Membuat Setan Menangis dengan Sujud Tilawah

-Jika selama ini kita sering menangisi dosa kita karena godaan setan, atau menangisi diri karena lemahnya iman menerima takdir, maka kita bisa membuat setan menangis dengan cara melakukan sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah dalam Al-Quran

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃَ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﺍﻟﺴَّﺠْﺪَﺓَ ﻓَﺴَﺠَﺪَ ﺍﻋْﺘَﺰَﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻳَﺒْﻜِﻰ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠَﻪُ – ﻭَﻓِﻰ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﺃَﺑِﻰ ﻛُﺮَﻳْﺐٍ ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠِﻰ – ﺃُﻣِﺮَ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﺑِﺎﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻓَﺴَﺠَﺪَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔُ ﻭَﺃُﻣِﺮْﺕُ ﺑِﺎﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻓَﺄَﺑَﻴْﺖُ ﻓَﻠِﻰَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ

“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata:
“Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka. ”[1]

-Hukumnya adalah sunnah karena terdapat hadits Nabi shallalahu alaihi wa sallam sujud ketika membaca ayat sajadah [2] dan hadits lainnya beliau tidak sujud [3]

Syaikh Bin Baz menjelaskan,

ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ﺳﻨﺔ، ﻭﻫﻲ ﺳﺠﺪﺍﺕ ﻣﻌﻠﻮﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﺳﺠﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ

“Sujud tilawah hukumnya sunnah, yaitu sujud ketika membaca ayat-ayat sajadah pada 15 ayat dalam Al-Quran” [4]

-Perlu diketahui bahwa sujud tilawah bukanlah shalat, sehingga TIDAK dipersyaratkan harus bersuci dahulu dan menghadap kiblat, akan tetapi ini adalah sunnah sebagaimana dijelaskan ulama [5]

-Tata cara sujud tilawah

1) Sujud tilawah dilakukan sekali saja

2) Caranya dan posisinya sebagaimana sujud dalam shalat

3) Tidak diawali dengan takbiratur ihram dan tidak diakhiri dengan salam jika di luar shalat, akan tetapi ada ulama yang berpendapat agar takbir ketika akan sujud tilawah [6]

4) Sedangkan dalam shalat, maka bertakbir ketika sujud tilawah maupun ketika bangkit [7]

-Bacaan ketika sujud tilawah adalah sebagaimana bacaan-bacaan ketika sujud dalam shalat,  sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi, beliau berkata,

ﻭﻟﻮ ﻗﺎﻝ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺳﺠﻮﺩ ﺻﻼﺗﻪ ﺟﺎﺯ

“Jika membaca bacaan seperti bacaan dalam sujud shalat, maka boleh [8]

-Sunnahnya adalah membaca bacaan berikut,

a) Riwayat ‘Aisyah

ﺳَﺠَﺪَ ﻭَﺟْﻬِﻰ ﻟِﻠَّﺬِﻯ ﺧَﻠَﻘَﻪُ ﻭَﺻَﻮَّﺭَﻩُ ﻭَﺷَﻖَّ ﺳَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﺑَﺼَﺮَﻩُ
ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘِﻴﻦ

“Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.” [9]

b) Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻟَﻚَ ﺳَﺠَﺪْﺕُ ﻭَﺑِﻚَ ﺁﻣَﻨْﺖُ ﻭَﻟَﻚَ ﺃَﺳْﻠَﻤْﺖُ ﺳَﺠَﺪَ ﻭَﺟْﻬِﻲ ﻟِﻠَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻪُ ﻭَﺻَﻮَّﺭَﻩُ ﻓَﺄَﺣْﺴَﻦَ ﺻُﻮَﺭَﻩُ ﻭَﺷَﻖَّ ﺳَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﺑَﺼَﺮَﻩُ ﻓَﺘَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘِﻴﻦَ

“Ya Allah! Kepada-Mu aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.” [10]

c) Riwayat Ibnu ‘Abbas

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻛْﺘُﺐْ ﻟِﻲ ﺑِﻬَﺎ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺃَﺟْﺮًﺍ، ﻭَﺿَﻊْ ﻋَﻨِّﻲ ﺑِﻬَﺎ ﻭِﺯْﺭًﺍ، ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻬَﺎ ﻟِﻲ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺫُﺧْﺮًﺍ، ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻠْﻬَﺎ ﻣِﻨِّﻲ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻠْﺘَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﺩَﺍﻭُﺩَ ،

“Ya Allah! Tetapkanlah pahala untukku disisi-Mu dengan bacaan ini dan gugurkanlah dosa-dosaku! Jadikanlah dia sebagai tabunganku dan terimalah dia sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Daud”. [11]

-Jika sedang di atas kendaraan atau tidak memungkinkan sujud, maka sujud tilawah dengan isyarat menundukkan kepala [12]

-Demikian semoga bermanfaat

@Desa Pungka, Sumbawa Besar

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimAfiyah.com

Footnote:

[1] HR. Muslim

[2] Ibnu ‘Umar berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﻴَﻘْﺮَﺃُ ﺳُﻮﺭَﺓً ﻓِﻴﻬَﺎ ﺳَﺠْﺪَﺓٌ ﻓَﻴَﺴْﺠُﺪُ ﻭَﻧَﺴْﺠُﺪُ ﻣَﻌَﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﺎ ﻳَﺠِﺪُ ﺑَﻌْﻀُﻨَﺎ ﻣَﻮْﺿِﻌًﺎ ﻟِﻤَﻜَﺎﻥِ ﺟَﺒْﻬَﺘِﻪِ

“Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya .” (HR. Bukhari dan Muslim)

[3] Dari Zaid bin Tsabit,

ﻗَﺮَﺃْﺕُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ‏( ﻭَﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ‏) ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺴْﺠُﺪْ ﻓِﻴﻬَﺎ

“Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

[4] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/2373

[5] Syaikh Bin Baz Menjelaskan,

ﻭﺳﺠﺪﺓ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ﻟﻴﺴﺖ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ، ﺑﻞ ﻫﻲ ﺧﻀﻮﻉ ﻟﻠﻪ ﻭﺗﺄﺱ ﺑﺮﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻼ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﻟﻬﺎ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺼﻼﺓ،

“Sujud tilawah bukanlah sujud dalam shalat tetapi ialah bentuk ketundukan/merendahkan diri kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, sehingga tidak dipersyaratkan sebagaimana syarat shalat” [sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/fatawa/1085%5D

[6] Sebagaimana pendapat syaikh Al-Utsaimin, beliau berkata

ﻛﻴﻔﻴﺔ “ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ” ﺃﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻭﻳﺴﺠﺪ ﻛﺴﺠﻮﺩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﺴﺒﻌﺔ

“Tata cara sujud tilawah adalah bertakbir kemudian sujud sebagaimana sujud shalat dengan tujuh anggota badan (menyentuh tanah/lantai).” (Majmu’ Fatawa wa Rasail)

[7] Sebagaimana dalam hadits,

ﺇِﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺭَﻓْﻊٍ ﻭَﺧَﻔْﺾٍ

“sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dalam setiap naik dan turun. [HR. Al-Bukhari 1/191]

[8] Raudhatut Thalibin 1/322

[9]  HR. Abu Dawud no. 1414 dan shahihkan al-Albani

[10] HR. Muslim

[11] HR. Tirmidzi dishahihkan Al-Albani

[12] Dari Ibnu Umar,

ﻭَﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ : ﺃَﻧَّﻪُ ﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺪَّﺍﺑَﺔِ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﺳْﺠُﺪْ ﻭَﺃَﻭْﻣِﺊْ .

Beliau ditanyakan mengenai sujud (tilawah) di atas tunggangan. Beliau mengatakan, “ Sujudlah dengan
isyarat. ” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih )

sumber : https://muslimafiyah.com/membuat-setan-menangis-dengan-sujud-tilawah.html

Waspada Pandangan Hasad

‘Ain adalah pengaruh pandangan hasad (dengki) dari orang yang dengki sehingga bisa membahayakan orang yang dipandang.

Misalnya saja anak kecil yang dipandang dengan penuh dengki, maka ia bisa jatuh sakit atau terus-terusan menangis. Selain dari penglihatan, hasad ternyata bisa terjadi melalui gambar atau hanya sekedar khayalan.

Ibnul Qoyyim rohimahullah dalam Zaadul Ma’ad (4: 153) berkata,

ونفس العائن لا يتوقف تأثيرها على الرؤية ، بل قد يكون أعمى فيوصف له الشيء فتؤثر نفسه فيه وإن لم يره ، وكثير من العائنين يؤثر في المعين بالوصف من غير رؤية

“’Ain bukan hanya lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu lalu ia bisa memberikan pengaruh ‘ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa ‘ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan tanpa melihat..”

Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah berkata, “Dari sini terlihat bahwa ‘ain bisa ditimbulkan dengan melihat pada gambar seseorang secara langsung atau melihatnya di TV. Bahkan bisa hanya dengan mendengar, lalu dikhayalkan dan terkenalah ‘ain. Kita memohon pada Allah keselamatan..” (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272)

Kunci utama agar terjauhkan dari ‘ain adalah mendekatkan diri pada Allah dengan tawakkal pada-Nya, juga selalu rutinkan dzikir setiap harinya agar diri dan anak kita selamat dari orang yang hasad (dengki). Hanya kepada Allah tepat berlindung sebagaimana disebutkan dalam surat Al Falaq, kita berlindung dari kejelekan orang yang hasad ketika ia hasad.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/55933

Awas, Ada Setan di Sisi Anda!

Sobat! Bayangkan di tengah malam yang sunyi senyap dan gelap gulita, hujan turun rintik-rintik, tiba tiba anda terjaga dari tidur. Anda berusaha untuk tidur kembali namun ternyata mata anda seakan enggan untuk dipejamkan, akibatnya anda gelisah.

Atau barangkali anda sedang asyik berselancar di dunia maya membuka buka situs yang memajang gambar “topless” atau “ayam kampus”. Dalam kondisi semacam itu, tiba tiba anda mendengar suara seseorang yang memanggil anda: “hai fulaaan, engkau susah tidur ya? Fulan, apa yang engkau tonton? Fulan, segera lakukan ini dan itu, pikirkan ini dan itu ….”

Anda penasaran dengan suara itu, sehingga anda menoleh ke kanan atau ke kiri, untuk mengetahui siapakah yang memanggil anda. Namun anehnya, walau lampu di kamar anda terang benderang, ternyata tak seorangpun ada di kamar anda selain anda sendiri.

Walau demikian, bisikan suara itu tetap saja terdengar oleh anda, bahkan semakin banyak kata kata yang anda dengar dan seakan semakin keras.

Sobat, kira kira apa yang anda lakukan bila mengalami kondisi semacam ini? Anda menjerit meminta pertolongan? Atau anda segera melarikan diri keluar kamar untuk meminta pertolongan? Ataukah anda akan segera kembali ke kasur anda untuk meneruskan tidur anda? Atau melanjutkan perselancaran anda di dunia maya?

Sobat! Tahukah anda bahwa sejatinya kondisi tersebut benar benar telah anda alami dan akan terus anda alami. Anda tidak percaya? simak sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

{ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الملائكة وقرينه من الجن. قالوا: وإياك يا رسول الله قال: وإياي إلا أن الله أعانني عليه فأسلم وفي رواية فلا يأمرني إلا بخير}

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali ia didampingi selalu oleh qariin(teman dekat) dari bangsa Malaikat dan qariin dari bangsa jin. Spontan para sahabat bertanya: apakah engkau juga demikian ya Rasulullah? Beliau menjawab: termasuk aku, hanya saja Allah menolongku, sehingga pendampingku ( dari bangsa jin) masuk islam, dan ia tiada membisikkan kepadaku kecuali kebaikan” (HR. Muslim).

Sobat! Sadarkah anda apa yang selama ini terjadi pada diri anda? Selama ini Betapa sering dan betapa banyak anda hanyut dalam bisikan setan, terlebih lagi di saat anda berada di tempat sunyi atau jauh dari keramaian orang.

Ketahuilah bahwa ide ide nakal yang terdengar oleh batin anda sejatinya adalah seruan seruan setan. Masihkah anda merasa aman dari gangguan setan di saat anda dalam kesunyian? Adakah anda masih merasa bahwa anda bebas dari pengaruh atau godaan setan?

—

Penulis: Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.


Sumber: https://muslim.or.id/23656-setan-di-sisi-anda.html

Rutinkan membaca 2 ayat ini

Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah. Barang siapa yang membacanya pada malam hari, maka dua ayat tersebut telah mencukupinya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan tentang keutamaan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah.

Para ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa dengan membaca ayat tersebut imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut bisa sebagai pengganti dari berbagai dzikir karena di dalamnya sudah terdapat do’a untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat. (Lihat bahasan Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha dalam Nuzhah Al-Muttaqin, hal. 400-401.)

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa makna hadits bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah akan mencukupkan dari shalat malam. Atau orang yang membacanya dinilai menggantungkan hatinya pada Al-Qur’an. Atau bisa pula maknanya terlindungi dari gangguan setan dengan membaca ayat tersebut. Atau bisa jadi dengan membaca dua ayat tersebut akan mendapatkan pahala yang besar karena di dalamnya ada pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada Allah dan berisi pula do’a kebaikan dunia dan akhirat. (Ikmal Al-Mu’allim, 3: 176, dinukil dari Kunuz Riyadhis Sholihin, 13: 83).

Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84.)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan tentang keutamaan dua ayat tersebut ketika dibaca di malam hari, “Ketahuilah para ikhwan sekalian, kedua ayat ini jika dibaca di malam hari, maka akan diberi kecukupan. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah dijaga dan diperintahkan oleh Allah, juga diperhatikan dalam do’a karena dalam ayat tersebut terdapat doa untuk maslahat dunia dan akhirat.” (Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 2: 540-541).

Semoga bisa mengamalkan untuk membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah ini mulai dari malam ini. Semoga kita meraih kebaikan dan keberkahan. Semoga Allah memberi taufik.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc, حفظه الله تعالى.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/17904

Sungguh-Sungguh Waktu Muda .. Tua Memetik Buah

Al-Qurthubiy rohimahullah berkata :

إن الإنسان إذا عمّر في الدنيا و هرم لفي نقص و ضعف و تراجع، إلا المؤمنين، فإنهم تكتب لهم أجورهم التي كانوا يعملونها في حال شبابهم

“Sesungguhnya manusia itu apabila diberi umur panjang, dan menjadi tua renta, sungguh (pada hakikatnya) ia dalam keadaan berkurang, kelemahan, dan dalam kemunduran, kecuali orang-orang yang beriman, dicatat untuk mereka pahala mereka, dari amalan yang mereka lakukan dahulu di masa muda..”

(Al-Jami’ li-ahkamil-Qur’an: 20/180).

Waktu berjalan dan berlalu terus tidak akan pernah menunggu kita, orang yang paling bahagia adalah yang mengisi waktunya dengan mentauhidkan Allah, dengan ibadah dan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat..

Jangan tertipu dengan angan-angan, dan ungkapan “bersenang-senang dengan maksiat mumpung masih muda, tua tinggal bertaubat..”

Justru yang harus kita ingat adalah isilah waktu kita dengan hal-hal yang mendatangkan ridho Allah ta’ala, dan ketika tua renta tinggal memetik buah-buah pahala kebaikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/59065

[Kitabut Tauhid 10] 40 Mencintai Allah 28

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Banyak pengakuan cinta sebagian orang kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, yang dalam mewujudkannya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai atau justru dimurkai oleh Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah :

  1. Peringatan maulid (hari kelahiran) Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Berlebihan dalam memuji Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dimana Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- disifati dengan sebagin sifat-sifat rububiyyah yang merupakan kekhususan Allâh -‘Azza wa Jalla-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Bagaimana Anda Berlepas Diri Dari Jimat Tanpa Bahaya?

Pertanyaan
Salah seorang pekerja saya, ayah saya memastikan bahwa dia sedang terkena penyakit ‘ain, ia menghadirkan sebuah batu dan berkata: “Letakkanlah di dalam sakumu, ia akan menjagamu dari penyakit ‘ain”, setelah beberapa hari ia membawa secarik kertas yang  tertulis di atasnya: ا ب ع د dan pada kertas bagian bawah tertera الله الحامي  dan ada kalimat yang tidak bisa difahami, dan rajah dan jimat, kami ingin berlepas diri dari kertas tersebut; karena tidak sesuai syari’at, akan tetapi kami belum tau cara yang benar untuk berlepas diri dari hal itu namun tidak membahayakan bagi kami, saya harap anda bisa menjelaskan beberapa patah kata yang bermanfaat dan sebagai nasehat bagi kami.

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama : Penyakit ‘ain ini benar adanya, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, untuk menjaga darinya dengan cara ruqyah syar’iyyah, wirid nabawi, bukan dengan jimat, tidak juga dengan mantra yang ditulis oleh para dukun dan pesulap.

Kedua: Membawa batu dan mantra dengan tujuan pencegahan dari ‘ain dan sihir, hal ini masuk dalam kategori menggantungkan jimat yang dilarang, dari Uqbah bin Amir al Juhani –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kedatangan romongan kepada beliau, lalu membaiat Sembilan orang dan menahan (tidak membaiat) satu orang, maka mereka berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا . قَالَ : إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً ، فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ ، وَقَالَ : ( مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ )
رواه أحمد (16781) ، وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة 492

“Wahai Rasulullah, Anda telah membaiat Sembilan dan meninggalkan orang ini, beliau bersabda: “Sungguh dia masih mempunyai jimat, lalu ia memasukkan tangannya dan mematahkan jimat tersebut maka Nabi pun membaiatnya, dan bersabda: “Barang siapa yang mengaitkan jimat maka ia telah melakukan syirik”. [HR. Ahmad: 16781 dan telah ditashih oleh Albani di dalam Silsilah Shahihah: 492]

Imam Ahmad (17440) telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :   مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ
والحديث حسنه الأرنؤوط في تحقيقه على المسند.

Baca Juga  Hukum Tukang Sihir Dari Kalangan Ahlul Kitab, Bolehkah Menghilangkan Sihir Dengan Sihir?
“Saya telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barang siapa yang telah mengaitkan jimat maka Allah tidak menyempurnakan baginya, dan barang siapa yang telah mengaitkan jimat leher maka Allah tidak meringankan apa yang ditakutinya”. [Hadits dihasankan oleh Al Arna’uth pada saat meneliti Musnad]

Al Wada’ah adalah bentuk satu dari Al wada’ yaitu; batu yang diambil dari laut dan mengalungkannya (di leher) untuk untuk menjaga dari ‘ain.

Al Khithabi –rahimahullah- berkata:
“Jimat itu yang dikenal dengan butiran manik yang dikalungkan menurut mereka mampu menolak bencana”.

Al Baghawi –rahimahullah- berkata:
“Tamaim bentuk jamak dari tamim (Jimat) adalah butiran manik yang dikalungkan oleh orang Arab kepada anak-anak mereka untuk melindungi dari ‘ain menurut anggapan mereka, lalu dibantah oleh syari’at”. [at Ta’rifaat al I’tiqadiyah: 121]

Pendapat yang benar dari kedua pendapat para ulama adalah jimat itu haram meskipun dari Al Qur’an.

Adapun yang terdiri dari huruf dan kata-kata aneh maka sudah pasti keharamannya, tidak aman dari kategori sihir dan meminta bantuan kepada jin.

Ketiga : Cara meninggalkan jimat dan sihir ketika mendapatkannya, dengan cara mengurai simpulnya -jika ada- diurai sebagian dengan sebagian lainnya lalu dengan menghancurkan dengan cara dibakar atau yang semacamnya, sebagaimana yang telah ditetapkan riwayatkan pada hadits Zaid bin Arqom –Radhiyallahu ‘anhu- berkata:

  كان رجل من اليهود يدخل على النبي صلى الله عليه وسلم ، وكان يأمنه ، فعقد له عُقَدا فوضعه في بئر رجل من الأنصار ، فاشتكى لذلك أياما. وفي حديث عائشة : ( ستة أشهر ) فأتاه ملكان يعودانه فقعد أحدهما عند رأسه والآخر عند رجليه ، فقال أحدهما : أتدري ما وجعه ؟ قال : فلان الذي كان يدخل عليه عقد له عُقَدا ، فألقاه في بئر فلان الأنصاري ، فلو أرسل إليه رجلا وأخذ منه العقد لوجد الماء قد اصفر . فأتاه جبريل فنزل عليه بالمعوذتين وقال : إن رجلا من اليهود سحرك ، والسحر في بئر فلان ، قال : فبعث عليا رضي الله عنه فوجد الماء قد اصفر فأخذ العقد فجاء بها ، فأمره أن يحل العقد ويقرأ آية ، فجعل يقرأ ويحل ، فجعل كلما حل عقدة وجد لذلك خفة ، فبرأ

Baca Juga  Cara-Cara Jin Mengganggu Manusia Dan Bagaimana Melindungi Diri Darinya
أورده الألباني في السلسة الصحيحة (6/615) وعزاه للحاكم (4/460) والنسائي (2/172) وأحمد (4/367) والطبراني.

“Ada seorang yahudi menghadap kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan beliau memberinya keamanan, lalu ia membuat simpul dan diletakkkan di dalam sumur salah seorang Anshar, lalu ia mengeluh selama beberapa hari, dan di dalam hadits Aisyah selama enam bulan, beliau didatangi kedua malaikat menjenguknya, salah satunya duduk di kepala beliau dan yang satu lagi di kedua kakinya, salah satu dari keduanya berkata: “Apakah anda tahu apa penyakitnya ?”, ia menjawab: “seseorang yang telah menghadap kepada beliau telah membuat simpul, lalu ia lemparkan ke sumur salah seorang Anshar, kalau pun mengutus seseorang menuju sumur tersebut untuk mengambil simpul itu maka airnya pun sudah tercemar kekuningan, lalu Jibril datang dan turun dan membacakan dua surat perlindungan, dan berkata: “Sungguh salah seorang yahudi  telah mensihir anda, dan sihirnya di dalam sumur fulan, beliau bersabda dan mengutus Ali –radhiyallahu ‘anhu- dan ia mendapati air sumur itu sudah tercemar kekuningan dan mengambil simpul tersebut dan membawanya kepada beliau, seraya beliau menyuruhnya untuk mengurai simpul itu dan membacakan ayat, maka dia pun membaca sambil mengurai simpul tersebut, maka setiap kali terurai satu simpul maka beliau merasa lebih baik dan sembuh”. [Dikutip Albani di dalam Silsilah Shahihah (6/615) dan Hakim (4/460) dan Nasa’i (2/172) dan Ahmad (4/367) dan Thabrani]

Syeikh Ibnu Baz –rahimahullah- berkata:
“Dilihat apa yang telah dilakukan oleh penyihir, jika diketahui bahwa misalnya dia telah meletakkan rambut pada tempat tertentu, atau menjadikannya berada pada sisir, atau pada tempat lain, jika dia tahu bahwa sihir itu diletakkan pada tempat tertentu, maka hilangkanlah sihir tersebut dengan dibakar dan dirusak maka objeknya akan dibatalkan kemanjurannya dan hilanglah apa yang menjadi keinginan tukang sihirnya”. [Majmu’ Fatawa wa Maqalaat Syeikh Ibnu Baz: 8/144]

Maka cara melenyapkan kertas yang ada pada ayah anda, dengan cara merobeknya dan membakarnya dengan disertai taubat kepada Allah –Ta’ala- dari menggantungkan jimat dan bertumpu kepadanya.

Wallahu A’lam
Referensi : https://almanhaj.or.id/2556-bagaimana-anda-berlepas-diri-dari-jimat-tanpa-bahaya.html

Kepada Mereka Yang Ragu

Kepada Seorang pemuda yang ragu melangkah maju untuk menikah, khawatir tidak bisa menghidupkan rumah tangga..

Kepada orang tua yang membatasi anaknya hanya dua atau tiga saja, karena khawatir miskin..

Kepada siapapun yang bingung hidup.. takut miskin..
Kepada orang yang selalu mengeluh kesusahan hidup..

Simaklah perkataan Ulama besar Al Hasan Al Bashri rohimahullah berikut ini,

قال الحسن البصري: قرأت في تسعين موضعا من القرآن أن الله قدر الأرزاق وضمنها لخلقه ، وقرأت في موضع واحد ” الشيطان يعدكم الفقر” : فشككنا في قول الصادق في تسعين موضعا ، وصدقنا قول الكاذب في موضع واحد

“Aku telah membaca di SEMBILAN PULUH tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Quran, bahwa sesungguhnya ALLAH TELAH MENETAPKAN REZEKI dan MENJAMIN (menggaransi) REZEKI itu untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada SATU tempat syaitan menakut-nakutimu akan kefakiran, lantas, (apakah layak) kita ragu terhadap perkataan yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong (hanya) di satu tempat..?”

Apakah setelah ini, kita masih ragu terhadap rezeki kita yang telah ditetapkan Allah untuk kita..?

Bersemangatlah… maju.. Langkahkanlah kaki anda untuk maju ke depan..

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Elvi Syam MA, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/10573