Quiz bulanan 5 – kitabut tauhid bag. 4

Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan hari Rabu pukul 20.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir

Pakaian Terkena Mani

Pakaian Terkena Mani

Pertanyaan:

Bagaimana hukum celana dalam yang terkena lendir setelah hubungan? Najis kah? Atau boleh dipakai?

Dari: Ragil

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pendapat yang kuat tentang mani, statusnya sebagaimana air liur atau dahak. Tidak najis, namun tidak nyaman untuk dilihat (mustaqadzarah). Ini merupakan pendapat Imam asy-Syafii dan riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad. Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah:

Pertama, hadis dari Aisyah

كُنْت أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثُمَّ يَذْهَبُ فَيُصَلِّي فِيهِ

“Aku mengerik mani kering yng nempel di baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kmdian beliau berangkat shalat dg memakai baju itu.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat ad-Daruquthni, Aisyah mengatakan,

كُنْت أَفْرُكُهُ إذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إذَا كَانَ رَطْبًا

“Aku mengerik mani itu apabila sudah kering dan aku mencucinya jika masih basah.”

Ini merupakan dalil bahwa mani tidak seperti air kencing yang hukumnya najis yang wajib dicuci. Disamping itu, mengerik mani yang kering pasti akan ada bagian mani yang masih menempel. Sementara pada asalnya, wajib membersihkan pakaian dari najis, baik sedikit maupun banyak. Jika dibolehkan shalat dengan pakaian yang ketempelan mani, menunjukkan bahwa mani tidak najis.

Syaikhul Islam memberikan kaidah dalam masalah ini:

إِذَا ثَبَتَ جَوَازُ حَمْلِ قَلِيلِهِ فِي الصَّلَاةِ ثَبَتَ ذَلِكَ فِي كَثِيرِهِ ؛ فَإِنَّ الْقِيَاسَ لَا يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا

“Jika dibolehkan menggunakan pakaian yang terkena mani sedikit (hanya menempel) berarti dalam jumlah banyakpun tidak najis. Karena secara qiyas, dua hal itu tidak bisa dipisahkan.” (Majmu’ Fatawa, 5:44)

Dengan demikian, celana yang terkena mani setelah beruhubungan badan, jika benar itu mani dan bukan madzi, statusnya tidak najis, dan tidak masalah digunakan untuk shalat.

Referensi: https://konsultasisyariah.com/16407-pakaian-terkena-mani.html

Larangan Mempersulit Orang Lain

Larangan Mempersulit Orang Lain

وَعَنْ أَبِي صِرْمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اَلله وَمَنْ شَاقَّ مُسَلِّمًا شَقَّ اَللَّهُ عَلَيْهِ، أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ.

Dari Abi Shirmah radhiallahu ‘anhu  beliau berkata, Rasulullah ﷺ  bersabda, “Barang siapa yang memberi kemudaratan kepada seorang muslim, maka Allah akan memberi kemudaratan kepadanya, barang siapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allah akan menyusahkan dia.” ([1])

Makna Hadits

Tidak diragukan lagi bahwasanya makna dari hadits ini adalah benar, terdapat hadits-hadits lain yang menguatkan makna dari hadits ini. Seperti dalam sebuah hadits yang sahih, Nabi ﷺ pernah berdoa,

اَللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ

“Ya Allah, barang siapa yang mengurusi urusan umatku kemudian dia merepotkan umatku maka susahkanlah dia.” ([2])

Hadits ini menunjukkan dua kaidah penting dalam syariat Islam, yaitu:

  1. Balasan sesuai dengan jenis perbuatan baik berupa kebaikan maupun keburukan (اَلْجَزَاءُ مُمَاثِلٌ لِلْعَمَلِ مِنْ جِنْسِهِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ )

Inilah hikmah yang ditetapkan oleh Allah ﷻ, Allah memberikan balasan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh seorang hamba. Barang siapa melakukan amalan yang dicintai oleh Allah, maka Allah akan mencintainya pula. Barang siapa memudahkan urusan seorang muslim maka Allah akan mudahkan urusannya di dunia maupun di akhirat. Barang siapa yang menghilangkan penderitaan seorang muslim maka Allah akan menghilangkan penderitaannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa membantu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebaliknya dalam keburukan pun demikian. Barang siapa melakukan amalan yang dibenci oleh Allah maka Allah akan membencinya. Barang siapa memberi kemudaratan kepada seorang muslim maka Allah akan memberikan kemudaratan kepadanya. Barang siapa membuat makar, maka Allah akan membuat makar kepada dia. Barang siapa membuat susah dan menimbulkan kesulitan bagi saudaranya maka Allah akan membuat dia ikut susah.

  1. Kemudaratan harus dihilangkan (الضَّرَرُ يُزَالُ)

Kaidah ini sesuai dengan hadits bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لا ضَرَرَ وَلا ضِرَارَ

“Tidak boleh memberi kemudaratan sama sekali baik memberi kemudaratan kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain.” ([3])

Syariat memerintahkan untuk menghilangkan setiap kemudaratan baik kemudaratan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Merokok dan bunuh diri diharamkan karena akan memberikan kemudaratan kepada diri sendiri, lebih-lebih karena bisa memberi kemudaratan kepada orang lain. Kemudaratan di sini sama dengan makna kemudaratan pada hadits yang sedang dibahas yaitu barang siapa memberi kemudaratan kepada orang lain, niscaya Allah akan memberi kemudaratan kepadanya.

Bentuk-Bentuk Kemudaratan

Kemudaratan itu terbagi menjadi dua bentuk. Bisa berupa kemudaratan secara langsung kepada orang lain. Seperti mengganggunya, menyakitinya, dan lainnya. Atau dengan bentuk menghalangi maslahat yang seharusnya diterima oleh orang lain. Sehingga sama saja artinya dia memberikan kemudaratan kepada orang tersebut. Lalu kemudaratan yang dimaksudkan di sini berlaku umum. Baik berkaitan dengan jiwanya (tubuhnya), ataupun hartanya, harga dirinya, anaknya, istrinya, orang tuanya, dan segala hal yang berkaitan dengan dirinya.

Ada banyak bentuk-bentuk muamalah (transaksi-transaksi) yang diharamkan oleh Nabi ﷺ  karena dapat memberikan kemudaratan kepada orang lain. Di antaranya larangan melakukan ghisy (penipuan dalam jual beli). Ketika dua orang berserikat dalam jual beli maka salah satu dari keduanya tidak boleh memberi kemudaratan kepada yang lainnya. Demikian juga tidak boleh memberi kemudaratan dengan menunda membayar utangnya kepada orang yang telah mengutanginya padahal dia telah mampu untuk membayarnya. Begitu pula dalam hal muamalah antar tetangga, tidak boleh mengganggu tetangganya baik dengan perkataan maupun perbuatan, secara langsung maupun tidak langsung.  Tidak boleh parkir sembarangan di jalan umum di kompleks perumahan sehingga menghalangi tetangga yang ingin lewat dengan mobilnya.

Demikian juga berkaitan dengan lalu lintas, janganlah seseorang memberi kemudorotan kepada orang lain, seperti menjalankan kendaraan dengan terlalu cepat sehingga menakutkan para pengendara di sekitarnya, apalagi dengan berjalan secara zigzag. Demikian juga ketika lampu merah hendaknya sabar mengantri dan jangan nyelonong langsung ke depan dan masuk samping jalan. Sehingga semua perkara yang bisa mendatangkan kemudaratan kepada saudaranya dilarang dalam syariat.

Bahkan dalam perkara warisan tidak boleh seseorang mengeluarkan wasiat yang bisa memberi kemudaratan kepada ahli warisnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ

“Bahwasanya harta waris itu dibagi setelah wasiat yang diwasiatkan (setelah membayar hutang) dengan syarat tidak boleh memberi kemudaratan.” (QS An Nisā’: 12)

Misalnya sebelum meninggal dunia dia menulis wasiat. Dalam wasiatnya tersebut dia mengkhususkan sebagian hartanya kepada sebagian ahli waris melebihi ahli waris yang lain. Maka hal yang seperti ini akan menimbulkan mudarat bagi ahli waris yang lain. Atau dia sengaja memberi wasiat kepada selain ahli waris agar ahli waris hanya mendapatkan sedikit dari hartanya. Semua perbuatan ini dilarang karena akan memberi kemudaratan.

Demikian juga tidak boleh seorang suami memberi kemudaratan kepada istrinya dalam bentuk apa pun. Misalnya dia menahan istrinya dan tidak menceraikannya padahal istrinya hidup dalam ketidaknyamanan sehingga istrinya sakit hati dan hidupnya terkatung-katung (seakan-akan tidak memiliki suami). Atau dia telah menceraikan istrinya kemudian menjelang masa ‘iddah selesai dia merujuknya kembali, tetapi bukan berniat untuk mengembalikan kemaslahatan pernikahan, melainkan untuk menyakiti hati mantan istrinya agar mantan istrinya tersebut tidak bisa menikah lagi dengan orang lain. Demikian juga seorang suami yang memiliki istri lebih dari satu kemudian dia lebih condong kepada salah satu istrinya, sehingga memberi kemudaratan kepada istri yang lain.

Di antara kemudaratan lainnya pula yang sangat besar yang mungkin sebagian orang melupakannya yaitu menjatuhkan harga diri orang lain. Dia mengghibahi saudaranya, membuka aibnya, dan merendahkan saudaranya, kemudian dia merasa tidak memberikan kemudaratan kepada saudaranya tersebut. Padahal perbuatan-perbuatan tersebut merupakan kemudaratan yang lebih besar daripada kemudaratan yang berkaitan dengan harta dan jiwa. Sebagaimana perkataan seorang penyair,

جَرَاحَاتُ السِّنَانِ لَهَا الْتِئَامُ وَلَا يَلْتَامُ مَا جَرَحَ اللِّسَانُ

“Luka yang disebabkan sayatan pedang masih bisa diperbaiki (bisa sembuh) akan tetapi luka yang disebabkan oleh sayatan lisan susah untuk disembuhkan.” ([4])

Oleh karena itu, semua kemudaratan kepada orang lain apa pun bentuknya dilarang dalam syariat. Demikian juga Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits ini bahwa barang siapa yang memberatkan seorang muslim maka dia akan diberi keberatan (kesulitan) juga oleh Allah ﷻ. Hal seperti ini banyak terjadi di instansi-instansi pemerintahan yang berkaitan dengan urusan orang banyak. Jika dia sengaja merepotkan rakyat maka dia akan mendapat kerepotan dari Allah di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, hendaknya dia berusaha untuk bekerja dengan baik dan maksimal demi kemaslahatan kaum muslimin.

Footnote:

___________

([1]) HR. Abu Dawud no. 3635, Tirmizi no. 1940 dan dihasankan oleh Imam Tirmizi

([2]) HR. Muslim no. 1828

([3]) HR. Ad-Daraquthni no. 522

([4]) Al-Latha’if Wa Adz-Dzara’if, karya Ats-Tsa’alabi 1/104

Kejahilan, Penyakit Kronis yang Tercela

Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan penyakit kronis dalam pembahasan “Rubrik Akhlak” kali ini? Sudah mafhum, dalam tinjauan medis, penyakit kronis adalah penyakit menahun yang tak kunjung sembuh atau bahkan sulit tertolong lagi melainkan hanya menunggu detik-detik ajal datang menjemput, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki yang lain.

Pada taraf ini, setiap orang atau keluarga yang sakit, umumnya tidak akan berpikir panjang, apa pun akan dikorbankan menuju kesembuhan. Namun, penyakit kronis apa pun, tetaplah suatu penyakit yang masih bisa dideteksi oleh ahlinya.

Tentu saja, kita akan bertanya-bertanya pada diri kita, penyakit kronis apakah yang mengancam keselamatan seluruh jenis manusia, tetapi susah sekali dideteksi itu? Terlebih, keselamatan apabila terbebaskan dari penyakit ini tidak tanggung-tanggung, yaitu keselamatan dunia dan akhirat?

Meski demikianlah, tabiat manusia menyukai sesuatu yang bersifat menguntungkan meski sementara, keselamatan yang bersifat semu, dan melupakan keselamatan yang hakiki. Itulah sifat kelalaian dan lupa yang selalu melekat pada setiap insan kecuali yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَٱطۡمَأَنُّواْ بِهَا وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.” (Yunus: 7)

فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 92)

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (al-Hasyr: 19)

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرًا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (ar-Rum: 7)

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajari kita sebuah sikap dalam bergaul bersama mereka, sebagaimana firman-Nya,

فَأَعۡرِضۡ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكۡرِنَا وَلَمۡ يُرِدۡ إِلَّا ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ٢٩ ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ ٣٠

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (an-Najm: 29—30)

Imam al-Qurthubi rahimahullah di dalam tafsirnya menjelaskan, “Mereka berilmu tentang urusan dunia mereka, tetapi jahil tentang urusan akhirat mereka. Al-Farra berkata, ‘Allah merendahkan dan menghinakan mereka. Itulah batas akal mereka. Mereka mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat’.”

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Mencari dunia dan berusaha untuknya merupakan puncak tujuan pencarian mereka. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, ‘Dunia merupakan negeri orang yang tidak memiliki negeri dan harta bagi orang yang tidak memilikinya. Yang akan berusaha mengumpulkannya adalah orang yang tidak memiliki akal’.”

Penyakit kronis dalam pembahasan kali ini amat sangat terkait dengan agama dan keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, tahukah Anda, penyakit kronis apakah itu?

Itulah penyakit kejahilan (kebodohan). Ia merupakan akhlak tercela dan perangai orang-orang yang hina.

Kejahilan Adalah Penyakit yang Berbahaya

Orang jarang mengetahui bahwa kejahilan adalah penyakit yang lebih berbahaya dari segala penyakit kronis. Bahkan, bukan sesuatu yang aneh lagi, orang yang dijangkiti penyakit ini tidak merasa kalau dirinya sakit. Justru yang terjadi adalah dia mengklaim diri sebagai orang yang sehat segala-galanya. Seseorang yang tertimpa penyakit kronis hanya merasakannya di dunia. Namun, penyakit kejahilan akan dirasakan pedihnya di dunia dan di akhirat.

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ

“Sesungguhnya, Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 179)

Dengan kejahilan, seseorang akan terjatuh dalam perbuatan dosa yang tidak diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala, perbuatan kezaliman yang terbesar, yang akan mengharamkan pelakunya masuk ke dalam surga serta mengekalkannya di neraka. Perbuatan yang akan menghalalkan darah, kehormatan, dan harta pelakunya. Itulah perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala alias syirik.

Imam al-Albani rahimahullah ketika menjelaskan tentang menggantung jimat menyatakan,

“Kesesatan ini berkesinambungan dan tersebar, baik di tengah orang-orang yang tinggal di pegunungan, para petani, maupun sebagian orang yang tinggal di perkotaan. Termasuk dalam kategori jimat adalah kharazat yang diletakkan oleh para sopir di bagian depan mobil mereka yang digantung di atas spion (tengah). Sebagian mereka menggantungkan sandal yang telah usang di depan atau di belakang mobil mereka. Yang lain menggantungkan sepatu kuda di depan rumah atau toko.

Semuanya mereka jadikan sebagai tameng dari kejahatan ain (pandangan mata yang jahat)—menurut sangkaan mereka. Berbagai bentuk kesyirikan lainnya telah tersebar dan menjadi musibah besar, disebabkan oleh kejahilan tentang tauhid dan hal yang dinafikannya, yaitu segala bentuk kesyirikan dan berhalaisme. Tidaklah para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan melainkan untuk membatalkan segala kesyirikan itu dan menghakiminya. Kepada Allah subhanahu wa ta’ala sajalah kita mengadu akan kejahilan kaum muslimin dan jauhnya mereka dari agama mereka.” (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1/890, no. 492)

Kejahilan juga akan menjatuhkan seseorang ke dalam amalan yang paling disukai Iblis setelah syirik, yakni perbuatan mengada-ada dalam syariat alias bid’ah, serta segala bentuk penyimpangan syariat lainnya. Hingga seseorang akan menolak kebenaran yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Tidaklah engkau menemukan seseorang terjatuh dalam kebid’ahan melainkan karena kurangnya mereka dalam berpegang dengan As-Sunnah, baik ilmu maupun amal. Barang siapa berilmu tentang As-Sunnah lalu mengikutinya, tidak ada pendorong bagi dirinya untuk melakukan kebid’ahan. Jadi, orang yang jahil tentang As-Sunnah akan terjatuh pada kebid’ahan.” (Syarah Hadits La Yazni az-Zani hlm. 35)

Demikianlah orang jahil. Kejahilannya akan menjadi malapetaka dahsyat yang menghampirinya. Kesulitan hidup menjadi terbuka di hadapannya. Kesempurnaan manusia akan menghilang di benaknya sehingga segala gerak-geriknya dikendalikan oleh hawa nafsu. Sungguh, betapa malang nasib hidupnya.

إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 17)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

“Mujahid dan selain beliau mengatakan, ‘Barang siapa bermaksiat kepada Allah, baik karena tersalah atau sengaja, dia adalah orang jahil, hingga dia mencabut diri dari dosa tersebut.’

Qatadah rahimahullah berkata dari Abul Aliyah; dia bercerita bahwa seluruh sahabat Nabi radhiallahu anhum berkata, ‘Segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba adalah karena kejahilan.’

Abdurrazzaq rahimahullah berkata, Ma’mar menyampaikan kepada kami dari Qatadah, dia berkata, ‘Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersepakat bahwa segala sesuatu yang Allah dimaksiati dengannya, maka itu dilandasi kejahilan, baik disengaja maupun tidak.’

Abu Shalih rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa dia berkata, ‘Barang siapa jahil tentang sesuatu, dia akan melakukan kejahatan’.” (Tafsir Ibnu Katsir dengan ringkas 1/572)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kesempurnaan hidup manusia berkisar pada dua poros, yaitu mengetahui kebenaran dari kebatilan dan mengutamakan kebenaran dari selainnya. Perbedaan kedudukan hamba di hadapan Allah hanyalah karena perbedaan mereka dalam dua fondasi ini. Dengan kedua hal inilah, Allah subhanahu wa ta’ala memuji para nabi-Nya di dalam firman-Nya.

وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي وَٱلۡأَبۡصَٰرِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)

Lafaz أُولِي الْأَيْدِي artinya kekuatan dalam menerapkan kebenaran. Adapun lafaz الْأَبْصَارِ artinya ilmu tentang agama. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat mereka, berupa kesempurnaan pengetahuan mereka tentang kebenaran dan kesempurnaan penerapan mereka terhadapnya.” (al-Jawabul Kafi hlm. 139)

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, seseorang melakukan penyelisihan karena sedikitnya pengetahuan mereka tentang segala yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1/44)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kebenaran banyak hilang di tengah orang-orang yang jahil lagi ummi (tidak pandai membaca dan menulis).” (Majmu’ Fatawa 25/129)

Ibnul Qayyim shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Sebab tertolaknya kebenaran banyak sekali. Di antaranya adalah kejahilan, dan inilah sebab yang mendominasi pada kebanyakan orang. Sebab, barang siapa jahil terhadap sesuatu, niscaya dia akan menentangnya dan menentang pemeluknya.” (Hidayatul Hayara fi Ajwibati al-Yahudi wan Nashara hlm. 18)

Setelah ini, tidakkah Anda menganggap bahwa kejahilan adalah penyakit yang kronis dan berbahaya? Tidakkah cukup sebagai bukti bahwa terjatuhnya seseorang pada kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan, dan segala bentuk penyelisihan terhadap syariat merupakan akibat dari kejahilan? Bahkan, sekte Rafidhah—mazhab yang paling jahat dan paling sesat—muncul dan bisa berkembang pesat di tengah kaum muslimin juga disebabkan kejahilan! Sekte ini dicetuskan oleh seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu anhu, yaitu Abdullah bin Saba al-Yahudi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Sesungguhnya, yang mencetuskan mazhab Rafidhah adalah seorang zindik (munafik), mulhid (menyeleweng), musuh Islam dan kaum muslimin. Abdullah bin Saba tidak termasuk ahli bid’ah[1] yang melakukan penakwilan, sebagaimana halnya golongan Khawarij dan Qadariyah. Doktrin-doktrinnya berkembang pesat di tengah kaum yang memiliki iman, tetapi terkuasai oleh kejahilan mereka.” (Minhaj as-Sunnah 4/363)

Penyakit kronis ini butuh obat yang ampuh dan mujarab. Obatnya tidak akan didapatkan melalui pemeriksaan medis di belahan dunia mana pun.

Obat Penyakit Kronis Kejahilan

Seseorang yang mengerti sedikit ilmu agama niscaya akan mengetahui obat yang manjur bagi penyakit kronis yang sangat berbahaya tersebut. Itulah ilmu agama, yang bersumberkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dipahami dengan pemahaman salafus shalih. Ilmu inilah akan memperbaiki hubungan lahiriah dan batiniah dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Ilmu tersebut akan membimbing ke jalan yang diridhai-Nya dan menjauhkan dari amalan-amalan yang dimurkai-Nya. Selain itu, ilmu ini akan membimbing kepada jalan yang benar dan menjauhkan dari jalan yang batil. Ilmu agama yang seperti inilah yang akan membuahkan rasa takut kepada Allah sehingga mencegah pemiliknya dari bermaksiat kepada-Nya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan, “Ilmu adalah mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama-Nya dengan dalil-dalil.” (Tsalatsatul Ushul)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah, dan ucapan para sahabat radhiallahu anhum.”

Al-Auza’i rahimahullah berkata, “Ilmu adalah apa yang diajarkan oleh para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Yang selain itu, tidaklah dikatakan ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar, 2/29)

Demikian juga ucapan Imam Ahmad rahimahullah. (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hlm. 42)

Al-Junaidi rahimahullah berkata, “Ilmu kita adalah terikat dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Orang yang tidak membaca Al-Qur’an dan hadits, tidak bisa dijadikan panutan dalam ilmu kami.” (idem, hlm. 44)

Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu dan selain beliau berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai ilmu dan cukuplah ketertipuan sebagai kejahilan.”[2]

Sebagian ulama salaf berkata, “Ilmu bukan karena banyak meriwayatkan. Akan tetapi, ilmu adalah yang akan mendatangkan rasa takut.”

Sebagian mereka menegaskan, “Barang siapa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia adalah orang alim. Barang siapa bermaksiat, berarti dia adalah orang jahil.” (idem, hlm. 47)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam sebuah manzhumah-nya, “Ketahuilah—semoga Allah memberimu hidayah—bahwa seutama-utama pemberian adalah ilmu yang akan menghilangkan keraguan (yaitu syubhat) dan kekotoran (yaitu syahwat). Ilmu yang akan membuka tabir kebenaran bagi yang berakal, dan ilmu yang akan menyampaikan kepada hal yang dicari.”

Kesimpulan kita bahwa ilmu adalah pohon yang akan membuahkan ucapan yang baik dan amal saleh. Sebaliknya, kejahilan adalah pohon yang membuahkan ucapan dan perbuatan yang jelek. (Qawa’id Fiqhiyyah karya as-Sa’di rahimahullah hlm. 12—13)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barang siapa dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Allah akan memberikan kepahaman dalam agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Muawiyah radhiallahu anhu)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلىَ الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu)

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

“Tiadalah suatu kaum berkumpul di rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Kitab (Al-Qur’an) dan mengkajinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan orang-orang yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu)

Dalil-Dalil yang Mengecam Kejahilan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)

وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ فَأَتَوۡاْ عَلَىٰ قَوۡمٍ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٍ لَّهُمۡۚ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٌۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمٌ تَجۡهَلُونَ

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata, ‘Hai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah sembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sembahan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil yang tidak mengetahui (sifat-sifat Allah)’.” (al-A’raf: 138)

أَئِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ تَجۡهَلُونَ

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang bodoh (akibat perbuatanmu).” (an-Naml: 55)

قُلۡ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَأۡمُرُوٓنِّيٓ أَعۡبُدُ أَيُّهَا ٱلۡجَٰهِلُونَ

Katakanlah, “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” (az-Zumar: 64)

أَمَّنۡ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحۡذَرُ ٱلۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zumar: 9)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنَّ اللهَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ اللهُ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya, Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Apabila Allah tidak lagi menyisakan seorang pun dari mereka, lalu orang-orang mengangkat pemimpinnya dari orang jahil, kemudian mereka bertanya kepadanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sesat lagi menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu anhuma)

Akibat Terjangkiti Penyakit Kejahilan

  1. Kejahilan pada seorang dai

Tidak ada yang memungkiri bahwa kedudukan seorang dai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah sangat tinggi. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah memuji mereka di dalam banyak dalil. Di antaranya,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’.” (Fushshilat: 33)

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٌ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, seseorang mendapatkan hidayah dari Allah karenamu, itu lebih baik daripada kamu memiliki unta-unta merah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Saad as-Saidi radhiallahu anhu)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa menyeru kepada petunjuk, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2674 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim no. 1493 dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir al-Anshari al-Badri radhiallahu anhu)

Bukanlah suatu keanehan apabila seorang dai mendapatkan martabat seperti ini. Sebab, mereka adalah pewaris tugas para nabi. Kita mengetahui bahwa tugas mereka adalah berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, seseorang dituntut agar bersemangat dalam memikul amanat ini untuk mendapatkan pahala yang besar di sisi-Nya. Di sisi lain, realitas umat ini sangat membutuhkan dai-dai yang saleh, tulus memberi nasihat, dan penuh kasih sayang. Selain itu, para dai juga dibutuhkan untuk menghadapi peperangan yang dikobarkan oleh musuh Islam terhadap pemikiran umat, akidah, dan akhlaknya, yang puncaknya mereka terpenjarakan dalam fitnah syahwat dan syubhat.

Kita telah diajari oleh agama bahwa berdakwah adalah sebuah amanat dan tanggung jawab yang besar. Bukan hanya di dunia, melainkan juga sebuah tanggung jawab di akhirat. Seorang dai akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah subhanahu wa ta’ala, ke mana dia mengajak umat. Untuk menyelamatkan diri dari tanggung jawab ini, Allah subhanahu wa ta’ala mensyaratkan agar berdakwah dilakukan di atas ilmu. Berdakwah di atas ilmu merupakan jalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para pengikut beliau. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskannya dalam firman-Nya,

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)

Berdasaran hal ini, kita mengetahui bahwa orang-orang yang tidak berilmu tentang syariat tidak diperbolehkan baginya memosisikan diri sebagai penerus tugas para nabi, terlebih dikenai perintah untuk berdakwah. Sebab, apabila salah menyampaikan atau menyesatkan orang lain, ancamannya sangat besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa menyeru kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2674 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu)

  1. Kejahilan pada seorang pemimpin

Bisa dibayangkan apabila seorang pemimpin adalah orang yang jahil tentang agama. Segala sepak terjangnya akan dibangun di atas kejahilan. Yang tergambar adalah sebuah bentuk kezaliman, pemerkosaan hak rakyatnya, bahkan akan memperkosa agama dan kaum muslimin, lagi sesat menyesatkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنَّ اللهَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ اللهُ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًَا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya, Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Hingga apabila Allah tidak lagi menyisakan seorang pun dari mereka, orang-orang akan mengangkat pemimpinnya dari orang jahil, kemudian mereka bertanya kepadanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sesat lagi menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu anhuma)

  1. Kejahilan pada orang biasa

Kejahilan menjadi akhlak yang tercela, yang akan merusak jati diri seorang dai dan seorang pemimpin. Apatah lagi apabila akhlak ini disandang oleh seseorang yang awam tentang agama. Tentu dia akan semakin rusak dan jahat. Dia akan dijangkiti oleh penyakit kronis, lainnya seperti taklid buta, fanatisme, lancang, menolak kebenaran, membela kebatilan dan berkubang padanya, memusuhi kebenaran dan pelakunya, iri hati, dengki, sombong, dan berbagai sifat berbahaya lainnya.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Barang siapa ridha dengan kebid’ahannya, tidak mau mencari dalil-dalil syariat dan tidak mau mencari ilmu yang akan bisa memisahkan antara yang haq dan batil, serta tidak mau membelanya, menolak apa yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dibarengi kejahilan dan kesesatan serta berkeyakinan bahwa dirinya berada di atas kebenaran; orang seperti ini termasuk orang zalim dan fasik. (Derajat kezaliman dan kefasikannya) sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang dia tinggalkan dan kelancangan dirinya melaksanakan keharaman-keharaman Allah.” (Irsyad Ulil Basha’ir wal Albab hlm. 300)

Wallahu a’lam.


Catatan Kaki

[1] Karena dia telah kafir.

[2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah di dalam kitab az-Zuhd (no. 158) dan ath-Thabarani rahimahullah di dalam al-Kabir (9/211), dan terdapat kelemahan, pada sanadnya juga ada inqitha` (keterputusan). (Lihat ta’liq dan tahqiq Fadhlu ‘Ilmi as-Salaf hlm. 46)

(Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Sifat ‘Ibadurrahman (2), Rajin Shalat Malam

Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Di antara sifat lainnya dari ‘ibadurrahman -yaitu hamba Allah yang beriman- yang disebutkan dalam ayat selanjutnya dari surat Al Furqan yang kita ulas kemarin adalah rajin shalat malam. Yaitu mereka biasa melewati waktu malam mereka dengan shalat tahajud atau shalat malam.

Sifat ketiga: Rajin shalat malam

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan (mereka ibadurrahman adalah) orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al Furqan: 64).

Kata “sujjada” adalah bentuk jamak dari kata “saajid” (ساجد ). Sedangkan “qiyama” (قياما), maksudnya adalah mereka (rajin) shalat lail (shalat malam). (Tafsir Al Jalalain, 365)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Mereka banyak mengerjakan shalat malam dengan ikhlas kepada Allah dalam keadaan tunduk pada-Nya.” (Taisir Al Karimir Rahman, 586)

Ayat yang semisal dengan firman Allah di atas,

كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)

Juga firman Allah,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena seringnya mereka melakukan shalat malam), sedang mereka berdo’a kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As Sajdah: 16)

Allah Ta’ala juga berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ

“(Apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (QS. Az Zumar: 9)

Perkataan Salaf Tentang Shalat Malam

Motivasi lain agar semakin mendorong kita untuk giat shalat malam, silakan dilihat dalam perkataan para salaf berikut ini:

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, “Shalat hamba di tengah malam akan menghapuskan dosa.” Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, …” (HR. Imam Ahmad dalam Al Fathur Robbani 18/231. Bab “تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ “)

‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Satu raka’at shalat malam itu lebih baik dari sepuluh rakaat shalat di siang hari.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif 42 dan As Safarini dalam Ghodzaul Albaab 2/498)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Barangsiapa yang shalat malam sebanyak dua raka’at maka ia dianggap telah bermalam karena Allah Ta’ala dengan sujud dan berdiri.” (Disebutkan oleh An Nawawi dalam At Tibyan 95)

Ada yang berkata pada Al Hasan Al Bashri , “Begitu menakjubkan orang yang shalat malam sehingga wajahnya nampak begitu indah dari lainnya.” Al Hasan berkata, “Karena mereka selalu bersendirian dengan Ar Rahman -Allah Ta’ala-. Jadinya Allah memberikan di antara cahaya-Nya pada mereka.”

Al Hasan Al Bashri juga mengatakan, “Sesungguhnya karena sebab dosa seseorang menjadi terhalang untuk shalat malam.”

Abu Sulaiman Ad Darini berkata, “Orang yang rajin shalat malam di waktu malam, mereka akan merasakan kenikmatan lebih dari orang yang begitu girang dengan hiburan yang mereka nikmati. Seandainya bukan karena nikmatnya waktu malam tersebut, aku tidak senang hidup lama di dunia.” (Lihat Al Lathoif 47 dan Ghodzaul Albaab 2/504)

Imam Ahmad berkata, “Tidak ada shalat yang lebih utama dari shalat lima waktu (shalat maktubah) selain shalat malam.” (Lihat Al Mughni 2/135 dan Hasyiyah Ibnu Qosim 2/219)

Tsabit Al Banani berkata, “Saya merasakan kesulitan untuk shalat malam selama 20 tahun dan saya akhirnya menikmatinya 20 tahun setelah itu.” (Lihat Lathoif Al Ma’arif 46). Jadi total beliau membiasakan shalat malam selama 40 tahun. Ini berarti shalat malam itu butuh usaha, kerja keras dan kesabaran agar seseorang terbiasa mengerjakannya.

Ada yang berkata pada Ibnu Mas’ud, “Kami tidaklah sanggup mengerjakan shalat malam.” Beliau lantas menjawab, “Yang membuat kalian sulit karena dosa yang kalian perbuat.” (Ghodzaul Albaab, 2/504)

Lukman berkata pada anaknya, “Wahai anakku, jangan sampai suara ayam berkokok mengalahkan kalian. Suara ayam tersebut sebenarnya ingin menyeru kalian untuk bangun di waktu sahur, namun sayangnya kalian lebih senang terlelap tidur.” (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an 1726)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Baiknya batin sebenarnya akan menampakkan baiknya lahiriyah walaupun seseorang tidak memiliki tampan yang elok. Sebenarnya, seseorang akan semakin elok karena semakin baiknya batin yang ia miliki. Seorang mukmin akan mendapatkan keelokan tersebut tergantung pada kadar imannya. Jika yang lain melihatnya, maka pasti akan menaruh perhatian padanya. Dan siapa saja yang berinteraksi dengannya, pasti akan mencintainya dikarena keelokan yang tampak ketika memandangnya. Maka boleh jadi engkau melihat orang yang sholeh dan sering berbuat baik serta memiliki akhlak yang mulai, engkau lihat kelakuannya sungguh amat baik, padahal boleh jadi wajahnya itu hitam dan kurang menarik. Lebih-lebih jika Allah memberinya karunia (dengan wajah yang cerah) karena dia giat shalat malam. Sungguh shalat malam itu akan membuat wajah semakin cerah dan indah kala dipandang.” (Roudhotul Muhibbin, 221)

Moga shalat malam bukan hanya jadi rutinitas tatkala di bulan Ramadhan saja. Amalan yang terbaik dan dicintai oleh Allah adalah yang terus dijaga kontinu di bulan Ramadhan dan di bulan lainnya. Sungguh keutamaan shalat malam amat luar biasa. Dapat mencerahkan dan memperindah wajah seseorang. Sebagaimana kata sebagian salaf,

مَنْ كَثُرَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ

“Siapa yang banyak shalatnya di malam hari, wajahnya akan begitu berseri di siang hari.” Dan masih banyak keutamaan shalat malam lainnya yang dapat dirasakan di dunia, bahkan lebih nikmatnya lagi ketika di akhirat kala berjumpa dengan Ar Rahman. Semoga kita bisa meraih sifat ‘ibadurrahman yang satu ini. Semoga Allah memudahkannya.

Pembahasan sifat ‘ibadurrahman dalam surat Al Furqan yang lainnya, insya Allah akan kami teruskan pada artikel lainnya dengan izin Allah.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

  1. Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi, terbitan Maktabah Ash Shofa, cetakan pertama, 1425 H.
  2. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
  3. Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah , cetakan pertama, tahun 1423 H.
  4. Sifat Shalat Qiyamil Lail, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Khuzaim, Taqdim: Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan, terbitan Darul Qosim.

Panggang-Gunung Kidul, 16 Sya’ban 1432 H (17/07/2011)

Sumber https://rumaysho.com/1869-sifat-ibadurrahman-2-rajin-shalat-malam.html