Hidup di negeri yang aman dan makmur merupakan dambaan setiap insan. Terwujudnya bukanlah sesuatu yang mustahil, bahkan ia dapat tercipta dengan menghidupkan nilai-nilai keimanan serta ketakwaan di tengah-tengah masyarakat. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Gambaran sebuah negeri yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya,
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba: 15)
Keluarga memainkan peranan penting dalam terbentuknya masyarakat yang menegakkan iman dan takwa. Keluarga merupakan pondasi serta pilar utama dalam menanamkan nilai-nilai agama yang luhur. Maka, rumah sebagai tumpuan keluarga perlu dibangun di atas sakinah (ketentraman). Dengan demikian, keberadaan negeri yang aman dan makmur pun dapat terealisasi. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kiat membangun rumah tangga sakinah
Menyadari nikmat pernikahan
Pernikahan adalah fitrah yang Allah tetapkan bagi manusia, yang membalut dua insan dengan kasih sayang dan cinta, sehingga jiwa pun menjadi nyaman, tenang, dan tenteram. Di dalamnya terpancar tanda-tanda kebesaran Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Akan tetapi, tabiat manusia seringkali lalai mensyukuri hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan dan menyertainya sehari-hari. Sebagaimana dikatakan di dalam sebuah syair,
الإنسان لا يعرف قدر النعمة إلا عند فقدها
“Manusia tidak akan menyadari kadar suatu nikmat, kecuali ketika ia kehilangan nikmat tersebut.”
Maka, nikmat pernikahan patut dijaga kelanggengannya dengan rasa syukur. Nikmat itu dipupuk dengan mengingat-ingat kebaikan dan kelebihan pasangan, serta tidak membanding-bandingkannya dengan orang lain.
Ingatlah bahwa suami adalah pakaian bagi istri dan istri pun adalah pakaian bagi suami. Keduanya saling melengkapi, menjaga, menutupi, dan menghiasi satu sama lain. Allah Ta’ala berfirman,
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
“Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu (para suami), dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Membangun rumah tangga di atas agama Allah
Salah satu cara mensyukuri nikmat pernikahan adalah dengan membangunnya di atas agama Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Bertakwalah kepada Allah, agar kamu bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran: 123)
Sebagaimana tujuan dari pernikahan adalah menyempurnakan agama, maka wajib bagi muslim dan muslimah untuk membina rumah tangga mereka di atas agama Allah, dengan menjalankan perkara yang diperintahkan dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang. Hal ini berdasarkan firman Allah,
ٱلطَّلَٰقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌۢ بِإِحْسَٰنٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُوا۟ مِمَّآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْـًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا ٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)
Pernikahan merupakan ibadah terpanjang dalam kehidupan seorang insan. Dan ibadah bagi seorang muslim haruslah dibangun di atas bashirah atau ilmu.
Ilmu akan menjaga bangunan rumah tangga dari kehancuran, pertentangan, dan perselisihan. Bahkan, ilmu akan menambah rasa cinta, kemesraan, dan kasih sayang antar suami istri. Ilmu mendatangkan sakinah, mawadah, dan rahmat dalam kehidupan rumah tangga. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman,
إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘raf: 56)
Dengan ilmu, suami dan istri akan saling bahu membahu menegakkan ketaatan kepada Allah, saling menganjurkan kepada hal-hal yang baik dalam urusan dunia maupun akhirat serta saling mengingatkan dan menjauhkan dari hal-hal buruk yang mendatangkan kemarahan dan kemurkaan Allah Jalla wa ‘Ala. Seperti kondisi yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
رحم اللهُ رجلًا قام من الليلِ فصلَّى وأيقظ امرأتَه، فإن أبَتْ نضح في وجهِها الماءَ. رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها، فإن أبى نضحت في وجهه الماءَ
“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu dia salat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri tidak bangun, maka ia memercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu ia salat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami tidak bangun, maka ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Ahmad no. 7404 dan An-Nasa’i no. 1610)
Memberikan perhatian terhadap pendidikan anak
Musuh-musuh Islam mengetahui bahwa jalan untuk menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin dimulai dengan menjauhkan para pemuda dari agama. Karena para pemuda, dalam konteks ini ‘anak-anak’ adalah simbol masa depan. Merekalah penerima estafet dalam tegaknya negeri yang aman dan makmur.
Hal ini merupakan peringatan keras bagi orang tua muslim untuk menjaga anak-anak mereka, terutama di era digital saat ini, agar tetap berada dan tumbuh di atas agama Allah. Karena banyaknya pengintai dan perusak yang siap menyesatkan mereka kapan saja dan di mana saja. Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At- Tahrim: 6)
Sufyan Ats-Tsauri berkata dari Manshur, dari seseorang, dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah di atas,
أدبوهم ، علموهم
“Ajarkan mereka adab, ajarkan mereka ilmu agama.”
‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas mengomentari ayat di atas,
اعملوا بطاعة الله ، واتقوا معاصي الله ، ومروا أهليكم بالذكر ، ينجيكم الله من النار
“Beramalah dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah dan waspadalah dari bermaksiat kepada Allah, serta perintahkanlah keluarga kalian untuk berzikir mengingat Allah. Maka Allah pasti akan membebaskan kalian dari neraka.”
Mujahid berkata,
اتقوا الله ، وأوصوا أهليكم بتقوى الله
“Bertakwalah kepada Allah dan wasiatkan keluarga kalian untuk bertakwa kepada Allah.”
Qatadah berkata,
يأمرهم بطاعة الله، وينهاهم عن معصية الله، وأن يقوم عليهم بأمر الله، ويأمرهم به ويساعدهم عليه، فإذا رأيت لله معصية، قدعتهم عنها وزجرتهم عنها
“Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan larang mereka dari bermaksiat kepada Allah. Tegakkan urusan Allah atas mereka. Perintahkan mereka dengan perintah Allah dan bantulah mereka untuk melaksanakannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka laranglah mereka darinya dan tegurlah mereka dengan keras agar meninggalkannya.”
Adh-Dhahak dan Muqatil berkata,
حق على المسلم أن يعلم أهله، من قرابته وإمائه وعبيده، ما فرض الله عليهم، وما نهاهم الله عنه
“Wajib bagi seorang muslim untuk mengajarkan keluarganya, baik kerabat dan para budaknya, tentang perkara yang Allah wajibkan atas mereka dan perkara yang Allah larang.” (Tafsir Al–Qur’an Al–‘Azhim, 8/167)
Setiap orang tua seharusnya menyadari bahwa anak adalah sebuah amanah dari Allah Jalla wa ‘Ala. Allah Ta’ala berfirman,
يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوْلَٰدِكُمْ
“Allah mewasiatkan kepada kalian anak-anak kalian..” (QS. An-Nisa: 11)
Dan sebagai bentuk menjalankan amanah, orang tua haruslah memberikan perhatian dan kesungguhan dalam merawat, mendidik, serta mengajari anak-anaknya. Baik suami maupun istri memiliki peran yang penting dalam hal ini. Masing-masing sepatutnya berperan aktif dalam tumbuh kembang dan tarbiyah buah hati mereka. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum,
كُلُّكُم راعٍ ومَسؤولٌ عن رَعيَّتِه؛ فالإمامُ راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه، والرَّجُلُ في أهلِه راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه، والمَرأةُ في بَيتِ زَوجِها راعيةٌ وهي مَسؤولةٌ عن رَعيَّتِها، والخادِمُ في مالِ سَيِّدِه راعٍ وهو مَسؤولٌ عن رَعيَّتِه
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas rumah tangganya. Dan seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya.” (HR. Bukhari no. 2409)
Iringi setiap ikhtiar dalam mendidik anak dengan memperbanyak doa kepada Allah. Karena sejatinya hidayah berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Hendaknya para orang tua yang menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tidak lalai untuk memanjatkan doa berikut pada waktu-waktu yang mustajab,
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al- Furqan: 74)
Demikian yang dapat penulis sampaikan dalam pembahasan kali ini. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufik-Nya.
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar. (2011). Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim [Cet. ke-2]. Riyadh: Dar Taybah li An Nasyr wa At Tawzi’.