Masa Muda yang DipertanggungJawabkan

Masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah, akan tetapi dibalik semangat ini perlu kontrol dan perlu pembinaan agar tidak berlebihan dan keluar dari bimbingan syariat. Dengan keunggulan dan kelebihan pada usia muda seperti semangat masih membara, tenaga masih kuat, pikiran masih fresh dan tekad yang kuat, masa muda akan diminta pertanggung jawabannya secara khusus. Perhatikan hadits berikut,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).”[1]

Usia akan ditanya dan diminta pertanggung jawaban untuk apa dihabiskan. Masa muda termasuk dalam usia, akan tetapi selanjutnya, masa muda kembali ditanyakan dan diminta pertanggung jawaban secara khusus. Oleh karena itu masa muda ini perlu benar-benar diperhatikan, terlebih pemuda adalah generasi penerus.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu berkata ,

والشباب في أي أمة من الأمم ، هم العمود الفقري الذي يشكل عنصر الحركة والحيوية إذ لديهم الطاقة المنتجة ، والعطاء المتجدد ، ولم تنهض أمة من الأمم غالبا إلا على أكتاف شبابها الواعي وحماسته المتجددة .

“Para pemuda pada setiap umat manapun, mereka adalah tulang punggung yang membentuk unsur pergerakan dan dinamisasi. Pemuda mempunyai kekuatan yang produktif, kontribusi yang terus menerus. Tidak akan bangkit suatu umat umumnya kecuali ada di pundak [ada kepedulian dan sumbangsih, pent] para pemuda yang punya kepedulian dan semangat menggelora.”[2]

Pujian bagi pemuda yang tumbuh dalam naungan Islam

Sangat luar biasa jika seorang pemuda dengan berbagai macam godaan dunia, mereka tetap teguh beragama dan istiqamah. Padahal pemuda masih cenderung terhadap dunia serta memiliki kemampuan dan semangat untuk meraihnya. Oleh karena itu pemuda seperti ini mendapat naungan Allah di hari yang sangat susah di hari kiamat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”[3]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”[4]

Maksud “shabwah” adalah pemuda yang tidak mengikuti hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Hendaknya para pemuda mengisi waktu mereka dengan kegiatan positif atau mencari-cari kegiatan positif. Misalnya menghadiri majelis ilmu, menghapalkan Al-Quran dan sunnah, membuat kegiatan sosial dan lain-lainya. Tidak lupa juga segera mencari teman yang baik, teman bergaul yang baik dalam melaksanakan kegiatan tesebut agar bisa saling menopang dan saling menasehati. Pemuda masih sangat labil serta mudah terpengaruh dan terhasut oleh lingkungan dan pertemanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل

“Seorang manusia akan mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang darimu melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya”[5]

Jika kita lihat pemuda di zaman sekarang, banyak banyak hal-hal aneh yang mereka lakukan. Misalnya saja sekelompok anak “punk”, memakai “tepong” cincin di hidung, lidah dan pusar, mewarnai rambut dan mengolah rambut dengan bentuk yang sangat aneh. Melakukan aksi kebut-kebutan di jalan dengan berbonceng empat, atau melakukan berbagai kegiatan aneh lainnya yang intinya adalah mencari perhatian dan mengisi waktu mereka sebagai dorongan hasrat jiwa muda mereka.

Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak ada kegiatan yang bernilai positif. Jika tidak diisi dengan kegiatan positif, maka akan diisi dengan kegiatan negatif.

Ketika pemuda mengalami kekosongan waktu (kosong dari kegiatan positif), maka mereka mulai mulai mencari-cari kegiatan atau mengisinya dengan kegiatan yang paling minimal sia-sia dan kurang bermanfaat seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas. Belum lagi ada yang merasa kurang perhatian baik dari keluarga dan temannya, maka ia akan melakukan hal-hal yang aneh, ajaib bahkan vulgar agar tetap eksis. Misalnya balap-balapan di jalan raya, membuat kerusuhan di sekolah bersama gengnya bahkan membuat video tidak layak dengan geng atau pasangan tidak halalnya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”[6]

Inilah kaidah kehidupan, bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan kita dengan kegiatan positif, kita tidak mencari kegiatan positif, maka pasti kita isi dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi seorang pemuda yang jiwanya masih bergelora.

Semoga Allah menjaga pemuda muslim dan muslimah

@ Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Catatan kaki:[1] HR. At-Tirmidzi, Lihat Ash-Shahihah no. 946[2] Majmu’ Fatawa Bin Baz 27/274, Syamilah[3] HR. Bukhari no. 1357 dan Muslim no. 1031[4] HR Ahmad 2/263, dishahihkan leh syaikh Al-Albani dalam “ash-Shahiihah” no. 2843[5] HR Abu Dawud no. 4833,dihasankan oleh syaikh Al-Albani.[6] Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah

Sumber: https://muslim.or.id/33857-masa-muda-yang-dipertanggungjawabkan.html

Berusaha Menabung Untuk Berkurban

Ibadah kurban adalah salah satu syiar Islam yang agung dan merupakan amalan shalih yang sangat utama. Hal ini telah disyariatkan berdasarkan Al-Quran, sunnah, dan kesepakatan kaum muslimin. Allah berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS Al-Kautsar : 2)

Pada dasarnya, perintah berkurban ditujukan bagi orang yang mampu, di mana dia memiliki hewan kurban atau memiliki harta untuk membeli hewan kurban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki, namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad no. 8273, Ibnu Majah no. 3123)

Meski demikian, motivasi berkurban ditujukan untuk semua kaum muslimin, bukan hanya orang kaya. Dahulu sebagian ulama bahkan rela berhutang demi melakukan ibadah ini, tentu dengan keyakinan mereka mampu untuk melunasinya. Mereka melakukan itu, sebab mereka yakin akan kebaikan dari ibadah sembelihan tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam keadaan berada ataupun sedang mengalami kekurangan, beliau selalu berkurban setiap tahun. Walau memiliki gaya hidup sederhana, sejak hijrah dan bertempat tinggal di Madinah, beliau tidak pernah absen berkurban. Baginya, kurban adalah ibadah yang diupayakan setiap tahun, bukan ibadah yang dilakukan sekali seumur hidup, atau ibadah yang hanya dilakukan saat kaya saja.

Jika kita mampu untuk menabung demi membeli barang impian kita, bisa menabung demi memenuhi hobi kita, bisa menabung demi menikmati makanan kesukaan kita, mestinya kita bisa menabung untuk akhirat kita.

Jangan sampai enggan berkurban karena khawatir tak bisa menafkahi keluarga, khawatir kekurangan modal usaha, khawatir barang impian tidak jadi terbeli. Tak ada ceritanya orang menjadi miskin karena berkurban. Ingatlah janji Allah,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/berusaha-menabung-untuk-berkurban.html

INILAH DUA DOSA YANG DISEGERAKAN HUKUMANNYA DI DUNIA

INILAH DUA DOSA YANG DISEGERAKAN HUKUMANNYA DI DUNIA

Rasulullah ﷺ bersabda:

اثنان يعجلهما الله في الدنيا: البغي وعقوق الوالدين

“Ada dua dosa yang akan disegerakan hukumannya oleh Allah di dunia:

• Perbuatan zalim dan

• Durhaka pada orang tua.” [Lihat as-Silsilah as-Shahihah no. 1120]

Hal ini dikarenakan terkabulnya doa orang tua, apalagi di saat orang tua terzalimi. Kemudian ia menengadahkan tangannya ke langit, mengadukan sakit hatinya kepada Allah, maka doa orang tua ini akan bergerak dan berhembus menuju angkasa, menembus awan, mencapai langit, dan diamini oleh para malaikat, kemudian Allah ﷻ mengabulkannya. Maka berhati-hatilah kita dari berbuat zalim dan durhaka kepada kedua orang tua!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu:

• Doa orang tua,

• Doa orang yang bepergian (safar) dan

• Doa orang yang dizalimi.” [HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadis ini Hasan]

Rasulullah ﷺ bersabda:

Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena ia akan terbang di atas awan, kemudian Allah berkata: ‘Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, Aku pasti menolongmu, meskipun setelah berlalunya waktu’. [Disahihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 117]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena ia akan terbang menuju langit. [Disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ : 118]

Hal ini juga menunjukkan betapa agungnya hak kedua orang tua kita, sampai-sampai Allah meletakkan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua setelah kewajiban menyembah kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu memersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu. [QS. an-Nisa’ : 36]

sumber : https://nasihatsahabat.com/inilah-dua-dosa-yang-disegerakan-hukumannya-di-dunia/

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.

Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم

“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.

Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.

Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.

Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)

Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.

Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.

Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diri

Manusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ

“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)

Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.

Unsur jasad (lahir)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)

Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.

Unsur ruh (batin)

Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)

Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.

Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.

Kedua, mengenali kebutuhan pokok diri

Ketika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.

Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)

Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.

Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه

“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)

Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.

Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diri

Setelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.

Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)

Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.

Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:

Dosa dan maksiat

Dosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)

Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.

Lalai dari zikir dan ibadah

Ruh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.

Syubhat, syahwat, dan hawa nafsu

Syubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.

Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,

وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ

“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)

Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.

Tidak menuntut ilmu agama

Hati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Buruknya teman dan lingkungan

Ruh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.

Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulang

Mengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

sumber: https://muslim.or.id/113513-mengenali-diri-sendiri-jalan-menuju-ketenangan-hati.html

Batas Nafkah Untuk Anak Perempuan

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz bolehkah ana bertanya untuk terakhir kalinya? Pertanyaan tentang nafkah ustadz. Saya anak terakhir dari 8 bersaudara, dan ada anak laki laki 1 sedangkan ada 7 anak perempuan. Dan saya termasuk anak perempuan yang terakhir atau anak bungsu. Dan ada anak 6 orang perempuan semuanya udah menikah tersisa saya dan abang saya yang tunggal yang belum menikah. Terus bukannya batas nafkah bagi anak perempuan sampai dia menikah? Dan batas nafkah seorang anak laki-laki sampai dia baligh. Sehabis itu adalah sedekah?

Dan seorang anak berhak menerima nafkah lahir dan batin. Dan berupa apa sajakah itu ustadz? Ana punya kakak yang dimana dia sering ngatain ana ini selalu minta minta ke orangtua padahal ana belum menikah dan tidak diijinkan orangtua ana untuk bekerja. Ana sering minta ijin untuk bekerja tapi tetap jawabannya tidak boleh. Terus apakah salah orangtua ana memberikan ana sejumlah uang setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan ana?Dan uang itu ana belikan kebarang barang yang mungkin ana butuhkan. Tapi sering kalinya ana ini di katain oleh kakak ana terlalu menyusahkan orangtua ustadz, terus ada kalanya ana menjawab perkataannya seperti ” Siapakah yg akan menanggung kebutuhan saya? Kalau bukan orangtua yang bertanggung jawab atas nafkah terus apakah anda siap dalam menanggung semua kebutuhan saya ” Apakah perkataan ana itu salah, apakah dengan menjawab sebuah perkataan itu bisa mengurangi akhlak dan adab ana?. Syukron atas jawabannya.

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Pemberian nafkah atau uang kepada anak perempuan yang belum menikah itu adalah hak dan kewajiban orang tua. Kakak laki-laki tidak berhak ikut campur dalam urusan ini. Sejatinya lepas tanggung jawab orang tua kepada anak perempuannya adalah setelah berhasil mengantarkannya ke jenjang pernikahan. Sehingga anda bisa menyampaikan hal ini kepada kakak laki-laki secara santun dan dengan cara terbaik tanpa menggurui dan menyinggungnya.

Kadang mereka anak laki-laki cemburu saja atau merasa ada jasa karena sudah bekerja dan memberikan sebagian gajinya kepada orang tua. Boleh jadi ini yang dia rasakan, karena pemberian ke orang tuanya dianggap berkurang karena sebab nafkah kepada anda tadi.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya seperti apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45).

Pada dasarnya kita menginginkan kebahagiaan kepada saudara kita, apalagi orang tua. Sang kakak laki-laki ini boleh jadi ingin orang tua bahagia dengan tidak menanggung lagi nafkah semua anak-anaknya yang sudah dewasa. Tapi sayang sekali tindakan ini tidak pada tempatnya. Hal ini tidak berlaku bagi anak perempuan baligh yang belum menikah. Karena sejatinya mereka masih dalam tanggungan orang tua.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Ahmad Yuhanna, Lc. حافظه الله

sumber: https://bimbinganislam.com/batas-nafkah-untuk-anak-perempuan/

Penghina Nabi-Nya Pasti Binasa

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menegaskan bahwa Allah akan membela kehormatan Nabi-Nya ketika ada banyak musuh islam yang berusaha menghina dan melecehkan beliau. Berikut diantaranya,

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (QS. al-Ahzab: 57)

Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (QS. al-Mujadilah: 20).

Surat al-Kautsar & Perjalanan Penghina Nabi

Di akhir surat al-Kautsar, Allah menegaskan,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya setiap orang yang membencimu, dialah orang yang terputus dari segala bentuk kebaikan.” (QS. al-Kautsar: 3)

Ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan orang kafir Quraisy yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, al-Ash bin Wail, Uqbah bin Abi Mu’ith, namun hukumnya berlaku umum, bagi setiap manusia yang melecehkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Mufassir (bapak ahli tafsir), at-Thabari mengatakan:

إن الله تعالى ذكره أخبره أن مبغض رسول الله صلّى الله عليه وسلم هو الأقل الأذل المنقطع عقبه، فذلك صفة كل من أبغضه من الناس، وإن كانت الآية نزلت في شخص معين

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dialah orang yang lemah, hina, yang terputus keturunannya. Itu merupakan sifat bagi setiap manusia yang membenci beliau. Meskipun ayat ini turun berkenan dengan orang tertentu.” (Tafsir at-Thabari, 12:726)

Perlindungan Allah ini menjadi tanda kenabian beliau, meskipun beliau sudah meninggal. Seolah telah menjadi sunatullah, setiap orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti celaka dunia akhirat. Dzat Sang Kuasa, tidak rela ketika utusan-Nya dilecehkan para musuhnya.

Berikut beberapa bukti sejarah:

Pertama, semua orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan kafir Quraisy, mati dalam kondisi mengenaskan. Abu Lahab mati dalam keadaan mengidap penyakit Adasah, badannya mengeluarkan bau yang sangat busuk. Sampai tidak ada satupun keluarganya yang mau mendekatinya. Dia dimandikan dengan disiram air dari jauh. Dan ketika dikuburkan, orang-orang melempari tanah dan batu ke lubang kuburnya dari jauh.

Utbah bin Abu Lahab pernah menarik baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian meludahi wajah beliau yang mulia. Akhirnnya di suatu perjalanan, kepalanya diterkam singa, padahal dia sudah berlindung di tengah kerumunan rombongannya.

Abu Jahal dipenggal kepalanya oleh Ibnu Masud di kerumunan bangkai orang kafir yang berserakan ketika perang badar, setelah dia dijatuhkan dengan serangan putra Afra dan Muadz bin Amr bin Jamuh.

Kisah-kisah lain semacam ini, banyak disebutkan di buku-buku sirah.

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat ajakan untuk masuk Islam kepada dua raja yang menguasai dunia ketika itu. Kaisar (raja Romawi) dan Kisra (raja Persia). Keduanya tidak menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dengan sikap yang berbeda. Raja Romawi menghormati surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memuliakan orang yang membawa surat itu.

Sebagai balasannya, kerajaannya tetap dijaga. Bahkan sampai abad 15, kerajaan Romawi masih ada.

Berbeda dengan raja Persia. Dia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hasilnya, kerajaannya runtuh di zaman Umar bin Khattab. Betapa pendek usianya.

Ketiga, dalam banyak kesempatan, ketika kaum muslimin hendak menaklukkan musuhnya, mereka baru berhasil, setelah ada diantara musuh mereka yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diceritakan Syaikhul Islam:

وقد كان المسلمون إذا حاصروا أهل حصن واستعصى عليهم ، ثم سمعوهم يقعون في النبي صلى اللّه عليه وسلَّم ويسبونه ، يستبشرون بقرب الفتح ، ثم ما هو إلا وقت يسير ، ويأتي الله تعالى بالفتح من عنده انتقاماً لرسوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dulu ada sekelompok kaum muslimin yang mengepung benteng musuh (orang kafir) dan berusaha menyerang mereka. Sampai mereka mendengar ada sebagian musuh yang mencela kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina beliau. Seketika itu, kaum muslimin langsung bergembira dengan dekatnya kemenangan yang akan segera datang. Kemudian hanya dalam waktu yang singkat, Allah memberikan kemenangan, karena murka-Nya untuk membela utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (ash-Sharim al-Maslul, hlm. 116).

Tidak Hanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Janji ini tidak hanya beliau berikan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam semata. Bahkan, Allah memberi janji inni untuk semua nabi dan rasul yang menjadi utusan-Nya. Allah berfirman,

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Sungguh beberapa rasul sebelum kamu telah diperolok-olok, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) karena penghinaan mereka. (QS. al-An’am: 10)

Jika kita tidak bisa bertindak apapun untuk membalas mereka secara langsung, jangan lupakan dalam doa anda, sebagai pembelaan untuk Nabi kita tercinta.

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/24223-penghina-nabi-nya-pasti-binasa.html