Allah Tidak Boleh Divisualkan, Tidak Boleh Digambarkan

Ini pelajaran terkait nama dan sifat Allah, dari sini terkandung pelajaran bahwa Allah tidak boleh divisualkan, tidak boleh digambarkan, tidak boleh disebutkan hakikat Allah itu seperti apa.

Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Allah.”(QS. Al-Ikhlas: 4)

Juga dalam ayat,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, namun tidak sama dengan melihat dan mendengarnya makhluk yang semuanya serba terbatas.

Dalam memahami Dzat, nama, dan sifat Allah, kita tetapkan nama dan sifat Allah tersebut tanpa melakukan:

  • takwil (merubah maknanya),
  • tak-thil (menolak sebagian sifat Allah),
  • takyif (memvisualkan atau menggambarkan bagaimana wujud sifat Allah),
  • tam-tsil (menyamakan dengan sifat Allah dengan sifat makhluk), dan
  • tafwidh (tidak mau menetapkan pengertian sifat Allah).

Demikian, semoga bisa pahamkan pada anak-anak kita ketika mereka bertanya:

  • Siapa orang tua Allah?
  • Allah itu makan apa?
  • Bagaimana wajah Allah?
  • Siapa yang menciptakan Allah?

Jawabannya adalah Allah tidak semisal dengan makhluk-Nya. Allah tidak bergantung pada makhluk-Nya. Allah tidak diciptakan siapa pun. Allah itu tidak boleh kita katakan butuh pada makan sebagaimana kita manusia. Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, namun tidak sama dengan makhluk-Nya yang mereka mendengar dan melihat serba terbatas. Allah itu Mahatinggi, Mahakaya, tidak butuh pada makhluk, Allah itu yang menciptakan kita semua.

Semoga Ayah bunda diberikan akidah yang lurus dan senantiasa diberi taufik untuk menjadi anak-anak jadi saleh salehah.

sumber : https://ruqoyyah.com/970-allah-tidak-boleh-divisualkan-tidak-boleh-digambarkan.html

Rasa Malu Kaum Hawa Masa Kini

Moga saja setelah para wanita -kaum hawa- membaca tulisan ini semakin mendapat hidayah dan bisa memperbaiki diri. Tulisan ini lebih ingin menanamkan rasa malu pada wanita kala bergaul.

Islam Memuliakan Wanita

Seperti yang telah kita ketahui bersama, Islam adalah agama yang sempurna dan tidaklah satu perkara kecil pun melainkan telah diatur oleh agama yang mulia ini. Begitu pula berkenaan dengan kaum hawa, ada juga aturan dan bimbingannya secara sempurna. Islam sangat memperhatikannya dan menempatkan para wanita sesuai dengan kedudukannya. Contohnya, istri tidak boleh dibiarkan tanpa diperhatikan haknya seperti dalam pakaian. Lihat kisah berikut.

آخَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَ سَلْمَانَ ، وَأَبِى الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً . فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِى الدُّنْيَا . فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ ، فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا . فَقَالَ كُلْ . قَالَ فَإِنِّى صَائِمٌ . قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ . قَالَ فَأَكَلَ . فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ . قَالَ نَمْ . فَنَامَ ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ . فَقَالَ نَمْ . فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمِ الآنَ . فَصَلَّيَا ، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ . فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَ سَلْمَانُ »

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Suatu saat Salman mengunjungi –saudaranya- Abu Darda’. Ketika itu Salman melihat istrinya, Ummu Darda’ dalam keadaan tidak mengenakkan. Salman pun berkata kepada Ummu Darda’, “Kenapa keadaanmu seperti ini?” “Saudaramu, Abu Darda’ seakan-akan ia tidak lagi mempedulikan dunia”, jawab wanita tersebut. Abu Darda’ kemudian datang. Salman pun membuatkan makanan untuk Abu Darda’. Salman berkata, “Makanlah”. “Maaf, saya sedang puasa”, jawab Abu Darda’. Salman pun berkata, “Aku pun tidak akan makan sampai engkau makan.” Lantas Abu Darda’ menyantap makanan tersebut.

Ketika malam hari tiba, Abu Darda’ pergi melaksanakan shalat malam. Salman malah berkata pada Abu Darda’, “Tidurlah”. Abu Darda’ pun tidur. Namun kemudian ia pergi lagi untuk shalat. Kemudian Salman berkata lagi yang sama, “Tidurlah”. Ketika sudah sampai akhir malam, Salman berkata, “Mari kita berdua shalat.” Lantas Salman berkata lagi pada Abu Darda’, “Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban kepada Rabbmu. Engkau juga memiliki kewajiban terhadap dirimu sendiri (yaitu memberi supply makanan dan mengistirahatkan badan, pen.), dan engkau pun punya kewajiban pada keluargamu (yaitu melayani istri, pen). Maka berilah porsi yang pas untuk masing-masing kewajiban tadi.” Abu Darda’ lantas mengadukan Salman pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Salman itu benar” (HR. Bukhari no. 968)

Coba perhatikan, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan memuliakan wanita. Karena tidak boleh seseorang dengan alasan sibuk ibadah sampai kewajiban terhadap istri dilalaikan. Tentu itu tanda Islam melarang menelantarkan wanita.

Begitu juga bentuk pemuliaan pada wanita adalah dengan menjaga pergaulan mereka dengan lawan jenis.

Fenomena Kaum Hawa Saat Ini

Sungguh sangat menyedihkan sedikit demi sedikit aturan yang telah dibuat oleh Allah dan Rasul-Nya dilanggar oleh kaum Hawa. Di antara fenomena yang kita saksikan bersama, kaum hawa dewasa ini mulai menanggalkan dan luntur sifat malunya. Mereka tidak merasa malu bergaul bebas dengan kaum Adam. Bahkan yang lebih mengenaskan, tidak sedikit dari kaum hawa yang berani mengumbar aurat yaitu berpakaian tetapi telanjang di depan umum. Fainna lillahi wa inna ilaihi roojiun …

Padahal yang Islam larang pasti karena ada mafsadah (bahaya), baik mafsadahnya murni maupun mafsadah itu lebih besar.

Maka cermatilah kisah yang difirmankan Allah berikut ini yaitu kisah dua wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam.

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)

Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab: Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 23-24)

Kalau kita perhatikan, apa kedua wanita itu punya rasa malu? Iya, bahkan rasa malu yang besar.

Lihat saja untuk memberikan minum di mana kala itu ada para pria saja, kedua wanita itu enggan. Mereka malu berdesak-desakan dengan lelaki.

Kalau kaum hawa masa kini? Adakah seperti itu?

Ada saja jika Allah menyelematkannya. Namun banyak yang kita lihat saat ini tak lagi ada rasa malu. Dianggap biasa duduk dengan sekelompok lelaki, bahkan ketika wanita itu bersendirian. Dianggap biasa berdesak-desakan bahkan bersenggol-senggolan dengan lelaki, bukan lagi hal yang tabu. Apalagi jalan berdua, boncengan dan duduk berduaan, bisa kita bayangkan sendiri keadaannya.

Kembali ke kisah dua wanita di atas.

Rasa malu keduanya dibuktikan lagi kala mereka berjalan,

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (25)

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” (QS. Al-Qashash: 25)

Ayat yang mulia ini, menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.

Amirul Mukminin Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, gadis itu menemui Musa ‘alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 12)

Penulis yakin, para wanita saat ini bisa memiliki rasa malu seperti itu. Caranya bagaimana? Coba dalami ilmu agama, tambah terus pelajaran akhlak dan adab bergaul dengan lawan jenis, kurangi bergaul dengan para pria termasuk dalam hal chating dan hubungan di dunia maya, juga hindari dengan keras berdua-duaannya di dunia nyata.

Ya Allah, karuniakanlah pada kami sifat malu yang dapat mengantarkan pada kebaikan.

Referensi:

Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan Pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Ibnul Jauzi.

Tulisan lawas direvisi ulang, 3 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin Warak Panggang, GK

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/11898-rasa-malu-kaum-hawa-masa-kini.html

Namimah (adu domba) adalah Sihir

Namimah diterjemahkan dengan “adu domba” dalam bahasa Indonesia, akan tetapi maknanya lebih luas dari sekedar adu domba. Pengertian namimah sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺃَﻻَ ﺃُﻧَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻌَﻀْﻪُ ﻫِﻰَ ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺎﻟَﺔُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ».

Dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Muhammad berkata, “Maukah kuberitahukan kepada kalian apa itu al’adhhu ? Itulah namimah, perbuatan menyebarkan berita untuk merusak hubungan di antara sesama manusia”[1]

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa namimah bertujuan merusak hubungan manusia. Beliau berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀ : ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔ ﻧَﻘْﻞ ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑَﻌْﻀِﻬِﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻋَﻠَﻰ ﺟِﻬَﺔِ ﺍﻟْﺈِﻓْﺴَﺎﺩِ ﺑَﻴْﻨﻬﻢْ .

“Para ulama menjelaskan namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.”[2]

Contohnya si A mengatakan kepada si B yang membuat si C menjadi tidak suka kepada si B, baik itu perkataan dusta maupun perkataan benar. Sebaliknya, si A juga mengatakan kepada si C yang membuat si B tidak suka.

Bahkan namimah ini sejenis dengan sihir. Sebagaimana dalam hadits di atas nama lain namimah adalah Al-‘adhhu. Al-Adhu ini semisal sihir.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa Al-Adhu termasuk sihir dengan membawakan hadits Ibnu Mas’ud di atas. Beliau berkata,

العضه : السحر

“Al-‘ahddu adalah sihir”

Beliau melanjutkan,

النمام ليس له حكم الساحر، فلا يكفر كما يكفر الساحر

“Pelaku namimah bukan seperti hukum penyihir, maka tidaklah menjadi kafir sebagaimana menjadi kafirnya penyihir.”[3]

Namimah lebih dahsyat akibatnya daripada sihir dan lebih berbahaya. Yahya bin Abi Katsir berkata,

ﺍﻟﻨَّﻤَّﺎﻡُ ﻳُﻔْﺴِﺪُ ﻓِﻲ ﺳَﺎﻋَﺔٍ ﻣَﺎ ﻻ ﻳُﻔْﺴِﺪُ ﺍﻟﺴَّﺎﺣِﺮُ ﻓِﻲ ﺷَﻬْﺮٍ

“Pelaku namimah bisa merusak hubungan manusia hanya dalam waktu satu jam saja, sedangkan penyihir terkadang perlu waktu sebulan.”[4]

Seseorang bisa jadi sangat mudah melakukan naminah, bahkan ia menganggapnya hal kecil dan biasa padahal hal tersebut adalah dosa besar dan sangat berbahaya. Perhatikan hadits mengenai siksa kubur, orang yang disiksa tidak lah melakukan dosa yang dia anggap besar, akan tetapi ia melakukan namimah.

ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺮَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺑِﺤَﺎﺋِﻂٍ ﻣِﻦْ ﺣِﻴﻄَﺎﻥِ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔِ ﺃَﻭْ ﻣَﻜَّﺔَ ، ﻓَﺴَﻤِﻊَ ﺻَﻮْﺕَ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧَﻴْﻦِ ﻳُﻌَﺬَّﺑَﺎﻥِ ﻓِﻰ ﻗُﺒُﻮﺭِﻫِﻤَﺎ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ‏« ﻳُﻌَﺬَّﺑَﺎﻥِ ، ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻌَﺬَّﺑَﺎﻥِ ﻓِﻰ ﻛَﺒِﻴﺮٍ ‏» ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺑَﻠَﻰ ، ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﻻَ ﻳَﺴْﺘَﺘِﺮُ ﻣِﻦْ ﺑَﻮْﻟِﻪِ ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻵﺧَﺮُ ﻳَﻤْﺸِﻰ ﺑِﺎﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔِ » .

Dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kebun di Madinah atau Mekah beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa dalam kuburnya. Nabi bersabda, “Keduanya sedang disiksa dan tidaklah keduanya disiksa karena masalah yang sulit untuk ditinggalkan”. Kemudian beliau kembali bersabda, “Mereka tidaklah disiksa karena dosa yang mereka anggap dosa besar. Orang yang pertama tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya sendiri. Sedangkan orang kedua suka melakukan namimah”[5]

Hendaknya kita berhati-hati karena Allah telah memberi peringatan dalam Al-Quran

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻄِﻊْ ﻛُﻞَّ ﺣَﻠَّﺎﻑٍ ﻣَﻬِﻴﻦٍ ‏( 10 ‏) ﻫَﻤَّﺎﺯٍ ﻣَﺸَّﺎﺀٍ ﺑِﻨَﻤِﻴﻢٍ ‏( 11 ‏) ﻣَﻨَّﺎﻉٍ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻣُﻌْﺘَﺪٍ ﺃَﺛِﻴﻢٍ ‏( 12 )

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa” (QS Al Qalam:10-12).

Demikian juga ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk surga pelaku namimah”[6]

Semoga kita dijauhkan dari dosa namimah.

@ Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR Muslim no 6802

[2] Syarh Nawawi LiShahih Muslim 1/214

[3] I’anatul Mustafid Syarh Kita Tauhid Syaikh Shalih Al-Fauzan

[4] Hilyatul Auliya no. 3361

[5] HR Bukhari no 213

[6] HR. Muslim no. 105

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/36065-namimah-adu-domba-adalah-sihir.html

Sikap Anak Ketika Orang Tua Bercerai

Perceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.

Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.

Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?

Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا

“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.

Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir Allah

Langkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)

Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.

Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.

Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)

Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.

Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anak

Perceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)

Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.

Tidak memihak secara zalim

Salah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.

Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.

Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم

“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Menjaga lisan dan rahasia keluarga

Di era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ

“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.

Mengelola emosi dengan iman

Perceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.

Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.

Bersabar dalam ujian

Allah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Dan Allah juga berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.

Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusak

Sebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Menguatkan hubungan dengan Allah

Ketika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)

Doa menjadi kekuatan besar,

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)

Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.

Menjadi anak yang lebih baik

Perceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.

Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Saatnya bangkit

Perceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Musibah Wanita dengan Parfum Saat Keluar Rumah

Laki-laki mana pun pasti tergoda ketika melihat wanita lewat di hadapannya dan sudah jauh 50 meter masih tercium wewangiannya. Kebiasaan wanita yang keluar rumah dengan wewangian seperti ini amatlah berbahaya. Karena penampilan semacam ini dapat menggoda para pria, sewaktu-waktu pun mereka bisa menakali si wanita. Namun banyak wanita muslimah yang tidak menyadari hal ini meskipun mereka berjilbab yang sesuai perintah.

Padahal sudah jauh-jauh hari, hal yang menimbulkan fitnah semacam ini dilarang. Kecantian dan kewangian wanita hanya khusus untuk suami mereka di rumah.

Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i no. 5129, Abu Daud no. 4173, Tirmidzi no. 2786 dan Ahmad 4: 414. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir)

Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,

تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات

Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushonnaf no. 8107)

Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,

لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها

Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118)

Syaikh Abu Malik berkata bahwa sebab wanita mengenakan wewangian itu sangat jelas karena dapat membangkitkan syahwat para pria yang mencium baunya. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 3: 35.

Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, “Dianalogikan dengan minyak wangi (yang terlarang dipakai oleh muslimah ketika hendak keluar rumah) segala hal yang semisal dengan minyak wangi (sabun wangi dan lain-lain, pent.) karena penyebab dilarangnya wanita memakai minyak wangi adalah adanya sesuatu yang menggerakkan dan membangkitkan syahwat.” (Fathul Bari, 2: 349)

Al Haitsami dalam Az Zawajir (2: 37) berkata bahwa keluarnya wanita dari rumahnya dengan mengenakan wewangian sambil berhias diri termasuk dosa besar, meskipun suami mengizinkannya berpenampilan seperti itu.

Itulah larangan ketika keluar rumah bagi wanita. Sedangkan di dalam rumahnya, di hadapan suaminya terutama, berbau wangi malah dianjurkan. Karena setiap wanita yang menyenangkan hati suami dipuji dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Berbeda halnya jika istri senangnya berbau kecut dan membuat suami tidak betah di rumah. Namun para wanita saat ini berpenampilan sebaliknya. Ketika di luar rumah, mereka berpenampilan ‘waah’. Di dalam rumah, berpenampilan seperti tentara, berbau kecut atau berbau asap. Sungguh jauh dari wanita yang terpuji.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya oleh seorang wanita:

Bolehkah aku shalat dalam keadaan memakai parfum? Jazakumullah khoiron.

Jawaban Syaikh rahimahullah:

Na’am. Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan tidak boleh seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul.

Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi, ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia tidak boleh keluar dalam keadaan mengenakan parfum yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya.

[Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H]

Moga Allah memberikan hidayah pada setiap wanita untuk memberikan kecantikan dan penampilan istimewa mereka, hanya untuk suami mereka. Moga Allah beri taufik untuk taat pada ajaran Islam.

Menjelang waktu Zhuhur @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Jumadal Akhiroh 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3309-musibah-wanita-dengan-parfum-saat-keluar-rumah.html

Bagaimana Meningkatkan Kepercayaan Diri pada Anak Kita?

Memiliki anak merupakan impian serta tujuan dari pernikahan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi orang tua untuk mendidik mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, terkadang orang tua tidak menyadari kesalahan mereka dalam mendidik anak. Salah satunya, anak memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah.

Mengapa anak bisa memiliki kepercayaan diri yang rendah? Bagaimana cara orang tua memperbaikinya? Mari simak sedikit pembahasan yang diuraikan dari kitab Tanshi’at al-Fatat al-Muslimah oleh Hanan ‘Atiyah at-Tori al-Juhani.

Kapan anak mulai membentuk perilaku?

Ketika usia dua tahun, anak memulai membentuk perilaku mereka terhadap dunia di sekitarnya. Beberapa psikolog berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu karakter yang dibentuk pada usia ini, tergantung pada bentuk pendidikan dari orang tua dan keadaan lingkungan sekitarnya.

Pada tahapan ini, anak akan menampakkan perkembangan pada kemandiriannya, seperti keinginan untuk berbicara, berjalan, maupun bermain. Semua hal ini sangat erat kaitannya dengan kebutuhannya untuk membangun keyakinan pada diri sendiri melalui kemandiriannya. Hal ini mengkonfirmasi bahwa perkembangan kedewasaan seseorang dapat dimulai dengan menghormati individualitas seorang anak dan mengembangkannya.

Anak-anak cenderung sensitif, irasional, dan mudah terpengaruh. Maka, membangun kepercayaan diri merupakan salah satu tahapan dalam membangun karakternya nanti.

Sebab rendahnya kepercayaan diri

Beberapa anak tumbuh dengan rendahnya rasa kepercayaan diri sehingga mereka tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, baik pada perkara yang rumit maupun sederhana. Mereka jarang mengambil inisiatif dan sering kali menunggu perintah dari orang lain.

Ketika mereka menghadapi suatu masalah, mereka akan merasa sulit untuk mengambil suatu keputusan dan terkadang menghindar dari permasalahan tersebut dan menangis. Perilaku ini sebagian besar disebabkan karena pendidikan dari orang tuanya, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, orang tua terlalu banyak mengontrol, baik dalam perihal kecil maupun perihal besar. Hal ini membuat anak kehilangan spontanitas mereka dan kehilangan kepercayaan diri dalam melakukan suatu aktivitas. Anak akan menunggu seseorang untuk mengoreksinya dan meyakinkan mereka jika apa yang mereka perbuat sudah benar.

Kedua, orang tua menyalahkan dan mengkritik segala hal yang anak lakukan. Sehingga anak disalahkan dan ditegur lebih dari yang seharusnya pada saat mereka mengharapkan pujian atas usahanya. Hal ini menghancurkan motivasi anak untuk bertindak atau berkompetisi dalam melakukan sesuatu.

Ketiga, orang tua tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk berbicara, baik di depan orang tua maupun orang lain. Orang tua terkadang takut jika mereka berbicara yang macam-macam. Sehingga orang tua terlalu mengatur apa yang boleh anak sampaikan ke orang lain.

Keempat, orang tua memberikan peringatan kepada anak tentang bahaya yang terlalu banyak, sehingga anak berpikir yang terburuk dan berpikir bahwa mereka selalu berada di tengah bahaya.

Kelima, orang tua merendahkan anak dan membandingkan mereka dengan orang lain. Hal ini membuat anak berpikir bahwa mereka tidak memiliki nilai di mata orang tuanya.

Keenam, orang tua membuat candaan dan mengejek anaknya.

Ketujuh, orang tua tidak memperhatikan kebutuhan anaknya.

Kedelapan, orang tua tidak memperhatikan pertanyaan-pertanyaan anaknya.

Kesembilan, orang tua terlalu memperhatikan tingkah anaknya yang menunjukkan kekhawatiran secara berlebihan kepada anaknya.

Efek negatif dari rendahnya kepercayaan diri

Rendahnya kepercayaan diri pada anak memiliki berbagai efek negatif, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, anak tidak bisa bersikap secara independen dan kesulitan dalam mengambil keputusan.

Kedua, anak tidak bisa kreatif dan cenderung lamban.

Ketiga, anak akan mulai mengeluh dan merasa tidak bahagia ketika mereka diperintahkan sesuatu, karena mereka berpikir mereka pasti akan dikritik, terlepas dari pekerjaan mereka yang nantinya bisa atau tidak bisa mereka kerjakan, sesuai dengan ekspektasi pemberi perintah.

Keempat, anak tidak memiliki kehendak dan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan. Anak hanya akan menurut dan bersikap apatis terhadap suatu situasi, serta lalai dan berantakan dalam mengerjakan suatu hal.

Kelima, anak akan menderita kecemasan dan frustrasi, serta memiliki sikap tidak ramah dan menarik diri.

Bagaimana cara orang tua untuk meningkatkan kepercayaan diri anaknya?

Untuk menghindari efek negatif dari rendahnya kepercayaan diri pada anak, orang tua hendaknya membantu perkembangan kepercayaan diri mereka, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, orang tua hendaknya mengajarkan segala sesuatu yang diizinkan Allah maupun yang dilarang Allah. Dengan adanya pedoman yang jelas, anak akan mengetahui perbuatan apa yang baik dan buruk, serta menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Kemudian, berikanlah ruang bagi anak untuk dapat mengambil inisiatif sendiri.

Kedua, ibu hendaknya memberikan tugas tertentu bagi anak. Jika anak membuat suatu kesalahan, maka ibu hendaknya tetap mengapresiasi usaha anak tersebut dan juga mendorong anak untuk melakukannya lagi secara benar. Jika tugas itu merupakan tugas yang belum dikuasai anak, maka ibu hendaknya berdiskusi dengan anak, menanyakan pendapatnya, serta tidak mempermasalahkan jika anak membuat kesalahan. Dengan hal ini, anak dapat memperkuat tekadnya dan menyelesaikan tugas tersebut dengan  baik.

Ketiga, orang tua hendaknya memberikan pujian kepada anak dan memberikan hadiah atas usahanya selama ini. Berilah pujian pada perkara-perkara ibadah, seperti salat dengan rutin, membaca dan menghafalkan Al-Quran, dan lainnya.

Keempat, orang tua hendaknya memberikan nama panggilan yang berbeda dengan anak yang lain. Orang tua juga hendaknya tidak mengizinkan orang lain untuk memanggil anaknya dengan nama panggilan yang buruk.

Kelima, orang tua hendaknya memperkuat tekad dan ketekunan anak dengan dua hal berikut:

1) Menjaga rahasia

2) Membiasakan anak untuk berpuasa

Keenam, orang tua menguatkan kepercayaan diri anak dengan membiasakan mereka untuk menghadapi orang lain. Hal ini dapat dimulai dengan memberikan perintah kepada anak, duduk bersama orang yang lebih tua, berkumpul bersama anak-anak seusianya.

Ketujuh, orang tua menguatkan kepercayaan diri anak dengan menambah ilmunya, yaitu dengan mengajarkan Al-Quran dan As-Sunah. Dengan adanya landasan agama yang kokoh, anak akan lebih percaya diri dan tidak terpengaruh dengan perkara-perkara batil.

Apa yang menyebabkan anak merasa tidak cukup?

Beberapa hal yang membuat anak merasa tidak cukup antara lain meremehkan, mempermalukan, dan mengejeknya, seperti memanggilnya dengan nama dan kata-kata yang tidak senonoh di depan saudara dan kerabatnya, atau bahkan di depan teman-temannya atau di depan orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Hal ini mempengaruhi cara anak memandang nilai dirinya yang rendah dan tidak penting. Hal ini bahkan mendorong anak untuk membuat dirinya dibenci dan tidak disukai orang lain. Kata-kata kasar yang tidak sengaja orang tua ucapkan kepada anak akan memberikan dampak kepada psikologis anak.

Cara terbaik untuk menghadapi ini yaitu menjelaskan kepada anak dengan lembut, tunjukkan mana yang salah dan berikan alasan mengapa hal itu salah. Jangan membentak mereka, apalagi di depan orang lain. Orang tua hendaknya mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik dan memberikan arahan, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri teladan terbaik. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ‏

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

***

Penulis: Lisa Almira

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Artikel ini diterjemahkan dengan sedikit perubahan dan tambahan dari IslamQA oleh Syekh Shalih al-Munajjid dengan judul “How to Boost Your Daughter’s Self-Confidence in Islam”.

Sumber: https://muslimah.or.id/33914-bagaimana-meningkatkan-kepercayaan-diri-pada-anak-kita.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id