Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Semua manusia yang berakal sehat pasti mencintai keindahan dan kesempurnaan. Semakin indah dan sempurna sesuatu dalam penilaian manusia maka sesuatu itu pasti semakin dicintainya. Kalau keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk saja bisa menjadikan manusia yang mengenalnya mencintainya, padahal bagaimanapun tingginya keindahan dan kesempurnaan yang ada pada makhluk, tetap saja semua itu terbatas, maka keindahan yang maha sempurna dan kesempurnaan yang tidak terbatas yang ada pada Allâh -‘Azza wa Jalla- harusnya menjadikan manusia mencintai-Nya dan lebih mencintai-Nya dibandingkan segala sesuatunya.
- Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah Dzat yang terkumpul pada-Nya 2 (dua) sebab kecintaan sekaligus, yaitu : [1] kebaikan dan limpahan nikmat, dan [2] kesempurnaan dan keindahan. Maka tidak akan berpaling dari mencintai dzat yang demikian keadaannya kecuali hati yang paling buruk, rendah, dan hina serta paling jauh dari semua kebaikan. Karena sesungguhnya Allâh -‘Azza wa Jalla- menjadikan fithrah pada hati manusia untuk mencintai pihak yang berbuat kebaikan kepadanya dan sempurna dalam sifat-sifat dan tingkah lakunya.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“