Nasihat Emas di Masa Fitnah (Ujian/Perselisihan)

Diriwayatkan pula oleh beliau (Imam Abu Dawud) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu’ (dari sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam),

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ صَمَّاءُ بَكْمَاءُ عَمْيَاءُ، مَنْ أَشْرَفَ لَهَا اسْتَشْرَفَتْ لَهُ، وَإِشْرَافُ اللِّسَانِ فِيهَا كَوُقُوعِ السَّيْفِ

“Akan terjadi fitnah (ujian, perselisihan), (orang yang terkena fitnah tersebut) tidak bisa mendengar (tuli dari kebenaran), bisu (dari menjelaskan kebenaran), dan buta (dari mengetahui kebenaran). Barang siapa mencoba untuk mendekati fitnah tersebut, ia akan tertarik ke dalamnya. Akibat (buruk) dari mengumbar lisan (ucapan) pada saat fitnah, seperti tebasan pedang.”[1]

Ya. Hadits ini semisal dengan hadits (pada pembahasan) sebelumnya.

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ عَمْيَاءُ صَمَّاءُ بَكْمَاءُ

“Akan terjadi fitnah, (orang yang terkena fitnah tersebut) menjadi buta, tuli, bisu.”

Maksudnya, para pelakunya tidak mau mendengarkan dan tidak mau berucap dengan perkataan yang baik. Demikian pula tidak mempertimbangkan apa yang menjadi maslahat bagi manusia. Yang mereka lakukan justru terus-menerus menyebarkan fitnah tersebut, tanpa mau kembali kepada kebenaran atau menerima nasihat. Bahkan, mereka justru terburu-buru menyebarkannya.

Ini yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Apabila kita memperhatikan realitas saat ini, bisa jadi termasuk apa yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu fitnah-fitnah (ujian, perselisihan), yang para pelakunya/pengusungnya tidak bisa menerima penjelasan dan nasihat. Mereka justru terburu-buru menyebarkan kejelekan mereka dan mewujudkan keburukan mereka, tanpa mau kembali (kepada kebenaran).

Pada keadaan ini, (akibat buruk) lisan lebih berbahaya daripada pedang. Lisan sangat berbahaya, terlebih pada masa fitnah-fitnah (ujian, perselisihan).

Pada masa-masa fitnah (ujian, perselisihan), seorang insan wajib mengatakan yang haq (kebenaran) dan memberikan penjelasan. Apabila dia tidak memiliki kemampuan; atau dia memiliki kemampuan, tetapi terhalangi (karena suatu sebab, -pent.); hendaknya dia diam. Sebab, ucapannya tidak memberi manfaat. Demikian pula jika dia memang tidak punya kemampuan dalam menjelaskan (kebenaran), dia wajib diam dan tidak membuat fitnah (perselisihan) semakin bertambah parah dan tidak memperburuknya.

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma secara marfu’ (dari sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam),

إِيَّاكُمْ وَالْفِتَنَ فَإِنَّ اللِّسَانَ فِيهَا كَوَقْعِ السَّيْفِ

“Hati-hatilah kalian dari fitnah-fitnah (ujian, perselisihan)! Sungguh, pengaruh lisan (ucapan) pada masa fitnah seperti pengaruh tebasan pedang.”

Lafaz “iyyakum” adalah kata untuk memberi peringatan.

Lafaz “al-fitan” manshub, sebagai hal yang diperingatkan darinya. Sebab, kata “iyyaka” bermakna “waspadalah engkau” dan merupakan kata benda yang beramal dengan amalan kata kerja (fi’il). (Penjelasan dalam ilmu bahasa Arab, -pent.)

Hati-hatilah dari fitnah, dari berserikat mengobarkannya, dan menyebarkannya dengan lisan.

(Bisa jadi,) seseorang duduk di dalam rumahnya, atau berada di studio penyiaran radio, atau melalui media-media lainnya; yang bisa menyebarkan kejelekan. Lalu dia berbicara dengan lisannya, berfatwa tanpa dilandasi kebenaran, dan menyebarkan kebatilan. Dalam keadaan dia duduk di tempatnya, dan dia terus menyebarkan kejelekan (hingga tersebar) ke timur dan barat.

Ini merupakan fitnah yang sangat berbahaya.

Oleh karena itu, seorang muslim wajib menjaga lisannya pada masa terjadinya fitnah. Demikian pula, janganlah dia berbicara kecuali kebaikan, atau (kalau tidak bisa berbicara yang baik) hendaklah dia diam.

Catatan Kaki

[1] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan”, “Bab Kafful Lisan” (4/165 no. 4264). Syaikh al-Albani menilai hadits ini dha’if. Lihat Dha’if Sunan Abi Dawud (hlm. 347 no. 4266). (-pent.)


وله عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا:

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ صَمَّاءُ بَكْمَاءُ عَمْيَاءُ، مَنْ أَشْرَفَ لَهَا اسْتَشْرَفَتْ لَهُ، وَإِشْرَافُ اللِّسَانِ فِيهَا كَوُقُوعِ السَّيْفِ

نعم، وهذا مثل الحديث الذي قبله

(سَتَكُونُ فِتْنَةٌ عَمْيَاءُ صَمَّاءُ بَكْمَاءُ) يعني :أن أهلها لا يسمعون ولا يتكلمون بخير، ولا ينظرون ما فيه مصلحة للناس،  وإنما يصرون على دفع هذه الفتن ونشرها، دون تراجع أو قبول للنصيحة بل يندفعون في نشرها.

هذا ما أخبر عنه النبي صلى الله عليه وسلم.

وإذا نظرنا إلى الواقع اليوم ربما يكون داخلا في هذا الحديث.

من هذه الفتن التي لا تقبل ولا يقبل أهلها كلاما ولا مناصحة ولا بيانا، وإنما هم مندفعون في شرهم، وينفذون شرهم من غير تراجع.

فهذه يكون اللسان فيها أخطر من السيف. اللسان هذا فيه خطر، اللسان لا سيما في وقت الفتن.

وأن الإنسان في وقت الفتن يجب عليهم أن يتكلم بالحق و يبين، فإذا لم يكن عنده مقدرة أو عنده مقدرة لكن منع، منع من ذالك فإنه يسكت، لأن كلامه لا يجري، أو هو لا يستطيع الكلام فعليه بالصمت، ولا يزيد الفتنة فتنة، والشر شرا، نعم

ولابن ماجه عن ابن عمر رضي الله عنهما مرفوعا:

إِيَّاكُمْ وَالْفِتَنَ فَإِنَّ اللِّسَانَ فِيهَا كَوَقْعِ السَّيْفِ

إياكم: هذه كلمة التحذير، إياك هذه كلمة تحذير.

والفتن: منصوب على التحذير لأن إياك بمعنى احذر إياك بمعنى احذر فهو يعمل عمل الفعل، يعمل عمل الفعل

احذر الفتن والمشاركة في إيقادها ونشرها باللسان.

الإنسان جالس في بيته أو عند المذياع يعني عند الإذاعة أو عند الأشياء وسائل الإعلام التي تنشر الشر ويتكلم، تكلم باللسان يفتي بغير حق يروج الباطل، وهو جالس في مكانه، وينشر الشر في المشارق والمغارب. هذه فتنة خطيرة جدا

فعلى المسلم أن يحفظ لسانه في هذه الفتن وأن لا يتكلم إلا بخير أو يسكت. نعم

sumber: https://asysyariah.com/nasihat-emas-di-masa-fitnah/

Doa Orang Tua untuk Anak

Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna menjadikan dunia yang fana ini sebagai ujian dan cobaan bagi seluruh hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ١١٦

“Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) Arsy yang mulia.” (al-Mu’minun: 115—116)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Apakah kalian, wahai manusia, mengira bahwa Kami menciptakan kalian di dunia yang fana ini dengan sia-sia (tanpa tujuan yang mulia)? Kalian makan, minum, bersenang-senang, dan bernikmat-nikmat dengan kelezatan dunia lantas Kami biarkan begitu saja tanpa Kami perintah dan Kami larang? Apakah Kami tidak membalas dan menghukum (perbuatan kalian) sehingga kalian menganggap tidak akan kembali kepada Kami (untuk mempertanggungjawabkan amalan kalian)? Jangan sampai anggapan hal seperti ini terlintas pada hati-hati kalian! Sebab, Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari anggapan seperti ini; karena hal ini tidak sesuai dengan hikmah-Nya.”

Di antara ujian dan cobaan yang dihadapkan kepada para hamba-Nya adalah orang tua diuji dengan anak-anak mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan hal ini dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤ إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 14—15)

Tatkala orang tua menghadapi berbagai problem tarbiyah (mendidik dan mengasuh) anak-anak, apa yang harus dilakukan? Siapakah yang berkuasa untuk mengubah berbagai penyimpangan dan kenakalan yang terjadi pada mereka? Berikut ini sebagian prinsip yang harus kita pahami. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah taufik agar kita berjalan di atasnya.

Pemberi Petunjuk Hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala

Dalam upaya memperbaiki dan membenahi tarbiyah orang tua terhadap anak, hal yang paling mendasar yang harus diyakini oleh para orang tua adalah bahwa pemberi petunjuk (hidayah taufik) itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Dialah satu-satunya Dzat yang berkuasa untuk menjadikan saleh atau tidaknya kita dan anak-anak kita, bahkan muslim atau kafirnya kita semua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ فَمِنكُمۡ كَافِرٞ وَمِنكُم مُّؤۡمِنٞۚ

“Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (at-Taghabun: 2)

مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ١٧٨

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 178)

Dalam pembukaan khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia berkata,

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.”

Masih banyak ayat dan hadits sahih yang semakna dengan ayat dan hadits di atas.

Para nabi ‘alaihim as salam adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia. Akan tetapi, mereka tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada orang yang mereka cintai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya kamu (wahai Rasulullah) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash: 56)

Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam pun tidak mampu memberi petunjuk kepada anak dan istrinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٖ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٤٢

قَالَ سَ‍َٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا ٱلۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ ٤٣

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (Hud: 42—43)

Tatkala Allah telah menakdirkan kekafiran anak laki-laki Nabi Nuh ‘alaihissallam, berbagai upaya beliau agar anaknya beriman tidak bermanfaat. Hal ini sebagaimana ucapan beliau ‘alaihissallam, yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

وَلَا يَنفَعُكُمۡ نُصۡحِيٓ إِنۡ أَرَدتُّ أَنۡ أَنصَحَ لَكُمۡ إِن كَانَ ٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغۡوِيَكُمۡۚ هُوَ رَبُّكُمۡ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٣٤

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Hud: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya, kehendak (takdir) Allah subhanahu wa ta’ala yang menang. Apabila Dia subhanahu wa ta’ala berkehendak menyesatkan kalian karena kalian menolak kebenaran—walaupun aku bersemangat mencurahkan seluruh kemampuanku (demi kebaikanmu), menasihatimu dengan nasihat yang paling bagus, (dan beliau ‘alaihissallam sungguh telah menunaikan hal ini)—hal itu tidak bermanfaat bagi kalian sedikit pun. Sebab, Dia subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kalian yang melakukan (menakdirkan) apa saja yang Dia kehendaki pada kalian. Dia pula yang menghukumi segala sesuatu yang terjadi pada kalian dengan apa yang Dia kehendaki. Hanya saja, kalian akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Dia akan membalas kalian sesuai dengan amalan kalian.”

Demikian pula keturunan para nabi dan rasul ‘alaihim as salam, tidak ada jaminan menjadi orang yang saleh. Jika demikian, terlebih lagi golongan hamba Allah yang berada di bawah mereka. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah kisah Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam dengan anaknya di atas. Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang keturunan Nabiyullah Ibrahim dan Ishaq ‘alaihimassalam,

وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ١١٣

“Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (ash-Shaffat: 113)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Kami turunkan barakah kepada mereka berdua. Maksudnya adalah tumbuh dan bertambah ilmu, amal, dan keturunan mereka berdua. Allah subhanahu wa ta’ala menumbuhkembangkan keturunan mereka menjadi tiga umat yang besar. Bangsa Arab adalah keturunan Nabi Ismail ‘alaihissallam, sedangkan bani Israil dan bangsa Romawi adalah keturunan Nabi Ishaq ‘alaihissallam. Di antara keturunan mereka, ada yang saleh dan ada pula yang tidak saleh; ada yang adil dan ada yang zalim yang sangat jelas kezalimannya dengan kekafiran dan kemusyrikannya.

Boleh jadi, firman Allah subhanahu wa ta’ala ini bertujuan menghilangkan kesalahpahaman terhadap firman-Nya, ‘Dan Kami turunkan barakah kepada Ibrahim dan Ismail.’ Sebab, konsekuensi barakah yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada keturunan mereka ialah keturunan mereka semua bagus. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa keturunan mereka ada yang bagus dan ada yang zalim. Wallahu a’lam.”

Dengan penjelasan di atas, kita bisa mengambil faedah bahwa penentu kebaikan bagi kita dan anak-anak kita adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata. Tidak boleh bagi kita untuk bersandar kepada keturunan, kemampuan, kesungguhan, fasilitas pendidikan, kurikulum sekolah, dan sebagainya. Ketahuilah bahwa itu semua hanyalah upaya dan usaha, sedangkan penentunya adalah Allah subhanahu wa ta’ala.

Doa Orang Tua Demi Kebaikan Anak-Anaknya

Kunci kebaikan itu berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah taufik bagi kita dan anak-anak kita selain dengan terus meminta dan berdoa kepada pemiliknya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa memohon hidayah taufik-Nya dalam setiap rakaat kita, demi kebaikan kita pula.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (al-Fatihah: 6—7)

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian adalah orang yang sesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah. Karena itu, mintalah hidayah kepada-Ku, Aku pasti memberi hidayah kepada kalian.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu no. 2577)

Dalam masalah tarbiyah, orang tua memiliki peran penentu yang sangat besar dan menjadi salah satu sebab keselamatan, kebaikan, dan kebahagiaan bagi anak-anaknya, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan bahwa doa itu mustajabah (akan terkabulkan): doa orang yang dizalimi, doa orang safar, dan doa orang tua atas anaknya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 372)

Terlebih lagi Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta segala hajat mereka, baik urusan dunia maupun agama. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji untuk mengabulkannya. Allah subhanahu wa ta’ala memberi perintah,

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Oleh karena itu, jangan biarkan kesempatan mulia ini berlalu begitu saja!

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan antara harapan dan angan-angan dalam ad-Da’u wa ad-Dawa’ (hlm. 60), “Termasuk hal yang harus diketahui, siapa saja yang mengharapkan sesuatu, harapan/citacita itu berkonsekuensi tiga hal:

  1. Mencintai hal yang diharapkan itu,
  2. Mengkhawatirkan hal itu akan lepas/hilang,
  3. Berusaha mendapatkan hal itu dengan berbagai cara (yang dihalalkan).

Adapun harapan yang tidak diiringi oleh hal-hal yang telah disebutkan di atas, berarti itu hanya angan-angan (bukan harapan). Harapan adalah suatu urusan, sedangkan angan-angan adalah urusan yang lain.

Setiap orang yang mengharapkan sesuatu, akan khawatir apabila yang dia harapkan hilang. Misalnya, orang yang berjalan di jalanan, apabila dia takut/khawatir, dia akan mempercepat jalannya karena khawatir harapan/cita-citanya lepas.”

Berpijak dari perkataan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, tatkala orang tua mengharapkan anak-anaknya menjadi saleh dan salehah, maka harapannya menuntut tiga hal yang disebutkan di atas. Ketiga hal di atas menjadi bukti akan harapannya. Jika tidak diiringi dengan usaha, upaya, dan doa secara terus-menerus dengan segenap kemampuannya, ketahuilah bahwa itu hanya angan-angan, bukan harapan.

Di antara upaya dan usaha yang terus bisa dilakukan oleh orang tua adalah doa. Adapun doa orang tua untuk kebaikan anaknya terbagi menjadi dua.

  1. Doa sebelum anak dilahirkan

Contohnya ialah doa Nabiyullah Zakaria ‘alaihissallam. Dengan sebab doa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan Yahya ‘alaihissallam kepada beliau ‘alaihissallam.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٣٩

Di sanalah Zakaria mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab. (Katanya), “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” (Ali Imran: 38—39)

Contoh lain ialah doa yang diajarkan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat seorang suami hendak menggauli istrinya,

Jika salah seorang di antara kalian ingin menggauli istrinya, berdoalah,

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Apabila dari hubungan mereka berdua ditakdirkan tercipta seorang anak, niscaya setan tidak akan mampu membahayakannya selamanya. (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah menjelaskan, “Ini adalah suatu hal yang jelas. Pengikut sunnah dalam urusan ini termasuk hal yang agung, karena merupakan realisasi terhadap peribadatan dan memurnikan ittiba’/mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada keraguan bahwa seorang hamba tentu benar-benar bersemangat untuk menjauh dari setan, dan dirinya dia serta anak-anaknya dijauhkan dari berbagai tipu daya setan. Dia memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan dan tipu dayanya. Sampai-sampai dia memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjauhkan anak yang dikaruniakan kepadanya dari tipu daya setan.

Perhatikanlah bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini. Sudah selayaknya seorang hamba mengikuti sunnah sampai pun dalam hal seperti ini. Mengikuti sunnah adalah kebaikan.” (Huququl Aulad, hlm. 19)

  1. Doa kebaikan bagi anak setelah dilahirkan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ

“Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu.” (al-Ahqaf: 15)

Doa kebaikan bagi anak kita adalah sebaik-baik sedekah yang bisa kita berikan kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Ucapan yang baik adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1009)

Demikian pula, itu adalah salah satu bukti kecintaan kita kepada mereka karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لَِأخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari dari Anas radhiallahu ‘anhu no. 13)

Peringatan: Orang tua tidak boleh mendoakan kejelekan bagi anak-anaknya dalam kondisi apa pun, baik senang maupun susah, taat maupun maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Jangan kalian mendoakan kejelekan atas diri kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim no. 3014)

Dikisahkan, ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah. Dia mengeluhkan kelakuan sebagian anak-anaknya kepada beliau. Beliau rahimahullah balik bertanya, “Apakah kamu pernah mendoakan kejelekan atasnya?”

Dia menjawab, “Ya.”

Beliau rahimahullah berkata, “Engkau telah merusaknya (dengan doamu).”

Adab Berdoa dan Sebab Terkabulnya Doa

Dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan empat adab berdoa dan sebab terkabulnya doa.

  1. Bepergian jauh (safar)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tatkala menempuh safar, hal itu akan lebih mendekatkan terkabulnya doa. Sebab, keadaan yang seperti itu akan menjadikan jiwa dan hati seseorang hancur karena jauh dari kampung halamannya. Dia menanggung berbagai kesusahan dalam safarnya. Remuknya hati merupakan sebab yang paling besar akan terkabulnya doa.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/269)

  1. Penampilan dan pakaian yang lusuh, kusut, serta berdebu

Hal ini diterangkan oleh hadits,

رُبَّ أَشْعَثَ أَغَبْرَ مَدْفُوعٍ بِالَأبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأبَرَّهُ

“Boleh jadi, orang yang kusut rambutnya, berdebu (pakaiannya), ditolak di pintu-pintu, seandainya dia bersumpah atas nama Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)

  1. Menengadahkan kedua tangan ke langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Salman radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

            “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahamalu dan Mahamulia. Dia subhanahu wa ta’ala malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya dan meminta kepada-Nya, lalu dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong lagi kecewa (tidak dikabulkan).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

  1. Mengulang-ulangi doa dengan menyebut Rabbnya

Hal ini menunjukkan seorang hamba sangat berharap terkabulkan doa-doanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا، وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا

“Apabila berdoa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sampai tiga kali. Apabila meminta, beliau n mengulangi permintaannya tiga kali.” (HR. Muslim)

Peringatan: Sungguh, makanan, minuman, dan pakaian yang haram bisa menjadi penghalang terkabulnya doa, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sa’d radhiallahu ‘anhu, “Perbaguslah makananmu (dengan makanan yang halal), niscaya doamu terkabulkan.”

Oleh karena itu, hendaknya para orang tua tidak merasa bosan dan putus asa untuk mengharapkan kebaikan dan perbaikan bagi anak-anaknya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengabulkan doa-doa kita demi kebaikan kita dan mereka. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

sumber: https://asysyariah.com/doa-orang-tua-untuk-anak/

Senang akan Musibah yang Menimpa Muslim yang Lain

Ada yang punya sifat seperti ini. Padahal ini adalah sifat terlarang, merasa senang akan musibah yang menimpa seorang muslim.

Antara muslim satu dan lainnya itu bersaudara. Tak pantas sifat itu ada antara sesama orang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat: 10). Yang namanya saudara berarti haruslah saling menjalin hubungan, menyayangi dan saling mengunjungi. Jadi bukanlah senang ketika saudara lain mendapatkan musibah.

Allah Ta’ala berfirman pula,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An Nur: 19). Ayat ini berisi adab bagi yang mendengar berita jelek, maka hendaklah yang ia tangkap dibenaknya jangan ia sebarkan dan siarkan dengan mudah. Dalam ayat, perbuatan tersebut terlarang dan akan mendapatkan siksa di dunia dan akhirat.

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan ayat di atas untuk menunjukkan terlarangnya menampakkan kebahagiaan ketika seorang muslim mendapatkan musibah. Pendalilannya dari ayat adalah jika seseorang menyebar berita jelek yang dilakukan orang mukmin yang terjerumus dalam dosa mendapatkan ancaman kerugian di dunia dan akhirat, apalagi jika seseorang menampakkan rasa gembira atas musibah muslim lain tanpa sebab apa-apa.

Hal ini didukung dengan hadits namun sayangnya dha’if. Dari Watsilah bin Al Asqa’, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan karena musibah yang menimpa saudaramu. Karena jika demikian, Allah akan merahmatinya dan malah memberimu musibah.” (HR. Tirmidzi no. 2506. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Hadits ini dinyatakan dha’if pula oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy)

Namun hadits secara umum menyatakan bahwa kehormatan sesama muslim tak boleh diinjak. Bentuknya di sini adalah jika saudara kita ada yang menderita terkena musibah, janganlah kita menampakkan rasa gembira karena hal itu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Seseorang dicap jelek jika ia merendahkan saudara muslim yang lain. Sesama muslim itu haram darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, “Jika seseorang menjelekkan muslim yang lain, bisa jadi yang dijelekkan itu dirahmati oleh Allah. Kemudian malah orang yang menjelekkan yang terkena musibah. Seperti ini banyak terjadi.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 6: 263).

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy berkata, “Musibah yang menimpa hamba, boleh jadi sebagai hukuman dan ujian. Hal itu bisa jadi sebagai penebus dosa dan mengangkat derajat. Sehingga jika ada yang gembira atas musibah orang lain, maka tidaklah layak. Karena manusia bisa saja berbuat dosa dan salah. Lantas ia mendapatkan musibah lantaran kesalahannya tersebut. Siapa yang menjamin dirinya sendiri bisa selamat dari dosa?!” (Bahjatun Nazhirin, 3: 90).

Hanya Allah yang memberi taufik untuk berakhlak yang mulia.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, terbitan Darul Wathon, cetakan kedua, tahun 1427 H.

—

Selesai disusun di Panggang, Gunugkidul @ Darush Sholihin, 25 Jumadal Ula 1436 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/10552-senang-akan-musibah-yang-menimpa-muslim-yang-lain.html

Nasehat bagi Pembuat Berita Media

Berita-berita saat ini benar-benar meresahkan. Apalagi jika lagi panas-panasnya membicarakan Pilpres. Fitnah dan tuduhan tidak  benar disebarkan dalam tulisan atau siaran. Masyarakat pun mudah termakan isu yang kadang tidak benar.

Padahal kehormatan seorang muslim mesti dijaga, bukan diinjak-injak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari no. 67 dan Muslim nio. 1679)

Kemudian setiap berita harus ditabayyunkan atau dikroscek ulang, bukan hanya sekedar diterima mentah-mentah, lalu disebar dalam koran atau media internet. Ada berita yang sebenarnya hanya sekedar isu. Ada berita yang hanya bermodalkan “katanya”. Ada berita yang nukilannya tidak jelas. Padahal kita perlu hati-hati menyebarkan informasi lebih-lebih berkaitan dengan kehormatan orang lain. Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk melakukan kroscek,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

Hendaklah pembuat berita media bertakwa pada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5: 153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ingatlah bahwa setiap kalimat yang kita ucapkan dan setiap tulisan yang kita torehkan selalu diawasi oleh Allah dan akan dimintai pertanggung jawaban.

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (QS. Al Infithor: 10-11)

Nasehat untuk kita para pembaca berita, harap selalu bersikap kritis, jangan mudah termakan oleh berita media. Kalau memang waktu kita jadi sia-sia membaca berita media semacam itu, maka sudah sepatutnya ditinggalkan. Kalau itu berupa aplikasi di HP, mungkin bisa dihapus atau didelete. Tinggalkan yang tidak bermanfaat bagi kita.

Ingatlah tanda kebaikan Islam seseorang sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Semoga menjadi nasehat yang bermanfaat bagi pembuat berita.

—

Disusun di Lion Air, perjalanan Banjarmasin – Jogja, pagi hari, 10 Sya’ban 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/7901-nasehat-bagi-pembuat-berita-media.html

Kezaliman Adalah Kegelapan Di Hari Kiamat

Banyak diantara umat Islam yang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu perbuatan yang menyakiti orang lain lantas membiarkan hal itu berlalu begitu saja tanpa meminta ma’af kepadanya atas perbuatannya tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh ego yang terlalu tinggi, menganggap hal itu adalah sepele, kurang memahami ajaran agamanya sehingga tidak mengetahui implikasinya, dan sebagainya. Padahal sebenarnya amat berbahaya dan akan membebankannya di hari Akhirat kelak karena harus mempertanggungjawabkannya. Perbuatan tersebut tidak lain adalah kezhaliman.

Kezhaliman adalah sesuatu yang dibenci baik di muka bumi ini maupun di akhirat kelak dan pelakunya hanyalah mereka yang menyombongkan dirinya.

Banyak bentuk kezhaliman yang berlaku di dunia ini, yaitu tidak jauh dari definisinya ; “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Betapa banyak orang-orang yang seenaknya berbuat dan bertindak sewenang-wenang. Sebagai contoh: Sang suami sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Sang pemimpin sewenang-wenang terhadap rakyat yang dipimpinnya; diktator, tangan besi, berhukum kepada selain hukum Allah, loyal terhadap musuh-musuh Allah, tidak menerima nasehat, korupsi dan sebagainya. Tetangga berbuat semaunya terhadap tetangganya yang lain; membuat bising telinganya dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila, menguping rahasia rumah tangganya, usil, membicarakan kejelekannya dari belakang, mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanahnya tanpa hak, berapapun ukurannya. Dan banyak lagi gambaran-gambaran lain yang ternyata hampir semuanya dapat dikategorikan “perbuatan zhalim” karena “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”.

Oleh karena itu, pantas sekali kenapa Allah mengecam dengan keras para pelakunya dan bahkan mengharamkannya atas diri-Nya apatah makhluk-Nya.

Dan pantas pula, ia (kezhaliman) merupakan tafsir lain dari syirik karena berakibat fatal terhadap pelakunya.

Maka, bagi mereka yang pernah berbuat zhalim terhadap orang lain – sebab rasanya sulit mendapatkan orang yang terselamatkan darinya sebagaimana yang pernah disalahtafsirkan oleh para shahabat terkait dengan makna kezhaliman dalam ayat “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q,.s. al-An’âm/6: 82). Mereka secara spontan, begitu ayat tersebut turun dan sebelum mengetahui makna dari ‘kezhaliman’ yang sebenarnya berkomentar: “Wahai Rasulullah! siapa gerangan diantara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya?”. Tetapi, pemahaman ini kemudian diluruskan oleh Rasulullah dengan menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya syirik itu merupakan kezhaliman yang besar” (Q.,s. Luqmân/31: 13) – maka hendaknya mereka segera meminta ma’af kepada yang bersangkutan dan memintanya menghalalkan atas semua yang telah terjadi selagi belum berpisah tempat dan sulit bertemu kembali dengannya serta selama masih di dunia.

Hanya keterkaitan dalam kezhaliman terhadap sesama makhluk ini yang tidak dapat ditebus dengan taubat sekalipun. Taubat kepada Khaliq berkaitan dengan hak-hak-Nya; maka, Dia akan menerimanya bila benar-benar taubat nashuh tetapi bila terkait dengan sesama makhluq, maka hal itu terpulang kepada yang bersangkutan dan harus diselesaikan terlebih dahulu dengannya ; apakah dia mema’afkan dan menghalalkan kezhaliman yang terlah terjadi atasnya atau tidak.

Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui lebih lanjut apa itu kezhaliman? apa implikasinya di dunia dan akhirat? bagaimana dapat terhindarkan darinya? Perbuatan apa saja yang memiliki kaitan dan digandeng dengannya?.
Insya Allah, kajian hadits kali ini berusaha menyoroti permasalahan tersebut, semoga bermanfa’at.

Naskah Hadits

1. عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: « الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ». متّفق عليه

Dari Ibnu ‘Umar –radhiallaahu ‘anhuma- dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat”. (Muttafaqun ‘alaih)

2. عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّ رَسُولَ اللّهَ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اتَّقُوا الظُّلْمَ. فَإِنّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَاتَّقُوا الشُّحَّ. فَإِنّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ». رواه مسلم

Dari Jâbir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “berhati-hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat. Dan jauhilah kebakhilan/kekikiran karena kekikiran itu telah mencelakakan umat sebelum kamu”. (H.R.Muslim)

Definisi kezhaliman (azh-Zhulm)

Kata “azh-Zhulm” berasal dari fi’l (kata kerja) “zhalama – yazhlimu” yang berarti “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Dalam hal ini sepadan dengan kata “al-Jawr”.

Demikian juga definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama. Dalam hal ini, ia adalah lawan dari kata al-‘Adl (keadilan)

Hadits diatas dan semisalnya merupakan dalil atas keharaman perbuatan zhalim dan mencakup semua bentuk kezhaliman, yang paling besarnya adalah syirik kepada Allah Ta’âla sebagaimana di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya syirik itu merupakan kezhaliman yang besar”.

Di dalam hadits Qudsiy, Allah Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap diriku dan menjadikannya diharamkan antara kalian”.

Ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar tentang keharaman perbuatan zhalim dan penjelasan tentang keburukannya banyak sekali.

Oleh karena itu, hadits diatas memperingatkan manusia dari perbuatan zhalim, memerintahkan mereka agar menghindari dan menjauhinya karena akibatnya amat berbahaya, yaitu ia akan menjadi kegelapan yang berlipat di hari Kiamat kelak.

Ketika itu, kaum Mukminin berjalan dengan dipancari oleh sinar keimanan sembari berkata: “Wahai Rabb kami! Sempurnakanlah cahaya bagi kami”. Sedangkan orang-orang yang berbuat zhalim terhadap Rabb mereka dengan perbuatan syirik, terhadap diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat atau terhadap selain mereka dengan bertindak sewenang-wenang terhadap darah, harta atau kehormatan mereka; maka mereka itu akan berjalan di tengah kegelapan yang teramat sangat sehingga tidak dapat melihat arah jalan sama sekali.

Klasifikasi Kezhaliman

Syaikh Ibn Rajab berkata: “Kezhaliman terbagi kepada dua jenis: Pertama, kezhaliman seorang hamba terhadap diri sendiri :

Bentuk paling besar dan berbahaya dari jenis ini adalah syirik sebab orang yang berbuat kesyirikan menjadikan makhluk sederajat dengan Khaliq. Dengan demikian, dia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Jenis berikutnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai macamnya; besar maupun kecil.
Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, baik terkait dengan jiwa, harta atau kehormatan.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah bersabda ketika berkhuthbah di haji Wada’ : “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan haram kalian ini dan di negeri (tanah) haram kalian ini”.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang pernah terzhalimi oleh saudaranya, maka hendaklah memintakan penghalalan (ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak) akan diambil (dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan) kepadanya”.

Penyebab terjadinya

Ibnu al-Jauziy menyatakan: “kezhaliman mengandung dua kemaksiatan: mengambil milik orang lain tanpa hak, dan menentang Rabb dengan melanggar ajaran-Nya… Ia juga terjadi akibat kegelapan hati seseorang sebab bila hatinya dipenuhi oleh cahaya hidayah tentu akan mudah mengambil i’tibar (pelajaran)”.

Barangkali, penyebabnya juga dapat dikembalikan kepada definisinya sendiri, yaitu tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan hal ini terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama sehingga tidak mengetahui bahwa :

  • Hal itu amat dilarang bahkan diharamkan
  • Ketidakadilan akan menyebabkan adanya pihak yang terzhalimi
  • Orang yang memiliki sifat sombong dan angkuh akan menyepelekan dan merendahkan orang lain serta tidak peduli dengan hak atau perasaannya
  • Orang yang memiliki sifat serakah selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya sehingga membuatnya lupa diri dan mengambil sesuatu yang bukan haknya
  • Orang yang memiliki sifat iri dan dengki selalu bercita-cita agar kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain segera berakhir atau mencari celah-celah bagaimana menjatuhkan harga diri orang yang didengkinya tersebut dengan cara apapun

Terapinya

Diantara terapinya –wallâhu a’lam- adalah:

  • Mencari sebab hidayah sehingga hatinya tidak gelap lagi dan mudah mengambil pelajaran
  • Mengetahui bahaya dan akibat dari perbuatan tersebut baik di dunia maupun di akhirat dengan belajar ilmu agama
  • Meminta ma’af dan penghalalan kepada orang yang bersangkutan selagi masih hidup, bila hal ini tidak menimbulkan akibat yang lebih fatal seperti dia akan lebih marah dan tidak pernah mau menerima, dst. Maka sebagai gantinya, menurut ulama, adalah dengan mendoakan kebaikan untuknya
  • Membaca riwayat-riwayat hidup dari orang-orang yang berbuat zhalim sebagai pelajaran dan i’tibar sebab kebanyakan kisah-kisah, terutama di dalam al-Qur’an yang harus kita ambil pelajarannya adalah mereka yang berbuat zhalim, baik terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang lain.

Kikir/Bakhil

Hadits tersebut (hadits kedua) memberikan peringatan terhadap perbuatan kikir dan bakhil karena merupakan sebab binasanya umat-umat terdahulu. Ketamakan terhadap harta menggiring mereka bertindak sewenang-wenang terhadap harta orang lain sehingga terjadilah banyak peperangan dan fitnah yang berakibat kebinasaan mereka dan penghalalan terhadap isteri-isteri mereka. Kebinasaan seperti ini baru mereka alami di dunia .
Belum lagi di akhirat dimana tindakan sewenang-wenang terhadap harta orang lain, terhadap isteri-isterinya dan menumpahkan darahnya merupakan kezhaliman yang paling besar dan dosa yang teramat besar. Perbuatan-perbuatan maksiat inilah yang merupakan sebab kebinasaan di akhirat dan mendapat azab neraka.

Diantara Nash-Nash Yang Mencelanya

Banyak sekali nash-nash yang mencela dan mengecam perbuatan kikir/bakhil, diantaranya:

  • Firman Allah Ta’âla: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Q,.s.al-Hasyr/59: 9)
  • Firman Allah Ta’âla : “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q,.s. Âli ‘Imrân/03: 180)]
  • Firman Allah Ta’âla : “Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri…”. (Q,.s. Muhammad/47: 38)
  • Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad dan Imam at-Turmuzy di dalam kitabnya dari hadits Abu Bakar bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak masuk surga seorang yang bakhil”.
  • Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Turmuzy dan an-Nasâ-iy dari hadits Abu Dzar bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci tiga (orang): (1) orang yang sudah tua tetapi berzina, (2) orang yang bakhil/kikir yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya, (3) dan orang yang musbil (memanjangkan pakaiannya hingga melewati mata kaki) yang sombong”.

Penyebab timbulnya

Sifat Bakhil merupakan penyakit yang disebabkan oleh dua hal:

Pertama, cinta terhadap hawa nafsu yang sarananya adalah harta.
Kedua, cinta terhadap harta yang diakibatkan oleh hawa nafsu, kemudian hawa nafsu dan semua hajatnya tersebut terlupakan sehingga harta itu sendiri yang menjadi kekasih yang dicintainya.

Terapinya

Terapi yang dapat memadamkan hawa nafsu tersebut diantaranya:

  • Merasa puas dengan hidup yang serba sedikit
  • Bersabar dan mengetahui secara yakin bahwasanya Allah Ta’âla adalah Maha Pemberi rizki
  • Merenungi akibat dari perbuatan bakhil di dunia sebab tentu ada penyakit-penyakit yang sudah mengakar pada diri penghimpun harta sehingga tidak peduli dengan apapun yang terjadi terhadap dirinya.

Klasifikasi Prilaku Manusia Di Dunia

Prilaku manusia di dunia ini terdiri dari tiga klasifikasi:

  • Boros
  • Taqshîr (Mengurang-ngurangi) alias Bakhil
  • Ekonomis (berhemat/sedang-sedang saja)

Klasifikasi pertama dan kedua merupakan prilaku tercela sedangkan klasifikasi ketiga adalah prilaku terpuji.

Klasifikasi pertama, Boros (isrâf) adalah tindakan yang berlebih-lebihan di dalam membelanjakan harta baik yang bersifat dibolehkan ataupun yang bersifat diharamkan; ini semua adalah keborosan yang amat dibenci.

Klasifikasi kedua, Taqshîr (mengurang-ngurangi) alias bakhil; orang yang bersifat seperti ini suka mengurang-ngurangi pengeluaran baik yang bersifat wajib ataupun yang dianjurkan yang sesungguhnya sesuai dengan tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri).

Klasifikasi ketiga, ekonomis dan sistematis; orang yang bersifat seperti ini di dalam membelanjakan harta yang bersifat wajib yang terkait dengan hak-hak Allah dan makhluk melakukannya dengan sebaik-baiknya; apakah itu pengeluaran-pengeluaran biasa ataupun utang piutang yang wajib. Demikian pula, melakukan dengan sebaik-baiknya pengeluaran yang bersifat dianjurkan yang sesuai dengan tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri). Allah Ta’âla berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (Q,s.al-Furqân/25: 67)

Inilah yang merupakan salah satu kriteria dari sifat-sifat yang dimiliki oleh ‘Ibâd ar-Rahmân (hamba-hamba Allah).Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA:

  • ‘Abdul Bâqy, Muhammad Fuâd, al-Mu’jam al-Mufahris Li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm
  • Mausû’ah al-Hadîts asy-Syarîf (CD)
  • al-Bassâm, ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahmân, Taudlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, (Mekkah al-Mukarramah: Maktabah wa mathba’ah an-Nahdlah al-Hadîtsah, 1414 H), Cet. II
  • ad-Dimasyqiy, al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh, Zainuddîn, Abi al-Faraj, ‘Abdurrahmân bin Syihâbuddîn al-Baghdâdiy, Ibnu Rajab, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam fî Syarh Khamsîna Hadîtsan Min Jawâmi’ al-Kalim, (Beirut: Muassasah ar-Risâlah, 1412 H), Cet. III, Juz. II
  • ar-Râziy, Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Abdul Qâdir, Mukhtâr ash-Shihâh, (Lebanon: al-Markaz al-‘Arabiy Li ats-Tsaqâfah wa al-‘Ulûm, tth)
  • ad-Dimasyqiy, Abu al-Fidâ’, Ismâ’il bin Katsîr al-Qurasyiy, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, (Riyadl: Maktabah Dâr as-Salâm, 1414 H), Cet. I, Juz. VII
  • al-Jazâ-iry, Abu Bakar, Jâbir, asy-Syaikh, Minhâj al-Muslim, (Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, 1419 H), Cet. VI

Read more https://pengusahamuslim.com/1124-kezaliman-adalah-kegelapan-di-hari-kiamat.html

Menyemai Benih Keimanan Anak Sejak Dini

Dalam panggung sejarah, setiap kemenangan dan kemuliaan yang didapat oleh kaum muslimin bukan berasal dari perlengkapan yang hanya bersifat materi. Namun lebih dari itu, kemenangan dan kemuliaan mereka diperoleh dari keimanan yang mengakar kuat dalam hati sehingga menumbuhkan amaliah ibadah yang bagus dan akhlak yang terpuji.

Karena itu tak heran Khalifah Umar bin Khaththab tatkala melihat kehancuran Romawi beliau mengatakan kepada Abu Ubaidah al-Jarrah, “Kita dahulu benar-benar kaum yang sangat hina hingga Allah memuliakan kita dengan Islam. Apabila kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”[1]

Oleh sebab itu, sangat penting menanamkan dan menyemai akidah serta keimanan yang kuat dalam diri anak jika kita menginginkan mereka akan menjadi generasi yang kuat dan mulia.

WASPADAI PENGARUH BURUK MEDIA DAN LINGKUNGAN

Kegagalan musuh Islam dalam berbagai perang terbuka menggunakan senjata dan kekuatan membuahkan pemikiran untuk merusak generasi muslim dengan cara yang lebih halus. Di antaranya ialah dengan menyusupkan keyakinan dan akhlak yang tak baik ke dalam tontonan yang dapat mereka nikmati setiap hari.

Karena kita hidup di zaman yang serba bebas, maka tayangan-tayangan di dalam berbagai media yang kebanyakannya tidak mendidik dapat dinikmati oleh anak-anak jika kita tak pandai mengawasi dan memilah. Kemasan yang mengemas akhlak atau keyakinan yang tak baik itu sering terlihat sangat rapi sehingga banyak yang tidak menyadari.

Demikian pula dengan lingkungan yang buruk. Termasuk teman-teman sepergaulan, hendaknya orang tua dan pendidik selalu memperhatikan dengan siapa anaknya bergaul, karena agama seseorang tergantung dengan agama teman dekatnya.

Maka dari itu sebagai orang tua dan pendidik seharusnya kita selalu mewaspadai dan pandai memilah, mana yang baik dan mana yang tak baik untuk kelangsungan pendidikan anak-anak kita.

TANAM DAN RAWAT BENIH IMAN ANAK-ANAK KITA[2]

Upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik untuk menanamkan benih iman yang kokoh kepada anak di antaranya dengan:

  1. Mengenalkannya dengan fondasi-fondasi iman, memahamkannya tentang rukun-rukun Islam dan mengajarinya dasar-dasar Islam yang mulia.

Maksud dari fondasi-fondasi iman yang harus dikenalkan ialah kabar-kabar yang benar yang menerangkan tentang hakikat keimanan serta berita mengenai hal-hal yang gaib, semisal iman kepada Allah, Malaikat dan para Rasul serta hari akhir dan pembalasan. Demikian pula dengan pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, adzab kubur dan yang lainnya.

Adapun rukun-rukun Islam yang harus dipahamkan ialah setiap ibadah badan dan harta, semisal; shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.

Mengenai dasar-dasar Islam yang harus diajarkan, ialah setiap hal yang berhubungan dengan metode pendidikan yang menyangkut ajaran Islam semisal akidah, akhlak, hukum-hukum, peraturan Islam.

Maka setiap pendidik hendaknya selalu mengingat hal ini, supaya menanamkan pendidikan keimanan semenjak dini. Sehingga dengan hal itu anak-anak tidak akan mengenal lagi kecuali Islam sebagai agama, al-Qur’an sebagai panutan dan Rasulullah sebagai teladan yang harus diikuti.

Poin-poin di atas bukan hanya terambil dari teori yang tak berdasar. Bahkan hal itu semua berakar pada ajaran dan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam sebagai berikut:

  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengajari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang masih kecil dengan kalimat tauhid dan akidah yang benar. Yaitu perintah untuk hanya meminta dan berdoa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana tertera dalam hadits yang masyhur. (HR. at-Tirmidzi: 2516, dishahihkan oleh al-Albani)
  • Mengenalkan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini berdasarkan atsar yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan, “Beramallah dengan ketaatan kepada Allah dan jauhi maksiat kepada-Nya. Dan perintahkan anak-anakmu untuk selalu menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, karena hal itu sebagai penjagaan bagi mereka dan diri kalian dari api neraka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir) Dengan pembiasaan seperti ini semenjak kecil, niscaya anak akan tumbuh dan tidak akan mengenal syariat dan jalan hidup kecuali yang digariskan oleh Islam.
  • Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam agar membiasakan shalat semenjak umur mereka tujuh tahun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Perintahkan shalat kepada anakmu saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau) pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim)
  • Perintah untuk selalu mencintai Rasulullah dan mempelajari al-Qur’an. Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam mengatakan, “Tidak beriman salah satu di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan dari manusia semuanya.” (HR. al-Bukhari: 15) Demikian pula tentang keutamaan mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Sebaik-baik kalian ialah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari: 5027)
  1. Mengisahkan pengorbanan orang-orang yang shalih demi keimanan mereka.

Mengapa harus dengan kisah? Karena kisah merupakan sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah, ia pun lebih mudah dipahami oleh semua orang.

Akidah dan keimanan akan menjadi semakin tinggi dengan pengorbanan. Demikian pula semakin luas cakupan pengorbanan yang dilakukan demi keimanan dan keyakinan yang dipegang, maka keyakinan itu akan semakin mengakar kuat di dalam jiwa. Dengan itu pula kejujuran akan nampak serta menguat, dan itulah yang dinamakan sebagai istiqamah.

Anak-anak zaman sekarang tengah menghadapi berbagai tantangan dari musuh Islam untuk memalingkan mereka dari agama Allah dan keyakinan yang benar. Untuk menghadapi itu maka anak-anak harus dikenalkan pelajaran tentang pengorbanan demi akidah dan keimanan. Sehingga dengan itu mereka akan dapat merasakan manisnya iman dan kelezatannya.

Dan untuk membantu mengenalkan tentang pelajaran tersebut, hendaknya anak-anak diajarkan tentang sejarah hidup Rasulullah serta para sahabatnya saat membela keimanan dan akidah yang benar. Demikian pula dengan pengorbanan orang-orang shalih yang telah dikabarkan di dalam al-Qur’an dan dalam hadits yang shahih. Dengan mengetahui hal itu maka tatkala ujian datang, mereka akan mengorbankan apa pun demi keimanan mereka agar tetap terjaga, sebagaimana yang telah mereka pelajari dari sejarah hidup orang-orang shalih yang terdahulu.

Banyak sekali kisah yang menggambarkan pengorbanan demi keimanan yang tetap terjaga, semisal kisah Ashabul Ukhdud di dalam QS. al-Buruj, kisah Asiyah istri Fir’aun, kisah anak-anak sahabat Rasulullah saat mereka berebut untuk ikut berjihad di jalan Allah. Semisal ketika dua anak kecil yang bertanya kepada Abdurrahman bin Auf tentang letak Abu Jahal saat perang Badar karena mereka ingin membunuhnya, atau kisah Umair bin Abi Waqqash, saudara Sa’d bin Abi Waqqash menangis tatkala ditolak oleh Rasulullah saat pendaftaran peserta di pertempuran Badar, dan kisah-kisah pengorbanan yang lainnya.

MERENUNG SEJENAK

Kejayaan Islam di masa silam tentunya sangat kita rindukan. Namun bukan hanya berandai-andai tanpa adanya usaha, karena Badar tidak dimenangkan kecuali dengan kedalaman iman dan kuatnya keyakinan, Makkah tak bisa ditaklukkan kecuali karena ketaatan dan keimanan akan kebenaran janji Allah, dan yang lebih penting lagi, agama Islam tak akan bisa ada hingga sekarang jika para pendahulu kita tidak melakukan pengorbanan untuk tegaknya agama Allah. Walau harus dengan darah.

Dan pasti Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa. (QS. al-Hajj: 40)

Bila kita ingin generasi semisal orang-orang yang dapat menaklukkan Persia dan Romawi di masa silam, tentunya kita juga harus meniti jalan mereka saat mendidik dan menyiapkan generasi tersebut menjadi manusia yang hebat. Jika kita hanya berandai-andai tanpa ada usaha nyata, maka ibarat perkataan penyair Arab, Abul ‘Atahiyah,

Kau ingin selamat tapi tak mau menempuh jalannya

                              Sesungguhnya perahu itu tak akan bisa berjalan di atas daratan

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk bisa mendidik keturunan kita menjadi Generasi Rabbani yang dapat memberikan manfaat bagi umat. Amin

[1] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak.

[2] Disarikan dari Tarbiyatul Aulad, Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan dan Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah li ath-Thifli, Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dan beberapa referensi tambahan.

sumber: https://artikel.alfurqongresik.com/menyemai-benih-keimanan-anak-sejak-dini/