Berikan Alternatifnya Ketika Kita Berkata “Jangan” kepada Anak

Sebagai orang tua, kita tentu sering melarang anak melakukan sesuatu. Namun, terkadang ketika kita melarangnya, alih-alih berhenti, anak justru tetap melakukan hal yang kita larang. Kita berkata, “Jangan berisik!” tetapi anak tetap saja berisik. Kita berkata, “Jangan lari!” tetapi ia tetap berlari. Lantas, apakah orang tua sebaiknya tidak menggunakan kata “jangan” ketika berkomunikasi dengan anak?

Sebenarnya, menggunakan kata “jangan” untuk melarang anak bukanlah sesuatu yang keliru. Ada kalanya larangan yang tegas memang diperlukan, terutama ketika anak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya atau orang lain. Namun, pada anak yang masih kecil, larangan yang hanya berupa kata “jangan” terkadang kurang efektif.

Salah satu alasannya adalah anak kecil belum selalu mampu memahami maksud larangan yang abstrak. Ketika kita mengatakan, “Jangan lari!”, anak mungkin memahami bahwa ia tidak boleh berlari, tetapi belum tentu tahu apa yang seharusnya ia lakukan sebagai gantinya. Akibatnya, instruksi yang kita berikan belum tentu dipahami sebagaimana yang kita harapkan.

Lantas, bagaimana agar komunikasi kita dengan anak menjadi lebih efektif?

Salah satu caranya adalah dengan memberikan instruksi yang jelas mengenai perilaku yang kita harapkan, bukan hanya menyebutkan perilaku yang harus dihindari. Dengan demikian, anak tidak sekadar mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga memahami apa yang sebaiknya ia lakukan.

Misalnya, daripada hanya berkata, “Jangan lari!”, kita bisa mengatakan, “Nak, jalan pelan-pelan, ya. Nanti kalau berlari di sini kamu bisa jatuh.” Instruksi tersebut lebih jelas karena anak mendapatkan arahan tentang perilaku yang diharapkan sekaligus alasan di balik arahan tersebut.

Cara ini juga sejalan dengan sebuah kaidah yang dinukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

النفوس لا تترك شيئا إلا بشيء

“Jiwa tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali dengan sesuatu yang lain sebagai gantinya.” (Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim,2/125)

Kaidah ini mengingatkan kita bahwa meninggalkan suatu kebiasaan atau perilaku akan lebih mudah apabila tersedia alternatif yang bisa dilakukan sebagai gantinya.

Ketika kita meminta anak meninggalkan sesuatu, akan lebih baik jika kita juga menunjukkan apa yang bisa ia lakukan sebagai pengganti. Dengan begitu, anak tidak hanya berhadapan dengan larangan, tetapi juga mendapatkan arahan yang konkret.

Misalnya, ketika anak berlari di dalam rumah, kita bisa mengatakan, “Nak, jangan berlari di dalam rumah, ya. Nanti kamu bisa terpeleset. Kalau mau ke sana, jalan pelan-pelan saja.”

Atau ketika kita khawatir anak terpengaruh oleh perilaku buruk temannya, kita bisa menjelaskan dengan tenang, “Nak, Abi khawatir kalau kamu sering bermain dengannya, kamu ikut terbiasa berkata-kata kasar. Abi ingin kamu berteman dengan teman-teman yang bisa saling mengajak kepada kebaikan. Yuk, kita bermain bersama teman yang itu.”

Intinya, jangan hanya berfokus pada perilaku yang ingin kita hentikan, tetapi tunjukkan juga perilaku yang kita harapkan sebagai gantinya. Dengan cara ini, komunikasi kita menjadi lebih jelas, dan anak memiliki arahan yang lebih konkret untuk diikuti.

Artikel http://www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/berikan-alternatifnya-ketika-kita-berkata-jangan-kepada-anak.html

Hukum Perayaan Halloween dalam Islam

Perayaan Halloween dengan Kostum Iblis dan Setan dalam Tinjauan Islam

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum,
Ana mohon penjelasan mengenai hukum perayaan Halloween di tempat kursus-kursus dan sekolah-sekolah.
Perayaannya memang meriah dan menyenangkan bagi anak-anak tapi mereka berkostum seram tapi lucu seperti pasukan-pasukan Iblis dan Setan. Jazakumullah khairan.

Dari: Maulana Malik

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Dalam wikipedia dinyatakan,

“Halloween atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat. Tradisi ini berasal dari Irlandia, dan dibawa oleh orang Irlandia yang beremigrasi ke Amerika Utara. Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata “Trick or treat!” Ucapan tersebut adalah semacam “ancaman” yang berarti “Beri kami (permen) atau kami jahili.” Di zaman sekarang, anak-anak biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun.

Halloween identik dengan setan, penyihir, hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari kebudayaan Barat. Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween. [http://id.wikipedia.org/wiki/Halloween]

Terlepas dari siapa pencetusnya dan bagaimana sejarahnya, keterangan di atas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa:

1. Hari helloween murni dari tradisi orang kafir.
2. Hari helloween dimeriahkan secara berkala setiap tahun oleh orang kafir.
3. Acaranya hanya sebatas main-main, tanpa ada unsur ritual ibadah.

Kaidah baku yang berlaku dalam syariat bahwa segala sesuatu yang diperingati secara berkala maka itu termasuk hari raya, meskipun di sana tidak ada unsur ibadah atau ritual kesyirikan. Bahkan meskipun isinya hanya main-main dan iseng. Terlebih ketika perayaan semacam ini dihiasi dengan gambar yang melambangkan pasukan iblis, yang jelas-jelas itu adalah musuh kita semua.
Beberapa catatan yang bisa kami berikan tentang fenomena semacam ini:

Pertama, turut merayakan hari raya sekelompok umat, sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,

من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة

“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق … …

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)

Terlebih, dalam perayaan helloween diiringi dengan membangga-banggakan setan. Memasang semua gambar setan di setiap asesoris mereka.

Ketiga, meskipun tidak ada unsur ritual peribadatan, perayaan orang kafir tidak boleh dimeriahkan orang mukmin.
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.

Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),

و الذين لا يشهدون الزور …

“Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…”

Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah.com)

Malu Itu Usia Bertambah Tapi Amal Tidak Bertambah

Malu Itu
Usia bertambah

Amal tidak tambah
Makin tua

Makin tamak dunia
Semoga dimudahkan beramal dan membantu sesama
Merupakan penyesalan, usia bertambah tetapi amal tidak bertambah
 Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,


ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.


“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang (usia bertambah), namun amalanku tidak bertambah.” [1] Makin tua seharusnya sudah siap-siap menghadapi kematian bukan semakin tamak dengan dunia. Tanda-tanda sudah ada:
-Rambut mulai memutih: tinggalkanlah dunia hitam jika digeluti selama ini
-Badan mulai membungkuk: Hentikan membusungkan dada dan mendongakkan kepala karena sombong
Kematian sudah hampir mendekat dan menghancurkan kelezatan dunia yang selama ini membuat lalai akan akhirat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ 


“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian ”. [2] Khusus bagi mereka yang sudah mendekati usia 60 tahun maka ada himbauan khusus.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ﺃَﻋْﺬَﺭَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﺧَّﺮَ ﺃَﺟَﻠَﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺑَﻠَّﻐَﻪُ ﺳِﺘِّﻴﻦَ ﺳَﻨَﺔً


“Allah telah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga mencapai usia 60 tahun.”[3] Maksudnya adalah umur 60 tahun seharusnya tidak bisa menjadi udzur lagi yaitu beralasan masih punya umur untuk menunda melakukan kebaikan dan menunda bertaubat, karena umur 60 tahun sudah sangat dekat dengan kematian.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,


ﻭَﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﺒْﻖَ ﻟَﻪُ ﺍﻋْﺘِﺬَﺍﺭٌ ﻛَﺄَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻮْ ﻣُﺪَّ ﻟِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺟَﻞِ ﻟَﻔَﻌَﻠْﺖُ ﻣَﺎ ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﺑِﻪ


“Makna hadits yaitu tidak tersisa lagi udzur/alasan  misalnya berkata, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.” [4] Demikian semoga bermanfaat


@Markaz YPIA, Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1]  Lihat Miftahul Afkar dan Mausu’ah khutab Al-Mimbar
[2] HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi
[3] HR. Bukhari 6419
[4]  Fathul Bari Libni Hajar Al-Asqalani 11/240

sumber : https://muslimafiyah.com/malu-itu-usia-bertambah-tapi-amal-tidak-bertambah.html

Bagaimana Kita Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

Dalam beberapa baris kalimat ini, kita berjumpa lagi dalam pembahasan dasar-dasar iman dan tauhid. Di dalamnya kita akan mempelajari dua dasar agung dari dasar-dasar iman—yang ibadah apa pun tidak akan diterima kecuali dari orang yang memiliki dua dasar tersebut—yaitu iman kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari kiamat.

Pertanyaan pertama:

Bagaimana kita beriman kepada takdir?

Jawaban:

Yaitu dengan mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu  dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, meyakini bahwa seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan manfaat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan manfaat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu.

Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan mudarat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan mudarat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

Juga beriman bahwa apa yang Allah kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi,

serta segala yang ada di alam semesta berupa gerak-gerik, kehidupan, kematian, kebaikan, keburukan, ketaatan, dan kemaksiatan adalah dengan takdir, kehendak, ilmu, dan hikmah dari Allah. Tidaklah semua itu terjadi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dipaksa melakukan itu, bukan pula suatu hal yang sia-sia dari-Nya.

Pertanyaan kedua:

Apa maksud dari firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar…” (QS. Muhammad: 31)

Bukankah Allah telah mengetahui itu semua sebelum itu terjadi?

Jawaban: Tentu, Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala hal. Dia mengetahui apa yang akan dikerjakan para makhluk sebelum Dia menciptakan mereka, dan menulisnya di Lauhul Mahfuzh, sebagaimana yang Dia firmankan,

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Dan sungguh, Allah telah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (QS. At-Talaq: 12)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata.” (QS. Al-An’am: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ: اكْتُبْ. فَقَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia berfirman, ‘Tulislah.’ Pena bertanya, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Dia berfirman, ‘Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat.’” (HR. Al-Bukhari)

Namun, termasuk dari keadilan dan hikmah Allah Ta’ala, Dia tidak menzalimi para hamba-Nya, sehingga Dia tidak menghisab mereka kecuali atas amalan yang mereka lakukan berdasarkan kehendak mereka yang telah Allah ciptakan bagi mereka. Dia tidak menghisab mereka kecuali dengan ilmu-Nya tentang apa yang telah mereka kerjakan, bukan sekedar berdasarkan ilmu-Nya yang telah ada dan penulisan takdir dalam Lauhul Mahfuzh.

Jadi, makna ayat bahwa Allah akan menguji para hamba-Nya—yakni menguji mereka untuk mengetahui mana orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar, dan mana orang-orang munafik—sebagai dasar untuk menghisab mereka, meskipun sebelumnya Dia telah mengetahui itu sebelumnya.

Pertanyaan ketiga:

Apakah manusia dikendalikan oleh takdir atau memiliki pilihan dan kehendak?

Jawaban:

Ini adalah pertanyaan yang keliru sejak awal karena manusia itu dalam perbuatan-perbuatannya yang bersifat pilihan—seperti ketaatan dan kebaikan, atau kemaksiatan dan keburukan—manusia memiliki kemampuan dan pilihan untuk melakukannya. Hal ini tidak diingkari kecuali orang yang keras kepala karena setiap manusia dapat merasakan kehendak itu dalam dirinya. Dan Allah juga telah menjelaskan hal itu dalam al-Qur’an,

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Maka barang siapa menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki, hendaklah dia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Hanya saja kehendak itu bukanlah kehendak mutlak tanpa batas, tapi terikat oleh kehendak Allah, karena Allah-lah yang menciptakan manusia dan menciptakan baginya kemampuan dan kehendak, sebagaimana yang Allah firmankan,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendaki.” (QS. Al-Insan: 30)

Keterikatan ini bukan berarti menggugurkan kehendak manusia dan menjadikannya dikendalikan atau terpaksa tanpa memiliki pilihan. Allah tidak akan menghisab orang yang tidak memiliki kehendak, seperti orang yang dipaksa, kehilangan akal, atau orang yang tidur.

Namun, kehendak Allah berlaku pada hamba-Nya melalui apa yang mereka kerjakan sendiri dan dalam kuasa mereka. Dan Allah-lah yang menciptakan mereka, serta menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan mereka. Sedangkan perbuatan yang berada di luar kehendak, seperti detak jantung dan tertarik oleh gaya gravitasi, maka tidak diperselisihkan lagi bahwa seorang hamba tidak punya kuasa dan pilihan dalam hal itu.

Pertanyaan keempat:

Apabila Allah yang menghendaki adanya kebaikan dan keburukan, dan Dia yang menciptakan keduanya, apakah Dia meridai keburukan dan suka dimaksiati?

Jawaban:

Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak rida dengan kekufuran bagi hamba-Nya. Namun, Dia meridai Islam sebagai agamanya, mencintai orang-orang yang beriman, bertakwa, dan berbuat baik, dan Dia tidak meridai orang-orang fasik.

Kecintaan dan keridaan-Nya mengikuti perintah syariat-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya—bukan hanya berdasarkan kehendak-Nya mengadakan sesuatu—Allah menciptakan Iblis, tapi Dia tidak menyukainya. Demikian juga Dia yang menciptakan keburukan, tapi Dia tidak meridainya dan tidak memerintahkan para hamba-Nya untuk melakukannya. Namun, Dia menciptakannya dengan hikmah-hikmah yang Dia ketahui, karena Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23)

Selain itu, hamba-hamba-Nya tidak mampu untuk mengetahui segala ilmu dan hikmah Allah Ta’ala.

Pertanyaan kelima:

Apabila semuanya telah ditakdirkan dan tertulis, lalu apa gunanya beramal? Lalu mengapa Allah mengazab para pelaku maksiat atas sesuatu yang Dia tetapkan dan ciptakan?

Jawaban:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya.”

Kesengsaraan dan kebahagiaan diciptakan Allah dengan mengaitkannya dengan sebab kemaksiatan atau ketaatan, bukan menciptakannya tanpa sebab. Sehingga tidak ada seorang pun yang masuk neraka kecuali karena amalan penghuni neraka dan orang-orang beriman juga masuk surga sebagai balasan atas amal mereka. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, amalan itu meskipun dengan kehendak dan kuasa Allah, tapi juga dengan kuasa manusia, dan amalan itu menjadi sebab kebahagiaan atau kesengsaraannya, dan itu dengan kehendak hamba tersebut.

اِعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Berbuatlah sesuka kalian. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fussilat: 40)

Allah hanya mengazab para hamba-Nya yang layak diazab atas amalan mereka. Meskipun Allah yang menuliskannya, tapi Dia tidak memerintahkan mereka melakukan amalan itu.

قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh berbuat keji…’” (QS. Al-A‘raf: 28)

Selain itu, apa yang Allah tulis dalam Lauhul Mahfuzh juga tidak diketahui oleh para makhluk-Nya, tapi yang mereka ketahui adalah syariat Allah berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Mereka juga memiliki akal dan kehendak memilih. Oleh sebab itu, Allah membantah orang-orang musyrik yang berkata,

لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An‘am: 148)

Allah membantahnya dengan firman-Nya,

قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Katakanlah, ‘Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Kamu hanya mengikuti dugaan, dan kamu hanya mengada-adakan kebohongan.’” (QS. Al-An‘am: 148)

Lalu, pertanyaan pada hari kiamat akan diajukan berkaitan dengan jawaban apa yang kalian berikan kepada para rasul dan apa yang telah kalian kerjakan, bukan tentang apa yang telah Allah tulis bagi kalian di Lauhul Mahfuzh.

Pertanyaan keenam:

Apa hukum orang yang melakukan perbuatan-perbuatan haram dan meninggalkan amalan-amalan wajib, lalu ia beralasan, “Andai Allah menghendakiku mendapat hidayah, pasti aku mendapat hidayah!”

Jawaban:

Orang ini termasuk pengikut Iblis yang berkata kepada Tuhannya,

رَبِّ بِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ

“Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menyesatkanku!” (QS. Al-Hijr: 39)

Makhluk pertama yang beralasan dengan takdir adalah Iblis, tapi alasan ini sama sekali tidak bermanfaat baginya. Sedangkan Adam dan Hawa mengakui kesalahannya dengan berkata,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Oleh sebab itu, pilihlah untuk dirimu, engkau ingin bersama siapa? Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Pertanyaan ketujuh:

Apa hukum orang yang tidak beriman dengan takdir?

Jawaban:

Seandainya dia menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, amalannya itu tetap tidak akan diterima darinya, hingga ia beriman kepada takdir. Seandainya ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya ia termasuk penghuni neraka. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ubay, Hudzaifah, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“(Ingatlah) pada hari ketika mereka diseret ke dalam neraka dengan wajah mereka. (Dikatakan kepada mereka), ‘Rasakanlah sentuhan api Saqar.’ Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan ketentuan.” (QS. Al-Qamar: 48-49)

Pertanyaan kedelapan:

Di mana kita bisa membaca lebih lanjut tema ini?

Jawaban:

Dalam buku al-Qadha wa al-Qadar karya Abu Bakar al-Jaza’iri, buku Ma’arij al-Qabul karya Ahmad al-Hakami, buku Syifa al-Alil karya Ibnu al-Qayyim, buku al-Aqidah al-Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah, dan buku Arkan al-Islam wa al-Iman karya kami sendiri.

***

Syekh Muhammad Jamil Zainu

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/163484/كيف-نؤمن-بالقدر-خيره-وشره

[Kitabut Tauhid 10] 48 Mencintai Allah 36

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup dengan pengakuan dan perasaan, tetapi harus diwujudkan dengan sikap dan prilaku sesuai tuntunan Syariat. Dan ittiba’ tidak akan terwujud jika ada faktor penghalangnya, dan diantara penghalang ittiba’ adalah :

  1. Bodoh terhadap ajaran agama.
  2. Mengikuti hawa nafsu.
  3. Mendahulukan pendapat nenek moyang dan para tokoh dari Dalil.
  4. Mendahulukan akal dari Dalil Yang Shahih.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

IKATLAH NIKMAT DENGAN MENSYUKURINYA

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” [Hadis ini Sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6490); Muslim (no. 2963 (9)), dan ini lafalnya; At-Tirmidzi (no. 2513); dan Ibnu Majah (no. 4142)]

Alangkah agungnya wasiat ini, dan alangkah besar manfaatnya. Kalimat yang menentramkan dan menenangkan. Hadis ini menunjukkan anjuran untuk bersyukur kepada Allah ﷻ dengan mengakui nikmat-nikmat-Nya, membicarakannya, menaati Allah ﷻ, dan melakukan semua sebab yang dapat membantu kita bersyukur kepada-Nya.

Syukur kepada Allah ﷻ adalah inti ibadah, pokok kebaikan, dan merupakan hal yang paling wajib atas manusia. Karena tidak ada pada diri seorang hamba, dari nikmat yang tampak maupun tersembunyi, yang khusus maupun umum, melainkan berasal dari Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [QS. An-Nahl/16:53]

Allah ﷻ memberikan berbagai kebaikan, dan menolak kejahatan dan keburukan. Oleh karena itu, seorang hamba harus benar-benar bersyukur kepada-Nya. Hendaknya seorang hamba berusaha dengan segala cara yang dapat mengantarnya dan membantunya untuk bersyukur kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah/2:152]

Dan firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [QS. Ibrahim/14:7]

Nabi ﷺ dalam hadis di atas telah menunjukkan obat dan faktor yang sangat kuat agar seseorang bisa mensyukuri nikmat Allah ﷻ. Yaitu hendaknya setiap hamba memerhatikan orang yang lebih rendah darinya dalam hal akal, nasab, harta, dan nikmat-nikmat lainnya. Jika seorang terus-menerus melakukan ini, maka ini akan menuntunnya untuk banyak bersyukur kepada Rabb-nya, serta menyanjung-Nya. Karena dia selalu melihat orang-orang yang keadaannya jauh berada di bawahnya dalam hal-hal tersebut. Banyak di antara mereka itu berharap bisa sampai, atau minimal mendekati, apa yang telah diberikan padanya dari nikmat kesehatan, harta, rezeki, fisik, maupun akhlak. Kemudian dia akan banyak memuji Allah ﷻ yang telah memberinya banyak karunia.

Faidah-Faidah Hadis:

1) Anjuran melihat keadaan orang yang berada di bawah kita dalam hal dunia, dan melihat kepada keadaan orang di atas kita dalam hal agama.

2) Melihat kepada yang di atas kita dalam hal dunia akan mengakibatkan seseorang tidak bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ berikan kepadanya, selalu mengeluh, dan bersedih.

3) Melihat kepada di atas kita dalam hal agama akan mengakibatkan seseorang terpacu untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah ﷻ.

4) Anjuran zuhud terhadap kehidupan dunia.

5) Seorang Mukmin hendaknya menjadikan dunia ini di tangannya, dan tidak di dalam hatinya.

6) Larangan meremehkan nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada kita.

7) Seorang Mukmin wajib bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ anugerahkan kepada dia.

8) Bersyukur kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan perintah Allah ﷻ, dan menjauhkan larangan-Nya.

9) Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah ﷻ agar kita dapat bersyukur kepada-Nya ﷻ.

10) Keindahan Islam yang telah mengatur semua kehidupan manusia.

Dinukil dari tulisan berjudul “ANJURAN MENSYUKURI NIKMAT” yang ditulis oleh: al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Sumber: https://almanhaj.or.id/12693-anjuran-mensyukuri-nikmat-2.html

Empat Perkara Yang Mencukupkan-mu Dari Dunia

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Empat perkara, jika hal itu ada pada dirimu, maka tidak mengapa bagimu apa yang terlewatkan darimu dari dunia :

* Shidqul-hadits (kejujuran dalam berbicara atau menyampaikan perkataan)
* Hifzhul-amaanah (menjaga amanah dengan sebaik-baiknya)
* Husnul-khuluq (memiliki akhlak dan perangai yang baik)
* ‘Iffatu math’am (menjaga kesucian makanan atau senantiasa mencari rezeki yang halal)

(HR. Ahmad dan Al-Bazzar)
Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahullah – Shohiih Al Jaami’ no. 873

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah menjelaskan tentang hadits ini :

● Jika engkau senantiasa menjaga kejujuran lisan dan perkataanmu..
● Jika engkau menjadi orang yang amanah dan menunaikannya..
● Jika engkau menghiasi diri dengan akhlak yang mulia..
● Jika engkau sangat memperhatikan kehalalan makanan atau rezeki yang masuk ke dalam tubuhmu..

Maka engkau adalah orang yang benar-benar kaya .. dan apa pun kenikmatan dunia yang terlewatkan darimu —baik berupa harta benda maupun kedudukan di mata manusia— maka hal itu tidak akan mendatangkan mudhorot atau membahayakanmu sama sekali.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75576