Bagaimana Kita Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

Dalam beberapa baris kalimat ini, kita berjumpa lagi dalam pembahasan dasar-dasar iman dan tauhid. Di dalamnya kita akan mempelajari dua dasar agung dari dasar-dasar iman—yang ibadah apa pun tidak akan diterima kecuali dari orang yang memiliki dua dasar tersebut—yaitu iman kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari kiamat.

Pertanyaan pertama:

Bagaimana kita beriman kepada takdir?

Jawaban:

Yaitu dengan mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu  dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, meyakini bahwa seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan manfaat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan manfaat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu.

Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan mudarat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan mudarat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

Juga beriman bahwa apa yang Allah kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi,

serta segala yang ada di alam semesta berupa gerak-gerik, kehidupan, kematian, kebaikan, keburukan, ketaatan, dan kemaksiatan adalah dengan takdir, kehendak, ilmu, dan hikmah dari Allah. Tidaklah semua itu terjadi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dipaksa melakukan itu, bukan pula suatu hal yang sia-sia dari-Nya.

Pertanyaan kedua:

Apa maksud dari firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar…” (QS. Muhammad: 31)

Bukankah Allah telah mengetahui itu semua sebelum itu terjadi?

Jawaban: Tentu, Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala hal. Dia mengetahui apa yang akan dikerjakan para makhluk sebelum Dia menciptakan mereka, dan menulisnya di Lauhul Mahfuzh, sebagaimana yang Dia firmankan,

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Dan sungguh, Allah telah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (QS. At-Talaq: 12)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata.” (QS. Al-An’am: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ: اكْتُبْ. فَقَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia berfirman, ‘Tulislah.’ Pena bertanya, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Dia berfirman, ‘Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat.’” (HR. Al-Bukhari)

Namun, termasuk dari keadilan dan hikmah Allah Ta’ala, Dia tidak menzalimi para hamba-Nya, sehingga Dia tidak menghisab mereka kecuali atas amalan yang mereka lakukan berdasarkan kehendak mereka yang telah Allah ciptakan bagi mereka. Dia tidak menghisab mereka kecuali dengan ilmu-Nya tentang apa yang telah mereka kerjakan, bukan sekedar berdasarkan ilmu-Nya yang telah ada dan penulisan takdir dalam Lauhul Mahfuzh.

Jadi, makna ayat bahwa Allah akan menguji para hamba-Nya—yakni menguji mereka untuk mengetahui mana orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar, dan mana orang-orang munafik—sebagai dasar untuk menghisab mereka, meskipun sebelumnya Dia telah mengetahui itu sebelumnya.

Pertanyaan ketiga:

Apakah manusia dikendalikan oleh takdir atau memiliki pilihan dan kehendak?

Jawaban:

Ini adalah pertanyaan yang keliru sejak awal karena manusia itu dalam perbuatan-perbuatannya yang bersifat pilihan—seperti ketaatan dan kebaikan, atau kemaksiatan dan keburukan—manusia memiliki kemampuan dan pilihan untuk melakukannya. Hal ini tidak diingkari kecuali orang yang keras kepala karena setiap manusia dapat merasakan kehendak itu dalam dirinya. Dan Allah juga telah menjelaskan hal itu dalam al-Qur’an,

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Maka barang siapa menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki, hendaklah dia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Hanya saja kehendak itu bukanlah kehendak mutlak tanpa batas, tapi terikat oleh kehendak Allah, karena Allah-lah yang menciptakan manusia dan menciptakan baginya kemampuan dan kehendak, sebagaimana yang Allah firmankan,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendaki.” (QS. Al-Insan: 30)

Keterikatan ini bukan berarti menggugurkan kehendak manusia dan menjadikannya dikendalikan atau terpaksa tanpa memiliki pilihan. Allah tidak akan menghisab orang yang tidak memiliki kehendak, seperti orang yang dipaksa, kehilangan akal, atau orang yang tidur.

Namun, kehendak Allah berlaku pada hamba-Nya melalui apa yang mereka kerjakan sendiri dan dalam kuasa mereka. Dan Allah-lah yang menciptakan mereka, serta menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan mereka. Sedangkan perbuatan yang berada di luar kehendak, seperti detak jantung dan tertarik oleh gaya gravitasi, maka tidak diperselisihkan lagi bahwa seorang hamba tidak punya kuasa dan pilihan dalam hal itu.

Pertanyaan keempat:

Apabila Allah yang menghendaki adanya kebaikan dan keburukan, dan Dia yang menciptakan keduanya, apakah Dia meridai keburukan dan suka dimaksiati?

Jawaban:

Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak rida dengan kekufuran bagi hamba-Nya. Namun, Dia meridai Islam sebagai agamanya, mencintai orang-orang yang beriman, bertakwa, dan berbuat baik, dan Dia tidak meridai orang-orang fasik.

Kecintaan dan keridaan-Nya mengikuti perintah syariat-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya—bukan hanya berdasarkan kehendak-Nya mengadakan sesuatu—Allah menciptakan Iblis, tapi Dia tidak menyukainya. Demikian juga Dia yang menciptakan keburukan, tapi Dia tidak meridainya dan tidak memerintahkan para hamba-Nya untuk melakukannya. Namun, Dia menciptakannya dengan hikmah-hikmah yang Dia ketahui, karena Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23)

Selain itu, hamba-hamba-Nya tidak mampu untuk mengetahui segala ilmu dan hikmah Allah Ta’ala.

Pertanyaan kelima:

Apabila semuanya telah ditakdirkan dan tertulis, lalu apa gunanya beramal? Lalu mengapa Allah mengazab para pelaku maksiat atas sesuatu yang Dia tetapkan dan ciptakan?

Jawaban:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya.”

Kesengsaraan dan kebahagiaan diciptakan Allah dengan mengaitkannya dengan sebab kemaksiatan atau ketaatan, bukan menciptakannya tanpa sebab. Sehingga tidak ada seorang pun yang masuk neraka kecuali karena amalan penghuni neraka dan orang-orang beriman juga masuk surga sebagai balasan atas amal mereka. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, amalan itu meskipun dengan kehendak dan kuasa Allah, tapi juga dengan kuasa manusia, dan amalan itu menjadi sebab kebahagiaan atau kesengsaraannya, dan itu dengan kehendak hamba tersebut.

اِعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Berbuatlah sesuka kalian. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fussilat: 40)

Allah hanya mengazab para hamba-Nya yang layak diazab atas amalan mereka. Meskipun Allah yang menuliskannya, tapi Dia tidak memerintahkan mereka melakukan amalan itu.

قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh berbuat keji…’” (QS. Al-A‘raf: 28)

Selain itu, apa yang Allah tulis dalam Lauhul Mahfuzh juga tidak diketahui oleh para makhluk-Nya, tapi yang mereka ketahui adalah syariat Allah berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Mereka juga memiliki akal dan kehendak memilih. Oleh sebab itu, Allah membantah orang-orang musyrik yang berkata,

لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An‘am: 148)

Allah membantahnya dengan firman-Nya,

قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Katakanlah, ‘Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Kamu hanya mengikuti dugaan, dan kamu hanya mengada-adakan kebohongan.’” (QS. Al-An‘am: 148)

Lalu, pertanyaan pada hari kiamat akan diajukan berkaitan dengan jawaban apa yang kalian berikan kepada para rasul dan apa yang telah kalian kerjakan, bukan tentang apa yang telah Allah tulis bagi kalian di Lauhul Mahfuzh.

Pertanyaan keenam:

Apa hukum orang yang melakukan perbuatan-perbuatan haram dan meninggalkan amalan-amalan wajib, lalu ia beralasan, “Andai Allah menghendakiku mendapat hidayah, pasti aku mendapat hidayah!”

Jawaban:

Orang ini termasuk pengikut Iblis yang berkata kepada Tuhannya,

رَبِّ بِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ

“Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menyesatkanku!” (QS. Al-Hijr: 39)

Makhluk pertama yang beralasan dengan takdir adalah Iblis, tapi alasan ini sama sekali tidak bermanfaat baginya. Sedangkan Adam dan Hawa mengakui kesalahannya dengan berkata,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Oleh sebab itu, pilihlah untuk dirimu, engkau ingin bersama siapa? Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Pertanyaan ketujuh:

Apa hukum orang yang tidak beriman dengan takdir?

Jawaban:

Seandainya dia menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, amalannya itu tetap tidak akan diterima darinya, hingga ia beriman kepada takdir. Seandainya ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya ia termasuk penghuni neraka. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ubay, Hudzaifah, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“(Ingatlah) pada hari ketika mereka diseret ke dalam neraka dengan wajah mereka. (Dikatakan kepada mereka), ‘Rasakanlah sentuhan api Saqar.’ Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan ketentuan.” (QS. Al-Qamar: 48-49)

Pertanyaan kedelapan:

Di mana kita bisa membaca lebih lanjut tema ini?

Jawaban:

Dalam buku al-Qadha wa al-Qadar karya Abu Bakar al-Jaza’iri, buku Ma’arij al-Qabul karya Ahmad al-Hakami, buku Syifa al-Alil karya Ibnu al-Qayyim, buku al-Aqidah al-Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah, dan buku Arkan al-Islam wa al-Iman karya kami sendiri.

***

Syekh Muhammad Jamil Zainu

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/163484/كيف-نؤمن-بالقدر-خيره-وشره

[Kitabut Tauhid 10] 48 Mencintai Allah 36

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup dengan pengakuan dan perasaan, tetapi harus diwujudkan dengan sikap dan prilaku sesuai tuntunan Syariat. Dan ittiba’ tidak akan terwujud jika ada faktor penghalangnya, dan diantara penghalang ittiba’ adalah :

  1. Bodoh terhadap ajaran agama.
  2. Mengikuti hawa nafsu.
  3. Mendahulukan pendapat nenek moyang dan para tokoh dari Dalil.
  4. Mendahulukan akal dari Dalil Yang Shahih.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

IKATLAH NIKMAT DENGAN MENSYUKURINYA

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” [Hadis ini Sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6490); Muslim (no. 2963 (9)), dan ini lafalnya; At-Tirmidzi (no. 2513); dan Ibnu Majah (no. 4142)]

Alangkah agungnya wasiat ini, dan alangkah besar manfaatnya. Kalimat yang menentramkan dan menenangkan. Hadis ini menunjukkan anjuran untuk bersyukur kepada Allah ﷻ dengan mengakui nikmat-nikmat-Nya, membicarakannya, menaati Allah ﷻ, dan melakukan semua sebab yang dapat membantu kita bersyukur kepada-Nya.

Syukur kepada Allah ﷻ adalah inti ibadah, pokok kebaikan, dan merupakan hal yang paling wajib atas manusia. Karena tidak ada pada diri seorang hamba, dari nikmat yang tampak maupun tersembunyi, yang khusus maupun umum, melainkan berasal dari Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [QS. An-Nahl/16:53]

Allah ﷻ memberikan berbagai kebaikan, dan menolak kejahatan dan keburukan. Oleh karena itu, seorang hamba harus benar-benar bersyukur kepada-Nya. Hendaknya seorang hamba berusaha dengan segala cara yang dapat mengantarnya dan membantunya untuk bersyukur kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah/2:152]

Dan firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [QS. Ibrahim/14:7]

Nabi ﷺ dalam hadis di atas telah menunjukkan obat dan faktor yang sangat kuat agar seseorang bisa mensyukuri nikmat Allah ﷻ. Yaitu hendaknya setiap hamba memerhatikan orang yang lebih rendah darinya dalam hal akal, nasab, harta, dan nikmat-nikmat lainnya. Jika seorang terus-menerus melakukan ini, maka ini akan menuntunnya untuk banyak bersyukur kepada Rabb-nya, serta menyanjung-Nya. Karena dia selalu melihat orang-orang yang keadaannya jauh berada di bawahnya dalam hal-hal tersebut. Banyak di antara mereka itu berharap bisa sampai, atau minimal mendekati, apa yang telah diberikan padanya dari nikmat kesehatan, harta, rezeki, fisik, maupun akhlak. Kemudian dia akan banyak memuji Allah ﷻ yang telah memberinya banyak karunia.

Faidah-Faidah Hadis:

1) Anjuran melihat keadaan orang yang berada di bawah kita dalam hal dunia, dan melihat kepada keadaan orang di atas kita dalam hal agama.

2) Melihat kepada yang di atas kita dalam hal dunia akan mengakibatkan seseorang tidak bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ berikan kepadanya, selalu mengeluh, dan bersedih.

3) Melihat kepada di atas kita dalam hal agama akan mengakibatkan seseorang terpacu untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah ﷻ.

4) Anjuran zuhud terhadap kehidupan dunia.

5) Seorang Mukmin hendaknya menjadikan dunia ini di tangannya, dan tidak di dalam hatinya.

6) Larangan meremehkan nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada kita.

7) Seorang Mukmin wajib bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ anugerahkan kepada dia.

8) Bersyukur kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan perintah Allah ﷻ, dan menjauhkan larangan-Nya.

9) Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah ﷻ agar kita dapat bersyukur kepada-Nya ﷻ.

10) Keindahan Islam yang telah mengatur semua kehidupan manusia.

Dinukil dari tulisan berjudul “ANJURAN MENSYUKURI NIKMAT” yang ditulis oleh: al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Sumber: https://almanhaj.or.id/12693-anjuran-mensyukuri-nikmat-2.html

Empat Perkara Yang Mencukupkan-mu Dari Dunia

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Empat perkara, jika hal itu ada pada dirimu, maka tidak mengapa bagimu apa yang terlewatkan darimu dari dunia :

* Shidqul-hadits (kejujuran dalam berbicara atau menyampaikan perkataan)
* Hifzhul-amaanah (menjaga amanah dengan sebaik-baiknya)
* Husnul-khuluq (memiliki akhlak dan perangai yang baik)
* ‘Iffatu math’am (menjaga kesucian makanan atau senantiasa mencari rezeki yang halal)

(HR. Ahmad dan Al-Bazzar)
Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahullah – Shohiih Al Jaami’ no. 873

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah menjelaskan tentang hadits ini :

● Jika engkau senantiasa menjaga kejujuran lisan dan perkataanmu..
● Jika engkau menjadi orang yang amanah dan menunaikannya..
● Jika engkau menghiasi diri dengan akhlak yang mulia..
● Jika engkau sangat memperhatikan kehalalan makanan atau rezeki yang masuk ke dalam tubuhmu..

Maka engkau adalah orang yang benar-benar kaya .. dan apa pun kenikmatan dunia yang terlewatkan darimu —baik berupa harta benda maupun kedudukan di mata manusia— maka hal itu tidak akan mendatangkan mudhorot atau membahayakanmu sama sekali.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75576

Jangan Banyak Bersumpah

Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullahu Ta’ala

Pertanyaan:

Saya memiliki kerabat yang banyak bersumpah atas nama Allah, baik jujur atau dusta. Apa hukum hal tersebut?

Jawaban:

Berikanlah nasihat dan katakan kepadanya, “Janganlah Anda banyak bersumpah, meskipun isi sumpah tersebut benar karena Allah ta’ala berfirman,

وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ

“Dan jagalah sumpah-sumpah kalian” (QS. Al-Maidah: 89).

Juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثلاثة لا يكلمهم الله ولا ينظر إليهم يوم القيامة ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم أشيمط زان وعائل مستكبر ورجل جعل الله بضاعته لا يشتري إلا بيمينه ولا يبيع إلا بيمينه

“Terdapat tiga golongan yang tidak Allah ajak bicara, tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat, dan juga tidak Allah sucikan, bagi mereka adzab yang pedih. (yaitu) orang yang telah beruban tapi malah berzina, orang yang miskin tapi sombong, dan orang-orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, tidaklah dia menjual atau membeli kecuali dengan bersumpah.”

Orang Arab jaman dahulu mendapatkan pujian karena tidak banyak bersumpah. Sebagaimana kata seorang penyair:

قليل الألايا حافظ ليمينه إذا صدرت منه الألية ضرّتِ

“Mereka (orang Arab) jarang bersumpah, kalaupun bersumpah mereka sangat menjaganya

Dan jika bersumpah, mereka akan merasa terbebani”

Hal yang disyariatkan bagi seorang mukmin adalah tidak banyak bersumpah, meskipun isi sumpahnya benar (jujur), karena banyak bersumpah terkadang menjerumuskan seseorang dalam kedustaan. Dan kita mengetahui bahwa kedustaan adalah hal yang diharamkan, dan pengharamannya lebih besar jika kedustaan itu disokong dengan sumpah.

Akan tetapi, tidak mengapa jika terdapat kondisi darurat atau maslahat tertentu untuk bersumpah secara dusta. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abu Mu’ith radhiyallahu ‘anha,

ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس فيقول خيرا أو ينمي خيرا

“Tidaklah (termasuk) berdusta orang yang mendamaikan di antara manusia, sehingga dia mengucapkan kebaikan atau bersumpah (karena menginginkan) kebaikan.”

Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha berkata,

ولم أسمعه يرخص في شيء مما يقول الناس إنه كذب إلا في ثلاث: الإصلاح بين الناس، والحرب، وحديث الرجل امرأته، وحديث المرأة زوجها

“Tidaklah aku mendengar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan terhadap (bolehnya) sesuatu perkara yang dikatakan dusta oleh manusia kecuali dalam tiga perkara: mendamaikan antara manusia dan peperangan; ucapan seorang suami kepada istrinya dan ucapan istri kepada suaminya” (HR. Muslim).

Misalnya, seseorang berkata ketika mendamaikan orang (yang berselisih), “Demi Allah, sesungguhnya sahabatmu mencintai perdamaian dan ingin menyatukan kalimat, dan menginginkan demikian dan demikian.”

Kemudian dia mendatangi yang lain dan mengatakan yang semisal. Maksudnya pun baik dan ingin mendamaikan saudaranya. Hal ini tidaklah mengapa berdasarkan hadits di atas.

Demikian pula, jika kita melihat seseorang ingin membunuh orang lain secara zalim atau ingin menzalimi dalam hal yang lain, lalu kita katakan kepada orang tersebut, “Demi Allah, sesungguhnya dia itu saudaraku”, sehingga kita dapat membebaskannya dari orang zalim yang ingin membunuhnya atau mencelakainya tanpa alasan yang dibenarkan. Apalagi jika kita mengetahui bahwa dengan menyatakan orang itu adalah saudara kita, orang yang zalim tersebut akan mengurungkan niatnya karena menghormati diri kita. Maka dalam kondisi demikian justru menjadi kewajiban untuk membebaskan saudara kita dari kezaliman,

Maksudnya, hukum asal bersumpah dusta adalah haram, kecuali jika terdapat maslahat yang lebih besar daripada dusta itu sendiri, sebagaimana tiga perkara dalam hadits yang disebutkan sebelumnya.

***

Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL 8 Muharram 1439/29 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penerjemah: Muhammad Saifudin Hakim

Catatan kaki:

Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatawa/7

Sumber: https://muslim.or.id/35371-jangan-banyak-bersumpah.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Jauhi Sifat Panjang Angan-angan

Jauhi Sifat Panjang Angan-angan

Di antara akhlak yang tercela adalah panjang angan-angan. Panjang angan-angan disebut juga thulul amal atau thulul amad, adalah terlalu banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia. 

Definisi thulul amal dijelaskan para ulama:

وقال المناويّ: الأمل: توقّع حصول الشّيء، وأكثر ما يستعمل فيما يستبعد حصوله

أمّا طول الأمل: فهو الاستمرار في الحرص على الدّنيا ومداومة الانكباب عليها مع كثرة الإعراض عن الآخرة

“Al-Munawi mengatakan: al-amal artinya mengangankan terjadinya sesuatu. Namun istilah ini lebih sering digunakan untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk diraih.

Adapun thulul amal artinya: terus-menerus bersemangat mencari dunia dan mencurahkan segala hal untuk dunia, dan di sisi lain, banyak berpaling dari urusan akhirat” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857).

Al-amal (angan-angan) berbeda dengan ath-tham’u (tamak) dan ar-raja’ (cita-cita). Al-amal adalah perkara yang kemungkinannya kecil untuk diraih, sedangkan tamak adalah berlebihan menginginkan perkara yang mudah diraih, adapun cita-cita adalah mengharapkan sesuatu yang mungkin diraih. Ini digambarkan oleh al-Munawi:

من عزم على سفر إلى بلد بعيد يقول أملت الوصول ولا يقول طمعت، لأنّ الطّمع لا يكون إلّا فى القريب، والأمل في البعيد، والرّجاء بينهما، لأنّ الرّاجي يخاف ألّا يحصّل مأموله

“Seseorang yang ingin pergi safar ke tempat yang sangat jauh, maka ia akan mengatakan: aamaltul wushul bukan thama’tul wushul. Karena tamak itu tidak dilakukan kecuali kepada yang dekat. Sedangkan al-amal hanya kepada yang jauh saja. Adapun ar-raja’, di antara keduanya. Karena orang yang raja’ (bercita-cita) ia khawatir apa yang diangankan itu tidak tercapai” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857).

Celaan terhadap sifat thulul amal

Allah dan Rasul-Nya mencela sifat panjang angan-angan. Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ta’ala berfirman:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Hadid: 16).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ

“Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan” (HR. al-Bukhari no. 6420).

Manusia cenderung memiliki angan-angan terhadap dunia yang panjang, banyak dan berlebihan. Ini digambarkan dalam hadis Abdullah bin Mas’ud dan Anas bin Malik berikut ini.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَطَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا، وخَطَّ خَطًّا في الوَسَطِ خَارِجًا منه، وخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إلى هذا الذي في الوَسَطِ مِن جَانِبِهِ الذي في الوَسَطِ، وقَالَ: هذا الإنْسَانُ، وهذا أجَلُهُ مُحِيطٌ به – أوْ: قدْ أحَاطَ به – وهذا الذي هو خَارِجٌ أمَلُهُ، وهذِه الخُطَطُ الصِّغَارُ الأعْرَاضُ، فإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا، وإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat garis lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi. Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, “Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu” (HR. Bukhari no.6417).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هذا ابنُ آدمَ وهذا أجلُه ؛ ووضع يدَه عند قَفَاهُ ، ثمَّ بسطَها فقال : وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ

“Ini adalah anak cucu Adam, ini ajalnya mengitarinya, yang ada ditengah ini manusia dan garis-garis ini halangan-halangannya, bila ia selamat dari yang ini ia digigit oleh yang ini (maksudnya kematian), sementara garis yang di luar adalah angan-angan” (HR. at-Tirmidzi no.2334, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi).

Para salafus shalih juga mencela sifat panjang angan-angan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ

“Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/76).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan:

لا يطولنّ عليكم الأمد ولا يلهينّكم الأمل فإنّ كلّ ما هو آت قريب، ألا وإنّ البعيد ما ليس آتيا

“Janganlah kalian panjang angan-angan, dan jangan sampai kalian terlena oleh panjang angan-angan. Sesungguhnya semua yang sedang terjadi itu yang dekat. Dan sesuatu yang jauh adalah yang belum datang” (HR. Ibnu Majah no. 3 secara marfu‘, namun yang shahih adalah mauquf dari Ibnu Mas’ud. Disebutkan Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid, hal. 200).

Sikap yang benar terhadap dunia

Sikap yang benar, persedikit angan-angan dalam urusan dunia, lebih banyak fokus dan perhatian pada urusan akhirat. 

Seperti orang yang mampir untuk singgah, maka sedikit sekali urusannya dengan tempat singgahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, ia berkata:

أخَذ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمَنكِبي فقال : ( كُنْ في الدنيا كأنك غريبٌ أو عابرُ سبيلٍ ) . وكان ابنُ عُمرَ يقولُ : إذا أمسيْتَ فلا تنتَظِرِ الصباحَ، وإذا أصبحْتَ فلا تنتظِرِ المساءَ، وخُذْ من صحتِك لمرضِك، ومن حياتِك لموتِك

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’” (HR. al-Bukhari no. 6416).

Bahaya panjang angan-angan

  1. Orang yang panjang angan-angan akan lupa terhadap akhirat dan lupa terhadap nikmat-nikmat yang Allah janjikan bagi orang yang taat kepada-Nya. Serta akan lupa akan kerasnya azab Allah di akhirat bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya.
  2. Orang yang panjang angan-angan akan kurang kesabarannya untuk menahan diri terhadap syahwat dan akan sering lalai dari melakukan ketaatan.
  3. Panjang angan-angan akan membuat orang mati-matian mengusahakan kebahagiaan lahiriyah di dunia dan ia akan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana.
  4. Orang yang panjang angan-angan hatinya akan keras dan air matanya akan mengering, serta akan berambisi tinggi terhadap dunia.
  5. Orang yang panjang angan-angan akan mudah melakukan maksiat dan jauh dari ketaatan.
  6. Orang yang panjang angan-angan akan cenderung mudah menzalimi orang lain dan melanggar hak-hak orang lain.

(Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4867).

Demikian uraian yang ringkas ini, semoga bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat panjang angan-angan dan menjadikan kita para hamba yang berambisi pada akhirat.

***

Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Referensi: https://konsultasisyariah.com/38756-jauhi-sifat-panjang-angan-angan.html

Mengapa Allah Tidak Segera Menyiksa Orang-Orang Kafir dan Zalim?

Pendahuluan

Salah satu pertanyaan yang banyak membingungkan pikiran banyak orang adalah mengapa Allah membiarkan orang-orang kafir dan zalim tetap ada, dan tidak menghukum mereka segera? Al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah telah menjelaskan pertanyaan ini dengan jawaban yang gamblang.

Penangguhan siksa Allah bagi mereka tidak menjadi tanda pengabaian atau kezaliman Allah. Na’udzubillah. Justru itu adalah bagian dari hikmah dan aturan-Nya dalam memberi ujian, rahmat-Nya dalam memberi manusia kesempatan untuk bertobat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, dan ketetapan-ketetapan-Nya berdiri di atas keadilan mutlak dan hikmah mendalam.

Definisi Penangguhan dan Istidraj

  1. Sunatullah dalam memberi penangguhan bagi para pelaku maksiat

Allah tidak terburu-buru menimpakan siksaan bagi setiap orang zalim begitu saja, tapi Dia memberinya kesempatan (penundaan) hingga batas waktu tertentu. Ini merupakan sunatullah yang disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini memberi ketenangan bagi orang-orang beriman bahwa penangguhan siksaan bukan karena Allah lalai, tapi karena Dia telah menetapkan bagi setiap orang zalim waktu tertentu untuk kehancurannya, dan penundaan azab akan menambah dosa-dosa mereka, sehingga azab mereka akan semakin berat.” (Kitab Fath al-Qadir, jilid 3 hlm. 271)

Amir ash-Shan’ani berkata, “Sesungguhnya Allah tidak menyegerakan siksaan, tapi juga tidak melalaikannya. Namun, Allah memberi penangguhan agar pelaku maksiat bertobat, tapi jika ia terus melakukan kezalimannya, maka Allah akan menimpakannya dengan azab yang berat.” (Kitab Tathir al-I’tiqad, hlm. 42)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

“Sesungguhnya Allah benar-benar menangguhkan orang yang zalim. Namun, apabila Dia menghukumnya, Dia tidak akan membiarkannya lepas.” (HR. Al-Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583)

Ini menunjukkan bahwa penundaan siksaan bukan bentuk kelemahan atau kezaliman, tapi bagian dari pengaturan Allah Yang Maha Adil.

  1. Prinsip istidraj (siksaan bertahap melalui nikmat-nikmat)

Terkadang Allah Ta’ala memberi orang-orang kafir dan zalim penambahan nikmat duniawi sehingga mereka merasa aman, padahal sebenarnya itu adalah istidraj bagi mereka menuju kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَىٰ مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia yang ia sukai, sementara ia terus melakukan kemaksiatan, maka sesungguhnya hal itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad no. 17311. Dinilai sahih oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami no. 602)

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Jenis siksaan terberat adalah ketika pelaku maksiat mengira sedang dalam keadaan aman dari makar Allah sehingga ia terus berlanjut dalam kezaliman dan kelalaiannya, hingga turun siksaan kepadanya secara tiba-tiba.” (Kitab I’lam al-Muwaqqi’in jilid 1 hlm. 134)

Dunia Adalah Negeri Ujian: Hikmah di Balik Adanya Orang-Orang Zalim

  1. Dunia adalah negeri ujian, bukan tempat keadilan mutlak

Allah menciptakan dunia ini agar menjadi tempat untuk ujian dan cobaan. Seandainya setiap orang zalim mendapat balasannya segera, niscaya maksud dari ujian itu tidak dapat terwujud. Allah Ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dunia adalah medan ujian, sedangkan keadilan mutlak akan ditangguhkan hingga hari kiamat. Karena seandainya Allah membinasakan setiap pelaku dosa secara langsung, niscaya maksud dari tanggung jawab dan ujian tidak dapat terwujud.” (Kitab Majmu al-Fatawa jilid 14 hlm. 252)

Amir ash-Shan’ani menambahkan, “Kezaliman adalah bagian dari ujian. Dan adanya orang-orang zalim memberi orang-orang beriman kesempatan untuk bersikap tegar, sabar, dan berjihad di jalan Allah, dan ini termasuk hal yang meningkatkan derajat mereka di sisi Allah.” (Kitab Subul as-Salam jilid 4 hlm. 183)

  1. Penangguhan siksaan menjadi kesempatan untuk bertobat

Salah satu hikmah terbesar dari penangguhan siksaan adalah pemberian kesempatan untuk bertobat. Seandainya setiap pelaku maksiat disiksa begitu saja, niscaya tidak ada seorang pun yang mendapat kesempatan untuk kembali bertobat kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman,

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ

“Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki rahmat. Sekiranya Dia menghukum mereka karena apa yang telah mereka perbuat, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka.” (QS. Al-Kahfi: 58)

Asy-Syaukani menjelaskan ayat ini dengan berkata, “Sesungguhnya penundaan siksaan bukan karena kelemahan, tapi karena rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya sehingga banyak pelaku maksiat dapat bertobat dan Allah selamatkan dari azab.”

Keadilan Mutlak akan Terwujud di Akhirat

  1. Siksaan terbesar akan diberikan di akhirat

Allah telah berjanji tidak akan ada orang zalim yang dapat terbebas tanpa mendapat perhitungan. Meskipun para pelaku kezaliman itu dapat selamat di dunia, tapi mereka tidak akan selamat dari keadilan Allah di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ghafir: 17)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Keadilan Allah itu mutlak, dan orang-orang zalim mungkin dapat menikmati arogansi mereka sementara waktu, tapi azab yang hakiki sedang menunggu mereka di akhirat. Dan itu adalah azab yang lebih berat dan kekal.” (Kitab Syarh Riyadh ash-Shalihin, jilid 3 hlm. 225)

  1. Beberapa contoh sejarah penundaan siksa dan pada akhirnya siksaan itu tiba

Sepanjang sejarah manusia, ada banyak contoh orang-orang yang diberi penangguhan oleh Allah, lalu pada akhirnya Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang berat.

  1. Fir’aun: Diberi kesempatan bertahun-tahun untuk bertobat, tapi ia justru terus menjalankan kezalimannya sehingga pada akhirnya ia ditenggelamkan. (Disebutkan dalam surat Yunus: 90)
  2. Kaum Ad dan Tsamud: Mereka mendustakan para rasul berkali-kali sehingga azab menimpa mereka. (Disebutkan dalam surat Hud: 59-68)
  3. Qarun: Dikaruniai kekayaan melimpah ruah, tapi ketika ia bersikap sombong terhadap manusia lainnya, Allah melenyapkannya bersama hartanya ke dalam tanah. (Disebutkan dalam surat al-Qasas: 81)

Ibnu Katsir mengatakan, “Penundaan siksa atas kaum-kaum itu bukan karena kelemahan dari Allah, tapi sebagai hikmah pemberian kesempatan. Namun, ketika mereka telah melampaui batas, mereka ditimpa azab yang keras.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3 hlm. 192)

Penutup: Keyakinan akan Keadilan Allah

  • Penundaan siksaan adalah bagian dari hikmah Allah.
  • Dunia adalah negeri ujian, sedangkan keadilan mutlak akan terwujud di akhirat.
  • Penundaan siksaan adalah rahmat dan kesempatan untuk bertobat.
  • Tidak ada satu pun orang zalim akan selamat dari keadilan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

“Sesungguhnya Allah benar-benar menangguhkan orang yang zalim. Namun, apabila Dia menghukumnya, Dia tidak akan membiarkannya lepas.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita kesabaran dan ketajaman hati dalam memahami keadilan dan hikmah-Nya. Amin.

***

Aqib Amin Ahangar Abu Yahya

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/175754/لماذا-لا-يعاقب-الله-الكافرين-والظالمين-فورا؟

[Besok] Reminder Puasa Ayyaumil Bidh

Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali

Minimal seorang muslim melakukan puasa sunnah sebanyak tiga kali dalam sebulan. Yang utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 hijriyah).

Dalil Anjuran[Dalil pertama]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[1][Dalil Kedua]

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah,

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”[2][Dalil Ketiga]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”[3][Dalil Keempat]

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”[4][Dalil Kelima]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”[5]

Pelajaran Penting

  1. Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”.”[6]
  2. Hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Ada pula yang mengatakan bahwa ayyamul biid adalah hari ke-12, 13 dan 14. Namun pendapat pertama tadi lebih kuat.
  3. Hari ini disebut dengan ayyamul biid (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu.

Faedah Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

  1. Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun karena pahala satu kebaikan adalah sepuluh kebaikan semisal. Berarti puasa tiga hari setiap bulan sama dengan puasa sebanyak tiga puluh hari setiap bulan. Jadi seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.[7]
  3. Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

9 Rabi’ul Awwal 1431 H


[1] HR. Bukhari no. 1178.

[2] HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[3] HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580.

[4] HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[5] HR. Bukhari no. 1979.

[6] Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470.

[7] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Sholihin, 3/469.

Sumber https://rumaysho.com/863-lakukanlah-puasa-sunnah-minimal-sebulan-3-kali.html