Bolehkah Wudhu dengan Air Hangat?

Tanya:
Assalamuโ€™alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Ustadz, ana mau tanya, bolehkah seseorang berwudhu menggunakan air hangat? Apakah sah wudhunya? Begitu juga karena seseorang itu sakit sehingga harus mandi dengan air hangat/dokter tidak menyarankan dengan air dingin, bolehkah mandi besar menggunakan air hangat? Sahkah mandi besarnya? Berikut dalilnya ya Ustadz. Jazakallahu khairan.
Wassalamuโ€™alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

(Desri Wardani, Yogyakarta).

Jawab:

Waโ€™alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Boleh bagi seseorang berwudhu atau mandi dengan air yang dihangatkan dan wudhunya sah karena tidak ada dalil shahih yang melarangnya. Bahkan datang atsar-atsar dari para salaf yang menunjukkan bolehnya berwudhu dan mandi dengan air yang dihangatkan.

Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-โ€˜Adawy, Maula Umar bin Al-Khaththab bahwasanya Umar dahulu mandi dari air yang dihangatkan. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 1/174 no: 675, dan sanadnya dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bary 1/299)

Berkata Nafiโ€™:

ูƒุงู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ูŠุชูˆุถุฃ ุจุงู„ุญู…ูŠู…

โ€œDahulu Ibnu Umar berwudhu dengan air yang dihangatkanโ€ (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di Al-Mushannaf 1/47 no: 257, dan Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf 1/175 no: 676 dan sanadnya dishahihkan Syeikh Al-Albany di Irwaul Ghalil no: 17)

Ibnu Abbas juga berfatwa tidak mengapa berwudhu dan mandi dengan air yang dihangatkan. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf 1/175)

Berkata Ibnu Hajar:

ูˆุฃู…ุง ู…ุณุฃู„ุฉ ุงู„ุชุทู‡ุฑ ุจุงู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุณุฎู† ูุงุชูู‚ูˆุง ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒู‡ ุงู„ุง ู…ุง ู†ู‚ู„ ุนู† ู…ุฌุงู‡ุฏ

โ€œAdapun masalah bersuci dengan air yang dihangatkan maka mereka (para ulama) bersepakat atas kebolehannya kecuali apa yang dinukil dari Mujahidโ€ (Fathul bary 1/299)

Wallahu aโ€™lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

sumber: https://konsultasisyariah.com/762-bolehkah-wudhu-dengan-air-hangat.html

Anjuran Memperbanyak Jemaah ketika Salat Jenazah

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu โ€˜Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma, beliau mengatakan, โ€œAku mendengar Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,

ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฑูŽุฌูู„ู ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูŠูŽู…ููˆุชู ููŽูŠูŽู‚ููˆู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽู†ูŽุงุฒูŽุชูู‡ู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ุดูŽููŽู‘ุนูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูููŠู‡ู

โ€œTidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan disalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, dalam kondisi mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun, niscaya Allah akan mengabulkan syafaat (doa) mereka untuknya.โ€ (HR. Muslim no. 948)

Dalam hadits tersebut, meskipun disebutkan dengan lafaz โ€œmuslimโ€, akan tetapi wanita muslimah juga tercakup dalam kandungan makna hadits tersebut.

Terdapat beberapa faedah dari hadits tersebut yang telah dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:

Faedah pertama

Hadits tersebut menunjukkan dianjurkannya memperbanyak jemaah salat jenazah. Karena siapa saja yang disalati oleh jemaah sebanyak bilangan tersebut (empat puluh), dan mereka memiliki sifat sebagaimana yang Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam sebutkan (tidak menyekutukan Allah sedikitpun), maka Allah Taโ€™ala akan menerima (mengabulkan) syafaat (doa) mereka tersebut.

Dalam perkataan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam,

ู„ูŽุง ูŠูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ุดูŽููŽู‘ุนูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูููŠู‡ู

โ€œ โ€ฆ mereka tidak menyekutukan Allah โ€ฆ  โ€; terdapat isim nakirah (kata benda indefinitif) dalam konteks kalimat negatif (nafi), yaitu kata โ€œtidak menyekutukanโ€. Dalam bahasa Arab, model kalimat semacam ini memberikan faedah makna umum. Sehingga maksudnya, mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun, baik berupa syirik besar (syirik akbar) maupun syirik kecil (syirik ashghar). Hal ini karena salat yang dikerjakan oleh pelaku syirik besar tidak akan diterima. Sedangkan untuk pelaku syirik kecil, tidak ada jaminan syafaat mereka diterima, meskipun bisa jadi dikabulkan. Hal ini karena pemberi syafaat itu tidak boleh memiliki cacat (noda) yang bisa mengotori aqidahnya. (Lihat Fathu Dzil Jalaal wal Ikram, 5: 491)

Terdapat hadits yang diriwayatkan dari ibunda โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,

ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽูŠูู‘ุชู ุชูุตูŽู„ูู‘ูŠ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูู…ูŽู‘ุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูŠูŽุจู’ู„ูุบููˆู†ูŽ ู…ูุงุฆูŽุฉู‹ ูƒูู„ูู‘ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุดู’ููŽุนููˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุดูููู‘ุนููˆุง ูููŠู‡ู

โ€œJenazah yang disalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendoakannya, maka doa mereka untuknya akan dikabulkan.โ€ (HR. Muslim no. 947)

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah menjelaskan bahwa hadits-hadits ini (yaitu yang menyebutkan bilangan empat puluh atau seratus orang) merupakan respon atau jawaban atas pertanyaan tentang hal tersebut pada kesempatan yang berbeda. Sehingga masing-masing dijawab sesuai dengan konteks pertanyaannya. Sehingga maknanya, baik yang mensalatkan itu sejumlah 40 atau 100 orang, jenazah tersebut tetap akan mendapatkan syafaat dari orang-orang yang mensalatinya. (Lihat Ikmaalul Muโ€™lim, 3: 407)

An-Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa ada kemungkinan bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam mendapatkan wahyu diterimanya syafaat dari 100 orang, kemudian beliau mengabarkannya. Kemudian beliau mendapatkan wahyu diterimanya syafaat dari 40 orang, kemudian beliau pun mengabarkannya. Atau kemungkinan lain, bahwa kalimat ini dalam bahasa Arab disebut sebagai mafhum โ€˜adad (suatu kesimpulan yang diambil dari luar dari teks lafaz yang berkaitan dengan penyebutan bilangan). Sehingga tidaklah memiliki makna, โ€œjika yang mensalatkan kurang dari 100, syafaatnya tidak diterimaโ€. Tidak demikian. Karena kedua hadits tersebut sama-sama diamalkan. Sehingga syafaat pun akan Allah Taโ€™ala terima meskipun yang mensalati kurang dari 100.

Selain itu, hadits tentang penyebutan bilangan yang lebih kecil (40 orang) itu datang belakangan daripada bilangan yang lebih besar (100 orang). Maksudnya, hadits riwayat Ibnu โ€˜Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma itu datang belakangan dibandingkan dengan hadits riwayat โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha. Mungkin inilah pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah yang lebih memilih untuk mencantumkan hadits Ibnu Abbas daripada hadits Aisyah di kitab Bulughul Maram, meskipun keduanya sama-sama terdapat di dalam Shahih Muslim.

Allah Taโ€™ala adalah Dzat yang tidak pelit dalam mencurahkan nikmat dan keutamaan. Bukan menjadi kebiasaan Allah, apabila menjanjikan ampunan berdasarkan suatu syarat, kemudian Dia mengurangi keutamaan itu. Namun sebaliknya, Dia justru akan menambahkannya. Hal tersebut menunjukkan curahan anugerah dan kedermawanan Allah Taโ€™ala yang senantiasa ditambahkan bagi hamba-Nya.

Faedah kedua

Hadits ini merupakan dalil penetapan syafaat dari orang-orang yang beriman. Syafaat dari orang-orang yang mendirikan salat jenazah kepada si mayit itu diterima dan bermanfaat dengan izin Allah Taโ€™ala, sesuai dengan sifat yang telah disebutkan. Yaitu bahwa orang yang memberikan syafaat (asy-syaafiโ€™) tidak menyekutukan Allah sedikit pun, demikian pula orang yang mendapatkan syafaat (al-masyfuโ€™). Syafaat untuk meningkatkan derajat orang mukmin merupakan salah satu bentuk syafaat yang disebutkan oleh para ulama.

Faedah ketiga

Salat jenazah itu hanya khusus untuk jenazah muslim, berdasarkan teks lafaz hadis di atas,

ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฑูŽุฌูู„ู ู…ูุณู’ู„ูู…ู

โ€œTidaklah seorang muslim meninggal dunia โ€ฆ โ€œ

Adapun orang kafir yang meninggal dunia, maka tidak boleh disalati ketika mereka meninggal di atas kekafiran dan tidak boleh didoakan untuk mendapatkan ampunan dari Allah Taโ€™ala. Hal ini berdasarkan firman Allah Taโ€™ala,

ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุฃูŽู† ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆุงู’ ู„ูู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ููˆุงู’ ุฃููˆู’ู„ููŠ ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ู…ูู† ุจูŽุนู’ุฏู ู…ูŽุง ุชูŽุจูŽูŠูŽู‘ู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู’ุฌูŽุญููŠู…ู

โ€œTiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.โ€ (QS. At-Taubah: 113)

Berdasarkan ayat tersebut, jika orang kafir itu meninggal di atas kekafirannya, maka tidak boleh didoakan, tidak boleh dimintakan ampunan, dan tidak boleh didoakan untuk mendapatkan rahmat Allah Taโ€™ala. Karena itu semua merupakan bentuk walaโ€™ (loyalitas) kepada orang kafir yang terlarang.

***

@Rumah Kasongan, 27 Ramadan 1443/ 29 April 2022

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Disarikan dari kitab Minhatul โ€˜Allam fi Syarhi Buluughil Maraam (4: 295-396) dan Tashiilul Ilmaam bi Fiqhi Al-Ahaadits min Buluughil Maraam (3: 45). Kutipan-kutipan dalam tulisan di atas diperoleh melalui perantaraan kitab tersebut.

sumber: https://muslim.or.id/75025-anjuran-memperbanyak-jemaah-ketika-salat-jenazah.html

Iman kepada Takdir: Ketika Bahagia dan Celaka Telah Ditentukan

Sesungguhnya, seorang anak Adam telah ditentukan oleh Allah apakah akan dimasukkan ke surga atau neraka, jauh sebelum mereka dilahirkan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis,

โ€œAllah menciptakan Adam, lalu ditepuk pundak kanannya, kemudian keluarlah keturunan yang putih, mereka seperti susu. Kemudian ditepuk pundak yang kirinya, lalu keluarlah keturunan yang hitam, mereka seperti arang. Allah berfirman, โ€˜Mereka (yang seperti susu -pen) akan masuk ke dalam surga sedangkan Aku tidak peduli dan mereka (yang seperti arang-pen) akan masuk ke neraka sedangkan Aku tidak peduli.’โ€ (Shahih; HR. Ahmad, ath-Thabrani dalam Al-Muโ€™jamul Kabir, dan Ibnu Asakir. Lihat Shahihul Jamiโ€™ no. 3233)

Dari Ali radhiyallahu โ€˜anhu berkata, โ€œKami duduk bersama Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda, โ€œTidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah mengetahui bahwa seseorang telah ditentukan akan dimasukkan ke surga atau neraka, tentu akan timbul pertanyaan dan kesimpulan berdasarkan akal logika manusia yang lemah, โ€œKalau begitu, buat apa kita beramal. Nanti udah capek-capek ibadah, ternyata masuk nerakaโ€ atau perkataan semisal itu.

Pertanyaan semisal ini pun banyak ditanyakan oleh para sahabat di berbagai kesempatan. Salah satunya adalah pertanyaan seorang sahabat ketika mendengar pernyataan Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wa sallamโ€œTidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.โ€

Para sahabat bertanya, โ€œWahai Rasulullah, kalau begitu apakah kami tinggalkan amal saleh dan bersandar dengan apa yang telah dituliskan untuk kami (ittikal)?โ€ (Maksudnya, pasrah saja tidak melakukan suatu usaha, -pen.)

Kemudian Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

โ€œBeramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah untuk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka.โ€ Kemudian Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam membaca firman Allah (yang artinya), โ€œAdapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.โ€ (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir dan Muslim, kitab al-Qadar)

Contoh lain adalah ketika sahabat Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

Umar: โ€œApakah amal yang kita lakukan itu kita sendiri yang memulai (belum ditakdirkan) ataukah amal yang sudah selesai ditentukan takdirnya?โ€

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab: โ€œBahkan amal itu telah selesai ditentukan takdirnya.โ€

Umar: โ€œJika demikian, untuk apa beramal?โ€

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam: โ€œWahai Umar, orang tidak tahu hal itu, kecuali setelah beramal.โ€

Umar: โ€œJika demikian, kami akan bersungguh-sungguh, wahai Rasulullah!โ€ (Riwayat ini disebutkan oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya no. 168 dan penulis Kanzul Ummal, no. 1583)

Sementara apa yang dilakukan sebagian orang dengan alasan ketetapan tersebut, kemudian mereka pasrah dan bahkan bermudah-mudah atau melegalkan perbuatan maksiat. Maka hal ini tidak dibenarkan. Mereka yang melakukan ini beranggapan, bahwa mereka berbuat maksiat tersebut karena sudah ditetapkan, karena itu mereka tidak berdosa. Sungguh pendapat ini sangat jauh dari kebenaran.

Untuk menjawab kerancuan ini, bahwa seseorang ketika melakukan sesuatu, dia dihadapkan pada pilihan; melakukannya ataukah membatalkannya. Sementara saat menghadapi pilihan tersebut, ia tidak tahu apakah ia ditakdirkan melakukan kemaksiatan ataukah ketaatan. Kemudian, ketika ia memilih melakukan kemaksiatan, itu merupakan pilihannya, namun keduanya terjadi berdasarkan takdir dari Allah. Lain halnya dengan orang yang dipaksa melakukan pelanggaran, ia tidak dihukum disebabkan melakukan pelanggaran tersebut, karena ia dipaksa melakukannya, bukan berdasarkan pilihannya sendiri.

Jawaban lain bagi orang yang menjadikan takdir Allah sebagai pembenaran maksiat yang dilakukannya adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Syaikh Utsaimin, bahwa ketika terjadi kasus semacam ini, kita katakan kepadanya, โ€œEngkau menyatakan bahwa Allah telah mentakdirkanmu untuk melakukan maksiat sehingga engkau melakukannya. Mengapa engkau tidak menyatakan sebaliknya, bahwa Allah mentakdirkanmu untuk melakukan ketaatan, sehingga engkau mentaati-Nya, sebab perkara takdir adalah perkara yang sangat rahasia, tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah Taโ€™ala saja. Kita tidak tahu apa yang Allah tetapkan dan takdirkan itu melainkan setelah kejadiannya. Mengapa tidak engkau hentikan saja kemaksiatan itu, lalu engkau melakukan yang sebaliknya (ketaatan), dan setelah itu engkau katakan bawah hal ini aku lakukan dengan sebab takdir Allah.โ€ (Syarah Hadits Arbaโ€™in)

Ini sebagaimana seseorang yang lapar, tentu orang itu tidak akan diam saja agar kenyang. Tetapi ia akan berusaha untuk menghilangkan rasa laparnya itu dengan makan. Tidak mungkin ia menunggu saja hanya karena ia yakin sudah ditakdirkan akan kenyang. Demikianlah, karena seseorang tidak tahu apakah yang akan terjadi atau yang telah ditetapkan untuknya. Namun orang tersebut tentu tahu, agar kenyang atau hilang rasa laparnya, maka ia harus makan. Demikian pula seorang mukmin, ia tahu bahwa untuk masuk surga, maka ia harus berbuat ketaatan kepada Allah.

Wallahu aโ€™lam bi showab.

***

Penulis: Ummu Ziyad

Murajaโ€™ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Syarah Hadits Arbaโ€™in, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-โ€˜Utsaimin, Pustaka Ibnu Katsir.
  • Fatawa Rasulullah, Anda Bertanya, Rasulullah Menjawab, karya Ibnul Qayyim,ย Tahqiqย danย Taโ€™liqย Syaikh Qasim ar-Rifaโ€™i, Pustaka As-Sunnah.
  • Shahih Ensiklopedi Hadits Qudsi, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu.
  • Tamasya ke Surga, karya Ibnul Qayyim, Pustaka Arafah.

Sumber: https://muslimah.or.id/1997-ketika-bahagia-dan-celaka-telah-ditentukan.html
Copyright ยฉ 2026 muslimah.or.id

Kalau Ketek Bau Menyengat, Jangan Shalat Berjamaah dulu

Alhamdulillah tetap ada kaum muslimin yang bersemangat menjaga shalat berjamaah lima waktu di masjid karena memang pendapat yang paling kuat bahwa laki-laki wajib hukumnya shalat berjamaah di masjid. Salah satu dalilnya, adalah orang buta yang meminta udzur tidak menghadiri shalat berjamaah dengan berbagai udzur-udzur berat kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, tetapi beliautidak mengizinkannya karena masih mendengar adzan. Maka bagaimana dengan orang yang sehat dan tidak ada udzur berat?

Mungkin kita pernah punya pengalaman shalat berjamaah,kemudian di sebelah kita ada bau yang cukup menyengat dari pangkal lengan. Tentu kita sangat terganggu dan shalat tidak khusyuโ€™. Oleh karena itu hendaknya kita memeriksa diri kita sebelum masuk ikut bergabung dengan jamaah, kita memeriksa bau dan aroma tubuh. Jika ada bau yang tidak enak atau bahkan menyengat maka hendaknya menunda ikut jamaah dengan membersihkannya bahkan diperbolehkan tidak ikut shalat berjamaah karena udzur syarโ€™i.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู, ุงู„ู’ุจูŽู‚ู’ู„ูŽุฉูุŒ ุงู„ุซู‘ูˆู…ู (ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุฑู‘ุฉู‹: ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุตูŽู„ูŽ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูˆู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูุฑู‘ุงุซูŽ) ููŽู„ุงูŽ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุจูŽู†ู‘ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽู†ูŽุงุŒ ููŽุฅูู†ู‘ ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุฉูŽ ุชูŽุชูŽุฃูŽุฐู‘ู‰ ู…ูู…ู‘ุง ูŠูŽุชูŽุฃูŽุฐู‘ู‰ ู…ูู†ู’ู‡ู ุจูŽู†ููˆ ุขุฏูŽู…ูŽโ€. (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

โ€œBarangsiapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, โ€œBarangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats [sejenis mentimun]), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal (bau) yang membuat Bani Adam (manusia) terganggu.โ€[1]

Jika ada bau menyengat, wajib meninggalkan shalat berjamaah sementara

Semua bau menyengat seperti bau mulut,bau hidung atau ketiak, maka wajib ia meninggalkan shalat berjamaah sementara.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,

ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุฌุฑ : ูˆู‚ุฏ ุฃู„ู’ุญูŽู‚ูŽ ุจู‡ุง ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู…ุง ููŠ ู…ุนู†ุงู‡ุง ู…ู† ุงู„ุจู‚ูˆู„ ุงู„ูƒุฑูŠู‡ุฉ ุงู„ุฑุงุฆุญุฉ ุŒ ูƒุงู„ูุฌู„

โ€œPara ulama menyamakan yang semakna dengannya (bau bawang) seperti sayuran (polongan) dan lobak yang menyengat.โ€[2]

Berkata Al-maziriy,

ู‚ุงู„ ุงู„ู…ุงุฒุฑูŠ : ูˆุฃู„ู’ุญูŽู‚ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุจุงู„ุฑูˆุงุฆุญ ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู…ุตุงู†ูุน : ูƒุงู„ู‚ุตู‘ุงุจ ูˆุงู„ุณู‘ูŽู…ู‘ุงูƒ . ู†ู‚ู„ู‡ ุงุจู† ุงู„ู…ู„ู‚ู‘ูู† .

โ€œpara ahli fiqh menyamakannya dengan bau para pekerja pabrik seperti tukang giling daging dan tukang ikan.โ€[3]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-โ€˜Utsaimin rahimahullah berkata,

ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก : ุฅู† ู…ุง ูƒุงู† ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุŒ ูˆู„ุง ุตู†ุน ู„ู„ุขุฏู…ูŠ ููŠู‡ ุฅุฐุง ูƒุงู† ูŠุคุฐูŠ ุงู„ู…ุตู„ูŠู† ูุฅู†ู‡ ูŠูŽุฎุฑุฌ ( ูŠุนู†ูŠ ู…ู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ ) ุŒ ูƒุงู„ุจุฎุฑ ููŠ ุงู„ูู… ุŒ ุฃูˆ ุงู„ุฃู†ู ุŒ ุฃูˆ ู…ู† ูŠุฎุฑุฌ ู…ู† ุฅุจุทูŠู‡ ุฑุงุฆุญุฉ ูƒุฑูŠู‡ุฉ ุŒ ูุฅุฐุง ูƒุงู† ููŠูƒ ุฑุงุฆุญุฉ ุชุคุฐูŠ ูู„ุง ุชู‚ุฑุจ ุงู„ู…ุณุฌุฏ.

โ€œBerkata para ulama, jika penyakit tersebut dari Allah, maka manusia tidak bisa berusaha (untuk bisa hadir). Jika akan menggangu orang yang shalat maka sebaiknya ia keluar dari masjid (tidak ikut shalat berjamaah). Bau pada uap mulut (bau mulut), bau hidung atau apa yang keluar dari ketiaknya berupa bau yang menyengat. Jika pada mulut engkat terdapat bau yang menganggu maka jangalah engkau mendekati masjid (jangan ikut shalat berjamaah).โ€[4]

Jika punya penyakit dapat udzur tidak shalat jamaah

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab,

ู†ุนู… ู‡ุฐุง ุนุฐุฑ ุดุฑุนูŠ ุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู† ููŠู‡ ุจุฎุฑ ุดุฏูŠุฏ ุงู„ุฑุงุฆุญุฉ ุงู„ูƒุฑูŠู‡ุฉ ูˆู„ู… ูŠุชูŠุณุฑ ู„ู‡ ู…ุง ูŠุฒูŠู„ู‡ ูู‡ูˆ ุนุฐุฑ ุŒ ูƒู…ุง ุฃู† ุงู„ุจุตู„ ูˆุงู„ูƒุฑุงุซ ุนุฐุฑ ุŒ ุฃู…ุง ุฅู† ูˆุฌุฏ ุฏูˆุงุกู‹ ูˆุญูŠู„ุฉ ุชุฒูŠู„ู‡ ูุนู„ูŠู‡ ุฃู† ูŠูุนู„ ุฐู„ูƒ ุญุชู‰ ู„ุง ูŠุชุฃุฎุฑ ุนู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูˆุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุŒ ูˆู„ูƒู† ู…ุชู‰ ุนุฌุฒ ุนู† ุฐู„ูƒ ูˆู„ู… ูŠุชูŠุณุฑ ูู‡ูˆ ู…ุนุฐูˆุฑ ุฃุดุฏ ู…ู† ุนุฐุฑ ุตุงุญุจ ุงู„ุจุตู„ ุŒ ูˆุงู„ุจุฎุฑ ู„ุง ุดูƒ ุฃู†ู‡ ู…ุคุฐู ู„ู…ู† ุญูˆู„ู‡ ุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุฑุงุฆุญุชู‡ ุธุงู‡ุฑุฉ

โ€œya, ini adalah usdzur syarโ€™i. Jika pada mulutnya terdapat bau yang sangat menyengat dan tidak mudah baginya untuk menghilangkannya maka ini adalah udzur. Sebagaimana bawang putih dan kurrats (sejenis daun bawang) adalah udzur. Akan tetapi jika didapatkan obat dan cara untuk menghilangkannya maka wajib ia lakukan agar tidak tertinggal shalat Jumat dan berjamaah. Akan tetapi kepan saja ia tidak mampu dan tidak mudah baginya maka ia mendapat udzur yang lebih dari mereka yang makan bawang putih. Bau mulut tidak diragukan lagi akan menganggu orang sekitarnya jika baunya jelas.โ€[5]

Tetap dapat pahala berjamaah jika niatnya benar

Nabi shallallahu โ€˜alihi wa sallam bersabda,

ุฅุฐุง ู…ุฑุถ ุงู„ุนุจุฏ ุฃูˆ ุณุงูุฑ ูƒุชุจ ู„ู‡ ู…ุซู„ ู…ุง ูƒุงู† ูŠุนู…ู„ ู…ู‚ูŠู…ุง ุตุญูŠุญุง

โ€œApabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.โ€[6]

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid

10 Shafar 1433 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

[1] HR.Muslim

[2] Fathul Bari 14/364, syamilah

[3] Dinukil dari: http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/omdah/114.htm

[4] Syarhul Mumtiโ€™ 5/86, Darul Ibnil Jauzi, cet. I, 1422 H, syamilah

[5] Nurun Alad darb, kaset 219,Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/16416

[6] HR. Bukhari

sumber: https://muslimafiyah.com/kalau-ketek-bau-menyengat-jangan-shalat-jamaah-dulu.html

Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Syaโ€™ban

Dalil Memperbanyak Puasa di Bulan Syaโ€™ban

Syaโ€™ban adalah satu bulan sebelum Ramadhan. Terdapat hadits bahwa Nabi shalallahu โ€˜alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan Syaโ€™ban, bahkan termasuk puasa sunnah terbanyak yang beliau lakukan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Adalah sunnah memperbanyak puasa di bulan syaโ€™ban berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh โ€˜Aisyah radhiallahu โ€˜anha, beliau berkata,

ูŠูŽุตููˆู…ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ู†ูŽู‚ููˆู„ูŽ: ู„ุงูŽ ูŠููู’ุทูุฑูุŒ ูˆูŽูŠููู’ุทูุฑู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ู†ูŽู‚ููˆู„ูŽ: ู„ุงูŽ ูŠูŽุตููˆู…ูุŒ ููŽู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงุณู’ุชูŽูƒู’ู…ูŽู„ูŽ ุตููŠูŽุงู…ูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู‡ู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุตููŠูŽุงู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ู ูููŠ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ

โ€œTerkadang Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, โ€˜Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Syaโ€™banโ€ (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Aisyah juga berkata,

ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ู ุดูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ู ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ูƒูู„ูŽู‘ู‡ู

โ€œBelum pernah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Syaโ€™ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Syaโ€™ban sebulan penuhโ€ (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keutamaan Memperbanyak Puasa di Bulan Syaโ€™ban

Hikmah memperbanyak puasa di bulan Syaโ€™ban adalah karena pada bulan itu amal terangkat dan lebih baik jika amal tersebut terangkat dan kita dalam keadaan berpuasa. Sebagaimana penjelasan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar beliau berkata,

ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ูููŠ ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽุตูŽุญูŽู‘ ู…ูู…ูŽู‘ุง ู…ุถู‰ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุตุญุญู‡ ุจู† ุฎูุฒูŽูŠู’ู…ูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูุณูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุฒูŽูŠู’ุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุฑูŽูƒูŽ ุชูŽุตููˆู…ู ู…ูู†ู’ ุดูŽู‡ู’ุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูู‘ู‡ููˆุฑู ู…ูŽุง ุชูŽุตููˆู…ู ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑูŒ ูŠูŽุบู’ููู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฑูŽุฌูŽุจู ูˆูŽุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑูŒ ุชูุฑู’ููŽุนู ูููŠู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ุฅู„ู‰ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ูุฃุญุจ ุฃู† ูŠุฑูุน ุนู…ู„ูŠ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุฆูู…ูŒ .

โ€œPendapat yang benar di dalam hal ini adalah apa yang disebutkan di dalam sebuah hadits yang lebih shahih dibandingkan sebelumnya, diriwayatkan oleh An-Nasai dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: โ€œEngkau pernah berkata: โ€œWahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa (lebih banyak) dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana engkau berpuasa di bulan Syaโ€™ban, kemudian beliau menjawab: โ€œBulan itu adalah bulan yang dilalaikan manusia yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasaโ€ (Lihat penjelasan kitab Fathul Al Bari).

Demikian juga penjelasan dari Ibnul Qayyim, beliau berkata,

ูุฅู† ุนู…ู„ ุงู„ุนุงู… ูŠุฑูุน ููŠ ุดุนุจุงู† ูƒู…ุง ุฃุฎุจุฑ ุจู‡ ุงู„ุตุงุฏู‚ ุงู„ู…ุตุฏูˆู‚ ุฃู†ู‡ ุดู‡ุฑ ุชุฑูุน ููŠู‡ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ูุฃุญุจ ุฃู† ูŠุฑูุน ุนู…ู„ูŠ ูˆุฃู†ุง ุตุงุฆู…

โ€œSesungguhnya amalan dalam setahun akan diangkat pada bulan Syaโ€™ban sebagaimana yang diberitahulkan oleh Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam), dan ia adalah bulan diangkatnya amalan-amalan di dalamnya dan aku suka diangkat amalanku dalam keadaan aku berpuasaโ€ (Hasyiah Ibnul Qayyim, 12/313).

Sebagai Persiapan Sebelum Puasa Ramadhan

Hikmahnya juga adalah dalam rangka persiapan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, yaitu bulan setelah Syaโ€™ban. Mempersiapkan diri sudah terbiasa puasa sebulan sebelumnya. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata,

ุงู„ุตูŠุงู… ู…ู† ุดู‡ุฑ ุดุนุจุงู† ุงุณุชุนุฏุงุฏุงู‹ ู„ุตูˆู… ุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู†

โ€œPuasa bulan Syaโ€™ban dalam rangka persiapan puasa bulan Ramadhanโ€ (Fatawa Jawab wa Sual no. 92748)

Beberapa Puasa yang Bisa Dilakukan di Bulan Syaโ€™ban

  1. Puasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak berpuasa
  2. Puasa Senin dan kamis
  3. Puasa sebanyak tiga hari di setiap bulan Hijriyah

Bisa dilakukan di awal bulan, di tengah bulan dan di akhir bulan. Jika dilakukan tiga hari pada tanggal 13, 14 dan 15, maka inilah yang disebut dengan puasa Ayyamul Bidh

Kombinasi Amalan Puasa di Bulan Syaโ€™ban

Timbul pertanyaan, apakah puasa Daud bisa dikombinaasikan dengan puasa lainnya seperti puasa  senin-kamis. Ini ada dua pendapat:

  1. Tidak boleh dikombinasikan

Berdasarkan hadits mengenai Abdullah bin โ€˜Amr yang dinasehati oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam untuk berpuasa Daud, lalu beliau menegaskan mampu melakukan lebih dari puasa Daud. Akan tetapi Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melarangnya, beliau lalu bersabda,

ู„ูŽุง ุฃูŽูู’ุถูŽู„ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ

โ€œTidak ada yang lebih utama dari pada puasa Daudโ€ (HR. Bukhari 3418, Muslim 1159).

  1. Boleh dikombinasikan

Dalam Fatawa Syabakiyah AL-Islamiyah dijelaskan,

ูˆู„ูƒู† ู…ู† ุฃุญุจ ุฃู† ูŠุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ูุถูŠู„ุชูŠู†ุŒ ูˆู‡ูˆ ุตูŠุงู… ูŠูˆู…ุŒ ูˆุฅูุทุงุฑ ูŠูˆู…ุŒ ูˆุตูŠุงู… ุงู„ุงุซู†ูŠู† ูˆุงู„ุฎู…ูŠุณุŒ ูู‚ุฏ ุญุตูŽู‘ู„ ุฎูŠุฑุงู‹ ูƒุซูŠุฑุงู‹โ€ฆ  ูˆุนู„ูŠู‡ ูู„ุง ุญุฑุฌ ููŠ ุฐู„ูƒุŒ ุจู„ ู‡ูˆ ู…ู† ุงู„ู…ุณุงุฑุนุฉ ููŠ ุงู„ุฎูŠุฑุงุช

โ€œMereka yang suka menggabungkan dua puasa yang punya keutamaan yaitu puasa Daud dan Puasa Senin-Kamis, maka telah mendapatkan kebaikan yang banyak, bahkan termasuk dalam bersegera daam kebaikanโ€ (Fatawa no. 6488)

Demikian semoga bermanfaat

@Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:ย dr. Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/29840-anjuran-memperbanyak-puasa-di-bulan-syaban.html

Tidak Sadar Selama Sebulan, Apakah Harus Qadha Shalat?

Jika pingsan atau hilang kesadaran hanya sebentar, misalnya 5 jam kemudian tertinggal shalat dzuhur maka wajib mengqadha sesegera mungkin. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ู…ู† ู†ุงู… ุนู† ุตู„ุงุฉ ุฃูˆ ู†ุณูŠู‡ุง ูู„ูŠุตู„ู‡ุง ุฅุฐุง ุฐูƒุฑู‡ุง

โ€œBarangsiapa yang tertidur dari melakukan shalat atau terlupa maka hendaklah ia shalat saat telah ingatโ€[1]

Bagaimana jika pingsan dalam waktu yang agak lama, misalnya sebulan? Apakah harus qadha atau tidak. Mengenai hal ini, syaikh Muhammad bin Shalih Al-โ€˜Utsaimin rahimahullah berkata[2],

ุฃู…ุง ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู„ู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ู‚ุถุงุฆู‡ุง ู‚ูˆู„ุงู†:

ุฃุญุฏู‡ู…ุง: ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู„ุง ู‚ุถุงุก ุนู„ูŠู‡ ู„ุฃู† ุงุจู† ุนู…ุฑ -ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง-

ุฃุบู…ูŠ ุนู„ูŠู‡ ูŠูˆู…ุงู‹ ูˆู„ูŠู„ุฉ ูู„ู… ูŠู‚ุถ ู…ุง ูุงุชู‡

ูˆุงู„ู‚ูˆู„ ุงู„ุซุงู†ูŠ: ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ุถุงุก ูˆู‡ูˆ ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ุชุฃุฎุฑูŠู† ู…ู† ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉุŒ ู‚ุงู„

ููŠ ุงู„ุฅู†ุตุงู: ูˆู‡ูˆ ู…ู† ู…ูุฑุฏุงุช ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ูˆู‡ูˆ ู…ุฑูˆูŠ ุนู† ุนู…ุงุฑ ุจู† ูŠุงุณุฑ ุฃู†ู‡ ุฃุบู…ูŠ ุนู„ูŠู‡ ุซู„ุงุซุงู‹ ูˆู‚ุถู‰ ู…ุง ูุงุชู‡

Adapun untuk shalat, para ulama berbeda menjadi dua pendapat :

  1. Pendapat jumhur ulama yaitu tidak ada qadha baginya karena ada riwayat bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma pernah pingsan sehari semalam dan tidak mengqadha shalat yang ditinggalkannya.[3]
  2. Dia wajib mengqadhanya, dan ini adalah madzhab ulama sekarang dan madzhab Hambali. Dikatakan dalam kitab Al-Inshaf, โ€œHal ini kekayaan perbendaharaan madzhab, dan ini diriwayatkan dari Ammar bin Yasir bahwa ketika beliau pingsan tiga hari beliau mengqadha apa yang ditinggalkannya.โ€[4]

Dan pendapat yang beliau pilih adalah tidak Wajib qhada jika pingsan dalam waktu yang lama. Beliau berkata,

ู„ุง ูŠู‚ุถูŠ ู…ุทู„ู‚ุงโ€ ูˆุฃู…ุง ู‚ุถุงุก ุจุนุถ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูุฅู†ู‡ ูŠุญู…ู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณุชุญุจุงุจ ุฃูˆ ุงู„ุชูˆุฑุน ูˆู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒ

โ€œTidak diqadha secara mutlak, adapun qadha yang dilakukan oleh sebagian sahabat maka dimungkinkan karena anjuran atau kehati-hatian atau semisalnya.โ€[5]

Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi) dijelaskan,

ู„ุง ูŠู‚ุถ ู…ุง ุชุฑูƒู‡ ู…ู† ุงู„ุตู„ูˆุงุช ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุฏุฉุŒ ู„ุฃู†ู‡ ููŠ ุญูƒู… ุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ูˆุงู„ุญุงู„ ู…ุง ุฐูƒุฑ ูˆุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ู…ุฑููˆุน ุนู†ู‡ ุงู„ู‚ู„ู….

โ€œTidak diqadha shalat yang ditinggalkan dalam jangka waktu ini (satu bulan) karena ia sebagaimana hukumnya orang gila, dan keadaan orang gila adalah diangkat kewajiban baginya.โ€[6]

Sebaiknya memperbanyak ibadah dan shalat yang sunnah

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah berkata,

ู„ุง ุดูŠุก ุนู„ูŠู‡ ูˆู„ุง ูŠู„ุฒู…ู‡ ุงู„ู‚ุถุงุก ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุฏุฉ ุงู„ุทูˆูŠู„ุฉ ู„ู…ุง ููŠ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุงู„ู…ุดู‚ุฉ ูˆุงู„ุชู†ููŠุฑ ุนู† ุงู„ุนุจุงุฏุฉุŒ ุจู„ ุนู„ูŠู‡ ุฃู† ูŠูƒุซุฑ ู…ู† ู†ูˆุงูู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุนุจุงุฏุงุช ุนูˆุถุง ุนู…ุง ูุงุชู‡ ูˆู‚ุช ุงู„ุบูŠุจูˆุจุฉุŒ ูˆู„ุฃู† ุงู„ุฅุบู…ุงุก ุงู„ุทูˆูŠู„ ูˆุบูŠุจูˆุจุฉ ุงู„ููƒุฑ ูˆุงู„ุนู‚ู„ ุดุจูŠู‡ ุจุงู„ุฌู†ูˆู†ุŒ ูˆุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ู…ุฑููˆุน ุนู†ู‡ ุงู„ู‚ู„ู… ุญุชู‰ ูŠููŠู‚ ูƒู…ุง ูˆุฑุฏ ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ

Tidak ada kewajiban baginya dan tidak keharusan mengqadha untuk jangka waktu yang panjang karena dalam hal tersebut terdapat kesusahan dan membuat lari (menjauh) dari ibadah. Akan tetapi ia selayaknya memperbanyak ibadah shalat dan ibadah nawafil (shalat sunnah misalnya) sebagai pengganti apa yang telah tertinggal ketika tidak sadar, karena pingsan yang lama, hilangnya pikiran dan akal menyerupai gila, dan orang gila diangkat kewajiban baginya sampai ia sadar sebagaimana terdapat dalam hadits.[7]

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid

9 Shafar 1433 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

[1] HR. Muslim no. 1567

[2] Fatawa Arkanil Islam 3/42 pertanyaan no.186, syamilah

[3] HR. Bukhari dalam Kitab Mawaqit Dan Muslim dalam Kitab masajid Bab Qadha shalat yang tertinggal.

[4] HR. Imam Malik Bab Ma-jaโ€™a fi jamiil waqti

[5] Dinukil dari: http://majles.alukah.net

[6] Dinukil dari http://www.al-eman.com

[7] Sumber: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=6&book=49&toc=&page=2065&subid=

sumber: https://muslimafiyah.com/tidak-sadar-selama-sebulan-apakah-harus-qadha-shalat.html