Ada ayah yang kafir, tetapi anaknya justru menjadi pembela Islam. Ada pula orang tua yang jauh dari hidayah, sedangkan anaknya memilih iman dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah Walid bin Al-Mughirah dengan Khalid bin Al-Walid, Abdullah bin Ubay dengan putranya, hingga Abu Jahal dengan Ikrimah mengajarkan satu hal penting: hidayah bukan warisan, hidayah adalah karunia Allah.
Hidayah Bukan Warisan
Ada anak yang tumbuh dari rumah seorang pembesar kafir, tetapi kemudian menjadi pembela Islam. Ada pula seorang ayah yang dikenal sebagai tokoh munafik, sedangkan anaknya justru berdiri teguh membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sangat menginginkan pamannya mendapatkan hidayah, tetapi Allah menetapkan hal yang berbeda.
Semua kisah ini membawa kita kepada satu pelajaran besar dalam pendidikan anak: orang tua memiliki kewajiban mendidik, tetapi orang tua tidak memiliki hati anaknya. Hidayah adalah milik Allah.
Allah Ta‘ala berfirman,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS. Al-Qashash: 56)
Ayat ini tidak mengajarkan orang tua untuk pasrah tanpa mendidik. Justru orang tua harus sungguh-sungguh menanamkan iman, memberikan teladan, memilih lingkungan yang baik, dan tidak berhenti berdoa. Namun, setelah semua usaha dilakukan, kita tetap harus menyadari bahwa hidayah taufik berasal dari Allah semata.
Walid bin Al-Mughirah dan Khalid bin Al-Walid: Ayah Menentang Al-Qur’an, Anak Membela Islam
Salah satu contoh paling menarik adalah keluarga Bani Makhzum. Ayahnya adalah Al-Walid bin Al-Mughirah, salah satu pembesar Quraisy. Anaknya adalah Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, yang kelak menjadi salah seorang panglima terbesar kaum muslimin.
Walid bin Al-Mughirah telah melihat keagungan Al-Qur’an
Para ahli tafsir menyebut bahwa firman Allah,
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا وَبَنِينَ شُهُودًا وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا
“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya. Aku berikan kepadanya kekayaan yang melimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya kehidupan dengan selapang-lapangnya. Kemudian, dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia sangat menentang ayat-ayat Kami.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–16)
berkaitan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.
Ibnu Katsir rahimahullah menyebut Al-Walid sebagai salah seorang pemimpin Quraisy. Dalam salah satu riwayat tafsir disebutkan bahwa ketika Al-Walid mendengar Al-Qur’an, ia mengetahui bahwa perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah syair, bukan pula perkataan orang gila. Dalam riwayat dari ‘Ikrimah disebutkan bahwa Al-Walid bahkan mengakui keistimewaan Al-Qur’an. Akan tetapi, setelah mendapat tekanan dari Abu Jahal dan mempertimbangkan kedudukan sosialnya di tengah Quraisy, ia akhirnya menuduh Al-Qur’an sebagai sihir yang dipelajari dari orang terdahulu.
Allah menggambarkan proses buruk itu:
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ نَظَرَ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ سَأُصْلِيهِ سَقَرَ
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan. Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Lalu berwajah masam dan cemberut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini hanyalah sihir yang dipelajari dari dahulu. Ini hanyalah perkataan manusia.’ Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 18–26)
Walid memperoleh harta, anak-anak, kedudukan, dan kecerdasan. Namun, semua itu tidak otomatis mendatangkan hidayah.
Anak Walid justru mendapatkan hidayah
Yang menarik, Allah kemudian memberikan hidayah kepada salah seorang putranya: Khalid bin Al-Walid.
Khalid dahulu berada di pihak Quraisy. Ia termasuk orang yang memiliki kemampuan militer luar biasa. Ketika Perang Uhud, Khalid masih berada di barisan musyrikin dan mempunyai peran penting ketika pasukan berkuda Quraisy memanfaatkan celah setelah para pemanah kaum muslimin meninggalkan posisi mereka.
Namun, setelah Perjanjian Hudaibiyah, pandangan Khalid mulai berubah.
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Dalā’il al-Nubuwwah kisah masuk Islamnya Khalid. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk Umrah Qadha, Khalid tidak menampakkan diri. Saudaranya, Al-Walid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, mencarinya tetapi tidak menemukannya.
Al-Walid kemudian menulis surat kepada Khalid. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat bertanya,
أَيْنَ خَالِدٌ؟
“Di mana Khalid?”
Al-Walid menjawab bahwa Allah akan mendatangkannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyatakan bahwa orang seperti Khalid semestinya tidak bodoh terhadap Islam. Sekiranya tenaga dan kesungguhannya diarahkan bersama kaum muslimin untuk menghadapi kaum musyrikin, itu tentu lebih baik baginya.
Al-Walid kemudian menasihati saudaranya agar segera mengejar kesempatan yang telah terlewat.
Khalid berkata,
فَلَمَّا جَاءَنِي كِتَابُهُ نَشِطْتُ لِلْخُرُوجِ، وَزَادَنِي رَغْبَةً فِي الْإِسْلَامِ
“Ketika suratnya sampai kepadaku, aku pun bersemangat untuk berangkat. Surat itu semakin menambah keinginanku untuk masuk Islam.”
Khalid kemudian berangkat menuju Madinah. Dalam perjalanan ia bertemu dengan ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Utsman bin Thalhah yang juga hendak menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka akhirnya masuk Islam.
Sejak saat itu, kehidupan Khalid berubah total.
Dahulu, kecerdasannya digunakan melawan kaum muslimin. Setelah mendapatkan hidayah, kecerdasan yang sama digunakannya membela Islam.
Ayahnya adalah Al-Walid bin Al-Mughirah yang diancam dengan neraka Saqar. Anaknya adalah Khalid bin Al-Walid yang kelak dikenal sebagai salah seorang pahlawan Islam.
Inilah bukti nyata bahwa akidah tidak diwariskan melalui darah.
Catatan takhrij kisah Khalid
Riwayat tentang surat Al-Walid kepada Khalid serta proses menuju keislamannya terdapat dalam Al-Baihaqi, Dalā’il al-Nubuwwah, jilid 4, sekitar hlm. 350, dalam bab tentang masuk Islamnya Khalid bin Al-Walid. Riwayat ini merupakan riwayat sirah, sehingga kedudukannya tidak disamakan dengan hadis marfu‘ sahih dalam Shahih Al-Bukhari atau Shahih Muslim. Inti sejarah bahwa Khalid masuk Islam sebelum Fathu Makkah pada tahun kedelapan Hijriah merupakan fakta sirah yang masyhur.
Adapun riwayat tafsir mengenai perkataan Al-Walid ketika mendengar Al-Qur’an disebutkan Ibnu Katsir dari beberapa jalur tafsir, di antaranya riwayat ‘Ikrimah dan jalur Al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas. Detail-detailnya merupakan atsar tafsir, bukan semuanya hadis marfu‘ dengan sanad sahih. Karena itu, yang dapat ditegaskan dengan yakin adalah bahwa para mufasir mengaitkan QS. Al-Muddatstsir: 11 dan seterusnya dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.
Abdullah bin Ubay dan Abdullah bin Abdullah: Ayah Pemimpin Munafik, Anak Membela Rasulullah
Perbedaan iman ayah dan anak juga terlihat sangat tajam pada keluarga Abdullah bin Ubay bin Salul.
Abdullah bin Ubay adalah tokoh kaum munafik Madinah. Namun, putranya yang juga bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu justru seorang mukmin yang tulus.
Kesombongan Abdullah bin Ubay
Ketika terjadi peperangan Bani Musthaliq, timbul pertengkaran antara seorang Muhajirin dengan seorang Anshar.
Masing-masing sempat memanggil kelompoknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seruan kesukuan itu dan bersabda,
دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
“Tinggalkanlah seruan itu karena ia adalah sesuatu yang busuk.”
Peristiwa tersebut dimanfaatkan Abdullah bin Ubay. Ia berkata,
لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ
“Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir orang yang hina darinya.”
Ucapan itu kemudian diabadikan Allah,
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Mereka berkata, ‘Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, orang yang kuat benar-benar akan mengusir orang-orang yang lemah darinya.’ Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)
‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu meminta izin untuk membunuh Abdullah bin Ubay. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْهُ، لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ
“Biarkan dia. Jangan sampai orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.”
Pokok kisah ini diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.
Anaknya justru menghadang ayahnya
At-Tirmidzi meriwayatkan tambahan yang sangat menarik.
Ketika perjalanan kembali menuju Madinah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay menghadang ayahnya sendiri. Ia berkata,
وَاللَّهِ لَا تَنْقَلِبُ حَتَّى تُقِرَّ أَنَّكَ الذَّلِيلُ، وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْعَزِيزُ
“Demi Allah, engkau tidak akan kembali sampai engkau mengakui bahwa engkaulah yang hina dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mulia.”
Ayahnya akhirnya mengakuinya.
Perhatikan keadaan keduanya.
Ayahnya mengatakan bahwa Rasulullah dan kaum mukminin akan diusir sebagai orang-orang hina.
Anaknya justru berdiri di hadapan ayahnya dan menegaskan bahwa kemuliaan adalah milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Satu ayah, satu anak, satu rumah, tetapi hati keduanya berada pada jalan yang berbeda.
Takhrij
Hadis pokok tentang pertengkaran Muhajirin dan Anshar serta ucapan Abdullah bin Ubay diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 3518; Muslim, no. 2584; At-Tirmidzi, no. 3315; An-Nasa’i dalam Al-Sunan al-Kubra, no. 8863; dan Ahmad, no. 15223.
Tambahan tentang Abdullah bin Abdullah menghadang ayahnya terdapat dalam riwayat At-Tirmidzi, no. 3315. At-Tirmidzi menilainya:
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
“Hadis ini hasan sahih.”
Al-Albani juga menilainya sahih dalam Shahih At-Tirmidzi.
Abu Jahal dan Ikrimah: Ayah Musuh Islam, Anak Menjadi Sahabat
Contoh ketiga tidak kalah menggetarkan.
Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam adalah salah seorang tokoh terbesar yang memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mati dalam keadaan memerangi Islam pada Perang Badar.
Namun, anaknya, ‘Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu, akhirnya justru menjadi seorang muslim.
Siapakah Abu Jahal?
Nama asli Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Ia berasal dari Bani Makhzum, salah satu kabilah terpandang Quraisy. Ia juga masih satu lingkungan keluarga besar dengan Al-Walid bin Al-Mughirah, ayah Khalid bin Al-Walid.
Sebelum Islam, ia dikenal dengan kunyah Abu Al-Hakam karena kedudukan dan pengaruhnya di tengah Quraisy. Namun, kaum muslimin kemudian mengenalnya sebagai Abu Jahal, karena kerasnya penentangan dan kebodohannya terhadap kebenaran.
Permusuhan Abu Jahal kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar penolakan dalam hati. Ia aktif menghalangi dakwah Nabi dan menyakiti kaum muslimin.
Di antara kejahatannya adalah berusaha menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari shalat di dekat Ka‘bah.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Jahal pernah bertanya kepada orang-orang Quraisy,
هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟
“Apakah Muhammad masih meletakkan wajahnya di tanah (bersujud) di tengah-tengah kalian?”
Mereka menjawab, “Ya.”
Abu Jahal berkata,
وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ
“Demi Latta dan ‘Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, sungguh aku akan menginjak lehernya atau membenamkan wajahnya ke tanah.”
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, Abu Jahal mendekati beliau untuk melakukan ancamannya. Namun, tiba-tiba ia mundur sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
Ketika ditanya, ia mengatakan bahwa antara dirinya dan Muhammad terdapat parit api, sesuatu yang mengerikan, dan sayap-sayap.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,
لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا
“Seandainya ia mendekat kepadaku, sungguh para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” (HR. Muslim, no. 2797)
Begitulah kerasnya permusuhan Abu Jahal. Ia mengetahui Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidup sezaman dengannya, menyaksikan dakwahnya, dan mendengar Al-Qur’an, tetapi semua itu tidak membuatnya tunduk.
Abu Jahal menjadi salah satu pemimpin pasukan Quraisy di Badar
Permusuhannya terus berlangsung hingga Perang Badar.
Ketika kafilah Abu Sufyan sebenarnya telah selamat dan alasan utama keberangkatan pasukan Quraisy sudah tidak ada, Abu Jahal justru bersikeras agar pasukan Quraisy tetap maju ke Badar. Ia menginginkan Quraisy tinggal di sana beberapa hari, menyembelih unta, makan, minum khamar, dan didengar oleh bangsa Arab sehingga mereka semakin takut kepada Quraisy. Perincian ini dikenal dalam riwayat sirah.
Kesombongan tersebut akhirnya membawanya menuju kematian.
Dalam Perang Badar, Abu Jahal terluka parah setelah diserang oleh dua pemuda Anshar. ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ketika berada dalam barisan Perang Badar, ia mendapati dua pemuda di kanan dan kirinya.
Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya secara diam-diam,
يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ
“Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.”
‘Abdurrahman bertanya, “Apa yang akan engkau lakukan kepadanya?”
Pemuda itu menjawab bahwa ia telah mendengar Abu Jahal mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bersumpah bahwa jika melihatnya, ia tidak akan membiarkannya.
Pemuda yang satunya ternyata mempunyai keinginan yang sama.
Ketika ‘Abdurrahman melihat Abu Jahal, ia menunjukkannya kepada kedua pemuda tersebut. Keduanya segera menyerangnya hingga Abu Jahal tersungkur.
Kedua pemuda itu adalah Mu‘adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh dan Mu‘awwidz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhum. Setelah itu, Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu mendapati Abu Jahal dalam keadaan terluka parah hingga akhirnya tewas.
Pokok kisah dua pemuda yang menyerang Abu Jahal diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Dengan demikian, Abu Jahal mengakhiri kehidupannya dalam keadaan memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, kisah ayah tidak harus menjadi akhir kisah anak.
Ikrimah melarikan diri ketika Fathu Makkah
Ketika Fathu Makkah, nama Ikrimah termasuk orang-orang yang pada awalnya dikecualikan dari jaminan keamanan umum karena kerasnya permusuhan yang pernah ia lakukan.
Ikrimah kemudian melarikan diri dan menaiki kapal.
Dalam perjalanan laut, datang angin yang sangat kencang.
Orang-orang di kapal berkata,
أَخْلِصُوا، فَإِنَّ آلِهَتَكُمْ لَا تُغْنِي عَنْكُمْ شَيْئًا هَاهُنَا
“Murnikanlah doa kalian kepada Allah karena sesembahan-sesembahan kalian tidak berguna sedikit pun bagi kalian di sini.”
Ikrimah kemudian berkata,
وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ يُنَجِّنِي فِي الْبَحْرِ إِلَّا الْإِخْلَاصُ، لَا يُنَجِّينِي فِي الْبَرِّ غَيْرُهُ
“Demi Allah, jika di laut ini tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain memurnikan ibadah kepada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain Dia.”
Kemudian ia berdoa dan berjanji bahwa jika Allah menyelamatkannya, ia akan mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meletakkan tangannya di tangan beliau.
Ikrimah berkata bahwa ia yakin akan mendapati Rasulullah sebagai orang yang pemaaf dan mulia.
Ia kemudian datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.
Sebuah perubahan yang sangat besar.
Dahulu ia melarikan diri dari Islam. Namun, di tengah gelombang laut, tauhid menjadi begitu nyata baginya. Allah membuka hatinya melalui keadaan yang tidak pernah ia rencanakan.
Takhrij
Kisah ini diriwayatkan dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu oleh Abu Dawud, no. 2683; An-Nasa’i, no. 4067; dan Al-Hakim.
Ibnu Al-Mulaqqin menilainya sahih dalam Al-Badr al-Munir, 9/153. Al-Albani juga menilai riwayat An-Nasa’i tersebut sahih. Al-Haitsami menyatakan bahwa para perawinya tsiqah.
Adapun kisah tambahan bahwa Ummu Hakim meminta jaminan keamanan bagi suaminya dan kemudian mencarinya tercantum dalam riwayat sirah Ibnu Ishaq sebagaimana dibawakan Ibnu Hisyam.
Ada riwayat populer yang berbunyi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat agar tidak mencela Abu Jahal ketika Ikrimah datang. Riwayat khusus dengan lafaz,
يَأْتِيكُمْ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ مُؤْمِنًا مُهَاجِرًا، فَلَا تَسُبُّوا أَبَاهُ…
dinilai maudhu‘ oleh Al-Albani. Karena itu, riwayat tersebut tidak layak dijadikan dalil dalam buku ini.
Inilah pentingnya membedakan kisah sirah yang masyhur dengan hadis yang sanadnya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Abu Thalib: Dicintai Nabi, tetapi Hidayah Tetap Milik Allah
Kalau tiga kisah sebelumnya memperlihatkan perbedaan antara ayah dan anak, kisah Abu Thalib merupakan dalil paling tegas bahwa hidayah taufik tidak dimiliki siapa pun selain Allah.
Abu Thalib sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah paman yang mengasuh dan melindungi beliau.
Ketika Abu Thalib berada dalam keadaan menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di samping Abu Thalib ketika itu terdapat Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah’, sebuah kalimat yang dengannya aku dapat memberikan kesaksian untukmu di sisi Allah.”
Namun, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata,
يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muththalib?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan kalimat tauhid kepadanya. Sebaliknya, kedua orang tadi terus mengulang ucapan mereka.
Hingga ucapan terakhir Abu Thalib adalah bahwa ia tetap berada di atas agama Abdul Muththalib.
Kemudian turun firman Allah,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)
Bayangkan.
Yang mengajak adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang diajak adalah paman yang sangat beliau cintai dan yang bertahun-tahun membela beliau.
Rasulullah telah menjelaskan.
Rasulullah telah mengajak.
Rasulullah sangat menginginkannya beriman.
Namun, Rasulullah tidak dapat memasukkan iman ke dalam hati seseorang.
Maka bagaimana mungkin seorang ayah atau ibu merasa bahwa dirinya mampu memastikan hidayah anaknya?
Takhrij
Hadis ini diriwayatkan dari Al-Musayyib bin Hazn radhiyallahu ‘anhu oleh Al-Bukhari, no. 3884, dan Muslim, no. 24. Juga diriwayatkan An-Nasa’i, no. 2035, dan Ahmad, no. 23674 dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadis ini muttafaq ‘alaihdari sisi asal riwayatnya.
Abu Hurairah dan Ibunya: Jangan Putus Asa Mendoakan Hidayah Keluarga
Tidak semua kisah perbedaan iman antara orang tua dan anak berakhir dengan perpisahan dalam akidah.
Kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu memberikan harapan besar bagi setiap anak yang masih memiliki orang tua atau anggota keluarga yang jauh dari ketaatan.
Abu Hurairah berkata,
كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ
“Aku dahulu mengajak ibuku kepada Islam, sedangkan ia masih musyrik.”
Suatu hari Abu Hurairah mengajak ibunya kembali kepada Islam. Namun, sang ibu mengatakan sesuatu tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat menyakitkan hatinya.
Abu Hurairah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis.
Ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ فَتَأْبَى عَلَيَّ…
“Wahai Rasulullah, aku dahulu mengajak ibuku kepada Islam, tetapi ia selalu menolakku….”
Kemudian ia meminta,
فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ
“Berdoalah kepada Allah agar memberikan hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa,
اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ
“Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”
Abu Hurairah keluar dengan gembira karena doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika sampai di rumah, ia mendapati pintunya tertutup. Ibunya meminta Abu Hurairah menunggu. Abu Hurairah mendengar suara air. Ibunya mandi, mengenakan pakaian, lalu membuka pintu.
Kemudian sang ibu berkata,
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Abu Hurairah kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kali ini ia kembali menangis.
Namun, tangisannya telah berubah.
Tadi ia menangis karena kesedihan.
Sekarang ia menangis karena kegembiraan.
Ia berkata,
أَبْشِرْ، قَدِ اسْتَجَابَ اللَّهُ دَعْوَتَكَ، وَهَدَى أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ
“Bergembiralah. Allah telah mengabulkan doamu dan memberikan hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah.
Takhrij
Hadis ini diriwayatkan Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2491. Riwayat semakna juga dikeluarkan Ahmad, no. 8259, dan Ibnu Hibban, no. 7154. Karena terdapat dalam Shahih Muslim, status hadis ini sahih.
Tiga Pelajaran Besar untuk Orang Tua
Pertama: Anak bukan salinan orang tuanya
Ayah yang saleh tidak boleh merasa pasti bahwa anaknya akan saleh.
Sebaliknya, seorang anak yang lahir dari lingkungan yang buruk tidak boleh merasa bahwa masa depannya sudah ditentukan oleh keburukan keluarganya.
Khalid tidak harus menjadi Walid kedua.
Ikrimah tidak harus menjadi Abu Jahal kedua.
Abdullah tidak harus mengikuti kemunafikan Abdullah bin Ubay.
Allah dapat mengeluarkan seorang pembela Islam dari rumah orang yang memusuhi Islam.
Kedua: kewajiban orang tua adalah menempuh sebab hidayah
Mengatakan bahwa hidayah berada di tangan Allah bukan alasan untuk mengabaikan pendidikan.
Allah memerintahkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Orang tua tetap wajib mengajarkan tauhid, shalat, adab, halal dan haram. Orang tua harus memilih lingkungan yang baik, menjaga teman anak, mencontohkan kebaikan, dan memperbanyak doa.
Kita tidak memiliki hidayah, tetapi kita diperintahkan menjadi sebab menuju hidayah.
Ketiga: jangan pernah berhenti mendoakan anak
Kisah ibu Abu Hurairah memberikan harapan.
Hari ini seseorang mungkin belum menerima nasihat.
Besok Allah dapat membalikkan hatinya.
Hari ini seorang anak mungkin menjauh.
Besok Allah dapat mendekatkannya.
Karena hati manusia berada di tangan Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Dia membolak-balikkannya ke mana saja yang Dia kehendaki.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat Yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 2654)
Orang Tua Menanam, Allah yang Menumbuhkan
Pendidikan anak adalah usaha panjang.
Orang tua menanam tauhid. Orang tua menyiramnya dengan ilmu. Orang tua menjaganya dengan keteladanan dan doa. Namun, yang menumbuhkan iman dalam hati tetaplah Allah.
Karena itu, keberhasilan mendidik anak tidak semestinya membuat orang tua sombong.
“Anakku saleh karena aku.”
“Anakku hafal Al-Qur’an karena pendidikanku.”
“Anakku baik karena aku berhasil mendidiknya.”
Seharusnya seorang ayah atau ibu berkata dalam hati, “Alhamdulillah, Allah memberikan hidayah kepadanya.”
Sebaliknya, jika seorang anak sedang jauh dari jalan Allah, jangan segera berputus asa.
Teruslah menasihati dengan cara yang baik.
Teruslah menjadi teladan.
Teruslah mencari pintu masuk menuju hatinya.
Dan terutama, teruslah mengetuk pintu langit.
Sebab, orang yang hari ini masih seperti Khalid sebelum masuk Islam, bisa saja kelak menjadi Khalid yang membela Islam.
Orang yang hari ini masih seperti Ikrimah yang berlari menjauh, bisa saja suatu saat kembali mendatangi Allah dengan hati yang tunduk.
Kita mendidik anak semaksimal mungkin, tetapi kita tidak menggantungkan hasil kepada kemampuan kita. Kita menggantungkan hati mereka kepada Allah.
Referensi
- Al-Baihaqi, A. ibn al-H. (n.d.). Dalā’il al-nubuwwah wa ma‘rifat aḥwāl ṣāḥib al-sharī‘ah (Vol. 4, p. 350). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Al-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadith nos. 3518, 3884). Dar Tawq al-Najah.
- Al-Hakim al-Naisaburi, M. ibn ‘A. (n.d.). Al-Mustadrak ‘ala al-Ṣaḥīḥayn. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Al-Nasa’i, A. ibn S. (n.d.). Al-Sunan. Maktab al-Matbu‘at al-Islamiyyah. Hadith no. 4067.
- Al-Tirmidhi, M. ibn ‘I. (n.d.). Sunan al-Tirmidhī. Mustafa al-Babi al-Halabi. Hadith no. 3315.
- Abu Dawud, S. ibn al-A. (n.d.). Sunan Abī Dāwūd. Al-Maktabah al-‘Asriyyah. Hadith no. 2683.
- Ibn Hisham, ‘A. al-M. (n.d.). Al-Sīrah al-nabawiyyah (Vol. 2). Mustafa al-Babi al-Halabi.
- Ibn Kathir, I. ibn ‘U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (S. M. Salamah, Ed.). Dar Tayyibah.
- Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim (Hadith nos. 24, 2491, 2654). Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
- Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsū‘ah al-ḥadīthiyyah. https://dorar.net/
- Islamweb. (n.d.). Al-Maktabah al-Islāmiyyah: Tafsīr Ibn Kathīr, Dalā’il al-nubuwwah, dan al-Sīrah al-nabawiyyah. https://www.islamweb.net/
—–
Sabtu Sore, 23 Rabiul Awal 1448 H, 5 September 2027 @ Bawen Jawa Tengah
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
sumber: https://rumaysho.com/42762-hidayah-bukan-warisan-anak-bisa-berbeda-dari-orang-tuanya.html