Amalan yang Menghilangkan Bencana

AMALAN YANG MENGHILANGKAN BENCANA

Perlu kita ketahui, bahwa musibah yang menimpa kita, sejatinya itu adalah karena dosa-dosa kita. Sungguh, telah banyak kita saksikan berbagai bencana dan musibah. Baik di daratan maupun di lautan. Badai dahsyat yang melanda, banjir yang menenggelamkan ; tanah longsor, meruginya niaga, tertahannya berkah Allâh, dan lain sebagainya, itu semua kita saksikan dan kita dengar. Namun banyak dari kita tidak mau mengambil pelajaran dan ibrah. Kita tidak mau mencari apa penyebab hakiki dari berbagai bencana tersebut. Bahkan ada di antara kita dan di tengah-tengah kita yang mengatakan, bahwa bencana tersebut tidak ada kaitannya dengan dosa. Itu semua bukan karena dosa dan maksiat ; akan tetapi itu adalah bencana alamiah. Bukankah ini sama saja dengan mendustakan firman Allâh Azza wa Jalla :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar-Rum/ 30:41]

Juga firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy-Syura/ 42:30]

Hal seperti ini, menandakan kerasnya hati. Justru ketika bencana menimpa, musibah melanda, kita harus banyak introspeksi dan kembali kepada Allâh.

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allâh) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. [Al-An’âm /6:43]

Mereka telah lupa, atau seolah-olah lupa tentang sunnatullah yang berlaku terhadap umat terdahulu. Bukankah umat terdahulu ditimpa bencana dan siksa tidak lain karena kemaksiatan mereka?. Karena kedurhakaan dan pembangkangan mereka?!. Namun banyak manusia yang tidak mau mengambil pelajaran dan iktibar terhadap kejadian-kejadian yang ada.

Kebanyakan manusia tetap saja bergelimang dalam suka ria mereka ; tanpa tersentuh hatinya untuk mau mengambil pelajaran. Mungkin mereka hanya akan mengatakan ; bahwa bencana yang terjadi tidak jauh beda dengan apa yang menimpa para pendahulu kita; ada kesenangan, ada penderitaan ;  dan itulah siklus alamiah yang pasti akan terjadi di setiap waktu.

Jangan sampai kita tidak peka dengan hal-hal tersebut. Jangan sampai kita lupa dan lalai ; sehingga kita tidak sadar bahwa itu adalah peringatan dari Allâh ; agar kita semua kembali kepada Allâh. Sebab bencana dan musibah dengan berbagai macamnya ; itu semua adalah karena dosa dan maksiat kita. Dengan musibah tersebut ; terkandung pesan bahwa adzab Allâh akan menimpa siapa yang bermaksiat kepada-Nya; dan tentunya siksa-Nya di akhirat lebih dahsyat dari sekedar musibah dunia.

Allâh Maha Penyayang kepada hamba-Nya ; meski mereka telah melanggar perintah-Nya. Karena itulah, Allâh memberi peringatan kepada hamba-Nya, agar mereka introspeksi diri dan mau bersimpuh kepada-Nya. Karena itulah, Allâh pun menjadikan hal-hal untuk menolak bala’ dan bisa menghilangkan musibah kala menimpa.

Di antara sebab-sebab yang bisa menolak musibah tersebut adalah:

1. Kembali Kepada Allâh Azza wa Jalla
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). [Al-A’raf/ 7: 168]

Maka menjadi keharusan atas setiap insan, untuk kembali menuju ketaatan Allâh dan Rasul-Nya. Jauhilah segala tindak maksiat; niscaya Allâh pun akan menolak bala dan bencana.

2. Mengenal Allâh Azza wa Jalla Di Waktu Lapang

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ !  اِحْفَظِ الله تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعرَّفْ إِلَى اللهِ في الرَّخَاءِ يَعْرِفكَ في الشِّدَّةِ

Jagalah Allâh, niscaya Dia akan menjagamu! Jangalah Allâh, niscaya akan engkau dapati Dia di hadapunmu. Kenalilah Allâh di waktu lapang, niscaya Dia mengenalmu di waktu sempit. [HR. Ath-Thabrani]

Karena itu sebagian salaf berkata: Barangsiapa yang mengenal Allâh di waktu lapang, maka Allâh pun akan mengenalnya di waktu sulit.

3. Tunduk Dengan Merendahkan Diri Saat Musibah Melanda

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. [Al-A’raf/7:94]

4. Berdoa Kepada Allâh Azza wa Jalla Agar Dihilangkan Kesulitan
Karena Allâh tidaklah menolak orang yang berdoa kepada-Nya. Bahkan Allâh mengancam adzab pedih bagi mereka yang sombong yang tidak mau berdoa kepada-Nya.

5. Bertawakkal Kepada Allâh Azza wa Jalla
Hakikat tawakkal adalah menyerahkan segala perkara kepada Allâh dengan tetap berikhtiar melakukan sebab-sebab yang disyariatkan. Kita yakin bahwa Allâh Maha kuasa atas segala sesuatu. Maka seorang Muslim haruslah selalu menautkan hatinya kepada Allâh dalam segala hal. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh, Allâh pun akan mencukupinya untuk perkara agamanya dan juga dunianya.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allâh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allâh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [Ath-Thalaq/65:3]

Di antara amalan yang dengannya Allah akan menghilangkan musibah dan bala’ adalah:

6. Takwa Kepada Allâh

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. [Ath-Thalaq/ 65: 2-3]

Ibnul Jauzi berkata: “Barangsiapa yang menghendaki selalu dalam keselamatan, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allâh.”

7. Melakukan Kebaikan Kepada Orang Lain
Berbuat kebaikan akan menjaga dari kebinasaan yang buruk ; sebagaimana sedekah dengan sembunyi-sembunyi akan memadamkan amarah Allâh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَنَائِعُ المَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ وَالصَّدَقَةُ خَفِيّاً تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ

Berbuat kebaikan akan menjaga dari kebinasaan yang buruk ; dan bersedekah secara sembunyi-sembunyi akan memadamkan murka Ar-Rabb. [HR. Ath-Thabrani]

8. Istighfar
Di antara amalan yang menolak bala dan musibah adalah istighfar. Istighfar adalah hal yang membuat Allâh Azza wa Jalla ridha ; dan menyelamatkan dari murka-Nya.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allâh sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allâh akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. [Al-Anfal/8:33]

Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan  untuknya jalan kelapangan dari segala duka; dan jalan keluar dari segala kesempitan. Dan Allâh akan memberinya rezeki dari arah yang tidak pernah ia sangka.

9. Taubat
Dan tidak lupa pula, kita harus bertaubat kepada Allâh; karena Allâh mencintai hamba-hamba-Nya yang suka bertaubat dan mensucikan diri.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah suatu bencana ditimpakan, melainkan disebabkan dosa ; dan tidaklah suatu bala’ dihilangkan, melainkan dengan bertaubat.”

Semoga kita semua diberi keselamatan, dan selalu mengambil ibrah dan pelajaran dari apapun yang terjadi. Sehingga kita selalu ingat dan kembali kepada-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

sumber: https://almanhaj.or.id/11299-amalan-yang-menghilangkan-bencana.html

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Dalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.

Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:

Pertama, memberi maaf

Memaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.

Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!

Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)

Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.

Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Kedua, mengajak kebaikan

Setelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:

“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”

Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.

Ketiga, mengabaikan kebodohan

Ada orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.

Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.

Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.

Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.

Teladan memaafkan dari generasi terbaik

Abdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,

ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس

“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.

Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”

Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)

Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.

Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).

sumber: https://muslim.or.id/116332-seni-memaafkan.html

Malaikat Mengaminkan yang Diucapkan di Dekat Orang yang Sakit

PARA MALAIKAT MENGAMINKAN SEGALA HAL YANG DIUCAPKAN DI DEKAT ORANG YANG SAKIT DAN ORANG YANG TELAH WAFAT

Oleh
Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi

Para Malaikat Mengaminkan Segala Hal yang Diucapkan di Dekat Orang yang Sakit dan Orang yang Telah Wafat

Di antara yang dido’akan oleh para Malaikat adalah apa-apa yang diucapkan di dekat orang sakit dan di dekat jenazah, dan di antara yang menjadi dalil bagi hal itu adalah sebuah hadits yang diriwayat-kan oleh para Imam, yaitu Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيْضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُوْلُوْا خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ.

‘Jika kalian menghadiri (menjenguk) orang yang sakit atau jenazah, maka ucapkanlah kebaikan, karena sesungguhnya para Malaikat mengamin-kan apa-apa yang kalian ucapkan.’”[1]

Al-Mulla ‘Ali al-Qari di dalam menjelaskan hadits (yaitu pada kalimat) “Yang sakit atau jenazah.” Maksudnya adalah jenazah secara hukum, maka makna lafazh “ أَوْ ” (atau) dalam hadits digunakan untuk redaksi yang menunjukkan keraguan[2], dan bisa juga maksudnya adalah jenazah yang sebenarnya, maka lafazh “ أَوْ ” (atau) di dalam hadits digunakan untuk redaksi yang menunjukkan macam.”[3]

Maksud dari: “Maka ucapkanlah kebaikan” yakni kepada orang sakit adalah: “Semoga Allah menyembuhkannya,” sedangkan untuk jenazah: “Semoga Allah mengampuninya,” atau dengan kalimat: “Semoga kalian mendapatkan kebaikan.”

“يُؤَمِّنُوْنَ ” maknanya adalah mengucapkan “aamiin.”

“Apa-apa yang kalian ucapkan,” yaitu terhadap do’a yang kalian ucapkan, baik atau buruknya do’a tersebut.[4]

Al-Imam an-Nawawi mengomentari hadits tersebut dengan ungkapan: “Di dalamnya ada sebuah anjuran untuk berdo’a dengan kebaikan pada waktu itu, yaitu dengan do’a dan permohonan ampun, memohon kasih sayang, keringanan dan semisalnya. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa para Malaikat hadir dan mengaminkan mereka.[5]

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man Tal‘anuhum, Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang Yang Di Do’akan Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Al-Musnad (VI/322 cet. Al-Maktab al-Islami), Shahiih Muslim kitab al-Janaa-iz bab Maa Yuqaalu ‘indal Mariidh wal Mayyit (II/633 no. 919 (6) dengan lafazhnya), Jaami’ at-Tirmidzi bab al-Janaa-iz bab Maa Jaa-a fii Talqiinil Mariidh ‘indal Maut wad Du’aa’ lahu (IV/46 no. 984), as-Sunan al-Kubraa karya al-Baihaqi kitab al-Janaa-iz bab ar-Raghbah fii an Yata’azza bi Maa Amarallaahu bimaa Ta’ala (IV/107 no. 7124).
[2] Untuk menunjukkan keraguan, karena yang dimaksud de-ngan jenazah di sini adalah orang sakit juga. Maka, salah satu di antara perawi merasa ragu antara menggunakan lafazh orang sakit atau jenazah.
[3] Untuk menyatakan macam, maksudnya bahwa yang dimaksud dari perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan kebaikan adalah bagi orang yang menjenguk orang sakit atau jenazah.
[4] Mirqaatul Mafaatiih (IV/84) dengan diringkas dan sedikit perubahan.
[5] Syarh an-Nawawi (VI/222).

sumber: https://almanhaj.or.id/4203-malaikat-mengaminkan-yang-diucapkan-di-dekat-orang-yang-sakit.html

Adab Menjawab Salam

Allah سبحانه وتعالى berfirman :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا


“Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa’: 86)

Maka balaslah salam saudaramu dgn yg lebih baik atau minimal serupa.

Jika saudaramu memberi salam “Assalaamu’alaikum” maka jawaban yg serupa adalah
“Wa’alaikum Assalaam” atau jika disambung “Wa’alaikumussalam”.

Jika jawabannya “Wa’alaikum salam” maka itu belum serupa karena “Assalaam” lebih tinggi daripada “Salam”.

(Faedah dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc حفظه الله)

Sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/753

Suka Berdusta

Al Hasan bin Sahl rohimahullah berkata,

الكذاب لِصّ
‏لأن اللص يسرقُ مالك
‏والكذاب يسرقُ عقلك
‏ولا تأمن مَنْ كذب لك
‏أنْ يَكذِب عليك
‏ومن اغتاب غيرَك عندك
‏فلا تأمَنْ أن يغتابَك عند غيرك

“Tukang dusta itu pencuri.
Pencuri mencuri hartamu, sedangkan tukang dusta mencuri akalmu..

Jangan merasa aman dari orang yang berdusta untuk keuntunganmu, karena ia bisa berdusta untuk merugikanmu..

Dan orang yang meng-ghibahi orang lain di sisimu, jangan merasa aman dari (dia) meng-ghibahi dirimu di hadapan orang lain..”

(Zahrul Adab 1/386)

Tinggalkanlah orang yang suka berdusta..
Jangan jadikan ia sebagai sehabatmu..
Karena ia adalah seburuk buruk teman yang menemanimu..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/category/bbg-kajian/abu-yahya-badru-salam/page/17

Jangan Suka Memprovokasi Sesama Muslim

Di antara perbuatan tercela yang merusak persaudaraan, merusak persatuan, mengganggu stabilitas dan merupakan perbuatan setan, adalah tahrisy atau provokasi sesama Muslim.

Definisi tahrisy

Al Baghawi mengatakan:

التحريش : إيقاع الخصومة والخشونة بينهم

“Tahrisy adalah memicu adanya saling bertengkar dan saling berbuat kasar antara sesama Muslim” (Syarhus Sunnah, 13/104).

Ibnu Atsir mengatakan:

التحريش : الإغراء بين الناس بعضهم ببعض

“Tahrisy adalah memancing pertengkaran antara orang-orang satu sama lain” (Jami’ Al Ushul, 2/754).

Tahrisy adalah perbuatan setan

Provokasi antara sesama Muslim atau tahrisy adalah perbuatan setan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قد أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ في جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ في التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812).

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ على الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ منه مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فيقول: ما صَنَعْتَ شيئا، قال ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: ما تَرَكْتُهُ حتى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قال: فَيُدْنِيهِ منه، وَيَقُولُ: نِعْمَ أنت فَيلتَزمُهُ

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengutus para tentaranya. Tentara iblis yang paling bawah adalah yang paling besar fitnah (kerusakan) nya. Salah satu tentara iblis berkata: saya telah melakukan ini dan itu. Maka iblis mengatakan: kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian tentara iblis yang lain datang dan berkata: Aku tidak meninggalkan seseorang kecuali setelah ia berpisah dengan istrinya. Maka tentara iblis ini pun didekatkan kepada iblis. Lalu iblis berkata: kamulah yang terbaik, teruslah lakukan itu” (HR. Muslim no. 2813).

Dalam hadits ini juga setan melakukan tahrisy sehingga suami dan istri saling berpisah.

Tahrisy termasuk namimah

Al Imam Ibnu Katsir mengatakan:

النميمة على قسمين: تارة تكون على وجه التحريش بين الناس وتفريق قلوب المؤمنين فهذا حرام متفق عليه

“Namimah ada dua macam: terkadang berupa tahrisy (provokasi) antara orang-orang dan mencerai-beraikan hati kaum Mu’minin. Maka ini hukumnya haram secara sepakat ulama” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/371, Asy Syamilah).

Apa itu namimah? Adz Dzahabi mengatakan:

والنمام هو الذي ينقل الحديث بين الناس وبين اثنين بما يؤذي أحدهما أو يوحش قلبه على صاحبه أو صديقه بأن يقول له قال عنك فلان كذا وكذا

“Nammam (pelaku namimah) adalah orang yang menukil perkataan dari satu orang ke orang lain atau antara dua orang untuk menimbulkan gangguan pada salah satunya, atau memprovokasi salah satu dari mereka terhadap yang lain atau terhadap temannya. Yaitu dengan mengatakan: ‘si Fulan mengatakan tentang kamu demikian dan demikian’” (Al Kabair, 217).

Contohnya, si A berkomunikasi dengan B via whatsapp, lalu B menyebutkan sesuatu yang kurang bagus tentang C. A lalu screenshot chat dari B tersebut kemudian di kirim kepada C, ini namimah!! Allahul musta’an.

Dan namimah ini merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُطِع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,yang banyak mencela, yang kian ke mari menebar namimah” (QS. Al Qalam: 10-11).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk surga pelaku namimah” (HR. Muslim no. 105).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mendengar rintihan orang yang disiksa dalam kuburnya, beliau bersabda:

فقال يعذبان وما يعذبان في كبير وإنه لكبير كان أحدهما لا يستتر من البول وكان الآخر يمشي بالنميمة

“Dua orang ini sedang diadzab dalam kubur. Dan mereka tidak diadzab karena sesuatu yang mereka anggap besar, namun besar (di sisi Allah). Yang pertama di adzab karena tidak menutupi auratnya ketika buang air kecil, yang kedua diadzab karena melakukan namimah” (HR. Bukhari no. 216, Muslim no. 292).

Beliau juga bersabda:

إنَّ شرارَ عبادِ اللهِ من هذه الأُمَّةِ المشَّاؤونَ بالنميمةِ ، المُفرِّقون بين الأحبَّةِ الباغونَ للبُرآءِ العنتَ

“Seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang suka melakukan namima. Ia memisahkan orang-orang yang saling mencintai, pengkhianat terhadap orang-orang yang baik” (HR. Ahmad, dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 2849).

Ahlul hikmah mengatakan:

النَّمَّامُ شُؤْمٌ لَا تَنْزِلُ الرَّحمة على قوم هو فيهم

“Tukang namimah (adu domba) adalah racun yang membuat suatu kaum tidak mendapat rahmat Allah selama masih ada mereka”.

Maka hendaknya jauhkan diri kita dari tahrisy dan juga namimah, karena ini perbuatan yang sangat busuk dan tercela.

Dekatkan bukan jauhkan

Maka ketika dua pihak dari kaum Muslimin sedang bertikai, maka wajib mengusahakan perdamaian antara keduanya bukan malah memprovokasi. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Dan damaikanlah orang yang berselisih di antara kalian” (QS. Al Anfal: 1).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ألا أُخبِرُكم بأفضلَ من درجةِ الصيامِ والصلاةِ والصدقةِ ؟ قالوا : بلى . قال : صلاحُ ذاتِ البَيْنِ ، فإنَّ فسادَ ذاتِ البَيْنِ هي الحالقةُ

“Maukah kalian aku kabarkan amalan yang menyamai derajat puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab: tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: mendamaikan orang-orang yang berseteru. Karena orang semakin merusak keadaan orang-orang yang berseteru, dialah pembuat kebinasaan” (HR. At Tirmidzi no. 2509, ia berkata: “shahih”).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

وظيفة المسلم مع إخوانه، أن يكون هيِّنًا ليِّنًا بالقول وبالفعل؛ لأنَّ هذا مما يُوجب المودَّة والأُلْفَة بين الناس، وهذه الأُلْفَة والمودَّة أمرٌ مطلوبٌ للشَّرع، ولهذا نهى النَّبيُّ عليه الصلاة والسلام عن كل ما يُوجب العداوة والبغضاء

“Tugas setiap muslim terhadap saudaranya adalah hendaknya ia berlapang-lapang dan berlemah lembut dalam perkataan dan perbuatan. Karena inilah yang menimbulkan kecintaan dan keterikatan hati di antara manusia. Dan kecintaan serta keterikatan hati ini adalah perkara yang dituntut dalam syariat. Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang semua hal yang bisa menimbulkan permusuhan dan saling membenci” (Syarah Riyadis Shalihin, 2/544).

Maka ketika ada saudara seiman yang berselisih, damaikan bukan provokasi, dekatkan bukan jauhkan. Semoga Allah memberi taufik.

***

Diringkas dari forum ahlalhdeeth.com tulisan Abu Abdillah Hamzah An Naili dengan beberapa tambahan

Penyusun: Yulian Purnama
Sumber: https://muslim.or.id/35351-jangan-suka-memprovokasi-sesama-muslim.html

Berburuk Sangka Kepada Allah Ta’ala

Imam Asy Syafi’i rohimahullah ditanya,

“Bagaimana bentuk buruk sangka kepada Allah..?” Beliau berkata, “Yaitu waswas selalu khawatir ditimpa musibah dan takut nikmatnya hilang .. semua itu bentuk su’uzhon kepada Ar Rohmaan Ar Rohiim..”

​Takut akan masa depan bukanlah sifat orang yang bertawakal kepada Allah..

Kewajiban hamba adalah menyerahkan urusannya kepada Allah..

Dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia nyiakan hamba-Nya yang bertaqwa..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75230