhari no.10, Muslim no.57).

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

***

Penulis: Ustadz Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/11971-anjuran-mencuci-tangan-dalam-islam.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

KEUTAMAAN MEMBANTU JANDA, ORANG-ORANG MISKIN Dan ANAK-ANAK YATIM…

Ustadz Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah dia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Orang yang berusaha keras untuk membantu para janda dan orang-orang miskin adalah seperti MUJAHID dijalan ALLAH- atau beliau bersabda: seperti orang yang sholat malam yang terus menerus, dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.

(Riwayat bukhory : 5353, Muslim 2982)

Dalam riwayat yang lain yang dikeluarkan oleh imam muslim no : 2983 .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang menjamin/mengurus/ mengasuh anak yatim yang masih ada hubungan kekeluargaan atau tidak, kedudukan aku bersama (bersama org yg mengurus anak yatim tersebut) disyurga sangat dekat.

Imam Malik mengisyaratkan jari telunjuk dengan jari tengahnya ( menunjukkan kedekatan orang tersebut dengan Rasulullah di Syurga) ..Riwayat muslim no 2983.

Ikhwanii….

Kedua hadits tersebut memberikan kabar gembira kepada kita semua tentang ganjaran yang sangat besar bagi kaum muslimin yang mau membantu para janda, orang-orang miskin dan anak-anak yatim.

Dan apabila kita ada kemampuan lagi, kita bisa berikan kepada mereka bimbingan tentang islam dan sunnah yang mulia ini, agar mereka hidup didunia dengan penuh kebahagian, ketenangan dan penuh ketaatan dengan beribadah kepada ALLAH.

Semoga ALLAH memudahkan kita untuk mengamalkannya, dan menjadikan amal kita ikhlas karena-Nya.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/12638

Jangan Biarkan Kemungkaran Merajalela

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ». رواه الترمذي، وَقَالَ: «حديث حسن». [الترمذي (2169)، وحسنه الألباني في صحيح سنن الترمذي (2169)].

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:  

_”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Jika tidak, maka hampir saja Allah menurunkan azab dari sisi-Nya kepada kalian. Kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun doa kalian tidak dikabulkan.”_ HR. At-Tirmidzi, beliau berkata: “Hadits hasan”. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam _Shahih Sunan At-Tirmidzi_ (2169).

Pelajaran penting dari hadits ini

1. Bolehnya bersumpah tanpa diminta terlebih dahulu

Ini menunjukkan betapa pentingnya perkara yang disampaikan.

2. Menegaskan wajibnya amar ma’ruf nahi munkar

Kewajiban ini dikuatkan dengan sumpah, huruf lam, dan nun taukid yang menunjukkan penekanan yang sangat kuat.

3. Peringatan dan ancaman jika meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar

Meninggalkan kewajiban ini adalah salah satu sebab turunnya azab. Bentuk azabnya bisa berupa kezhaliman penguasa, dikuasainya kaum muslimin oleh musuh, atau bentuk azab lainnya. 

Keadaan ini seperti penyakit dan wabah yang menyebar luas, sampai para dokter pun kewalahan mengobatinya. Akibatnya bisa terjadi banyak kematian, dan doa-doa mereka tidak dikabulkan untuk menolak bala tersebut.

4. Menyebarnya kemungkaran dan tidak adanya pengingkaran adalah penghalang terkabulnya doa

[Referensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid. Hal 174]

 Wallohu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Nurhadi Nugroho hafidzhohulloh

sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-193-jangan-biarkan-mungkar-merajalela/