FYP di Dunia, Rugi di Akhirat

Di era media sosial saat ini, kata FYP (For Your Page) telah menjadi impian banyak orang. Menjadi viral, ditonton jutaan orang, atau disukai ribuan akun menjadi hal yang terasa membanggakan. Betapa banyak hari ini kita saksikan orang yang sanggup menjual kehormatan, membuka aurat, menyebar kelalaian, bahkan merusak akhlak masyarakat, hanya demi “viewers” dan pujian. Yang lebih menyedihkan lagi, tak sedikit pula yang terang-terangan mempermainkan agama, menghina sunah, atau menjadikan hal-hal sakral sebagai bahan lelucon demi “engagement” dan algoritma. Mereka lupa bahwa setiap kata, gambar, suara, dan pengaruh yang disebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Pernahkah kita bertanya: apakah yang viral itu membuat Allah rida? Ataukah hanya memuaskan nafsu riya, ujub, dan cinta dunia?

Popularitas semu yang menipu

FYP adalah fitur algoritma yang menampilkan video kepada pengguna secara luas. Di baliknya bisa jadi terdapat ambisi tersembunyi ingin dikenal, ingin dikagumi, dan ingin menjadi pusat perhatian. Tak jarang, demi itu orang membuka aurat, berkata kotor, menertawakan agama, hingga membuat konten yang merusak akhlak umat Islam.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’ (pamer ibadah).” (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh al-Albani)

Siapa saja yang membuat konten agar dilihat manusia, bukan karena Allah, hendaknya ia takut amalnya menjadi sia-sia. Allah Ta’ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ۝ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di sana tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang di akhirat tidak memperoleh apa-apa kecuali neraka.” (QS. Hud: 15–16)

Viral: Kesuksesan atau istidraj?

Popularitas bisa menjadi nikmat jika digunakan untuk berdakwah dan menyebar kebaikan. Namun bisa pula menjadi istidraj, yaitu kenikmatan duniawi yang Allah berikan kepada orang yang durhaka, agar semakin jauh dari-Nya dan semakin bertambah hukuman dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An‘am: 44)

Viral tidak selalu berarti keberhasilan. Bisa jadi itu adalah istidraj, yaitu ketika seseorang merasa sedang naik, padahal sejatinya sedang digiring menuju kehancuran akhirat.

Cinta popularitas: Penyakit hati yang mematikan

Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah ḥubb al-dzuhūr (cinta tampil dan disanjung) dan juga cinta dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما ذئبان جائعان أُرسِلا في غنمٍ بأفسدَ لها من حِرصِ المرءِ على المالِ والشرفِ لدِينِه

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas ke dalam kumpulan kambing itu lebih merusak daripada keserakahan seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, sanadnya sahih)

Orang yang haus akan ketenaran, rela mengorbankan agamanya demi like dan view, maka kerusakannya lebih parah dari serigala yang memangsa sekumpulan kambing. Ia bisa merusak kehormatan dirinya, keikhlasan, dan rasa takut kepada Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْـيَا وَهِـيَ رَاغِمَـةٌ

“Barangsiapa yang tujuan (utama) hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, maka Allah Azza wa Jalla akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Dosa yang tersebar, pahala yang terhambat

FYP bisa menjadi sarana menyebarkan keburukan dan kemaksiatan. Jika seseorang memposting dosa, lalu ditonton dan ditiru orang lain, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang menirunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن سَنَّ سُنَّةً حَسنةً فعمِلَ بِها ، كانَ لَهُ أجرُها وَمِثْلُ أجرِ مَن عملَ بِها ، لا يَنقُصُ مِن أجورِهِم شيئًا ومن سنَّ سنَّةً سيِّئةً فعملَ بِها ، كانَ عليهِ وزرُها وَوِزْرُ مَن عملَ بِها من بعده لا ينقصُ من أوزارِهِم شيئًا

“Barang siapa yang memulai suatu sunah (perbuatan atau kebiasaan) yang baik, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu sunah yang buruk, lalu diamalkan oleh orang lain, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Lihatlah betapa bahayanya menyebar dosa di internet! Satu video joget, umpatan, sindiran terhadap agama, bisa menjadi sumber dosa yang tak kunjung henti, karena terus ditonton dan ditiru.

Kejaran dunia vs. Selamatnya akhirat

Allah Ta’ala memberi peringatan keras kepada orang-orang yang menghabiskan hidup hanya untuk popularitas dunia, tanpa memikirkan akhirat,

مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’: 18)

Sedangkan orang yang menggunakan media sosial untuk kebaikan, menahan diri dari konten maksiat, dan menjaga kemuliaan Islam, maka ia sedang menanam benih surga. Karena orang yang beriman akan menyadari bahwa dunia ini adalah penjara bagi dirinya sehingga dia menahan diri dari itu semua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنيا سجنُ المؤمنِ وجنَّةُ الْكافرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Jadilah terkenal di langit, bukan di dunia

Kita boleh menggunakan media sosial. Kita boleh berdakwah di TikTok, Instagram, atau YouTube. Tapi tujuan kita harus lurus: mencari rida Allah, bukan tepuk tangan manusia. Bukan viral yang kita kejar, tapi ampunan Allah. Bukan ketenaran yang kita dambakan, tapi surga yang abadi.

وَمَا هَـٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenar-benarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Kesuksesan sejati bukanlah viral di media sosial, tapi viral di langit, dikenal para malaikat karena amal saleh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ إذا أحَبَّ عَبْدًا دَعا جِبْرِيلَ فقالَ: إنِّي أُحِبُّ فُلانًا فأحِبَّهُ، قالَ: فيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنادِي في السَّماءِ فيَقولُ: إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلانًا فأحِبُّوهُ، فيُحِبُّهُ أهْلُ السَّماءِ، قالَ ثُمَّ يُوضَعُ له القَبُولُ في الأرْضِ

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyerukan kepada penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka seluruh penghuni langit pun mencintainya, kemudian diberikanlah penerimaan (rasa cinta dan simpati) untuknya di bumi (di hati manusia).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah ketenaran yang hakiki: dicintai Allah, dikenal di langit, meskipun mungkin tidak dikenal manusia di dunia. Semoga kita tidak termasuk orang yang FYP di dunia, namun merana di akhirat. Mari niatkan semua amal di media sosial karena Allah, hindari konten maksiat, dan gunakan platform digital sebagai jalan dakwah, bukan ladang dosa.

Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Ditulis di Jember, 3 Zulhijah 1446

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Sumber: https://muslimah.or.id/30173-fyp-di-dunia-rugi-di-akhirat.html

Delapan Kunci Meraih Keselamatan Hati

Hati merupakan pusat kehidupan bagi manusia, yang darinya terpancar kebaikan maupun keburukan seluruh amalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Hadis ini menegaskan bahwa inti dari kehidupan seorang muslim terletak pada keselamatan hatinya. Oleh karena itu, seorang hamba wajib menjaga hatinya dari berbagai penyakit batin seperti riya, hasad, dengki, dan buruk sangka. Sebaliknya, hati harus selalu dihiasi dengan amal-amal yang diridai Allah, seperti ikhlas, sabar, rida, husnuzan, dan cinta kepada sesama muslim. Keselamatan hati inilah yang akan menentukan baik-buruknya akhlak dan amal lahir seorang muslim, serta menjadi barometer utama dalam perjalanannya berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Berikut adalah delapan kunci yang paling utama bagi seorang muslim untuk meraih keselamatan hati dan ketentraman jiwa:

Pertama: Ikhlas karena Allah

Ikhlas merupakan pondasi utama diterimanya amalan seorang hamba. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun tidak ada artinya di sisi Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

الإخلاص أن لا تطلب على عملك شاهداً غير الله، ولا مجازياً سواه

“Ikhlas adalah engkau tidak mencari saksi atas amalmu kepada selain Allah, dan tidak mengharap balasan selain dari-Nya.” (Madarijus Salikin, 9: 96)

Ikhlas adalah ketika seseorang beribadah hanya kepada Allah semata, tidak ingin dilihat, dipuji, atau diberi imbalan oleh manusia, melainkan mengharap rida dan pahala hanya dari Allah saja.

Kedua: Rida dengan takdir Allah

Keselamatan hati juga terwujud dengan menerima takdir Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Merasa puaslah dengan apa yang Allah tetapkan bagimu, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi no. 2305, hasan shahih)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,

فأمّا الرضا بالقضاء: فهو من علامات المحبّين الصادقين في المحبة، فمتى امتلأت القلوب بمحبّة مولاها رضيت بكل ما يقضيه عليها من مؤلم وملائم

Adapun rida terhadap takdir, maka itu termasuk tanda dari orang-orang yang benar dalam kecintaannya. Apabila hati telah penuh dengan cinta kepada Rabbnya, maka ia akan rida dengan segala yang Allah tetapkan baginya, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.” (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1: 113)

Rida kepada takdir adalah bukti cinta sejati seorang hamba kepada Allah, ia menerima dengan lapang dada apa pun yang Allah tetapkan, baik itu nikmat yang indah ataupun ujian yang berat.

Ketiga: Banyak membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah obat bagi hati yang sakit, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

لا شيء أنفع للقلب من قراءة القرآن بالتدبر؛ فإنه جامعٌ لمنازل السائرين وأحوال العاملين ومقامات العارفين وسائر الأحوال التي بها حياة القلب وكماله

“Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dibandingkan membaca Al-Qur’an dengan mentadabburinya. Karena Al-Qur’an mencakup seluruh tingkatan perjalanan para penempuh jalan Allah, keadaan orang-orang yang rajin beramal, kedudukan orang-orang yang benar-benar mengenal Allah, dan seluruh keadaan yang dengannya hati bisa hidup dan mencapai kesempurnaan.” (Madarijus Salikin, 1: 187)

Keempat: Husnuzan kepada sesama Muslim

Berprasangka baik (huznuzan) kepada sesama muslim adalah tanda hati yang selamat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إيّاكم والظنّ فإنّ الظنّ أكذب الحديث

“Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Muslim no. 6701)

Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

لا يحل لامرئ مسلم يسمع من أخيه كلمة يظن بها سوءًا، وهو يجد لها في شيء من الخير مخرجًا

Tidak halal bagi seorang muslim ketika mendengar perkataan dari saudaranya, lalu ia berprasangka buruk kepadanya, padahal ia masih bisa mendapati adanya kebaikan dari ucapannya itu.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah li Ibni Muflih, 1: 47)

Kelima: Memberi nasihat yang terbaik bagi orang lain

Memberi nasihat kepada sesama muslim adalah tanda hati yang selamat dan tidak akan pernah merugi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ

“‘Agama itu ialah nasihat.’ Kami bertanya, ‘Untuk siapa?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin’.” (HR. Muslim no. 55)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

من دلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,

حقيقة النصيحة إرادة الخير للمنصوح له

“Hakikat nasihat adalah menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasihati.” (Jami’ Al-‘Ulum wal-Hikam, 1: 222)

Keenam: Memperbanyak doa

Doa adalah ibadah hati yang paling mulia, dengan begitu hati akan selamat dan merasa tentram. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu’.” (QS. Ghafir: 60)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud no. 1479 dan Tirmidzi no. 2969)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah Ta‘ala daripada doa.” (HR. At-Tirmidzi no. 3370, sahih)

Ketujuh: Menebarkan salam

Salam juga menjadi kunci keselamatan hati dan menjaga ukhuwah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi salam dengan sebuah salam, maka balaslah dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah (dengan salam yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ، قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ، اللَّهِ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak setiap muslim atas muslim yang lain ada enam. Para sahabat pun bertanya, ‘Apa saja itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Apabila engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam. Jika ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya. Jika ia meminta nasihat kepadamu, maka berilah ia nasihat. Jika ia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka doakanlah ia. Jika ia sakit, maka jenguklah. Dan jika ia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya’.” (HR. Muslim no. 2162)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Menyebarkan salam adalah sebab tumbuhnya cinta dan keselamatan hati.” (Syarh Shahih Muslim, 1: 74)

Kedelapan: Memberikan hadiah

Hadiah akan melunakkan hati, menumbuhkan kecintaan, dan menguatkan persaudaraan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Shahih Al-Jami’ no. 3004)

Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

الهديّة تورث المحبّة، وتذهب الضغينة

“Hadiah itu akan menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan kebencian.” (Raudhatul ‘Uqala’, hal. 112)

Keselamatan hati adalah kunci kebahagiaan seorang muslim di dunia dan akhirat. Dengan menjaga hati agar tetap bersih dan selamat, seorang muslim akan meraih derajat tinggi di sisi Allah Ta’ala dan kebahagiaan yang sejati. Sebagaimana firman-Nya,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88-89)

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bisshawab.

Sumber: https://muslim.or.id/110026-delapan-kunci-meraih-keselamatan-hati.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Hidayah Bukan Warisan, Anak Bisa Berbeda dari Orang Tuanya

Ada ayah yang kafir, tetapi anaknya justru menjadi pembela Islam. Ada pula orang tua yang jauh dari hidayah, sedangkan anaknya memilih iman dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah Walid bin Al-Mughirah dengan Khalid bin Al-Walid, Abdullah bin Ubay dengan putranya, hingga Abu Jahal dengan Ikrimah mengajarkan satu hal penting: hidayah bukan warisan, hidayah adalah karunia Allah.
Hidayah Bukan Warisan

Ada anak yang tumbuh dari rumah seorang pembesar kafir, tetapi kemudian menjadi pembela Islam. Ada pula seorang ayah yang dikenal sebagai tokoh munafik, sedangkan anaknya justru berdiri teguh membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sangat menginginkan pamannya mendapatkan hidayah, tetapi Allah menetapkan hal yang berbeda.

Semua kisah ini membawa kita kepada satu pelajaran besar dalam pendidikan anak: orang tua memiliki kewajiban mendidik, tetapi orang tua tidak memiliki hati anaknya. Hidayah adalah milik Allah.

Allah Ta‘ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS. Al-Qashash: 56)

Ayat ini tidak mengajarkan orang tua untuk pasrah tanpa mendidik. Justru orang tua harus sungguh-sungguh menanamkan iman, memberikan teladan, memilih lingkungan yang baik, dan tidak berhenti berdoa. Namun, setelah semua usaha dilakukan, kita tetap harus menyadari bahwa hidayah taufik berasal dari Allah semata.

Walid bin Al-Mughirah dan Khalid bin Al-Walid: Ayah Menentang Al-Qur’an, Anak Membela Islam

Salah satu contoh paling menarik adalah keluarga Bani Makhzum. Ayahnya adalah Al-Walid bin Al-Mughirah, salah satu pembesar Quraisy. Anaknya adalah Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, yang kelak menjadi salah seorang panglima terbesar kaum muslimin.

Walid bin Al-Mughirah telah melihat keagungan Al-Qur’an

Para ahli tafsir menyebut bahwa firman Allah,

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا ۝ وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا ۝ وَبَنِينَ شُهُودًا ۝ وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا ۝ ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ ۝ كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya. Aku berikan kepadanya kekayaan yang melimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya kehidupan dengan selapang-lapangnya. Kemudian, dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia sangat menentang ayat-ayat Kami.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–16)

berkaitan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.

Ibnu Katsir rahimahullah menyebut Al-Walid sebagai salah seorang pemimpin Quraisy. Dalam salah satu riwayat tafsir disebutkan bahwa ketika Al-Walid mendengar Al-Qur’an, ia mengetahui bahwa perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah syair, bukan pula perkataan orang gila. Dalam riwayat dari ‘Ikrimah disebutkan bahwa Al-Walid bahkan mengakui keistimewaan Al-Qur’an. Akan tetapi, setelah mendapat tekanan dari Abu Jahal dan mempertimbangkan kedudukan sosialnya di tengah Quraisy, ia akhirnya menuduh Al-Qur’an sebagai sihir yang dipelajari dari orang terdahulu.

Allah menggambarkan proses buruk itu:

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ۝ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ۝ ثُمَّ نَظَرَ ۝ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ۝ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ۝ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ۝ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ ۝ سَأُصْلِيهِ سَقَرَ

“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan. Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Lalu berwajah masam dan cemberut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini hanyalah sihir yang dipelajari dari dahulu. Ini hanyalah perkataan manusia.’ Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 18–26)

Walid memperoleh harta, anak-anak, kedudukan, dan kecerdasan. Namun, semua itu tidak otomatis mendatangkan hidayah.

Anak Walid justru mendapatkan hidayah

Yang menarik, Allah kemudian memberikan hidayah kepada salah seorang putranya: Khalid bin Al-Walid.

Khalid dahulu berada di pihak Quraisy. Ia termasuk orang yang memiliki kemampuan militer luar biasa. Ketika Perang Uhud, Khalid masih berada di barisan musyrikin dan mempunyai peran penting ketika pasukan berkuda Quraisy memanfaatkan celah setelah para pemanah kaum muslimin meninggalkan posisi mereka.

Namun, setelah Perjanjian Hudaibiyah, pandangan Khalid mulai berubah.

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Dalā’il al-Nubuwwah kisah masuk Islamnya Khalid. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk Umrah Qadha, Khalid tidak menampakkan diri. Saudaranya, Al-Walid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, mencarinya tetapi tidak menemukannya.

Al-Walid kemudian menulis surat kepada Khalid. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat bertanya,

أَيْنَ خَالِدٌ؟

“Di mana Khalid?”

Al-Walid menjawab bahwa Allah akan mendatangkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyatakan bahwa orang seperti Khalid semestinya tidak bodoh terhadap Islam. Sekiranya tenaga dan kesungguhannya diarahkan bersama kaum muslimin untuk menghadapi kaum musyrikin, itu tentu lebih baik baginya.

Al-Walid kemudian menasihati saudaranya agar segera mengejar kesempatan yang telah terlewat.

Khalid berkata,

فَلَمَّا جَاءَنِي كِتَابُهُ نَشِطْتُ لِلْخُرُوجِ، وَزَادَنِي رَغْبَةً فِي الْإِسْلَامِ

“Ketika suratnya sampai kepadaku, aku pun bersemangat untuk berangkat. Surat itu semakin menambah keinginanku untuk masuk Islam.”

Khalid kemudian berangkat menuju Madinah. Dalam perjalanan ia bertemu dengan ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Utsman bin Thalhah yang juga hendak menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka akhirnya masuk Islam.

Sejak saat itu, kehidupan Khalid berubah total.

Dahulu, kecerdasannya digunakan melawan kaum muslimin. Setelah mendapatkan hidayah, kecerdasan yang sama digunakannya membela Islam.

Ayahnya adalah Al-Walid bin Al-Mughirah yang diancam dengan neraka Saqar. Anaknya adalah Khalid bin Al-Walid yang kelak dikenal sebagai salah seorang pahlawan Islam.

Inilah bukti nyata bahwa akidah tidak diwariskan melalui darah.

Catatan takhrij kisah Khalid

Riwayat tentang surat Al-Walid kepada Khalid serta proses menuju keislamannya terdapat dalam Al-Baihaqi, Dalā’il al-Nubuwwah, jilid 4, sekitar hlm. 350, dalam bab tentang masuk Islamnya Khalid bin Al-Walid. Riwayat ini merupakan riwayat sirah, sehingga kedudukannya tidak disamakan dengan hadis marfu‘ sahih dalam Shahih Al-Bukhari atau Shahih Muslim. Inti sejarah bahwa Khalid masuk Islam sebelum Fathu Makkah pada tahun kedelapan Hijriah merupakan fakta sirah yang masyhur.

Adapun riwayat tafsir mengenai perkataan Al-Walid ketika mendengar Al-Qur’an disebutkan Ibnu Katsir dari beberapa jalur tafsir, di antaranya riwayat ‘Ikrimah dan jalur Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas. Detail-detailnya merupakan atsar tafsir, bukan semuanya hadis marfu‘ dengan sanad sahih. Karena itu, yang dapat ditegaskan dengan yakin adalah bahwa para mufasir mengaitkan QS. Al-Muddatstsir: 11 dan seterusnya dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.

Abdullah bin Ubay dan Abdullah bin Abdullah: Ayah Pemimpin Munafik, Anak Membela Rasulullah

Perbedaan iman ayah dan anak juga terlihat sangat tajam pada keluarga Abdullah bin Ubay bin Salul.

Abdullah bin Ubay adalah tokoh kaum munafik Madinah. Namun, putranya yang juga bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu justru seorang mukmin yang tulus.

Kesombongan Abdullah bin Ubay

Ketika terjadi peperangan Bani Musthaliq, timbul pertengkaran antara seorang Muhajirin dengan seorang Anshar.

Masing-masing sempat memanggil kelompoknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seruan kesukuan itu dan bersabda,

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Tinggalkanlah seruan itu karena ia adalah sesuatu yang busuk.”

Peristiwa tersebut dimanfaatkan Abdullah bin Ubay. Ia berkata,

لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ

“Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir orang yang hina darinya.”

Ucapan itu kemudian diabadikan Allah,

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Mereka berkata, ‘Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, orang yang kuat benar-benar akan mengusir orang-orang yang lemah darinya.’ Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu meminta izin untuk membunuh Abdullah bin Ubay. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْهُ، لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ

“Biarkan dia. Jangan sampai orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.”

Pokok kisah ini diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.

Anaknya justru menghadang ayahnya

At-Tirmidzi meriwayatkan tambahan yang sangat menarik.

Ketika perjalanan kembali menuju Madinah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay menghadang ayahnya sendiri. Ia berkata,

وَاللَّهِ لَا تَنْقَلِبُ حَتَّى تُقِرَّ أَنَّكَ الذَّلِيلُ، وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْعَزِيزُ

“Demi Allah, engkau tidak akan kembali sampai engkau mengakui bahwa engkaulah yang hina dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mulia.”

Ayahnya akhirnya mengakuinya.

Perhatikan keadaan keduanya.

Ayahnya mengatakan bahwa Rasulullah dan kaum mukminin akan diusir sebagai orang-orang hina.

Anaknya justru berdiri di hadapan ayahnya dan menegaskan bahwa kemuliaan adalah milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Satu ayah, satu anak, satu rumah, tetapi hati keduanya berada pada jalan yang berbeda.

Takhrij

Hadis pokok tentang pertengkaran Muhajirin dan Anshar serta ucapan Abdullah bin Ubay diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 3518; Muslim, no. 2584; At-Tirmidzi, no. 3315; An-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubra, no. 8863; dan Ahmad, no. 15223.

Tambahan tentang Abdullah bin Abdullah menghadang ayahnya terdapat dalam riwayat At-Tirmidzi, no. 3315. At-Tirmidzi menilainya:

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Hadis ini hasan sahih.”

Al-Albani juga menilainya sahih dalam Shahih At-Tirmidzi.

Abu Jahal dan Ikrimah: Ayah Musuh Islam, Anak Menjadi Sahabat

Contoh ketiga tidak kalah menggetarkan.

Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam adalah salah seorang tokoh terbesar yang memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mati dalam keadaan memerangi Islam pada Perang Badar.

Namun, anaknya, ‘Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu, akhirnya justru menjadi seorang muslim.

Siapakah Abu Jahal?

Nama asli Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Ia berasal dari Bani Makhzum, salah satu kabilah terpandang Quraisy. Ia juga masih satu lingkungan keluarga besar dengan Al-Walid bin Al-Mughirah, ayah Khalid bin Al-Walid.

Sebelum Islam, ia dikenal dengan kunyah Abu Al-Hakam karena kedudukan dan pengaruhnya di tengah Quraisy. Namun, kaum muslimin kemudian mengenalnya sebagai Abu Jahal, karena kerasnya penentangan dan kebodohannya terhadap kebenaran.

Permusuhan Abu Jahal kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar penolakan dalam hati. Ia aktif menghalangi dakwah Nabi dan menyakiti kaum muslimin.

Di antara kejahatannya adalah berusaha menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari shalat di dekat Ka‘bah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Jahal pernah bertanya kepada orang-orang Quraisy,

هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟

“Apakah Muhammad masih meletakkan wajahnya di tanah (bersujud) di tengah-tengah kalian?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Abu Jahal berkata,

وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ

“Demi Latta dan ‘Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, sungguh aku akan menginjak lehernya atau membenamkan wajahnya ke tanah.”

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, Abu Jahal mendekati beliau untuk melakukan ancamannya. Namun, tiba-tiba ia mundur sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.

Ketika ditanya, ia mengatakan bahwa antara dirinya dan Muhammad terdapat parit api, sesuatu yang mengerikan, dan sayap-sayap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,

لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا

“Seandainya ia mendekat kepadaku, sungguh para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” (HR. Muslim, no. 2797)

Begitulah kerasnya permusuhan Abu Jahal. Ia mengetahui Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidup sezaman dengannya, menyaksikan dakwahnya, dan mendengar Al-Qur’an, tetapi semua itu tidak membuatnya tunduk.

Abu Jahal menjadi salah satu pemimpin pasukan Quraisy di Badar

Permusuhannya terus berlangsung hingga Perang Badar.

Ketika kafilah Abu Sufyan sebenarnya telah selamat dan alasan utama keberangkatan pasukan Quraisy sudah tidak ada, Abu Jahal justru bersikeras agar pasukan Quraisy tetap maju ke Badar. Ia menginginkan Quraisy tinggal di sana beberapa hari, menyembelih unta, makan, minum khamar, dan didengar oleh bangsa Arab sehingga mereka semakin takut kepada Quraisy. Perincian ini dikenal dalam riwayat sirah.

Kesombongan tersebut akhirnya membawanya menuju kematian.

Dalam Perang Badar, Abu Jahal terluka parah setelah diserang oleh dua pemuda Anshar. ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ketika berada dalam barisan Perang Badar, ia mendapati dua pemuda di kanan dan kirinya.

Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya secara diam-diam,

يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ

“Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.”

‘Abdurrahman bertanya, “Apa yang akan engkau lakukan kepadanya?”

Pemuda itu menjawab bahwa ia telah mendengar Abu Jahal mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bersumpah bahwa jika melihatnya, ia tidak akan membiarkannya.

Pemuda yang satunya ternyata mempunyai keinginan yang sama.

Ketika ‘Abdurrahman melihat Abu Jahal, ia menunjukkannya kepada kedua pemuda tersebut. Keduanya segera menyerangnya hingga Abu Jahal tersungkur.

Kedua pemuda itu adalah Mu‘adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh dan Mu‘awwidz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhum. Setelah itu, Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu mendapati Abu Jahal dalam keadaan terluka parah hingga akhirnya tewas.

Pokok kisah dua pemuda yang menyerang Abu Jahal diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Dengan demikian, Abu Jahal mengakhiri kehidupannya dalam keadaan memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, kisah ayah tidak harus menjadi akhir kisah anak.

Ikrimah melarikan diri ketika Fathu Makkah

Ketika Fathu Makkah, nama Ikrimah termasuk orang-orang yang pada awalnya dikecualikan dari jaminan keamanan umum karena kerasnya permusuhan yang pernah ia lakukan.

Ikrimah kemudian melarikan diri dan menaiki kapal.

Dalam perjalanan laut, datang angin yang sangat kencang.

Orang-orang di kapal berkata,

أَخْلِصُوا، فَإِنَّ آلِهَتَكُمْ لَا تُغْنِي عَنْكُمْ شَيْئًا هَاهُنَا

“Murnikanlah doa kalian kepada Allah karena sesembahan-sesembahan kalian tidak berguna sedikit pun bagi kalian di sini.”

Ikrimah kemudian berkata,

وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ يُنَجِّنِي فِي الْبَحْرِ إِلَّا الْإِخْلَاصُ، لَا يُنَجِّينِي فِي الْبَرِّ غَيْرُهُ

“Demi Allah, jika di laut ini tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain memurnikan ibadah kepada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain Dia.”

Kemudian ia berdoa dan berjanji bahwa jika Allah menyelamatkannya, ia akan mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meletakkan tangannya di tangan beliau.

Ikrimah berkata bahwa ia yakin akan mendapati Rasulullah sebagai orang yang pemaaf dan mulia.

Ia kemudian datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.

Sebuah perubahan yang sangat besar.

Dahulu ia melarikan diri dari Islam. Namun, di tengah gelombang laut, tauhid menjadi begitu nyata baginya. Allah membuka hatinya melalui keadaan yang tidak pernah ia rencanakan.

Takhrij

Kisah ini diriwayatkan dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu oleh Abu Dawud, no. 2683; An-Nasa’i, no. 4067; dan Al-Hakim.

Ibnu Al-Mulaqqin menilainya sahih dalam Al-Badr al-Munir, 9/153. Al-Albani juga menilai riwayat An-Nasa’i tersebut sahih. Al-Haitsami menyatakan bahwa para perawinya tsiqah.

Adapun kisah tambahan bahwa Ummu Hakim meminta jaminan keamanan bagi suaminya dan kemudian mencarinya tercantum dalam riwayat sirah Ibnu Ishaq sebagaimana dibawakan Ibnu Hisyam.

Ada riwayat populer yang berbunyi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat agar tidak mencela Abu Jahal ketika Ikrimah datang. Riwayat khusus dengan lafaz,

يَأْتِيكُمْ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ مُؤْمِنًا مُهَاجِرًا، فَلَا تَسُبُّوا أَبَاهُ…

dinilai maudhu‘ oleh Al-Albani. Karena itu, riwayat tersebut tidak layak dijadikan dalil dalam buku ini.

Inilah pentingnya membedakan kisah sirah yang masyhur dengan hadis yang sanadnya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Abu Thalib: Dicintai Nabi, tetapi Hidayah Tetap Milik Allah

Kalau tiga kisah sebelumnya memperlihatkan perbedaan antara ayah dan anak, kisah Abu Thalib merupakan dalil paling tegas bahwa hidayah taufik tidak dimiliki siapa pun selain Allah.

Abu Thalib sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah paman yang mengasuh dan melindungi beliau.

Ketika Abu Thalib berada dalam keadaan menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di samping Abu Thalib ketika itu terdapat Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah’, sebuah kalimat yang dengannya aku dapat memberikan kesaksian untukmu di sisi Allah.”

Namun, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata,

يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟

“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muththalib?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan kalimat tauhid kepadanya. Sebaliknya, kedua orang tadi terus mengulang ucapan mereka.

Hingga ucapan terakhir Abu Thalib adalah bahwa ia tetap berada di atas agama Abdul Muththalib.

Kemudian turun firman Allah,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Bayangkan.

Yang mengajak adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang diajak adalah paman yang sangat beliau cintai dan yang bertahun-tahun membela beliau.

Rasulullah telah menjelaskan.

Rasulullah telah mengajak.

Rasulullah sangat menginginkannya beriman.

Namun, Rasulullah tidak dapat memasukkan iman ke dalam hati seseorang.

Maka bagaimana mungkin seorang ayah atau ibu merasa bahwa dirinya mampu memastikan hidayah anaknya?

Takhrij

Hadis ini diriwayatkan dari Al-Musayyib bin Hazn radhiyallahu ‘anhu oleh Al-Bukhari, no. 3884, dan Muslim, no. 24. Juga diriwayatkan An-Nasa’i, no. 2035, dan Ahmad, no. 23674 dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadis ini muttafaq ‘alaihdari sisi asal riwayatnya.

Abu Hurairah dan Ibunya: Jangan Putus Asa Mendoakan Hidayah Keluarga

Tidak semua kisah perbedaan iman antara orang tua dan anak berakhir dengan perpisahan dalam akidah.

Kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu memberikan harapan besar bagi setiap anak yang masih memiliki orang tua atau anggota keluarga yang jauh dari ketaatan.

Abu Hurairah berkata,

كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ

“Aku dahulu mengajak ibuku kepada Islam, sedangkan ia masih musyrik.”

Suatu hari Abu Hurairah mengajak ibunya kembali kepada Islam. Namun, sang ibu mengatakan sesuatu tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat menyakitkan hatinya.

Abu Hurairah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis.

Ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ فَتَأْبَى عَلَيَّ…

“Wahai Rasulullah, aku dahulu mengajak ibuku kepada Islam, tetapi ia selalu menolakku….”

Kemudian ia meminta,

فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Berdoalah kepada Allah agar memberikan hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa,

اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”

Abu Hurairah keluar dengan gembira karena doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika sampai di rumah, ia mendapati pintunya tertutup. Ibunya meminta Abu Hurairah menunggu. Abu Hurairah mendengar suara air. Ibunya mandi, mengenakan pakaian, lalu membuka pintu.

Kemudian sang ibu berkata,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Abu Hurairah kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kali ini ia kembali menangis.

Namun, tangisannya telah berubah.

Tadi ia menangis karena kesedihan.

Sekarang ia menangis karena kegembiraan.

Ia berkata,

أَبْشِرْ، قَدِ اسْتَجَابَ اللَّهُ دَعْوَتَكَ، وَهَدَى أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Bergembiralah. Allah telah mengabulkan doamu dan memberikan hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah.

Takhrij

Hadis ini diriwayatkan Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2491. Riwayat semakna juga dikeluarkan Ahmad, no. 8259, dan Ibnu Hibban, no. 7154. Karena terdapat dalam Shahih Muslim, status hadis ini sahih.

Tiga Pelajaran Besar untuk Orang Tua

Pertama: Anak bukan salinan orang tuanya

Ayah yang saleh tidak boleh merasa pasti bahwa anaknya akan saleh.

Sebaliknya, seorang anak yang lahir dari lingkungan yang buruk tidak boleh merasa bahwa masa depannya sudah ditentukan oleh keburukan keluarganya.

Khalid tidak harus menjadi Walid kedua.

Ikrimah tidak harus menjadi Abu Jahal kedua.

Abdullah tidak harus mengikuti kemunafikan Abdullah bin Ubay.

Allah dapat mengeluarkan seorang pembela Islam dari rumah orang yang memusuhi Islam.

Kedua: kewajiban orang tua adalah menempuh sebab hidayah

Mengatakan bahwa hidayah berada di tangan Allah bukan alasan untuk mengabaikan pendidikan.

Allah memerintahkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Orang tua tetap wajib mengajarkan tauhid, shalat, adab, halal dan haram. Orang tua harus memilih lingkungan yang baik, menjaga teman anak, mencontohkan kebaikan, dan memperbanyak doa.

Kita tidak memiliki hidayah, tetapi kita diperintahkan menjadi sebab menuju hidayah.

Ketiga: jangan pernah berhenti mendoakan anak

Kisah ibu Abu Hurairah memberikan harapan.

Hari ini seseorang mungkin belum menerima nasihat.

Besok Allah dapat membalikkan hatinya.

Hari ini seorang anak mungkin menjauh.

Besok Allah dapat mendekatkannya.

Karena hati manusia berada di tangan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Dia membolak-balikkannya ke mana saja yang Dia kehendaki.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah, Dzat Yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 2654)

Orang Tua Menanam, Allah yang Menumbuhkan

Pendidikan anak adalah usaha panjang.

Orang tua menanam tauhid. Orang tua menyiramnya dengan ilmu. Orang tua menjaganya dengan keteladanan dan doa. Namun, yang menumbuhkan iman dalam hati tetaplah Allah.

Karena itu, keberhasilan mendidik anak tidak semestinya membuat orang tua sombong.

“Anakku saleh karena aku.”

“Anakku hafal Al-Qur’an karena pendidikanku.”

“Anakku baik karena aku berhasil mendidiknya.”

Seharusnya seorang ayah atau ibu berkata dalam hati, “Alhamdulillah, Allah memberikan hidayah kepadanya.”

Sebaliknya, jika seorang anak sedang jauh dari jalan Allah, jangan segera berputus asa.

Teruslah menasihati dengan cara yang baik.

Teruslah menjadi teladan.

Teruslah mencari pintu masuk menuju hatinya.

Dan terutama, teruslah mengetuk pintu langit.

Sebab, orang yang hari ini masih seperti Khalid sebelum masuk Islam, bisa saja kelak menjadi Khalid yang membela Islam.

Orang yang hari ini masih seperti Ikrimah yang berlari menjauh, bisa saja suatu saat kembali mendatangi Allah dengan hati yang tunduk.

Kita mendidik anak semaksimal mungkin, tetapi kita tidak menggantungkan hasil kepada kemampuan kita. Kita menggantungkan hati mereka kepada Allah.

Referensi

  • Al-Baihaqi, A. ibn al-H. (n.d.). Dalā’il al-nubuwwah wa ma‘rifat aḥwāl ṣāḥib al-sharī‘ah (Vol. 4, p. 350). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • Al-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadith nos. 3518, 3884). Dar Tawq al-Najah.
  • Al-Hakim al-Naisaburi, M. ibn ‘A. (n.d.). Al-Mustadrak ‘ala al-Ṣaḥīḥayn. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • Al-Nasa’i, A. ibn S. (n.d.). Al-Sunan. Maktab al-Matbu‘at al-Islamiyyah. Hadith no. 4067.
  • Al-Tirmidhi, M. ibn ‘I. (n.d.). Sunan al-Tirmidhī. Mustafa al-Babi al-Halabi. Hadith no. 3315.
  • Abu Dawud, S. ibn al-A. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd. Al-Maktabah al-‘Asriyyah. Hadith no. 2683.
  • Ibn Hisham, ‘A. al-M. (n.d.). Al-Sīrah al-nabawiyyah (Vol. 2). Mustafa al-Babi al-Halabi.
  • Ibn Kathir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salamah, Ed.). Dar Tayyibah.
  • Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim (Hadith nos. 24, 2491, 2654). Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
  • Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsū‘ah al-ḥadīthiyyah. https://dorar.net/
  • Islamweb. (n.d.). Al-Maktabah al-Islāmiyyah: Tafsīr Ibn Kathīr, Dalā’il al-nubuwwah, dan al-Sīrah al-nabawiyyah. https://www.islamweb.net/

—–

Sabtu Sore, 23 Rabiul Awal 1448 H, 5 September 2027 @ Bawen Jawa Tengah

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42762-hidayah-bukan-warisan-anak-bisa-berbeda-dari-orang-tuanya.html

Teks Khotbah Jumat: Menghadapi Musibah dan Cobaan dengan Kesabaran

Khotbah pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Akhir-akhir ini, kita mendengar banyaknya saudara kita di Indonesia yang tertimpa musibah dan bencana. Dari banjir yang datang tiba-tiba, tanah longsor, cuaca ekstrim, dan yang terkini adalah gempa bumi yang terjadi berulang kali dan mengakibatkan banyaknya korban jiwa serta kerugian materi.

Sungguh cobaan dan ujian sudah menjadi sunatullah dalam kehidupan dunia ini. Tidak ada satu pun dari makhluk Allah, kecuali pasti akan merasakan dan menghadapi ujian, cobaan, dan bencana, baik mereka itu adalah hamba-hamba yang taat maupun hamba-hamba yang senang bermaksiat. Al-Qur’an telah mengingatkan kita akan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً 

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Allah Ta’ala juga berfirman,

لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ 

“Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu.” (QS. Al-Imran: 186)

Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Jemaah yang semoga senantiasa diliputi kebahagiaan.

Allah Ta’ala juga menjelaskan bahwa pada asalnya fitrah kehidupan manusia adalah perjuangan dan susah payah,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Hasan Al-Basri rahimahullah mengatakan, “Harus bisa bersyukur saat mendapatkan kemudahan serta kelapangan dan harus bersabar saat ditimpa kesulitan, karena dia (manusia) tak akan lepas dari keduanya (kondisi lapang dan kesulitan).” (Tafsir Al-Qurtubi, 20: 62)

Oleh karena itu, jemaah Jumat sekalian.

Kehidupan dunia ini bukanlah surga yang penuh kenikmatan, akan tetapi sejatinya adalah tempat ujian dan beramal. Siapa yang mengetahui dengan yakin hakikatnya, maka ia tidak akan kaget dan terkejut dengan bencana dan ujian yang menimpanya.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

أنَّ العَوَارِض والمِحَن هِيَ كالحَرِّ والبَرْدِ، فإِذا عَلِمَ العَبْدُ أَنَّهُ لابُدَّ مِنْهُمَا لَمْ يَغْضَبْ لِوُرُودِهِمَا، ولَمْ يَغْتَمَّ لذلك ولَمْ يَحْزَنْ

“Rasa susah dan kesengsaraan itu seperti panas dan dingin. Jika seorang hamba menyadari bahwa keduanya pasti terjadi, dia tidak akan marah ketika itu terjadi, tidak tertekan karenanya, serta tidak pula bersedih.” (Ibnul Qayyim menyampaikan hal ini dalam kitabnya Madariju As-Saalikiin, 3: 361)

Jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan karunia dan kemudahan dari Allah Ta’ala,

Sungguh, kunci kesuksesan di dalam menghadapi ujian dan musibah adalah kesabaran. Pada lanjutan ayat,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Allah Ta’ala berfirman,

وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ * اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ * اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Hanya saja, untuk mencapai derajat kesabaran ini pastilah tidak mudah. Syariat Islam telah memberikan beberapa pondasi keyakinan yang akan menguatkan bangunan kesabaran pada diri kita.

Rida dan menerima atas setiap takdir dan ketentuan Allah Ta’ala

Beriman terhadap takdir membuahkan ketentraman hati dan ketenangan pada seorang hamba dan membuahkan kesabaran dalam setiap ujian yang menimpanya.

Dengan keimanan tersebut, seorang mukmin menjadi yakin bahwa apa yang menimpanya, maka itu telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala dan tidak akan meleset darinya. Dan apa yang tidak ditakdirkan Allah Ta’ala untuknya, maka tidak akan terjadi. Allah Ta’ala menegaskan hal ini di banyak ayat dalam kitab-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.“ (QS. At-Tagabun: 11)

Menghadirkan dan membangkitkan kesadaran diri akan keagungan pahala bersabar

Jemaah yang berbahagia, ayat-ayat yang menjelaskan keutamaan bersabar sangatlah banyak jumlahnya. Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia akan selalu bersama orang-orang yang sabar, membantu, menolong, dan memperhatikan mereka yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa orang-orang yang bersabar mendapatkan hak untuk masuk ke dalam surga, bahkan para malaikat memberikan salam dan ucapan selamat kepada mereka di saat memasukinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ * جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ * سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga-surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka, alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 22-24)

Keutamaan bersabar ini juga banyak disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis-hadisnya. Bahkan, kesabaran merupakan karunia terbesar yang diberikan kepada seseorang. Karena balasannya tak terhingga dan tak terbatas. Di antaranya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari no. 1469)

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

Khotbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Faktor ketiga yang akan menguatkan pondasi kesabaran kita saat menghadapi musibah dan ujian adalah:

Berbaik sangka kepada Allah Ta’ala

Meyakini dengan kuat akan janji Allah Ta’ala perihal luasnya kebaikan dan rahmat-Nya. Yakin bahwa setelah rasa sempit pasti akan ada kelapangan dan setelah kesulitan ada kemudahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ * اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. AS-Syarh: 5-6)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah berkata kepada sepupunya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu,

واعلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبرِ، وأنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وأنَّ معَ العُسْرِ يُسرًا

“Ketahuilah, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesukaran itu ada kemudahan.” (HR. Ahmad no. 2804, Thabrani 11/ 123 no. 11243 dan Al-Hakim no. 6304)

Jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala,

Kunci kesabaran yang terakhir adalah,

Tidak tergesa-gesa di dalam meminta terkabulnya doa-doa kita saat musibah menimpa

Tentu kita semua pernah mendengar kisah Nabi Yakub ‘alaihissalam, bertahan puluhan tahun di atas cobaan yang menimpanya, tanpa sedetik pun pupus dan hilang harapannya untuk bertemu anaknya kembali. Bahkan, saat anak kesayangannya yang lain, Benyamin pergi darinya, apa yang beliau ucapkan?

فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَنِيْ بِهِمْ جَمِيْعًاۗ 

“Maka, (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku.” (QS. Yusuf: 83)

Semoga Allah Ta’ala mengangkat semua musibah yang menimpa kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Mengganti kerugian yang ada dengan pahala dan rezeki yang berlipat.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ, وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ, وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ, وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari beralihnya keselamatan (yang merupakan anugerah)-Mu, dari datangnya siksa-Mu (bencana) secara mendadak, dan dari semua kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim no. 2739)

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa beriman dengan takdir dan keputusan-Mu, bersabar atas setiap musibah dan kesulitan yang sedang menimpa kami, dan bersyukur atas semua limpahan nikmat-Mu kepada kami.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/81386-teks-khotbah-jumat-menghadapi-musibah-dan-cobaan-dengan-kesabaran.html

Belajarlah Mencintai Karena Allah

Jika engkau mencintai istrimu karena Allah -selain karena pesona paras wajahnya- niscaya kecintaanmu akan lebih langgeng, meskipun usia istrimu semakin bertambah.. niscaya engkau lebih menerima kekurangan yang ada pada istrimu.. niscaya engkau lebih mudah menjaga pandangan matamu..

Jika engkau mencintai sahabatmu karena Allah.. niscaya engkau tetap baik kepadanya karena berharap wajah Allah meskipun ia kurang bersikap baik kepadamu. Karena persahabatanmu bukan dibangun di atas hubungan timbal balik antara engkau dengannya, akan tetapi karena mengharapkan kecintaan Allah padamu.

Penulis,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/5925

Hikmah Di Balik Musibah

HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Musibah. Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah kepada manusia. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala  kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya.

Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang dirundung dan didera dengan berbagai musibah, mulai dari gelombang  tsunami, lumpur lapindo, flu burung, busung lapar, gizi buruk, harga melonjak ditambah seabreg permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi, akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.

Sesungguhnya di balik musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya, diantara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:

1. Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [asy Syura/42: 30]

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Diriwayatkan  dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” [HR. Bukhari]

Dalam hadits lain beliau bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.
Itu merupakan balasan dari musibah yang diderita oleh seorang hamba sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” [HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan].

3. Sebagai parameter kesabaran seorang hamba.
Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah.
Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman,

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa,

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. [Al-Anbiyaa/21:83]

5. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap,dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.
Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata, sehingga ia mengadu: “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk keluar dari bencana ini kecuali hanya kepada-Mu.” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

8. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ

”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” [HR al Bukhari].

Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.
Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sem-purna. Hal ini dikarenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut, maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut. Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, ”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, “Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)

10. Dengan adanya musibah seseorang akan mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan ‘afiyah
Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah, diharapkan agar ia bisa betapa mahalnya nikmat yang selama ini ia terima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat musibah yang sedang diterimanya  dengan keridhaan dan kesabaran serta berserah diri kepada Allah Dzat  yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabarannya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat.” [Al-Jawabul Kafi hal. 118]

Oleh karena itulah marilah kita kembali kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita  ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah– yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.

Refrensi : Min fawaidil maradh – Darul Wathan

[Disalin dari فوائد المصيبة  Penulis Fariq bin Qaasim Anuz,  Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]

sumber: https://almanhaj.or.id/35441-hikmah-di-balik-musibah.html

Rumah Tangga Sakinah: Pondasi Terwujudnya Negeri yang Aman dan Makmur  

Hidup di negeri yang aman dan makmur merupakan dambaan setiap insan. Terwujudnya bukanlah sesuatu yang mustahil, bahkan ia dapat tercipta dengan menghidupkan nilai-nilai keimanan serta ketakwaan di tengah-tengah masyarakat. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Gambaran sebuah negeri yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya,

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

 “(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba: 15)

Keluarga memainkan peranan penting dalam terbentuknya masyarakat yang menegakkan iman dan takwa. Keluarga merupakan pondasi serta pilar utama dalam menanamkan nilai-nilai agama yang luhur. Maka, rumah sebagai tumpuan keluarga perlu dibangun di atas sakinah (ketentraman). Dengan demikian, keberadaan negeri yang aman dan makmur pun dapat terealisasi. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Kiat membangun rumah tangga sakinah

Menyadari nikmat pernikahan

Pernikahan adalah fitrah yang Allah tetapkan bagi manusia, yang membalut dua insan dengan kasih sayang dan cinta, sehingga jiwa pun menjadi nyaman, tenang, dan tenteram. Di dalamnya terpancar tanda-tanda kebesaran Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Akan tetapi, tabiat manusia seringkali lalai mensyukuri hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan dan menyertainya sehari-hari. Sebagaimana dikatakan di dalam sebuah syair,

‎الإنسان لا يعرف قدر النعمة إلا عند فقدها

“Manusia tidak akan menyadari kadar suatu nikmat, kecuali ketika ia kehilangan nikmat tersebut.”

Maka, nikmat pernikahan patut dijaga kelanggengannya dengan rasa syukur. Nikmat itu dipupuk dengan mengingat-ingat kebaikan dan kelebihan pasangan, serta tidak membanding-bandingkannya dengan orang lain.

Ingatlah bahwa suami adalah pakaian bagi istri dan istri pun adalah pakaian bagi suami. Keduanya saling melengkapi, menjaga, menutupi, dan menghiasi satu sama lain. Allah Ta’ala berfirman,

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

“Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu (para suami), dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Membangun rumah tangga di atas agama Allah

Salah satu cara mensyukuri nikmat pernikahan adalah dengan membangunnya di atas agama Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

‎فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  

“Bertakwalah kepada Allah, agar kamu bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran: 123)

Sebagaimana tujuan dari pernikahan adalah menyempurnakan agama, maka wajib bagi muslim dan muslimah untuk membina rumah tangga mereka di atas agama Allah, dengan menjalankan perkara yang diperintahkan dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang. Hal ini berdasarkan firman Allah,

ٱلطَّلَٰقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌۢ بِإِحْسَٰنٍ ۗ  وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُوا۟ مِمَّآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْـًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ ۖ  فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا ٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ  تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ  وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)

Pernikahan merupakan ibadah terpanjang dalam kehidupan seorang insan. Dan ibadah bagi seorang muslim haruslah dibangun di atas bashirah atau ilmu.

Ilmu akan menjaga bangunan rumah tangga dari kehancuran, pertentangan, dan perselisihan. Bahkan, ilmu akan menambah rasa cinta, kemesraan, dan kasih sayang antar suami istri. Ilmu mendatangkan sakinah, mawadah, dan rahmat dalam kehidupan rumah tangga. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

 Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman,

‎إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ  

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘raf: 56)

Dengan ilmu, suami dan istri akan saling bahu membahu menegakkan ketaatan kepada Allah, saling menganjurkan kepada hal-hal yang baik dalam urusan dunia maupun akhirat serta saling mengingatkan dan menjauhkan dari hal-hal buruk yang mendatangkan kemarahan dan kemurkaan Allah Jalla wa ‘Ala. Seperti kondisi yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

‎رحم اللهُ رجلًا قام من الليلِ فصلَّى وأيقظ امرأتَه، فإن أبَتْ نضح في وجهِها الماءَ. رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها، فإن أبى نضحت في وجهه الماءَ

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu dia salat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri tidak bangun, maka ia memercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu ia salat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami tidak bangun, maka ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Ahmad no. 7404 dan An-Nasa’i no. 1610)

Memberikan perhatian terhadap pendidikan anak

Musuh-musuh Islam mengetahui bahwa jalan untuk menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin dimulai dengan menjauhkan para pemuda dari agama. Karena para pemuda, dalam konteks ini ‘anak-anak’ adalah simbol masa depan. Merekalah penerima estafet dalam tegaknya negeri yang aman dan makmur.

Hal ini merupakan peringatan keras bagi orang tua muslim untuk menjaga anak-anak mereka, terutama di era digital saat ini, agar tetap berada dan tumbuh di atas agama Allah. Karena banyaknya pengintai dan perusak yang siap menyesatkan mereka kapan saja dan di mana saja. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At- Tahrim: 6)

 Sufyan Ats-Tsauri berkata dari Manshur, dari seseorang, dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah di atas,

أدبوهم ، علموهم 

“Ajarkan mereka adab, ajarkan mereka ilmu agama.”

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas mengomentari ayat di atas,

اعملوا بطاعة الله ، واتقوا معاصي الله ، ومروا أهليكم بالذكر ، ينجيكم الله من النار

“Beramalah dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah dan waspadalah dari bermaksiat kepada Allah, serta perintahkanlah keluarga kalian untuk berzikir mengingat Allah. Maka Allah pasti akan membebaskan kalian dari neraka.”

Mujahid berkata,

اتقوا الله ، وأوصوا أهليكم  بتقوى الله

“Bertakwalah kepada Allah dan wasiatkan keluarga kalian untuk bertakwa kepada Allah.”

Qatadah berkata,

يأمرهم بطاعة الله، وينهاهم عن معصية الله، وأن يقوم عليهم بأمر الله، ويأمرهم به ويساعدهم عليه، فإذا رأيت لله معصية، قدعتهم عنها وزجرتهم عنها

“Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan larang mereka dari bermaksiat kepada Allah. Tegakkan urusan Allah atas mereka. Perintahkan mereka dengan perintah Allah dan bantulah mereka untuk melaksanakannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka laranglah mereka darinya dan tegurlah mereka dengan keras agar meninggalkannya.”

Adh-Dhahak dan Muqatil berkata,

حق على المسلم أن يعلم أهله، من قرابته وإمائه وعبيده، ما فرض الله عليهم، وما نهاهم الله عنه

“Wajib bagi seorang muslim untuk mengajarkan keluarganya, baik kerabat dan para budaknya, tentang perkara yang Allah wajibkan atas mereka dan perkara yang Allah larang.” (Tafsir AlQur’an Al‘Azhim8/167)

 Setiap orang tua seharusnya menyadari bahwa anak adalah sebuah amanah dari Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوْلَٰدِكُمْ

“Allah mewasiatkan kepada kalian anak-anak kalian..” (QS. An-Nisa: 11)

Dan sebagai bentuk menjalankan amanah, orang tua haruslah memberikan perhatian dan kesungguhan dalam merawat, mendidik, serta mengajari anak-anaknya. Baik suami maupun istri memiliki peran yang penting dalam hal ini. Masing-masing sepatutnya berperan aktif dalam tumbuh kembang dan tarbiyah buah hati mereka. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum,

كُلُّكُم راعٍ ومَسؤولٌ عن رَعيَّتِه؛ فالإمامُ راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه، والرَّجُلُ في أهلِه راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه، والمَرأةُ في بَيتِ زَوجِها راعيةٌ وهي مَسؤولةٌ عن رَعيَّتِها، والخادِمُ في مالِ سَيِّدِه راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas rumah tangganya. Dan seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya.” (HR. Bukhari no. 2409)

Iringi setiap ikhtiar dalam mendidik anak dengan memperbanyak doa kepada Allah. Karena sejatinya hidayah berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Hendaknya para orang tua yang menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tidak lalai untuk memanjatkan doa berikut pada waktu-waktu yang mustajab,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al- Furqan: 74)

Demikian yang dapat penulis sampaikan dalam pembahasan kali ini. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufik-Nya.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar. (2011). Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim [Cet. ke-2]. Riyadh: Dar Taybah li An Nasyr wa At Tawzi’.

Sumber: https://muslimah.or.id/34665-rumah-tangga-sakinah-pondasi-terwujudnya-negeri-yang-aman-dan-makmur.html