Penulis: Abu Uwais
Membela Diri dari Tukang Begal Hingga Syahid
Ternyata orang yang membela diri dari tukang bekal atau perampok, lantas ia mati, maka ia bisa dicatat syahid. Adapun jika ia membela diri dan ia berhasil membunuh tukang begal tersebut, tukang begal itulah yang masuk neraka. Karena orang yang masih hidup itu cuma membela diri, sedangkan yang mati punya niatan untuk membunuh.
Di antaranya ada tiga hadits tentang masalah ini yang membahas bolehnya membela diri ketika berhadapan dengan tukang rampas, tukang rampok atau tukang begal yang ingin merampas harta kita.
Hadits Pertama
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”
Beliau bersabda, “Jangan kau beri padanya.”
Ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”
Beliau bersabda, “Bunuhlah dia.”
“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.
“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.
“Ia yang di neraka”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 140).
Hadits Kedua
عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَسَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ يُحَدِّثُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَأْتِينِي فَيُرِيدُ الِي قَالَ ذَكِّرْهُ بِاللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَذَّكَّرْ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَكَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَوْلِي أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِالسُّلْطَانِ قَالَ فَإِنْ نَأَى السُّلْطَانُ عَنِّي قَالَ قَاتِلْ دُونَ مَالِكَ حَتَّى تَكُونَ مِنْ شُهَدَاءِ الْآخِرَةِ أَوْ تَمْنَعَ مَالَكَ
Dari Qabus bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ayahnya, ia berkata bahwa ia mendengar Sufyan Ats Tsauri mengatakan hadits berikut ini,
Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ada seseorang datang kepadaku dan ingin merampas hartaku.”
Beliau bersabda, “Nasehatilah dia supaya mengingat Allah.”
Orang itu berkata, “Bagaimana kalau ia tak ingat?”
Beliau bersabda, “Mintalah bantuan kepada orang-orang muslim di sekitarmu.”
Orang itu menjawab, “Bagaimana kalau tak ada orang muslim di sekitarku yang bisa menolong?”
Beliau bersabda, “Mintalah bantuan penguasa (aparat berwajib).”
Orang itu berkata, “Kalau aparat berwajib tersebut jauh dariku?”
Beliau bersabda, “Bertarunglah demi hartamu sampai kau tercatat syahid di akhirat atau berhasil mempertahankan hartamu.” (HR. An Nasa’i no. 4086 dan Ahmad 5: 294. Hadits ini shahih menurut Al Hafizh Abu Thohir)
Hadits Ketiga
عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ »
Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud no. 4772 dan An Nasa’i no. 4099. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Maksud Syahid dan Macamnya
Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari,
لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى وَمَلَائِكَته عَلَيْهِمْ السَّلَام يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْجَنَّةِ . فَمَعْنَى شَهِيد مَشْهُود لَهُ
“Karena Allah Ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 142).
Imam Nawawi menjelaskan bahwa syahid itu ada tiga macam:
- Syahid yang mati ketika berperang melawan kafir harbi (yang berhak untuk diperangi). Orang ini dihukumi syahid di dunia dan mendapat pahala di akhirat. Syahid seperti ini tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.
- Syahid dalam hal pahala namun tidak disikapi dengan hukum syahid di dunia. Contoh syahid jenis ini adalah mati karena melahirkan, mati karena wabah penyakit, mati karena reruntuhan, dan mati karena membela hartanya dari rampasan, begitu pula penyebutan syahid lainnya yang disebutkan dalam hadits shahih. Mereka tetap dimandikan, dishalatkan, namun di akhirat mendapatkan pahala syahid. Namun pahalanya tidak harus seperti syahid jenis pertama.
- Orang yang khianat dalam harta ghanimah (harta rampasan perang), dalam dalil pun menafikan syahid pada dirinya ketika berperang melawan orang kafir. Namun hukumnya di dunia tetap dihukumi sebagai syahid, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Sedangkan di akhirat, ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 2: 142-143).
Kesimpulan
Boleh membela diri ketika berhadapan dengan tukang begal atau tukang rampok saat tidak ada di sekitar kita yang menolong dan tidak ada aparat juga yang bisa menyelamatkan. Membela diri dari tukang begal atau tukang rampok saat itu hingga mati dicatat sebagai syahid di akhirat. Sedangkan untuk hukum di dunia, ia tetap dimandikan dan dishalatkan.
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1433 H.
—
Selesai disusun menjelang Zhuhur, 13 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul
Yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/10453-membela-diri-dari-tukang-begal-hingga-syahid.html
Dahsyatnya Sedekah
Diantara keutamaan sedekah sunnah adalah penyebab selamatnya seorang muslim dari panasnya hari kiamat dan penyebab mendapatkan naungan dari Allah pada hari kiamat.
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
(( كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفصل بَيْنَ النَّاسِ ))
“Setiap manusia akan berada di bawah naungan sedekahnya sampai perkara-perkara manusia diputuskan (pada hari kiamat kelak)..“
(HR. Ibnu Hibban: 3310, Dishohihkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shohih Targhib wa tarhib: 1/523)
⚉ Makna dari “dibawah naungan sedekah” adalah orang bersedekah dijaga (dilindungi) oleh Allah karena sedekahnya, bisa jadi maknanya naungan secara hakikiy, yakni sedekahnya dijadikan seperti naungan diatas kepalanya, Allah Maha mampu untuk menjadikan sesuatu yang sifatnya maknawiy menjadi suatu yang inderawiy.
⚉ Ada hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam yang menjelaskan pada kita bahwa surat Al-Baqarah dan Ali Imran akan datang pada hari kiamat menjadi dua awan, atau dua kelompok burung yang membela orang yang membaca dua surat tersebut, sebagaimana dalam hadits Muslim no. 804.
⚉ Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin Rohimahullah berkata :
“Seseorang telah bercerita kepadaku ketika aku masih kecil, dulu ia seorang yang bakhil, ia tidak mengizinkan istrinya untuk bersedekah dari hartanya..
(pada suatu saat) ia tidur dan bermimpi seakan-akan berada di hari kiamat, matahari dekat dengan manusia, dan manusia banyak, mereka berada dalam kesusahan, kemudian datanglah kepadanya seperti sebuah kain yang menaunginya.. tetapi ada 3 celah (lobang) yang cahaya matahari masuk menerobos lewat tiga lobang itu, iapun melihat sesuatu yang menyerupai kurma kemudian menutupi lobang-lobang tersebut, iapun terbangun dari mimpinya, kemudian ia ceritakan mimpinya tersebut kepada istrinya, ia menuturkan: “aku melihat begini dan begitu..”
Istrinya berkata: “iya, apa yang engkau lihat itu benar adanya.. telah datang seorang yang fakir kepadaku, akupun memberinya pakaian sebagai sedekah, dan setelah itu datang lagi seorang fakir kemudian akupun memberinya 3 buah butir kurma..” Subhanallah, pakaian (yang disedekahkan) adalah kain itu, dan kurma-kurma itu datang menutupi lobang-lobang yang ada pada pakaian tersebut..”
[ Fathu Dzil Jalali wal Ikram bisyarhil Bulughil Maram: 6/219-221 ]
Semoga kita bisa berbagi dengan sesama apalagi disaat-saat seperti ini…
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى
HITUNG DIRIMU!! #shorts
Hati Yang Ridho Dengan Takdir
Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,
“Seorang insan apabila ridho dengan takdir maka ia akan beristirahat dari kesedihan..”
(Syarah Al Arba’in Annawawiyah)
Tidak ridho kepada takdir hanya akan menimbulkan kesedihan..
Hatipun menjadi galau..
Lalu berburuk sangka kepada Allah..
Dan menjauh dari-Nya..
Berbeda saat hati ridho dengan takdir..
Maka ia akan merasa tentram dan tenang..
Ia yakin bahwa itu semua kebaikan untuk dirinya..
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
[Kitabut Tauhid 10] 39 Mencintai Allah 27
Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Banyak beredar di tangah-tengah Kaum Muslimin hadits-hadits dha’iif tentang Shalawat Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Yang meskipun tujuannya untuk memotivasi Kaum Muslimin agar banyak bershalawat, tetap saja tidak bisa dibenarkan, karena tidak boleh sengaja berdusta atas nama Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kemudian menjadikan kedustaan tersebut sebagai dasar atau sandaran dalam beragama.
- Yang shahih dari Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah bahwa siapa saja yang mengucapkan shalawat kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- satu kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 10 kali; dan siapa saja yang bershalawat 10 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 100 kali.
- Keutamaan-keutamaan berikut ini yang dikaitkan dengan shalawat Nabi tidak benar penyandarannya kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- :
- Siapa saja yang bershalawat 100 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan bershalawat kepadanya 1000 kali.
- Siapa saja yang bershalawat 1000 kali, maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka, dan akan meneguhkan ucapannya dengan ucapan yang kokoh Ketika ada masalah pada kehidupan dunia dan pada kehidupan akhirat nantinya, dan Allâh -‘Azza wa Jalla- akan memasukkannya ke dalam surga, dan shalawatnya akan datang kepadanya berupa cahaya pada Hari Kiamat pada saat berada di atas Shirath yang ditempuh selama 500 tahun perjalanan, dan Allâh -‘Azza wa Jalla- telah memberikan kepadanya bagi setiap shalawat yang diucapkannya sebuah istana di dalam surga, baik dengan jumlah sedikit ataupun banyak.
- Siapa saja yang bershalawat 100 kali maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan menuliskan di antara kedua matanya : terbebas dari kemunafikan, terbebas dari neraka; dan Allâh -‘Azza wa Jalla- akan menempatkannya pada Hari Kiamat bersama para syuhada.
- Siapa saja yang bershalawat 1000 kali maka pundaknya akan berdampingan dengan pundak Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dalam pintu surga.
- Dan hadits-hadits yang shahiih tentang shalawat Nabi mencukupi bagi Kaum Muslimin, yang dengannya mereka tidak butuh kepada hadits-hadits dha’iif, maudhuu’ dan laa ashla lahu.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“
Jadikan Istirahatmu Bernilai di Sisi Allah
Istirahat atau tidur adalah salah satu aktivitas harian yang diharapkan bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Melanjutkan edisi sebelumnya, bahasan kali ini akan menginjak permasalahan doa dan adab tidur lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan bimbingan agar berdoa di dalam tidur kita. Tentunya dengan harapan agar istirahat kita bisa berbarakah dan bernilai ibadah di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ
“Barang siapa duduk di sebuah tempat dan tidak berzikir kepada Allah, dia akan diberikan kekurangan oleh Allah. Dan barang siapa mengambil tempat tidurnya dan tidak berzikir kepada Allah, dia akan mendapatkan dari-Nya kekurangan.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 4805, 5059, dan an-Nasa`i dalam kitab ‘Amal al-Yaum wal Lailah no. 404; dan dinilai hasan asy-Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahihah no. 78 dan Shahih Sunan Abu Dawud no. 4065)
Dalam pembahasan sebelumnya, telah kita simak beberapa doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diamalkan. Kita yakin, setiap bimbingan ada keutamaannya sendiri; dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
النَّوْمُ عِنْدَ الذِّكْرِ مِنَ الشَّيْطَانِ، إِنْ شِئْتُمْ فَجَرِّبُوا، إِذَا أَخَذَ أَحَدُكُمْ مَضْجَعَهُ وَأَرَادَ أَنْ يَنَامَ فَلْيَذْكُرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidur ketika berzikir adalah dari setan dan jika kalian ingin (mengetahuinya), cobalah. Apabila seseorang dari kalian menuju pembaringannya dan ingin tidur, hendaklah dia berzikir kepada Allah.”[1]
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Barang siapa mempelajari sifat tidur dan bangun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia akan mendapati bahwa tidur beliau adalah tidur yang paling nyaman dan paling bermanfaat untuk badan dan semua anggotanya, serta paling memberikan kekuatan.
Beliau tidur pada awal malam dan bangun pada akhir pertengahan kedua dari malam. Beliau bangun dan menggosok gigi dengan siwak lalu berwudhu. Beliau kemudian mendirikan shalat yang telah diwajibkan oleh Allah atas beliau. Dengan demikian, badan berikut semua anggotanya, dan tenaga, mengambil manfaat dari tidur dan istirahatnya itu. (Badan) juga (melakukan) olahraga, bersamaan dengan limpahan pahala. Tentu ini merupakan puncak kebagusan hati dan badan, dunia dan akhirat.
Beliau tidak tidur melebihi kebutuhan dan tidak meninggalkannya melebihi yang dibutuhkan badan. Beliau melaksanakannya dengan cara yang sempurna. Beliau tidur di atas lambung sebelah kanan dalam keadaan berzikir kepada Allah hingga mata beliau terpejam.” (Lihat Zadul Ma’ad, 2/142)
Doa-doa ketika Hendak Tidur
Di antara doa-doa yang beliau baca adalah:
- Membaca Ayat Kursi
Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sunnah taqririyah beliau ketika setan mengajari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang tameng dari sebuah kejahatan, dia berkata,
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ.
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ
“Apabila kamu menuju ranjang pembaringanmu, bacalah ayat kursi; niscaya kamu terus bersama penolong dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu sampai datang waktu pagi.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dia benar meski dia adalah seorang pendusta. Dia adalah setan.” (HR. al-Bukhari)
- Membaca Dua Surat, yaitu Alif Lam Mim As-Sajadah dan Al-Mulk
Hal ini dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ {آلم تَنْزِيلٌ} (السجدة) وَ {تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ}
“Rasulullah tidak tidur hingga beliau membaca (surah) Alif Laam Mim Tanzil (as-Sajdah) dan Tabaarakalladzi bi Yadihi al-Mulk (al-Mulk).”[2]
- Membaca Doa-doa di bawah ini:
- Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
“Apabila hendak tidur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan kanannya di atas pipi beliau, dan berkata,
اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
“Ya Allah, lindungilah aku dari azabmu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan [no. 5045], at-Tirmidzi dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu [no. 3638] dan al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu [no. 3639], dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad [no. 1215])
- Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak ke tempat pembaringan, beliau berdoa,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِئَ لَهُ وَلاَ مُؤوِيَ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, yang telah mencukupi dan melindungi kami. Betapa banyak orang yang tidak memiliki (pihak) yang akan mencukupi dan melindunginya.” (HR. Muslim dalam Shahih–nya [no. 2715], at-Tirmidzi [no. 3636], dan Abu Dawud [no. 5053])
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila salah seorang dari kalian menuju pembaringannya, hendaklah dia mengambil ujung sarungnya lalu mengibaskannya ke tempat tidurnya. Hendaklah dia menyebut nama Allah karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Apabila dia akan berbaring, berbaringlah di atas lambung sebelah kanan dan ucapkanlah,
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّ بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
“Mahasuci Engkau ya Allah, wahai Rabbku. Karena-Mu aku meletakkan lambungku dan karena-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku, ampunilah ia. Jika Engkau melepaskannya kembali, peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim no. 2714)
- Dari Suhail, dari Abu Shalih, ia mengatakan, “Kami meriwayatkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.” Suhail mengatakan, “Abu Shalih memerintahkan kami, apabila salah seorang dari kami akan tidur, hendaklah dia tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian berkata,
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
“Wahai Rabb kami, pemilik langit dan bumi serta pemilik ‘Arsy yang agung. Wahai Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Furqan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkaulah pemegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah yang Awwal dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, Engkau yang akhir dan tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau yang Zhahir tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau yang Batin dan tidak ada sesuatu yang di bawah-Mu. Tunaikanlah utang kami dan cukupilah kami dari kefakiran.” (HR. Muslim)
Masih banyak wirid lain yang dibaca oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak akan cukup dijabarkan dalam pembahasan singkat ini.
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Lebih utama bagi seseorang untuk membaca seluruh doa yang disebutkan dalam bab ini. Akan tetapi, apabila tidak memungkinkan, hendaknya dia membaca doa yang terpenting yang dia mampu.” (al-Adzkar hlm. 80, -ed.)
Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh, silakan lihat dalam kitab al-Adzkar karya an-Nawawi beserta tahqiq-nya.
Bila Terjaga di Malam Hari
Apakah ada tuntunan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila seseorang terjaga di malam hari?
Tentu ada. Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud (no. 5060) dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa terjaga lalu berdoa ketika bangun,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ ثُمَّ دَعَا: رَبِّ اغْفِرْ لِي؛ غُفِرَ لَهُ-قَالَ الْوَلِيدُ: أَوْ قَالَ: دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ-فَإِنْ قَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ
“Tidak ada sembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Mahasuci Allah, segala pujian milik Allah, dan tidak ada sembahan yang benar selain Allah. Allah Mahabesar, dan tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah” lalu dia berdoa, “Wahai Rabbku, ampunilah aku,” niscaya akan diampuni—Walid berkata, Atau beliau mengatakan, “Apabila dia berdoa, niscaya akan dikabulkan.” Apabila dia bangun kemudian berwudhu lalu mengerjakan shalat, akan diterima shalatnya.”
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3478) dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Sunan Ibnu Majah. Bahkan, hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu (-ed.).
Doa Bangun dari Tidur
Apabila bangun tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.” (HR. al-Bukhari no.6314 dan Muslim no. 2711 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Bersiwak Saat Bangun Tidur
Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu menceritakan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bangun tidur,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari, beliau menggosok mulut dengan siwak.” (HR. al-Bukhari no. 889, 1136 dan Muslim no. 255)
Cara Tidur yang Dilarang
Ya’isy bin Thakhfah al-Ghifari berkata, “Bapakku menceritakan kepadaku, ‘Ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada orang yang menggerakkan kakiku dan berkata,
إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللهُ
“Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai oleh Allah.”
(Bapakku berkata), “Setelah aku lihat, ternyata beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan beliau [no. 5040], Ibnu Majah [no. 3723], at-Tirmidzi [no. 2768], Ibnu Hibban [no. 5549], Ahmad [3/429, 430], dan al-Hakim, 4/271. Hadits ini dinilai sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah [no. 3000] dan al-Misykat [no. 4718])
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah [no. 3724] dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, , diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi [no. 2230] dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Bila Bermimpi
Dalam kitab-kitab yang menghimpun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ahlul hadits membawakan permasalahan mimpi dan takwilnya. Hal ini menunjukkan bahwa ta’bir/takwil mimpi sangat penting untuk diilmui. Kita tidak hendak menjelaskannya secara detail di sini, tetapi hanya menerangkan tentang adab bila bermimpi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya dalam banyak sabda beliau dan telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, antara lain Abu Hurairah, ‘Ubadah bin ash-Shamit, Anas bin Malik, Abu Qatadah, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Umar, dan selain mereka. Di antaranya adalah hadits berikut yang artinya,
إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
“Apabila zaman telah berdekatan, hampir-hampir (mimpi) orang beriman tidak pernah meleset. Mimpi orang yang beriman merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
- Macam Mimpi
Disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mimpi ada tiga macam:
- Mimpi yang baik; ini merupakan kabar yang baik dari Allah.
- Mimpi yang buruk; ini dari setan.
- Mimpi tentang apa yang terbetik dalam diri.
Ketiga jenis mimpi ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim [no. 2263] dan selain beliau dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
- Adab Bila Bermimpi
Ini termasuk kesempurnaan Islam. Tidak ada sesuatu pun dalam Islam yang lepas dari bimbingan syariat. Maka dari itu, berbahagialah orang yang menerima bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
- Adab Bila Bermimpi yang Baik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan adab apabila seseorang bermimpi yang baik. Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّهَا مِنَِ اللهِ فَلْيَحْمَدِ اللهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا
“Apabila seseorang bermimpi yang disukainya, sesungguhnya itu datang dari Allah. Hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain.” (HR. al-Bukhari no. 6985 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Dalam hadits di atas ada dua adab yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat seseorang bermimpi baik, yaitu memuji Allah dengan mengatakan, “Alhamdulillah,” dan menceritakannya kepada orang lain.
- Adab Bila Bermimpi yang Buruk
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam lanjutan hadits di atas,
وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ الشَّيْطَانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلاَ يَذْكُرْهَا لأَحَدٍ فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ
“Apabila dia bermimpi yang selain itu (yakni yang tidak disukai), itu dari setan. Hendaklah dia berlindung dari (kejahatan) setan dan jangan menceritakannya kepada orang lain karena hal itu tidak akan membahayakannya.”
Di dalam hadits ini ada dua adab yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu berlindung kepada Allah dari kejahatan setan dan tidak menceritakannya kepada orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan adab yang lain bila bermimpi buruk, seperti:
- Meludah tiga kali ke arah kiri
Hal ini dijelaskan oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,
وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا
“Hendaklah dia meludah sedikit[3] tiga kali.” (HR. al-Bukhari no. 6986 dan Muslim no. 2261 dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu)
- Mengubah posisi tidur
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,
وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ
“Hendaklah dia berpindah dari posisi tidur sebelumnya.” (HR. Muslim no. 2261 dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu)
- Shalat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,
فَلْيَقُمْ إِلَى الصَّلاَةِ
“Hendaklah dia shalat.” (HR. Muslim no. 2263 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Inilah beberapa pembahasan singkat tentang adab bila bermimpi.
Penutup
Ibnul Qayyim (Zadul Ma’ad 2/143) menjelaskan bahwa tidur itu ada dua fungsi dan faidah bagi setiap orang.
- Memberikan rasa nyaman kepada badan dari rasa lelah.
- Menghancurkan makanan dan mematangkan segala campuran makanan.
Wallahu a’lam.
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman bin Rawiyah
[1] HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1208 dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 918.
[2] HR. al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad no. 1207 dan at-Tirmidzi dalam Sunan beliau no. 3066, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab beliau, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2316, Shahih Adabul Mufrad no. 917, ash-Shahihah no. 585, al-Misykat no. 2155 dan ar-Raudh no. 227.
[3] Makna at-tafl adalah meniup disertai sedikit ludah. At-tafl lebih besar daripada an-nafts. (an-Nihayah, -ed.)
sumber :https://asysyariah.com/jadikan-istirahatmu-bernilai-disisi-allah/
Hak Suami yang Harus Dipenuhi Isteri
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Ketahuilah bahwa seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangga, bagi isteri, juga bagi anak-anaknya, karena Allah telah menjadikannya sebagai pemimpin. Allah memberi keutamaan bagi laki-laki yang lebih besar daripada wanita, karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah kepada isterinya. Dan Allah Ta’ala berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya” [An-Nisaa’/4 : 34]
Oleh karena itu, suami mempunyai hak atas isterinya yang harus senantiasa dipelihara, ditaati dan ditunaikan oleh isteri dengan baik yang dengan itu ia akan masuk Surga.
Masing-masing dari suami maupun isteri memiliki hak dan kewajiban, namun suami mempunyai kelebihan atas isterinya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan mereka (para wanita) memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang pantas. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Al-Baqarah/2 : 228]
- Ketaatan Isteri Kepada Suaminya
Setelah wali atau orang tua sang isteri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada suami menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhi, setelah kewajiban taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya”[1]
Sujud merupakan bentuk ketundukan sehingga hadits tersebut di atas mengandung makna bahwa suami mendapatkan hak terbesar atas ketaatan isteri kepadanya. Sedangkan kata: “Seandainya aku boleh…,” menunjukkan bahwa sujud kepada manusia tidak boleh (dilarang) dan hukumnya haram.
Sang isteri harus taat kepada suaminya dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung kebaikan dalam agama). Misalnya ketika diajak untuk jima’ (bersetubuh), diperintahkan untuk shalat, berpuasa, shadaqah, mengenakan busana muslimah (jilbab yang syar’i), menghadiri majelis ilmu, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. Hal inilah yang justru akan mendatangkan Surga bagi dirinya, seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya”[2]
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat wanita penghuni Surga,
وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا؛ اَلَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِيْ يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى
“Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha.’”[3]
Dikisahkan pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya.”
Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.”[4]
Hadits ini menggambarkan perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memperhatikan hak suami yang harus dipenuhi isterinya karena suami adalah Surga dan Neraka bagi isteri. Apabila isteri taat kepada suami, maka ia akan masuk Surga, tetapi jika ia mengabaikan hak suami, tidak taat kepada suami, maka dapat menyebabkan isteri terjatuh ke dalam jurang Neraka. Nasalullaahas salaamah wal ‘aafiyah.
Bahkan, dalam masalah berhubungan suami isteri pun, jika sang isteri menolak ajakan suaminya, maka ia akan dilaknat oleh Malaikat, sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ (فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا) لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur (untuk jima’/bersetubuh) dan si isteri menolaknya [sehingga (membuat) suaminya murka], maka si isteri akan dilaknat oleh Malaikat hingga (waktu) Shubuh.”[5]
Dalam riwayat lain (Muslim) disebutkan: “sehingga ia kembali”. Dan dalam riwayat lain (Ahmad dan Muslim) disebutkan: “sehingga suaminya ridha kepadanya”.
Yang dimaksud “hingga kembali” yaitu hingga ia bertaubat dari perbuatan itu.[6]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّى الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّّهَا حَتَّى تُؤَدِّى حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ
“Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (isteri) tetap tidak boleh menolak.”[7]
Dalam ajaran Islam, seorang isteri dilarang berpuasa sunnat kecuali dengan izin suaminya, apabila suami berada di rumahnya (tidak safar). Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تَصُمِ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنْ فِيْ بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ.
“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnat) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya.”[8]
Dalam hadits ini ada tiga faedah:
Dilarang puasa sunnat kecuali dengan izin suami.
Tidak boleh mengizinkan orang lain masuk kecuali dengan izin suami.
Apabila seorang isteri infaq/shadaqah hendaknya dengan izin suami.
Dalam hadits ini seorang isteri dilarang puasa sunnat tanpa izin dari suami. Larangan ini adalah larangan haram, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi rahimahullaah.
Imam an-Nawawi berkata, “Hal ini karena suami mempunyai hak untuk “bersenang-senang” dengan isterinya setiap hari. Hak suami ini sekaligus merupakan kewajiban seorang isteri untuk melayani suaminya setiap saat. Kewajiban tersebut tidak boleh diabaikan dengan alasan melaksanakan amalan sunnah atau amalan wajib yang dapat ditunda pelaksanaannya.”[9]
Jika isteri berkewajiban mematuhi suaminya dalam melampiaskan syahwatnya, maka lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suaminya dalam urusan yang lebih penting dari itu, yaitu yang berkaitan dengan pendidikan anak dan kebaikan keluarganya, serta hak-hak dan kewajiban lainnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa hak suami lebih utama dari amalan sunnah, karena hak suami merupakan kewajiban bagi isteri. Melaksanakan kewajiban harus didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah.”[10]
Agama Islam hanya membatasi ketaatan dalam hal-hal ma’ruf yang sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh generasi terbaik, yaitu Salafush Shalih. Sedangkan perintah-perintah suami yang bertentangan dengan hal tersebut, tidak ada kewajiban bagi sang isteri untuk memenuhinya, bahkan dia berkewajiban untuk memberikan nasihat kepada suaminya dengan lemah lembut dan kasih sayang.
[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]
Footnote
[1] Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1159), Ibnu Hibban (no. 1291 – al-Mawaarid) dan al-Baihaqi (VII/291), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini diriwayatkan juga dari beberapa Shahabat. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1998).
[2] Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1296 al-Mawaarid) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih Mawaariduzh Zham’aan (no. 1081).
[3] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XIX/140, no. 307) dan Mu’jamul Ausath (VI/301, no. 5644), juga an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 257). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 287).
[4] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (VI/233, no. 17293), an-Nasa-i dalam ‘Isyratin Nisaa’ (no. 77-83), Ahmad (IV/341), al-Hakim (II/189), al-Baihaqi (VII/291), dari bibinya Husain bin Mihshan radhiyallaahu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[5] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3237, 5193, 5194), Muslim (no. 1436), Ahmad (II/255, 348, 386, 439, 468, 480, 519, 538), Abu Dawud (no. 2141) an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 84), ad-Darimi (II/149-150) dan al-Baihaqi (VII/292), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
[6] Fat-hul Baari (IX/294-295).
[7] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1853), Ahmad (IV/381), Ibnu Hibban (no. 1290- al-Mawaarid) dari ‘Abdullah bin Abi Aufa radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Aadabuz Zifaaf (hal. 284).
[8] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5195), Muslim (no. 1026) dan Abu Dawud (no. 2458) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dan lafazh ini milik Muslim.
[9] Syarah Shahiih Muslim (VII/115).
[10] Fat-hul Baari (IX/296).
Referensi : https://almanhaj.or.id/2080-hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri.html
waktu
Manusia Terbaik di Antara Kalian yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.
Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)
بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ
Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an
Hadits #993
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]
Faedah hadits
- Hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat.
- Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada yang lain datanglah sempurnanya pahala.
- Dengan mempelajari Al-Qur’an akan meninggikan derajat seorang muslim.
- Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya. Oleh karena itu, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup:
- mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya
- mempelajari dan mengajarkan maknanya
Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277)
Referensi:
- Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:205.
- Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.
—
Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022
@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul
Muhammad Abduh Tuasikal








