Apakah Inti Kebahagiaan Itu?

Kebahagiaan seorang hamba, baik ketika di dunia dan di akhirat, merupakan anugerah dan pemberian rabbani. Semua itu hanya berada di tangan Allah. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk melakukan aktivitas menurut takdir yang telah ditentukan baginya. Seseorang yang telah ditakdirkan meraih kebahagiaan, maka dia akan dimudahkan dan diberi taufik untuk melakukan kebaikan. Sebaliknya, seseorang yang ditakdirkan sengsara, akan melakukan aktivitas keburukan. Allah Ta’ala yang akan memudahkan setiap aktivitas tersebut. Allah-lah Zat yang memberikan pertolongan dan petunjuk, dan juga Dia-lah yang menganugerahkan taufik kepada setiap hamba.

Dari sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami pernah menguburkan jenazah di pemakaman Baqi Al-Gharqad. Tidak berselang lama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangi kami. Beliau duduk, dan kami pun duduk mengelilingi beliau. Setelah itu, Rasulullah memegang sebuah batang kayu pendek dan beliau menggaris-gariskan dan memukul-mukulkannya di atas tanah seraya berkata,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلَّا وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً قَالَ فَقَالَ رَجَلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَمْكُثُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ فَقَالَ مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ  : فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ  ؛ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ  ؛ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ  ؛ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ  ؛ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ  ؛ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ

“Tidaklah seseorang diciptakan melainkan Allah telah menentukan tempatnya, baik di surga ataupun di neraka, serta ditentukan pula apakah dia sengsara atau bahagia.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, kalau begitu apakah sebaiknya kami berdiam diri saja tanpa harus berbuat apa-apa?’” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Siapa saja yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, dia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, siapa saja yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sengsara, dia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tetaplah beramal! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat (sesuai dengan ketentuan terhadap dirinya, sengsara atau bahagia). Orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Sedangkan orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara, maka akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.”

Setelah itu, Rasulullah pun membacakan ayat Al-Quran (yang artinya), “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil (pelit) dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sulit.” (QS. Al-Lail: 5-10)” (HR. Bukhari no. 1362 dan Muslim no. 2647)

Allah Ta’ala memang telah menakdirkan kebahagiaan dan kesengsaraan. Namun, Allah juga telah menjadikan dan menunjukkan sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis di atas,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Tetaplah beramal! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat (sesuai dengan ketentuan terhadap dirinya, sengsara atau bahagia).”

Sehingga seorang hamba diperintahkan untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk menempuh berbagai sebab yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan menghindarkan dari kesengsaraan. Tentunya, sembari memohon pertolongan dan meminta bantuan kepada Allah Ta’ala.

Kebahagiaan itu hanyalah bisa dicapai dengan melakukan berbagai macam amal ketaatan kepada Allah Ta’ala dan mengikuti petunjuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ

“Setiap orang yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Allah Ta’ala berfirman,

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِن فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰة طَيِّبَةۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Setiap orang yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

“Kehidupan yang baik” dalam ayat di atas adalah kehidupan yang tidak berisi kedukaan dan kesengsaraan, yaitu kehidupan yang terisi dengan keimanan dan ketaatan. Inilah inti kebahagiaan yang terwujud dengan melakukan tiga hal penting dalam hidup seorang hamba. Setiap orang yang memperoleh taufik dan hidayah untuk melakukan tiga hal ini, niscaya akan menjadi orang yang berbahagia di dunia dan akhirat. Tiga perkara itu adalah: (1) bersyukur kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat-Nya; (2) bersabar terhadap takdir-Nya; dan (3) bertobat kepada-Nya.

Mengapa demikian? Karena dalam kehidupan dunia ini, seorang hamba itu tidak mungkin terlepas dari tiga kondisi berikut ini.

Pertama, dia terus-menerus berada dalam limpahan nikmat dan karunia yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Kenikmatan itu tentu menuntut rasa syukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Contoh kecil, Allah Ta’ala akan rida kepada hamba-Nya, jika ia memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum.

Kedua, dia sedang ditimpa musibah atau kondisi yang sempit. Kewajiban yang harus dilakukan dalam kondisi semacam ini adalah menghadapi dengan lapang dada dan bersabar atas takdir tersebut sembari mengharapkan karunia dan pemberian-Nya.

Bersabar atas musibah yang menimpa merupakan kedudukan mulia dan tinggi dalam agama. Hanya orang-orang yang memperoleh anugerah dan kelapangan dada dari Allah Ta’ala yang bisa diberi taufik untuk bersabar. Ia menghadapi musibah tersebut dengan menerima takdir Allah Ta’ala berdasarkan ilmu dan keimanan. Yaitu, segala sesuatu yang memang telah ditakdirkan menimpanya, niscaya akan dia alami. Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak ditakdirkan menimpanya, niscaya tidak akan dia alami. Allah Ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah. Dan setiap orang yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Perihal ayat ini, Alqamah rahimahullah menuturkan,

هو الرجل تصيبه المصيبة، فيعلم أنّها من عند الله، فيرضى ويسلّم

“Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, lalu ia tahu bahwa musibah itu berasal dari Allah. Kemudian ia pun rida dan menerimanya dengan lapang dada.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 9503)

Ketiga, selain itu, dia juga berada dalam kondisi penuh dosa dan kesalahan. Kondisi ini menuntut hamba untuk bertobat dan beristigfar. Istigfar merupakan aktivitas yang mulia dan membuahkan pahala yang melimpah. Dalam suatu hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sangat beruntunglah orang yang kelak menjumpai bahwa catatan amalnya banyak dipenuhi istigfar.” (HR. Ibnu Majah no. 3818, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Manfaat istigfar ini tidak berbilang dan tidak terbatas, dan membutuhkan tulisan tersendiri untuk menuliskan semuanya. Namun, cukuplah kami menyebutkan salah satu manfaatnya di dunia seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارا  ؛ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارا  ؛ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰل وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰت وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرا

“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, “Inilah tiga tanda kebahagiaan dan keberuntungan hamba di dunia dan akhirat. Setiap hamba senantiasa akan berputar pada tiga kondisi ini.” (al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5)

Oleh karena itu, hamba yang bersyukur jika dilimpahi nikmat, bersabar jika ditimpa musibah, dan beristigfar jika berbuat dosa, adalah hamba yang sangat beruntung dan berbahagia. Ketiga hal ini merupakan inti kebahagiaan, dan terkumpul dalam sebuah atsar yang diriwayatkan dari sahabat yang mulia, Abdullah bin Amru bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau menuturkan,

رْبَعُ خِصَالٍ مَنْ كُنَّ فِيهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ ، مَنْ كَانَ عِصْمَةُ أَمِرْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ قَالَ : إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، وَإِذَا أُعْطِيَ شَيْئًا قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَإِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا قَالَ : أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“Siapa yang melakukan empat perkara ini, niscaya Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga. Keempat perkara itu adalah: (1) menjadikan kalimat laa ilaaha illallah sebagai hal yang utama; (2) mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un apabila ditimpa musibah; (3) mengucapkan alhamdulillah apabila diberi kenikmatan; dan (4) mengucapkan astaghfirullah apabila berbuat dosa.” (HR. Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhud hal. 50 [dalam bagian mulhaq], Ibnu Abi ad-Dunya dalam asy-Syukr no. 205, dan Al-Baihaqi dalam al-Iman no. 9692)

Dalam atsar di atas, ketiga inti kebahagiaan tersebut disandingkan dengan perkara pokok dan agung yang menjadi pondasi agama ini, yaitu kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat hanya akan tercapai jika melaksanakan kandungannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, penerapan kandungan kalimat itulah yang menjadi inti kebahagiaan. Sehingga orang yang menerapkan kandungannya adalah orang yang sejatinya berbahagia.

Semoga Allah Ta’ala menetapkan kita semua dalam peribadatan orang-orang yang berbahagia dan meneguhkan kita di jalan kebahagiaan.

***

“Menulis adalah bentuk nasihat untuk diri sendiri.”

@BA, 22 Syawal 1445/ 1 Mei 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 52; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Sumber: https://muslim.or.id/93546-apakah-inti-kebahagiaan-itu.html

MaasyaaAllah… Cantiknya Diriku!

Adakalanya kita melihat ke cermin akan indahnya wajah kita, mata, hidung, bibir, dan kulit yang mulus, dan membuat diri terkagum dengan keindahan tersebut. Ketahuilah wahai Saudari Muslimah, bahwa itu semua adalah anugerah dari Allah ta’ala. Sempurnanya penciptaan diri kita sebagai manusia adalah di antara tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala.

Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Syaikhul Islam At-Tamimi rahimahullah menjelaskan di dalam kitabnya Al-Ushuluts Tsalaatsah, tentang bagaimana kita bisa mengenal Rabb kita adalah dengan ayat-ayatNya dan ciptaan-ciptaanNya. Allah ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya:

“Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Q.S Fushshilat: 37)

Besarnya penciptaan matahari dan bulan, dan indahnya malam dan siang itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala yang menciptakannya. Apalagi jika hanya wajah yang cantik nan rupawan, hidung, mata, dan bibir yang sempurna penciptaannya, maka hal ini sangatlah mudah di sisi Allah.  Maka dari itu, perlu kita renungi bahwa indahnya penciptaan manusia adalah bukti kebesaran Allah dan syukur kita pada kenikmatan ini haruslah kita sandarkan kepada Allah saja.

Dalam banyaknya harta yang mungkin disebabkan oleh usaha manusia, maka kita harus untuk menisbatkan hal itu semua kepada Allah. Di dalam surat Al-Kahfi ayat 39, Allah menceritakan tentang orang yang mempunyai kebun yang indah,

وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًا

Artinya:

 “Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, “Mā syā’allāh, lā quwwata illā billāh” (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan [pertolongan] Allah).” (Q.S Al-Kahfi: 39)

As-Sa’di rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal, dan segala sesuatu yang diharapkan dari kebaikan akhirat itu lebih utama daripada apa yang ada di dunia yang orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya.”

Bersyukur Atas Nikmat Allah

Maka dari itu, jangan lupa menyandarkan segala nikmat kepada Allah dengan syukur. Syukur tidaklah hanya pada hati, tapi harus juga diucapkan di lisan dan ditampakkan dengan perbuatan, yaitu dengan cara memanfaatkan nikmat tersebut untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Dalam hal ini, kecantikan tidaklah datang kecuali dari Allah dan di antara bentuk syukur adalah dengan merawatnya dan menjaganya dari pandangan-pandangan laki-laki yang bukan mahramnya karena ini adalah salah satu dari bentuk ibadah kepada Allah ta’ala.

Milikilah Rasa Malu

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum (199) mengatakan. “Ketahuilah, bahwa rasa malu itu ada 2 macam:

Pertama: Rasa malu yang itu sudah menjadi tabi’at dan watak, tidak perlu diusahakan. Ini adalah anugerah dari Allah kepada hambaNya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الحياء لا يأتي إلا بخير

Artinya:

“Rasa malu itu tidaklah memberikan sesuatu kecuali kebaikan.” (H.R Bukhori, No. 6117)

Karena rasa malu akan menahan pelakunya dari perbuatan yang buruk dan akan mendorong seseorang untuk mempunyai akhlak yang baik dan akan menghasilkan iman

Kedua: Rasa malu yang diusahakan. Rasa malu bisa diusahakan dari mengenal Allah ta’ala, keagunganNya, mendekat padaNya, mengetahui bahwa Allah itu dekat, dan ilmuNya meliputi para hambaNya. Allah-lah yang tahu tentang mata yang khianat dan apa yang ada di dalam dada. Inilah yang disebut dengan muroqobatullah. Ini adalah tujuan iman yang tertinggi, bahkan derajat ihsan yang tertinggi.”

Takjub akan Kecantikan Diri Sendiri

Adakalanya seorang wanita muslimah bercermin, maka dia takjub akan kecantikan dirinya, maka yang yang dilakukan adalah:

  1. Bersyukur, bahwa itu adalah nikmat dan anugerah dari Allah.
  2. Hiasi kecantikan tersebut dengan rasa malu dan menjaga kecantikan tersebut dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya.
  3. Menjaga kecantikan tersebut dengan merawatnya dan mempersembahkan kecantikan tersebut hanya pada yang berhak semisal kepada suaminya.
  4. Tidak lupa untuk mendoakan keberkahan pada dirinya.

Karena bisa jadi penyakit ‘ain menimpa dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

وقد يعين الرجل نفسه

Artinya: “Terkadang seseorang bisa menimpakan ‘ain pada dirinya sendiri”

Maka, untuk mencegah hal tersebut, hendaknya seseorang itu memperbanyak doa keberkahan dan senantiasa bersyukur dan menyadari bahwa kecantikan itu murni anugerah dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا رأى أحدكم من نفسه أو ماله أو من أخيه ما يعجبه فليدع له بالبركة فإن العين حق

Artinya:

“Jika salah seorang kalian melihat sesuatu di dalam dirinya, atau hartanya, atau yang ada pada saudaranya yang membuatmu takjub, maka doakanlah ia dengan keberkahan. Karena sesungguhnya ‘ain itu nyata.” (HR. Al Hakim di dalam Al-Mustadrok No. 7706, sanadnya shahih)

Jika penyakit ‘ain sudah terlanjur menimpanya, maka hendaklah dia meruqyah dirinya sendiri dan berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya dan hilangnya dampak ‘ain pada dirinya.

Di dalam shahihain, hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan aku untuk melakukan ruqyah karena ‘ain.”

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa:

أللهم حسنت خلقي فحسن خلقي

Artinya:

“Ya Allah, sebagaimana Engkau memperbagus rupa diriku, maka perbaguslah akhlakku.” (H.R Ibnu Hibban dalam Bulughul Maram No. 451)

Indahnya akhlak adalah sesuatu yang lebih penting untuk kita minta daripada indahnya jasad. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk meminta keindahan akhlak di atas keindahan jasad di dalam doa kita.

—

Penulis: Triani Pradinaputri

Referensi:

  1. Tafsir As-Sa’diy dalam http://quranapp.com/18/39-39
  2. Al-Ushuluts Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimiy
  3. Nashihatiy Lin Nisaa, Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah
  4. Fiqih Hasad, Syaikh Musthofa bin Al-’Adawiy
  5. https://dorar.net/h/cKaWCpqI
  6. https://dorar.net/h/SYHIojUa

Sumber: https://muslimah.or.id/17538-maasyaaallah-cantiknya-diriku.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Makan Berjama’ah

Makan berjama’ah bukanlah ajaran sebagian kelompok dalam Islam. Namun makan seperti ini adalah makan yang disunnahkan dalam agama kita. Makan seperti ini dinilai lebih berkah, bahkan dikatakan bahwa sebenarnya satu porsi makanan itu bisa cukup untuk dua orang dan empat porsi untuk delapan orang.

Anjuran Makan Berjama’ah

Dalil yang menunjukkan anjuran makan secara berjama’ah adalah di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَعَامُ الاِثْنَيْنِ كَافِى الثَّلاَثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِى الأَرْبَعَةِ

“Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah). Dalam lafazh Muslim disebutkan,

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِى الاِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الاِثْنَيْنِ يَكْفِى الأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ

“Makanan porsi satu orang sebenarnya cukup untuk dua, makanan dua sebenarnya cukup untuk empat, dan makanan empat sebenarnya cukup untuk delapan.”

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 535) berkata, “Kecukupan itu datang karena keberkahan dari makan secara berjama’ah. Cara jama’ah ini membuat yang menikmati makanan itu banyak sehingga bertambah pula keberkahan.”

Semakin Berkah

Dalil lain yang menunjukkan makan berjama’ah akan mendatangkan keberkahan adalah riwayat dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764. Kata Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Baththol berkata, “Makan secara bersama-sama adalah salah satu sebab datangnya barokah ketika makan.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 18: 121)

Rasul dan Sahabat Mencontohkan Makan Sambil Berjama’ah

Dalil yang menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam makan secara berjama’ah disebutkan oleh ‘Aisyah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ طَعَامًا فِى سِتَّةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَجَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَأَكَلَهُ بِلُقْمَتَيْنِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan bersama enam orang sahabatnya, lantas Arab Badui datang lalu memakan makanan beliau dengan dua suapan.” (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767, Ibnu Majah no. 3264. Sanad hadits ini shahih kata Al Hafizh Abu Thohir).

Juga kita dapat lihat praktek sahabat mengenai makan secara berjama’ah. Dari Nafi’, ia berkata bahwa dahulu Ibnu ‘Umar tidak makan kecuali setelah didatangkan orang miskin dan beliau makan bersamanya. Kemudian Nafi’ pernah memasukkan seseorang untuk makan bersama Ibnu ‘Umar, lalu orang tersebut makan banyak. Ibnu ‘Umar pun berkata, “Wahai Nafi’, jangan masukkan orang ini untuk makan bersamaku, karena aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِى مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِى سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

“Seorang mukmin makan untuk satu usus, namun orang kafir untuk tujuh usus.” (HR. Bukhari no. 5393 dan Muslim no. 2060)

Sebagaimana disebutkan dalam Syarh Muslim, ada ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah seorang mukmin biasa makan bersifat pertengahan. Imam Nawawi rahimahullah juga berkata bahwa para ulama mengatakan tentang maksud hadits yaitu untuk memiliki sedikit dunia, motivasi untuk zuhud dan qona’ah (hidup berkecukupan). Dan memang sedikit makan adalah bagian dari baiknya akhlak seseorang, sedangkan banyak makan itu kebalikannya.

Adapun perkataan Ibnu ‘Umar dalam hadits di atas tentang si miskin yang makan bersamanya dengan lahapnya, lantas beliau ucapkan pada Nafi’, “Jangan masukkan orang ini untuk makan bersamaku lagi”. Dikatakan seperti itu karena si miskin tersebut menyerupai (tasyabbuh pada) orang kafir. Siapa saja yang menyerupai orang kafir, maka dimakruhkan bergaul dengannya tanpa ada hajat atau bukan keadaan darurat. Lihat Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi, 14: 25-26.

Hadits ini juga menjadi anjuran makan berjama’ah (bersama-sama dengan muslim lainnya) apalagi bersama orang miskin. Apalagi kita tahu bahwa Ibnu ‘Umar itu sangat bersemangat sekali melaksanakan ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Demikian sedikit penjelasan dari kami mengenai makan berjama’ah. Pembahasan ini dapat dikaji lebih lanjut dari kitab karya Syaikh Yahya bin ‘Ali Al Hajuri dengan judul ‘Al arba’in al hisan li tanbihil anaam ‘ala fadhli al ijtima’ ‘ala ath tho’aam’. Semoga sajian singkat ini bermanfaat. Wabillahit taufiq.

—

Di malam hari @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 13 Jumadal Ula 1434 H

http://www.rumaysho.com

Sumber https://rumaysho.com/3255-makan-berjamaah.html

Sabar Merupakan Setengah Iman

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kita hidup senantiasa berada dalam ujian dan cobaan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Salah satu cobaan tersebut dapat berupa gangguan, celaan, hinaan cemoohan dari orang lain. Anehnya, dahulu ketika kita belum mendekat ke agama Allah ini, gangguan dari orang lain itu hampir tidak ada. Namun ketika kita semakin giat untuk mendakwahkan kebenaran di tengah masyarakat, gangguan itu pun semakin kencang. Berikut ada sebuah tips menarik dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah untuk menguatkan kesabaran kita di jalan keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah mengatakan[1].

“Kesebelas, Hendaklah dia menyaksikan, menyadari bahwa kesabaran merupakan setengah keimanan. Sehingga dia tidak akan mau mengorbankan sebagian dari imannya hanya untuk membela diri. Jika dia mampu sabar maka dia telah meraih (setengah) imannya sekaligus mempertahankannya dari kekurangan/cacat. Selanjutnya Allah lah yang akan memenuhi (janjinya) terhadap orang-orang yang beriman”.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

“Ini juga merupakan perkara yang mampu membantu agar seseorang sabar. Sesungguhnya kesabaran merupakan setengah bagian dari iman. Karena iman itu ada dua bagian besar yaitu sabar dan syukur. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya baik dan hal itu tidak ada pada diri seseorang kecuali pada orang yang beriman. Jika kesenangan menghinggapinya, diapun bersyukur maka itu baik baginya. Sedangkan bila musibah menimpanya, diapun bersabar maka itupun baik baginya”[2].

Maka iman adalah sabar dan syukur.

Kedua kedudukan ini pun disebutkan dalam banyak ayat. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya hal itu merupakan tanda-tanda bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur”.

(QS. Ibrohim [14] : 5, Luqman [31] : 31, Saba’ [34] : 19 dan Asy Syuro [42] : 33)

Ayat ini disebutkan pada 4 kesempatan di Al Qur’an. Maka agama dan iman ada dua bagian besar setengahnya sabar dan setengal lainnya adalah syukur.

“Maka hendaklah orang yang diganggu mencamkan dalam dirinya, ‘Janganlah membalasnya namun sabarlah hingga aku mampu tetap terjaga pada kedudukan yang mulia di dalam agama ini dan tempat yang tinggi ini yaitu kesabaran. Janganlah mengorbankannya walaupun hanya sebagian kecil hingga itu membuat tidak hilang dari diriku sedikitpun bagian dari kedudukan yang mulia ini, yang senilai dengan setengah iman”.

(Diterjemahkan dari Kitab Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 30-31 Terbitan Dar Al Ilmu Ash Shohih)

Kesimpulannya :

Ketika anda membalas gangguan orang lain kepada anda berarti anda sedang mempertaruhkan setengah iman anda. Maka silakan pilih.

Sigambal, 24 Dzul Hijjah 1437 H, 25 September 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

-Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni dosa kami, orang tua kami, atok kami dan para pendahulu generasi kami-

[1] Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 30 Terbitan Dar Al Ilmu Ash Shohih

[2] HR. Muslim no. 2999 melalui shahabat Shuhaib Ar Rumi Rodhiyallahu ‘anhu.

sumber : https://alhijroh.com/aqidah/sabar-merupakan-setengah-iman/

Hukum Tidur Tengkurap

Bolehkah tidur tengkurap, di mana posisi perut di bawah?

Mengenai larangan tidur sambil tengkurap disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Ya’isy bin Thokhfah Al Ghifariy, dari bapaknya, ia berkata,

فَبَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعٌ فِى الْمَسْجِدِ مِنَ السَّحَرِ عَلَى بَطْنِى إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِى بِرِجْلِهِ فَقَالَ « إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ ». قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Ketika itu aku sedang berbaring tengkurap di masjid karena begadang dan itu terjadi di waktu sahur. Lalu tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Ia pun berkata, “Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci oleh Allah.” Kemudian aku pandang orang tersebut, ternyata ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Abu Daud no. 5040 dan Ibnu Majah no. 3723. Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Juga hadits lainnya,

عَنِ ابْنِ طِخْفَةَ الْغِفَارِىِّ عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ مَرَّ بِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِى فَرَكَضَنِى بِرِجْلِهِ وَقَالَ « يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ ».

Dari Ibnu Tikhfah Al Ghifari, dari Abu Dzarr, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kaki beliau. Beliau pun bersabda, “Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.” (HR. Ibnu Majah no. 3724. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam kitab Nuzhatul Muttaqin (hal. 339), Syaikh Musthofa Al Bugho, dkk berkata bahwa tidur sambil tengkurap itu terlarang.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak pantas seseorang tidur tengkurap lebih-lebih lagi dilakukan di tempat yang terbuka. Karena jika orang banyak melihat tidur semacam itu, mereka tidak suka. Namun jika seseorang dalam keadaan sakit perut, dengan tidur seperti itu membuat teredam sakitnya, maka seperti itu tidaklah mengapa karena dilakukan dalam keadaan butuh.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 343)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ditanya, “Ada yang mengatakan bahwa tidur tengkurap itu diharamkan, apakah benar? Jika benar, apa yang mesti kulakukan karena aku tidak bisa tidur pulas melainkan dengan cara tidur sambil tengkurap. Tidur seperti itu lebih menyenangkan bagiku.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa beliau melihat sebagian sahabatnya tidur tengkurap lantas beliau menggerak-gerakkan dengan kakinya, lantas beliau bersabda, “Ini adalah seperti berbaring yang Allah murkai.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “Tidur seperti itu adalah berbaringnya penduduk neraka.” Berbaring seperti itu jelas terlarang sehingga sepantasnya ditinggalkan kecuali dalam keadaan darurat seperti karena sakit perut. Adapun jika bukan darurat, maka baiknya ditinggalkan. Minimal tidur seperti itu dihukumi terlarang (makruh) karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa tidur tersebut dimurkai oleh Allah. Namun kalau kita lihat secara tekstual hadits, tidur dalam keadaan tengkurap diharamkan. Oleh karenanya, mukmin laki-laki maupun perempuan hendaklah meninggalkan bentuk tidur semacam itu kecuali dalam keadaan darurat yang sulit dihindari.”(Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Syawal 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom

Sumber https://rumaysho.com/8488-hukum-tidur-tengkurap.html

Keutamaan Kota Madinah

Sesungguhnya kota Madinah adalah kota yang dirindukan oleh seluruh kaum muslimin, betapa kenyamanan dirasakan oleh para jama’ah haji dan umroh tatkala berada di kota Madinah. Kota ini memiliki banyak keistimewaan, diantaranya :

1 – Allah –ta’ala- menjadikan madinah kota haram sebagaimana Allah menjadikan makkah kota haram, Nabi  -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِيْنَةَ

“Sesungguhnya Ibrahim menjadikan makkah tanah haram, dan sesungguhnya aku menjadikan madinah tanah haram” (HR Muslim no 1367)

Dan yang dimaksud haram disini adalah diharamkan di kota Mekah dan Madinah memotong pohon yang berduri, membunuh binatang buruan, dan mengangkat senjata untuk tujuan menumpahkan darah  ataupun berperang.  nabi –shallahu alaihi wa sallam- bersabda :

إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْ الْمَدِيْنَةِ أَنْ يُقْطَعَ عَضَاهُهَا أَوْ يُقْتَلَ صَيْدُهَا

“sesungguhnya aku mengharamkan memotong pohon yang berduri dan membunuh hewan buruan di madinah”. (HR Muslim no 1363)

Dan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ حَرَامًا مَا بَيْنَ مَأْزِمَيْهَا، أَنْ لَا يُهْرَاقَ فِيهَا دَمٌ، وَلَا يُحْمَلَ فِيهَا سِلَاحٌ لِقِتَالٍ، وَلَا تُخْبَطَ فِيهَا شَجَرَةٌ إِلَّا لِعَلْفٍ

“Sesungguhnya  aku mengharamkan kota madinah yang batas  wilayahnya  antara dua gunung  yang ada di kota madinah agar tidak menumpahkan darah, tidak membawa senjata untuk berperang, dan tidak menggugurkan daun-daun pohon yang ada di kota madinah kecuali untuk makanan ternak” (HR Muslim no 1374)

2 – Nabi –shallahu alahi wa sallam- memberi nama kota madinah dengan sebutan thabah atau thayyibah yang bermakna baik, Nabi –shallahu alaihi wa sallam- bersabda :

إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَمَّى الْمَدِيْنَةَ طَابَةً

“Sesungguhnya Allah –ta’ala-  menamakan kota madinah dengan sebutan thabah (dalam sebagian riwayat : Thoibah)”. (HR Muslim no 1385)

Dan طَابَةً atau طَيْبَةً diambil dari kata الطِّيْبُ yang artinya bersih, karena Madinah dibersihkan dari kesyirikan (lihat Kasyful Musykil min Hadiits As-Shahihahin, Ibnu Jauzi 1/458), atau karena tanah Madinah itu suci demikian juga udaranya, dan baik untuk dijadikan tempat tinggal (lihat Fathul Baari 4/89)

3 – Sesungguhnya Iman (agama) itu akan kembali ke kota  madinah, Nabi –shallahu alaihi wa sallam-bersabda :

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya iman (agama) akan kembali ke kota madinah sebagaimana ular akan kembali ke sarangnya” (HR Al-Bukhari no 1876)

Yaitu orang-orang yang beriman ingin kembali ke kota Madinah. Di zaman Nabi shallallahu álaihi wasallam para sahabat ingin tinggal di kota Madinah dengan berhijroh ke kota Madinah, demikian juga di zaman para Khulafaa Rosyidin orang-orang ingin menempati kota Madinah untuk belajar dari para sahabat, dan hingga zaman sekarang orang-orang yang beriman ingin ke kota Madinah untuk beribadah di Mesjid Nabawi.

4  – Nabi  -shallahu alaihi wa sallam- mensifati  madinah dengan kota yang menaklukan kota- kota lain, Nabi –shallahu alaihi wa sallam- bersabda :

أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأكُلُ القُرَى، يَقُولُونَ يَثْرِبُ وَهِيَ الْمَدِيْنَةُ

“Aku diperintahkan untuk hijrah ke kota yang memakan kota – kota lain, mereka menyebutnya Yatsrib, padahal dia adalah kota Madinah”. (HR Al-Bukhari no 1871 dan Muslim no 1382)

Maksud dari kota Madinah “memakan” kota-kota yang lain, yaitu Kota Madinah akan menaklukan kota-kota atau negeri-negeri yang lain. Atau makna yang lain yaitu sumber pemasukan kota Madinah dari negeri-negeri yang lain yang telah ditaklukan oleh kaum Muslimin yang bermarkas di kota Madinah (lihat Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi 9/154)

5 – Nabi –shallahu alaihi wa sallam- memberi jaminan  syafa’at  pada hari kiamat bagi orang – orang yang  hidup di kota Madinah dan bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpa kota madinah, Nabi –shallahu alaihi wa sallam- bersabda :

الْمَدِيْنَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ، لَا يَدَعُهَا أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَبْدَلَ اللَّهُ فِيْهَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ، وَلَا يَثْبُتُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا وَجَهْدِهَا إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Madinah itu lebih baik bagi mereka kalau seandainya mereka tahu. Tidaklah ada seseorang yang meninggalkan kota Madinah karena tidak suka dengan kota Madinah kecuali Allah akan ganti dengan orang yang lebih baik darinya untuk tinggal di Madinah, dan tidaklah ada seseorang yang berusaha bertahan dan bersabar menghadapi kesulitan dan kesusahan yang ada di kota Madinah kecuali aku akan memberi syafa’at atau menjadi saksi baginya di hari kiamat”. (HR Muslim no 1363)

Yaitu Nabi shallallahu álaihi wasallam memberi syafaat orang-orang yang bermaksiat, dan Nabi menjadi saksi bagi orang-orang yang taát (lihat Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi 9/137)

6 – Nabi –shallahu alaihi wa sallam- menjelaskan mulianya kota Madinah dan bahayanya berbuat bid’ah, kemungkaran  dan fitnah di kota Madinah, Nabi –shallahu alaihi wa sallam- bersabda :

الْمَدِيْنَةُ حَرَامٌ مَا بَيْنَ عَيْرٍ وَثَوْرٍ، وَمَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْلٌ

“Madinah  adalah tanah haram yang batasnya antara gunung ‘Aer (yang terletak di dekat Miqot Bir Áli-pent) dan gunung Tsaur (yang terletak di belakang gunung Uhud-pent), barang siapa yang berbuat bid’ah dan kemungkaran di kota Madinah atau mengayomi pelakunya maka baginya la’nat dari Allah, malaikat, dan manusia, tidak akan diterima amal wajib dan amal sunnahnya”. (HR Al-Bukhari no 6755 dan Muslim no 1370)

Hadits ini menunjukan bahwa bidáh atau kemungkaran di Madinah merupakan dosa besar karena terancam dengan laknat dan tidak diterimanya amal ibadahnya. (lihat Syarh Shahih Muslim 9/140)

7 – Nabi –shallahu alaihi wa sallam- mendoakan keberkahan untuk kota Madinah, Nabi –shallahu alaihi wa sallam- bersabda :

اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا

“Ya Allah, berkahilah bagi kami buah – buah yang ada di kota madinah, berkahilah bagi kami kota madinah, serta berkahilah bagi kami shaa’ dan mudd kami”. (HR Muslim no 1373)

Shaa’ dan Mudd adalah ukuran takaran volume, dan itulah takaran yang digunakan oleh para penduduk Madinah ketika itu untuk jual beli. Mereka pada umumnya tidak menggunakan takaran timbangan, karena mata pencaharian mereka pada umumnya adalah berkebun. Sehingga yang mereka jual belikan adalah korma dan gandum, yang proses jual belinya adalah dengan takaran volume. 1 Shaa’ = ukuran bayar zakat fithrah = 4 Mudd. Dan 1 Mudd kira-kira seukuran dua genggam tangan.

Maksud dari doa Nabi ini, yaitu berkahilah makanan yang ditakar di kota Madinah, sehingga jika ada satu mudd kurma di tempat yang lain tidak cukup untuk pemiliknya maka jadikanlah ia berkah dan terasa cukup bagi penduduk kota Madinah. Dan ini merupakan keberkahan duniawi. Demikian juga bisa jadi maksudnya adalah keberkahan akhirat, yaitu jadikanlah penduduk kota Madinah tatkala berjual beli dengan takaran shaa’ atau mudd maka mereka bisa menakarnya dengan adil dan tidak curang. (lihat Faidul Qodiir, Al-Munaawi 2/126)

8 – Kota Madinah tidak akan terserang wabah dan tidak akan dimasuki oleh Dajjal, Nabi –shallahu alaihi wa sallam-  bersabda :

عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِيْنَةِ مَلَائِكَةٌ لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُوْنَ وَلَا الدَّجَّالُ

“Di jalan-jalan kota madinah ada para malaikat (yang menjaga), wabah dan Dajjal tidaklah akan masuk ke dalam kota madinah”. (HR Al-Bukhari no 1880 dan Muslim no 1379)

9 – Kota madinah akan mengeluarkan orang-orang yang buruk, Nabi –shallahu alaihi wa sallam- bersabda :

أَلَا إِنَّ الْمَدِيْنَةَ كَالْكِيْرِ تُخْرِجُ الْخَبِثَ

“Ketahuilah bahwa kota Madinah itu seperti ububan (alat peniup api) tukang besi  yang mengehilangkan kotoran”. (HR Muslimi no 1381)

Orang-orang yang baik akan bertahan untuk tinggal di kota Madinah.

10 – Ancaman bagi orang-orang yang menginginkan kejelekan untuk penduduk Madinah. Nabi –shallahu alaihi wa sallam-  bersabda :

وَلَا يُرِيْدُ أَحَدٌ أَهْلَ الْمَدِيْنَةِ بِسُوْءٍ إِلَّا أَذَابَهُ اللهُ ذَوْبَ الرَّصَاصِ، أَوْ ذَوْبَ الْمِلْحِ

“Tidaklah seorangpun yang menginginkan kejelekan untuk penduduk Madinah kecuali Allah akan melelehkannya seperti melelehnya timah atau garam ”. (HR Muslim no 1363)

11 – Orang yang meninggal di kota Madinah akan mendapatkan syafa’at dari Nabi –shallahu alaihi wa sallam-, Nabi –shallahu alaihi wa sallam – bersabda :

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوْتَ بِالْمَدِيْنَةِ فَلْيَفْعَلْ؛ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوْتُ بِهَا

“Barangsiapa yang mampu untuk meninggal di kota Madinah maka lakukanlah, sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi orang-orang yang meninggal di kota Madinah”. (HR At-Tirmidzi no 3917)

Yaitu hendaknya seseorang berusaha untuk menetap di kota Madinah hingga ajal menjemputnya. Jika ia tidak mampu untuk menetap di Madinah selamanya, maka hendaknya jika nampak bahwa ajalnya telah dekat -karena tua, sakit, atau yang lainnya- ia segera menetap di kota Madinah agar ia meninggal di kota Madinah. (lihat Mirqootul Mafaatiih, Ali Al-Qoori 5/1884). Umar bin al-Khotthob pernah berdoa :

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي بِبَلَدِ رَسُولِكَ

“Ya Allah anugrahkanlah kepadaku mati syahid dan jadikanlah wafatku di negeri RasulMu” (HR Al-Bukhari no 1890)

12 – kecintaan nabi –shallahu alaihi wa sallam- terhadap kota madinah sehingga nabi berdoa :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai kota Madinah sebagaimana cinta kami terhadap kota Mekah atau lebih dari itu”. (HR Al-Bukhari no 1888 dan Muslim no 1376)

sumber : https://bekalislam.firanda.com/3195-kota-madinah.html