Benarkah Harta Itu Sebagai Cobaan?

Semua sudah mengenal apa itu harta. Tidak ada seorang pun yang belum mengerti tentang hal ini. Kemasyhurannya telah menenggelamkan seluruh penjuru dunia. Kedudukan harta sangatlah tinggi dihati manusia, menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6) وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8)

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya anusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (Qs. Al-Aadiyat: 6-8)

Harta adalah satu tuntutan kebutuhan pokok manusia untuk hidup di setiap tempat dan zaman, kecuali di akhir zaman, dimana harta berlimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya karena tidak dapat memanfaatkannya. Waktu itu orang sangat semangat untuk sholat dan ibadah yang tentunya lebih baik dari dunia dan seisinya, karena mereka mengetahui dekatnya hari kiamat setelah turunnya nabi Isa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا وَ إِمَامًا عَدْلاً فَيُكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَ يَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَ يَضَعُ الْجِزْيَةَ وَ يَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ وَ حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا

“Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, telah dekan turunnya Ibnu Maryam pada kalian sebagai pemutus hukum dan imam yang adil, lalu ia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus upeti dan harta melimpah ruah sehingga tidak ada seorang pun yang menerimanya, hingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Ahmad, dan At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 7077)

Akan terjadi juga sebelumnya satu masa yang berlimpah rezeki hingga khalifah tidak menghitung hartanya dengan bilangan namun menyerahkannya dengan cidukan kedua telapak tangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَكُونُ فِى آخِرِ أُمَّتِى خَلِيفَةٌ يَحْثِى الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا

“Akan datang diakhir umatku seorang khalifah yang menciduk harta dengan cidukan tidak menghitungnya dengan bilangan.” (HR Muslim no. 7499)

Semua orang telah mengetahui kegunaan harta di dunia, karenanya mereka berlomba-lomba mencarinya hingga melupakan mereka atau mereka lalai dari memperhatikan perkara-perkara penting yang berhubungan dengan harta. Perkara yang berhubungan dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, hingga akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini telah dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ؟!

Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?! (1)

Demikianlah realita yang terjadi dimasyarakat kita.

Lalu bagaimana sikap islam terhadap harta ini? Ternyata permasalahan rezeki dan harta telah mendapatkan perhatian besar dalam al-Qur`an. Bayangkan kata rezeki dengan kata turunannya diulang sebanyak 123 kali dan kata harta (al-Maal) dengan kata turunannya diulang sebanyak 86 kali. Padahal Allah tidak mengulang-ulang satu kata kecuali demikian besar urgensinya untuk sang makhluk. Sehingga sudah selayaknya kaum muslimin mengenal dan mengerti bagaimana konsep islam terhadap harta dan sikap yang tepat menjadikan harta sebagai nikmat yang membawa kepada kebahagian dunia dan akherat. Minimal mengetahui harta adalah fitnah yang Allah ujikan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat bersyukur dan tegak pada mereka hujjah dan penjelasan yang terang. Semua itu agar orang hidup dengan harta di atas ilmu dan dapat bersabar bila tidak memiliki harta ini.

Allah menciptakan manusia dan memberinya kesukaan kepada syahwat harta, sebagaimana firman-Nya,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imraan/3:14)

Sehingga Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan besarnya kecintaan manusia kepada harta dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ ؛ لاَبْتَغَى ثَالِثاً , وَلاَ يَمَلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ , وَيَتُوْبُ الله عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat. (2)

Fitnah (Cobaan) Harta

Tidak pungkiri lagi harta adalah fitnah (cobaan) yang Allah berikan kepada hamba-Nya sebagaimana firman Allah,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al-Anfaal/8: 28)

Bahkan menjadi fitnah besar bagi umat islam yang merusak dan meluluh lantakkan semua persendian mereka, sehingga mereka terkapar seperti orang sakit dan menjadi hinaan umat lain. Akal dan hati mereka terkendalikan oleh harta sehingga lambat lain lemahlah kondisi mereka. Tentang bahaya firnah harta ini terhadap umat islam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan dalam sabdanya,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta.” (3)

Demikianlah fitnah harta ini telah melanda umat islam diseluruh penjuru dunia dan menyeret mereka kepada bencana yang demikian hebatnya. Hal ini terjadi setelah kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan penaklukan negara-negara besar seperti Rumawi dan Parsia. Tidak mampu selamat dan menjauhkan diri dari fitnah ini kecuali yang Allah berikan kemampuan untuk memahami nash-nash al-Qur`an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memperingatkan harta dengan benar dan tepat. Hal ini membuatnya mampu melihat sebab-sebabnya dan berusaha menghindarinya. Fitnah ini telah menghancurkan kaum muslimin sebelum musuh-musuhnya mencaplok wilayah dan negara islam.

Semua ini telah di jelaskan dengan sangat gamblang dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
Memang demikianlah kemenangan dan harta benar-benar fitnah yang dapat menyeret kepada kenacuran dan kelemahan kecuali bila ditempatkan harta-harta tersebut pada tempatnya. Lihatlah bagaimana harta yang menyebabkan seorang menjadi cinta dunia dan takut mati akan melemahkan barisan kaum muslimin sehingga jumlah yang besar tidak memiliki kekuatan lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“يُوْشَكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الأمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأكَلَة إِلَى قَصْعَتِهَا” فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَمِنْ قِلّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللّه مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيُقْذِفَنَّ اللّه فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ” فَقَالَ قَائِلٌ: يَارَسُوْلَ اللّه، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: “حُبُّ الدُّنيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ”.‏

“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya” lalu bertanya seseorang:’apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab: ”Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan),”, lalu bertanya lagi:’wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?”, kata beliau:”Cinta dunia dan takut mati.” (4)

Sebagaimana yang dikatakan Kaab bin Maalik radhiallahu ‘anhu,

قَالَ: فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِسُوْقِ المْدِيْنَةِ، إِذْا نَبَطِيٌ (5) مِنْ أِنْبَاطِ أَهْلِ الشَّامِ، مِمَنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيْعَهُ بِالْمَدِيْنَةِ، يَقُوْلُ: مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيْرُوْنَ لَهُ، حَتَى إِذَا جَاءَنِي دَفَعَ إِلَيَّ كِتَابَا مِنْ مَلِكِ غَسَانَ، فَإِذَا فِيْهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنّ َصَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ، وَلَمْ يَجْعَلْكَ الله بِدَارِ هَوَانٍ وَلا مُضِيْعَةٍ، فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ

“Ketika aku berjalan-jalan di pasar Madinah, seketika itu ada seorang petani dari petani-petani penduduk Syam yang datang membawa makanan untuk dijual di pasar Madinah berkata:” siapa yang dapat menunjukkan Kaab bin Malik?”lalu orang-orang langsung menunjukannya sampai dia menemuiku dan menyerahkan kepadaku surat dari raja Ghossaan‏, dan aku seorang yang dapat menulis, lalu aku membacanya, dan isinya: amma ba’du, sesungguhnya telah sampai kepadaku berita bahwa pemimpinmu telah berpaling meninggalkanmu dan sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan bagimu tempat yang hina dan kesia-siaan, maka bergabunglah kepada kami, kami akan menyenangkanmu.”

Para musuh islam selalu mengintai kapan penyakit cinta harta menyebar dan merebak dikalangan kaum muslimin.
Ketika fitnah harta ini menyerang kaum muslimin dan terus mendesak setelah penaklukan negeri-negeri yang merupakan kemenangan din islam. Dengannya Allah mengangkat menara syariat dan meninggikan tiang aqidahnya ditambah dengan adanya harta yang berlimpah yang pernah dimiliki negara-negara besar waktu itu. Maka tidak sedikit dari tokoh sahabat dan tabi’in serta para ulama yang shalih yang tidak berhenti mengingatkan dan memperingatkan kaum muslimin dari bahaya yang akan menimpa mereka. Mereka menjelaska jalan yang lurus yang wajib dijalani dengan kesabaran dan mengingatkan mereka dengan kehidupan Rasuullah dan orang yang beriman bersama beliau dan setelah beliau, dalam rangka mengingatkan umat ini dari harta dan fitnahnya. Orang pertama yang mengingatkan hal ini tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ

“Jika telah ditaklukan untuk kalian negara parsi dan rumawi, kaum apakah kalian? Berkata Abdurrahman bin Auf:” kami melakukan apa yang Allah perintahkan (6), beliau berkata:” tidak seperti itu, kalian akan berlomba-lomba kemudian saling berhasad, kemudian saling membenci lalu saling bermusuhan, kemudian kalian berangkat ke tempat-tempat tinggal kaum muhajirin dan kalian menjadikan sebagian mereka membunuh sebagian yang lain.” (7)

Oleh karena itu ketika ditaklukkan gudang harta kisra (raja parsi) Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata,

إِنَّ هَذَا لَمْ يَفْتَحْ عَلَى قَوْمٍ قَطْ إِلا جَعَلَ الله ِبَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya ini tidak dibukakan bagi satu kaum kecuali Allah menjadikan diantara mereka peperangan.”

Dengan demikian harta menjadi salah satu syahwat terbesar yang Allah berikan kepada kita.

Harta Antara Nikmat dan Bencana

Memang harta adalah salah satu syahwat terbesar yang dimiliki manusia, namun juga menjadi salah satu sebab mendekatkan diri kepada Allah. Harta menjadi tiang kehidupan seseorang. Ketika ia berusaha mendapatkan harta yang halal untuk membeli rumah, menikah dan memiliki anak yang solih serta berbahagia dengan keluarga dan hartanya, maka hal ini adalah amalan yang disyariatkan. Mukmin yang kuat lebih baik dari yang lemah, seperti sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ ـ لكن النبي عليه الصلاة والسلام رفيق قال :  وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ  .  رواه  مسلم عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Dengan demikian ada anjuran menjadi hartawan apabila cara mendapatkannya sesuai dengan ajaran islam, sebab harta adalah kekuatan dalam pengertian kesempatan yang diberikan kepada hartawan dalam amal shalih tidak terbatas dan terhitung. Dengan hartanya ia bisa menikahkan para pemuda, mengobati orang sakit, menyantuni para janda dan memberi makan anak yatim dan orang miskin dan lain-lainnya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan mukmin yang kaya dekat dari derajat alim yang beramal dengan ilmunya, dalam sabda beliau:

لا حَسَدَ إِلاّ في اثْنَتَيْنِ : رَجلٌ آتَاهُ الله مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُ منهُ آنَاءَ اللّيْلِ و آنَاءَ النّهَارِ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله القُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللّيْلِ وَ آنَاءَ النّهَار . متفق عليه

“Demikianlah harta dapat menjadi sebab seornag masuk syurga, namun juga bisa membuat seorang terbang terjerumus ke dalam neraka jahannam.”

Ternyata harta itu bisa menjadi nikmat bila dikeluarkan dan digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan akan menjadi bencana bila digunakan untuk keburukan. Hal ini tergantung kepada dari mana mendapatkannya dan bagaimana mengeluarkannya. Oleh karena itu, manusia akan ditanya dihari kiamat tentang hartanya dimana ia mendapatkannya dan kemana ia infakkan.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel www.muslim.or.id

Footnote:

(1) HR. al-Bukhari 2059
(2) HR. al-Bukhari no.6436, Muslim no.1049
(3) HR. at-Timidzi dalam sunannya kitab Az-Zuhd.
(4) Shahih lighairihi (shohih lantaran ada yang lain yang menguatkannya (pen)) dikeluarkan oleh Abu Daud (4297) dari jalan periwayatan ibnu Jabir, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu Abdussalam darinya (Tsauban) secara marfu’
(5) Yaitu petani, dinamakan demikian karena dia mengambil manfaat air.
(6) Kami memuji, mensyukuri dan memohon tamahan keutamaanNya (Annawawiy 18/96).
(7) HR. Muslim (2962).

sumber: https://muslim.or.id/2326-benarkah-harta-itu-sebagai-cobaan.html

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Di zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,

إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ

“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]

Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.

Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi

Ilmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,

تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]

Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]

Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.

AI sebagai alat bantu, bukan sandaran

Tidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.

AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,

ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ

“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]

Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.

Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.

Risiko ketika terlalu bergantung pada AI

Bergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:

Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]

Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.

Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة

Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]

Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]

Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ

“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]

Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.

Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.

Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,

أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ

“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]

Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.

Adab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AI

Di era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.

Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awal

AI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,

الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب

Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]

Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.

Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmu

Apa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)

Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]

AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalil

Jangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,

إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم

Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]

Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.

Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guru

Kemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]

Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.

Kelima, perbaiki niat sejak awal

Pertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]

Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?

Kesimpulan

Ujian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,

وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم

“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]

Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.

Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)

Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.

[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.

[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.

[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.

[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.

[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290

[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.

[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290

[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.

Daftar Pustaka

Abu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.

al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui http://www.islamweb.net.

as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui http://www.islamweb.net.

as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui http://www.islamweb.net.

asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances individual creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290

Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.

Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

sumber: https://muslim.or.id/113560-catatan-adab-bagi-penuntut-ilmu-di-era-ai-artificial-intelligence.html

Shaf Shalat Terbaik

Berlomba-lomba dalam mendapatkan shaf terdepan.

Hadits #1084

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا ، وَشَرُّهَا آخِرُهَا ، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا ، وَشَرُّهَا أوَّلُهَا )) رَوَاهُ مُسلِمٌ

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yang pertama, dan sejelek-jeleknya adalah yang terakhir. Sedangkan sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang paling jeleknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 440]

Faedah hadits:

  1. Disunnahkan bagi laki-laki untuk hadir lebih awal ke masjid supaya bisa mendapatkan shaf pertama.
  2. Disunnahkan bagi wanita untuk hadir belakangan agar bisa mendapatkan shaf terakhir. Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly hafizahullah.
  3. Islam mengajarkan untuk menjauhi pergaulan yang terlalu bebas dengan lawan jenis.
  4. Wanita hendaknya keluar lebih dahulu dari masjid sebelum laki-laki agar tidak bersinggungan dengan lawan jenis (terjadi ikhtilath).

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika salam dari shalat, para jama’ah wanita kala itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau barang sebentar sebelum beranjak. Kami melihat –wallahu a’lam– hal itu dilakukan supaya wanita bubar lebih dahulu sebelum berpapasan dengan para pria.” (HR. Bukhari, no. 870)

  1. Makmum laki-laki lebih dekat dengan imam. Kesimpulan lainnya, makmum perempuan tidak boleh di depan jamaah laki-laki dalam shalat berjamaah.
  2. Laki-laki lebih kuat dalam menyampaikan risalah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding perempuan. Karenanya laki-laki ditempatkan di depan dan shaf terdepan adalah yang terbaik untuk mereka.

Hadits #1085

وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّراً ، فَقَالَ لَهُمْ : (( تَقَدَّمُوا فَأتَمُّوا بِي ، وَلْيَأتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ ، لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat di antara para sahabatnya ada yang terlambat, maka beliau bersabda kepada mereka, “Majulah kalian, ikutilah aku dan hendaklah orang setelah kalian mengikuti kalian. Satu kaum terus-menerus terlambat sampai Allah pun mengakhirkan mereka.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 438]

Faedah hadits:

  1. Semangatnya rasul dalam mengajarkan ilmu.
  2. Siapa yang telat dalam meraih ilmu dan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga telat dalam menjauhi maksiat, maka Allah akan mengakhirkan dia dari rahmat dan pahala yang besar.
  3. Bolehnya mengikuti orang yang menyampaikan suara imam ketika orang di belakang tidak melihat dan mendengar imam secara langsung atau makmum di belakang bisa mengikuti orang yang berada pada shaf di depannya.

Hadits #1086

وَعَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاَةِ ، وَيَقُولُ : (( اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ ، لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ )) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap pundak-pundak kami ketika shalat dan berkata, “Luruskanlah dan janganlah berselisih, sehingga berselisih pula hati-hati kalian. Hendaklah orang-orang yang dewasa dan berakal (yang punya keutamaan) dekat denganku, lalu diikuti orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelah mereka.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 432].

Faedah hadits:

  1. Shaf yang lurus menunjukkan bersatunya umat. Berarti menunjukkan pentingnya persatuan di atas akidah yang benar dan dibencinya perpecahan.
  2. Berbeda dalam lahiriyah (wujudnya tidak lurusnya shaf) bisa menunjukkan adanya perselisihan dalam batin. Ini menunjukkan pengaruhnya lahiriyah pada batin, begitu pula sebaliknya.
  3. Hendaknya yang berada di dekat imam adalah para penghafal Al-Qur’an dan orang berilmu yang paham Al-Qur’an dan As-Sunnah kemudian orang yang di bawah itu dan seterusnya.
  4. Orang berilmu yang paham Al-Qur’an dan As-Sunnah punya keutamaan sehingga ia lebih didahulukan menjadi imam dibanding lainnya.

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:256-258.

Disusun di Perpus Rumaysho, 14 Jumadal Ula, Rabu pagi

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/17101-shaf-shalat-terbaik.html

Anjuran Menyembelih dengan Tangan Sendiri Hewan Qurbannya

Termasuk sunnah jika shahibul qurban menyembelih dengan tangan sendiri hewan yang diqurbankan. Mungkin selama ini kita sering melihat penyembelihan hewan qurban dilakukan oleh tukang jagal secara bersamaan dan kolektif. hal ini boleh saja karena ini termasuk hukum mewakilkan yang boleh, akan tetapi jika shahibul qurban mampu dan tidak ada udzur, sebaiknya ia yang menyembelih dengan tangannya sendiri hewan qurbannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyembelih sendiri hewan qurbannya. Dari sahabat Anas bin Malik, beliau berkata,

ﺿَﺤَّﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦِ ﺃَﻣْﻠَﺤَﻴْﻦِ ﺃَﻗْﺮَﻧَﻴْﻦِ ﺫَﺑَﺤَﻬُﻤَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺎﺣِﻬِﻤَﺎ

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing yang putih kehitaman (bercampur hitam pada sebagian anggota tubuhnya), bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir dan meletakkan kaki beliau di badan kedua hewan tersebut.”[1]

Ulama menjelaskan dari hadits bahwa jika menyembelih dengan tangannya sendiri ini lebih baik. Ibnu Qudamah menjelaskan,

ﻭَﺇِﻥْ ﺫَﺑَﺤَﻬَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻓْﻀَﻞَ ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺿَﺤَّﻰ ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦِ ﺃَﻗْﺮَﻧَﻴْﻦِ ﺃَﻣْﻠَﺤَﻴْﻦِ ، ﺫَﺑَﺤَﻬُﻤَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ، ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ، ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺎﺣِﻬِﻤَﺎ

“Jika ia menyembelih qurbannya dengan tanggannya sendiri maka ini lebih baik, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih 2 kambing yang bertanduk indab menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir dan meletakkan kaki beliau di badan kedua hewan”[2]

Dengan menyembelih sendiri ada beberapa hikmah di antaranya

  1. Shahibul qurban menyembelih sendiri dan melaksanakan sendiri ibadah qurban tersebut
  2. Shahibul qurban langsung merasakan dan menjalani ibadah qurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sehingga lebih berbekas atsar ibadah tersebut
  3. Shahibul qurban lebih yakin dengan mengucapkan sendiri “ikrar” qurban yaitu “Dari fulan” dengan menyebut namanya

Akan tetapi jika tidak mampu menyembelih sendiri atau ada udzur, maka boleh diwakilkan. Misalnya diwakilkan kepada tukang jagal.

Ibnu Qudamah melanjutkan penjelasan,

ﻓَﺈِﻥْ ﺍﺳْﺘَﻨَﺎﺏَ ﻓِﻴﻬَﺎ ، ﺟَﺎﺯَ ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﺳْﺘَﻨَﺎﺏَ ﻣَﻦْ ﻧَﺤَﺮَ ﺑَﺎﻗِﻲَ ﺑُﺪْﻧِﻪِ ﺑَﻌْﺪَ ﺛَﻠَﺎﺙٍ ﻭَﺳِﺘِّﻴﻦَ . ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻟَﺎ ﺧﻼﻑ ﻓِﻴﻪِ . ﻭَﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮَ ﺫَﺑْﺤَﻬَﺎ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ‏( 13/389 390- ‏) ﺑﺎﺧﺘﺼﺎﺭ

“Jika ia mewakilkan penyembelihan hukumnya boleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan sisa unta (yang belum disembelih) setelah sembelihan ke 63. Ini tidak ada khilaf ulama dan disunnahkan ia menghadiri/melihat proses penyembelihan tersebut.”[3]

Jika kita mewakilkan penyembelihan, dianjurkan kita agar meghadiri proses penyembelihan. Apabila ada udzur tidak bisa hadir, hukumnya tidak mengapa. Yang terpenting ia sudah berniat ikhlas beribadah dan berqurban.

Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,

ﻭﺛﻮﺍﺏ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺒﺮﻋﺎً ﻳﺘﻨﺎﻭﻝ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻧُﻮﻱ ﻓﻴﻬﺎ ، ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺤﻀﺮ

“Pahala berqurban jika ikhlas, ia akan mendapatkan semua yang diniatkan walaupun ia tidak menghadiri proses penyembelihan tersebut.[4]

Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[2] Al-Mughni 13/389-390
[3] Idem
[4] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 10/441

sumber: https://muslim.or.id/31899-anjuran-menyembelih-dengan-tangan-sendiri-hewan-qurbannya.html

Memahami Sifat Dasar Laki-Laki: CUEK

Kasus pertama

Istri: “Papa ga protes ni, rumah berantakan kayak kapal pecah?”

Suami: “biasa aja tuh, yang penting ada tempat buat baringkan punggung”

Kasus kedua

Neng: “kank, tahu ga, ibu yang di sebelah rumah bla bla bla, trus ada anaknya itu idiih bla bla bla, dan ternyata suaminya malah bla bla bla, eh eh mertuanya yang bla bla bla.”

Suami: “oh gitu ya, nanti juga mereka tau sendiri akibatnya.” (sambil tetap fokus di laptop dan minum kopi)

Kasus ketiga

Mamah: “pah, ntar kalo kita udah punya rumah, mamah yang atur desain kamarnya ya, kamarnya warna bla bla, trus harus ada taman kecil di belakang, trus di depan harus ada pohon mangga ama jambu, trus kalo bisa buat kolam ikan kecil ya, gimana menurut papah?”

Papah: “oke dah ma, diatur aja”

Kasus keempat

“mas, kok gak care banget sih, sengaja saya ga pake cincin mahar nikah kita, supaya mas nanya-nanya dan perhatian, ini khan cincin kawin kita …”

Sosok laki-laki yang kebanyakan cuek

Sosok laki-laki identik dengan sifat dasar mereka sebagimana yang diungkapkan oleh para psikologi dan ahli sifat manusia, yaitu cuek, mengutamakan logika, praktis, harga diri, berpikir masa akan datang, menaklukkan, mengutamakan hasil dan berpikir global. Namun kumpulan sifat ini, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya memang diciptakan agar kelak bisa menjadi pemimpin. Minimal menjadi pemimpin dalam rumah tangganya. Allah Ta’ala berfirman

,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

Salah satu sifat yang kita sorot disini adalah cuek. Mungkin sesama laki-laki tidak terlalu bisa melihat kontrasnya sifat ini. Karena jelas, mereka sama-sama cuek. Bisa kita lihat jika kita masuk ke asrama atau wiswa laki-laki, maka pandangan tidak biasa di mata wanita akan nampak, seperti lantai yang setengah bersih, panci kotor diatas kompor, handuk di atas kursi dan sepatu dengan kaos kaki berserakan di depan pintu. Tetapi para laki-laki sepertinya santai saja dan sudah biasa yang seperti ini.

Bagi yang sudah berumah tangga, maka mereka bisa melihat bagaimana protes para istri terhadap sikap cuek para suami, mulai dari tidur mendengkur tengah malam di saat anak bangun menangis. Cuek dengan curhat para istri dengan berkata, “sudah, ga apa-apa; sudah, tenang aja; wah kayak gini gampang”. Dan umumnya cuek dengan penampilan dirinya. Padahal wanita sangat jauh dari sikap cuek alias sensitif dan perhiasannya adalah perhatian.

Yang lebih kita sorot lagi adalah cuek terhadap penampilannya. Jangan salahkan sepenuhnya para istri jika mereka menyambut para suami yang pulang dengan baju lusuh, agak bau dapur dan tidak berhias. Lha wong suami kalau di rumah juga biasanya sarungan plus kaos putih lusuh kayak penjual-penjual di pinggir jalan, rambut jarang disisir, pakai parfum hanya keluar rumah saja. Dan yang kurang adil adalah suami jarang membelikan istri pakaian yang bagus-bagus, pakaian dengan mode terkini dan pakaian yang [maaf] agak menggoda serta jarang membelikan parfum pilihannya buat istrinya. Tentu dengan catatan dipakai di rumah untuk dipersembahkan bagi para suami mereka.

Solusi bersama

Mudahan dengan mengerti sifat dasar laki-laki ini wanita bisa lebih bijaksana menyikapi dan laki-laki juga lebih bijaksana memperbaiki dan begitu juga sebaliknya. Solusi dari itu semua adalah komunikasi dan keterbukaan. Dalam hal ini laki-laki lebih banyak memegang kunci, karena laki-laki lebih diberi ketenangan dengan kecuekannya dalam menghadapi permasalahan. Laki-laki yang lebih dulu mengajak untuk bermusyawarah kecil. Musyawarahkanlah apa yang diinginkan suami dan apa yang diinginkan istri dan apa yang diperlu sama-sama diperbaiki serta apa-apa yang masih bisa ditolerir dan mentok sudah tidak bisa ditolerir lagi. Allah Ta’ala berfirman,

وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya” [Ali-Imran : 159]

Dan merupakan kebiasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan istri beliau, saling curhat dan bertukar pikiran. Kita lihat contoh ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan wahyu pertama kali dan pulang ke rumah istri beliau khadijah radhiallahu ‘anha dengan hati yang bergetar bercampur rasa takut, kemudian beliau meminta diselimuti dan berkata,

لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِيْ

“Sungguh aku mengkhawatirkan diriku (akan binasa).”

Khadijah radhiallahu ‘anha pun menghibur suaminya,

كَلاَّ وَاللهِ، مَا يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْـمَعْدُوْمَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Tidak demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau seorang yang menyambung silaturahim, menanggung orang yang lemah, memberi kecukupan/kemanfaatan pada orang yang tidak berpunya, suka menjamu tamu, dan menolong kejadian yang haq.”[1]

Imam Nawawi rahimahullahu menjelaskan perkataan Khadijah yang sangat menghibur suaminya,

(قال العلماء رضي الله عنهم معنى كلام خديجة رضي الله عنها إنك لا يصيبك مكروه لما جعل الله فيك من مكارم الأخلاق وكرم الشمائل

“Para ulama radhiallahu ‘anhum berkata, “Makna dari ucapan Khadijah radhiallahu ‘anha ini adalah engkau tidak akan ditimpa perkara yang jelek /tidak disukai karena Allah menjadikan pada dirimu akhlak yang mulia dan perangai yang utama.”[2]

Begitu juga curhat beliau kepada kepada Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengenai para Sahabat yang belum mau menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut ketika mereka tidak jadi melakukan haji tahun tersebut karena perjanjian dengan musyrikin Mekkah. Kemudian istrinya berkata,

يَا نَبِيَّ اللهِ، أَتُحِبُّ ذلِكَ؟ اُخْرُجْ، ثُمَّ لاَ تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ حَتَّى تَنْحَرَ بُدْنَكَ، وَتَدْعُو حَالِقَكَ فَيحْلِقَكَ

“Wahai Nabiullah! Apakah engkau ingin mereka melakukan apa yang engkau perintahkan? Keluarlah, lalu jangan engkau mengajak bicara seorang pun dari mereka hingga engkau menyembelih sembelihanmu dan engkau memanggil tukang cukurmu lalu ia mencukur rambutmu.”[3]

Maka para sabahat langsung mengikuti beliau.

Kebiasaan bercengkrama bersama istrinya sebelum tidur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bercengkrama bersama istrinya sebelum tidur. Saling berbagi, saling curhat dan mencari solusi bersama.

Kami sebutkan salah satu contoh saja dari sekian banyak contoh, yaitu kisah abu dan ummu Zar’ merupakan kisah yang panjang diceritakan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan dengan seksama dan memberikan beberapa komentar mengenai kehangatan dan romantisme kisah mereka. Beliau berkata.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Aisyah,

كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ إِلاَّ أَنَّ أَبَا زَرْعٍ طَلَّقَ وَأَنَا لاَ أُطَلِّقُ

“Aku bagimu seperti Abu Zar’ seperti Ummu Zar’ hanya saja Abu Zar’ mencerai dan aku tidak mencerai”[4]

kemudian Aisyah radhiallahu ‘anha membalas dengan romanntis lagi,

يَا رَسُوْلَ اللهِ بَلْ أَنْتَ خَيْرٌ إِلَيَّ مِنْ أَبِي زَرْعٍ

“Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik kepadaku dari pada Abu Zar’”[5]

Semoga kita bisa menerapkannya, karena memang menerapkan tidak semudah teori.

Demikian semoga bermanfaat

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Gedung Radiopoetro FK UGM, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan follow twitter

[1] HR. Al-Bukhari no. 3 dan Muslim no. 401

[2] Al-Minhaj 2/202, Darul Ihya’ut Turots, cet. Ke-2, asy-Syamilah

[3] HR. Al-Bukhari no. 2731, 2372

[4] HR At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir XXIII/173 no 270

[5] HR An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubro V/358 no 9139

sumber: https://muslimafiyah.com/memahami-sifat-dasar-laki-laki-cuek.html