TIPS AGAR ISTRI TAMBAH CANTIK…

Semakin engkau mengumbar pandanganmu maka semakin pudarlah kecantikan dan keelokan istrimu di matamu, dan semakin engkau menjaga pandanganmu maka semakin cantik paras istrimu di matamu…

Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Yaa Allah cukupkanlah diriku dengan perkara-perkara yang halal dari (membutuhkan) perkara-perkara yang haram, dan cukupkanlah diriku dengan karunia-Mu dari selain-Mu”

Sungguh merupakan bentuk kufur nikmat tatkala Allah telah memberikan kenikmatan yang halal baginya lantas ia mencari-cari kenikmatan yang diharamkan oleh Allah.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/38233?fbclid=IwAR1SZuf4BO4SHb2gYiYSuQZUNr6h7kEYsgECsze12GBl_BcrGTUcOxa3n-8

Wanita dan Sedekahnya

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Wanita dan sedekahnya merupakan pembahasan yang cukup penting, karena di antara hal yang sangat membantu mereka untuk selamat dari neraka Jahanam adalah dengan banyak bersedekah. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, di mana suatu hari Nabi Muhammad ﷺ khotbah Id, kemudian setelah beliau berkhotbah maka beliau maju bersama Bilal ke saf-saf para wanita. Ketika itu, Nabi Muhammad ﷺ mengkhususkan nasihat kepada para wanita, dan Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada mereka,

تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ

“Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahanam.”

Mendengar hal tersebut maka salah seorang wanita berdiri dan bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang alasannya. Maka beliau menjawab,

لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

“Karena kalian lebih banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.”

Akhirnya, para wanita pun menyedekahkan perhiasan yang mereka miliki dengan melemparkannya ke dalam kain yang dihamparkan Bilal, termasuk cincin dan kalung-kalung mereka.[1] Ini menunjukkan bagaimana semangat para shahabiat untuk bersedekah.

Demikian pula disebutkan dalam riwayat yang lain, Zainab istri Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhuma ingin bersedekah setelah mendengar perintah Nabi Muhammad ﷺ agar para wanita bersedekah. Akan tetapi, ketika dia hendak bersedekah, dia ditahan oleh Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud berkata kepada istrinya bahwa dia dan anak-anaknya lebih pantas untuk menerima sedekahnya. Maka istri Ibnu Mas’ud pun kemudian mengadukan hal tersebut kepada Nabi Muhammad ﷺ dan berkata,

يَا نَبِيَّ اللَّهِ، إِنَّكَ أَمَرْتَ اليَوْمَ بِالصَّدَقَةِ، وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي، فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ، فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ: أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ

“Wahai Nabi Allah, sungguh Anda hari ini sudah memerintahkan sedekah, sedangkan aku memiliki emas yang aku hendak menzakatkannya. Namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahik).”

Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ

“Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih berhak kamu berikan sedekah dari pada mereka.”[2]

Dua hadits yang kita sebutkan ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana semangatkan para shahabiat untuk bersedekah, bahkan ketika Nabi Muhammad ﷺ memerintah mereka untuk bersedekah, maka emas-emas yang mereka kenakan pun langsung mereka sedekahkan. Mereka melakukan demikian karena Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan sebab, yaitu sedekah mereka bisa menyelamatkan mereka dari azab neraka jahanam. Ketika Nabi Muhammad ﷺ mengatakan,

تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ

“Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahanam.”

Maka, ketika Nabi Muhammad ﷺ mengaitkan antara sedekah dan neraka, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sedekah adalah di antara amalan terbaik dari para wanita untuk menyelamatkan mereka dari ancaman neraka jahanam, karena disebutkan bahwa wanita banyak masuk neraka karena para wanita suka kufur nikmat terhadap suaminya.

Kufurnya para istri terhadap suaminya ini banyak terjadi di kalangan para wanita. Kita tidak mengatakan bahwa semua wanita demikian, akan tetapi banyak para wanita demikian. Penulis tentunya mengatakan demikian karena Nabi Muhammad ﷺ yang mengatakan demikian. Nabi Muhammad ﷺ dalam banyak hadis-hadisnya telah menjelaskan banyak watak para wanita, dan di antara adalah hadis yang telah kita sebutkan, bahwasanya di antara watak para wanita adalah sering kufur terhadap suaminya. Sampai dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering kufur.” Ditanyakan, ‘Apakah mereka mengingkari Allah?’ Beliau bersabda, ‘Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa[3], lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu’.”[4]

Perkataan semacam ini sering sekali terucap oleh sebagian para wanita, mereka lupa diri ketika marah terhadap suami mereka, sehingga mereka kemudian mengungkapkan kata-kata yang menunjukkan keumuman dari perkataan Nabi Muhammad ﷺ ini. Di antara keumuman bentuk perkataan tersebut antara lain, ‘Aku tidak pernah melihat engkau mencintaiku,’ ‘Engkau tidak pernah sayang kepadaku’, ‘Engkau tidak pernah perhatian terhadapku’, dan bentuk perkataan lainnya. Perkataan ‘Tidak pernah’ ini adalah perkataan umum berbahaya dan mudah menjerumuskan para wanita ke dalam neraka jahanam. Oleh karenanya, contoh-contoh ini menjadi bukti bahwasanya seorang wanita di antara wataknya adalah tidak pandai bersyukur dan berterima kasih kepada suami.

Sering penulis sampaikan sebuah cerita, bahwasanya seorang kawan telah bercerita kepada penulis tentang seseorang yang memberi uang kepada tukang parkir, dan ternyata tukang parkir tersebut berterima kasih dan didoakan, padahal dia hanya memberi sepuluh ribu rupiah. Adapun ketika istrinya diberi uang seratus ribu rupiah, ternyata istrinya tidak berterima kasih, dan tidak pula mendoakan suaminya, bahkan bertanya-tanya, ‘Kenapa hanya seratus ribu?’. Demikianlah kenyataan pahit yang menimpa sebagian para wanita, di mana mereka tidak pandai bersyukur kepada suaminya, merendahkan suaminya, tidak menghargai pemberian suaminya, melupakan pemberian suaminya, dan satu kesalahan suaminya membuatnya lupa dengan segala kebaikan suaminya. Tentunya, perkara-perkara tersebut sangatlah berbahaya, sehingga para wanita perlu melakukan sesuatu untuk bisa selamat dari ancaman atas perilaku tersebut. Di antara cara agar para wanita selamat dari sikap dan perilaku tersebut jika telah terlanjur diucapkan adalah selain dia harus minta maaf kepada suaminya, dia juga harus banyak bersedekah, karena sabda Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa sedekah bisa menyelamatkan seseorang dari neraka jahanam.

Banyak bersedekah adalah salah satu cara agar selamat dari neraka jahanam. Lihatlah firman Allah ﷻ tentang angan-angan seseorang yang hendak meninggal dunia,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh’.” (QS. Al-Munafiqun: 9-10)

Lihatlah, orang yang hendak meninggal dunia ternyata berharap untuk bersedekah. Kita tidak mengatakan bahwa sedekah adalah amalan yang lebih hebat daripada yang lain, akan tetapi ayat ini merupakan dalil yang jelas bahwasanya sedekah itu pahalanya sangat besar dan bisa memberikan keselamatan di dunia maupun di akhirat, sampai-sampai jika seseorang bisa ditangguhkan kematiannya maka dia memilih untuk bersedekah. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda tentang sedekah yang terbaik dan yang kurang baik, beliau ﷺ bersabda,

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ: لِفُلَانٍ كَذَا، وَلِفُلَانٍ كَذَا، أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

“Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu: ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si Fulan.”[5]

Pada hadis ini, Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa sedekah yang terbaik adalah sedekah yang dilakukan ketika sehat, ketika takut akan kemiskinan dan berangan-angan untuk kaya. Adapun sedekah yang kurang baik adalah sedekah yang dikeluarkan ketika hendak meninggal dunia. Intinya, di antara angan-angan yang ingin disampaikan orang yang sedang dalam sakratulmaut adalah mereka ingin bersedekah dengan harta yang mereka miliki. Akan tetapi, sayangnya mereka tidak bisa lagi bersedekah. Allah ﷻ berfirman,

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

Oleh karenanya, sedekah adalah perkara yang sangat luar biasa dalam kaitannya menyelamatkan seseorang dari azab neraka jahanam.

Keutamaan sedekah
Ada banyak dalil-dalil yang menjelaskan keutamaan sedekah. Di antaranya sebagai berikut:

Menghalangi dari api neraka
Selain dali-dalil yang telah kita sebutkan sebelumnya, terdapat dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwasanya sedekah bisa menghalangi seseorang dari api neraka. Di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun dengan (bersedekah) sebutir kurma.”[6]

Jangan kita salah dalam memahami sabda Nabi Muhammad ﷺ ini sebagai anjuran untuk berlaku pelit, tidak demikian. Akan tetapi, maksud Nabi Muhammad ﷺ adalah jika seseorang tidak memiliki apa-apa untuk disedekahkan kecuali hanya memiliki sebutir kurma, maka sedekahkanlah sepenggalnya. Bagi seseorang yang bersedekah sepenggal kurma mungkin merasa bahwa hal tersebut tidak ada nilainya, akan tetapi hal tersebut akan sangat bernilai di sisi Allah ﷻ.

Memadamkan murka Allah ﷻ
Sedekah bisa memadamkan murka Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

صَدَقَةُ السِّرُّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبّ

“Sedekah yang dikeluarkan secara diam-diam akan memadamkan kemurkaan Allah.”[7]

Ada sedekah yang ditampakkan dan ada pula yang tidak ditampakkan. Namun, yang terbaik tentunya adalah yang tidak ditampakkan, karena Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa sedekah yang dilakukan secara diam-diam bisa memadamkan murka Allah ﷻ.

Mendapatkan naungan pada hari kiamat
Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari kiamat) hingga perkara di antara manusia diputuskan.”[8]

Yaitu, ketika manusia telah dikumpulkan di padang mahsyar, ketika jarak matahari dengan manusia hanya berjarak satu mil, semua orang kepanasan dan keringat bercucuran. Meskipun dalam kondisi demikian, ternyata ada golongan orang-orang yang berbahagia. Di antara orang-orang yang berbahagia dan mendapatkan naungan adalah orang yang bersedekah. Hadits di atas juga menjelaskan kepada kita bahwasanya semakin banyak sedekah seseorang, maka akan semakin besar pula naungannya.

Meraih husnulkhatimah
Selain keutamaan sedekah di akhirat, sedekah juga memiliki keutamaan di dunia. Di antaranya adalah sedekah bisa membuat seseorang husnulkhatimah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ

“Berbuat baik kepada orang lain akan menghalangi dari kesudahan yang buruk.”[9]

Berbuat kebaikan itu banyak, dan sedekah termasuk di dalamnya. Maka, hadits ini menjelaskan bahwasanya dengan berbuat baik kepada orang lain seperti sedekah, akan menghalangi seseorang dari kesudahan yang buruk, yaitu suulkhatimah.

Maka dari itu, hendaknya kalian para wanita untuk melatih diri untuk bersedekah dan ikhlas kepada Allah ﷻ. Ingatlah, sedekah itu memerlukan pengorbanan.

Sedekahnya para salaf

Ketika kita berbicara tentang sedekahnya para sahabat laki-laki, tentu sangat banyak di antara mereka yang bersedekah, dan bahkan sedekah mereka sangat luar biasa. Contohnya adalah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, beliau bersedekah dengan seluruh hartanya. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu meriwayatkan,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ، فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي، فَقُلْتُ: الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟، قُلْتُ: مِثْلَهُ، قَالَ: وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟ قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قُلْتُ: لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا

“Rasulullah ﷺ memerintahkan Kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang saya miliki. Lalu saya mengatakan, ‘Apabila aku dapat mendahului Abu Bakar pada suatu hari maka hari ini aku akan mendahuluinya’. Kemudian saya datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya katakan, ‘Harta yang semisal dengan itu’. Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia miliki. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Ia berkata, ‘Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya’. Maka saya berkata, ‘Saya tidak akan dapat mendahuluimu kepada sesuatu pun selamanya’.”[10]

Demikian pula ketika kita berbicara tentang sedekahnya ‘Utsman bin ‘Affan, dan para sahabat yang lain radhiallahu ‘anhum, sedekah mereka sangatlah luar biasa.

Lantas, bagaimana sedekahnya para shahabiat? Ternyata, para shahabiat juga tidak kalah hebatnya dalam bersedekah. Di antara contohnya adalah sebuah riwayat dari Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma. Asma’ binti Abu Bakar memiliki suami bernama Zubair. Asma’ binti Abu Bakar kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لِيَ مَالٌ إِلَّا مَا أَدْخَلَ عَلَيَّ الزُّبَيْرُ، فَأَتَصَدَّقُ؟ قَالَ: تَصَدَّقِي، وَلاَ تُوعِي فَيُوعَى عَلَيْكِ

“Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang diberikan oleh Zubair kepadaku. Apakah aku boleh bersedekah dengannya?[11] Beliau menjawab, ‘Bersedekahlah dan jangan kamu tutup rapat tempat hartamu[12], karena nanti Allah menutup rezekimu.”[13]

Dalam riwayat yang lain, Nabi Muhammad ﷺ menjawab dengan berkata,

لاَ تُوكِي فَيُوكَى عَلَيْكِ

“Janganlah kamu menutup tempat hartamu, sebab nanti Allah menutup rezekimu.”[14]

لاَ تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

“Janganlah kamu perhitungan untuk bersedekah, sebab nanti Allah akan perhitungan terhadapmu.”[15]

Bahkan dalam riwayat yang lain, Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepada Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma,

لاَ تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ، ارْضَخِي مَا اسْتَطَعْتِ

“Jangan kamu tutup rapat hartamu, nanti Allah akan menutup rezekimu. Bersedekahlah dengan semampumu.”[16]

Dari riwayat-riwayat tersebut, kita dapat memahami bahwasanya bersedekah membutuhkan keimanan dan pengorbanan. Kita juga memahami bahwa tidak semua harta kemudian kita sedekahkan seperti Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang menyedekahkan semua hartanya, akan tetapi kata Nabi Muhammad ﷺ adalah bersedekah semampu kita, dan ini menunjukkan bahwasanya dari sisi kita sendiri harus ada usaha untuk mau bersedekah.

Oleh karenanya, ketika seorang istri diberikan harta oleh suaminya untuk keperluan rumahnya, kemudian ketika seluruh kebutuhan telah terpenuhi dan harta masih tersisa, maka boleh bagi seorang istri untuk bersedekah. Jangan kemudian sisa harta yang dia miliki tersebut malah digunakan untuk mengoleksi berbagai macam barang-barang yang tidak begitu bermanfaat, dan hanya akan menambah beban hisab pada hari kiamat kelak. Adapun ketika harta yang dititipkan suami kepada seorang istri ternyata tidak memiliki sisa setelah memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, maka tidak mengapa jika seorang istri tidak bersedekah, karena yang dituntut adalah bersedekah semampunya.

Para ulama menjelaskan bahwasanya ketika Nabi Muhammad ﷺ mengatakan, ‘Janganlah kamu menutup tempat hartamu, sebab nanti Allah menutup rezekimu’, ini merupakan kaidah dari الجزاء من جنس العمل ‘balasan sesuai dengan perbuatan’. Ketika seseorang wanita senantiasa pelit, dompetnya selalu terkunci untuk bersedekah, perhitungan ketika bersedekah, maka kelak bisa jadi Allah ﷻ akan menutup rezekinya pula. Dahulu, seorang guru penulis pernah bercerita bahwasanya ada seseorang yang saleh, setiap kali dia mendapat harta, dia akan memberikannya kepada orang lain. Orang saleh tersebut mengatakan bahwa dia memiliki tradisi kepada orang lain dan Allah juga memiliki tradisi terhadapnya, yaitu ketika dia sering memberi harta kepada orang lain maka Allah ﷻ juga akan sering memberikan harta kepada dia. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin mengubah tradisi Allah ﷻ terhadapnya dengan cara dia mengubah tradisinya kepada orang lain. Dia tidak ingin Allah ﷻ pelit terhadapnya jika dia pelit kepada orang lain.

Oleh karenanya, hendaknya para wanita menyadari agar mereka tidak bersikap pelit. Lihatlah Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma, dalam kondisi harta yang tidak banyak, namun dia tetap ingin untuk bersedekah. Namun, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai seseorang bersedekah kepada orang lain, namun dirinya sendiri tidak bisa makan karena seluruh hartanya disedekahkan. Ingatlah bahwa yang Nabi Muhammad ﷺ tekankan adalah bersedekah dengan semampu kita. Demikian pula, ketika harta yang dimiliki berlebih, kemudian ingin untuk menabung sisa harta tersebut, maka yang demikian tidak mengapa, hanya saja jangan karena alasan menabung sampai menjadikan seseorang pelit untuk bersedekah.

Ketahuilah bahwasanya Allah ﷻ akan mengganti harta yang dikeluarkan untuk bersedekah. Terdapat begitu banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu’.”[17]

Demikian pula sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.”[18]

Demikian pula firman Allah ﷻ dalam surah Al-Baqarah,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Oleh karena itu, janganlah kita kemudian khawatir untuk bersedekah. Justru, ketika kita semakin sering bersedekah maka akan semakin sering Allah ﷻ memberi ganti kepada kita.

Di antara sedekahnya para shahabiat adalah istri Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Zainab binti Jahsy radhiallahu ‘anha. Beliau terkenal sangat dermawan, bahkan beliau disebut dengan ummul masakin ‘Ibundanya orang-orang miskin’. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

أَسْرَعُكُنَّ لَحَاقًا بِي أَطْوَلُكُنَّ يَدًا

“Di antara kalian yang lebih dahulu menyusulku adalah yang paling panjang lengannya.”[19]

Setelah Nabi Muhammad ﷺ meninggal, ternyata istri-istri beliau saling mengukur tangan-tangan mereka untuk mengetahui siapa tangannya yang paling panjang. Ternyata, yang lebih panjang tangannya di antara istri-istri Nabi Muhammad ﷺ adalah Zainab binti Jahsy, karena dialah yang ternyata suka memberi kepada orang lain dengan tangannya.[20] Demikianlah Zainab binti Jahsy, istri Nabi Muhammad ﷺ yang sangat gemar bersedekah.

Selain Zainab binti Jahsy, ternyata ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tidak kalah luar biasanya dalam perkara sedekah. Lihatlah sebuah riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ketika ada seorang wanita bersama kedua putrinya datang ke rumah ‘Aisyah untuk meminta makan. Kemudian ‘Aisyah mencari makanan ke dalam rumahnya, namun ternyata tidak mendapati sesuatu untuk dimakan di rumahnya kecuali sebutir kurma. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tentu membutuhkan makanan, akan tetapi beliau lebih mendahulukan orang lain, sehingga beliau kemudian memberikan sebutir kurma tersebut kepada wanita tersebut, lalu wanita tersebut membelah sebutir kurma menjadi dua dan memberikannya kepada kedua putrinya. Jadilah ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak memiliki makanan di rumahnya, dan wanita tersebut pun juga tidak makan. Ketika Nabi Muhammad ﷺ pulang, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan kejadian tersebut, dan Nabi Muhammad ﷺ kemudian bersabda,

مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّار

“Barang siapa yang diuji sesuatu karena anak-anak perempuannya lalu ia berlaku baik terhadap mereka maka mereka akan melindunginya dari api neraka.”[21]

Tentu masih banyak kisah-kisah bagaimana sedekahnya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Di antaranya disebutkan ketika Mu’awiyah menjadi khalifah, dia sering memberi hadiah kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Namun, tanpa ada keraguan sedikit pun, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian menyedekahkan hadiah tersebut kepada fakir miskin. Sampai-sampai, ketika pembantunya meminta satu dirham untuk membeli daging, ‘Aisyah kemudian berkata, ‘Janganlah engkau mencelaku, karena jika sekiranya engkau mengingatkanku maka pasti aku lakukan’.[22] Demikian pula, karena seringnya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha sering memberi kepada orang-orang, sampai-sampai Abdullah bin Zubair ingin memboikot hartanya agar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak sembarang bersedekah. Ini menunjukkan bagaimana semangatnya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dalam bersedekah.

Subhanallah, sungguh kisah-kisa mereka menunjukkan bagaimana keimanan mereka yang luar biasa. Seharusnya, kisah tersebut membuat kita para wanita dan bahkan laki-laki wajib untuk bersyukur kepada Allah ﷻ, karena di masa-masa sulit kita masih bisa makan, kulkas masih terisi, dan uang pun masih ada ditangan walau tidak banyak. Bahkan, sebagian wanita masih memiliki uang yang sangat berkecukupan, sehingga membuat dia tenang dengan masa depannya.

Nasihat bagi para wanita
Jangan pelit
Hendaknya para wanita dan kita semua tentunya menyadari bahwasanya sifat pelit adalah sifat yang buruk. Ingatlah firman Allah ﷻ,

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya).” (QS. Muhammad: 38)

Barang siapa yang bersifat pelit, maka sejatinya dia telah pelit terhadap dirinya sendiri. Dia pelit terhadap dirinya untuk mendapatkan berbagai macam keuntungan dan kebaikan dari bersedekah.

Di antara kebaikan dan keuntungan lain dari bersedekah:

Sedekah menjadi aset di akhirat kelak
Ketika seseorang membelanjakan hartanya di jalan Allah ﷻ, dia bersedekah, maka yang dia keluarkan tersebut akan menjadi aset baginya di akhirat kelak. Sedekah yang dia keluarkan tersebut tentunya akan bernilai pahala yang sangat besar, selama seseorang bersedekah dengan ikhlas.

Sedekah menjadikan hati lapang dan peka terhadap orang miskin
Di antara doa Nabi Muhammad ﷺ adalah sebagaimana yang disebutkan dalam Sunan At-Tirmizi dan lainnya, bahwasanya beliau diajarkan oleh Allah ﷻ untuk berdoa dengan lafal berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk mudah berbuat kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, serta aku memohon pada-Mu agar bisa mencintai orang-orang miskin. Ampunilah aku dan rahmatilah aku, bila Engkau menghendaki suatu fitnah pada hamba-hamba-Mu, wafatkan aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah. Ya Allah aku memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.”[23]

Cinta kepada orang-orang miskin, peka terhadap orang-orang yang susah, sedih melihat keadaan mereka, kemudian hati tergerak untuk bersedekah kepada mereka, maka itu adalah karunia dari Allah ﷻ, dan itulah yang diminta oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam doanya tersebut.

Allah ﷻ akan memberi ganti di dunia sebelum di akhirat
Sebelum kaki melangkah di padang mahsyar, sedekah yang seseorang keluarkan di dunia akan mendapatkan ganti oleh Allah ﷻ di dunia pula sebelum diganti di akhirat. Di antara dalil akan hal ini adalah firman Allah ﷻ dalam hadis qudsi,

يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.”[24]

Demikian pula doa salah satu malaikat di pagi hari, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

“Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menginfakkan hartanya.”[25]

Ini semua menunjukkan bahwasanya banyak kebaikan yang bisa kita dapatkan ketika kita bersedekah. Oleh karenanya benarlah firman Allah ﷻ,

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya).” (QS. Muhammad: 38)

Ketika kita pelit, maka itu berarti kebaikan-kebaikan yang bisa didapatkan tersebut kita buang. Oleh karenanya, jangan pelit untuk bersedekah, karena pelit bersedekah hanya berujung pada pelitnya kita terhadap diri kita sendiri.

Di antara orang yang patut untuk kita tidak bersikap pelit terhadapnya adalah orang-orang terdekat. Terkadang, ada fenomena di mana para istri berbuat baik sama orang yang jauh, tapi sama pembantu di rumahnya sendiri bersikap pelit, sama sopirnya pelit, dan yang lainnya. Ingatlah, mereka adalah orang-orang yang memiliki jasa terhadap kita, sehingga mereka tentu lebih utama untuk kita bersedekah kepadanya setelah kerabat-kerabat kita.

Jangan suka mengoleksi barang-barang secara berlebihan
Suka berbelanja adalah hal yang lumrah bagi para wanita, bahkan bisa kita katakan bahwa seseorang tidak disebut dengan wanita kalau dia tidak suka berbelanja. Hanya saja, permasalahan dalam hal berbelanja adalah mengoleksi barang-barang secara berlebihan. Tidak mengapa seseorang punya sepatu sampai sepuluh pasang. Akan tetapi, kalau lebih daripada itu, sampai harus memiliki lemari khusus sepatu-sepatu, ini hanya akan menjadi sebuah masalah pada hari kiamat kelak, yaitu seseorang akan bertambah hisabnya pada hari kiamat, dan perkara hisab bukanlah suatu perkara yang mudah. Seandainya mungkin sepatu tersebut disedekahkan, maka bisa jadi satu sepatu yang dia sedekahkan sudah bisa menaikkan derajatnya di akhirat kelak, sehingga dia akhirnya bisa mendapatkan kenikmatan abadi.

Ingatlah bahwasanya kita akan dihisab oleh Allah ﷻ. Maka, ketika di antara kita hendak membeli suatu barang untuk dikoleksi, tanyakan kepada diri kita, ‘Apakah saya bisa menjawab pertanyaan Allah ketika dihisab tentang barang tersebut?’ Jika kita merasa bisa menjawab pertanyaan Allah, maka tidak mengapa untuk dibeli. Setidaknya, pertanyaan semacam ini akan menjadi penahan bagi diri kita untuk tidak mudah membeli barang-barang yang kita sukai.

Intinya, para wanita, para istri, tidak dilarang untuk berbelanja apa yang dia butuh, Akan tetapi jangan sampai luput untuk bersedekah. Jauhilah sifat suka mengoleksi barang-barang secara berlebihan. Jika kita memiliki barang-barang yang berlebih, maka hendaknya sedekahkanlah, selama masih ada yang bisa kita kenakan, maka menyedekahkan barang lainnya tentu jauh lebih baik.

Bersedekah dengan cara mengajak orang lain untuk bersedekah
Tentu ada sebagian wanita dan istri yang tidak memiliki uang untuk bersedekah, bahkan untuk menyedekahkan barang-barang berlebih yang dimiliki pun tidak punya. Maka cara terbaik agar wanita bisa bersedekah adalah dengan menunjukkan kepada orang lain agar orang lain tersebut bersedekah. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.”[26]

Wahai para istri, Anda tentu sangat bisa memotivasi suami Anda untuk bersedekah. Terlalu banyak fakta yang menunjukkan bahwasanya suami terpengaruh oleh istrinya, terlebih lagi suami-suami di negara kita Indonesia. Bukankah kita dapati banyak dari para istri yang mengatur keuangan keluarganya? Maka, ketika keuangan telah diatur oleh sang istri, bisa jadi seorang suami menjadi sangat dermawan karena istrinya. Seorang suami sering dibujuk oleh istrinya untuk bersedekah, untuk membantu ayah dan ibunya, untuk membantu saudara-saudaranya, untuk membantu tetangganya, dan yang lainnya. Ingatlah wahai para istri, jika Anda melakukan demikian, maka Anda juga mendapat pahala sedekah, karena Andalah yang menjadi motivasi suami Anda untuk bersedekah. Terlebih lagi, ketika Anda berhasil mengubah akhlak suami Anda yang sebelumnya pelit menjadi dermawan, maka tentu pahala yang Anda akan dapatkan sangat besar.

Selain itu, Anda sebagai seorang ibu juga bisa mengarahkan anak-anak untuk terbiasa untuk bersedekah. Jika Anda telah melihat indikasi bahwasanya anak Anda bersikap pelit, maka hendaknya Anda mengambil langkah yang tegas untuk mengajarkan sang anak untuk bersifat dermawan dan melawan sifat pelit tersebut. Yang dikhawatirkan adalah jika seorang anak terbiasa pelit dari kecilnya, maka dewasanya pun menjadi orang yang pelit, dan mengubah sifat di waktu dewasa tidak semudah mengubah sifat di waktu kecil.

Intinya, bersedekahlah semampunya. Bukankah telah kita sebutkan bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun dengan (bersedekah) sebutir kurma.”[27]

Allah ﷻ Maha Tahu, ketika kita memiliki uang yang banyak maka tentu kita mudah untuk bersedekah. Akan tetapi, ketika kita hidup dengan berkecukupan, tidak banyak dari harta kita yang berlebih, maka bersedekahlah semampunya meskipun hanya dengan sebutir kurma.

Footnote:


[1] HR. Muslim No. 885.

[2] HR. Bukhari No. 1462.

[3] الدَّهْرُ di sini juga bisa diartikan dengan satu tahun.

[4] HR. Bukhari No. 29.

[5] HR. Muslim No. 1032.

[6] HR. Bukhari No. 1417.

[7] Shahih al-Jami’ ash-Shagir No. 3759.

[8] HR. Ahmad 4/147 no. 17333, Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sanadnya sahih.

[9] HR. Ath-Thabrani No. 8014, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani.

[10] HR. Abu Daud No. 1678, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

[11] Ini merupakan dalil bahwasanya boleh seorang suami memberikan sebagian pemberian kepada istrinya melebihi kebutuhan istrinya.

[12] Yaitu maksudnya ‘Jangan engkau menutup pintu rezekimu’.

[13] HR. Bukhari No. 2590.

[14] HR. Bukhari No. 1433.

[15] HR. Bukhari No. 1433.

[16] HR. Bukhari No. 1434.

[17] HR. Muslim No. 993.

[18] HR. Muslim No. 2588.

[19] HR. Muslim No. 2452.

[20] Berdasarkan HR. Bukhari No. 2452, dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

[21] HR. Bukhari No. 5995.

[22] Lihat: Hilya al-Auliya’ (2/47).

[23] HR. Tirmizi No. 3235, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[24] HR. Muslim No. 993.

[25] HR. Bukhari No. 1442.

[26] HR. Muslim No. 1893.

[27] HR. Bukhari No. 1417.

sumber : https://bekalislam.firanda.com/5966-wanita-dan-sedekahnya.html#_ftn1

Adab Islami Ketika Bersendawa

Islam datang membawa adab-adab yang memuliakan manusia, menjauhkan mereka dari kerendahan dan kehinaan. Maka Islam adalah agama yang sempurna dalam segala aspeknya, baik dalam akidah, ibadah, dan akhlak. Di antara adab yang diajarkan dalam Islam adalah adab ketika bersendawa.

Sendawa dalam bahasa Arab disebut al-jusya’ (الجُشَاء). Disebutkan dalam kamus Mishbahul Munir :

وَهُوَ صَوْتٌ مَعَ رِيْحِ يَحْصُلُ مِنَ الْفَمِّ عِنْدَ حُصُوْلِ الشَّبْعِ

“Al-jusya’ adalah suara yang disertai udara yang keluar dari mulut ketika merasa kenyang.”

Terdapat sebuah hadis yang menuntunkan kepada kita bagaimana adab Islami dalam bersendawa. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ، فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِيْ الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ada seorang yang bersendawa di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda: ‘Tahanlah sendawamu agar tidak terdengar oleh kami. Karena orang yang paling banyak kenyangnya di dunia adalah orang yang paling panjang laparnya di hari Kiamat‘”. (HR. Tirmidzi no. 2478, dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi).

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadis ini, di antaranya:

1. Hendaknya berusaha untuk menahan sendawa ketika ada orang lain

Ketika hendak bersendawa dan ada orang lain, hendaknya berusaha menahannya sebisa mungkin atau menguranginya. Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan mengatakan:

قَوْلُهُ: (كُفَّ عَنَّا ) أَمْرٌ مُخَاطَبٌ مِنَ الْكُفِّ بِمَعْنَى الصَّرْفِ وَالدَّفْعِ، وَفِيْ رِوَايَةِ شَرْحِ السُّنَّةِ : أَقْصِرْ مِنْ جُشَائِكَ، ( جُشَاءِكَ ) بِضَمِّ الْجِيْمِ مَمْدُوْدٌ، أَوْ النَّهْيِ عَنِ الْجُشَاءِ هُوَ النَّهْيُ عَنِ الشَّبْعِ ; لِأَنَّهُ السَّبَبُ الجَالِبُ لَهُ

“Perkataan Nabi [tahanlah sendawamu agar tidak terdengar oleh kami] adalah perintah untuk menahan, maksudnya mencegah sendawanya. Dalam riwayat lain di kitab Syarhus Sunnah: “kurangi sendawamu!”. Atau hadis ini juga bermakna bahwa larangan untuk sendawa maksudnya larangan untuk makan terlalu kenyang. Karena makan terlalu kenyang akan menyebabkan sendawa.” (Tuhfatul Ahwadzi, penjelasan hadis no. 2478)

2. Bersendawa ketika ada orang lain merupakan adab yang buruk

Hadis ini menunjukkan bahwa bersendawa ketika ada orang lain adalah adab yang buruk. Syaikh Dr. Shalih Sindi hafidzahullah mengatakan:

مَا أَقْبحَ الْجُشَاءَ فِيْ مَجلِسِ النَّاسِ

“Betapa buruknya perbuatan bersendawa ketika sedang bermajelis bersama orang-orang.” (Al-Adab ‘Unwan as-Sa’adah : 23)

Maka ketika bersendawa, andaikan tidak tertahankan, hendaknya menjauh dari orang-orang agar tidak menyebabkan gangguan kepada mereka.

3. Dianjurkan untuk menutup mulut ketika sendawa

Para ulama menganjurkan untuk menutup mulut dengan tangan ketika bersendawa. Syaikh Zakaria al-Anshari rahimahullah mengatakan:

( قَوْلُهُ : فَإِنْ تَثَاءَبَ سُنَّ لَهُ أَنْ يُغَطِّيَ فَاهُ بِيَدِهِ ) قَالَ ابْنُ الْمُلَقِّنِ: وَغَيْرِهِ : وَالظَّاهِرُ أَنَّهَا الْيُسْرَى ; لِأَنَّهَا لِتَنْحِيَةِ اْلأَذَى، قَالَ الأَذْرَعِيُّ وأُلْحِقَ بِذَلِكَ التَّجَشُّؤُ

“Perkataan penulis kitab Raudhatut Thalib: ‘Jika seseorang menguap, disunnahkan untuk menutup mulutnya dengan tangannya.’ Namun Ibnu Mulaqqin dan ulama lain mengatakan: ‘Yang lebih tepat, menggunakan tangan kiri, karena digunakan untuk menahan sesuatu yang sifatnya bisa mengganggu.’ Al-Adzra’i mengatakan: ‘ini juga berlaku jika bersendawa.’” (Asnal Mathalib Syarah Raudhatut Thalib, 1/180)

4. Hendaknya jangan makan hingga berlebihan

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, “Orang yang paling banyak kenyangnya di dunia adalah orang yang paling panjang laparnya di hari Kiamat.” Maksudnya beliau membimbing kita agar tidak berlebihan dalam makanan sehingga akan membuat malas beribadah dan menimbulkan keburukan lainnya. Al-Munawi rahimahullah menjelaskan hadis di atas, beliau mengatakan:

لِأَنَّ مَنْ كَثُرَ أَكْلُهُ كَثُرَ شُرْبُهُ فَكَثُرَ نَوْمُهُ فَكَسُلً جِسْمُهُ

“Karena orang yang banyak makannya, ia akan banyak minumnya. Kemudian akan banyak tidurnya dan menjadi malaslah badannya.” (At-Taisir bi Syarhi Jami’ish Shaghir, 1/312)

Akan tetapi, bukan berarti tidak boleh makan sampai kenyang. Adapun hadis,

نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوْع وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.”

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz mengatakan, “Hadis ini memang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang bertugas sebagai utusan, namun sanadnya dhaif.” Beliau juga menjelaskan, “Ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan. Adapun rasa kenyang yang tidak membahayakan, tidak mengapa. Karena orang-orang di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan masa selain mereka pun pernah makan sampai kenyang. Namun, mereka menghindari makan sampai terlalu kenyang. Terkadang Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengajak para sahabat ke sebuah jamuan makan. Kemudian beliau menjamu mereka dan meminta mereka makan. Kemudian mereka makan sampai kenyang.” (Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/38)

Apa yang diucapkan oleh orang yang bersendawa?

Sebagian orang ketika bersendawa, mereka mengucapkan, “Alhamdulillah”, atau ada juga yang mengucapkan “astagfirullah”, atau mengucapkan “a’udzubillahi minasy syaithanir rajim”, dan semisalnya. Apakah ini dibenarkan?

Perlu kita rinci menjadi dua keadaan:

1. Jika diyakini bahwasanya mengucapkan zikir-zikir di atas ketika sendawa adalah sunnah, atau dianjurkan, atau memiliki keutamaan, atau dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah, maka ini merupakan ke-bid’ah-an.
Ibnu Muflih rahimahullah mengatakan,

وَلَا يُجِيبُ الْمُجَشِّي بِشَيْءٍ ، فَإِنْ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ ، قِيلَ لَهُ : هَنِيئًا مَرِيئًا ، أَوْ هَنَّأَكَ اللَّهُ وَأَمْرَاك ، ذَكَرَهُ فِي الرِّعَايَةِ الْكُبْرَى وَابْنُ تَمِيْم ، وَكَذَا ابْنُ عَقِيلٍ ، وَقَالَ : لَا نَعْرِفُ فِيهِ سُنَّةً، بَلْ هُوَ عَادَة مَوْضُوعَة

“Orang yang bersendawa tidak perlu mengucapkan apa-apa. Jika ada yang bersendawa lalu mengucapkan, “alhamdulillah“, kemudian dijawab oleh orang lain “hani`an mari`an (semoga Allah memberi kebahagiaan pada makananmu)”, atau “hannakallah” atau “amrakallah”, ini disebutkan dalam kitab ar-Ri’ayah al-Kubra juga disebutkan oleh Ibnu at-Tamim, juga oleh Ibnu ‘Aqil dan beliau berkata: “Kami tidak mengetahui ada sunnah terkait hal ini, bahkan ini adalah kebiasaan yang diada-adakan.”” (Al-Adab asy-Syar’iyyah, 2/346)

Oleh karena itu, maka sikap yang paling tepat setelah bersendawa adalah tidak mengucapkan zikir apa-apa. Karena andaikan ada anjuran membaca zikir tertentu, tentunya sudah ternukil dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam atau para sahabat.

2. Jika diucapkan dengan niat lain, semisal mengucapkan “alhamdulillah” dengan niat bersyukur kepada Allah atas nikmat yang didapatkan, atau mengucapkan “a’udzubillah minasy syaithanir rajim” untuk berlindung dari setan, maka tidak mengapa. Selama tidak diyakini bahwa itu bagian dari sunnah.

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafidzahullah mengatakan:

لَا يُوْجَدُ شَيْءٌ يَدُلُّ عَلَيْهِ ، لَكِنَّ كَوْنَ الْإنْسَاِن يَحْمَدُ اللهَ عَلَى كُلِّ حَالٍ ، وَأَنَّ هَذَا الشَّبَعَ الَّذِيْ حَصَلَ لَهُ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ : لَا بَأْسَ بِذَلِكَ ، لَكِنَّ كَوْنَهُ يَعْتَقِدُ أَنَّ هَذَا أَمْرَ مَشْرُوْعٌ فِي هَذِهِ الْمُنَاسِبَةِ ، فَلَيْسَ هُنَاكَ شَيْءٌ يَدُلُّ عَلَيْهِ فِيْمَا أَعْلَمُ

“Tidak ada dalil yang menunjukkan ada zikir tertentu setelah bersendawa. Namun memang benar bahwa seseorang hendaknya memuji Allah dalam setiap keadaan. Dan rasa kenyang itu didapatkan atas nikmat Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak mengapa mengucapkan hamdalah. Namun, jika ia meyakini bahwa ucapan hamdalah tersebut disyariatkan pada waktu setelah sendawa, maka tidak kami ketahui dalil yang menunjukkannya.” (Syarah Sunan Abi Daud, 19/492, asy-Syamilah).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya tentang membaca ta’awwudz setelah menguap, beliau menjawab:

لَا حَرَجَ فِيْهَا ؛ لِأَنَّهَا مِنَ الشَّيْطَانِ ، لَكِنَّ لمَ يُرِدْ شَيْءً يَدُلُّ عَلَى اسْتِحْبَاِبَها ، لَكِنَّ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ ( التَّثَاؤُبَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِم مَا اسْتَطَاعَ )

“Tidak mengapa melakukannya karena memang menguap itu dari setan. Tidak ada ada dalil khusus yang menganjurkan perbuatan ini. Akan tetapi, terdapat hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa menguap itu dari setan, jika kalian menguap maka tahanlah sebisa mungkin.” (Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/9357).

Dan sebagian ulama meng-qiyas-kan sendawa dengan menguap. Semoga tidak mengapa mengucapkan ta’awwudz dengan niat berlindung dari setan, bukan dengan keyakinan bahwa itu dianjurkan. Wallahu a’lam.

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.**

**

Penulis: Yulian Purnama

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/12030-adab-islami-ketika-bersendawa.html

Berilmu Tapi Tidak Perhatian Terhadap Amal

Fenomena yang tampak, seringkali ada orang yang rajin menuntut ilmu, tapi enggan untuk mengamalkannya. Sejatinya yang demikian bukanlah dianggap berilmu, karena seharusnya buah akhir dari benarnya ilmu seseorang adalah dengan mengamalkannya. Menuntut ilmu merupakan amalan yang agung dan mulia, karena ilmu merupakan sarana untuk merealisasikan tujuan agung penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepad Allah semata.

Tujuan Mempelajari Ilmu

Mempelajari ilmu sejatinya bukanlah hanya untuk menguasai ilmu itu sendiri, namun ilmu dipelajari untuk diaplikasikan dalam pengamalan. Seluruh ilmu syar’i yang ada, syariat memerintahkan untuk mempelajarinya sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk tujuan yang lainnya. Hal ini bisa ditunjukkan dari beberapa sisi berikut :

Tujuan Adanya Syariat

Tujuan adanya syariat adalah agar manusia beribadah kepada Allah, dan tidak mungkin seseorang bisa mengamalkan syariat tanpa mengilmuinya. Inilah tujuan pengutusan seluruh para nabi. Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ

“ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu. “ (Al Baqarah : 21)

الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ اللّهَ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ

“ Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya. “ (Huud:1-2)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“ Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Aku, maka sembahlah Aku. “ (Al Anbiya’: 25)

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“ Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab Al Qur’an dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. .Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dari syirik.“ (Az Zumar : 2-3)

Beberapa ayat di atas dan banyak ayat lainnya menunjukkan bahwa maksud dari ilmu adalah agar digunakan untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak menyembah selain-Nya serta agar melakukan berbagai ketaatan kepada-Nya.

Ruh Dari Ilmu Adalah Amal

Adanya banyak dalil yang menunjukkan bahwa ruh dari ilmu adalah amal. Tanpa amal, ilmu tidak akan bermanfaat. Allah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. “ (Fathir : 28)

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.“ (Az-Zumar :9)

Dalil di atas menunjukkan bahwa ilmu adalah wasilah, bukan merupakan tujuan itu sendiri. Ilmu adalah wasilah untuk beramal. Setiap hal yang menujukkan keutamaan ilmu maksudnya adalah ilmu yang digunakan untuk beramal. Dan sudah dimaklumi, bahwasanya ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Allah. Oleh karena itu belum akan merasakan keutamaan pemilik ilmu tersebut sampai dia membenarkan konsekuensi dari ilmu tersebut yaitu beriman kepada Allah.

Ancaman Bagi yang Tidak Mengamalkan Ilmu

Terdapat dalil yang menunjukkan ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Orang yang berilmu akan ditanya tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan dari ilmunya tersebut. Barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka ilmunya sia-sia dan akan menjadi penyesalan baginya. Allah berfirman :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“ Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan kewajiban dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? “ (Al Baqarah : 44)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“ Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. “ (Ash Shaf 2-3)

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“ Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu dengan mengerjakan apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.“ (Huud : 88)

Semoga bermanfaat. Menjadi renungan bersama bagi kita, bahwa tujuan kita mempelajari ilmu tidak lain adalah untuk diamalkan. Kita berharap terhindar dari sifat orang yang berilmu tapi tidak perhatian terhadap amal. Semoga Allah menambah kepada kita ilmu yang bermanfaat dan mengkaruniakan kepada kita istiqomah dalam mengamalkannya.

Sumber bacaan : Asbaabu Ziyaadatil Iimaan wa Nuqshaanihi karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahullah

Penulis : Adika Mianoki


Sumber: https://muslim.or.id/51406-berilmu-tapi-tidak-perhatian-terhadap-amal.html

Hidup Tak Sekedar Hidup!

Hidup bagi seorang muslim adalah sebuah perjalanan. Ia adalah sebuah perjalanan yang dimulai dari kelahirannya di dunia lalu berjalan menuju Rabbul ‘Alamin, guna mempertanggung-jawabkan amalannya sewaktu di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hal ini dalam sabdanya,

كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها

“Setiap hari semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya, ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Kehidupan seorang muslim yang baik amatlah jauh dari gaya hidup orang-orang yang tak beriman kepada Allah Ta’ala. Kehidupan seorang muslim adalah kehidupan yang bermutu tinggi. Hidup tak asal hidup. Kehidupannya memiliki arah dan tujuan yang jelas. Allah telah menetapkan tujuan hidup hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Tujuan hidup tersebut terkandung dalam dua firman Allah Ta’ala berikut ini:

1. Tujuan hidup pertama

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” (QS.Ath-Thalaaq: 12).

Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, dam apa yang ada di antara keduanya. Allah pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah kauni qodari, yaitu takdir-Nya guna mengatur hamba-hamba-Nya. Sungguh semua itu bertujuan agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat dan perbuatan-Nya.

Inilah tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu ma’rifatullah, mengenal Allah, melalui nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Atau dikenal dengan Tauhidur Rububiyyah & Tauhidul Asmaa` wash Shifaat.

Faedah: Ma’rifatullah , yaitu Tauhidur Rububiyyah & Tauhidul Asmaa` wash Shifaat adalah tujuan hidup kita. Kedua macam tauhid ini berisikan pengetahuan (ilmu) tentang Allah, dengan demikian tauhid jenis ini hakekatnya adalah ilmu.

2. Tujuan hidup kedua

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).

Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah dalam peribadatan, yang kemudian dikenal dengan istilah Tauhidul Uluhiyyah.

Faedah :

  1. ‘Ibadatullah (Tauhidul Uluhiyyah) adalah tujuan hidup kita. Sedangkan beribadah itu berarti beramal, dengan demikian tauhid jenis ini hakikatnya adalah amal.
  2. Ketiga macam tauhid tersebut di atas, hakikatnya adalah ilmu dan amal, berarti orang yang tauhidnya baik adalah profil orang yang baik ilmu dan amalnya. Rajin menuntut ilmu tentang Allah dan agama-Nya serta rajin mengamalkan ilmunya.
    Jadi, sosok Ahlut Tauhid yang baik adalah tipe orang yang keyakinan dan ilmu agamanya baik, sekaligus ibadah, mu’amalah, dan akhlaknya pun terpuji.
    Maka salahlah jika ada anggapan bahwa Yang penting tauhidnya, sedangkan akhlaknya buruk, malas beribadah dan jelek dalam bermu’amalah dengan saudaranya!
  3. Ahlut Tauhid adalah sosok yang tahu untuk apa ia diciptakan, tidak lupa akan tujuan hidupnya dan lurus dalam menempuh perjalanan hidupnya, karena ia memiliki prinsip dan tujuan hidup yang jelas.

Kesimpulan :

Allah Ta’ala menciptakan kita agar kita mengenal-Nya dengan baik, jika kita mengenal-Nya dengan baik (Ma’rifatullah), maka kitapun mencintai-Nya dengan benar, sehingga kitapun ringan melakukan peribadatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya serta mengimani kabar dari-Nya (‘Ibadatullah). Jadi, seorang muslim yang bertauhid adalah sosok insan yang seluruh aktifitas kesehariannya, sejalan dengan tujuan hidupnya. Shalat, puasa, mencari nafkah, makan, istirahat dan seluruh kegiatannya dalam rangka untuk beribadah kepada Allah dengan didasari pengetahuannya tentang Allah dan hak-Nya yang demikian besar atas hamba-hamba-Nya.

Sosok orang yang beriman kepada Allah dengan benar, tidaklah mau jika dirinya melakukan aktifitas yang sia-sia tak bernilai ibadah. Ia membenci semua bentuk kemaksiatan, karena justru hal itu menjauhkan dirinya dari tujuan hidupnya.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber: https://muslim.or.id/27046-hidup-tak-sekedar-hidup-1.html

Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun

Berdoalah kepada Allah, meminta segala sesuatu, dari perkara besar sampai perkara kecil-kecil. Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم

“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).

Perhatikan, urusan makan dan pakaian, Allah perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 437).

Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:

سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ

“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:

وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته

“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).

Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam.

Penulis: Yulian Purnama
Sumber: https://muslim.or.id/39644-mintalah-kepada-allah-sampai-perkara-remeh-sekalipun.html

Jangan Sombong dan ‘Ujub Wahai Jiwa… Engkau ini Belumlah “Apa-Apa”

Hei kamu.. iya kamu, yang bernama jiwa manusia…
Kamu merasa sudah lama mengaji, banyak ilmu yang dikuasai, berasa otak cerdas sekali…
berduyun-duyun orang bertanya padamu sana-sini…
Lalu kamu ingin memuji diri?

Hei, fiqh perbandingan madzaahib apa sudah semuanya kau kuasai? Atau kau merasa ilmumu sepantaran Imam Al-Bukhari dan An-Nawawi? Hingga kamu merasa pintar sendiri? Kemudian kau membuat orang merasa bodoh dengan sikapmu yang “sok tinggi”.

Janganlah demikian…
Ilmu Allah laksana samudera tak bertepi. Pun di atas langit keilmuan seseorang, masih ada langit di atasnya lagi. Di atas itu semua ada Dzat yang Maha Mengetahui. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ (76)

“… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Qs. Yusuf: 76)

قيل إن العلم ثلاثة أشبار : من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.

“Ada yang berkata bahwa sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal. Jika seseorang telah menapaki jengkal yang pertama, maka dia menjadi tinggi hati (takabbur). Kemudian, apabila dia telah menapaki jengkal yang kedua, maka dia pun menjadi rendah hati (tawadhu’). Dan bilamana dia telah menapaki jengkal yang ketiga, barulah dia tahu bahwa ternyata dia tidak tahu apa-apa.” (Dinukil dari kitab Hilyah Thalibil ‘Ilmi, buah pena Syaikh Bakr ibn ‘Abdillaah Abu Zaid rahimahullaah).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

تواضع تكن كالنجم لاح لناظر # على صفحات الماء وهو رفيع

ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه # على طبقات الجو وهو وضيع

“Rendah hatilah…jadilah laksana bintang bercahaya yang tampak di bayangan air yang rendah, padahal sebenarnya dia berada di ketinggian. Jangan menjadi laksana asap, yang membumbung tinggi dengan sendirinya di lapisan udara yang tinggi, padahal sebenarnya dia rendah.”

Kamu, yang mengaku meniti Jalan Salaful ummah…
Coba lihat akhlakmu ini! Mulut kotor penuh hujatan, mencela, dan memaki! Mana sajakah dari akhlak mereka yang kau tepati? Coba kau hitung dengan jari! Pandai mengaku tapi tak jua baik budi!

وكل يدَّعي وصلاً بليلى …. وليلى لا تقر لهم بذاكا

“Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, namun Laila tak membenarkan pengakuan mereka.”

Janganlah demikian…
Pengakuan itu tidak hanya sekadar di lisan belaka, namun harus dibuktikan dengan amalan yang nyata wahai yang bernama jiwa…

Kamu.. yang sudah berpakaian syar’i..
Kamu melirik sinis ke akhawat baru mulai serius belajar agama, merendahkan mereka dengan gelagatmu yang membuat mereka jengah. Apa engkau mengira dirimu ini sudah shaalihah setengah mati ?!

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“..Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Qs. An-Najm:32)

Janganlah demikian.. berpakaian syar’i tidak serta merta menjadikan diri kita seutuhnya baik dan suci. Bisa jadi di sisi lain mereka lebih baik darimu, karena ternyata, mungkin dianara yang berjilbab syar’i masih ada yang suka ber-ghibah tentang itu dan ini? Janganlah merasa surga sudah engkau booking sendiri.

Kamu, yang sudah menghafal Al-Qur’an seluruhnya…
Tak usahlah merasa paling hebat sedunia. Apa tajwidnya sudah benar kau terapkan dengan sempurna? Apa hafalanmu mencapai derajat “itqaan” di luar kepala?

Kamu, yang sudah menghafal hadits ribuan banyaknya…
Tidak perlu kau rasa otakmu paling kencling sejagat raya. Baiklah, kamu mungkin sudah berhasil menghafal sekaliber Shahih Bukhari. Tapi apakah kamu sudah menguasai dan menghafal berbagai kitab induk hadits lainnya? Lengkap dengan penjelasannya? Plus menguasai serba-serbi ilmu tentang haditsnya?

Janganlah demikian…
Sesungguhnya hafalanmu bukan untuk sekadar berbangga-bangga belaka. Apa engkau sudah mentadabburi isinya? Kau amalkan yang kau hafal dan baca? Belum tentu semua yang kau hafalkan, dapat benar-benar kau amalkan dalam kehidupan nyata. Berhati-hatilah tercabutnya nikmat hafalan itu semua, kala hatimu lengah mencari ridha manusia.

Kamu, yang pandai menghias bacaan Al-Qur’anmu…
Mungkin suaramu itu seperti Syaikh Musyari dan Syaikh Fahd Al-Kandari. Atau tajwidmu secermat Syaikh Al-Hudzaifi. Lantas kamu jadi pamer dan berbangga hati? Subhaanallah? membaca Al-Qur’an kok hanya ingin dipuji: “Maa Syaa Allaah…suara dan cengkok lagunya indah sekali…“.

Janganlah demikian…
Sesungguhnya memiliki suara indah hanyalah anugrah sekaligus fitnah dari Allah bagi diri. Jika kamu terus berbangga hati, bisa jadi nikmat suara indahmu nanti dicabut oleh Allah, hingga suaramu jadi sumbang, atau malah tak memiliki pita suara sama sekali [wal’iyaadzubillaah]. Syukurilah dan gunakan itu untuk menambah pahala bagi dirimu sendiri.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“… dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemadharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Qs. An-Nahl : 53).

Kamu, si pintar dari universitas ternama…
Apa sih sumbangsihmu bagi negara dan agama? Tak usahlah kau jadi besar kepala! Kalaupun kau sudah menyumbang manfaat bagi sesama, belum tentu itu kan berbuah pahala. Iya, karena tendensimu ternyata tak lebih dari perkara dunia semata, bukan karena ikhlas mencari ridha-Nya.

Kamu, yang bisa baca kitab dan berbahasa arab…
Mengapa hal itu membuatmu begitu tinggi hati? Kesalahan wajar pemula kau caci maki. Bercerminlah terhadap diri, Apakah dahulu engkau tak pernah tersalah dalam belajar sama sekali?

Kamu, yang bergelimang harta…
Memandang orang tak punya dengan sebelah mata. Lagakmu itu bak dunia milik pribadimu saja. Untuk urusan sedekah, Subhaanallaah… begitu pelitnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. At-Taghabun: 15)

Kamu, yang (katanya) berjihad di jalan Allah menegakkan agama-Nya…
Klaim mu telah “mengorbankan segalanya“. Belum tentu amalanmu diakui di sisi-Nya. Iya, karena dengan amalanmu, kamu berbuat ‘ujub dan riya! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)

Kamu, penulis nasihat yang (katanya) bijak dan disukai…
Apa kau pikir tulisanmu itu paling cemerlang sendiri? Lalu kamu jadi berbangga hati? Merasa sudah jadi penasihat sejati? Amboi, berkacalah diri.. jangan-jangan kamu bak lilin yang membakarmu sendiri. Sudah menasihati tapi tak dijalani.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, hingga usus perutnya terburai, lalu dia berputar-putar di dalam neraka seperti himar yang berputar-putar pada alat penggilingnya. Lalu para penghuni neraka mengerumuninya seraya bertanya, ‘Wahai Fulan, apa yang telah menimpamu? Bukankah engkau dahulu menyuruh kami kepada yang ma’ruf dan mencegah kami dari yang munkar?’ Dia menjawab, ‘Memang aku dulu menyuruh kalian kepada yang ma’ruf, tapi justru aku TIDAK melakukannya, dan aku mencegah kalian dari yang mungkar, tapi aku justru melakukannya.” (HR.Bukhari & Muslim)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu MENGATAKAN sesuatu yang kamu TIDAK KERJAKAN? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (Qs. Ash-shaf: 2-3)

Kamu.. kamu… kamu… jangan sombong wahai jiwa…
Kamu.. kamu… kamu… jangan merasa ‘ujub dan riya duhai manusia…

Dengan segala kelebihan yang kau punya. Sejatinya kelebihanmu itu semua bak pisau bermata dua, yang dapat menghantarkanmu ke surga, atau menjerumuskanmu ke dalam neraka. Ya, karena kelebihanmu itu dapat menjadi karunia yang berbuah pahala, atau bencana yang berujung dosa.

—
Penulis: Fatihdaya Khoirani

© 2022 muslimah.or.id
Sumber: https://muslimah.or.id/6085-jangan-sombong-dan-ujub-wahai-jiwa-engkau-ini-belumlah-apa-apa.html

Quiz bulanan 3 – kitabut tauhid bag. 4

Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan hari Rabu pukul 20.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir