Ketika Mendengar Ayam Berkokok, Anjing Mengonggong Dan Ringkikan Keledai Malam Hari

Terkadang kita tidak terlalu memperhatikan atau menganggap biasa saja/sepele jika kita mendengarnya, akan tetapi syariat yang sempurna ini telah mengatur dan memberi petunjuk ketika kita mendengar suara-suara ini.

Ketika mendengar anjing mengonggong dan ringkikan keledai malam hari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ نُبَاحَ الْكِلاَبِ وَنَهِيْقَ الْحَمِيْرِ بِاللَّيْلِ، فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ فَإِنَّهُنَّ يَرَيْنَ مَا لاَ تَرَوْنَ.

‘Apabila kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz) kepada Allah, karena mereka melihat sesuatu yang tidak kalian lihat’.” [1]

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan,

أي اعتصموا به منه بأن يقولأحدكم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم أو نحو ذلك من صيغ التعوذ فإنه أي الحمار رأى شيطانا

“Berlindunglah kepada Allah, misalnya dengan mengucapkan “A’udzu billahi minas syaithanir raajim” atau yang lainnya dari lafadz ta’awwudz. Karena keledai tersebut melihat syaitan”[2]

Berkata qadhi ‘Iyadh rahimahullah,

قال عياض وفائدة الأمر بالتعوذ لما يخشى من شر الشيطان وشر وسوسته فيلجأ إلى الله في دفع ذلك

“Faidah dari perintah agar ber-ta’awwudz karena dikhawatirkan kejelakan/kejahatan dari syaitan dan was-was, maka segeralah berlindung kepada Allah untuk mencegah hal tersebut.”[3]

Ketika mendengar Ayam berkokok

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ نُهَاقَ الْحَمِيْرِ، فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ شَيْطَانًا. وَإِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ، فَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا.

“Apabila kamu mendengar ringkikan keledai, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz) kepada Allah dari godaan setan, karena dia melihat setan. Dan apabila kamu mendengar ayam jantan berkokok, maka mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat.”[4]

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

وللديك خصيصة ليست لغيره من معرفة الوقت الليلي

“Ayam (jenis diik) mempunyai kekhususan yang tidak ada pada yang lainnya yaitu mengetahui waktu-waktu malam.”[5]

Ad-dawudi Berkata,

يتعلم من الديك خمس خصال : حسن الصوت ، والقيام في السحر ، والغيرة ، والسخاء ، وكثرة الجماع

“diketahui dari Ayam (jenis diik) lima sifat: suara yang bagus, bangun di waktu malam, rasa cemburu, berlapang dada dan banyak berjima’.”[6]

Qadhi ‘Iyadh berkata,

كأن السبب فيه جاء تأمين الملائكة على دعائه واستغفارهم له وشهادتهم له بالإخلاص والتضرع

“seolah-olah sebabnya adalah adanya pengaminan malaikat (malaikat mengaminkan) terhadap doa dan memintakan pengampunan bagi mereka yang ikhlas dan sukarela.”[7]

Bandara Juanda Surabaya

4 Shafar 1434 H
penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/ketika-mendengar-ayam-berkokok-anjing-mengonggong-dan-ringkikan-keledai-malam-hari.html

Pentingnya Penjagaan Waktu

Banyak diantara kita yang terlalaikan dengan nikmat ini, yaitu waktu luang. Dan hendaknya kita sadar pentingnya nikmat ini. Sesungguhnya Allah telah mengisyaratkan kepada kita bahwa orang orang yang telah mati mereka menyesal dan mereka minta agar dikembalikan lagi di dunia agara bisa beramal shalih lagi sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “dan Infakanlah sebagian dari apa yang yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian dating kepada salah sesorang diantara kamu; lalu dia berkata (menyesali) ‘Ya tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang orang shalih”(QS. Al-Munafiqun: 10).

Dan hendaklah kita mengetahui bahwa kita hidup di dunia ini hanya lah sebentar sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya): “Dia berfirman,’berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ mereka menjawab ,’ kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung’” (QS. Al-Mu’minun: 112-113). Maka lihatlah! Bahwa kita hanyalah seorang musafir di dunia ini atau perumpaman kita di dunia ini sekadar berteduh di bawah pohon dari perjalanan yang panjang lalu kita melanjutkan perjalan lagi, lalu perjalan mana lagi yang mana akan kita lanjutkan? Yaitu perjalanan ke kampung abadi jannatun na’im dimana segala kenikamatan yang kekal ada disana.

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata “sepatutnya bagi manusia mengetahui kemuliaan waktu dan kadar waktunya. Dan jangan ia sia siakan waktunya walau hanya satu menit tanpa ada ketaatan pada Allah. Semua nikmat umur ini pasti akan ditanya oleh Allah, oleh karena itu jangan lah sampai disibukkan dengan dengan dunia dan angan angan kosong.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata “jadikanlah waktumu untuk Allah dan barangsiapa yang tida menjadi wkatumu maka kematian lebih baik untuknya dari pada kehidupannya”.

Maka lihatlah bagaimana para generasi salafus shalih dan ulama’ rabbani menjaga waktunya.Seperti Abul Wafa’ bin Abu Aqil rahimahullah menceritakan “dengan segala kesungguhanku, aku juga memendekkan waktu makanku,sampai smpai aku lebih makanan biscuit yang dilarutkan dengan air dari pada memakan roti. Alasannya karena kedua makanan tersebut berbeda jauh waktu yang dihasilkan ketika mengunyahnya. Yakni demi lebih member waktu untuk memmbaca dan menyalin berbagai hal yang benrmanfaat yang belum sempat ku ketahui”.

Lalu ada Ar-Raqam rahimahullah menceritakan, aku pernah bersama kepada Abdurrahman (yakni Ibnu Abi Hatim karena begitu banyaknya beliau mendengar dan bertanya kepada ayahnya sendiri (yang seorang ulama’), maka beliau menjawab, ketika ayahku mkaan, aku membacakannya kepada beliau, ketika berjalan, aku membacakannya (kitab dan bertanya) pada beliau, bahkan ketika masuk kamar mandi aku membacakannya untuk beliau, dan ketika masuk rumah untuk satu keperluan, aku juga membacakannya pada beliau.

Setelah kisah para generasi salafus shalih ada kisah lain dari ulama’ rabbani pada generasi saat ini. Yaitu Syaikh Ibnu Baz rahimahullah selalu menyibukkan setiap menit dan detik waktu yang beliau miliki dengan tasbih, istighfar, dan tahlil. Imam as-Sam’ani menyebutkan dalam kitabnya Adabul Imla’ wal Istimla’ (hlm. 73) bahwa ketika muhaddits (ahli hadits) seperti beliau berada dalam sebuah halaqah besar dan disana terdapat beberapa mustamli (orang yang menyampaikan suara syaikh disekitanya), maka ketika beliau berkata “haddatsanaa waki’” (telah mengabarkan kepada kami waqi’), mustamli menirukan mengulang kata tersebut “haddatsanaa waki’”. Sedangkan ditengah tengah ucapan tersebut mustamli yang singkat itu syaikh membaca istghfar dan tasbih sampai beliau mendapat giliran berbicara kembali.

Lihat bagaimana sebagaimana para salafus shalih menjaga waktunya dan kita bisa mengambil ibrahnya dari kisah semangat mereka dalam menjaga waktu mereka. Maka tinggalkan segala majelis yang menyia-nyiakan, dari kekosongan pikiran dan akal. Dan jangan lupa agar kita selalu berdoa kepada Allah agar diberi taufik supaya bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena memanfaatkan waktu dalam ketaatan adalah sebuah pemberian dari Allah ‘azza wa jalla, Allah memberikanya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba hambanyaNya dan memudahkan jalannya. Karena itulah mintalah kepada Allah dengan hati yang tunduk, lisan yang jujur,a nggota tubuh yang khusyu’ agar kita dikaruniai taufik dalam menjaga waktu kita, allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan kepad kita untuk berdoa kepada Nya, Allah subhanahu wa ta’la berfirman (yang artinya), “dan rabb-mu berfirman ’ berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina‘“ (QS. Ghaafir:60).

***

Referensi:

  1. Al-Quranul karim
  2. Waktumu Dihabisakan Untuk Apa, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit pustaka At-taqwa
  3. Meneladani akhlak generasi terbaik, Abdul Aziz bin Nashir al-Jullayil,Baha’uddin bin Fatih Uqail, penerbit Darul Haq
  4. Biografi Syaikh bin Bazz rahimahullah, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammd As-Sadhan, penerbit Khazanah Fawa’id

Penulis: Putri Maulidia S.

Artikel Muslimah.or.id

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/9704-pentingnya-penjagaan-waktu.html

Catatan Amal Orang Yang Berdosa

Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc MA

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun. [Al-Kahfi/18: 49]

TAFSIR RINGKAS
Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang suatu hari dimana amalan-amalan yang pernah dilakukan oleh manusia selama hidupnya akan diperlihatkan semuanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan diletakkanlah Kitab,” yaitu catatan kebaikan dan keburukan. Allâh Azza wa Jalla memberikan setiap orang catatannya masing-masing. Orang yang beriman mengambil Kitab tersebut dengan tangan kanannya, sebaliknya orang kafir akan mengambilnya dengan tangan kiri.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah” pada waktu itu, “ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya” yaitu dalam kitab tersebut yang berisi keburukan-keburukan mereka. “Dan mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kami.” Mereka menyesal dan merasa sedih, sehingga mereka mengungkapkan bahwa mereka dalam kecelakan dan kebinasaan.

“Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar,” perbuatan dosa-dosa kami “melainkan ia mencatat semuanya.”

Kemudian Allâh Azza wa Jalla berfirman di akhir penunjukan catatan-catatan tersebut, “Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis),” baik berupa kebaikan maupun keburukan, telah ditetapkan di dalam kitab mereka dan telah diperhitungkan dan mereka akan diberikan balasan atas apa yang telah mereka lakukan.

“Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun,” dengan menambah keburukan mereka dengan keburukan yang lain, atau kebaikan mereka dengan kebaikan yang lain. Dengan demikian, penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka.[1]

PENJABARAN AYAT
Beriman kepada hari akhir adalah salah satu kewajiban setiap kaum Muslim. Seorang Muslim mengimani semua yang dikabarkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an dan seluruh yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya yang shahih.  Diantara yang dikabarkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang yaumul hisâb (hari dimana amalan-amalan itu ditampakkan dan diperhitungkan oleh Allâh). Pada hari itu seluruh amalan-amalan kebaikan dan keburukan manusia akan diperlihatkan kepadanya dan dia tidak akan mengingkari hal tersebut.

Di antara hal yang harus diimani pada hari tersebut adalah keberadaan suatu kitab yang mencatat seluruh amalan-amalan manusia, baik amalan yang bagus maupun amalan yang buruk. Tidak ada yang terluput dalam kitab tersebut. Semuanya telah tercatat. Ayat yang sedang kita bahas ini berbicara tentang kitab tersebut.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ

Dan diletakkanlah Kitab [Al-Kahfi/18: 49]

Para Ulama berselisih pendapat dalam mengartikan kata ‘Kitab’ pada ayat ini. Pendapat-pendapat yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut:

Kitab tersebut adalah kitab yang berisi catatan-catatan amalan kebaikan dan keburukan manusia dan akan diberikan catatan tersebut kepada manusia dan diterima dengan tangan kanan atau tangan kiri.
Kitab tersebut adalah kitab yang diletakkan di hadapan Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Kata ‘Kitab’ tersebut hanyalah kiasan yang berarti al-hisâb yaitu hari perhitungan amalan-amalan para hamba. [2]
Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, karena Allâh Azza wa Jalla menyebutkan setelah itu:

فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ

Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. [Al-Kahfi/18: 49]

Ini menunjukkan bahwa Kitab tersebut adalah kitab yang bisa dilihat oleh orang-orang yang bersalah pada hari tersebut.

Penulisan ‘Kitab’ dalam bentuk mufrad (kata benda bentuk tunggal yang bermakna sebuah kitab) pada ayat ini, tidak berarti bahwa kitab tersebut hanya satu saja. Ini hanya menunjukkan jenis kitab. Adapun kitab-kitab catatan amal sangatlah banyak. Setiap orang akan mendapatkan satu kitab catatan amalnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka. [Al-Isrâ’/17:13]


Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ

Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. [Al-Kahfi/18: 49]

Perkataan ‘kamu’ pada ayat tersebut bukanlah ditujukan kepada orang tertentu dan yang diajak bicara pada ayat ini bukanlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari itu berada pada kedudukan yang lebih tinggi dari tempat tersebut.[3]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan pada ayat ini bahwa mereka sangat ketakukan setelah melihat catatan keburukan yang pernah mereka lakukan. Mereka takut karena mereka tahu bahwa setelah menerima catatan amal tersebut, mereka akan mendapatkan kesusahan yang lebih parah dan azab yang pedih dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Oleh karena itu, mereka mengatakan, “Aduhai celakalah kami.”

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا

Dan mereka berkata, “Aduhai celakalah kami.” [Al-Kahfi/18: 49]

Perkataan ‘Aduhai celakalah kami,’ menunjukkan bahwa mereka benar-benar menyadari kesalahan yang telah mereka kerjakan karena telah menyia-nyiakan umur yang telah mereka jalani selama hidup di dunia. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali mengumumkan kebinasaan yang mereka akan dapatkan setelah menerima kitab tersebut.

Kemudian mereka mengatakan:

مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا 

Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya [Al-Kahfi/18: 49].

Mereka keheranan dengan detailnya pencatatan dosa yang mereka lakukan. Allâh Azza wa Jalla mencatat seluruh dosa mereka dalam kitab tersebut, baik yang besar maupun yang kecil sekalipun.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ash-Shaghîrah (yang kecil) maksudnya tersenyum, sedangkan al-kabîrah (yang besar) artinya tertawa dengan suara keras.”

Sa’id bin Jubair rahimahullah mengatakan, “Ash-Shaghîrah (yang kecil) artinya dosa kecil, memegang dan mencium, sedangkan al-kabîrah (yang besar) artinya perbuatan zina.” [4]

Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Kitab ini tidak menyisakan yang kecil dari dosa-dosa dan amalan-amalan kami, begitu pula amalan-amalan yang besar.”[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil (yang diremehkan)! Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti suatu kaum yang turun di dalam wadi (lembah). Kemudian orang yang ini membawa satu kayu dan yang itu membawa satu kayu, sehingga mereka bisa memasak roti-roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil jika dikerjakan terus-menerus oleh pelakunya maka dia akan membinasakannya.[6]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا

Dan mereka dapati apa yang telah kerjakan ada (tertulis). [Al-Kahfi/18: 49]

Ada dua pendapat dalam mengartikan kata hâdhiran pada ayat ini. Di antara Ulama ada yang mengartikan bahwa “mereka mendapatkan perhitungan atas apa-apa yang mereka kerjakan benar-benar ada di hadapan mereka,” dan ada juga yang mengatakan bahwa “mereka mendapatkan balasan atas apa-apa yang mereka kerjakan benar-benar ada di hadapan mereka.” Allâhu a’lam, arti yang pertama lebih tepat, karena ayat ini berbicara tentang hari perhitungan (yaumul hisâb).[7]

Ada beberapa ayat yang hampir semakna dengan ayat ini, di antaranya adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya. Dia ingin kalau kiranya antara dia dengan hari itu ada masa yang lama. Dan Allâh memperingatkan kalian terhadap siksa-Nya. Dan Allâh sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. [Ali ‘Imrân/3:30]

Begitu pula firman-Nya:

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. [Al-Qiyâmah/75:13]

Dan juga firman-Nya:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

Pada hari dinampakkan segala rahasia. [Ath-Thâriq/86:9]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun [Al-Kahfi/18: 49]

Allâh Azza wa Jalla mengharamkan kezaliman pada diri-Nya dan pada makhluk-Nya. Allâh Azza wa Jalla tidak akan berbuat zalim kepada siapa pun. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:


يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا

Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman pada diriku dan Aku jadikan kezaliman haram di antara kalian.[8]

Begitu pula dalam hal pencatatan amal, Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghukum seseorang kecuali sesuai dengan kesalahan yang telah dia lakukan. Allâh Azza wa Jalla juga tidak akan mengurangi pahala orang yang taat kepada-Nya.[9]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. [Al-Anbiyâ’/21: 47]

Begitu pula firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allâh akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. [An-Nisâ’/4:40]

Ini merupakan bentuk kasih sayang Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beramal shalih. Allâh Azza wa Jalla tidak akan mengurangi pahala-pahala mereka, justru Allâh akan melipatkangandakannya.

Dan di antara bentuk keadilan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Allâh akan mengadili hewan yang berbuat zalim karena telah menzalimi hewan lain, padahal kita ketahui bahwa hewan bukanlah makhluk yang terbebani syariat. Rasûlullâh n bersabda:

إِنَّ الْجَمَّاءَ لَتُقَصُّ مِنَ الْقَرْنَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya hewan-hewan yang tidak bertanduk akan diberikan hak qishaash (membalas) kepada hewan-hewan yang bertanduk di hari kiamat.[10]

KESIMPULAN

Beriman kepada hari akhir adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim.
Kita wajib mengimani bahwa di hari perhitungan ada kitab yang mencatat seluruh amalan-amalan, baik yang baik maupun yang buruk. Setiap orang akan mendapatkan satu kitab catatan amalnya.
Orang-orang bersalah akan merasakan ketakutan setelah menerima catatan tersebut, karena mengetahui keburukan dan siksaan apa yang akan menerima setelah itu.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencatat seluruh dosa mereka dalam kitab tersebut, baik yang besar maupun yang kecil sekalipun.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kezaliman pada diri-Nya dan pada makhluk-Nya.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengadili hewan yang berbuat zalim karena telah menzalimi hewan lain.
Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat. Mudah-mudahan Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencatat kita sebagai orang-orang yang menerima catatan amal kita dengan tangan kanan kita dan dimudahkan untuk menuju surga. Âmîn.

DAFTAR PUSTAKA

Aisarut Tafâsîr li Kalâm ‘Aliyil Kabîr Wa bi Hâmisyih Nahril Khair ‘Alâ Aisarit-Tafâsîr. Abu Bakr Jâbir bin Musa al-Jazâ 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
At-Tahrîr wa at-Tanwîr. Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur. 1997. Tunisia: Dar Sahnû
Al-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
Jâmi’ul Bayân fii Ta’wîlil Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Ma’âlimut Tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh:Daar Ath-Thaibah.
Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzhîm. Ismaa’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
Taisîr al-Karîm ar-Rahmân. Abdurrahmaan bin Naashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIX/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]


Footnote
[1] Lihat Aisarut Tafâsîr, hlm. 841
[2] Lihat Tafsîr al-Baghawi, V/177; Tafsîr Al-Qurthubi, X/418 dan Tafsîr Ibni Katsîr, V/165.
[3] Lihat at-Tahrîr wat Tanwîr, XVIII/18.
[4] Tafsîr Al-Baghawi, V/177.
[5] Tafsîr Ath-Thabari, XVIII/39.
[6] HR Ahmad dalam Musnad-nya no. 22808. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahîhah, no. 3102.
[7] Lihat Tafsîr Al-Qurthubi X/419.
[8] HR Muslim, no. 2577/6572.
[9] Tafsîr Al-Baghawi, V/178.
[10] HR Ahmad dalam Musnad-nya no. 520. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits tersebut dalam ash-Shahîhah no. 1588.


Referensi : https://almanhaj.or.id/5839-catatan-amal-orang-yang-berdosa.html

Kefakiran Yang Paling Besar

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

ولا تحسبن الفقر من فقد الغنى، ولكن فقد الدين من أعظم الفقر

“Janganlah sekali-sekali engkau menganggap bahwa fakir itu dengan hilangnya kekayaan akan tetapi hilangnya agama adalah bentuk kefakiran yang paling besar.” (Kitab Majmu’u ar-Rasa`il, I/65)

Faktor agama merupakan standar hidup yang harus diupayakan setiap mukmin. Status seseorang itu miskin (harta), namun dia menjadi unggul karena keshalihannya di sisi Allah Ta’ala. Demikian pula, ketika seseorang dianugerahi kekayaan atau harta yang melimpah maupun kedudukan, namun tak memiliki adab, tidak mau belajar agama, enggan beramal shalih, dan mengutamakan dunia dibandingkan kehidupan akhirat, maka merekalah orang yang fakir.

Makhluk cerdas tak tergoyahkan imannya ketika mayoritas manusia berlomba-lomba membangun kehidupan dunia. Mukmin bertakwa justru lebih fokus menghibahkan untuk membangun kehidupan akhiratnya.

Yahya Bin Mu’adz berkata: “Dunia hanya jembatan menuju akhirat, lewati saja dan jangan memperindahnya, tidak masuk akal membangun istana di atas jembatan.” (Al-Hilyah, 3/260)

Seorang mukmin yang beriman dan bertakwa akan mulia di sisi Allah Ta’ala meskipun kehidupan ekonominya serba kekurangan. Kesabarannya dalam menghadapi keterbatasan makanan, tempat tinggal, pakaian, dan berbagai fasilitas penunjang hidup tidak menggoyahkannya untuk tetap komitmen pada syariat Islam. Kemiskinan dihadapinya dengan penuh tawakal dan sabar karena inilah yang telah dipilihkan Allah Ta’ala yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ ….

” … dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas bagi seseorang daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari (no.1469) dan Muslim (no. 1053) dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu)

Selama seorang mukmin masih kokoh memegang agama, menjaga sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ia akan bahagia meskipun orang-orang menilai mereka orang yang menderita dan serba kekurangan. Kenikmatan yang tiada tandingnya telah mereka nikmati ketika hidup mereka diniatkan sebagai ibadah, hari-harinya dipenuhi dengan giat menuntut ilmu agama, hak-hak mereka mulia karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka senantiasa beramal shalih.

Inilah sejatinya kekayaan hati dan nikmat iman yang jarang diraih oleh para pemburu dunia yang lebih mengutamakan kenikmatan sesaat dan memandang remeh orang yang mencintai kehidupan akhirat.

Di zaman fitnah ini seorang mukmin harus selalu memperkokoh iman, giat belajar agama, dan senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala agar tetap memegang agama dan menjadikannya sebagai petunjuk agar hidupnya tidak tersesat. Agama merupakan harta termulia, termahal, dan tiada bandingannya yang harus selalu dijaga dan dibela sampai mati.

Banyak kisah-kisah mengagumkan orang-orang yang ikhlas meninggalkan dunia demi mencari kebahagiaan hakiki dalam Islam. Mereka rela menderita untuk mempertahankan agamanya dengan pengorbanan yang sedemikian besar. Semua ini karena keyakinannya yang tinggi bahwa agama adalah kekayaan terbesar dan harus dijaga dan dipertahankan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُوشِكَ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الرَّجُلِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

“Hampir-hampir sebaik-baik harta orang muslim ialah kambing yang digembalakannya di gunung dan di lembah karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari fitnah.” (HR. Al Bukhari no. 19, dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu)

Alangkah beruntungnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak terjebak dalam fitnah harta sehingga mereka berhijrah menuju Madinah untuk menyelamatkan agamanya. Dan sangat cerdasnya para sahabat Anshor yang demi ukhuwah iman, mereka membantu para Muhajirin agar tetap kokoh agamanya dengan berbagai bantuan meskipun mereka juga sangat membutuhkannya. Sedikit maupun banyaknya kekayaan bagi seorang mukmin tetap mulia ketika semua itu tidak melalaikannya dalam ibadah. Bahkan, kekayaan yang mampu mengokohkan dalam ketaatan dan amal shalih, inilah harta yang berkah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Nikmat harta yang baik adalah yang dimiliki laki-laki yang shalih.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, Juz 4 no. 197 dan 202, di-shahih-kan al-Albani dalam Ghayatul Maram, no. 454).

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

1). Kiat-kiat Islam Mengatasi Kemiskinan, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at- Taqwa, Bogor, 2015.

2).Mencari Kunci Rizki yang Hilang, Zainal Abidin Syamsudin, Pustaka Imam Abu Hanifah, Jakarta, 2008.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/14452-kefakiran-yang-paling-besar.html

Jauhi Syubhat agar Tak Sesat

Syubhat berbahaya bukan karena kebatilannya terlihat jelas, tetapi justru karena kebatilan itu sering datang memakai pakaian kebenaran. Satu potongan video, satu istilah yang terdengar ilmiah, atau satu pendapat yang dikemas meyakinkan bisa membuat orang yang kurang ilmu mulai meragukan agamanya. Karena itu, mengenali syubhat dan mengetahui cara menjauhinya adalah bagian penting dalam menjaga hati agar tetap berada di atas petunjuk.

Apa itu Syubhat?

Kata syubhat (الشُّبْهَة) berasal dari makna adanya kemiripan dan kesamaran.

Sesuatu disebut syubhat karena kebenaran bercampur atau menyerupai kebatilan sehingga orang yang tidak memiliki ilmu dan bashirah bisa sulit membedakannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

وَالشُّبْهَةُ: وَارِدٌ يَرِدُ عَلَى الْقَلْبِ، يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ انْكِشَافِ الْحَقِّ لَهُ، فَمَتَى بَاشَرَ الْقَلْبُ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ، لَمْ تُؤَثِّرْ تِلْكَ الشُّبْهَةُ فِيهِ، بَلْ يَقْوَى عِلْمُهُ وَيَقِينُهُ بِرَدِّهَا وَمَعْرِفَةِ بُطْلَانِهَا، وَمَتَى لَمْ يُبَاشِرْ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ بِالْحَقِّ قَلْبُهُ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ بِأَوَّلِ وَهْلَةٍ، فَإِنْ تَدَارَكَهَا وَإِلَّا تَتَابَعَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَمْثَالُهَا، حَتَّى يَصِيرَ شَاكًّا مُرْتَابًا.

“Syubhat adalah sesuatu yang datang kepada hati lalu menghalangi hati tersebut dari tersingkapnya kebenaran. Jika hakikat ilmu telah benar-benar menyentuh hati, syubhat itu tidak akan memengaruhinya. Bahkan ilmu dan keyakinannya semakin kuat ketika ia mampu membantah dan mengetahui kebatilannya. Namun, jika hati belum benar-benar mengenal hakikat kebenaran, syubhat pertama yang datang dapat menyalakan keraguan. Jika tidak segera ditangani, syubhat-syubhat lain akan datang berturut-turut sampai seseorang menjadi penuh keraguan dan kebimbangan.” (Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, buku “Lebih Kaya dengan Ilmu”, hlm. 66).

Maka, syubhat bukan sekadar “ada pertanyaan”.

Bertanya untuk mencari kebenaran adalah baik.

Syubhat menjadi berbahaya ketika kekeliruan masuk ke dalam hati sehingga kebenaran terlihat meragukan dan kebatilan justru tampak masuk akal.

Syubhat Tidak Selalu Sama dengan Perkara Musytabih dalam Halal dan Haram

Ada istilah yang harus dibedakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ…

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).

Takhrij: Hadis dari An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, no. 52; Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1599; juga diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Hadis ini sahih.

Musytabihāt dalam hadis ini berkaitan dengan perkara hukum yang belum jelas bagi banyak orang.

Sedangkan syubhat pemikiran yang sedang kita bahas lebih luas: kerancuan yang masuk kepada cara seseorang memahami akidah, agama, wahyu, nilai, atau kebenaran.

Keduanya sama-sama menuntut kehati-hatian, tetapi tidak selalu identik.

Apa itu Sesat atau Ḍalālah?

Dalam bahasa Al-Qur’an, ḍalāl (الضَّلَال) adalah lawan dari hidayah. Artinya keluar, menyimpang, atau tidak berada di jalan petunjuk yang benar.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

“Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.” (QS. Yunus: 32)

Allah juga berfirman,

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 36)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيلَ ضَلَّ السَّبِيلَ، وَلَا دَلِيلَ إِلَّا بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ

“Siapa yang meninggalkan dalil, ia akan tersesat dari jalan. Tidak ada petunjuk yang sebenarnya kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1:299).

Karena itu, kesesatan bukan hanya berarti sengaja membenci kebenaran.

Seseorang bisa tersesat karena:

  • tidak mengetahui kebenaran,
  • salah memahami dalil,
  • mengikuti hawa nafsu,
  • mengikuti tokoh tanpa ilmu,
  • terpengaruh syubhat,
  • atau menjadikan sesuatu selain wahyu sebagai hakim tertinggi atas wahyu.

Apakah Syubhat Bisa Membuat Orang Sesat?

Jawabannya: bisa.

Namun, tidak setiap orang yang terkena satu syubhat otomatis divonis sebagai orang sesat, ahli bid’ah, apalagi kafir.

Ada perbedaan antara:

  • terkena syubhat,
  • belum mengetahui jawabannya,
  • meyakini kesalahan karena ketidaktahuan,
  • dan sengaja menolak kebenaran setelah jelas hujahnya.

Yang perlu diwaspadai adalah prosesnya.

Ibnul Qayyim menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: «يَنْقَدِحُ الشَّكُّ فِي قَلْبِهِ بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا لِضَعْفِ عِلْمِهِ وَقِلَّةِ بَصِيرَتِهِ، إِذَا وَرَدَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَدْنَى شُبْهَةٍ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ وَالرَّيْبَ، بِخِلَافِ الرَّاسِخِ فِي الْعِلْمِ، لَوْ وَرَدَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشُّبَهِ بِعَدَدِ أَمْوَاجِ الْبَحْرِ مَا أَزَالَتْ يَقِينَهُ، وَلَا قَدَحَتْ فِيهِ شَكًّا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَسَخَ فِي الْعِلْمِ، فَلَا تَسْتَفِزُّهُ الشُّبُهَاتُ، بَلْ إِذَا وَرَدَتْ عَلَيْهِ رَدَّهَا حَرَسُ الْعِلْمِ وَجَيْشُهُ مَغْلُولَةً مَغْلُوبَةً.

Maknanya, orang yang lemah ilmunya dapat terguncang hanya oleh satu syubhat kecil. Adapun orang yang mendalam ilmunya, seandainya datang kepadanya syubhat sebanyak gelombang lautan, keyakinannya tidak mudah hilang. Pasukan ilmu yang berada di dalam hatinya akan menolak syubhat tersebut.

Gambaran sederhananya:

lemah ilmu → syubhat masuk → timbul ragu → syubhat dibiarkan → keraguan bertambah → kebenaran menjadi kabur → seseorang dapat tersesat.

Karena itu, ilmu bukan hanya menambah informasi.

Ilmu adalah benteng hati.

Dua Pasukan yang Menyerang Hati: Syubhat dan Syahwat

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati dapat diserang oleh dua pasukan kebatilan:

جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ

“Pasukan syahwat yang menjerumuskan dan pasukan syubhat kebatilan.”

  • Jika hati menerima syahwat, keinginan yang salah akan menguasai perbuatan.
  • Jika hati menerima syubhat, keraguan dan pemikiran yang salah akan menguasai keyakinan dan lisan.

Maka penyakit manusia secara umum dapat dilihat dari dua arah:

  • Syubhat merusak cara berpikir.
  • Syahwat merusak cara menginginkan.

Orang yang terkena syahwat bisa berkata:

“Saya tahu ini salah, tetapi saya masih ingin melakukannya.”

Sedangkan orang yang terkena syubhat bisa berkata:

“Saya justru yakin ini benar.”

Di sinilah syubhat terkadang lebih sulit ditangani.

Ia membuat seseorang melakukan kesalahan sambil merasa sedang membela kebenaran.

Mengapa Disebut Syubhat? Karena Kebatilan Memakai Baju Kebenaran

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَإِنَّمَا سُمِّيَتِ الشُّبْهَةُ شُبْهَةً لِاشْتِبَاهِ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ فِيهَا؛ فَإِنَّهَا تَلْبَسُ ثَوْبَ الْحَقِّ عَلَى جِسْمِ الْبَاطِلِ، وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَصْحَابُ حُسْنٍ ظَاهِرٍ، فَيَنْظُرُ النَّاظِرُ فِيمَا أُلْبِسَتْهُ مِنَ اللِّبَاسِ فَيَعْتَقِدُ صِحَّتَهَا، وَأَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ وَالْيَقِينِ فَإِنَّهُ لَا يَغْتَرُّ بِذَلِكَ، بَلْ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى بَاطِنِهَا وَمَا تَحْتَ لِبَاسِهَا، فَيَنْكَشِفُ لَهُ حَقِيقَتُهَا.

“Syubhat dinamakan syubhat karena bercampurnya kebenaran dan kebatilan di dalamnya. Syubhat mengenakan pakaian kebenaran pada tubuh kebatilan. Kebanyakan manusia melihat apa yang tampak dari luarnya sehingga mengira bahwa syubhat itu benar. Adapun orang yang memiliki ilmu dan keyakinan tidak tertipu dengannya. Ia melihat lebih jauh kepada apa yang ada di balik pakaian tersebut sehingga hakikatnya tersingkap.”

Kalimat ini sangat relevan pada zaman media sosial.

Syubhat hari ini sering datang dengan kemasan:

  • “riset membuktikan …”
  • “secara logika …”
  • “akal sehat mengatakan …”
  • “atas nama kemanusiaan …”
  • “demi kebebasan …”
  • “demi toleransi …”
  • “semua agama sebenarnya sama …”
  • “yang penting hatinya baik …”
  • “yang penting niatnya baik …”
  • “ustadz terkenal juga mengatakan …”

Tidak semua istilah itu salah.

Namun, jangan hanya melihat kemasannya.

Tanyakan:

  • Apa yang sebenarnya dimaksud?
  • Apa dalilnya?
  • Benarkah kesimpulannya?

Syubhat Seperti Uang Palsu yang Berlapis Perak

Ibnul Qayyim rahimahullah membuat perumpamaan yang sangat menarik:

وَمِثَالُ هَذَا: الدِّرْهَمُ الزَّائِفُ؛ فَإِنَّهُ يَغْتَرُّ بِهِ الْجَاهِلُ بِالنَّقْدِ، نَظَرًا إِلَى مَا عَلَيْهِ مِنْ لِبَاسِ الْفِضَّةِ، وَالنَّاقِدُ الْبَصِيرُ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى مَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَيَطَّلِعُ عَلَى زَيْفِهِ.

فَاللَّفْظُ الْحَسَنُ الْفَصِيحُ هُوَ لِلشُّبْهَةِ بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ مِنَ الْفِضَّةِ عَلَى الدِّرْهَمِ الزَّائِفِ، وَالْمَعْنَى كَالنُّحَاسِ الَّذِي تَحْتَهُ.

وَكَمْ قَدْ قَتَلَ هَذَا الِاغْتِرَارُ مِنْ خَلْقٍ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا اللهُ!

وَإِذَا تَأَمَّلَ الْعَاقِلُ الْفَطِنُ هَذَا الْقَدْرَ وَتَدَبَّرَهُ رَأَى أَكْثَرَ النَّاسِ يَقْبَلُ الْمَذْهَبَ وَالْمَقَالَةَ بِلَفْظٍ، وَيَرُدُّهَا بِعَيْنِهَا بِلَفْظٍ آخَرَ!، وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَا مِنْ هَذَا فِي كُتُبِ النَّاسِ مَا شَاءَ اللهُ.

وَكَمْ قَدْ رُدَّ مِنَ الْحَقِّ بِتَشْنِيعِهِ بِلِبَاسٍ مِنَ اللَّفْظِ قَبِيحٍ!

وَفِي مِثْلِ هَذَا قَالَ أَئِمَّةُ السُّنَّةِ ــ مِنْهُمْ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ ــ: «لَا نُزِيلُ عَنِ اللهِ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ لِأَجْلِ شَنَاعَةٍ شُنِّعَتْ».

فَهَؤُلَاءِ الْجَهْمِيَّةُ يُسَمُّونَ إِثْبَاتَ صِفَاتِ الْكَمَالِ لِلَّهِ ــ مِنْ حَيَاتِهِ، وَعِلْمِهِ، وَكَلَامِهِ، وَسَمْعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ــ تَشْبِيهًا وَتَجْسِيمًا، وَمَنْ أَثْبَتَ ذَلِكَ مُشَبِّهًا؛ فَلَا يَنْفِرُ مِنْ هَذَا الْمَعْنَى الْحَقِّ لِأَجْلِ هَذِهِ التَّسْمِيَةِ الْبَاطِلَةِ إِلَّا الْعُقُولُ الصَّغِيرَةُ الْقَاصِرَةُ، خَفَافِيشُ الْبَصَائِرِ.

وَكُلُّ أَهْلِ نِحْلَةٍ وَمَقَالَةٍ يَكْسُونَ نِحْلَتَهُمْ وَمَقَالَتَهُمْ أَحْسَنَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَقَالَةَ مُخَالِفِيهِمْ أَقْبَحَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَنْ رَزَقَهُ اللهُ بَصِيرَةً فَهُوَ يَكْشِفُ بِهَا حَقِيقَةَ مَا تَحْتَ تِلْكَ الْأَلْفَاظِ مِنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَلَا يَغْتَرُّ بِاللَّفْظِ، كَمَا قِيلَ فِي هَذَا الْمَعْنَى:

تَقُولُ هَذَا جَنَى النَّحْلِ تَمْدَحُهُ … وَإِنْ تَشَأْ قُلْتَ ذَا قَيْءُ الزَّنَابِيرِ

مَدْحًا وَذَمًّا وَمَا جَاوَزْتَ وَصْفَهُمَا … وَالْحَقُّ قَدْ يَعْتَرِيهِ سُوءُ تَعْبِيرِ

Ibnul Qayyim mengibaratkan syubhat seperti uang palsu yang bagian luarnya dilapisi perak. Orang yang tidak ahli akan tertipu oleh kilaunya. Adapun ahli uang akan memeriksa apa yang berada di balik lapisan tersebut.

Demikian pula sebuah pemikiran.

Kalimat yang menarik belum tentu benar.

Istilah yang buruk belum tentu menunjukkan isi yang buruk.

Istilah yang indah juga belum tentu menunjukkan isi yang benar.

Karena itu, jangan menilai gagasan hanya dari labelnya.

Macam-Macam Syubhat

Syubhat dapat dipetakan berdasarkan bentuk masuknya.

1. Syubhat tentang sumber kebenaran

Misalnya:

“Agama boleh diterima selama sesuai dengan logika manusia.”

Padahal akal yang sehat dan wahyu yang sahih tidak mungkin bertentangan secara hakiki.

Masalah muncul ketika dugaan manusia dianggap sebagai “akal”, kemudian dijadikan hakim atas wahyu.

Prinsip yang aman adalah:

akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk membatalkan wahyu yang telah sahih.

2. Syubhat karena salah memahami dalil

Dalilnya benar, tetapi cara menggunakannya keliru.

Misalnya:

  • satu ayat dipotong tanpa melihat ayat sebelum dan sesudahnya,
  • satu hadis dibaca tanpa penjelasan ulama,
  • hadis dhaif dianggap sahih,
  • dalil umum digunakan pada kasus khusus,
  • perbedaan pendapat dianggap sama dengan kebebasan memilih pendapat sesuka hati.

Di zaman media sosial, potongan video 30 detik dapat memberi kesan seolah persoalan agama yang rumit sudah selesai.

Padahal tidak.

3. Syubhat karena permainan istilah

Ini termasuk pelajaran besar dari Ibnul Qayyim.

Istilah seperti:

  • “kebebasan”,
  • “hak”,
  • “toleransi”,
  • “kesetaraan”,
  • “cinta”,
  • “kemanusiaan”,
  • “moderat”,
  • “inklusif”,
  • “akal sehat”,

tidak otomatis benar atau salah.

Yang harus diperiksa adalah:

  • Apa definisinya?
  • Apa konsekuensinya?
  • Apakah sesuai syariat?

Jangan sampai kita menerima sebuah pemikiran hanya karena namanya indah.

4. Syubhat karena mengikuti dugaan dan hawa nafsu

Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 23)

Kadang seseorang tidak mencari:

“Apa hukum Allah?”

Tetapi ia mencari:

“Pendapat mana yang cocok dengan keinginan saya?”

Ini berbahaya.

Syahwat kemudian mencari syubhat sebagai pengacara pembela.

5. Syubhat karena figur

  • “Tokoh besar mengatakan begitu.”
  • “Profesor tersebut mengatakan begitu.”
  • “Ustadz itu punya jutaan pengikut.”
  • “Konten itu sudah ditonton sepuluh juta kali.”

Semua itu bukan dalil.

Ulama bisa salah.

Akademisi bisa salah.

Tokoh populer bisa salah.

Yang menjadi ukuran adalah dalil dan kebenaran.

6. Syubhat karena niat baik

“Yang penting niatnya baik.”

Padahal niat baik tidak mengubah cara yang haram menjadi halal.

Seorang muslim memerlukan dua hal:

ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7. Syubhat scientism

Misalnya:

“Kalau tidak bisa dibuktikan di laboratorium, berarti tidak ada.”

Ini bukan sains, tetapi menjadikan metode empiris sebagai satu-satunya jalan mengetahui seluruh realitas.

Padahal banyak realitas tidak dibuktikan dengan eksperimen laboratorium.

Apalagi perkara ghaib yang sumber pengetahuannya adalah wahyu.

8. Syubhat relativisme

Misalnya:

“Semua kebenaran tergantung sudut pandang.”

  • Islam mengenal wilayah ijtihad.
  • Islam mengenal khilaf (beda pendapat).
  • Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa semua pendapat selalu sama benarnya.

Allah Ta’ala berfirman,

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147)

Apa Induk Syubhat yang Paling Berbahaya?

Di antara akar terbesar munculnya syubhat adalah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A‘raf: 33)

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu mencakup berbicara tanpa ilmu mengenai nama dan sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syariat-Nya. Penjelasan ini terdapat dalam I‘lām Al-Muwaqqi‘īn.

Mengapa begitu berbahaya?

Karena berbagai kesesatan bisa bermula dari seseorang yang berkata:

“Menurut Islam begini …”

padahal Allah tidak pernah mengatakannya.

Atau:

“Agama sebenarnya mengajarkan begini …”

tanpa ilmu.

Pada zaman media sosial, siapa pun dapat berbicara.

Namun kemampuan membuat konten tidak otomatis sama dengan kemampuan memahami agama.

Syubhat Zaman Sekarang Sering Datang Melalui Layar

Dahulu orang harus mendatangi majelis tertentu atau membaca buku tertentu untuk mendapatkan suatu pemikiran.

Sekarang syubhat bisa masuk saat seseorang sedang berbaring memegang telepon genggam.

Algoritma tidak bertanya:

“Apakah ilmu orang ini cukup?”

Algoritma hanya melihat:

“Apakah ia akan terus menonton?”

Satu video mengantarkan kepada video berikutnya.

Satu keraguan mengantarkan kepada keraguan berikutnya.

Sampai akhirnya seseorang tidak lagi tahu mana pertanyaan yang benar-benar ingin dijawab dan mana syubhat yang sengaja diproduksi untuk mengguncang keyakinan.

Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Takhrij: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976. Dinilai sahih oleh Al-Albani dan sahih dengan syawahid oleh Syu’aib Al-Arnauth.

Tidak semua kontroversi wajib kita ikuti.

Tidak semua debat wajib kita dengar.

Tidak semua syubhat wajib kita masukkan ke kepala.

Jangan Jadikan Hati Seperti Spons

Ini salah satu nasihat paling indah dari Ibnu Taimiyyah kepada Ibnul Qayyim.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَقَالَ لِي شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ــ وَقَدْ جَعَلْتُ أُورِدُ عَلَيْهِ إِيرَادًا بَعْدَ إِيرَادٍ ــ: «لَا تَجْعَلْ قَلْبَكَ لِلْإِيرَادَاتِ وَالشُّبُهَاتِ مِثْلَ السِّفِنْجَةِ، فَيَتَشَرَّبَهَا، فَلَا يَنْضَحُ إِلَّا بِهَا، وَلَكِنِ اجْعَلْهُ كَالزُّجَاجَةِ الْمُصْمَتَةِ، تَمُرُّ الشُّبُهَاتُ بِظَاهِرِهَا وَلَا تَسْتَقِرُّ فِيهَا، فَيَرَاهَا بِصَفَائِهِ، وَيَدْفَعُهَا بِصَلَابَتِهِ، وَإِلَّا فَإِذَا أَشْرَبْتَ قَلْبَكَ كُلَّ شُبْهَةٍ تَمُرُّ عَلَيْكَ صَارَ مُقَرًّا لِلشُّبُهَاتِ»

أَوْ كَمَا قَالَ؛ فَمَا أَعْلَمُ أَنِّي انْتَفَعْتُ بِوَصِيَّةٍ فِي دَفْعِ الشُّبُهَاتِ كَانْتِفَاعِي بِذَلِكَ.**

Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika ia terus mengajukan berbagai kerancuan kepada gurunya, Ibnu Taimiyyah menasihati:

“Jangan jadikan hatimu seperti spons yang menyerap seluruh syubhat hingga yang keluar darinya hanyalah syubhat. Jadikan ia seperti kaca yang padat dan bening. Syubhat melewati permukaannya tetapi tidak menetap di dalamnya. Dengan kejernihannya ia melihat syubhat, dan dengan kekuatannya ia menolaknya.”

Ibnul Qayyim kemudian mengatakan bahwa ia hampir tidak pernah mendapatkan nasihat dalam menghadapi syubhat yang lebih bermanfaat daripada nasihat tersebut.

Nasihat ini juga dinukil oleh IslamQA dan Islamweb dari Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1/139–140.

Untuk zaman ini, maknanya sederhana:

Jangan jadikan timeline sebagai guru akidah.

Bagaimana Menilai Sebuah Gagasan dengan Adil?

Ibnul Qayyim memberikan kaidah penting:

فَإِذَا أَرَدْتَ الِاطِّلَاعَ عَلَى كُنْهِ الْمَعْنَى: هَلْ هُوَ حَقٌّ أَوْ بَاطِلٌ؟ فَجَرِّدْهُ مِنْ لِبَاسِ الْعِبَارَةِ، وَجَرِّدْ قَلْبَكَ مِنَ النُّفْرَةِ وَالْمَيْلِ، ثُمَّ أَعْطِ النَّظَرَ حَقَّهُ، نَاظِرًا بِعَيْنِ الْإِنْصَافِ، وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ أَصْحَابِهِ وَمَنْ يُحْسِنُ ظَنَّهُ بِهِ نَظَرًا تَامًّا بِكُلِّ قَلْبِهِ، ثُمَّ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ خُصُومِهِ وَمَنْ يُسِيءُ ظَنَّهُ بِهِ كَنَظَرِ الشَّزْرِ وَالْمُلَاحَظَةِ.

فَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْعَدَاوَةِ يَرَى الْمَحَاسِنَ مَسَاوِيَ، وَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْمَحَبَّةِ عَكْسُهُ، وَمَا سَلِمَ مِنْ هَذَا إِلَّا مَنْ أَرَادَ اللَّهُ كَرَامَتَهُ وَارْتَضَاهُ لِقَبُولِ الْحَقِّ…

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَقَبُولِهِ، وَرَدِّ الْبَاطِلِ وَعَدَمِ الِاغْتِرَارِ بِهِ.**

Jika ingin mengetahui apakah suatu gagasan benar atau batil, lepaskan dahulu kemasan bahasanya. Bersihkan hati dari rasa cinta atau benci yang berlebihan. Kemudian lihatlah dengan adil.

Jangan sampai ketika tokoh yang kita sukai berbicara, kita mencari seribu alasan untuk membenarkannya.

Namun ketika orang yang tidak kita sukai berbicara, sejak awal kita sudah ingin menyalahkannya.

Kebenaran tidak berubah hanya karena siapa yang mengatakannya.

Cara Selamat dari Syubhat

1. Kuatkan ilmu sebelum sibuk mempelajari syubhat

Obat terbesar syubhat adalah ilmu.

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ketika hakikat ilmu telah memenuhi hati, syubhat tidak mudah memengaruhinya. Bahkan membantah syubhat dapat semakin menguatkan ilmu dan keyakinannya.

Maka, sebelum sibuk mempelajari berbagai penyimpangan, pelajari dahulu:

  • tauhid,
  • dasar iman,
  • Al-Qur’an,
  • Sunnah,
  • kaidah memahami dalil,
  • fikih dasar,
  • dan ilmu dari ulama yang dikenal lurus ilmunya.

Jangan membangun rumah mulai dari atap.

2. Jangan sengaja berburu syubhat

Ada orang yang merasa harus mengetahui seluruh keraguan agar dianggap berpikiran terbuka.

Padahal tidak semua racun harus dicicipi untuk mengetahui bahwa racun itu berbahaya.

Islamweb menasihati agar orang yang belum kuat ilmunya tidak sengaja memasuki ruang yang dipenuhi syubhat.

3. Kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa’: 59)

Ukuran kebenaran bukan:

“viral atau tidak”.

Namun:

“ada dalilnya atau tidak”.

4. Tanyakan kepada ahli ilmu

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Kalau menemukan konten agama yang mengguncang keyakinan:

  • jangan langsung berkomentar,
  • jangan langsung menyebarkan,
  • jangan langsung berdebat.

Catat.

Cari sumbernya.

Tanyakan kepada ahlinya.

5. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan

Ibnul Qayyim berkata:

وَقَوْلُهُ: «بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ عَقْلِهِ وَمَعْرِفَتِهِ، إِذْ تُؤَثِّرُ فِيهِ الْبَدَوَاتُ، وَتَسْتَفِزُّهُ أَوَائِلُ الْأُمُورِ، بِخِلَافِ الثَّابِتِ التَّامِّ الْعَقْلِ، فَإِنَّهُ لَا تَسْتَفِزُّهُ الْبَدَوَاتُ وَلَا تُزْعِجُهُ وَتُقْلِقُهُ؛ فَإِنَّ الْبَاطِلَ لَهُ دَهْشَةٌ وَرَوْعَةٌ فِي أَوَّلِهِ، فَإِذَا ثَبَتَ لَهُ الْقَلْبُ رُدَّ عَلَى عَقِبَيْهِ.
وَاللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ، فَلَا يَعْجَلُ، بَلْ يَثْبُتُ حَتَّى يَعْلَمَ وَيَسْتَيْقِنَ مَا وَرَدَ عَلَيْهِ، وَلَا يَعْجَلُ بِأَمْرٍ مِنْ قَبْلِ اسْتِحْكَامِهِ، فَالْعَجَلَةُ وَالطَّيْشُ مِنَ الشَّيْطَانِ.
فَمَنْ ثَبَتَ عِنْدَ صَدْمَةِ الْبَدَوَاتِ اسْتَقْبَلَ أَمْرَهُ بِعِلْمٍ وَحَزْمٍ، وَمَنْ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا اسْتَقْبَلَهُ بِعَجَلَةٍ وَطَيْشٍ، وَعَاقِبَتُهُ النَّدَامَةُ، وَعَاقِبَةُ الْأَوَّلِ حَمْدُ أَمْرِهِ، وَلَكِنَّ لِلْأَوَّلِ آفَةً مَتَى قُرِنَتْ بِالْحَزْمِ وَالْعَزْمِ نَجَا مِنْهَا، وَهِيَ الْفَوْتُ، فَإِنَّهُ لَا يُخَافُ مِنَ التَّثَبُّتِ إِلَّا الْفَوْتُ، فَإِذَا اقْتَرَنَ بِهِ الْعَزْمُ وَالْحَزْمُ تَمَّ أَمْرُهُ.
وَلِهَذَا فِي الدُّعَاءِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ».
وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ، وَمَا أُتِيَ الْعَبْدُ إِلَّا مِنْ تَضْيِيعِهِمَا أَوْ تَضْيِيعِ أَحَدِهِمَا، فَمَا أُتِيَ أَحَدٌ إِلَّا مِنْ بَابِ الْعَجَلَةِ وَالطَّيْشِ وَاسْتِفْزَازِ الْبَدَوَاتِ لَهُ، أَوْ مِنْ بَابِ التَّهَاوُنِ وَالتَّمَاوُتِ وَتَضْيِيعِ الْفُرْصَةِ بَعْدَ مُوَاتَاتِهَا، فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.

Ketika seseorang langsung ragu hanya karena datangnya satu syubhat kecil, itu menunjukkan betapa lemahnya akal dan ilmu orang itu. Ia seperti daun kering yang terhempas angin dari arah manapun.

Ia mudah gelisah dan terguncang hanya oleh kejutan kecil di permulaan.

Berbeda halnya dengan orang yang berakal matang dan tenang. Ia tidak mudah terguncang oleh badai pertama. Ia kokoh dalam pendirian.

Ya, memang kebatilan itu sering tampak mengejutkan dan menciutkan di awal—tapi jika hati tetap tenang, maka kebatilan itu akan roboh dengan sendirinya.

Allah menyukai dari hamba-Nya sikap tenang dan penuh pertimbangan. Jangan tergesa-gesa. Jangan langsung menilai sebelum benar-benar yakin.

Karena tergesa-gesa dan gegabah adalah dari setan.

Siapa yang mampu tenang saat diterpa ujian pertama, ia akan menghadapi masalahnya dengan ilmu dan ketegasan. Namun yang panik dan terburu-buru, akan meresponnya dengan kecerobohan dan nafsu sesaat. Akhirnya? Penyesalan.

Sedangkan bagi yang tenang dan teguh? Ujungnya adalah pujian dan keberhasilan.

Namun, ada satu ujian dari sikap tenang: yaitu risiko kehilangan momentum. Namun jika ketenangan itu diiringi dengan tekad kuat dan keputusan tegas, maka ia akan aman dan berhasil.

Tak heran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan, dan kemauan yang kuat untuk menuju jalan yang benar.”

Dua kalimat ini adalah kunci keberhasilan.

Tak ada orang gagal kecuali karena mengabaikan keduanya—atau salah satunya.

Semua keburukan datang dari dua pintu:

  1. Karena terlalu cepat, tergesa-gesa, dan gegabah.
  2. Karena terlalu santai, menunda-nunda, dan membiarkan kesempatan berlalu.

Jika seseorang memiliki keteguhan hati di awal, lalu kemauan kuat untuk bergerak maju, maka itulah kemenangan sejati.

Dan hanya Allah-lah Pemilik taufik.

Kebatilan kadang mengejutkan ketika pertama kali didengar.

Jangan panik.

Jangan langsung mengambil kesimpulan.

Tenangkan hati.

Cari ilmu.

Periksa sumber.

Kemudian putuskan berdasarkan ilmu.

6. Bedakan antara pertanyaan dan pemberontakan terhadap wahyu

Kalimat:

“Saya belum memahami hikmah hukum ini.”

berbeda dengan:

“Kalau saya tidak memahami hikmahnya, berarti hukum Allah salah.”

Yang pertama adalah pertanyaan.

Yang kedua sudah membawa sebuah premis yang keliru.

Tidak mengetahui hikmah bukan berarti hukum Allah tidak memiliki hikmah.

7. Waspadai hawa nafsu yang memakai baju argumentasi

Terkadang syubhat datang setelah keinginan.

Seseorang sudah ingin melakukan sesuatu, kemudian ia mencari dalil pembenarannya.

Contohnya:

“Saya ingin transaksi ini. Cari pendapat yang membolehkan.”

Seharusnya:

“Apa hukum Allah tentang transaksi ini?”

Ini perbedaan antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran.

8. Jangan menilai agama hanya berdasarkan pengalaman buruk pemeluknya

Misalnya ada suami melakukan kezaliman, kemudian seseorang menyimpulkan:

“Berarti konsep kepemimpinan suami dalam Islam bermasalah.”

Itu tidak tepat.

Kesalahan pelaku tidak otomatis membatalkan ajaran.

Bedakan antara:

Islam dan kesalahan sebagian kaum muslimin.

9. Perbanyak membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an bukan hanya bacaan.

Ia adalah petunjuk.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Semakin seseorang mengenal kebenaran, semakin mudah ia mengenali yang palsu.

10. Berdoalah meminta keteguhan

Ibnul Qayyim menukil doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad kuat untuk mengikuti petunjuk.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, no. 1304 dan Ahmad, no. 17133 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.

Ibnul Qayyim mengatakan:

وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ… فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.

“Dua kalimat ini menghimpun sebab keberuntungan. Jika seseorang memiliki keteguhan terlebih dahulu, kemudian tekad yang kuat, ia akan memperoleh keberhasilan. Allah-lah pemberi taufik.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

(HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad; hadis sahih).

Takhrij: Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, no. 26519. Syu’aib Al-Arnauth menilainya sahih dengan berbagai penguat.

Rumus Praktis Menghadapi Syubhat di Media Sosial

Ketika menemukan satu pernyataan agama yang membuat hati terguncang, jangan buru-buru percaya.

Gunakan pertanyaan sederhana berikut:

  1. Siapa yang berbicara?
  2. Apakah ia memahami bidang tersebut?
  3. Apa dalilnya?
  4. Bukan hanya kalimatnya menarik.
  5. Apakah dalil tersebut sahih?
  6. Apakah dalilnya dipahami secara utuh?
  7. Apakah ada dalil lain yang perlu digabungkan?
  8. Bagaimana para ulama menjelaskan masalah tersebut?
  9. Apakah saya menyukai pendapat ini karena benar atau karena sesuai keinginan saya?

Pertanyaan terakhir sering menjadi ujian paling berat.

Dari Syubhat Menuju Kesesatan

Alur yang berbahaya bisa seperti ini:

Kurang ilmu
↓
Terpapar syubhat
↓
Mulai ragu
↓
Tidak mencari jawaban kepada ahlinya
↓
Terus mengonsumsi syubhat serupa
↓
Kebatilan terlihat masuk akal
↓
Kebenaran terasa asing
↓
Ḍalālah—tersesat dari petunjuk

Adapun jalan keselamatan:

Al-Qur’an dan Sunnah
↓
Ilmu
↓
Bashirah
↓
Tatsabbut
↓
Mengikuti ulama
↓
Menjauhi syubhat yang tidak diperlukan
↓
Doa dan amal saleh
↓
Tsabāt—keteguhan

Nasihat Terakhir: Jangan Jadikan Hati Tempat Sampah Syubhat

Tidak semua yang muncul di layar harus masuk ke dalam hati. Jangan merasa semakin banyak keraguan yang kita konsumsi berarti semakin luas wawasan kita, karena Ibnul Qayyim justru mengingatkan bahwa menampung semua syubhat dapat membuat hati menjadi tempat tinggal syubhat. Bekali diri dengan ilmu, dekatlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bertanyalah kepada ahli ilmu ketika menemukan perkara yang tidak dipahami. Keselamatan agama jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan di media sosial.

Semoga Allah menjaga hati kita dengan doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi

  1. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (1432 H). Miftāḥ dār al-sa‘ādah wa mansyūr wilāyat al-‘ilm wa al-irādah (A. ibn H. ibn Qā’id, Ed., 1st ed.). Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami & Dār ‘Ālam Al-Fawā’id.
  2. Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah—Al-Maktabah Al-Waqfiyyah
  3. Islam Question & Answer. (n.d.). Kayfa tudfa‘ al-syubuhāt fī bāb al-qadar. IslamQA.
  4. IslamQA—Bahaya dan cara menghadapi syubhat
  5. Islam Question & Answer. (n.d.). Tasaluth al-syaithān ‘alaihi bi al-syahawāt al-muharramah wa al-syubuhāt al-bāthilah. IslamQA.
  6. IslamQA—Nasihat hati seperti kaca, bukan spons
  7. Islamweb. (n.d.). Waṣiyyah qayyimah li dar’i al-syubuhāt wa al-mubtada‘āt. Islamweb.
  8. Islamweb—Wasiat menghadapi syubhat
  9. Tuasikal, M. A. (2009, October 17). Berbicara agama tanpa ilmu lebih bahaya dari dosa kesyirikan. Rumaysho.Com.
  10. Rumaysho.Com—Berbicara agama tanpa ilmu
  11. Tuasikal, M. A. (2022). Lebih dari 100 keutamaan orang berilmu dari kitab Miftah Daar As-Sa‘adah. Rumaysho.Com.
  12. Rumaysho.Com—Keutamaan ilmu dari Miftah Daar As-Sa‘adah
  13. Al-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Al-ḥalāl bayyin wa al-ḥarām bayyin.
    Dorar—Hadis halal, haram, dan perkara syubhat
  14. Al-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Yā muqallibal-qulūb tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
    Dorar—Hadis doa keteguhan hati
  15. Al-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Allāhumma innī as’aluka al-tsabāta fī al-amr.
    Dorar—Doa memohon keteguhan dan tekad mengikuti petunjuk

—–

Senin Pagi, 22 Rabiul Akhir 1448 H, 5 Oktober 2026 di Perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Kajian Khadijah Community di Masjid RS JIH Jogja

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42870-jauhi-syubhat-agar-tak-sesat.html

Khasiat Kurma Ajwa (Kurma Madinah) dari Hadits Nabi

Salah satu keutamaan kota Madinah adalah Allah memberikan sisi keberkahan.

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ سَمَّى المَدِيْنَةَ طَابَةً

“Sesungguhnya Allah menyebutkan kota Madinah dengannama: THOBAH (Thayyibah).” (HR. Muslim, no. 1385)

Keutamaan Kurma Madinah

Mengenai keutamaan kurma Madinah disebutkan dalam hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِىَ

“Siapa yang makan tujuh butir kurma yang berasal dari Madinah ketika pagi, maka racun-racun tidak akan membahayakannya sampai sore.” (HR. Muslim, no. 5459).

Khasiat Kurma

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kurma itu bisa menguatkan (menajamkan) penglihatan dan sangat mujarab. Dan sangat mujarab jika digunakan berbuka sebelum lainnya. Itu kata Ibnul Qayyim. 

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ

“Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi, dan Imam Ahmad. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

Alasannya, kita bisa ambil pelajaran jika di pagi hari ketika baru bangun tidur sebelum mengkonsumsi lainnya, lalu memakan 7 butir kurma, maka dapat mengatasi sihir dan racun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5779 dan Muslim, no. 2047). 

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah bahwa yang dimaksud kurma ajwa di sini hanyalah sebagai contoh (permisalan). Manfaat kurma yang disebutkan dalam hadits tadi sebenarnya berlaku untuk seluruh kurma (bukan hanya kurma ajwa). Inilah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dari perkataan gurunya.

Kesimpulannya, kurma yang dimaksud dapat mengatasi racun dan sihir adalah kurma secara umum, walau memang kurma yang utama adalah kurma dari kota Nabi, Madinah.

—

Madinah Kota Nabi, 18 Safar 1444 H, 15 September 2022

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/34635-khasiat-kurma-ajwa-kurma-madinah-dari-hadits-nabi.html

Dakwah Tanpa Teladan Adalah Bumerang

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:  

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ   

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada hari kiamat akan didatangkan seorang laki-laki lalu dicampakkan ke dalam neraka. Ususnya pun terburai keluar sehingga ia berputar-putar di dalam neraka sebagaimana keledai berputar mengelilingi batu penggilingan. Lalu para penghuni neraka berkumpul mengelilinginya dan bertanya: ‘Wahai Fulan, mengapa engkau diazab seperti ini? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami berbuat baik dan melarang kami berbuat mungkar?’ Ia menjawab: ‘Benar, dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik, namun aku sendiri tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian berbuat mungkar, namun aku sendiri mengerjakannya.’” [HR. Bukhari no 3267 dan Muslim no 2989. Lafaz ini milik Muslim]

Pelajaran Penting dari Hadits:

  1. Ancaman keras bagi orang yang ucapannya bertentangan dengan perbuatannya. Siksaan bagi orang yang menyuruh orang lain berbuat baik tetapi ia sendiri tidak melakukannya, serta melarang orang lain berbuat mungkar tetapi ia sendiri melakukannya, akan dilipatgandakan. Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa azab bagi orang berilmu yang bermaksiat lebih berat dibandingkan orang awam.
  2. Hadits ini menganjurkan agar seseorang mendahulukan perbaikan pada dirinya sendiri sebelum orang lain, yaitu memerintahkan dirinya untuk berbuat baik dan melarang dirinya dari kemungkaran. Akan tetapi, bukan berarti apabila seseorang pernah terjerumus dalam kesalahan, ia boleh meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Demikian pula, bukan berarti karena dirinya belum sempurna dalam kebaikan, ia boleh berhenti memerintahkan kebaikan kepada orang lain.

[Referensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid. Hal. 176]

Wallahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz : Nurhadi Nugroho hafidzhohullah

sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-198-dakwah-tanpa-teladan-adalah-bumerang/