[Kitabut Tauhid 10] 34 Mencintai Allah 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara kekhususan yang dimilik oleh Nabi Kita Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, adalah bahwa tidak ada didalam Al-Qur’an tidak pula pada selainya dimana Allâh -‘Azza wa Jalla- bershalawat kepada hamba-hamba-Nya kecuali kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Maka ini termasuk kekhususan yang Allâh -‘Azza wa Jalla- khusus berikan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh kalangan Para Nabi.
  • Maksud shalawatnya Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah pujian-Nya untuk Beliau di sisi Para Malaikat, sedangkan maksud shalawatnya Para Malaikat untuk Nabi Kita -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah do’a mereka untuk Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Adapun makna shalawat Kaum Muslimin kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah meminta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- agar Dia memuji dan mengagungkan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dunia dan di Akhirat nantinya. Di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) Beliau, memenangkan agamanya dan mengokohkan syariat Islam yang Beliau bawa. Dan di Akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, memudahkan syafa’at Beliau bagi umatnya dan menampakkan keutamaan Beliau pada Hari Kiamat di hadapan seluruh makhluq-Nya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Anak: Investasi Berharga Orang Tua

Ketika mendengar kata “investasi” mungkin kebanyakan dari kita akan tertuju pada hal yang dikeluarkan oleh seseorang untuk mendapatkan aset atau bisnis jangka panjang yang menguntungkan bagi masa depan sang investor.

Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, investasi adalah aktivitas menempatkan modal baik berupa uang atau aset berharga lainnya ke dalam suatu benda, lembaga, atau suatu pihak dengan harapan pemodal atau investor kelak akan mendapatkan keuntungan setelah kurun waktu tertentu.

Maka tak mengherankan jika banyak orang rela mengeluarkan banyak hal demi investasi yang menguntungkan; dengan harapan dapat lebih menjamin masa depan yang cerah serta bahagia, sehingga lebih menjamin kehidupan yang baik bagi dirinya maupun orang tersayangnya.

Maka investasi pun saat ini banyak dilirik karena banyak menawarkan kelebihan-kelebihan yang menguntungkan bagi sang calon investor.

Ada sebuah investasi yang amat menguntungkan yang bisa memberikan keuntungan yang sangat besar bagi investornya, dunia maupun akhirat, namun sayangnya masih banyak yang belum menyadarinya.

Investasi tersebut adalah “anak”. Bagi yang telah memiliki keluarga serta telah dikaruniai momongan, maka berbahagialah karena anda memiliki sebuah investasi besar yang sangat menguntungkan, tetapi mungkin anda belum menyadarinya.

Ini bukan hanya sekedar omong kosong, ataupun bualan para pembicara tema parenting di panggung-panggung seminar, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala sendiri melalui lisan rasul-Nya telah menyampaikan perihal tersebut jauh ribuan tahun silam.

Simaklah petikan hadits berikut: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.
(HR. Muslim no. 1631).


Mungkin kebanyakan dari kita sudah sering mendengar atau membaca hadist ini, atau bahkan ada beberapa yang telah menghafalnya, tetapi mungkin banyak dari kita yang belum memaknainya dengan baik.

Sebagai seorang manusia yang memiliki orientasi masa depan yang baik, tentu setiap orang akan mempersiapkan yang terbaik untuk masa depannya, begitupun dengan sepasang orang tua yang telah dikaruniai seorang buah hati.

Mereka pasti akan memberikan perhatian serta kasih sayang pada sang buah hati, karena mereka sadar betapa besarnya pengorbanan yang mereka lakukan demi lahirnya sang buah hati di dunia ini terutama seorang ibu.

Maka orang tua pun memberikan segala hal terbaik bagi anaknya, mulai dengan memberikan makanan yang bergizi, memberikan pakaian yang terbaik, menyekolahkannya di sekolah-sekolah favorit, hingga membiayai segala kebutuhannya hingga sang anak tumbuh dewasa.

Jika menilik kepada hadist yang telah disebutkan sebelumnya, maka anak-anak kita dapat menjadi investasi yang sangat menguntungkan bagi kita semua, karena mereka dapat menjadi wasilah agar kita terus mendapat “kiriman doa” ketika mungkin sudah tidak ada yang mendoakan kita.

Mungkin saat ini kita memiliki pasangan, teman, relasi atau yang lain, tapi apakah mereka akan mengingat kita ketika kita telah tiada? pasangan kita dapat dinikahi oleh orang lain, teman kita dapat mencari teman lain yang mungkin lebih baik dari kita, relasi kita dapat mencari relasi lain yang lebih menguntungkan dan menjanjikan baginya, lalu siapakah yang akan mendoakan kita?

Allah telah memberikan solusi konkrit dengan menunjukkan melalui lisan rasul-Nya bahwa ada sebuah jalan yang dapat dilalui agar tetap ada yang dapat mendoakan kita disaat kita telah tiada, dan secara tidak langsung kita telah “berinvestasi” untuk masa depan kita, terlebih lagi masa depan akhirat kita yang merupakan tempat tinggal abadi bagi kita.

Maka seorang muslim yang cerdas akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya, menyiapkan generasi penerus yang berkualitas, shalih serta memiliki kemampuan dari segi duniawi maupun ukhrawi, sehingga bukan hanya investasi untuk dirinya, tetapi ia juga dapat memberikan sumbangsih bagi agama serta bangsa, dan menjadi modal bagi kebangkitan umat islam kedepannya.

Invesati ini dapat sangat menguntungkan jikalau hal ini dpat dikelola dengan baik dan benar, serta diusahakan agar dapat mencapai hasil yang maksimal, maka diperlukan kiat-kiat agar dapat mencapai hal tersebut, maka berikut akan dipaparkan beberapa hal singkat sebagai kiat-kiat agar investasi kita dapat berjalan dengan baik insyaAllah.

1. Menanamkan iman pada anak

Iman merupakan pokok fundamental pada setiap insan yang harus ditanamkan sejak masih belia, agar akar-akarnya dapat menancap kuat serta kuat sehingga tidak mudah roboh dan terombang ambing oleh terpaan angin yang kuat, apalagi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan penuh dengan fitnah, maka diperlukan sebuah pondasi yang kokoh agar tetap tegak.

Dan pondasi terbaik yang telah diajarkan oleh Islam adalah iman yang mana jika telah menghujam kuat dapat menciptakan sebuah insan yang baik, lagi bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain,

Allah ta’ala saat mengisahkan kisah Luqman, berfirman:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya,”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)

Allah memulai kisah luqman dengan sebuah wasiat yang diberikan luqman pada anaknya, yaitu agar tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga, maka iman menjadi pondasi dan tolak ukur utama dalam mendidik anak sebagaimana Allah contohkan pada kisah luqman.

2. Memberikan contoh yang baik pada anak

Anak memang seorang peniru ulung. Setiap saat, mata anak selalu mengamati, telinganya menyimak, dan pikirannya mencerna apa pun yang kita lakukan. Karena ia sedang mengalami masa pertumbuhan dimana otak mulai berkembang seiring bertambahnya neuron di dalam otak anak.

Maka diperlukakan contoh yang baik pula, agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena sebagai orang tua, orang yang paling dekat dengan sang anaklah yang akan paling banyak ditiru.

Setiap anak yang lahir membawa fitrah yang harus senantiasa dijaga. Penjagaan ini dilakukan dengan memastikan anak mendapat lingkungan yang baik untuk tumbuh kembangnya. Untuk menjadi anak sholeh, seorang anak harus ada di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang baik agar terbentuk kepribadaian dan tumbuh kaidah iman dan Islam. Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda, 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (kesucian), maka orang tualah yang akan menjadikan dia sebagai seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(H.R. Bukhori).

3. Mendo’akan anak 

Do’a orang tua terhadap anak merupakan hal yang sangat penting, dikarenakan keshalihan anak adalah taufik dan petunjuk dari Allah. Contohlah nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendo’akan anaknya;

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.”
(QS. Ibrahim: 40)

Dan doa orang tua adalah do’a yang mustajab. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi.”
(HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Oleh karenanya jangan sampai orang tua melupakan doa baik pada anaknya, walau mungkin saat ini anak tersebut sulit diatur dan nakal. Hidayah dan taufik di tangan Allah. Siapa tahu ke depannya, ia menjadi anak yang shalih dan manfaat untuk orang tua berkat doa yang tidak pernah putus-putusnya.

Penulis: Faros Nur Muhammad
Editor: Muhammad Fathurrahman

sumber : https://wadimubarak.com/anak-investasi-berharga-orang-tua/

Doa Para Nabi Untuk Anak: Teladan bagi Orang Tua dalam Mendidik Buah Hati

Meneladani Para Nabi dalam Mendoakan Buah Hati

Bismillah.

Anak adalah karunia Allah ﷻ, perhiasan hidup, dan penyejuk hati bagi orang tuanya. Salah satu bentuk kasih sayang terbesar orang tua dan usaha terbaik dalam mendidik mereka adalah dengan memperbanyak doa kepada Allah ﷻ agar mereka menjadi generasi yang shalih, taat kepada Allah, serta bermanfaat bagi agama dan umatnya.

Dan perlu diketahui bahwa mendoakan anak  metode pendidikan serta kebiasaan yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan orang-orang shalih.

1. Mendoakan Anak Sunnah Para Nabi

Para Nabi adalah orang yang paling memahami cara mendidik anak. Mereka senantiasa memanjatkan doa agar keturunan mereka menjadi pribadi yang shalih, bahkan sebelum anak tersebut lahir.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Beliau senantiasa memohon keturunan yang shalih dan agar dijauhkan dari kemusyrikan:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang shalih.”) (QS. Ash-Shaffat: 100)

Dan doa beliau: “Ya Tuhan kami, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat…” (QS. Ibrahim: 40)

Nabi Zakaria ‘Alaihissalam

Beliau berdoa memohon keturunan yang baik dan diridhai Allah ﷻ:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38)

Rasulullah ﷺ

Beliau sering mendoakan anak-anak kecil, baik cucu maupun anak para sahabat, seperti doa beliau untuk Ibnu Abbas:

اللهم فقِّهه في الدين

“Ya Allah, faqihkanlah (pahamkanlah) dia dalam agama,” 

dan doa untuk Anas bin Malik:

اللهم أكْثِرْ ماله وولده، وبارك له فيما أعطيته

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.”.

2. Orang-Orang Juga Shalih Mendoakan Anak Mereka

Allah ﷻ memuji Ibadurrahman (hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang) karena sifat mereka yang senantiasa memohon agar keturunannya menjadi penyejuk hati. Allah ﷻ berfirman:

 وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Selain itu, para ulama salaf pun sangat menekankan pentingnya doa bagi anak. Salah satu kisah masyhur adalah ketika Abu Ma’syar rahimahullah mengadukan perilaku anaknya kepada Thalhah bin Musharrif rahimahullah. Maka Thalhah pun menasehatinya agar memohon kepada Allah dengan ayat dalam surah Al-Ahqaf:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan kepada) anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

3. Larangan Mendoakan Buruk bagi Anak

Sebagaimana syariat menganjurkan orang tua untuk memperbanyak doa kebaikan bagi anak-anaknya, syariat juga melarang mereka mendoakan keburukan untuk anak, meskipun diucapkan saat marah, kecewa, atau kesal. Terkadang sebagian orang tua menganggap ucapan semacam itu hanya luapan emosi sesaat. Padahal, bisa jadi ucapan tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلادِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ

Janganlah kalian mendoakan keburukan bagi diri kalian sendiri, jangan mendoakan keburukan bagi anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan bagi harta kalian; jangan sampai kalian bertepatan dengan saat Allah mengabulkan doa, lalu Dia mengabulkan doa kalian tersebut.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa doa orang tua memiliki kedudukan yang besar. Karena itu, lisan seorang ayah atau ibu hendaknya dijaga dari ucapan yang buruk terhadap anaknya. Ketika anak melakukan kesalahan, yang seharusnya dilakukan adalah menasihati, mendidik, dan mendoakan kebaikannya, bukan melaknat atau mendoakan kebinasaan baginya.

Dalam sebuah kisah yang masyhur, ada seorang ayah yang mengeluhkan kenakalan anaknya kepada Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Beliau bertanya:

أَدَعَوْتَ عَلَيْهِ؟

“Apakah Anda pernah mendoakan keburukan untuknya ?”

Ayah itu menjawab, “Ya.”

Maka Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

أَنْتَ أَفْسَدْتَهُ

“Andalah yang telah merusaknya.”

Perkataan ini memberikan pelajaran penting bahwa orang tua tidak boleh meremehkan pengaruh doa dan ucapan mereka terhadap anak. Oleh karena itu, ketika menghadapi sikap anak yang tidak sesuai harapan, hendaknya kesedihan dan kemarahan diarahkan menjadi doa kebaikan, agar Allah memperbaiki keadaan mereka, memberi hidayah kepada mereka, dan menjadikan mereka anak-anak yang saleh serta penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

4. Keutamaan Doa Orang Tua untuk Anak

Doa orang tua memiliki kedudukan yang sangat agung. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa doa orang tua untuk anaknya termasuk doa yang pasti dikabulkan. Beliau ﷺ bersabda:

ثلاثُ دَعواتٍ لا تُرَدُّ: دعوةُ الوالِدِ لِولدِهِ، ودعوةُ الصائِمِ، ودعوة المسافِرِ

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (HR. Al-Baihaqi & Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani)

Kesimpulan

Di antara sebab terbesar yang dapat ditempuh orang tua untuk kebaikan anak-anaknya adalah memperbanyak doa. Karena hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah ﷻ, dan hanya Dia yang mampu memberikan hidayah serta menjaga keistiqomahan mereka.

Mendoakan anak merupakan kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Mereka tidak hanya berusaha mendidik dan membimbing, namun juga senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar keturunannya menjadi generasi yang saleh dan membawa keberkahan.

Karena itu, hendaknya setiap orang tua memperbanyak doa yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Qurratu a’yun (penyejuk mata) tak sekadar anak yang sukses dalam urusan dunia, namun anak yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan menjadi sebab kebahagiaan orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, jangan pernah bosan memanjatkan doa untuk anak-anak kita, karena doa orang tua termasuk doa yang mustajab di sisi Allah ﷻ.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

sumber: https://bimbinganislam.com/doa-para-nabi-untuk-anak-teladan-bagi-orang-tua-dalam-mendidik-buah-hati/

Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu

Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya…” (SMS dari seorang sahabat)

Membaca SMS di atas, mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis. Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, makhluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup wanita. Namun sayang, banyak sebagian dari kita—kaum wanita—yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,

الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lain pun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)

Begitu jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan teladan pada kita, bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.

Namun sayang, di zaman ini rasa malu pada wanita telah pudar, sehingga hakikat penciptaan wanita—yang seharusnya—menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, menjadi tak lagi bermakna. Di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu. Hal seperti ini karena perilaku wanita itu sendiri yang seringkali berbangga diri dengan mengatasnamakan emansipasi, mereka meninggalkan rasa malu untuk bersaing dengan kaum pria.

Allah telah menetapkan fitrah wanita dan pria dengan perbedaan yang sangat signifikan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam akal dan tingkah laku. Bahkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 yang artinya; ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya’, Allah telah menetapkan hak bagi wanita sebagaimana mestinya. Tidak sekedar kewajiban yang dibebankan, namun hak wanita pun Allah sangat memperhatikan dengan menyesuaikan fitrah wanita itu sendiri. Sehingga ketika para wanita menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu pun itu menjadi hak baginya. Setiap wanita, terlebih seorang muslimah, berhak menyandang rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.

Sayangnya, hanya sedikit wanita yang menyadari hal ini…

Di zaman ini justeru banyak wanita yang memilih mendapatkan mahkota ‘kehormatan’ dari ajang kontes-kontes yang mengekspos kecantikan para wanita. Tidak hanya sebatas kecantikan wajah, tapi juga kecantikan tubuh diobral demi sebuah mahkota ‘kehormatan’ yang terbuat dari emas permata. Para wanita berlomba-lomba mengikuti audisi putri-putri kecantikan, dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Hanya demi sebuah mahkota dari emas permata dan gelar ‘Miss Universe’ atau sejenisnya, mereka rela menelanjangi dirinya sekaligus menanggalkan rasa malu sebagai sebaik-baik mahkota di dirinya. Naudzubillah min dzaliik…

Apakah mereka tidak menyadari, kelak di hari tuanya ketika kecantikan fisik sudah memudar, atau bahkan ketika jasad telah menyatu dengan tanah, apakah yang bisa dibanggakan dari kecantikan itu? Ketika telah berada di alam kubur dan bertemu dengan malaikat yang akan bertanya tentang amal ibadah kita selama di dunia dengan penuh rasa malu karena telah menanggalkan mahkota kemuliaan yang hakiki semasa di dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/191)

Dalam sebuah kisah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah didatangi wanita-wanita dari Bani Tamim dengan pakaian tipis, kemudian beliau berkata,

إن كنتن مؤمنات فليس هذا بلباس المؤمنات وإن كنتن غير مؤمنات فتمتعينه

“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.” (disebutkan dalam Ghoyatul Marom (198). Syaikh Al Albani mengatakan, “Aku belum meneliti ulang sanadnya”)

Betapa pun Allah ketika menetapkan hijab yang sempurna bagi kaum wanita, itu adalah sebuah penjagaan tersendiri dari Allah kepada kita—kaum wanita—terhadap mahkota yang ada pada diri kita. Namun kenapa ketika Allah sendiri telah memberikan perlindungan kepada kita, justeru kita sendiri yang berlepas diri dari penjagaan itu sehingga mahkota kemuliaan kita pun hilang di telan zaman?

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 13)

Wahai, muslimah…

Peliharalah rasa malu itu pada diri kita, sebagai sebaik-baik perhiasan kita sebagai wanita yang mulia dan dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika kau bandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata, namun untuk mendapatkan (mahkota emas permata itu), kau harus menelanjangi dirimu di depan public.

Wahai saudariku muslimah…

Kembalilah ke jalan Rabb-mu dengan sepenuh kemuliaan, dengan rasa malu dikarenakan keimananmu pada Rabb-mu…

***

Jogja, Jumadil Ula 1431 H
Penulis: Ummu Hasan ‘Abdillah
Muroja’ah: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

Referensi:
Yaa Binti; Ali Ath-Thanthawi
Al Hijab; I’dad Darul Qasim


Sumber: https://muslimah.or.id/1182-muslimah-cantik-bermahkota-rasa-malu.html

Sifat Amanah Yang Luar Biasa…

Al-Hasan bin ‘Arofah berkata :

الحسن بن عرفة يقول: قال لي ابن المبارك: اسْتَعَرْتُ قَلَمًا بِأَرْضِ الشَّامِ، فَذَهَبْتُ عَلَى أَنْ أَرُدَّهُ، فَلَمَّا قَدِمْتُ مَرْو، نَظَرْتُ فَإِذَا هُوَ مَعِي فَرَجَعْتُ إِلَى الشَّامِ حَتَّى رَدَدْتُهُ عَلَى صَاحِبِهِ

Ibnul Mubarok rahimahullah berkata kepadaku :
“Aku pernah meminjam sebuah pena di negeri Syam, lalu aku pergi untuk mengembalikannya. Tatkala aku sampai di negeri Marwu (*) aku lihat ternyata pena tersebut masih ada padaku. Akupun kembali ke Syam hingga kukembalikan pena tersebut kepada pemiliknya”
(Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 8/395, Taarikh Dimasyq 32/434 dan Shifat As-Shofwah 4/145)

Hanya karena untuk mengembalikan sebuah pena
Ibnul Mubaarok rela bersafar jauh untuk mengembalikannya.

Kita di zaman sekarang belum tentu mau untuk bersafar menempuh jarak yang jauh (meskipun naik pesawat) hanya karena ingin mengembalikan sebuah pena.

Apalagi di zaman dahulu yang perjalanan begitu berat dan hanya ditempuh dgn seekor onta atau kuda.

Tidaklah Ibnul Mubarok rahimahullah tergerak untuk melakukannya kecuali karena keimanan yang tinggi akan hari akhirat dan bahwasanya seluruh amanah (sekecil apapun juga) akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah سبحانه وتعالى

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

(*) Marwu atau Merv adalah sebuah kota kuno yang kini terletak di negara Turkmenistan.

Sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/24741

Salah Sangka Tentang Persahabatan

(1) Persahabatan tidak mengharuskan sahabatmu tidak boleh salah kepadamu. Sahabatmu –sebagaimana dirimu- pasti punya kekurangan dan kesalahan, bahkan bisa jadi berbuat salah kepadamu.

Pepatah berkata:

تُرِيْدُ صَاحِبًا لاَ عَيْبَ فِيْهِ …فَهَلِ الْعُوْدُ يَفُوْحُ بِلاَ دُخَانِ

“Kau menghendaki seorang sahabat yang tidak ada kekurangannya… Apakah ada kayu gaharu yang mengeluarkan bau wangi tanpa asap..??”

(2) Persahabatan tidaklah mengharuskan engkau harus terus berada bersamanya dan menghabiskan waktumu bersamanya, sehingga akhirnya waktu untuk suamimu/istrimu, anakmu, kerabatmu, dan untuk Robbmu akhirnya terkorbankan. Justru jika sering bertemu akan menghilangkan/memudarkan rasa cinta dan rindu, berbeda jika tidak keseringan bertemu.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا

“Kunjungilah, jangan keseringan, maka akan menambah kecintaanmu..” (HR At-Thobroni dan dishohihkan oleh Al-Albani)

(3) Persahabatan tidaklah mengharuskan sahabatmu tidak boleh dekat dengan selainmu. Ia boleh mencari sahabat selainmu. Sebagian orang jika telah mengambil sahabat, seakan-akan sahabatnya itu hanya miliknya saja, dan tidak boleh dekat dengan orang lain.

(4) Persahabatan tidaklah mengharuskan sahabatmu menceritakan seluruh permasalahannya padamu.

(5) Persahabatan tidaklah mengharuskan engkau harus mengetahui seluruh rahasia sahabatmu. Karenanya jika engkau bertanya sesuatu kepadanya lantas ia terasa berat atau menghindar untuk menjawab maka janganlah engkau mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Sikapnya tersebut menunjukkan ia tidak ingin engkau mengetahui permasalahan dan rahasianya tersebut.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/35688

[Kitabut Tauhid 10] 33 Mencintai Allah 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara indikasi dan konsekuensi mencintai Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Membenci orang-orang yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- benci.
  2. Berharap melihat Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan rindu berjumpa dengannya, walaupun harus membayarnya dengan harta dan keluarga.
  3. Mempelajari Al-Qur’an, membaca dan memahami maknanya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Manusia Dibangkitkan Berdasarkan Amalan Akhirnya

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ »

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hamba Allah itu akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal.” (HR. Muslim, no. 2878).


Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya:

1. Dorongan dan motivasi bagi setiap insan untuk memperindah amalan dengan amalan-amalan mulia dan terbaik, karena kelak akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal, karena patokan amalan itu tergantung akhirnya.

2. Petunjuk tentang ketetapan hari kebangkitan, dan barang siapa yang mengingkarinya maka ia telah keluar dari agama islam dan islam berlepas diri darinya.

3. Setiap yang bernyawa pasti akan meninggalkan dunia ini tanpa pengecualian.

4. Setelah jasad hancur, manusia kemudian dibangkitkan yaitu mereka dihidupkan dan dikeluarkan dari kubur mereka. Sebagaimana Firman Allah ‘Azza wa Jalla;

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun: 7)

5. Faedah berharga bahwa setiap hamba sepatutnya bersungguh–sungguh dalam menghabiskan setiap masa hidupnya dengan kesalehan dan berbagai macam ketaatan, tidak mencukupkan dengan kewajiban saja, bahkan berlomba-lomba dengan tidak menyia-nyiakan amalan-amalan sunnah yang dianjurkan.

6. Kematian itu termasuk rahasia ilahi, menyapa tanpa pemberitahuan, tidak mengenal muda maupun tua, maka setiap manusia perlu bersiap dengan bekal terbaik untuk perjalanan panjang setelah kematian.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

Baca selengkapnya: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-89-manusia-dibangkitkan-berdasarkan-amalan-akhirnya/