Mengapa Banyak Wanita Menjadi Penghuni Neraka? Penjelasan Hadits Nabi ﷺ

Dalam beberapa hadits shahih, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Hal ini sering disalahpahami seolah-olah merendahkan kaum wanita. Padahal, jika dipahami dengan benar, ini adalah peringatan penuh kasih agar kaum wanita lebih waspada terhadap dosa tertentu.

  1. Nabi ﷺ melihat mayoritas penghuni neraka adalah wanita

Rasulullah ﷺ bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءُ

“Aku melihat ke dalam surga, maka aku dapati kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Dan aku melihat ke dalam neraka, maka aku dapati kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. Bukhari no. 3241 dan Muslim no. 2737)

Hadits ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang apa yang beliau lihat, bukan penilaian tanpa sebab.

  1. Penjelasan sebabnya: kufur terhadap suami dan kebaikan. 

Para sahabat bertanya tentang sebabnya, lalu Nabi ﷺ menjelaskan:

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diperlihatkan neraka, dan aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan dari itu. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Para sahabat bertanya: “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Ditanya: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur terhadap suami dan mengingkari kebaikan.” (HR. Bukhari no. 1052)

Kemudian beliau menjelaskan lebih rinci:

 لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Jika engkau berbuat baik kepadanya sepanjang masa, kemudian ia melihat satu hal yang tidak ia sukai darimu, ia berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.’” (HR. Bukhari no. 1052)

Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud “kufur” di sini adalah kufur nikmat, bukan keluar dari Islam.

  1. Sifat lain yang disebutkan: banyak melaknat dan mengeluh

Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda:

 يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

“Wahai para wanita, bersedekahlah kalian, karena aku diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.”Mereka bertanya: “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” (HR. Bukhari no. 304)

Dalam riwayat lain:

لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

“Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.” (HR. Muslim no. 885)

  1. Penjelasan tentang “kurang akal dan agama”

Dalam hadits yang sama, Nabi ﷺ juga bersabda:

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Aku tidak melihat yang kurang akal dan agama yang lebih mampu mengalahkan akal laki-laki yang tegas daripada kalian.”

Para wanita bertanya:

وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا؟

Beliau menjawab:

أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ؟ وَأَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟

“Bukankah persaksian wanita setengah dari laki-laki?… dan bukankah ketika haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari no. 304)

Ini adalah penjelasan syariat, bukan celaan, karena hal tersebut adalah ketetapan Allah.

  1. Sikap para shahabiyah: langsung beramal

Ketika mendengar peringatan ini, para wanita tidak membantah, tetapi langsung berbuat baik:

فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ

“Maka mereka segera bersedekah dari perhiasan mereka, melemparkannya ke kain Bilal.” (HR. Muslim no. 885)

Ini menunjukkan sikap iman: mendengar, taat, lalu beramal.

Kesimpulan

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa: Mayoritas penghuni neraka dari kalangan wanita karena sebab tertentu, bukan karena jenis kelamin semata

Di antara sebab terbesar:

  • .Mengingkari kebaikan suami
  • Banyak melaknat dan mengeluh

Ini adalah peringatan agar memperbaiki diri, bukan penghinaan hendaknya setiap muslimah menjadikan hadits ini sebagai bahan muhasabah diri: menjaga lisan, memperbanyak syukur, dan memperbanyak amal shalih. Karena siapapun yang beriman dan beramal shalih, baik laki-laki maupun wanita, maka Allah telah menjanjikan surga baginya.

Semoga Allah menjaga kita semua dari sebab-sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya dengan rahmat-Nya. Aamiin.

Semoga bermanfaat, baarokallohufikum

Ditulis oleh ustadz Nurhadi Nugroho hafidzhohulloh

sumber: https://bimbinganislam.com/mengapa-banyak-wanita-menjadi-penghuni-neraka-penjelasan-hadits-nabi-%ef%b7%ba/

Maksiat Menggelapkan Hati

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Setiap hari tidak bosan-bosannya kita melakukan maksiat. Aurat terus diumbar, tanpa pernah sadar untuk mengenakan jilbab dan menutup aurat yang sempurna. Shalat 5 waktu yang sudah diketahui wajibnya seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa bersalah. Padahal meninggalkannya termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa zina. Saudara muslim jadi incaran untuk dijadikan bahan gunjingan (alias “ghibah”). Padahal sebagaimana daging saudaranya haram dimakan, begitu pula dengan kehormatannya, haram untuk dijelek-jelekkan di saat ia tidak mengetahuinya. Gambar porno jadi bahan tontonan setiap kali browsing di dunia maya. Tidak hanya itu, yang lebih parah, kita selalu jadi budak dunia, sehingga ramalan primbon tidak bisa dilepas, ngalap berkah di kubur-kubur wali atau habib jadi rutinitas, dan jimat pun sebagai penglaris dan pemikat untuk mudah dapatkan dunia. Hati ini pun tak pernah kunjung sadar. Tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang, detik demi detik, di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.

Ayat yang patut jadi renungan di malam ini adalah firman Allah Ta’ala,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)

Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”[1]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.[2]

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”[3]

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”[4]

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.”[5]

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”[6]

Inilah di antara dampak bahaya maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]

Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran.

Ya Allah, tunjukkanlah hati kami ini agar selalu taat pada-Mu dan berusaha menjauhi setiap maksiat yang benar-benar telah Engkau larang, apalagi dosa syirik dan kekufuran. Amin Yaa Mujibbas Saailin.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Disusun di malam hari, 7 Syawal 1431 H (15/09/2010) di Panggang – Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[1] HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268.

[3] Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/442.

[4] Tafsir Al Jalalain, Al Mahalli dan As Suyuthi, Mawqi’ At Tafasir, 12/360

[5] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 15/283

[6] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, hal. 70.

[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107.

Sumber https://rumaysho.com/1257-maksiat-menggelapkan-hati.html

Sedekah Yang Ikhlas Ibarat Kebun yang Selalu Berbuah : 

Tadabbur Al-Baqarah 256 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan cahaya bagi hati manusia. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan kita untuk memahami dan mentadabburi ayat-ayat Allah, bukan sekadar membacanya.

Di antara ayat yang mengajak kita merenung dalam tentang keikhlasan dalam beramal shalih adalah firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 265. Ayat ini bukan sekadar perintah bersedekah, tetapi menggambarkan bagaimana amal itu hidup, tumbuh, dan berbuah di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk menguatkan jiwa mereka, seperti sebuah kebun di dataran tinggi yang disiram hujan lebat, lalu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika tidak disiram hujan lebat, maka hujan ringan pun cukup baginya. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (البقرة: 265)

  1. Awal Ayat: Niat yang Menghidupkan Amal

Allah memulai dengan menyebutkan dua hal penting:

{ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ} → mencari ridha Allah

{وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ} → dari keyakinan dan keteguhan hati sendiri

Ini menunjukkan bahwa sedekah yang bernilai bukan sekadar memberi, tetapi memberi dengan hati yang hidup: ikhlas, yakin, dan mantap.

Bukan karena ikut-ikutan, bukan karena tekanan, tetapi lahir dari iman yang kuat.

  1. Perumpamaan Kebun di Tempat Tinggi

Allah mengibaratkan amal mereka seperti:

{كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ}

“Seperti sebuah kebun di dataran tinggi “

Yaitu kebun yang berada di tempat tinggi, ini memberi isyarat:

  • Tempat yang tinggi → jauh dari kotoran dan kerusakan
  • Tanah yang baik → siap menumbuhkan kebaikan

Seperti itulah hati orang yang ikhlas: bersih dan siap menumbuhkan amal.

  1. Hujan Lebat dan Hujan Ringan: Semua Menghasilkan

Allah melanjutkan:

  {أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ} {فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ}

  • “Yang disiram hujan lebat, lalu menghasilkan buah dua kali lipat”
  • “Jika tidak disiram hujan lebat, maka hujan ringan pun cukup baginya”

Jika turun hujan deras → hasilnya berlipat ganda.

Jika hanya gerimis → tetap berbuah.

Ini mengajarkan bahwa:

  • Amal orang yang ikhlas selalu tumbuh
  • Banyak atau sedikit, tetap diberkahi
  • Dalam kondisi apapun, tidak pernah sia-sia

Karena sumbernya bukan sekadar usaha manusia, tapi pertolongan Allah.

  1. Pesan Tersembunyi: Amal Itu Hidup atau Mati

Ayat ini seakan mengajak kita bertanya:

Apakah sedekah kita seperti kebun subur?

Ataukah seperti tanah tandus yang tidak menumbuhkan apa-apa?

Kunci jawabannya ada pada hati:

  • Jika hati ikhlas → amal hidup dan berkembang
  • Jika hati rusak → amal bisa mati meski terlihat besar
  1. Penutup Ayat: Allah Maha Melihat

Allah menutup dengan:

{وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}

“Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.”

Ini pengingat bahwa:

  • Allah melihat niat kita
  • Allah mengetahui isi hati kita
  • Tidak ada amal yang tersembunyi dari-Nya

Maka yang dinilai bukan hanya apa yang kita beri, tetapi bagaimana hati kita saat memberi.

Kesimpulan

  • Ayat ini mengajarkan bahwa sedekah yang ikhlas adalah amal yang hidup, tumbuh, dan terus berbuah. Seperti kebun subur di tempat tinggi, ia tidak pernah gagal menghasilkan kebaikan, baik dalam kondisi banyak maupun sedikit.
  • Keikhlasan adalah kunci utama yang menjadikan amal kecil menjadi besar, dan amal biasa menjadi luar biasa di sisi Allah.

Kalimat Penutup

Mari kita perbaiki hati sebelum memperbanyak amal. Karena amal yang hidup lahir dari hati yang hidup.

Jangan takut memberi, selama niat kita untuk Allah. Sebab setiap kebaikan yang ikhlas, akan tumbuh menjadi pahala yang tidak pernah habis.

Semoga Allah menjadikan hati kita seperti tanah yang subur, dan amal kita seperti kebun yang selalu berbuah.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz : Nurhadi Nugroho hafidzhohulloh

sumber: https://bimbinganislam.com/sedekah-yang-ikhlas-ibarat-kebun-yang-selalu-berbuah/

Dimakruhkan Makan Sambil Bersandar

Cara makan yang tidak disukai adalah makan sambil bersandar. Cara makan seperti ini termasuk cara makan orang yang lahap sehingga tidak disukai atau dinilai makruh. Jika demikian, maka sudah sepantasnya kita menghindarinya.Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau,

لاَ آكُلُ وَأَنَا مُتَّكِئٌ

Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Bukhari no. 5399)

Makna makan muttaki-an

Ibnul Atsir rahimahullah berkata, “Yang dimaksud muttaki-an adalah condong ketika duduk bersandar pada salah satu sisi.” (Lihat Tawdhihul Ahkam, 5: 439)

Disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (9: 451), “Mengenai makna ittika’ diperselisihkan maknanya oleh para ulama. Ada yang mengatakan, pokoknya bersandar ketika makan dalam bentuk apa pun. Ada yang menjelaskan, yang dimaksud adalah condong pada salah satu sisi. Ada pula yang memaknakan dengan bersandar dengan tangan kiri yang diletakkan di lantai.”

Dari perkataan Imam Malik –yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar- terdapat isyarat bahwa beliau memaksudkan duduk ittika’ untuk segala macam bentuk bersandar, tidak khusus pada cara duduk tertentu.

Makan bersandar pada tangan kiri

Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 451) bahwa ada hadits yang melarang bersandar dengan tangan kiri ketika makan. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dengan lafazh,

زَجَرَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَعْتَمِد الرَّجُل عَلَى يَده الْيُسْرَى عِنْد الْأَكْل

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bersandar pada tangan kiri ketika makan.” Sayangnya, sanad hadits ini dho’if sebagaimana kata Ibnu Hajar. Namun posisi makan seperti ini sebaiknya dihindari karena masih termasuk ittika’ (bersandar) sebagaimana kata Imam Malik.

Apa hukum  makan sambil bersandar?

Ibnul Qashsh menyatakan bahwa hal ini hanya dimakruhkan untuk nabi. Namun Al Baihaqi menyatakan, yang lainnya pun dimakruhkan makan sambil bersandar. Karena cara makan seperti ini berasal dari para raja non Arab. Namun jika ada seseorang yang tidak memungkinkan makan selain dengan bersandar, hal itu tidak dikatakan makruh. (Lihat Fathul Bari, 9: 451)

Di antara alasan kenapa makan sambil bersandar terlarang karena dikhawatirkan perut menjadi bertambah buncit. Sebagaimana ada riwayat dari Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ibrahim An Nakho’i. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Fath (9: 452).

Ibnu Hajar mengatakan, “Jika sudah disadari bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.” (Fathul Bari, 9: 452)

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk beramal dan mengikuti sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 8 Rajab 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2480-dimakruhkan-makan-sambil-bersandar.html

Validasi Pembawa Petaka

Di era modern saat ini, sosial media telah menjadi bagian yang melekat dari kehidupan sehari-hari kebanyakan masyarakat. Kemajuan ini memudahkan individu untuk saling terhubung satu sama lain secara global dan mempercepat arus penyebaran informasi. Kendati demikian, semua kemudahan dalam bermedia sosial juga memiliki dampak negatif yang seyogyanya diwaspadai.

Mengenal perilaku haus validasi

Perilaku tidak sehat seperti haus validasi (kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan, pujian, atau persetujuan dari orang lain) mempengaruhi keadaan psikologis banyak pengguna sosial media.

Keinginan berlebih untuk mendapatkan validasi berupa banyaknya followersviewerslikes, dan comments pada konten yang ditampilkan dapat menyebabkan seseorang terjatuh pada tindakan oversharing (berlebihan dalam berbagi) aktivitas kehidupan mereka; membuatnya ketagihan untuk terus menerus eksis di sosial media dan memposting segala sesuatu, bahkan hal-hal yang bernilai sepele dan tidak layak untuk menjadi konsumsi publik.

Hal ini tentu mengkhawatirkan karena dapat memicu tumbuhnya rasa iri dengki antar pengguna serta menyebabkan timbulnya ‘ain di antara mereka.

Rahasiakanlah kehidupanmu!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود

“Minta tolonglah atas keberhasilan rencana-rencana kalian dengan merahasiakannya karena setiap pemilik nikmat ada peluang hasadnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 2455 dan disahihkan oleh Al-Albani)

Patut untuk disadari bahwa setiap urusan yang disebarluaskan secara publik berpotensi terkena hasad maupun ‘ain. Karena mencapai keridaan setiap orang adalah sebuah kemustahilan dan tidak setiap perkara patut untuk diketahui oleh khalayak ramai.

Hasad dan ‘ain: Sumber petaka

Betapa banyak orang yang celaka dan jatuh sakit disebabkan oleh rasa hasad (kedengkian) orang lain terhadap dirinya, juga ‘ain yang ditimbulkan karenanya. Saking bahayanya dua perkara ini (hasad dan ‘ain), sampai-sampai Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berlindung darinya. Allah Ta’ala berfirman,

قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِۙ‏ (١) مِنۡ شَرِّ مَا خَلَقَۙ‏ (٢) وَمِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ‏ (٣) وَمِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الۡعُقَدِۙ‏ (٤) وَمِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ‏ (٥)

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1-5)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke-5, ‘Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki’ (وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ),

الحاسد هو الذي يكره نعمة الله على غيره، فتجده يضيق ذرعاً إذا أنعم الله على هذا الإنسان بمال، أو جاه، أو علم أو غير ذلك. فيحسده ولكن الحسّاد نوعان: نوع يحسد ويكره في قلبه نعمة الله على غيره، لكن لا يتعرض للمحسود بشيء، تجده مهموماً مغموماً من نعم الله على غيره، لكنه لا يعتدي على صاحبه. والشر والبلاء إنما هو بالحاسد إذا حسد. ولهذا قال: {إذا حسد}

Al-Hasid adalah pendengki yang membenci nikmat Allah yang Ia karuniakan kepada orang lain. Engkau akan mendapati dia merasa sesak dadanya atas orang yang mendapatkan nikmat dari Allah berupa harta, kedudukan, ilmu, atau selain dari itu. Maka dia pun merasa dengki.

Namun, al-hasid terbagi menjadi dua jenis: Pertama, orang yang dengki juga ada kebencian di dalam hatinya pada nikmat Allah yang dianugerahkan kepada selainnya, akan tetapi orang ini tidak mencoba melakukan sesuatu pun terhadap orang yang ia dengki. Engkau melihat kondisinya gundah gulana dan gelisah dari nikmat Allah yang diberikan kepada selainnya, tapi dia tidak mencoba menyakiti orang yang mendapatkan nikmat tersebut. Kedua, kerusakan dan bencana adalah ketika pendengki menampakkan kedengkiannya. Oleh sebab itu, Allah berfirman, “Bila ia dengki.”

Lebih lanjut, beliau rahimahullah mengatakan,

ومن حسد الحاسد العين التي تصيب الُمعان يكون هذا الرجل عنده كراهة لنعم الله على الغير فإذا أحس بنفسه أن الله أنعم على فلان بنعمة خرج من نفسه الخبيثة (معنى) لا نستطيع أن نصفه لأنه مجهول، فيصيب بالعين، ومن تسلط عليه أحياناً يموت، وأحياناً يمرض، وأحياناً يُجن، حتى الحاسد يتسلط على الحديد فيوقف اشتغاله، وربما يصيب السيارة بالعين وتنكسر أو تتعطل، وربما يصيب رفَّاعة الماء، أو حراثة الأرض، فالعين حق تصيب بإذن الله عز وجل

“Dan di antara kedengkian orang yang dengki adalah penyakit ‘ain (mata buruk) yang menimpa orang yang menjadi korban ‘ain. Pendengki ini jadi memiliki perasaan benci terhadap nikmat Allah. Apabila ia merasakan bahwa Allah memberikan nikmat kepada si Fulan, maka keluar darinya suatu sifat yang menjijikkan (secara makna), yang tidak akan mampu kita klasifikasikan. Sebab sifat ini adalah sesuatu yang majhul (tidak diketahui). Sehingga korban tertimpa penyakit ‘ain. Bahkan orang yang kalah dari efek ‘ain tersebut kadangkala sampai meninggal, sakit, dan gila. Bahkan pendengki bisa memberikan efek pada sesuatu yang terbuat dari besi sehingga ia menghentikan fungsi yang berjalan dari besi tersebut. Dan boleh jadi ‘ain menimpa mobil sehingga menjadi rusak atau mogok. Boleh jadi juga menimpa kincir air atau alat pembajak tanah. Maka penyakit ‘ain adalah suatu kebenaran yang terjadi dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.” (Kitab Tafsir Al-‘Utsaimin: Juz ‘Amma, hal. 352-354)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين

‘Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa.” (HR. Muslim no. 2188)

Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثرُ مَن يموتُ مِن أمَّتي بعدَ قضاءِ اللَّهِ وقدرِهِ بالأنفسِ أيْ العَينِ

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ‘ain.” (HR. Al-Bazzar dalam Kasyful Atsar, 3: 404; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1206)

Akhir kata, hendaknya kita bijak dalam menggunakan sosial media, bersikap hati-hati dan mewaspadai timbulnya rasa hasad maupun ‘ain yang menjadi sebab petaka dan kecelakaan bagi kehidupan. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Kitab Tafsir Al ‘Utsaimin: Juz ‘Amma, Maktabah Syamilah.
  • Kitab Kemudahan, Ustadz Muhammad Rezki Hr, Ph.D.

Sumber: https://muslimah.or.id/33336-validasi-pembawa-petaka.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Tawassul Dengan Bacaan Al Fatihah

Tawassul merupakan salah satu bentuk doa yang sangat dikenal dalam tradisi Islam, yaitu memohon kepada Allah dengan perantara tertentu. Di antara bentuk tawassul yang dipraktikkan sebagian kaum muslimin adalah bertawassul dengan bacaan Al-Fatihah, seperti mengucapkan: “Ya Allah, dengan bacaan Al-Fatihah ini, sembuhkanlah penyakitku,” atau “berilah rezeki kepada fulan.” Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan syariat terhadap amalan ini? Adakah dalilnya dari Rasulullah atau para sahabat? Artikel ini akan mengulasnya secara ringkas dan ilmiah..

Surat Al-Fatihah mengandung kesembuhan dari semua jenis penyakit. 

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Al-Fatihah mencakup dua jenis penyembuhan: penyembuhan hati dan penyembuhan badan.

Beliau berkata: 

(كثيرا ما كنت أسمع شيخ الإسلام ابن تيمية -قدس الله روحه- يقول: {إياك نعبد}، تدفع الرياء {وإياك نستعين}، تدفع الكبرياء، فإذا عوفي من مرض الرياء ب {إياك نعبد} ومن مرض الكبرياء والعجب ب {إياك نستعين}، ومن مرض الضلال والجهل ب {اهدنا الصراط المستقيم} عوفي من أمراضه وأسقامه، ورفل في أثواب العافية، وتمت عليه النعمة، وكان من المنعم عليهم غير المغضوب عليهم وهم أهل فساد القصد، الذين عرفوا الحق وعدلوا عنه، والضالين وهم أهل فساد العلم، الذين جهلوا الحق ولم يعرفوه، وحق لسورة تشتمل على هذين الشفاءين، أن يستشفى بها من كل مرض، ولهذا لما اشتملت على هذا الشفاء الذي هو أعظم الشفاءين، كان حصول الشفاء الأدنى بها أولى، كما سنبينه، فلا شيء أشفى للقلوب التي عقلت عن الله وكلامه، وفهمت عنه فهما خاصا، اختصها به من معنى هذه السورة).

Sering aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (semoga Allah merahmatinya) berkata: “Iyyāka na’budu (Hanya kepada-Mu kami menyembah)” mengobati penyakit riya (pamer dalam ibadah). “Wa iyyāka nasta’īn (Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan)” mengobati penyakit kesombongan dan rasa bangga diri. “Ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm (Tunjukilah kami jalan yang lurus)” menyembuhkan penyakit kesesatan dan kebodohan. Jika seseorang disembuhkan dari riya dengan iyyāka na’budu, dari kesombongan dengan iyyāka nasta’īn, dan dari kebodohan serta kesesatan dengan ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm, maka dia telah sembuh dari penyakit-penyakit hatinya dan akan hidup dalam kesehatan ruhani, mendapat nikmat yang sempurna, termasuk golongan orang yang Allah beri nikmat, bukan yang dimurkai (mereka yang tahu kebenaran tapi menyimpang) dan bukan pula orang yang tersesat (mereka yang tidak tahu kebenaran).

Maka pantaslah jika surat yang mencakup dua penyembuhan besar ini menjadi sarana kesembuhan dari semua penyakit. Karena ketika Al-Fatihah mampu menyembuhkan penyakit hati yang paling berat, maka menyembuhkan penyakit fisik tentu lebih layak lagi. Tidak ada yang lebih menyembuhkan bagi hati yang benar-benar memahami makna Al-Fatihah dengan pemahaman khusus, selain surat ini. (Selesai)

Bertawassul dengan “rahasia Al-Fatihah” atau dengan “kedudukan Al-Fatihah”

Seperti seseorang berdoa: “Ya Allah, dengan rahasia Al-Fatihah, ampunilah aku,” tampaknya tidak mengapa, karena “rahasia Al-Fatihah” adalah inti makna yang dikehendaki Allah, yang menjadi tujuan diturunkannya kitab-kitab-Nya dan menjadi poros seluruh ibadah. Makna ini adalah firman Allah, yang bukan makhluk, tapi bagian dari sifat-sifat-Nya. Bertawassul dengan sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang disyariatkan. 

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah menyebutkan bahwa Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

وقد روي عن الحسن البصري رحمه الله: أن الله أنزل مائة كتاب وأربعة كتب جمع سرها في الأربعة، وجمع سر الأربعة في القرآن، وجمع سر القرآن في الفاتحة، وجمع سر الفاتحة في هاتين الكلمتين “إياك نعبد وإياك نستعين” ولهذا ثناها الله في كتابه في غير موضع من القرآن كقوله: فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ {هود: 123}

Allah menurunkan 104 kitab, lalu diringkas isinya dalam 4 kitab besar, kemudian diringkas lagi dalam Al-Qur’an, dan inti Al-Qur’an ada dalam Al-Fatihah, sedangkan inti Al-Fatihah terdapat dalam dua kalimat: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Karena itu, Allah mengulang-ulang kandungan kalimat tersebut di berbagai ayat dalam Al-Qur’an, seperti firman-Nya: “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (Hud: 123). (Selesai)

Namun, yang lebih utama adalah menghindari doa dengan lafaz seperti itu (misalnya “dengan rahasia Al-Fatihah”), karena tidak pernah diajarkan atau dilakukan oleh para ulama salaf. Bisa jadi, sebagian orang atau kelompok memiliki maksud tertentu dari ucapan itu yang berbeda dari makna yang benar.

Adapun membaca surat Al-Fatihah untuk menutup dzikir atau doa, sejauh yang kami ketahui, tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam. Menjadikan hal itu sebagai kebiasaan ibadah termasuk perbuatan bid’ah yang tercela. (Islamweb)

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa bertawassul dengan bacaan Al-Fatihah, jika dimaksudkan melalui kandungan makna yang agung dalam surat tersebut — seperti tauhid, keikhlasan ibadah, permohonan pertolongan, dan petunjuk — maka tidak mengapa dan termasuk bentuk tawassul yang secara makna bisa diterima. Tentunya dengan meyakini bahwa yang memberi manfaat dan mengabulkan doa hanyalah Allah, bukan karena keistimewaan bacaan itu secara dzat.

Namun, karena tidak terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabat tentang bertawassul dengan cara ini secara khusus, maka sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan tetap dalam berdoa. Tawassul yang disyariatkan dan dicontohkan langsung, seperti bertawassul dengan nama-nama Allah, amal saleh, dan doa orang saleh yang masih hidup, tetap lebih utama dan lebih aman dari sisi tuntunan.

Al-Fatihah memang memiliki kandungan yang sangat besar dalam menyembuhkan hati dan jasmani, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnul Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Maka, membaca dan mengamalkan maknanya adalah kunci keberkahan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dan tidak termasuk yang dimurkai atau tersesat.

Semoga bermanfaat, baarokallohufikum

Sumber utama : https://www.islamweb.net/ar/fatwa/70523/%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%88%D8%B3%D9%84-%D8%A8%D8%B3%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA%D8%AD%D8%A9-%D8%B1%D8%A4%D9%8A%D8%A9-%D8%B4%D8%B1%D8%B9%D9%8A%D8%A9

sumber: https://bimbinganislam.com/tawassul-dengan-bacaan-al-fatihah/