Merasa Hina adalah Pintu yang Paling Luas untuk Menghadap Allah ‘Azza wa Jalla

Seorang muslim bahkan setiap manusia sewajibnya khusyuk atau merasa hina kepada Rabbnya karena ia adalah seorang hamba, adapun Allah tabaraka wa ta’ala adalah sesembahannya juga pemiliknya, Allah yang mengatur segala urusannya, Allah-lah yang menetapkan hukum dan aturan atas dirinya dan Allah Maha Agung Kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.

Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam menceritakan kita tentang kisah dua orang Bani Israil yang bersahabat yang mana orang yang pertama adalah seorang ahli ibadah, seorang yang perhatian kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Dia curahkan dirinya untuk beribadah kepada tuhannya. Adapun orang yang kedua adalah orang yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri (ahli maksiat). Sang ahli ibadah selalu menasihati temannya yang ahli maksiat setiap kali melewatinya, memerintahkannya melakukan kebaikan dan melarangnya melakukan keburukan, namun sang ahli maksiat tidak memperdulikannya. Pada suatu hari sang ahli ibadah berkata kepada temannya yang ahli maksiat tatkala ia tidak mau menghentikan perbuatan dosanya,

وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لَكَ

Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu”.

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: فَقَالَ اللهُ -جَلَّ وَعَلَا-: مَنْ هَذَا المُتَأَلِّي عَلَيَّ أَلَّا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ؟! اِشْهَدُوا يَا مَلَائِكَتِي أَنَّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَهُ

Rasulullah Shallalahu‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka Allah Jalla wa’ala berfirman, ‘Siapa ini orang yang berani-beraninya bersumpah atas nama-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni fulan? Saksikanlah wahai para malaikat-Ku, sungguh Aku telah mengampuni sang ahli maksiat dan Aku hapuskan amalan sang ahli ibadah’’.

Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu mengomentari kisah sang ahli ibadah di atas,

قَالَ أَبُو هُرَيرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: فَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu berkata, “Maka dia telah mengucapkan suatu kalimat yang mengahancurkan dunia dan akhiratnya.” (HR. Abu Dawud di dalam Sunannya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh Al Albani di dalam Shahihil Jami’)

Kisah dua orang Bani Israil selaras dengan sabda Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam,

تَكَلَّمَ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا؛ يَكْتُبُ اللهُ -جَلَّ وَعَلَا- عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يُضْحِكُ بِهَا جُلَسَاءَهُ؛ يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Seorang hamba bisa jadi mengucapkan suatu kalimat yang Allah murkai, yang dia mengucapkan kalimat tersebut tanpa memberikan perhatian padanya, lantas Allah ‘Azza wa Jalla catat murka-Nya untuk orang tersebut sampai hari ia berjumpa dengan Allah. Dan seorang hamba ada yang berkata dengan suatu perkataan yang Allah murkai, yang ia tidak memberikan perhatian padanya dalam rangka membuat tertawa teman-teman duduknya, maka jatuhlah ia dengan sebab kata-kata tersebut ke dalam neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari)

Maka tidak ada pintu yang lebih luas dari pintu-pintu menghadap Allah dibandingkan pintu merasa hina di hadapan Allah Jalla wa’ala. Tidak merasa ujub dengan amal, tidak merasa bangga, berjasa dan berperan untuk agama Allah. Dan berkepingnya hati di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala adalah sebab Allah mengampuni suatu dosa dan Allah akan meninggikan derajat karenanya.
Oleh karena itu terdapat sebuah ungkapan,

 وَرُبَّ ذَنْبٍ أَدْخَلَ صَاحِبَهُ الْجَنَّةَ، وَرُبَّ طَاعَةٍ أَدْخَلَتْ صَاحِبَهَا النَّارَ

Terkadang ada dosa yang menjadi sebab memasukkan pelakunya ke dalam surga, dan terkadang ada ketaatan yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka.”

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Seorang yang melakukan dosa, melampaui batas terhadap diri sendiri yang dia lakukan karena kejahilannya terhadap kekuasaan Allah Tabaraka wa ta’ala, bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu yang ia lakukan, namun ia bukanlah orang yang lancang, bukan orang yang berbangga di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala dengan maksiatnya. Maka tatkala ia terjerumus ke dalam dosa, dosa tersebuat membuahkan berkeping-keping hatinya, merasa hina di hadapan Rabbnya, dan muncul keinginan untuk kembali kepada Allah Rabb semesta alam. Maka jadilah dia seperti sifat mukmin bagaimanapun keadaannya. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi seorang manusia yang amanah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذَنْبَهُ كَأَنَّهُ جَبَلٌ يُوشِكُ -أَوْ يَهُمُّ- أَنْ يَقَعَ عَلَيهِ

Seorang mukmin melihat dosa yang ia lakukan seakan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia khawatir gunung tersebut akan menimpanya, sedangkan orang yang fajir (pengemar dosa) melihat dosanya bagaikan lalat yang terbang melintas di depan hidungnya.” (HR. Bukhari)

Orang yang fajir meremehkan dosanya, ia tidak merasa khawatir dengan dosa yang ia lakukan. Lain halnya dengan cara pandang orang yang jujur imannya kepada Allah, ia menganggap dosa sebagai suatu hal yang menakutkan dan membinasakan. Hal ini disebabkan ia tidak melihat kecilnya dosa yang ia perbuat melainkan kepada siapa ia melakukan dosa dan bermaksiat yaitu kepada Dzat yang demikian baik padanya, kepada Dzat yang setiap detik memberikan nikmat kepadanya.

Kemudian ada seorang yang mendapatkan taufik untuk taat namun ia tidak melihat siapakah yang memberikan taufik kepadanya, lalu ia menganggap besar amalnya tersebut di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala. Seorang jika merasa puas dengan amalnya dan dirinya untuk Rabbnya Tabaraka wa ta’ala maka ini merupakan tanda Allah tidak ridha dengannya. Adapun seorang jika ia mengetahui amalnya, menyadari amalnya dan apa yang meliputi amalnya berupa berbagai macam penyakit dan kekurangan dalam beramal, ketika seseorang telah menyadari siapakah dirinya, dan bagaimanakah keadaannya ketika sepi sendiri, bagaimanakah isi hatinya, dan dia mengetahui segala hal yang meliputi dirinya berupa kekurangan dan kehinaan, maka ia tidak akan merasa puas dengan amalnya, dia tidak akan merasa puas dengan keadaan diri juga hatinya, karena ia merasa banyak kekurangan dan kejelekan kemudian ia akan merasa hina di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanyalah menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa dalam amalnya.” (Q.S Al-Maidah: 28)

Ada seorang yang diberi taufik untuk taat maka ia lakukan ketaatan tersebut, kemudian mulailah ia bangga dan ujub atas amalnya bahkan ia merasa berjasa di hadapan Allah Rabb semesta alam, suka mengungkit-ngungkit ibadahnya sendiri. Maka ketaatannya membuahkan kesombongan dan ujub. Jika kesombongan dan ujub terus menerus ada pada dirinya, berkembang dalam hatinya maka inilah yang menyebabkan ia menjadi penghuni neraka dan inilah seburuk-buruk tempat kembali untuknya.

Kata ‘terkadang’ yang terdapat pada ungkapan,“Terkadang ada dosa yang menjadi sebab memasukkan pelakunya ke dalam surga, dan terkadang ada ketaatan yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka”, maksudnya ialah hal ini jarang terjadi karena umumnya dosa membuahkan dosa setelahnya sebagaimana ketaatan membuka jalan ketaatan setelahnya.

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk melaksanakan ketaatan pada-Nya dan menghindarkan kita dari memaksiati-Nya.

Referensi:

1. Wa Maadzaa Ba’da Ramadhaan hlm 7-9, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ruslan hafizhahullah, Khutbah Jum’at 1 Syawal 1431 H/ 10 September 2010 M di Mesir (http://www.rslan.org/kotob/matha_baad_ramadan.pdf)

2. Rekaman Risalah Wamadzaa Ba’da Ramadhaan oleh ustadz Dr. Aris Munandar, S.S, M.P.I hafizhahullah Pertemuan ke-1 menit ke 27:09-46.28 (http://www.jogjamengaji.com/2019/02/risalah-wamaadza-bada-ramadhan-ustadz.html)

Penulis: Atma Beauty Muslimawati
Artikel: Muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/15971-merasa-hina-adalah-pintu-yang-paling-luas-untuk-menghadap-allah-azza-wa-jalla.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

[Kitabut Tauhid 9] 01 SIHIR 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Sihir yang pernah menimpa Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hanya memperngaruhi sedikit urusan dunia Beliau dan dalam waktu yang singkat, yaitu terkhayalkan bagi Beliau seolah-olah Beliau melakukan sesuatu dari urusan dunia padahal Beliau tidak melakukannya, yang kemudian setelahnya menjadi jelas bagi Beliau segala sesuatunya; Beliau memang tidak diistimewakan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- dari manusia yang lainnya untuk urusan ini karena hanya urusan dunia; dan kejadian ini tidak mencacati kenabian Beliau karena tidak ada hubungannya dengan wahyu yang Beliau bawa dari sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tidak Boleh Mencela Demam

Sebagian orang yang tidak sabar, ketika ditimpa musibah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya maka ia mengeluh bahkan mencela. Seseorang yang sakit mungkin awalnya ia akan mengeluh, akan tetapi lama-lama ia akan mencela dan memaki.  Apalagi jika sakit tersebut disertai dengan demam yang tinggi dan sulit hilang, atau hilang-muncul.

Terdapat larangan dalam syariat agar kita tidak mencela demam. dari Jabir radiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabda, ‘Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat’.“[1]

Demikianlah secara umum sakit bisa menggugurkan dosa seseorang asalkan dia bersabar Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[2]

Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[3]

bahkan bisa jadi ia tidak mempunyai dosa sama sekali, menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir ketika sembuh atau ketika meninggal karena penyakit tersebut.

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[4]

Demikian semoga bermanfaat,

@Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen


[1]  HR. Muslim4/1993, no. 2575

[2] HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651

[3] HR. Muslim no. 2572

[4] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

sumber : https://muslimafiyah.com/tidak-boleh-mencela-demam.html

Teruslah Berjalan, Walaupun Tertatih

Hakikatnya, kehidupan ini adalah perjalanan. Dari dunia yang fana, menuju negeri akhirat yang kekal abadi.

Perjalanan, realitanya, tidak selalu mudah. Akan ada jalan yang susah untuk dilewati, penuh rintangan dan dikelilingi hal sukar lainnya.

Begitupula kehidupan ini. Sebagaimana perkataan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa Allah akan menguji dengan ujian kebaikan dan keburukan, kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan seterusnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342).

Sebagian manusia mungkin berputus asa lalu berpaling dari jalan Allah. Mereka berburuk sangka terhadap Allah dan merasa tidak mendapatkan keuntungan ataupun pertolongan. Ini semua berasal dari nafsu manusia itu sendiri. Keegoisan diri yang kemudian dibumbui oleh syaitan.

Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Nafsu adalah gunung besar lagi sulit dalam perjalanan menuju Allah, dan semua orang yang berjalan tidak ada jalan baginya kecuali melewati gunung itu. Padahal harus sampai kepadaNya. Di antara mereka ada yang merasa berat, dan ada juga yang merasa ringan menghadapinya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah.

Di gunung tersebut terdapat lembah dan bukit, perangkap dan pohon berduri, tumbuh-tumbuhan dan semak belukar, dan para penjahat yang mencegah orang-orang yang sedang dalam perjalanan, terutama yang biasa melakukan perjalanan malam. Jika mereka tidak memiliki bekal keimanan dan pelita keyakinan yang menerangi, yang dinyalakan dengan minyak ketawadhu’an, maka halangan-halangan itu selalu bersama mereka dan menghalangi perjalanan mereka. Sebab, kebanyakan orang yang berjalan di sana kembali ke belakang, karena tidak sanggup menempuh dan menghadapi berbagai rintangannya.

Setan berada di atas puncak gunung tersebut untuk menakuti manusia agar tidak mendakinya. Sehingga berkumpullah beratnya pendakian, duduknya setan yang menakuti di atas puncaknya, dan lemahnya tekad serta niat orang yang berjalan. Lalu hal itu menghasilkan kegagalan dan mundur ke belakang. Dan hanya orang yang dipelihara oleh Allahlah yang terjaga.

Setiap kali orang yang meniti jalan tersebut mendaki, maka teriakan orang yang menghalangi dan mengancamnya semakin keras kepadanya. Apabila ia telah menempuhnya dan mencapai puncaknya, maka semua ketakutan tersebut berubah menjadi keamanan. Ketika itulah perjalanan menjadi mudah, penghalang jalan dan aralnya yang berat pun akan sirna darinya, dan ia dapat melihat jalan yang luas lagi aman yang menghantarkannya kepada persinggahan-persinggahan dan jalan-jalan yang diatasnya terdapat rambu-rambu dan berbagai petunjuk yang disiapkan untuk kafilah ar Rahman.

Untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan itu, seorang hamba haruslah memiliki tekad yang kuat, kesabaran, keberanian diri, dan keteguhan hati. Karunia itu berada di tangan Allah yang diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Madaarijus Salikiin (II / 7-8).

Maka ketahuilah saudaraku, seberat apapun ujian, cobaan dan musibah yang menimpamu, tetaplah berjalan di jalanNya walaupun tertatih. Istiqamahkan dirimu, genggam erat imanmu, sampai perjumpaan denganNya.

Salah satu perkataan indah yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah,

الطريق الى الله طويل وليس المهم ان تصل الى اخر الطريق ولكن المهم ان تموت على الطريق

“Jalan menuju Allah sangatlah panjang. Dan bukanlah perkara yang penting untuk sampai pada akhirnya, akan tetapi yang terpenting adalah wafat dalam keadaan berada di atasnya”.

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Penulis: Annisa Auraliansa

Sumber: https://muslimah.or.id/16102-teruslah-berjalan-walaupun-tertatih.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Meninggalkan Suap-Menyuap, Pintu Rizki Jadi Terbuka

Ada seorang kawan bercerita tentang seorang pedagang di Saudi Arabia. Pada awal dia meniti karir dalam bisnis, dulunya dia bekerja di sebuah pelabuhan di negeri ini. Semua barang-barang perniagaan yang akan masuk harus melalui dia dan mendapatkan tanda tangannya. Dia tidak suka kepada orang yang main kolusi dan suap-menyuap. Tetapi dia tahu bahwa atasannya senang mengambil uang suap. Sampai akhirnya teman kita yang satu ini didatangi oleh orang yang memberitahunya agar tidak terlalu keras dan mau menerima apa yang diberikan oleh penyuap untuk mempermudah urusannya.

Setelah mendengar perkataan tersebut, dia gemetar dan merasa takut. Ia lalu keluar dari kantornya, sementara ke-sedihan, penyesalan dan keraguan terasa mencekik lehernya. Hari-hari mulai berjalan lagi, dan para penyuap itu datang kepadanya. Yang ini mengatakan, ‘Ini adalah hadiah dari perusahaan kami’. Yang satu lagi bilang, ‘Barang ini adalah tanda terima kasih perusahaan kami atas jerih payah Anda’. Dan dia selalu mampu mengembalikan dan menolak semuanya. Tetapi sampai kapan kondisi ini akan tetap ber-langsung?!

Dia khawatir suatu waktu mentalnya akan melemah dan akhirnya mau menerima harta haram tersebut. Dia berada di antara dua pilihan; meninggalkan jabatannya dan gajinya atau dia harus melanggar hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mau menerima suap. Karena hatinya masih bersih dan masih bisa meresapi firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Dia berkata, ‘Tak lama setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala mengkaruniakan untukku kapal kargo yang kecil. Aku pun memulai bisnisku, mengangkut barang-barang. Lalu Allah mengkaruniakan kapal kargo lain lagi. Sebagian pedagang mulai memintaku untuk mengangkut barang-barang perniagaan mereka karena aku memang sangat hati-hati, seolah-olah barang-barang itu milikku sendiri.

Di antara kejadian yang menimpaku adalah sebuah kapal kargoku menabrak karang dan pecah. Penyebabnya, karena sang nahkoda tertidur. Dia meminta maaf. Tanpa keberatan aku memaafkannya. Maka merasa heranlah seorang polisi lalu lintas laut karena aku begitu mudah memaafkan orang. Dia berusaha berkenalan denganku. Setelah berlangsung beberapa tahun, polisi itu bertambah tinggi jabatannya. Saat itu datang barang-barang perniagaan dalam jumlah besar. Dia tidak mau orang lain, dia memilihku untuk mengangkut barang-barang tersebut tanpa tawar menawar lagi.

[Dari kumpulan kisah situs http://www.alsofwah.or.id]

Pembaca yang budiman, lihatlah, bagaimana pintu-pintu rizki terbuka untuknya. Sekarang dia telah menjadi seorang saudagar besar. Kepedulian sosial dan santunannya bagi orang-orang miskin begitu besar. Begitulah, barangsiapa meninggalkan suatu maksiat termasuk tindakan suap-menyuap dengan ikhlas karena Allah, niscaya Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

Begitu pula ingatlah janji Allah bagi orang yang bertakwa yaitu akan diberi rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Dari ‘Ali bin Abi Tholhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau menafsirkan ayat tersebut, “Barangsiapa yang bertakwa pada Allah maka Allah akan menyelamatkannya dari kesusahan dunia dan akhirat. Juga Allah akan beri rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 14/32)

Ingat pula tentang bahaya suap-menyuap sebagaimana disebutkan dalam hadits,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih). Dalam riwayat yang lain Nabi melaknat al Ra-isy (الرَّائِشَ) yaitu penghubung antara penyuap dan yang disuap (HR. Ahmad 5/279). Meski hadits ini lemah namun maknanya benar. Orang yang menjadi penghubung antara penyuap dan yang disuap berarti membantu orang untuk berbuat dosa dan ini adalah suatu yang terlarang. Hadits di atas menunjukkan bahwa suap-menyuap termasuk dosa besar, karena ancamannya adalah laknat. Yaitu terjauhkan dari rahmat Allah. Bahkan sogok itu haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama). Jadi terlarang, meminta suap, memberi suap, menerima suap dan menjadi penghubung antara penyaup dan yang disuap.

Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 18 Ramadhan 1432 H

Sumber https://rumaysho.com/1910-meninggalkan-suap-menyuap-pintu-rizki-jadi-terbuka.html

Anak dan Dunia Bermain

Dunia anak adalah identik dengan dunia bermain dan permainan. Dan Islam juga tidak mengabaikan betapa banyak manfaat sekaligus mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi anak perihal bermain.

Al-Ghazali mengatakan, “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disukainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara.” (Ihya ‘Ulumuddin, 3: 163)

Bukankah Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannya, Aisyah memiliki boneka perempuan untuk mainannya?

Dinukil dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah ada tirai. Tiba-tiba angin berhembus dan menyingkap ujung tirai itu, sehingga terlihatlah -boneka-boneka miliknya- yaitu mainan Aisyah. Beliau pun bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?” “Bonekaku”, jawab Aisyah lirih.

Lalu Nabi melihat di antara boneka itu ada boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Dan beliaupun bertanya lagi, “Boneka apakah itu yang ada di tengah?” “Boneka kuda”, jawab Aisyah singkat. “Apa yang ada padanya?” tanya beliau lagi. Aisyah menjelaskan, “Sepasang sayap.” Beliau kembali bertanya, ”Seekor kuda yang memiliki sepasang sayap?” “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman memiliki kuda yang bersayap?”, Aisyah balik bertanya. Rasulullah pun tertawa mendengarnya hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau.” (HR. Abu Dawud no. 4932, disahihkan Al-Albani dalam Adabuz Zifaf, hal. 203)

Anak butuh hiburan menyegarkan untuk mengembangkan akalnya, pengetahuannya dan mendidiknya.

Anas berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, Rasulullah pasti sedang istirahat siang. Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Tak lama kemudian Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku pun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah naungan pohon hingga aku kembali …” (HR. Ahmad no. 1295, sanadnya shahih)

Anak memiliki tabiat berbeda dengan orang dewasa sebagai orang tua dan pendidik yang baik, hendaklah memberikan mainan yang mendidik, tidak bertentangan dengan syariat-Nya, aman serta disesuaikan usianya.

Berikut ini beberapa tips bermain yang bisa diterapkan pada anak:

a) Berorientasi pada alam

Ini bermanfaat untuk mengembangkan pengalamannya dan melatih aspek kognitif sekaligus kinestetiknya. Anda dapat mengajaknya bersepeda, jalan-jalan ke kebun binatang atau taman bunga. Sembari menikmati keindahan ciptaan-Nya, anda bisa menjelaskan keMaha-Besaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

b) Menggunakan alat permainan

Anda dapat memberikan alat permainan yang bervariasi seperti plastisin, puzzle, balok-balok kayu untuk melatih motorik tangannya sekaligus membantu anak mengenal bentuk memunculkan kreatifitas dan melatih logika. Dapat pula bersama-sama orang tua atau teman membuat mainan dari barang-barang bekas.

c) Melatih kecerdasan sosial

Anak butuh sosialisasi dengan lingkungan diantaranya dengan teman-teman sebaya. Pilihkan mereka kawan yang baik dan shalih. Ajarkan berempati pada temannya, kerukunan dan mudah berbagi saat bermain, ringan tangan dan berempati kepada temannya dengan bermain dalam “team work” akan melatih sportifitas, solidaritas, dan kebersamaan.

d) Menumbuhkan kedekatan dengan orang tua

Luangkan waktu untuk bermain dengan anak untuk mengeratkan ikatan cinta dan jadikanlah momen indah yang membuat anak bahagia. Hal ini sangat penting agar anak merasakan curahan cinta anda sehingga ia nyaman dan enjoy. Kondisi psikis dan hati yang dipenuhi kegembiraan akan membantunya antusias belajar. Ketika anda dekat secara psikis dengan anak insyaallah bimbingan dan berbagai nasehat anda akan lebih mudah diterima anak.

Selamat bermetamorfosis menjadi sosok orang tua yang peduli dengan anak!

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Islamic Parenting (terjemah), Syaikh Jamal Abdurrahman, Aqwam, Solo, 2017.

Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan & Abu Ihsan Al-Atsari, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta, 2015.

Tumbuh Kembang Anak, Imam Muslikin, Flash book, Yogyakarta, 2012.

Sumber: https://muslimah.or.id/11918-anak-dan-dunia-bermain.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Bersabarlah Sebentar Saja

Hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil. Karena tidak ada satu pun manusia yang akan luput dari masalah. Dunia ini memang tempatnya ujian. Siapapun yang mengaku beriman pasti akan Allah uji sesuai dengan kadar keimanannya masing-masing. Allah ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman’ tanpa diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang dusta.“ (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Ketika hati gundah karena tertimpa masalah, ingatlah bahwa para Nabi, Rasul, dan orang-orang salih pun juga mengalami hal yang sama. Bahkan masalah atau ujian yang mereka hadapi jauh lebih besar dari apa yang kita rasakan.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Teladan Terbaik dalam Menghadapi Ujian

Nabi Ibrahim mengalami masalah dengan ayahnya. Nabi Yusuf mengalami masalah dengan saudara-saudaranya. Nabi Musa mengalami masalah dengan ayah angkatnya. Pun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami masalah dengan kaumnya.

Adakah para Nabi ini mendapati jalan keluar dengan cepat? Adakah hari ini masalah datang kemudian keesokan harinya masalah langsung hilang? Jawabannya tidak. Setiap masalah yang mereka hadapi adalah teladan bagi kita dalam menghadapi kehidupan dengan berbagai likunya ini. Kisah mereka adalah pelajaran untuk bersikap dengan sikap terbaik ketika ditimpa masalah.

عن أبي سعيد وأبي هريرة رضي الله عنهما مرفوعاً: ما يُصيب المسلم من نَصب، ولا وصَب، ولا هَمِّ، ولا حَزن، ولا أَذى، ولا غَمِّ، حتى الشوكة يُشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه

Abu Sa’īd dan Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhumā meriwayatkan secara marfū, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa kepayahan, sakit, dukacita, kesedihan, penderitaan, dan kesusahan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ujian Ini Tidak Akan Lama

Saudariku, jika hari ini hidup terasa begitu berat bagimu, sadarilah bahwa ujian ini hanya sementara saja. Ujian ini tidak akan berlangsung selamanya. Hanya sebentar saja. Barangkali jalan keluarnya memang tampak begitu jauh dan tak nyata, tetapi tak ada musibah yang sifatnya abadi selama kita hidup di dunia. Allah ta’ala berfirman:

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الأرْضِ عَدَدَ سِنِينَ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا قَلِيلا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” (QS. Al Mu’minuun: 112-114).

Coba ingatlah kembali kehidupan kita di masa lalu. Pasti kita juga pernah melewati ujian yang kini telah berlalu. Ujian itu dulu begitu berat bagi kita bukan? Bahkan kita mungkin menangis berhari-hari karena tak kunjung bertemu solusinya?

Namun, dengan izin Allah, ketika ujian itu telah terlewati, ujian itu kini tak lagi berarti apa-apa. Ujian itu telah selesai dengan berbagai fase yang kita hadapi pada setiap masanya. Iya, karena memang ujian itu ada masanya. Dan setelah Allah mudahkan kita melewatinya, ujian itu bukan lagi menjadi hal yang krusial bagi kita.

Betapa Nikmatnya Ujian

Bersabarlah sebentar saja wahai saudariku. Rasa tidak nyaman ini hanya sementara saja. Rasa sedih ini akan ada ujungnya. Bukankah ujian hadir untuk meningkatkan derajat kita? Tentu jika kita mampu bersabar dan husnudzan dengan segala takdir-Nya.

Diriwayatkan dari Jabir ibn Abdillah radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيض

Kelak pada hari Kiamat orang-orang yang tidak ditimpa musibah (saat di dunia –pent) ketika orang-orang yang (sewaktu di dunia) ditimpa musibah diberi pahala, akan menginginkan kalaulah dulu kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia.” (HR. At Tirmidzi no. 2326 dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Allah mempersiapkan bagi hamba-hamba-Nya kedudukan (yang tinggi) di Surga yang mereka tidak akan mampu mencapai kedudukan tersebut hanya dengan amal salih mereka. Mereka tidak akan mencapainya kecuali dengan ujian dan musibah, maka Allah pun menyiapkan sebab-sebab yang menggiring mereka kepada ujian dan musibah.” (Zaadul Ma’aad 3/221).

Jika sedih menghampiri kembali, ingat-ingatlah bahwa bukan hanya kita yang tengah diuji. Setiap manusia punya ujiannya tersendiri. Maka apa perlu kita merasa iri hati? Apa perlu kita tidak terima dengan segala skenario ini?

Bersabarlah sebentar saja. Ini semua -dengan izin Allah- akan ada ujungnya.

Penulis : Rahma Aziza Fitriana

Sumber: https://muslimah.or.id/16261-bersabarlah-sebentar-saja.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id