Bantahan Terhadap Syubhat: ‘Yang Pentingkan Hatinya Baik’

Dewasa ini kita melihat keanehan dari sebagian orang yang mencukupkan diri dengan hati yang ‘baik’, lantas meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan kepadanya.

Seperti para wanita yang menanggalkan hijabnya, berdalih dengan perkataan ‘yang pentingkan hatinya baik’.

Mereka seakan berbangga ketika melakukan kemaksiatan kepada Allah ta’ala.

Padahal, dalam kenyataannya hati yang baik adalah hati yang dihiasi oleh keimanan sehingga menuntun pemiliknya untuk taat kepada RabbNya. Ia mencintaiNya, penuh harap dan takut terhadapNya. Perbuatan yang dilakukan adalah cerminan dari kondisi di dalam hatinya.

Mengenal Qalbun Salim (Hati Yang Bersih)

Dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim, segala sesuatunya haruslah dilihat dan ditimbang menurut pandangan syariat. Karena jika standar ukuran tersebut dikembalikan kepada selain dari syariat, porak-porandalah segala urusan. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya” (QS. Al-Mu’minun: 71)

Mengenai hati yang bersih, Allah ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,” Orang-orang berbeda pendapat tentang makna qalbun salim. Sedang yang merangkum berbagai pendapat itu ialah yang mengatakan: qalbun salim yaitu hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang bertentangan dengan beritaNya. Ia selamat dari melakukan penghambaan kepada selainNya, selamat dari pemutusan hukum oleh selain RasulNya. Maka ia selamat dalam mencintai Allah dan dalam berhukum kepada RasulNya, bersih dalam ketakutan dan berpengharapan padaNya, dalam bertawakal kepadaNya, dalam kembali kepadaNya, dalam menghinakan diri di hadapanNya, dalam mengutamakan mencari ridaNya di segala keadaan dan dalam menjauhi kemurkaanNya dalam setiap kondisi. Dan inilah hakikat penghambaan yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata.

Jadi, qalbun salim adalah hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alasan apa pun. Bahkan ia hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakkal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’ (pengharapan), dan ia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata.

Jika ia mencintai, maka ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci, maka ia membenci karena Allah. Jika ia memberi, maka ia memberi karena Allah. Jika ia menolak, maka ia menolak karena Allah. Dan ini tidak cukup kecuali ia harus selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia harus mengikat hatinya kuat-kuat dengan beliau untuk mengikuti dan tunduk dengannya semata, tidak kepada ucapan atau perbuatan siapa pun juga:

  • Dari ucapan hati, yang berupa kepercayaan
  • Ucapan lisan, yaitu berita tentang apa yang ada di dalam hati
  • Perbuatan hati, yaitu keinginan, cinta dan kebencian serta hal lain yang berkaitan dengannya
  • Perbuatan anggota badan

Sehingga dialah yang menjadi hakim bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun yang sepele. Dia adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا نُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya.” (QS. Al-Hujurat: 1)

Artinya, janganlah engkau berkata sebelum ia (Rasul) mengatakannya, janganlah berbuat sebelum dia memerintahkannya. (Ighatsatul Lahfan (Terjemahan), hal. 1-2)

Tanda-Tanda Hati Yang Bersih

Hati yang bersih memiliki tanda-tanda diantaranya,

  • Hati tersebut jauh dari dunia, tidak terpedaya dengannya. Ia menyadari bahwa dunia adalah tempat yang fana sehingga fokus orientasinya hanyalah akhirat.
  • Tujuannya hanya satu: mencari keridaan Allah dan menjauh dari kemurkaanNya.
  • Ia bersemangat dan berjuang untuk bersih dari maksiat, dosa, bid’ah dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.
  • Perhatiannya terhadap kualitas amal lebih besar daripada kuantitas amal itu sendiri.

Kita memohon kepada Allah karuniaNya berupa hati yang bersih, yang membuahkan amal saleh dan ketaatan kepada Allah dan menjauhi laranganNya. Hati yang mengantarkan kita kepada keridaanNya dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Di antara doa yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah jiwaku, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang membersihkan jiwaku, Engkau adalah walinya dan penolongnya.” (HR. Muslim, no. 2722)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبَاً سَلِيمَاً، وَلِسَانَاً صَادِقَاً، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu keteguhan dalam segala urusanku, dan aku memohon kepadaMu tekat yang kuat dalam berbuat lurus, dan aku memohon kepadaMu hal-hal yang mendatangkan rahmatMu, dan hal-hal yang mendatangkan ampunan Mu, dan aku memohon kepadaMu untuk mensyukuri nikmatMu, baiknya aku dalam beribadah kepadaMu, dan aku memohon kepadaMu hati yang selamat, dan lidah yang benar. Dan aku memohon kepadaMu akan kebaikan yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun terhadap dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui akan segala yang ghaib.” (HR. Ibnu Hibban dalam Sahihnya (no. 935) dan disahihkan Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah Al-Albani no. 3228)

Hanya kepada Allah lah kita memohon taufik.

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Ahadits Ishlahul Qulub, Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr
  • Manajemen Qalbu Ighatsatul Lahfan (Terjemahan), Darul Falah
  • Ebook Doa-doa dan dzikir-dzikir dari Al-Quran dan As-Sunnah Ash-Shahihah dibaca di ‘Arafah dan selainnya – Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr (Terjemah oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy)

Sumber: https://muslimah.or.id/18044-bantahan-terhadap-syubhat-yang-pentingkan-hatinya-baik.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Jadilah Orang Yang Selalu Mengingat Allah Ta’ala, Kalau Tidak, Mayat Hidup Menjadi Permisalannya

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ الذي يَذْكُرُ رَبَّهُ والذي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ والمَيِّتِ

“Permisalan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati” (HR. Al Bukhari, no. 6407).

Bisa jadi banyak sekali mayat hidup di sekitar kita, karena hatinya telah mati. Juga karena ia tak pernah ingat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak mau mengindahkan syariat-syariat-Nya yang mulia nan paripurna.

sumber : https://bimbinganislam.com/poster/jadilah-orang-yang-selalu-mengingat-allah-taala-kalau-tidak-mayat-hidup-menjadi-permisalannya/

Menjaga Kebersihan Anak

Memberikan perhatian terhadap kebersihan anak, baik badan maupun pakaian, merupakan suatu hal yang dianjurkan dalam syariat. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang shalih dan memiliki keutamaan. Terdapat banyak dalil baik dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini.

Petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menjaga kebersihan

Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah Ta’ala,

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ . قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah (bersih dan rapi –pen) di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al A’raf [7] : 31-32)

Dalil lainnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu, maka bersihkanlah.” (QS. Al Mudatsir [74] : 4)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan (termasuk kebersihan dan kerapihan –pen).”  (HR. Muslim no. 91)

Di antara bentuk menyia-nyiakan anak adalah membiarkan mereka tidak terurus, pakaian kotor, wajahnya kotor, di rambut banyak kutu (yang tidak berusaha diobati) dan lainnya. Demikian juga membiarkan badannya kotor sehingga kudisan bahkan hingga banyak dihinggapi lalat, mulutnya berdahak dan hidungnya keluar ingus (dan tidak berusaha dibersihkan).

Semua hal tersebut bertentangan dengan kebersihan yang Allah Ta’ala mendorong kita untuk memperhatikannya. Demikian pula Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengingatkannya.

Teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kebersihan anak kecil

Berikut ini bukti nyata dan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau membersihkan dahak dan menyingkirkan kotoran dari mulut Usamah bin Zaid.

Diriwayatkan dari Ibunda kaum mukiminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنَحِّيَ مُخَاطَ أُسَامَةَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَعْنِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّيهِ فَإِنِّي أُحِبُّهُ

“Suatu ketika  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin membersihkan dahak Usamah. Lalu aku (‘Aisyah) pun mengatakan, “Biarkan aku saja yang melakukannya.” Beliau pun mengatakan, “Wahai ‘Aisyah, cintailah Usamah karena sesungguhnya aku mencintainya.” (HR. Tirmidzi no. 3818, dengan sanad yang hasan)

Diriwayatkan juga dari Ibunda kaum mukiminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ عَثَرَ بِأُسْكُفَّةِ أَوْ عَتَبَةِ الْبَابِ فَشُجَّ فِي جَبْهَتِهِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمِيطِي عَنْهُ أَوْ نَحِّي عَنْهُ الْأَذَى قَالَتْ فَتَقَذَّرْتُهُ قَالَتْ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمُصُّهُ ثُمَّ يَمُجُّهُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ أُسَامَةُ جَارِيَةً لَكَسَوْتُهُ وَحَلَّيْتُهُ حَتَّى أُنْفِقَهُ

“Suatu hari Usamah terpeleset di depan pintu dan wajahnya pun berdarah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Bersihkanlah darah (kotoran) darinya.” Namun aku (‘Aisyah) merasa jijik dengan darahnya. Beliau pun menghisap darahnya, lalu membuang dan membersihkannya dari wajah Usamah. Kemudian beliau berkata, “Seandainya Usamah seorang anak perempuan, maka aku rela mengeluarkan uang untuk memberikannya pakaian yang bagus dan perhiasan perempuan.” (HR. Ibnu Abu Syaibah dalam Mushannaf no. 12356 dan Ahmad no. 25903 dengan sanad yang shahih lighairihi)

Demikian pula praktik putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pemimpin wanita penghuni surga, yaitu Fathimah radhiyallahu ‘anha yang membersihkan dan memandikan anaknya sebelum bermain dengan sang kakek (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ، لاَ يُكَلِّمُنِي وَلاَ أُكَلِّمُهُ، حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ، فَجَلَسَ بِفَناءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ، فَقَالَ: أَثَمَّ لُكَعُ أَثَمَّ لُكَعُ فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا، فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تلْبِسُهُ سِخَابًا، أَوْ تُغَسِّلُهُ فَجاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ، وَقَالَ: اللّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّه

“Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di siang hari. Beliau tidak berbicara denganku dan aku pun tidak mengajak beliau bicara. Lalu beliau pun sampai di Pasar Bani Qoinuqo’. Lalu beliau pun duduk di halaman rumah Fathimah. Kemudian beliau mengatakan, “Mana si kecil cucuku (Al-Hasan bin ‘Ali)?” Lalu aku (Fathimah –pen) pun menahannya sebentar. Aku (Abu Hurairah –pen) mengira kalau dia (Fathimah) memakaikannya gelang untuk mewangikan (karena gelang tersebut dapat befungsi sebagai wewangian, pen) atau memandikannya. Lalu Al-Hasan pun berlari hingga beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) memeluknya dan menciumnya. Kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya. Oleh karena itu, cintailah orang-orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari no. 2122 dan Muslim no. 2421)

Membersihkan najis berupa air kencing anak kecil

Cara membersihkan pakaian yang terkena kencing seorang anak laki-laki yang belum memakan makanan untuk mengenyangkan perutnya (makanan utama) selain susu (baik ASI ataupun susu formula) adalah diperciki air saja. Sedangkan jika anak kecil tersebut perempuan, maka harus dicuci (dibasuh) dengan air. Abu As-Samh radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَ : وَلِّنِي قَفَاكَ قَالَ : فَأُولِيهِ قَفَايَ ، وَأَنْشُرُ الثَّوْبَ يَعْنِي اسْتُرُهُ ، فَأُتِيَ بِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، فَبَالَ عَلَى صَدْرِهِ فَجِئْتُ أَغْسِلُهُ فَقَالَ : يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

“Aku melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ingin mandi, beliau pun mengatakan, “Berikan kepadaku tengkukmu (disuruh membelakangi beliau).” Maka aku pun membalikkan tengkukku untuk menutupi beliau. Lalu Hasan atau Husain radhiyallahu ‘anhuma pun datang. Kemudian dia (Hasan atau Husain) mengencingi dada beliau. Maka aku pun datang untuk mencuci (membasuh), namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “(Tidak perlu). Bayi perempuan dibasuh (dicuci). Namun untuk bayi laki-laki, cukup diperciki.” (HR. Abu Dawud no. 376, Ibnu Majah no. 526 dan lain-lain, shahih li ghairihi)

Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.

[Bersambung]

***

Diselesaikan ba’da isya, Sigambal, 2 Shofar 1439/ 21 Oktober 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/9820-parenting-islami-bag-27.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Jangan Pernah Bosan Dalam Berdoa

Sebagai seorang insan yang menjalani kehidupan ini, kita senantiasa membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala, baik untuk mendapatkan perkara yang kita inginkan ataupun menghindari hal-hal yang tidak kita harapkan. Semuanya berada di dalam genggaman tangan Allah, yang Allah bolak-balikkan sesuai kehendakNya. Maka sudah sepantasnya kita senantiasa merengek-rengek di hadapan Allah untuk kedua hal di atas dan tidak bosan dalam berdoa kepadaNya.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Jala’ul Afham: “Allah menyukai mereka yang merengek-rengek dalam berdoa. Maka dari itu, sebagai bukti kebenaran pengertian ini, Anda menemukan banyak di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi uraian kata-kata dan penyebutan setiap makna dengan katanya yang jelas serta tidak cukup hanya ditunjukkan secara implisit oleh kata yang lain. Contohnya seperti dalam hadis Ali radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Muslim dalam Sahih-nya (IV/2719):

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمَ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِله إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku perbuat, yang aku rahasiakan dan yang aku nampakkan, yang Engaku lebih mengetahuinya dariku. Engkau yang mendahulukan dan Engkau mengakhirkan, tiada Ilah selain Engkau.” (Di akhir riwayat Muslim “dan Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu.” Bukhari juga meriwayatkannya, XI/ hadis no. 6398, 6399, keduanya dari Abu Musa Al-Asy’ari secara marfu’)

Diketahui, seandainya diucapkan, “Ampunilah segala dosa yang aku perbuat” tentu lebih ringkas. Namun kata-kata dalam hadis ini berada dalam konteks doa, merendahkan diri, dan menampakkan penghambaan serta kebutuhan. Sementara mengungkapkan dengan rinci berbagai hal yang ditaubati hamba lebih baik dan lebih memuaskan dari pada disingkat dan diringkas.

Demikian pula ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis lain:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَّتَهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang rahasia maupun yang nampak, yang awal maupun yang akhir.” (HR. Muslim hadits no. 483, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam sebuah hadis:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي، وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جَدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلَُ ذَلِكَ عِنْدِي

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, tindakan melampaui batasku dalam perkaraku dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya Allah, ampunilah kesungguhanku dan main-mainku, ketidak sengajaanku dan kesengajaanku, di mana semua itu ada pada diriku.” (HR. Bukhari XI/hadits no. 6398, 6399 dan Muslim IV/hadis no. 2719, dari Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Perincian seperti ini banyak terjadi dalam doa-doa yang ma’tsur. Doa adalah wujud penghambaan pada Allah, kebutuhan padaNya, dan menghinakan diri di hadapanNya. Semakin hamba memperbanyaknya, memanjangkannya, mengulang-ngulangnya, menampakkannya, dan memvariasi kalimatnya hal itu semakin konkrit menunjukkan penghambaannya, penampakan kebutuhannya, kerendahan dirinya, dan keperluannya pada Allah. Itu lebih mendekatkan dirinya pada Rabb dan memperbesar pahalanya. Lain dengan makhluk, semakin sering Anda meminta dan mengulang-ngulang kebutuhanmu padanya, Anda membuatnya bosan, membenci Anda, dan Anda terhina di matanya. Namun semakin Anda tak meminta padanya, itu lebih ia hargai dan lebih ia sukai. Sedang Allah, setiap kali Anda meminta padaNya, Anda lebih dekat padaNya dan Dia lebih mencintai Anda. Semakin Anda merengek-rengek dalam berdoa, Dia bertambah mencintai Anda. Dan siapa tidak meminta padaNya, Dia murka padanya.” (Jala’ul Afham (Terjemah), halaman 352-353)

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

‎وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Ibnu Katsir mengatakan, “Ini merupakan anugerah dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala. Dia anjurkan hamba-hambaNya untuk berdoa, dan Dia menjamin terkabulnya doa tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, “Wahai Dzat Yang lebih mencintai hamba-hambaNya yang meminta dan memperbanyak permintaan kepadaNya. Wahai Dzat Yang lebih membenci hamba-hambaNya yang tidak meminta kepadaNya. Dan tidak ada selain Engkau yang demikian wahai Rabb.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Senada dengan makna ini, seorang penyair berkata,

اللَّه يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْت سُؤَالَهُ

Allah benci bila kau tinggalkan permohonan kepadaNya

 وَبُنَيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Sedang anak Adam benci bila diminta (Tafsir Ibnu Katsir, VIII/59)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Jala’ul Afham (Keutamaan Shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Penerbit Al-Qowam, Sukoharjo
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Terbitan Pustaka Ibnu Katsir Jakarta

Sumber: https://muslimah.or.id/18053-jangan-pernah-bosan-dalam-berdoa.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Bangga Menjadi Muslim

Dewasa ini, kita sering mendapatkan saudara-saudara kita – semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka – yang tidak berbangga dengan agamanya (yaitu tidak merasa gagah karena keutamaan dan keunggulan Islam). Sehingga sebagian pelajar muslim, misalnya, mungkin masih merasa minder ketika memakai celana di atas mata kaki (tidak isbal) di sekolahan mereka. Sebagian pemuda muslim minder dengan hari raya Islam, sehingga menambahkan hari raya-hari raya lainnya dalam Islam. Bahkan, ada diantara mereka yang ikut memperingati hari raya agama lain, Na’uudzubillahi min dzaalik.

Padahal, apabila kita melihat keutamaan Islam, tentu kita akan merasa bangga dengannya. Pada bahasan kali ini, penulis mengangkat tema “Bangga menjadi Muslim”, supaya menambah rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam ini, tetap istiqomah di atas jalan-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan selainnya.

Diantara Keutamaan-keutamaan Islam

Imam Bukhari dan Muslim membawakan hadits dari Thaariq bin Syihaab, dia berkata bahwasanya seorang yahudi berkata kepada ‘Umar bin Khattab (yang saat itu menjadi khalifah) radhiyallahu ‘anhu, “Wahai amirul mukminin, sebuah ayat dalam al-Quran yang kalian membacanya, seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?,” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (QS. Al-Maidah: 3) ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu, yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at. ” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah, seorang Yahudi mengetahui keutamaan Islam, dimana keutamaan Islam bisa dilihat (melalui ayat QS. Al-Maidah: 3 tersebut) dari beberapa tinjauan, diantaranya:

Ditinjau dari hakikat islam itu sendiri

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah telah mengabarkan kepada nabi-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, bahwasanya Dia telah menyempurnakan islam bagi mereka, sehingga mereka tidak akan membutuhkan tambahan selamanya. Dan Allah telah melengkapkannya, sehingga Dia tidak akan menguranginya selamanya. Dan Allah telah meridhainya, maka Dia tidak akan marah kepadanya selamanya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 14/2)

Ditinjau dari pemeluknya

Hal ini diambil dari firman Allah (artinya), “Dan Aku telah meridhai bagi kalian Islam sebagai agama” yang umum mencakup seluruh manusia. Oleh karena itu, Allah tidak menerima agama apapun — setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam — kecuali Islam. Hal ini merupakan keutamaan bagi seluruh pemeluknya.

Ditinjau dari kekekalan / keabadiannya

Agama-agama sebelum islam dikhususkan bagi waktu tertentu (terbatas) dan zaman yang telah Allah tentukan; kemudian Allah mengangkat hukumnya (naskh), dan menggantikannya dengan agama Islam. Sementara itu, agama islam kekal sampai hari kiamat. Bahkan, Nabi Isa ‘alaihissalam ketika turun pada akhir zaman, dia akan berhukum dengan syariat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’laamul Anaam bi Syarhi Kitaab Fadhlil Islaam, hal. 22 — 24).

Demikianlah agama kita tercinta ini. Sangat banyak dan jelas keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya, sehingga orang di luar Islampun juga mengakui keutamaan-keutamaannya.

Keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya

Masih tentang keutamaan islam, untuk melengkapi bahasan tentang keutamaan Islam, penulis merasa perlu menambahkan bahasan khusus tentang keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya. Keutamaan tersebut juga sangat banyak, diantaranya :

  1. Islam untuk semua umat manusia
    Islam merupakan agama yang Allah syariatkan untuk seluruh umat manusia. Hal tersebut berbeda dengan agama-agama samawi lainnya yang disyariatkan khusus untuk umat tertentu, misalkan Nashrani (baca : syariat Nabi Isa ‘alaihissalam) yang khusus diperuntukkan kepada Bani Israil saja.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku … nabi sebelumku diutus hanya untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk manusia seluruhnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Allah Ta’ala berfirman ketika mensifati Nabi Isa ‘alaihissalam (yang artinya), “Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil” (QS. Ali Imran : 49).
  2. Tanda kenabian yang kekal hingga akhir zaman
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).
    Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa Dia yang akan menjaga al-Quran. Sementara untuk selain al-Quran, Dia berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
    Maka dalam ayat ini, Allah menyerahkan penjagaan kitab tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengganti dan merubahnya. (lihat Tafsir al-Qurthubi : 5/10)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menunjukkan kita kepada Islam, satu-satunya agama yang benar, dan memiliki banyak keutamaan.

Beberapa contoh aplikasi nyata dari bangga sebagai muslim

Bangga dengan hari raya islam

Diantara praktek nyata dari kebanggaan sebagai seorang muslim, adalah bangga dengan hari raya yang telah Allah pilihkan untuknya. Anas Radhiallahu ‘anhu berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu, yaitu hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri”. (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad dan selainnya).

Berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna rahimahullah: “Maksudnya : Karena hari Idul Fihtri dan hari raya Kurban ditetapkan dengan syariat Allah Ta’ala, merupakan pilihan Allah untuk mahluk-Nya dan karena keduanya mengikuti pelaksanaan dua rukun Islam yang agung yaitu Haji dan Puasa, serta didalamnya Allah mengampuni orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya yang taat …. ” [Fathur Rabbani, 6/119] (Lihat Ahkaamul ‘Iidain fis Sunnahil Muthohharoh, hal 13 — 16)

Oleh karena itu, cukup bagi kita hari raya yang telah Allah pilihkan untuk kita, dan meninggalkan hari raya-hari raya selainnya, seperti tahun baru, dan selainnya.

Bangga dengan celana tidak isbal (khusus laki-laki)

Sebagian pelajar muslim mungkin masih merasa minder ketika memakai celana yang tidak isbal (yaitu celana di atas mata kaki) di sekolahan mereka. Sebagian mahasiswa muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kampus mereka. Demikian juga, sebagian karyawan muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kantor mereka.

Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah bahwasanya memakai celana di atas mata kaki merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu, berbanggalah kalian dengan model celana seperti itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Hadits-hadits yang melarang isbal sangat banyak, sehingga mencapai batas hadits mutawatir maknawi, diantaranya adalah hadits di atas. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih luas tentang masalah ini, silahkan merujuk ke kitab Hadduts Tsaub wal Uzroh wa Tahriimul Isbaal wa Libaasusy Syuhroh karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua istiqomah untuk senantiasa berada di jalan-Nya.

Penulis: Abu Ka’ab Prasetyo, S.Kom.

Artikel Buletin Al Hikmah dipublikasi ulang oleh Muslim.Or.Id
Sumber: https://muslim.or.id/19404-bangga-menjadi-muslim.html

Menjadi Manusia Produktif dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, produktivitas bukan hanya tentang menghasilkan banyak hal dalam waktu singkat, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk tujuan yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Seorang muslim yang produktif adalah seseorang yang mampu menyeimbangkan antara ibadah, pekerjaan, dan tanggung jawab sosial. Artikel ini akan membahas bagaimana seorang muslim dapat menjadi produktif dengan berlandaskan ajaran Islam.

Memanfaatkan waktu dengan baik

Sungguh Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang sifat orang-orang yang beruntung dan amal mereka yang terpuji di dalam Al-Quran. Allah Ta’ala juga mengabarkan tentang sifat-sifat orang yang merugi dan akhlaknya yang tercela. Hal itu terdapat pada ayat yang sangat banyak di dalam Al-Quran. Dan Allah Ta’ala telah mengumpulkannya dengan menyebutkannya di dalam surah Al-‘Ashr,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk (menetapi) kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-Asr: 1-3)

Ayat ini mengingatkan bahwa waktu adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah. Produktivitas dalam Islam dimulai dari kemampuan memanfaatkan waktu dengan baik. Menghargai waktu berarti tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Oleh karena itu, seorang muslim harus mampu mengatur waktunya dengan bijak, baik dalam hal ibadah, pekerjaan, maupun kegiatan sosial.

Niat yang lurus dan ikhlas

Segala aktivitas seorang muslim, baik itu pekerjaan duniawi maupun ibadah, harus dimulai dengan niat yang benar dan ikhlas karena Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Produktivitas yang sejati dalam Islam bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kita capai, tetapi juga bagaimana niat kita dalam melakukan aktivitas tersebut. Ketika seorang muslim berniat untuk bekerja keras dengan tujuan mencari rida Allah dan memberi manfaat bagi orang lain, maka setiap pekerjaannya akan bernilai ibadah.

Fokus terhadap akhirat, namun tidak melupakan kehidupan di dunia

Islam mengajarkan bahwa seorang muslim harus fokus untuk mengumpulkan bekal ke akhirat, namun tidak melupakan bagian dari urusannya di kehidupan dunia. Oleh karena itu, produktivitas tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi semata, tetapi juga dari persiapan menuju kehidupan setelah mati. Allah Ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qasas: 77)

Seorang muslim produktif adalah mereka yang fokus menunaikan kewajiban ibadah, seperti salat, puasa, dan sedekah, namun tidak melupakan tanggung jawab duniawi, seperti bekerja dan mencari nafkah. Bahkan, bekerja dan mencari nafkah pun diniatkan untuk ibadah dan agar tidak meminta-minta.

Mengembangkan potensi diri

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Produktivitas seorang muslim dapat tercermin dari semangatnya dalam menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia yang bermanfaat. Dengan ilmu yang dimiliki, seorang muslim dapat memberikan manfaat lebih besar bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan agamanya.

Berdoa dan bertawakal

Selain berusaha dengan maksimal, seorang muslim harus selalu menyertai usahanya dengan doa dan tawakal. Berdoa menunjukkan bahwa kita menyadari bahwa segala usaha dan hasilnya berada dalam kehendak Allah. Tawakal, atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha, adalah bentuk kepasrahan seorang hamba yang yakin bahwa apapun hasilnya adalah yang terbaik dari Allah Ta’ala.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Asy-Syarh: 7-8)

Menghindari kemalasan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengajarkan umatnya untuk menghindari sifat malas. Dalam sebuah doa, beliau memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat malas,

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَـمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْـِز وَاْلكَسَلِ .وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُـبْنِ وَالْبُخْـلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَـهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan dukacita; aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas; aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir; aku berlindung kepada-Mu dari tekanan utang dan kezaliman manusia.” (HR. Abu Dawud, 4: 353)

Seorang muslim yang produktif harus mampu melawan rasa malas dan senantiasa aktif dalam melakukan kebaikan. Rasa malas adalah penghalang utama dalam produktivitas, dan Islam mengajarkan pentingnya disiplin dan kerja keras.

Kesimpulan

Menjadi muslim yang produktif berarti menjadi seseorang yang mampu memanfaatkan waktu dan potensi yang diberikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari seberapa banyak hal yang bisa dicapai, tetapi juga dari bagaimana setiap aktivitas yang dilakukan membawa manfaat dan bernilai ibadah. Dengan niat yang lurus, usaha yang maksimal, doa, dan tawakal kepada Allah, seorang muslim dapat mencapai produktivitas yang optimal, baik dalam urusan dunia, lebih-lebih dalam urusan akhirat.

Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak di sekitar lingkungan kita, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

***

Penulis: Kiki Dwi Setiabudi

Sumber: https://muslimah.or.id/19217-menjadi-manusia-produktif-dalam-perspektif-islam.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id