Wahai Saudariku, Jauhilah Israf!

Di antara kesukaan kaum wanita adalah memakai pakaian yang indah agar terlihat lebih cantik dan mempesona, ini merupakan tabiat wanita pada umumnya yang sejatinya telah diatur. Islam dengan demikian sempurna agar keindahan wanita dalam berpakaian tak melanggar aturan syari’at. Dan realitanya banyak kaum hawa yang terpedaya sehingga dalam hal berpakaian berlebih-lebihan baik dalam membelinya maupun mengoleksinya. Karena itu semoga dengan nasehat ulama rabbani ini kegemaran dan kecenderungan kurang baik bagi wanita dapat dihindari.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memperingatkan: “Di antara perbuatan yang masuk kategori israf (berlebih-lebihan) adalah mengoleksi pakaian tanpa ada kebutuhan mendesak kebanyakan wanita zaman ini, saat muncul model pakaian baru, maka bergegas berupaya membelinya, sampai rumahnya penuh dengan berbagai jenis pakaian tanpa ada kebutuhan. Bahkan saat model baru keluar lagi walau sebenarnya hanya sedikit berbeda modifikasinya dengan model yang pertama, maka segera wanita itu membelinya pula. Lebih dari itu sebagian dari wanita tersebut -kita memohon hidayah kepada Allah- nekad memanfaatkan suaminya dengan membelinya dan menyia-nyiakan hartanya. Atas dasar ini, wajib bagi para suami memberikan peringatan sebagai penerapan bentuk tanggung jawabnya (sebagai kepala rumah tangga) untuk mencegah istrinya dari sikap israf” (Syarah Riyadus Shalihin VI:550).

Ini sebuah peringatan berharga agar kaum wanita berpakaian secara bersahaja dan tak tergoda berbagai model pakaian yang sedang viral. Berpakaianlah secara wajar dan jauhilah sikap boros dalam membelanjakan agar hidupnya bahagia meskipun sebenarnya dia seorang yang sangat kaya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبّه كَفُوْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Rabbnya“ (QS. Al-Isra’: 27).

Seorang wanita hendaklah memiliki karakter dan prinsip Islami dalam perkara berpakaian. Tak berlebih-lebihan dan kikir sehingga keadaannya mengenaskan padahal ia diberi kenikmatan materi dari Alah ‘Azza wa Jalla:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al-Furqon: 67).

Demikian mulianya akhlak seorang muslimah yang seharusnya hidup bersahaja sebagaimana kaum mukminah para shahabiyah yang sangat sederhana dalam urusan dunia. Dengan demikian mereka tetap istimewa dalam puncak ketakwaan kepada Allah ’Azza wa Jalla. Hiasan iman dan amal sholihah yang membuat para mukminah terlihat lebih mempesona. Karakter indah inilah yang seharusnya diikuti para wanita zaman ini. Bukan wanita yang mudah terpengaruh gaya hidup wanita-wanita non muslim yang begitu menomorsatukan penampilan dan glamor dalam berpakaian.

Dan pelajaran berharga lainnya yang dapat dijadikan ibrah dari nasehat Syaikh Ibnu Al-Utsaimin bahwa wanita harus memiliki kepekaan kepada saudarinya. Seperti memperhatikan kebutuhannya dalam berpakaian sehingga ia membantunya ketika mereka benar-benar membutuhkan penutup auratnya. Sungguh mengesankan nasehat Rasulullah yang menyuruh wanita di zamannya untuk meminjamkan kerudung atau pakaiannya untuk menghadiri shalat Ied.

Selain itu israf juga bertentangan dengan akhlak Islam yang memerintahkan untuk zuhud dan memandang orang yang dibawahnya dalam level keduniaan agar hati bisa tawadhu’ dan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saatnya muslimah lebih fokus dalam beramal untuk akhirat dan mengambil dunia sesuai kadar kebutuhan untuk menegakkan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Wallahu a’lam.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi :
1. One Heart, Rumah Tangga Satu Langkah, Zaenal Abidin bin Syamsudin, Pustaka Imam Bonjol, Jakarta 2013.
2. Surat Terbuka Untuk Para Istri, Ummu Ihsan dan Abu Ihsan, Darul Ilmi, Bogor 2013

© 2023 muslimah.or.id
Sumber: https://muslimah.or.id/14351-wahai-saudariku-jauhilah-israf.html

Orang Yang Menghargai Waktu

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Aku menyaksikan banyak orang yang tidak mengenal makna kehidupan.
– Ada orang yang kebanyakan waktunya duduk di pinggir jalan melihat orang berlalu lalang.
– Diantara mereka ada yang sibuk bermain catur.
– Ada juga yang habis waktunya membicarakan penguasa dan harga barang yang mahal.

Maka aku sadar bahwa orang yang menghargai waktu hanya orang yang diberi oleh Allah taufik dan ilham..”

(Shoidul Khothir hal 24)

Ada yang habis waktunya untuk main game..
Ada yang habis waktunya untuk menonton film..
Ada yang habis waktunya untuk traveling..
Ada yang habis waktunya untuk hobi..
Seakan tujuan hidup di dunia untuk itu semua..

Sungguh bahagia orang menghabiskan waktunya dalam ketaatan..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75277

Berjalan Ala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Kesempurnaan yang dimiliki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya bersifat ruhani semata. Secara jasmani pun, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kesempurnaan. Salah satu yang bisa kita lihat, yaitu cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dalam mengayunkan kedua kakinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki langkah yang mantap, postur yang tegap, kuat, layaknya orang yang berjalan menuruni perbukitan dari arah ketinggian.

Sahabat Anas Radhiyallahu anhu, menceritakan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ رَبْعَةً لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ حَسَنَ الْجِسْمِ أَسْمَرَ اللَّوْنِ وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلَا سَبْطٍ إِذَا مَشَى يَتَوَكَّأُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam orangnya berpostur sedang, tidak tinggi ataupun pendek, fisiknya bagus. Warna (kulitnya) kecoklatan. Rambutnya tidak keriting, juga tidak lurus. Apabila berjalan, beliau berjalan dengan tegak. [Hadits shahîh, Mukhtashar asy-Syamâil no. 2].

Sahabat ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, juga memberikan gambaran tidak berbeda. Kata Sahabat ‘Ali Radhiyallahu anhu :

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ … إِذَا مَشَى تَكَفَّأَ تَكَفُّؤًا كَأَنَّمَا انْحَطَّ مِنْ صَبَبٍ لَمْ أَرَ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , orangnya tidak tinggi juga tidak pendek (sekali). Jika melangkah, beliau berjalan dengan tegak layaknya orang yang sedang menapaki jalan menurun. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau sebelum atau setelahnya. [Hadits shahîh, Mukhtashar asy-Syamâil no. 4].

Maknanya, beliau mengangkat ke dua kakinya dari permukaan tanah dengan tarikan yang kuat, namun tetap santun, tidak menunjukkan kesombongan. Cara berjalan seperti itu merupakan gaya langkah orang-orang yang memiliki tekad tinggi, bercita-cita luhur lagi gagah-berani. Selain itu, ia merupakan cara berjalan yang baik dan memerikan perasaan paling nyaman bagi anggota tubuh.

Sebaliknya, gaya berjalan yang sangat lamban hingga gerakannya bak batang pohon yang dipikul saking beratnya, kurang semangat dalam bergerak, bak orang mati, cara demikian ini tercela. Begitu pula dengan cara berjalan yang terlalu cepat, tak beraturan tanpa perhitungan, juga merupakan cara berjalan yang buruk, menunjukkan orang tersebut kurang akalnya. Apalagi bila sembari dengan sering menengok ke kanan atau ke kiri. [1]

Cara berjalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, semestinya menjadi panutan kita. Akan tetapi ironisnya, ada sejumlah orang yang disebut sebagai ahli ibadah, ia memiliki cara berjalan kontradiktif dengan ketegapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ahli ibadah ini mempertontonkan gerak yang lemah-lunglai, lesu, tanpa tenaga, menampakkan rasa malas-malasan dalam berjalan maupun berbicara. Supaya orang lain menilainya sebagai orang yang suka beribadah pada malam hari, sering berpuasa pada siang harinya, dan ahli wara`.

Imam as-Suyûthi rahimahullah mengomentari cara berjalan “ahli ibadah” yang seperti itu. Katanya: “Perlu diketahui, tuntuntan agama tidaklah seperti itu. Yang tepat ialah tata cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, dilanjutkan oleh generasi Salafush-Shalih. Sungguh, penghulu generasi terdahulu dan generasi belakangan (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), jika berjalan, mereka berjalan dengan tegap seolah-olah berjalan dari arah ketinggian.”[2]

Ada sebuah kisah menarik. Adalah asy-Syifâ` binti ‘Abdillah pernah menyaksikan sejumlah pemuda yang berjalan dengan lambat, maka ia pun melontarkan : “Siapakah mereka itu?” Orang-orang menjawab : “Mereka adalah para ahli ibadah,” maka beliau menimpali: “Dulu, demi Allah, Jika Umar berbicara, suaranya terdengar. Jika berjalan, ia cepat. Dan jika memukul, membuat orang kesakitan. Dan beliau itulah (contoh) ahli ibadah sebenarnya”.
Ternyata, gaya berjalan pun telah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna. Yang mungkin sebagian orang menganggapnya perkara ringan dan sepele. Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]


Footnote
[1]. Lihat Ibnul Qayyim dalam Zâdul-Ma’âd, 1/167.
[2]. al-Amru bi lit-Tiba’a, hlm. 193.
Referensi : https://almanhaj.or.id/3792-berjalan-ala-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Karakter Yang Buruk

Sufyan bin ‘Uyainah rohimahullah berkata,

“Diantara manusia ada orang yang apabila mendengar darimu 50 faedah, ia tidak ingat satu pun darinya. Namun, jika engkau melakukan satu kesalahan, ia akan mengingatnya dan menyebutkannya di majelis majelis..”

(Al ‘Uzlah – Al Khathabi)

Demikianlah karakter kaum yang buruk..
Hanya mengingat kesalahan walaupun sedikit dan membesar besarkannya..
Dan mengubur banyak kebaikan dan melupakannya..

Bagaikan wanita yang suaminya banyak berbuat baik kepadanya..
Namun hanya karena melihat sebuah kesalahan ia berkata, “Aku tak pernah melihatmu berbuat baik..”

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75242

Iman Tanda Cinta Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Sesungguhnya nikmat yang besar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah nikmat hidayah yang Allah berikan kepadanya. Karena sesungguhnya nikmat hidayah itulah yang akan kita bawa sampai ke kuburan. Sesungguhnya nikmat hidayah itulah yang akan bermanfaat nanti di hari akhirat kelak. Adapun nikmat materi, nikmat harta, itu tidak akan kita bawa kepada kuburan ataupun dalam kehidupan akhirat kelak. Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Allah memberikan dunia kepada mukmin dan kepada kafir. Dan Allah tidak memberikan keimanan kecuali kepada orang-orang yang beriman saja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan orang-orang yang beriman dengan hidayah dan menginginkan untuk orang-orang yang beriman yang terbaik untuk mereka. Allah tidak ingin menjadikan surganya orang yang beriman di dunia, karena kenikmatan dunia tidaklah kekal. Allah ingin jadikan surganya orang-orang yang beriman itu nanti di akhirat kelak. Di sana mereka akan hidup kekal abadi, tak akan ada lagi kesakitan, tidak akan ada kesedihan, tidak pula akan ada kesusahan. Di sana hanya ada kesenangan dan terus kesenangan, tidak akan ada lagi kematian.

Berbeda dengan orang-orang kafir. Allah jadikan surga mereka di dunia ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia itu adalah penjara untuk orang yang beriman dan surga bagi orang-orang yang kafir.” (HR. Muslim)

Seorang mukmin dipenjara oleh Allah dengan perintah dan larangan-laranganNya. Banyak sekali larangan-larangan yang Allah larang kepada kita. Allah melarang kita makan riba, Allah larang kita berzina, Allah larang kita dengan banyak sekali larangan-larangan. Orang yang kurang beriman akan berkata: “Mengapa agama ini banyak larangannya?” Tapi orang yang beriman berkata: “Sami’na wa Atha’na” Sesungguhnya itu semua adalah sudah perintah Allah, kami menginginkan yang terbaik dari itu semua, yaitu surga Allah Jalla wa ‘Ala.

Maka orang-orang kafir, mereka tidak mau diatur oleh Allah, mereka lebi senang diatur oleh hawa nafsunya, mereka mengikuti hawa nafsu dan syahwatnya. Oleh karena itu dunia menjadi kesenangan dan surga bagi mereka. Mereka hidup di dunia sebebas-bebasnya bagaikan binatang ternak, mereka hidup di dunia bersenang-senang, berfoya-foya, kemudian mereka berbuat maksiat kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan terkadang Allah berikan kepada mereka kenikmatan agar bertambahlah dosa-dosa mereka sehingga semakin beratlah siksa mereka dalam kehidupan akhirat. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila kamu melihat Allah terus-menerus memberikan kepada seorang hamba apa yang dia mau dari kehidupan duni sementara ia terus-menerus berbuat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ia adalah istidraj (Diulur oleh Allah agar tambah sesat, agar tambah keras siksanya pada hari kiamat).” (HR. Ahmad)

Orang yang beriman, terkadang Allah jadikan dia susah dalam kehidupan dunia ini. Untuk apa? Yaitu agar ia tidak tertipu dengan kehidupan dunia, supaya ia terhindar dari fitnah dunia, supaya ia terhindar dari berbagai macam hal-hal yang bisa merusak keimanannya. Allah berikan kepada dia berbagai macam ujian agar ia selamat di dunia dan agar terpelihara keimanannya. Sehingga kemudian dengan itulah dia pun Allah masukkan ke dalam surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi.

Orang yang beriman lebih memilih sabar di dunia daripada sabar dalam api neraka. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman, mereka tidak sabar untuk menaati Rabbnya, mereka tidak sabar dengan ujian-ujian yang Allah berikan di dunia. Sehingga akhirnya mereka lebih memilih sabar dalam api neraka. Sementara mereka sendiri tidak beriman akan adanya api neraka.

Maka saudaraku, bersyukurlah kepada Allah yang sudah memberikan kepada kita nikmat yang sangat besar ini.  Hidayatul Iman, itulah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang-orang yang Ia cintai, karena orang-orang yang dicintai itu adalah dikhususkan dan diistimewakan oleh Allah dengan keimanan.

Dizaman yang penuh dengan fitnah ini, fitnah syahwat, fitnah syubhat, ternyata kita masih diberikan oleh Allah kekuatan untuk menaati Allah, kekuatan untuk menjauhi maksiat-maksiat, kekuatan untuk terus menuntut ilmu Allah. Demi Allah, itu adalah merupakan kenikmatan yang besar yang Allah berikan kepada seorang hamba.

Maka saudaraku, ketika kita diberikan oleh Allah kemampuan terus demikian, bersyukurlah kepada Allah. Karena sesungguhnya ternyata kita termasuk orang-orang yang Allah berikan kebaikan. Kewajiban kita terus untuk mempertahankan hidayah ini sampai akhir hayat.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah kedua – Khutbah Jumat Singkat Tentang Iman Tanda Cinta Allah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Di masa pandemi ini, Allah ingin mengambil sedikit kenikmatan yang pernah Allah berikan dahulu. Dahulu kita banyak berbuat maksiat mungkin, dengan adanya pandemi Allah ingin menggugurkan dosa-dosa kita, juga dengan kita berusaha menghadapi kesulitan demi kesulitan yang kita hadapi.

Adapun orang-orang yang beriman, dia sadar bahwasanya dunia itu sesuatu yang fana, dia tidak akan hidup lama di dunia, ia akan menghadapi kehidupan akhirat nanti, ia pasti akan meninggal dunia. Maka ia tidak jadikan dunia di hatinya. Yang ia jadikan adalah akhirat di hatinya, saudaraku. Sedangkan para pecinta dunia itu menganggap bahwasanya kasih sayang Allah itu dengan kekayaan dan kenikmatan. Allah mengatakan tentang para pecinta dunia itu:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ﴿١٥﴾ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ﴿١٦﴾ كَلَّا…

“Adapun manusia, apabila Allah berikan kepada dia kenikmatan dan rezeki, Allah luaskan rezekinya, dia berkata: ‘Allah sayang kepadaku, Allah memuliakan diriku.’ Adapun ketika Allah sempitkan rezekinya, dia berkata: ‘Allah tidak sayang kepadaku, Allah menghinakan diriku.’ Allah mengatakan: ‘Sekali-kali tidak…’” (QS. Al-Fajr[89]: 17)

Bukan itu tanda kasih sayang Allah kepada seorang hamba. Kasih sayang Allah kepada hamba hakikatnya dijadikan dia istiqamah di atas hidayah, dijadikan ia sabar menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan, dijadikan ia mau tunduk dan patuh terhadap perintah, demikian pula menjauhi larangan.

Itulah, saudaraku.. Hakikat seorang hamba yang Allah inginkan kebaikan.

Maka saudaraku, inilah hidayah yang Allah masih memberikan kepada kita. Jangan sia-siakan! Ingat, Allah mampu untuk mencabut kembali hidayah itu dari kita bila kita tidak menjaganya dengan baik, bila kita sia-siakan hidayah itu, kemudian kita malah memilih jalan kebatilan setelah kita mengetahui kebenaran. Nas’alullah as salamah wal ‘afiah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

  اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات

اللهم تقبل أعمالنا يا رب العالمين، اللهم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم، اللهم اصلح ولاة أمورنا يا رب العالمين، واجعلنا من التوابين واجعلنا من المتطهرين

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

sumber: https://www.radiorodja.com/49151-khutbah-jumat-singkat-tentang-iman-tanda-cinta-allah/

UJIAN YANG MEMBUAT MANUSIA TIDAK SABAR

‘Abdurrohman bin ‘Auf rodhiyallahu ‘anhu berkata,

ابتُلِينَا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم بالضَّرَّاءِ فصَبَرْنا، ثم ابتُلِينا بعدَه بالسَّرَّاءِ فلم نَصْبِرْ

“Dahulu kami bersama Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam diuji dengan kesusahan tapi kami bersabar.. Kemudian setelah beliau wafat, kami diuji dengan kesenangan, ternyata kami tidak bersabar..” (Riwayat At-Tirmidzi)

Kesenangan membuat kita lalai..
Membuat kita ujub dan sombong dengan harta dan tahta..
Membuat kesabaran kita pendek karena terbiasa dengan kenikmatan..
Membuat ibadah menjadi berat karena terbiasa dengan syahwat..

Maka orang yang tak tertipu dengan kesenangan dunia..
Hatinya selalu berharap akherat dan takut akan siksa Neraka..
Sungguh luar biasa..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/59601