Nikmat Tauhid bagi Negeri Ini
Bismillah …
Setiap insan menghendaki kebahagiaan. Setiap muslim pasti mendambakan kemuliaan. Adalah menjadi anugerah yang begitu besar bagi manusia ketika Allah berikan petunjuk kepada mereka untuk meniti jalan yang lurus; jalan yang mengantarkan menuju surga.
Banyak orang beranggapan bahwa nikmat itu adalah ketika Anda bisa hidup nyaman dengan segala fasilitas dan kemewahan. Banyak orang mengira bahwa nikmat itu adalah ketika Anda bisa kenyang menyantap berbagai menu makanan dan aneka kuliner kesukaan. Tidak jarang pula orang menilai bahwa nikmat itu adalah ketika menjadi sosok yang tenar dan dipuja oleh jutaan penggemar dan simpatisan. Alangkah dangkal ilmu dan pemahaman kita kalau begitu …
Bukankah nikmat yang hakiki adalah kenikmatan yang membawa kita menuju surga. Seperti yang dilukiskan oleh Abu Hazim Rahimahullah dalam sebuah petuahnya yang sangat indah -yang kami dengar seingat kami pertama kali ucapan beliau ini dari lisan Ustaz Dzulqarnain Hafizhahullah dalam sebuah pengajian di Masjid Pogung Raya Yogyakarta- bahwa, “Setiap nikmat yang tidak semakin menambah dekat kepada Allah sesungguhnya itu adalah malapetaka (bencana).”
Di antara sekian banyak nikmat yang menuntun hamba menuju surga, tauhid adalah nikmat yang tiada duanya. Sebab tauhid adalah kunci surga dan sebab diterimanya amal. Dengan tauhid pula, manusia akan selamat dari kekekalan azab neraka.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. al-Maaidah: 72).
Dengan demikian, berkembangnya dakwah tauhid adalah anugerah dan nikmat bagi negeri dan bangsa ini, bukan justru ancaman atau malapetaka yang harus diwaspadai. Dakwah tauhid melandaskan seruannya kepada al-Kitab dan as-Sunnah yang akan membimbing umat manusia menuju kebahagiaan yang hakiki. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka” (QS. Thaha: 123).
Dakwah tauhid adalah jalan hidup Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara memusuhi dan menentang dakwah tauhid merupakan jalan menuju kehancuran. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً
“Barangsiapa menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan kaum beriman, niscaya Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih. Dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali” (QS. an-Nisaa’: 115).
Ya, tauhid ini adalah nikmat yang paling agung. Dakwah tauhid ini merupakan anugerah yang paling utama bagi umat manusia. Tidaklah ada seorang pun nabi, melainkan dia menyeru kepada tauhid dan mengajak umat kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja” (QS. al-Anbiyaa’: 25).
Inilah yang disinggung oleh Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dalam penggalan mukadimah kitabnya Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah yang mengatakan, “Betapa indah pengaruh yang ditinggalkan oleh para ulama pada diri umat manusia, namun betapa jelek tangapan manusia terhadap mereka … ”
Pengaruh dakwah para ulama yang paling pokok adalah dakwah tauhid. Dengan perjuangan para ulama Sunnah -setelah taufik dari Allah- maka manusia mengenali tauhid dan syirik. Dengan keterangan yang disampaikan para ulama maka manusia dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Inilah yang disinggung oleh Imam Hasan al-Bashri dalam salah satu petuahnya, “Kalau bukan karena keberadaan ulama, niscaya manusia itu seperti binatang.”
Para ulama adalah pewaris nabi-nabi, sementara para nabi tidak meninggalkan warisan berupa uang emas atau uang perak. Akan tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu agama. Dan ilmu agama yang paling penting dan paling wajib adalah ilmu tauhid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama” (HR. Bukhari dan Muslim).
Merupakan keanehan yang sungguh mengenaskan; ketika manusia sangat-sangat membutuhkan tauhid dan petunjuk yang benar di dalam beragama justru banyak orang juga berupaya mati-matian untuk memadamkan cahaya Allah ini … Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan lisan-lisan mereka. Akan tetapi, Allah Ta’ala enggan kecuali tetap menyempurnakan cahaya-Nya … “Benar-benar Allah akan membela orang-orang yang berjuang membela agama-Nya … ”
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, seperti dikatakan dalam pepatah arab ‘an-naasu a’daa-u maa jahiluu’ artinya, ‘manusia itu cenderung memusuhi apa-apa yang tidak mereka ketahui’. Inilah yang terjadi ketika banyak di antara masyarakat kita ini -yang notabene mayoritas muslim, tetapi secara kualitas masih jauh dari pemahaman yang benar tentang agama- justru alergi dengan dakwah tauhid, bahkan cenderung memusuhi dan menolaknya -kecuali yang diberi taufik oleh Allah-.
Inilah salah satu pelajaran yang bisa kita petik dari sebuah riwayat yang masyhur dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan akan datangnya suatu masa dimana ketika itu orang yang berpegang teguh dengan agamanya laksana orang yang memegang bara api.
Betapa banyak di negeri ini kita jumpai kubur-kubur orang saleh yang dikeramatkan dan dipuja-puja! Betapa banyak di negeri ini kita dengar praktek perdukunan dan paranormal yang dipromosikan dan laris manis di masyarakat dari berbagai lapisan. Betapa akrab telinga dan media informasi kita dengan kabar tentang acara-acara persembahan dan sesaji untuk ini dan itu dengan dalih demi melestarikan peninggalan nenek-moyang dan menyemarakkan pariwisata! Wa ilallahil musytaka ‘kepada Allah semata tempat kita mengadu dan mengiba.’
Ketika para dai tauhid menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya, banyak orang pun marah dan murka! Ketika disebutkan nama Allah semata hati mereka menjadi kesal dan geram, tetapi ketika disebutkan bersama Allah sesembahan dan pujaan selain-Nya mereka pun riang gembira… Subhanallah wallahu akbar!
Inilah sunnatullah di muka bumi ini. Akan selalu ada pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Bukanlah sebuah sikap yang bijak dan lurus ketika manusia berupaya mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan. Sikap yang benar adalah tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah dengan sepenuhnya. Inilah garis dan jalan yang harus kita patuhi.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
“Dan tidaklah pantas bagi seorang lelaki beriman atau perempuan beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan lainnya bagi urusan mereka itu. Barangsiapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata” (QS. al-Ahzab: 36).
Imam Malik Rahimahullah berpesan kepada kita, “as-Sunnah [ajaran nabi] ini adalah ‘bahtera’ Nuh. Barangsiapa menaikinya pasti selamat, dan barangsiapa yang dengan sengaja tidak mau menumpang di atasnya maka dia pasti tenggelam.”
Imam Malik Rahimahullah juga berkata, “Tidak akan memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang memperbaiki generasi awalnya.”
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk Ahlus Sunnah dan mewafatkan kita di atas Sunnah.
Penulis: Ari Wahyudi, S.Si
Sumber: https://muslim.or.id/60686-nikmat-tauhid-bagi-negeri-ini.html
Copyright © 2024 muslim.or.id
[Kitabut Tauhid 7] 14 Hidayah hanya milik Allah 14
Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Asalnya, orang kafir tidak akan mendapatkan syafa’at. Tetapi Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam- diberi kekhususan sebagai bentuk pemuliaan terhadap Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dimana Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam- mendapatkan hak untuk memberikan syafa’at kepada pamannya agar diringankan adzabnya (bukan dikeluarkan dari Neraka).
- Kita tidak boleh mengatakan bawa ada orang kafir (musyrik) selain selain Abu Thâlib yang akan mendapat syafa’at Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, siapapun orangnya. Sebagaimana Kita tidak boleh mengatakan bahwa ada Nabi selain Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang akan diizinkan untuk memberi syafa’at kepada orang kafir (musyrik).
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“
Hukum Memakai Sepatu Sambil Berdiri
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Bagaimanakah hukum memakai sepatu sambil berdiri? Berikut adalah penjelasan dari para ulama mengenai hal ini.
Sebenarnya tidak mengapa mengenakan sepatu sambil berdiri. Namun mengenakannya dalam keadaan seperti itu butuh dengan pertolongan tangan atau amat sulit sekali jika mengenakannya sambil berdiri. Jadi lebih afdhol mengenakan sepatu tersebut sambil duduk, cara inilah yang lebih baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْتَعِلَ الرَّجُلُ وَهُوَ قَائِمٌ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang mengenakan alas kaki (sepatu) sambil bediri.” (HR. Tirmidzi no. 1697, Abu Daud no. 3606 dari Jabir. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah 719)
Al Khottobi rahimahullah berkata, “Di sini mengapa terlarang mengenakan sepatu sambil berdiri karena mengenakannya sambil duduk sebenarnya lebih mudah. Sedangkan mengenakannya sambil berdiri dapat membuat seseorang terjatuh. Maka perintah untuk mengenakan alas kaki sambil duduk dan dengan pertolongan tangan, supaya aman dari hal-hal yang menyusahkan.” (Ma’alimus Sunan, 4/203)
Al Munawi rahimahullah berkata, “Perintah dalam hal ini adalah dengan maksud al irsyad (menunjukkan manakah yang lebih baik). Karena jika seseorang mengenakannya sambil duduk itu lebih mudah. Ath Thibi dan lainnya mengkhususkan larangan dari hadits di atas jika seseorang mengenakan sepatu karena jika mengenakannya sambil berdiri dapat menyebabkan keletihan.” (Faidul Qodir, 6/441)
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Larangan mengenakan alas kaki sambil berdiri adalah khusus untuk alas kaki yang butuh pertolongan tangan untuk dimasukkan (seperti sepatu). Karena alas kaki semacam itu jika dikenakan sambil berdiri maka itu butuh memasukkannya dengan tangan. Bahkan bisa jadi terjatuh jika seseorang mengenakan alas kaki semacam itu dengan berdiri. Adapun alas kaki di tengah-tengah kita saat ini (seperti sendal atau sendal jepit), maka tidak ada masalah jika dikenakan sambil berdiri dan sama sekali tidak masuk dalam larangan dalam hadits. Karena sendal yang ada saat ini mudah sekali dilepas dan dikenakan. Wallahul muwaffiq.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 1/1953, penomoran di Syamilah)
Wallahu waliyyut taufiq.
Sumber: http://islamqa.com/ar/ref/164505
Sore hari di Warnet Dojo, Pogung Kidul – Yogyakarta, 9 Ramadhan 1432 H (08/09/2011)
Sumber https://rumaysho.com/1936-hukum-memakai-sepatu-sambil-berdiri.html
Kemerdekaan yang Hakiki Menjadi Hamba Allah
Merdeka adalah lawan dari perbudakan. Tentu kita semua ingin merdeka dan merasa bebas, nyaman dan bahagia dalam menjalani hidup. Kita juga tidak ingin terkekang, terbatasi, dan tidak bebas dalam menjalani kehidupan atau ada sesuatu yang memperbudak kita.
Bagi seorang muslim, kemerdekaan dan kebahagiaan sejati adalah menjadi hamba Allah sepenuhnya dan merasa bahagia dengan menunaikan hak Allah dalam tauhid. Merasa bahagia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Merasa bahagia berakhlak mulia, membantu sesama, serta memudahkan urusan orang lain.
Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini. Beliau rahimahullah berkata,
العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابدا لغيره
“Menjadi hamba Allah adalah kemerdekaan yang hakiki, Barang siapa yang tidak menghamba kepada Allah, dia akan menjadi hamba kepada selain-Nya”. (Al-Majmu’ Al-Fatawa, 8: 306)
Menjadi budak dunia dan budak hawa nafsu itu belumlah merdeka. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa manusia bisa menjadi budak dunia dan budak harta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔِ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi, dia senang. Tetapi jika tidak diberi, dia marah.” (HR. Bukhari)
Bagaimana dunia dan harta memperbudak manusia? Yaitu dengan mendorong manusia menjadi tamak dan tidak pernah puas. Misalnya, dunia dan harta yang telah memperbudak dengan seolah-olah mengatakan,
“Carilah harta yang banyak.”
“Cari lagi harta tersebut, kalau perlu lembur.”
“Cari lagi harta tersebut, kalau perlu halalkan segala cara.”
Kita pun melakukan semua perintah harta dan dunia tersebut, seolah-olah harta dan dunia memperbudak kita dan kita ikuti semua perintahnya. Adanya ketamakan atas dunia karena kita juga diperbudak oleh hawa nafsu kita. Hawa nafsu inilah yang banyak menjadikan manusia tersesat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ فَأَمَّا ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ و ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ والعلانيةِ وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا
“Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: (1) kebakhilan dan kerakusan yang ditaati; (2) hawa nafsu yang diikuti; dan (3) seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah: (1) takut kepada Allâh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak; (2) sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan; dan (3) (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan rida” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 1802).
Hawa nafsu juga banyak menyesatkan manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ
“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-An’am: 119)
Hawa nafsu yang tidak terkendali akan membawa kita ke arah keburukan yang terus menerus.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yusuf,
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (QS. Yusuf: 53).
Apabila masih diperbudak harta dan dunia, kita belum merdeka sepenuhnya.
Masih banyak manusia yang terjebak dalam hal ini. Alih-alih menghamba kepada Allah, malah menghamba kepada hawa nafsu dan setan.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Nuniyyah,
هَربوا من الرق الذي خُلقوا له فبُلُوا برِقِّ النفس والشيطان
“Mereka lari dari penghambaan (menjadi budak Allah) di mana mereka diciptakan untuk itu, lalu mereka dihukum dengan penghambaan kepada hawa nafsu dan setan.” (At-Ta’liqaat Al-Fatawa Al-Hamawiyah Syaikh Al-Fauzan hal. 59).
Dengan menjadi hamba Allah yang sejati yang menunaikan hak Allah itulah kemerdekaan yang mengantarkan kepada kebahagiaan.
Karena hakikat kehidupan adalah beribadah kepada Allah semata dan melaksanakan perintah-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Menjadi hamba Allah, beribadah mentauhidkan Allah, serta menjalankan perintah-Nya adalah sumber kebahagiaan. Hal ini dibahas dalam kitab tauhid agar kita benar-benar menghambakan diri kepada Allah. Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah menjelaskan tanda hamba yang bertauhid. Beliau rahimahullah berkata,
إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة
“(1) jika diberi kenikmatan, dia bersyukur; (2) jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar; (3) dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat). Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’)
Semoga kita bisa menjadi hamba yang senantiasa beribadah kepada-Nya dan tidak menjadi budak dunia dan hawa nafsu. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Nuniyyah,
وَعِبَادَةُ الرَّحْمٰنِ غَايَةُ حُبِّــهِ مَعَ ذُلِّ عَابِـدِهِ هُمَـا قُـطْبَـانِ
وَعَلَيْهِمَا فَلَكُ الْعِبَادَةِ دَائِرٌ مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الْقُـطْبَـانِ وَمَدَارُهُ بِالْأَمْرِ أَمْرِ رَسُوْلِـهِ لَا بِالْهَوَى وَالنَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ
“Ibadah kepada Allah adalah puncak cinta kepada-Nya …
Disertai ketundukan hati orang yang beribadah kepada-Nya, keduanya adalah poros ibadah …
Di atas kedua poros tersebutlah garis ibadah berputar …
Dia tidak akan berputar sampai dua poros tersebut tegak …
Dengan melaksanakan agama yang merupakan perintah Rasul-Nya …
Bukan mengikuti hawa nafsu, dorongan hati, dan mengikuti setan … ” (Syarh Qasidah Ibnil Qayyim, 1: 253).
Demikian, semoga bermanfaat.
—
@ Lombok, Pulau Seribu Masjid
Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/68193-kemerdekaan-yang-hakiki-menjadi-hamba-allah.html
Copyright © 2024 muslim.or.id
Akhlak Mulia Kepada Tetangga
0 3,626 2 minutes read
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله
Masalah adab bertetangga adalah masalah yang besar, bahkan disebutkan orang yang menyia-nyiakan hak tetangga akan menghalangi seseorang akan masuk surga.
Disebutkan dalam sebuah hadits, ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan menceritakan tentang perihal seorang wanita yang rajin shalat malam dan puasa di siang hari, akan tetapi dia tidak bisa menjaga lidahnya dengan selalu menyakiti tetangganya, maka Rasulullah mengatakan kepadanya: Tidak ada kebaikan pada dirinya, dia termasuk penghuni neraka.[1]
Hak Kepada Tetangga
Berkaitan dengan hak tetangga sangatlah diperhatikan dalam syari’at ini. Lihatlah bagaimana rasulullah ketika menuturkan dirinya di saat malaikat jibril alaihis salam yang selalu datang kepadanya dan mengatakan:
” ما زال جبريل يوصيني بالجارحتى ظننت أنه سيورثه “.
“Senantiasa jibril alaihis saalam mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetanga sampai aku menyangka dia akan mendapatkan warisan” (HR. Bukhari: 104 dalam Adabul Mufrad)
Di antara bentuk adab seorang muslim terhadap tetangga adalah:
Memilih Tetangga Yang Baik Di Sekitarnya
Dalam hadits disebutkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“أربع من السعادة: المرأة الصالحة، والمسكن الواسع، والجار الصالح، والمركب الهنيء”
“Ada empat hal seorang mendapatkan kebahagian, yaitu istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.” (HR.Ibnu Hibban: 4032)
Mencintai Tetanga
Dan juga Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyebutkan dalam haditsnya:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ – أَوْ قَالَ لأَخِيهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
“Demi Allah, seorang hamba tidak akan beriman sampai dia mencintai tetangganya –atau beliau mengatakan: untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya” (HR. Muslim: 180)
Bahkan juga Rasulullah صلى الله عليه وسلم jelas mengatakan:
“ليس المؤمن الذي يشبع، وجارُه جائع”.
“Bukanlah termasuk orang yang beriman yang merasakan kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad: 112 dan disahihkan oleh syaikh Albani dalam As-Shahihah: 149)
Tidak Mengganggu Tetangga
Menyakiti tetangga ada beberapa bentuknya, bisa dengan ucapan misalnya mencaci makinya dan menghinanya. Atau dengan perbuatan, misalnya dengan memukulnya, Maka ini termasuk perkara yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan ini bukanlah termasuk sifat orang beriman yang suka berbicara kotor atau melaknat dan berbuat keji.
Karena syariat begitu perhatiannya dalam masalah ini, yang sangat erat hubungannya antara keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir yaitu dengan berbuat baik kepada tetangganya.
Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
« مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِى جَارَهُ »
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya” (HR. Bukhari: 5185)
Bahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersumpah sebanyak tiga kali menyatakan seseorang tidak akan sempurna imannya dengan selalu menyakiti tetangganya dengan gangguannya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن قالوا وما ذاك يا رسول الله قال جار لا يأمن جاره بوائقه قالوا فما بوائقه يا رسول الله قال شره
“Demi Allah tidak akan beriman (beliau mengatakan sebanyak 3 kali) maka para sahabat bertanya: kenapa ya Rasulullah! Maka dia mengatakan: seseorang yang tidak merasakan aman tetangganya karena gangguannya,mereka bertanya, seperti apa gangguannya, maka rasul menjawab: berupa kejelekannya” (HR. Al-hakim dalam Mustadrak: 21)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
«لا يدخل الجنة من لا يأمَن جارُه بوائقه»
“Tidak akan masuk surga orang yang tidak merasakan aman tetangganya karena dengan gangguannya”
Bersabar Terhadap Tetangga
Sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam haditsnya tentang tiga hal yang dicintai Allah, salah satunya beliau sebutkan tentang:
رَجُلٌ لَهُ جَارُ سَوْءٍ فَهُوَ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ فَيَكْفِيهِ اللَّهُ إِيَّاهُ بِحَيَاةٍ أَوْ مَوْتٍ
“Seseorang yang memeiliki tetangga yang buruk akhlaknya, maka tetangga tersebut menyakitinya maka dia bersabar terhadap gangguannya maka Allah akan mencukupinya dengan berbuat baik kepadanya dengan kematian atau kehidupan” (HR. Baihaqi di As-Sunan Al-Kubra: 18971)
Berbuat Baik Kepada Tetangga Yang Muslim Maupun Non Muslim.
Tidak diragukan bahwasanya Rasulullah memiliki akhlak yang mulia. Seperti halnya Allah memuji nabi-Nya dengan akhlak yang mulia, maka tercermin dalam kehidupan sehari-harinya dengan berbuat baik kepada tetangganya baik yang muslim maupun non muslim.
Lihatlah bagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika salah seorang sahabatnya Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu anhu ketika menyembelihkan kambing untuk beliau dan berkata kepada budaknya, seraya mengatakan: “apakah engkau sudah memberikan hadiah untuk orang yahudi ? apakah engkau sudah memberikan untuk orang yahudi?” Karena aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“senantiasa jibril alaiahis salam mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetanga sampai aku mengira akan mendapatkan warisan terhadapnya”.
والله تعالى أعلم وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
[1] Lihat al-mustadrak al-hakim : 7305
sumber : https://www.pesantrenluluwalmarjan.org/akhlak-mulia-kepada-tetangga/
MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN
- Ada 3 hal yang kita lakukan untuk mensyukurinikmat kemerdekaan:
- mensyukuri denganhati, yaitu mengakui secara tulus bahwa nikmat kemerdekaan ini datang dari Allah semata.
- mensyukuri dengan lisan, yaitu menyebut-nyebut nikmattersebut dan mendoakan para pahlawan muslim yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa.
- mensyukuri dengan raga, yaitu dengan menegakkan Islampada diri-diri pribadi kita dan masyarakat.
- Efek jika tidak mau bersyukur maka bencana dan musibah yang akan terjadi
- Pemborosan dan foya-foya bukanlah wujud rasa syukur, bahkan bisa menjadikan kita temannya setan
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku”
(Q.S. Ibrahim: 7).
—
Kemerdekaan negeri kita dari penjajahan dan keamanan masyarakatnya untuk bisa beraktivitas melaksanakan segala keperluan yang mereka butuhkan adalah suatu nikmat yang sangat besar. Namun, mungkin kita baru merasakan berharganya nikmat tersebut ketika nikmat itu tercabut –na’udzubillah- sebagaimana nikmat-nikmat lainnya. Karenanya, kewajiban kita adalah mensyukuri nikmat tersebut, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), “Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku” (Q.S. Ibrahim: 7).
Lantas, bagaimana mensyukuri nikmat kemerdekaan dan keamanan ini? Ada 3 hal yang kita lakukan untuk mensyukurinya : (1) mensyukuri dengan hati, (2) mensyukuri dengan lisan, (3) mensyukuri dengan raga. Mari kita bahas satu persatu.
Mensyukuri Dengan Hati
Bersyukur dengan hati adalah dengan mengakui secara tulus bahwa nikmat kemerdekaan dan kemanan ini adalah datang dari Allah semata. Simple memang, namun ini bentuk syukur yang sangat penting karena hati adalah penggerak. Ketika hati benar-benar bersyukur dengan mengakui bahwa kenikmatan adalah dari Allah, maka akan mudah bagi lisan dan anggota badan untuk menunaikan kewajiban (konsekuensi) bersyukurnya. Sebaliknya, kalau hati mengingkari, akan berat bagi lisan dan anggota badan untuk bersyukur. Kalaupun bersyukur, hanya alakadarnya saja, bahkan bisa terjerumus ke dalam kemunafikan. Bahkan hati inilah yang menjadi pembeda orang yang benar-benar bersyukur dan orang yang ingkar.
Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi (yang artinya), “Pada pagi hari, hamba-Ku ada yang beriman dan ada yang kufur pada-Ku. Mereka yang mengatakan, “Kita diberi hujan karena rahmat Allah dan karunia–Nya” maka dia beriman pada-Ku dan kufur pada bintang-bintang. Adapun mereka yang mengatakan, “Kita diberi hujan karena sebab bintang ini dan itu, maka dia telah kufur kepada–Ku dan beriman pada bintang-bintang”” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Mensyukuri Dengan Lisan
Bersyukur dengan lisan adalah dengan kita menyebut-nyebut nikmat tersebut dalam rangka mensyukuri Allah yang telah memberikannya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan terhadap nikmat Tuhan-mu maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (Q.S. Adh Dhuha: 11).
Alhamdulillah, para pendahulu kita pun telah menyadari hal ini sehingga di dalam teks pembukaan UUD 1945 pun tercantum dengan jelas bahwa kemerdekaan kita adalah “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Sebuah pengakuan yang tegas, yang semoga keluar dari hati yang tulus.
Jangan lupa pula, di antara bentuk rasa syukur kita adalah dengan mendoakan mereka para pahlawan muslim yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,, “Siapa yang telah berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika kalian tak mampu membalasnya, maka doakanlah dia sehingga doa tersebut mencukupi” (H.R. Abu Dawud). Do’akan agar Allah memberikan kemudahan dan melapangkan kuburnya, mengampuni kesalahan mereka, dan menerima amalan-amalan mereka.
Mensyukuri Dengan Raga
Mensyukuri dengan raga ini adalah pengejawantahan terbesar serta bukti dari rasa syukur kita terhadap nikmat kemerdekaan dan keamanan ini. Mensyukuri dengan raga adalah mengisi kemerderkaan kita dengan segala yang Allah perintahkan dan menjauhi segala yang Allah larang. Di antaranya adalah dengan menegakkan Islam pada diri-diri pribadi kita dan masyarakat kita. Kalau kita mau menengok kondisi negara-negara lain di luar sana, betapa banyak di antara mereka yang sulit mengumandangkan azan, sulit mencari makanan halal, kaum muslimahnya sulit untuk berpakaian syar’i, sulit untuk menegakkan shalat berjama’ah, bahkan untuk shalat sendiri pun sulit. Adapun kita, masya Allah–Tabaarakallah, amat mudah melakukan berbagai macam ibadah-ibadah baik yang bersifat pribadi maupun berjama’ah.
Selain menjalankan ibadah yang sesuai dengan tuntunan Islam, rasa syukur ini pula perlu kita wujudkan dengan dakwah. Mengajak masyarakat kita dari mulai yang paling dekat untuk sama-sama taat, untuk sama-sama beramal kebaikan, untuk sama-sama menegakkan Islam serta menjauhi segala bentuk kesyirikan dan kekufuran, segala bentuk dosa dan maksiat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata : ”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. Fushshilat: 33).
Sebab, kebaikan berupa aqidah yang benar dan amalan yang shalih, tidak cukup dikerjakan sendiri saja, namun harus disebarkan sehingga seluruh penduduk negeri ini bisa sama-sama mengerjakannya dan barulah Allah bukakan pintu berkah-Nya dari langit dan bumi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q.S. Al A’raf: 96).
Efek Kalau Tak Bersyukur
Apa yang terjadi seandainya nikmat kemerdekaan ini tidak disyukuri? Bencana dan musibah yang akan terjadi. Lihatlah bagaimana Allah berikan kekuasaan kepada Fir’aun, namun bukannya bersykur, Fir’aun malah sombong sampai-sampai mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (Q.S. An Nazi’at: 24). Akhirnya Allah pun mengazab Fir’aun. “Maka Kami siksa Fir’aun dan tentaranya lalu Kami tenggelamkan mereka ke dalam laut” (Q.S. Adz Dzariyat: 40).
Lihat pula kawan sependeritaan Fir’aun, Qorun, nama yang diabadikan dalam Al Qur’an dengan harta dan kekayaan yang melimpah, “dan Kami telah menganugerahkan kepada Qarun perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat” (Q.S. Al Qashash: 76). Bukannya bersyukur dan mengeluarkan hak harta tersebut untuk membantu orang lain, Qarun malah sombong dan berbangga-bangga, “Qarun berkata : “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Q.S. Al Qashash: 78). Walhasil, Allah pun menenggelamkan Qarun bersama harta kekayaan yang disombongkannya ke dalam perut bumi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya dari azab Allah” (Q.S. Al Qashash: 81)
Foya-Foya Bukan Wujud Rasa Syukur
Ketika mengingat kemerdekaan, seringnya kita melakukan berbagai macam hal yang apabila kita renungkan, tak ada hikmah yang kita dapatkan, justru pemborosan dan buang-buang uang yang seharusnya tidak dilakukan, apalagi di zaman susah seperti ini. Ada lilin, dijejer banyak kemudian dinyalakan apinya kemudian ditiup lagi, dan hanya dipakai setaun sekali. Krupuk digantungkan, dimakan sedikit-sedikit sambil berdiri, dan tidak habis. Belum lagi pesta pora semalam suntuk dengan menggelar musik yang tidak jarang berujung pada bentrok antara pemuda. Maka ini semua bukanlah wujud rasa syukur, bahkan bisa menjadikan kita temannya setan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhan-nya” (Q.S. Al Isra: 27).
Andai saja uang tersebut digunakan untuk membantu janda-janda dan veteran-veteran pejuang Islam yang tidak jarang nasibnya sangat memprihatinkan, membantu fakir miskin yang masih sangat banyak bertebaran di sekitar kita, memberikan beasiswa kepada cucu-cucu para pejuang agar bisa mendapatkan fasilitas belajar yang layak, tentunya jauh lebih baik dan bermanfaat.
Kita memohon kepada Allah agar memberi kita petunjuk untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan hati kita, lisan kita, dan anggota tubuh kita. Kita pun memohon agar Dia senantiasa memberikan nikmat-Nya pada kita dan jangan menjadikan musibah yang turun sebagai azab atas kita. Amiin yaa mujiibas saa–iliin.
Penulis : Ustaz Amrullah Akadhinta, S.T. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Murajaah : Ustaz Abu Salman, B.I.S.
sumber : https://buletin.muslim.or.id/mensyukuri-nikmat-kemerdekaan/
IMAN MEMILIKI RASA MANIS & LEZAT #shorts
Pertengkaran Antara Suami Istri Pasti Ada
Setiap pasangan suami istri pasti menginginkan kehidupan pernikahan yang tenang, tanpa masalah dan tanpa aral yang melintang. Namun ibarat bahtera yang berlayar di tengah samudera, tak jarang badai itu akan datang menerpa. Tidak ada rumah tangga yang selamat dari berbagai macam problematika, bentuk masalahnya saja yang berbeda-beda.
Rumah tangga yang bahagia pun tidak akan luput dari masalah. Bahkan rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah mengalami persoalan, mulai dari perselisihan antara istri, kecemburuan di antara mereka, perihal tambahan nafkah, dan selainnya.
Salah satu pasangan penghuni surga yaitu ‘Ali bin Thalib dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma pun pernah mengalami pertengkaran. Dalam satu riwayat dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Fatimah radhiyallahu ‘anha, dan beliau tidak melihat Ali di rumah. Beliau pun bertanya: “Di mana anak pamanmu?” Fathimah menjawab “Tadi ada masalah dengan saya, terus dia marah kepadaku, lalu keluar. Siang ini dia tidak tidur di sampingku.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat tentang keberadaan Ali. “Ya Rasulullah, dia di masjid, sedang tidur.” Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke masjid, dan ketika itu Ali sedang tidur, sementara baju atasannya jatuh di sampingnya, dan dia terkena debu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap debu itu, sambil mengatakan,
قُمْ أَبَا تُرَابٍ، قُمْ أَبَا تُرَابٍ
“Bangun, wahai Abu Thurab… bangun, wahai Abu Thurab…” (HR. Bukhari 441 dan Muslim 2409)
Tentu keluarga kita tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keluarga Ali dan Fathimah, jika beliau berdua saja pernah bertengkar apalagi kita bersama pasangan kita. Namun satu hal yang bisa kita contoh adalah bagaimana mereka menyikapi pertengkaran tersebut. Pertengkaran yang terjadi di antara mereka tetap dalam bingkai aturan syariat, tidak saling menzhalimi, tetap menjaga hak pasangannya. Kemudian mereka berusaha mencari solusi dan menyelesaikan permasalahan mereka.
Pertengkaran antara suami istri adalah sasaran empuk syaithan untuk menghembus api perselisihan tersebut semakin membesar. Jika masing-masing pihak tidak memahami aturan syariat, maka yang akan terjadi hanyalah kezhaliman, caci maki, KDRT, hingga berujung pada perpisahan. Itulah misi utama syaithan.
Oleh karena itu, jika sampai terjadi perselihan maka sadarilah terlebih dahulu bahwa hal itu adalah hal lumrah, agar tidak tidak putus asa dengan mengira kita adalah pasangan yang tidak cocok. Setelah itu, segera bangun komunikasi yang baik bersama pasangan hingga menemukan solusi atas perselisihan tersebut. Saling memahami dan memaklumi tabiat pasangan juga sering kali menjadi kunci sederhana mengatasi masalah-masalah tersebut.
Artikel http://www.muslimafiyah.com
(Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
sumber : https://muslimafiyah.com/pertengkaran-antara-suami-istri-pasti-ada.html
[Kitabut Tauhid 7] 13 Hidayah hanya milik Allah 13
Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Teman akrab memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap seseorang, dan baik tidaknya agama seseorang sangat dipengaruhi oleh teman akrabnya. Karenanya wajib bagi setiap hamba untuk memilih teman yang baik dan menjauhi teman yang buruk.
- Salah satu sebab utaman kesesatan dan penghalang utama untuk mendapatkan hidayah adalah mengangungkan dan melestartikan kebiasaan nenek moyang dan menjadikannya sebagai standar kebenaran.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“







