Tanggung Jawab Suami dalam Menjaga Rumah Tangga agar Tidak Berujung Perceraian

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafkah, tempat tinggal, talak, rujuk, dan perlakuan baik dalam rumah tangga, pembicaraan itu banyak diarahkan kepada suami. Ini bukan karena istri tidak memiliki kewajiban, tetapi karena suami diberi amanah yang lebih besar dalam urusan perlindungan, pengelolaan keluarga, dan keberlangsungan akad nikah.

Karena itu, kegagalan suami menjalankan amanahnya sering membawa pengaruh besar terhadap retaknya rumah tangga. Suami yang menahan nafkah padahal mampu, membiarkan istri dan anak tanpa kepastian, memperlakukan istri dengan buruk, atau menggunakan talak sebagai ancaman, sedang merusak bagian yang paling mendasar dari bangunan keluarga.

Namun, kita juga tidak boleh tergesa-gesa berkata bahwa setiap perceraian pasti bersumber dari suami. Al-Qur’an menyebut nusyuz istri, nusyuz suami, serta persengketaan antara keduanya. Maka, yang benar adalah: suami memikul porsi amanah yang lebih besar; karena itu, kelalaiannya dapat membawa dampak yang sangat besar. Akan tetapi, penilaian terhadap setiap rumah tangga tetap harus adil dan melihat keadaan masing-masing.

  1. Qiwamah Dikaitkan dengan Nafkah

Allah Ta‘ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 34)

Perhatikan sebab yang disebutkan dalam ayat:

وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari hartanya.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ: هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ.

وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، أَيْ: مِنَ الْمُهُورِ وَالنَّفَقَاتِ وَالْكُلَفِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ عَلَيْهِمْ لَهُنَّ فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ.

“Laki-laki adalah pihak yang mengurus perempuan; ia pemimpinnya, penanggung jawabnya, dan pembimbingnya ketika terjadi penyimpangan. Hal itu karena mereka menafkahkan harta berupa mahar, nafkah, dan berbagai tanggungan yang Allah wajibkan atas mereka bagi para istri dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.”

Maksudnya, qiwamah bukan gelar untuk menuntut pelayanan, melainkan amanah yang tampak melalui tanggung jawab nyata. Suami bukan hanya hadir secara fisik di rumah, tetapi hadir dengan kepedulian, nafkah, perlindungan, keputusan yang bertanggung jawab, dan akhlak yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:34.

  1. Nafkah Anak Tetap Diletakkan di Atas Ayah

Allah Ta‘ala berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Ayat ini turun dalam pembahasan ibu yang menyusui anak. Allah menyebut ayah dengan ungkapan al-maulūd lahu, yakni pihak yang baginya anak itu dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa nafkah keluarga bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi kewajiban yang melekat pada suami atau ayah sesuai kemampuannya.

Nabi ﷺ bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”

Takhrij: HR. Abu Dawud no. 1692, Ahmad no. 6495, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadits. Lihat Ad-Durar As-Saniyyah.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang yang nafkahnya wajib ditanggung. Termasuk dalam bentuk penelantaran: tidak berusaha mencari penghasilan karena malas padahal mampu, atau memiliki harta tetapi kikir terhadap keluarga.

Hadis ini tidak bermakna suami harus selalu kaya. Kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan pekerjaan, dan jatuhnya usaha bisa menimpa siapa saja. Yang tercela ialah lari dari tanggung jawab, tidak terbuka, tidak berusaha, dan membiarkan keluarga menanggung akibat sendirian.

  1. Talak dan Rujuk Dibatasi agar Suami Tidak Mempermainkan Istri

Allah Ta‘ala berfirman,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“Talak itu dua kali. Setelah itu, boleh rujuk dengan cara yang patut atau menceraikan dengan cara yang baik.”(QS. Al-Baqarah [2]: 229)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini membatasi kebiasaan masa jahiliah: seorang suami dahulu dapat menceraikan lalu merujuk istrinya berulang-ulang selama masa idah, sehingga istri tersiksa dan tidak memperoleh kepastian. Allah kemudian membatasi talak dan memerintahkan dua pilihan saja: mempertahankan dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:229.

Begitu pula Allah berfirman,

وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا

“Janganlah kamu rujuk mereka untuk memberi kemudaratan sehingga kamu melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 231)

Jadi, karena talak dan rujuk pada asalnya berada dalam kewenangan suami, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan suami agar tidak menjadikan kewenangan itu sebagai alat tekanan, hukuman emosional, atau permainan.

  1. Suami Diperintahkan Memilih Ma‘ruf, Bukan Sekadar Mempertahankan Status Pernikahan

Allah Ta‘ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS. An-Nisā’ [4]: 19)

Dan Allah berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 228)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan,

وَلَهُنَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ الْحَقِّ مِثْلُ مَا لِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ، فَلْيُؤَدِّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ بِالْمَعْرُوفِ.

“Para istri memiliki hak atas para suami sebagaimana para suami memiliki hak atas para istri. Maka hendaklah masing-masing menunaikan kepada pasangannya apa yang wajib ia tunaikan dengan cara yang patut.”

Beliau juga menukil perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ.

“Aku sungguh suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka ia berhias untukku.”

Ini mengajarkan bahwa rumah tangga bukan hanya tentang daftar kewajiban istri kepada suami. Suami juga dituntut menghadirkan kebaikan, perhatian, pemenuhan hak, dan suasana aman bagi istrinya. Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2:228.

  1. Al-Qur’an Juga Menyebut Nusyuz Suami

Tidak benar bila masalah rumah tangga hanya dipandang dari kemungkinan kesalahan istri. Allah Ta‘ala berfirman,

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

“Jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisā’ [4]: 128)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi ketika seorang istri melihat suaminya mulai menjauh, tidak lagi tertarik, atau berpaling darinya. Dalam keadaan tersebut, keduanya boleh membuat perdamaian dengan kerelaan, misalnya istri merelakan sebagian haknya bila ia memang ingin mempertahankan pernikahan. Beliau menegaskan bahwa perdamaian lebih baik daripada perpisahan. Tafsir Ibnu Katsir QS. An-Nisā’ 4:128.

Imam Ath-Ṭabari rahimahullah menerangkan makna nusyuz suami:

اسْتِعْلَاءً بِنَفْسِهِ عَنْهَا إِلَى غَيْرِهَا، أَثَرَةً عَلَيْهَا، وَارْتِفَاعًا بِهَا عَنْهَا، إِمَّا لِبُغْضَةٍ، وَإِمَّا لِكَرَاهَةٍ مِنْهُ بَعْضَ أَسْبَابِهَا.

“Suami meninggikan dirinya atas istrinya dengan lebih memilih yang lain, mengutamakan yang lain atasnya, dan menjauh darinya; bisa karena kebencian atau karena ia tidak menyukai sebagian keadaan istrinya.”

Beliau juga menjelaskan bahwa i‘rāḍ berarti suami memalingkan wajah atau mengurangi sebagian manfaat dan perhatian yang dahulu diberikan kepada istrinya. Tafsir Ath-Ṭabari QS. An-Nisā’ 4:128.

  1. Istri Memiliki Jalan Keluar, Bukan Dipaksa Bertahan dalam Kezaliman

Allah Ta‘ala berfirman dalam pembahasan khulu‘,

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa bagi keduanya tentang pembayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229)

Ayat ini menunjukkan bahwa syariat tidak menjadikan perempuan sebagai pihak yang tidak mempunyai pilihan. Jika kehidupan bersama tidak lagi memungkinkan keduanya menegakkan batas-batas Allah, terdapat jalan khulu‘. Dalam perkara mudarat lain—seperti suami tidak memberi nafkah padahal mampu, melakukan kekerasan, atau menghilang—pembatalan nikah melalui hakim juga dibahas dalam fikih.

Di sisi lain, Al-Qur’an memerintahkan mediasi ketika konflik telah menguat:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا

“Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka utuslah seorang penengah dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisā’ [4]: 35)

Ayat ini memakai ungkapan syiqāq baynihimā—persengketaan antara keduanya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak membangun cara pandang yang selalu menyalahkan satu pihak.

Kesimpulan

Pernyataan yang paling tepat bukanlah, “Perceraian selalu lebih karena suami.” Pernyataan yang lebih ilmiah dan adil ialah:

“Al-Qur’an menempatkan suami sebagai pihak yang memikul amanah besar dalam nafkah, perlindungan, perlakuan ma‘ruf, talak, dan rujuk. Karena itu, kelalaian suami dalam amanah tersebut sering menjadi sebab besar rusaknya rumah tangga. Namun, Al-Qur’an juga mengakui adanya kesalahan istri, nusyuz suami, dan konflik yang melibatkan kedua pihak. Maka, setiap kasus harus dinilai secara adil, tanpa menutupi kezaliman suami dan tanpa menggeneralisasi seluruh perceraian sebagai kesalahan satu pihak.”

Suami hendaknya takut bukan hanya pada kata “cerai”, tetapi pada pertanyaan yang lebih dalam: Apakah aku telah menjalankan qiwamah sebagai amanah, atau hanya menuntut hak sebagai suami?

Referensi

Ath-Ṭabari, M. ibn Jarīr. (2001). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān (A. M. Shākir, Ed.). Mu’assasah Ar-Risālah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura4-aya128.html

Ibnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya34.html

Ibnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya228.html

Ibnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya229.html

Ibnu Katsir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salāmah, Ed.). Dār Ṭayyibah. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya128.html

An-Nawawi, Y. ibn S. (n.d.). Al-Majmū‘ sharḥ al-Muhadzdzab. Dār al-Fikr. Penjelasan hadis tersedia di https://dorar.net/hadith/sharh/118619

Abu Dawud, S. ibn al-Asy‘ats. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd (Hadis no. 1692). https://dorar.net/h/QGU2Uiuk?osoul=1

—-

23 Rabiul Akhir 1448 H, 6 Oktober 2026

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42884-tanggung-jawab-suami-dalam-menjaga-rumah-tangga-agar-tidak-berujung-perceraian.html

Hadits Arbain #40: Hidup di Dunia Hanya Sebentar

Hadits Arbain #40

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِمَنْكِبَيَّ، فَقَالَ: «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ»

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika kamu memasuki sore hari, maka jangan menunggu pagi hari. Jika kamu memasuki pagi hari, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416)

Keterangan hadits

Gharib: orang asing dari negerinya, ada waktu berdiam, namun hanya sebentar.

‘Abiru sabiil: musafir, sama sekali tidak menetap, terus berjalan.

Penjelasan hadits

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini jadi dasar agar kita tidak panjang angan-angan. Dunia ini hendaknya tidak dijadikan negeri dan tempat tinggal, sehingga kita jadi merasa tenang ketika berada di dalamnya. Hendaklah dunia hanya dijadikan tempat persiapan peralatan untuk perjalanan. Wasiat para nabi dan pengikutnya telah sama dalam hal ini. Allah Ta’ala telah menceritakan tentang orang beriman dari keluarga Fir’aun,

يَٰقَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39).” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:377)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dunia bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal. Hendaklah seorang mukmin berada dalam salah satu keadaan: (1) menjadi seorang gharib (orang asing), tinggal di negeri asing, ia semangat mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya; (2) menjadi seorang musafir, tidak tinggal sama sekali, bahkan malam dan siangnya ia terus berjalan ke negeri tempat tinggalnya. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma agar hidup di dunia dengan salah satu dari dua keadaan ini.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:378)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Jika seseorang semangat dalam mempersiapkan bekal safarnya, tentu semangatnya bukan memperbanyak kesenangan dunia.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:381)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara:

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya, 4:341. Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz-Dzahabiy dalam At-Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Wajib bagi setiap mukmin bersegera beramal saleh sebelum tidak mampu dan terhalang melakukannya, bisa jadi terhalang karena sakit, meninggal dunia, atau mendapati hal-hal yang membuat amal kita sudah tidak lagi diterima.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:390)

Faedah hadits

  1. Kita dimotivasi untuk meninggalkan dunia dan zuhud pada dunia.
  2. Bagusnya pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memberi contoh yang memuaskan.
  3. Hendaklah kita bersegera memanfaatkan umur, memanfaatkan waktu kuat yaitu masa sehat dan masa hidup.
  4. Keutamaan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma karena perkataannya terpengaruh dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Bersegera beramal saleh pada waktu kita saat ini, tidak menunda-nundanya, karena kita tidak tahu keadaan setelah itu.
  6. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hendaklah setiap mukmin benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan sisa umur yang ada.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:391)

Kaedah dari hadits

Kaedah istitsmar: hendaklah kita sibuk dengan sesuatu yang akan kekal, bukan sesuatu yang akan fana. Artinya, banyaklah sibuk dengan akhirat, sedangkan dunia kita diajak untuk zuhud (ambil sekadarnya saja dari yang halal).

Referensi:

  1. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  2. Khulashah Al-Fawaid wa Al-Qawa’id min Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Syaikh ‘Abdullah Al-Farih.
  3. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.

Selesai disusun Kamis, 4 Dzulqa’dah 1441 H, 25 Juni 2020

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/25050-hadits-arbain-40-hidup-di-dunia-hanya-sebentar.html

Memuji Allah Karena Empat Perkara

Syuraih rohimahullah berkata,

Sesungguhnya aku pernah ditimpa musibah, maka aku memuji Allah karena EMPAT perkara,

– Kupuji Allah karena tidak diberikan musibah yang lebih berat dari itu.

– Kupuji Allah karena aku diberikan kesabaran.

– Kupuji Allah karena telah memberikanku taufiq untuk istirja’.. sehingga aku dapat berharap pahala.

– Kupuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku.

(Siyar A’laam An Nubalaa 4/105)

(*) Istirja’ : adalah pengucapan kalimat “Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uin” yang artinya : Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75449

Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan Hati

Tertawa dan bercanda bagaikan garam dalam kehidupan. Tertawa dan bercanda dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kesibukan sehari-hari yang terkadang menjenuhkan, bahkan suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tersenyum dan tertawa bahkan bercanda dengan para sahabatnya dan anak kecil.

Contoh bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu kisah beliau bersama kepada seorang nenek tua, beliau mengatakan bahwa tidak ada nenek-nenek di surga, sehingga nenek tersebutpun pergi dengan sedih dan tentunya beliau segera memanggil dan menjelaskan yang sebenarnya.

عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: أَتَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَقَالَتْ: (يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ) فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلاَنٍ، إِنَّ الْجَنَّةَ لاَ تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ. قَالَ: فَوَلَّتْ تَبْكِي فَقَالَ: (( أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لاَ تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : { إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا }

Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Seorang nenek tua mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah ta’ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah).”[Mukhtashar Syamaa-il dan Ash-Shahiihah no. 2987]

Jadi bercanda dan tertawa boleh-boleh saja, asalkan tidak dilakukan terus menerus dan menjadi kebiasaan hidupnya. Terlalu banyak tertawa akan membuat keras hati bahkan bisa mematikan hati. Hati sulit menerima kebenaran dan tersentuk dengan kebaikan dan kelembutan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

“Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” [HR. Tirmidzi 2/50, Dishahihkan Syaikh Al-Albani]

Kehidupan di dunia ini tidaklah disikapi dengan bercanda terus dan tertawa terus. Apalagi kehidupan di dunia ini hanya sementara dan merupakan tempat menanam bekal untuk kehidupan akhirat yang selamanya. Apakah bisa kita menanam bekal dengan terus-menerus bercanda dan tertawa? Bahkan jika kita memikirkan nasib kita yang belum pasti apakah masuk neraka atau surga, kita akan banyak menangis dan sedikit tertawa.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالَ فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ غَطَّوْا رُءُوْسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِيْنٌ

“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Anas bin Malik –perawi hadits ini mengatakan, “Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan.” [HR. Muslim, no. 2359]

Kebahagiaan yang sejati itu bukan berupa tertawa dan sering bercanda, tetapi bahagia itu adalah rasa tenang dan ketentraman dalam hati. Inilah tujuan kehidupan seorang muslim di dunia dan Allah turunkan ketenangan pada hati seorang muslim.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).” [AL-Fath: 4]

Selain itu terlalu banyak bercanda juga bisa membuat seseorang hilang wibawanya.Pantas saja Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu berkata,

قال عمر رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته ومن كثر مزاحه استخف

“Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya. Barangsiapa yang banyak guraunya, maka dengannya dia akan rendah.”[HR. Baihaqi]

Al-Mawardi rahimahullah pernah berkata,

وَأَمَّا الضَّحِكُ فَإِنَّ اعْتِيَادَهُ شَاغِلٌ عَنْ النَّظَرِ فِي الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ ، مُذْهِلٌ عَنْ الْفِكْرِ فِي النَّوَائِبِ الْمُلِمَّةِ. وَلَيْسَ لِمَنْ أَكْثَرَ مِنْهُ هَيْبَةٌ وَلَا وَقَارٌ، وَلَا لِمَنْ وُصِمَ بِهِ خَطَرٌ وَلَا مِقْدَارٌ

“Adapun tertawa, apabila seseorang membiasakannya dan terlalu banyak tertawa, maka hal itu akan melalaikan dan melupakannya dari melihat hal-hal yang penting. Dan orang yang banyak melakukannya, tidak akan memiliki wibawa dan kehormatan. Dan orang yang terkenal dengan hal itu tidak akan memiliki kedudukan dan martabat.”[Adabud-Dunya wad-Din hal.313]

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel: www.muslim.or.id

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/43399-terlalu-banyak-tertawa-mengeraskan-hati.html

Allah Bersama dengan Orang Muhsin (Berbuat Ihsan)

Allah bersama dengan orang yang berbuat ihsan (muhsin).

Apa maksudnya?

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (QS. An-Nahl: 128)

Dalam Tafsir As-Sa’di (hlm. 475) disebutkan:

“Allah bersama orang-orang yang bertakwa lagi muhsin. Allah memberikan pertolongan, taufik, dan petunjuk. Merekalah orang-orang yang menjauhi kekafiran dan maksiat. Merekalah orang-orang yang berbuat ihsan (baik) dalam beribadah kepada Allah. Bentuk berbuat ihsan dalam ibadah adalah menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak bisa melihat-Nya, ingatlah bahwa Allah pasti melihat mereka. Sedangkan berbuat ihsan kepada makhluk adalah memberikan manfaat apa pun pada mereka. Kami memohon kepada Allah agar kita semua menjadi orang bertakwa dan muhsin.”

Ihsan dapat dibagi dua menurut penjelasan Syaikh As-Sa’di, yaitu ihsan dalam ibadah dan ihsan terhadap makhluk.

Berbuat ihsan dalam ibadah ada dua maqam.

  1. Maqam muraqabah adalah meyakini bahwa Allah melihat kita. Inilah maqamnya kebanyakan manusia.
  2. Maqam musyahadah berarti kita beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya yaitu melihat nama dan sifat Allah serta pengaruhnya, bukan melihat zat Allah secara langsung seperti diyakini oleh kaum sufi. Maqam ini lebih tinggi dibandingkan maqam muraqabah.

Semoga penulis dan para pembaca sekalian diberi taufik untuk menjadi orang-orang yang berbuat ihsan (muhsin).

Darush Sholihin, 12 Dzulhijjah 1442 H

Muhammad Abduh Tuasikal 

Artikel Rumaysho.Com

Sumber https://rumaysho.com/28883-allah-bersama-dengan-orang-muhsin-berbuat-ihsan.html

Mengapa Harus Berhias?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berhias, bagian dari nikmat Allah yang diberikan kepada para hamba-Nya. Fitrah sehat manusia, menuntut mereka agar selalu merawat dirinya, berpenampilan menarik di hadapan orang lain, sehingga dia lebih dihargai. Karena itulah, Allah mencela orang musyrik yang tidak mau memakai baju ketika thawaf, dengan alasan ibadah,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS Al A’raf: 32)

Allah memuliakan perhiasan di tangan manusia, dengan Allah sebut ’zinatullah’ perhiasan dari Allah. Untuk menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan perhiasan ini dan menghalalkannya untuk para hamba-Nya. Yang sekaligus menjelaskan kepada manusia bahwa hukum masalah perhiasan kembali kepada Allah bukan kepada selainnya. (Zinatul Mar’ah Muslimah, hlm. 9)

Berhias Untuk Suami, Itu Ibadah

Terlebih bagi para wanita, yang Allah ciptakan sebagai pasangan lelaki bani Adam, fitrah berhias berperan penting dalam hidupnya. Bahkan fitrah ini bisa mengendalikan kebahagiaan kehidupan rumah tangganya. Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan predikat sebagai wanita terbaik, ketika sang istri bisa menyenangkan hati suaminya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ’Ya Rasulullah, wanita seperti apakah yang paling baik?’

Beliau bersabda,

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Wanita yang menyenangkan suaminya apabila dilihat, mentaati suaminya ketika diperintah, tidak melakukan perbuatan yang membuat suaminya marah, dan tidak membelanjakan harta yang membuat suaminya benci.” (HR. Ahmad 7421, Nasai 3231, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Imam as-Sindi menjelaskan,

إِذَا نَظَرَ ؛ أَيْ لِحُسْنِهَا ظَاهِرًا أَوْ لِحُسْنِ أَخْلَاقهَا بَاطِنًا وَدَوَام اِشْتِغَالهَا بِطَاعَةِ اللَّه وَالتَّقْوَى

”Menyenangkan suaminya apabila dilihat” karena dia indah dari luar, baik akhlaknya dari dalam, sibuk melakukan ketaatan kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya.” (Hasyiyah as-Sindi, 6/68).

Berhias Lahir Batin

Batin jelas lebih penting dari pada lahir. Semua orang sepakat itu. Apalah artinya orang hanya memperhatikan lahir, tapi tidak peduli dengan batinnya.

Karena itulah, ketika Allah menyebutkan tentang nikmat pakaian sebagai perhiasan, Allah juga mengingatkan akan pentingnya menghiasi hati dengan taqwa,

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik“. (QS. Al-A’raf: 26)

Taqwa merupakan pakaian batin, yang itu lebih indah dibandingkan pakaian lahir. Karena orang yang bertaqwa kepada Allah dan berusaha untuk selalu istiqamah, dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 286)

Dan kita bisa menjamin, orang yang memiliki pakaian taqwa, hatinya dihiasi dengan taqwa, dia akan memperhatikan pakaian luar, agar tidak mengundang murka Tuhannya.

Allahu a’lam

—

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/7220-mengapa-harus-berhias.html